BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Berikut ini akan menguraikan hasil penelitian dengan informan mengenai pemanfaatan komputer bicara dalam memenuhi kebutuhan informasi. Adapun hasil penelitian yang diperoleh, sebagai berikut: Pemanfaatan Komputer Bicara dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Tunanetra.
Untuk bisa memanfaatkan komputer bicara dalam memenuhi kebutuhan informasi tunanetra, tunanetra terlebih dahulu harus mengikuti kursus komputer bicara. Yayasan Mitra Netra merupakan yayasan yang menyelenggarakan kursus komputer bicara untuk tunanetra. Kursus berlangsung dengan instruktur yang ahli dalam bidang komputer bicara, yaitu bapak Sugiyo dan Suryo. Berdasarkan hasil penelitian bahwa untuk bisa mengoperasikan komputer bicara tunanetra harus melewati tahap-tahap kursus yaitu:
Mampu Mengetik 10 Jari dan Menghafal Letak Keyboard Mengikuti Kurikulum Pembelajaran Miscrosof Word Pembelajaran Internet
Tiga tahap tersebut merupakan tahap-tahap yang harus dilewati tunanetra untuk bisamengoperasikan komputer bicara. Seperti yang pernyataan informan berikut:
“Basicnya setelah bisa mengetik 10 jari juga harus menghafal short cut
keyboard. Dengan hafal keyboard kita akan senang untuk beraktifitas dilayar komputer setelah itu kita mulai terbiasa menggunakanya. Waktu
saat kursus komputer bicara saya biasanya mengetik lirik lagu yang saya hafal. Belajar mengetiknya cepet kurang lebih satu minggu itu sudah hafal dan sudah bisa lancar. Kebetulan karena di yayasan ini ada kurikulum pembelajaran, jadi saya akhirnya mengikuti kelas dasar di pengenalan
“Komputer Miscrosof word. Sekaligus pelancaran mengetik 10 jari dipadukan dengan pembelajaran Miscrosof word langsung, sehingga pembelajaranya teori langsung dipratekkan apa yang sudah belajari. Setelah belajar Miscrosof word dan mulai kenal temen-temen sedikit-sedikit belajar internet walaupun masih belum tau facebook, karena belum
mengerti bikin acountnya” (TR).
“Pertama harus bisa mengetik 10 jari dan menghafal letak keyboard (short cut), setelah bisa mampu mengetik 10 jari dan menghafal short cut komputer baru mengikuti kurikulum yang ditetapin di mitra netra, setelah
itu baru kita menjelajahi internet untuk mencari informasi” (JT).
“Pada awalnya tidak langsung menggunakan komputer bicara pertama
harus bisa mengketik 10 jari dengan mesin ketik, tapi sekarang mesin ketik jarang dipakai, sehingga tunanetra yang baru masuk bisa belajar mengetik 10 jari langsug di komputer. Pertama harus bisa itu dulu setelah itu baru masuk ke komputer bicara menghafal short cut keyboardnya, karena tidak menggunakan mouse, maka untuk bisa mengoperasikan komputer kita harus mampu menghafal short cut komputer. Setelah bisa mengetik 10 jari dan menghafal short cut komputer saya mengikuti kurikulum yang ada di mitra netra. Setelah itu baru pembelajaran ke internet”(DN).
“Pada awalnya belajar mengetik 10 jari dulu. mengetik di miscrosof word sekaligus belajar mengetik yang benar dengan 10 jari dan menghafal short cut komputer. Setelah tahap pertama bisa saya mengikuti kurikulum pembelajaran Miscrosof word di mitranetra. Tahap terakhir pembelajaran internet kebetulan saya hari ini baru untuk email sebelumnya saya mempelajarin Miscrosof word” (RC)
Semua informan menyatakan bahwa kursus komputer bicara di Yayasan Mitra Netra harus melewati tiga tahap seperti pernyataan informandiatas. Setelah mengikuti kursus selama 6 bulan, dengan kemampuan dan ketrampilannya tunanetradapat mengoperasikan komputer, sehingga bisa memanfaatkan komputer untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Dalam pemanfaatan komputer bicara untuk memenuhi kebutuhan informasi informan, semua informan menyatakan
bahwa lebih nyaman memanfaatkan denganlaptop pribadi yang sudah terinstal screen reader JAWS dan NVDA. Pernyatanya sebagai berikut:
“Sebelum punya laptop yaa memanfaatkan komputer di yayasan mitra netra, setelah punya laptop yah dengan laptop pribadi yang telah terinstal screen readers JAWS dan NVDA” (TR).
