• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1) Bagi tempat penelitian sebagai sumbangan pemikiran.

2) Memberikan wawasan mengenai Manajemen keuangan, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam aktivitas kedepannya.

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan merupakan lembaga yang kegiatan utamanya melakukan kegiatan ekonomi finansial. Adapun defenisi lain mengatakan lembaga keuangan sebagai suatu badan usaha yang aset utamanya berbentuk aset keuangan (financial assets) maupun tagihan-tagihan (claims) yang dapat berupa saham (stocks) obligasi (bonds) dan pinjaman (loans), dibandingkan dengan aset non-keuangan (nonfinansial assets). Menurut Surat Keterangan Mentri Keuangan RI No.792 Tahun 1990 “Lembaga keuangan adalah semua badan yang kegiatannya bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan”. Pengertian lain tentang lembaga keuangan dikemukakan oleh Abdulkadir Muhammad yaitu lembaga keuangan (financial insititution) adalah “Badan usaha yang mempunyai kekayaan dalam bentuk aset keuangan (financial assets)”. Kekayaan berupa aset keuangan ini digunakan untuk menjalankan usaha dibidang jasa keuangan, baik penyediaan dana untuk membiayai usaha produktif dan kebutuhan konsumtif, maupun jasa keuangan bukan pembiayaan” sedangkan menurut Kasmir mendefinisikan

“lembaga keuangan adalah setiap perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, menghimpun dana, menyalurkan dana atau

kedua-duanya”. Artinya kegiatan yang dilakukan oleh lembaga keuangan selalu berkaitan dengan bidang keuangan, apakah kegiatannya hanya menghimpun dana atau hanya menyalurkan dana atau kedua-duanya menghimpun dan menyalurkan dana.

Sistem keuangan berfungsi sebagai fasilator perdagangan domestik dan internasional, memobilisasi simpanan menjadi berbagai instrumen investasi dan menjadi perantara antara penabung dan investor.Stabilitas dan pengembanggan sistem keuangan sangatlah penting agar masyarakat dapat meyakini bahwa sistem keuangan Indonesia aman, stabil, dan dapat memenuhi kebutuhan jasa keuangan. Adapun fungsi dan peran lembaga keuangan yaitu melancarkan pertukaran produk (barang dan jasa) dengan menggunakan jasa keuangan, membagikan pengetahuan atau informasi kepada pengguna jasa keuangan sehingga membuka peluang keuntungannya, menghimpun dana dari masyarakat untuk disalurkan kembali dalam bentuk pembiayaan, lembaga keuangan memberikan jaminan hukum mengenai keamanan dana masyarakat yang dipercayakan, dan menciptakan likuiditas sehingga dana yang disimpan dapat dipergunakan ketika dibutuhkan.

Lembaga keuangan yang masuk dalam sistem perbankan, yaitu lembaga keuangan yang berdasarkan peraturan perundangan dapat mengumpulkandana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dan dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.Maka dari itu lembaga keuangan ini

dapat menerima simpanan dari masyarakat, juga disebut depository financial institutions, yang terdiri atas Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Adapun lembaga keuangan bukan bank adalah lembaga keuangan selain dari bank yang dalam kegiatan usahanya tidak diperkenankan menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan. Lembaga keuangan bukan bank disebut non depository financial institution.

2. Macam-Macam Lembaga Keuangan

MenurutAbdul Kadir Muhammad mengemukakan bahwa lembaga keuangan terdiri dari 2 kelompok besar, yaitu Lembaga Keuangan Bank (LKB), Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), dan Lembaga Pembiayaan.

a. Lembaga Keuangan Bank (LKB)

salah satu institusi yang memiliki peranan penting dalam dunia bisnis adalah lembaga keuangan perbankan. Institusi perbankan merupakan subsistem dari keberadaan lembaga keuangan (financial instutiton).Lembaga keuangan bank terdiri atas Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat.

b. Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB)

Lembaga keuangan bukan bank adalah lembaga keuangan selain dari bank yang dalam kegiatan usahanya tidak diperkenankan menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan. Lembaga keuangan bukan bank disebut non depositiry financial institutions.