“Sekarang selalu menggunakan laptop pribadi sih, tetapi dulu saat sedang
mengikuti kursus komputer bicara sering memanfaatkan komputer di mitra
netra”(JT).
“Laptop pribadi ya.... komputer yang ada di mitra netra menggunakannya pada waktu kursus saja” (DN).
“Laptop pribadi lebih nyaman, kalau dengan komputer di mitra netra kan
banyak yang menggunakan untuk kursus jadi lebihnyaman dengan laptop sendiri” (RC).
Semua informan penyatakan lebih nyaman memanfaatkan komputer bicara dengan laptop pribadi, karena komputer yang ada di mitra netra untuk kursus komputer bicara. Kehilangan penglihatan bukan berarti tunanetra tidak memerlukan informasi. Tunanetra juga membutuhkan informasi yang sama besarnya dengan orang normal pernyataannya sebagai berikut berikut:
“Butuh banget, informasinya seperti mencari berita terbaru yang belum saya ketahui di googel.. “ (TR).
“Butuh, informasi untuk kuliah sih, terutama informasi tentang Ilmu
Komunikasi “ (JT).
“Butuh, seperti membaca berita yang sering dibicarakan orang sama
informasi untuk lowongan pekerjaan” (DN).
“Iya butuh, seperti informasi berita yang sedang jadi pembicaraan masyarakat di internet “ (RC).
Dari semua pernyataan informan dapat disimpulkan bahwa informan sangat membutuhkan informasi. Kebutuhan informasi seperti: membaca berita terbaru yang belum diketahui, diinternet, adapun
informasi lainya untuk pendidikan, seperti mencari informasi ilmu komunikasi dan untuk mencari lowongan pekerjaan. Peneliti menanyakan untuk apa saja informasi itu, pernyataan informan sebagai berikut:
“Untuk pengetahuan, menambah wawasan sama untuk mengupdate informasi” (TR).
“Menambah wawasan, untuk kuliah dan untuk update terkini tuh yang sedang di bicarakan orang” (JT).
“Untuk menambah wawasan agar kalau ngobrol sama orang nyambung. Sama untuk dapat pekerjaan baru” (DN).
“Menambah wawasan dan pengatahuan” (RC).
Semua informan penyatakan bahwa membaca berita terbaru untuk menambah wawasan dan pengetahuan informan, adapun lainnya untuk informasi lowongan pekerjaan dan pendidikan. Empat informan yang diteliti terdiri dari dua mahasiswa dan dua pekerja, berdasarkan latar belakang informan, peneliti menanyakan, informasi apa yang dibutuhkan informan untuk menunjang pendidikan dan pekerjaan. Pernyataan informan sebagai berikut:
"Kalau untuk pendidikan, karena saya jurusannya bahasa inggris saya membutuhkan simbol-simbol pronoun session, kalau untuk pekerjaan saya membutuhkan informasi latihan-latihan membuat laporan dan tutorial Microsoft Word dan juga membutuhkan informasi untuk lowongan
pekerjaan, karena saya sedang mencari pekerjaan baru” (TR).
“Untuk menunjang pendidikan informasinya diarahkan sama dosen,
misalnya nanti kamu buka situs tentang maskapai ,aku cari informasi tentang informasi maskapai yang ada di Indonesia disitus maskapai Indonesia. kalau di pemanfaatan komputer bicara lebih untuk membaca buku-buku kuliah, buku itu aku scan aku simpan di komputer terus aku baca isi dari buku itu. Bukunya aku beli di gramedia, ada juga yang dari dosen aku pinjem untuk di scan. Kalau di internet itu lebih informasi
umum tambahan selain buku kuliah” (JT).
“Untuk perkerjaan, waktu saya masih bekerja dulu banyak pekerjaan saat saya normal (bisa melihat) bisa saya kerjakan lagi seperti browsing,
mengirim email, word processing dan membutuhkan informasi lowongan pekerjaan untuk membuat lamaran pekerjaan, karena sudah tidak kerja di tempat yang dulu, sekarang lagi cari lowongan pekerjaan baru” (DN).
“Informasi seperti buku kuliah yang bentuknya e-book, kebetulan saya lagi studi di jurusan Ilmu Hukum jadi lebih dari informasi e-book tentang hukum dan juga saya sering membaca informasi di jurnal-jurnal tentang peraturan hukum internasional” (RC).
Berdasarkan pernyataan informan, dapat di simpulkan bahwa kebutuhan informasi semua informan berbeda-beda, ada yang membutuhkan informasi untuk menunjang pendidikannya, seperti:informasi simbol-simbol pronoun session, ilmu komunikasi, informasi tentang peraturan hukum Internasional, sedangkan untuk menunjang pekerjaan membutuhkan informasi latihan-latihan membuat laporan koperasi, tutorial Microsoft Word dan untuk informasi lowongan pekerjaan. Selain untuk menunjang pendidikan dan pekerjaan apakah ada informasi lainnya selain pendidikan dan pekerjaan yang dibutuhkan informan, pernyataanya sebagai berikut:
“Selama ini paling banyak untuk pendidikan dan pekerjaan ya, tapi pernah juga untuk mendengarkan musik dan ceramah agama di youtube”
(TR).
“Kalau untuk kebutuhan selain pendidikan aku lebih sering mencari
informasinya di hp bukan di komputer bicara. Kalau di hp aku sering mencari lirik lagu sama dengerin lagu-lagu yang terbaru” (JT).
“ Seringnya untuk pekerjaan selain itu ngak ada” (DN).
“Selama ini kebutuhan informasi untuk pendidikan itu saja, tapi kebutuhan selain informasi seperti kebutuhan untuk main games yang bentuknya audio games yang memang khusus di rancang untung tunanetra
mainnya memang menggunakan screen reader” (RC).
Berdasarkan pernyataan informan, dapat disimpulkan bahwa dua informan membutuhkan informasi lainnya berupa informasi agama dan
hiburan untuk mencari lirik lagu dan mendengarkan lagu, satu informan menyatakan informasi yang dibutuhkan sekarang ini informasi untuk lowongan pekerjaan dan informan terakhir menyatakan ada kebutuhan lainya, tetapi bukan informasi melainkan kebutuhan hiburannya yaitu bermain games yang bentuknya audio games. Selain informasi untuk pendidikan, pekerjaan, hiburan dan agama, peneliti menanyakan tentang pengetahuan informan terhadap informasi terbaru yang sedang dibicarakan masyarakat. Pertanyaanya adalah apakah informan suka mengikuti informasi terbaru yang sedang dibicarakan masyarakat, adapun pernyataan informan sebagai berikut:
“Suka, seperti informasi yang sekarang lagi banyak dibicarakan yaitu tentang jamaah haji Indonesia. Awalnya memngetahui itu lewat televisi terus langsung cari lagi diinternet lebih dalamnya, biasanya
menggunakan google sama youtube”(TR).
“Suka, aku punya aplikasi portal berita kompas di hand phone, tapi suka terbatas informasinya jadi aku cari lagi diinternet lebih dalamnya dengan buka situs kompas yang harian yang dalam bentuk koran, itu kan lebih lengkap informasinya dari pada di aplikasi kompasnya. Kemarin si baca berita tentang pilkada lebih ke politik” (JT).
“Suka, seperti berita yang jadi tranding topik di facebook, seperti berita tentang gayus yang ada di restoran,” (DN).
“Suka, saya sering membuka portal online, televisi dan situs berita
diinternet, seperti berita tentang rancangan undang-undang mengenai
hukuman mati sama pilkada” (RC).
Berdasarkan semua pernyataan informasi di atas dapat disimpulkan bahwa dua informan mengikuti informasi pilkada, satu informan mengikuti informasi tentang jamaah haji dan satunya lagi mengikuti berita gayus tambunan yang ada direstoran. Semua berita yang ada di pernyataan informan merupakan berita yang sedang beredar di masyarakat, sehingga
semua informan mengikuti perkembangan informasi di masyarakat. Salah satu informan yaitu JT terlebih dahulu mencari berita di hand phone, karena informasinya terbatas maka JT mencari informasi tersebut diinternet di situs berita yang bentuknya koran, sehingga informasi yang akan didapatnya lebih lengkap. Dengan adanya komputer bicara apakah semua kebutuhan informan sudah terpenuhi, adapun pernyataan informan sebagai berikut:
“Terpenuhi, 90 % buat saya sudah, terutama untuk membaca berita
terbaru yang belum saya ketahui diinternet: googel, youtube, pendidikan juga sama pekerjaan untuk membuat laporan koperasi” (TR).
“Iya terpenuhi karena aku kan tinggal di kossan yang tidak ada TV, jadi untuk memenuhi informasi berita terbaru aku cari di internet dengan komputer bicara dan lebih membantu buat mencatat, kalau pake braille lebih lama bisa lebih cepet kalau kita menggunakan komputer. Terus juga kalau mau baca berita informasi bisa, Kalau untuk pendidikan sangat terpenuhi ya seperti, dapat membaca buku kuliah yang telah di scan, mencari informasi ilmu komunikasi buat cari referensi kuliah atau mau download musik hiburan juga bisa, bersosial media berinteraksi sama teman-teman di internet itu juga bisa semuanya terpenuhi sebenernya
disitu” (JT).
“Yah relatif sih, dalam artiannya untuk kebutuhan informasi, kita baca dokumen, email atau chatting yah sudah memenuhi untuk itu” (DN).
“Sebenernya sangat terpenuhi yah, mungkin melengkapi, karena kalau secara informasi CD ada, Radio ada, smartphone juga ada screen reader. Kalau komputer yah itu lebih ke area kerja kita, contonya: bikin artikel, browsing artikel, komunikasi diinternet dengan facebook” (RC).
Dari empat informan, tiga diantaranya menyatakan kebutuhan informasinya sangat terpenuhi diantaranya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mencari berita terbaru yang sedang beredar di masyarakat. Selain itu untuk menunjang pendidikan, seperti membaca buku kuliah yang telah di scan dan disimpan di komputer, untuk mencari informasi tambahan untuk pendidikan, seperti informasi tentang ilmu
komunikasi dan membuat artikel, sedangkan pekerjaan, seperti informasi membuat laporan koperasi dan lowongan pekerjaan.
1. Intensitas Pemanfaatan Komputer Bicara.
Untuk mengetahui intensitas tunanetra dalam memanfaatkan komputer bicara, maka peneliti menanyakan tentang seberapa sering tunanetra menggunakan komputer bicara dalam seminggu dan berapa jam tunanetra menggunakan komputer bicara dalam satu hari.
“Dalam seminggu full, kurang lebih menggunakan komputer bicara 4 jam no stop (tidak berhenti)dalam satu hari” (TR)
“Waduh, bisa seharian kalo lagi libur dirumah” (JT)
“Seminggu full. Dalam satu hari relatif, tergantung kebutuhannya juga kalau memang lagi ingin didepan komputer atau laptop yah bisa sampai 2-3 jam” (DN)
“Menggunakanya seminggu full, tapi berapa lamanya tergantung
mood, kalao lagi engak ingin banget yah 10 menit saja, kalau lagi
ingin banget yah 4 jam. Yah tergantung mood” (RC)
Dari semua pernyataan informan dapat disimpulkan bahwa intensitas tunanetra dalam memanfaatkan komputer bicara3-4 jam dalam sehari, biasanya pukul 12.00-15.00 tunanetra sering datang ke Yayasan Mitra Netra untuk mengikuti pelatihan komputer bicara selain itu juga untuk mencari informasi di internet dengan laptopnya sendiri atau memanfaatkan fasilitas komputer bicara di Yayasan Mitra Netra. 2. Peran Yayasan Mitra Netra Dalam Pemanfaatan Komputer
Bicara.
Berdasarkan hasil yang ditemukan peneliti dilapangan bahwa keberadaan Yayasan Mitra Netra sebagai sarana pelatihan komputer
bicara sangat beperan penting untuk mengenalkan komputer bicara dengan tunanetra. Dengan mengenalkan komputer bicara, tunanetra akan terdorong ingin dapat menggunakan komputer bicara bahkan memanfaatkanya untuk memenuhi kebutuhan tunanetra. Peneliti menanyakan pertanyaan, seperti dimana pertama kali tunanetra mengenal dan menggunakan komputer bicara, pertanyaan itu akan mengambarkan peran dari Yayasan Mitra Netra, adapun hasilnya, sebagai berikut:
“Di Mitra Netra” (TR, JT, DN).
dari keempat informan tiga diantaranya menjawab sama, yaitu mengenal dan menggunakan komputer bicara pertama kali di Yayasan Mitra Netra. Sedangkan informan lainya menyatakan sebagai berikut:
“Mengenal komputer bicara awalnya di internet, menggunakan komputer bicara disekolah belajar otodidak dengan teman yang pintar komputer, kurang lebih tiga minggu menggunakan JAWS yang bukan original, setelah itu baru ke sini (Yayasan Mitra Netra) menggunakan NVDA" (RC).
Di lihat dari pernyataan informan dapat disimpulkan bahwa keberadaan Yayasan Mitra Netra berperan dalam mengenalkan komputer bicara kepada tunanetra serta menyediakan fasilitas komputer bicara untuk dapat dimanfaatkan tunanetra. Meskipun ada informan yang mengenal komputer bicara di internet dan menggunakan pertama kali bukan di Mitra Netra, tetapi eksistensi Yayasan Mitra Netra masih berperan sebagai sarana pelatihan lanjutan informan untuk pelatihan teknis komputer biacara.
3. Pemanfaatan SoftwareJAWS dan NVDA
Keberadaan screen readers merupakan hal terpenting pada komputer bicara, karena tampa screen readers tunanetra tidak akan bisa mengoperasikan komputer bicara serta tidak dapat memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Di Yayasan Mitra Netra tersedia dua jenis screen readers diantara screen readers JAWS dan NVDA. Namun mana yang sering digunakan tunanetra
“Saya paling nyaman dengan JAWS” (TR).
“Karena saya pribadi menggunakan JAWS dari awal belajar,
dikenalkan dengan JAWS maka JAWS lebih sering saya gunakan”
(DN).
Dari keempat informan dua diantaranya lebih suka memanfaatkan JAWS dengan alasanya bahwa pertama kali informan sudah dikenalkan dengan JAWS dan menggunakannya juga dengan JAWS, tetapi ada juga penyataan informan lebih suka memanfaatkan NVDA.
“Yah kebetulan untuk komputer saya itu lebih support NVDA dan
sepertinya lebih ringan NVDA dan lebih simpel NVDA” (RC).
Informan terakhir menyatakan suka menggunakan kedua screen reader berikut pernyatanya:
“Dua-duanya, kalau dilaptop menggunakan JAWS kalau di Mitra
Netra menggunakan NVDA” (JT).
Berdasarkan data di atas dapat mengambarkan bahwa dari empat informan yang di wawancarai dua diantaranya lebih suka menggunakan JAWS, sedangan satunya lebih nyaman dengan NVDA, sedangkan informan terakhir menyatakan suka menggunakan kedua-duanya.
4. Perbedaan Saat Memanfaatkan JAWS dan NVDA
Menurut informan perbedaan kedua screen readers terletak hanya pada saat teknis menggunakannya. Pada NVDA terkadang ada satu link yang tidak bisa dibacakan NVDA, tetapi saat berpindah screen readers JAWS linknya dapat terbaca.
“Paling yang membuat beda Short cutnya aja sih” (TR).
“JAWS lebih unggul dibanding NVDA, keseringan saat menggunakan
NVDA tiba-tiba screen reader tidak bisa membacakan apa yang ada dilayar, tetapi saat dicoba dengan JAWS link tersebut dapat
terbaca”(JT).
“Pada intinya sama aja, tapi sekarang seiring pekembangan NVDA sudah mulai dikembangkan lagi. Sebagai pengguna kita sesuaikan dengan kebutuhanya sekarang, jika ada yang tidak bisa dibacakan oleh JAWS terkadang dengan menggunakan NVDA dapat dibacakan,
sehingga menggunaanya masih melengkapi antara JAWS dan NVDA”
” (DN).
“Ada, Short cutnya kalau JAWS ngak ada short cut untuk langsung ke link, kalau NVDA ada. Begitu juga ada short cut di JAWS yang di
NVDA ngak ada” (RC).
Tetapi perbedaan yang dialami informan selama mengoperasikan NVDA dengan JAWS masih dapat ditutupin atau masih dapat melengkapi pekerjaanya, Berdasarkan data di atas bahwa perbedaan yang dirasakan informan hanya saat teknis menggunakan JAWS dan NVDA, selebihnya sampai sekarang keberadaan JAWS dan NVDA untuk tunanetra masih menlengkapi satu sama lain.
5. Kendala mengoperasikan JAWS dan NVDA untuk memenuhi kebutuhan informasi
Dalam mengoperasikan JAWS dan NVDA untuk memenuhi kebutuhan informasi tunanetra, apakah mengalami kendala atau kesulitan, adapun pernyataan informan sebagi berikut:
“Awal-awal iya saat kursus, kalau pada saat mencari informasi paling kendalanya screen readers, ada website yang sulit untuk screen readers bacakan, itu membuat saya kebingungan memahami informasinya, tetapi kalao sudah seperti itu sih solusinya saya mencari informasi di website lainnya yang dapat screen readers bacakan, karena kalao screen readers tidak dapat membacakan informasi yang ada dilayar berarti itu websitenya banyak iklan yang bergerk
sehingga sulit untuk dibcakan”(TR)
“Mungkin umpama kaya pindah jendela windows itu kan kalau orang
normal itu tinggal diklik klik saja pakai mouse, sedangkan kita ada beberapa tombol keyboardnya yang harus di pencet nah itu bukan soal harus ingat tombolnya pakai apa tapi pemahamanya gimana kita pindah jendelanya. Terus untuk memahami dan mengambarkan situs kalau orang normal ketika buka satu link itu langsung tergambarkan itu situs apa, tapi kalau kita harus mencari tahu sendiri situs itu tentang apa dengan menekan tombol panah kebawah terus, jadi pemahaman dan megambarkan website itu yang kita susah. Tapi kalau kita udah ngerti sih mau di apa saja sih sudah bisa” (JT)
“Diawal memang iya, adaptasi bisanya kan dulu waktu normal tinggal klik-klik aja sekarang pakai audio termaksud juga adaptasi keyboardnya, kalau untuk pada saat mencari berita diinternet screen readers tiba-tiba tidak berbunyi, kendalanya sih pada saat mengoperasikan screen reader, untuk solusinya sih minta tolong sama orang normal sih, untuk membacakan informasinya, tetapi hal itu karena websiter yang kita masukan itu banyak iklan yang aneh-aneh
itu aja”(DN)
“Tidak juga yah, mudah, tapi terkadang kalau pada saat mencari informasi diinternet, seperti mencari berita di googel terkadang screen readers suka lompat-lompat membacakannya, dan itu karena websitenya ada kalimat yang bergerak dan banyak banget iklannya, sehingga sulit untuk screen readers bacakan, itu sih kendalanya, kalau sudah seperti itu cari saja informasi yang lainnya, yang bisa dibacakan screen reader dengan lengkap” (RC)
Berdasarkan semua pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa kendala yang dialami tunanetra pada saat mengoperasikan komputer bicara, yaitu pada waktu pelatihan komputer bicara dimana tunanetra harus beradaptasi dengankomputer dan keyboardnya. Sedangkan pada saat mencari informasi diinternet 3 informan menyatakan kendalanya pada screen reader yang tiba-tiba tidak membacakan, tidak berbunyi dan terkadang suka lompat-lompat membacakannya, hal itu dikarenakan website atau situs yang informan masukan terdapat banyak iklan atau bahkan kalimat yang bergerak, sehingga membuat screen reader kesulitan untuk membacakannya. Sedangkan 1 informan mengalami kendala pada saat pemahaman informasi, hal itu dipengaruhi oleh situasi informan yang tidak dapat melihat, bila orang normal dapat mudah memahami atau mengambarkan apa yang ada di layar komputer, sedangkan untuk tunanetra sangat sulit untuk bisa memahami dan mengambarkan dengan cepat infromasi itu, sehingga informan perlu banyak waktu untuk memahami informasi yang ada dilayar. Sedangkan solusinya berdasarkan semua pernyataan informan bahwa tunanetra lebih memilih untuk mencari kembali website atau situs yang dapat dibacakan dengan lengkap oleh screen reader, tetapi ada juga yang meminta tolong bantuan orang normal untuk membacakan informasi apa yang ada dilayar.