B. Return On Assets (ROA)

1. Pengertian Return On Assets (ROA)

ROA berguna untuk mengukur sejauh mana efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimilikinya (Siahan, 2004).Menurut Lestari dan Sugiharto (2007: 196) ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan aktiva. Dengan kata lain, semakin tinggi rasio ini maka semakin baik produktivitas asset dalam memperoleh keuntungan bersih. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor. Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin diminati investor, karena tingkat pengembalian akan semakin besar.

Hal ini juga akan berdampak bahwa harga saham dari perusahaan tersebut di Pasar Modal juga akan semakin meningkat sehingga ROA akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan. Menurut Lestari dan Sugiharto (2007: 196) angka ROA dapat dikatakan baik apabila > 2%. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Return On Assets (ROA)

Menurut Kasmir (2012:203), menjelaskan bahwa yang mempengaruhi Return on Assets (ROA) adalah hasil pengembalian atas investasi atau yang disebut sebagai Return on Assets (ROA) dipengaruhi oleh margin laba bersih dan perputaran total aktiva

karena apabila ROA rendah itu disebabkan oleh rendahnya margin laba yang diakibatkan oleh rendahnya margin laba bersih yang diakibatkan oleh rendahnya perputaran total aktiva.

Menurut Munawir (2007:89), besarnya Return on assets (ROA) dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:

a. Turnover dari operating assets (tingkat perputaran aktiva yang digunakan untung operasi).

b. Profit Margin, yaitu besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam persentase dan jumlah penjualan bersih.

Profit Margin ini mengukur tingkat keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan di hubungkan dengan penjualannya.

C. Modal Kerja

1. Pengertian Modal Kerja

Modal kerja menurut Kasmir (2016:250) adalah “Modal yang digunakan untuk melakukan kegiatan operasi perusahaan.Modal kerja juga dapat diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek seperti kas, surat-surat berharga, piutang, persediaan dan aktiva lancar lainnya”.Modal kerja juga sangat penting bagi operasional suatu perusahaan. Oleh karena itu, setiap perusahaan berusaha memenuhi kebutuhan modal kerjanya, dengan terpenuhinya modal kerja perusahaan juga dapat memaksimalkan perolehan labanya. Untuk menunjang setiap aktivitas yang ada dalam suatu perusahaan, tentunya diperlukan modal kerja yang cukup dan baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Dengan adanya modal kerja yang cukup dan baik, perusahaan tidak akan

mengalami kesulitan dalam menghadapi krisis ekonomi atau masalah keuangan, sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan baik dan optimal agar tujuan perusahaan dapat tercapai.

Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa modal kerja adalah harta yang dimiliki perusahaan uang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan usaha atau membiayai operasional perusahaan tanpa mengorbankan aktiva yang lain dengan tujuan memperoleh laba yang optimal. Terdapat dua konsep utama modal kerja yaitu modal kerja bersih dan dan modal kerja kotor. Jika seorang akuntan menggunakan istilah modal kerja, pada umumnya ia mengacu pada modal kerja bersih, yaitu perbedaan jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini merupakan ukuran sampai sejauh mana perusahaan dilindungi dari masalah likuiditas.

2. Tujuan Modal Kerja

Tujuan manajemen modal kerja bagi perusahaan menurut Kasmir (2016:253-254) adalah sebagai berikut :

a. Bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan profitabiitas perusahaan.

b. Perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban tepat waktu jika mempunyai kecukupan.

c. Manajemen dapat melindungi perusahaan apabila terjadi masalah pada modal kerja disebabkan adanya penurunan nilai aktiva lancar.

d. Jika rasio keuangan memenuhi persyaratan, perusahaan bisa mendapatkan tambahan dana dari pihak kreditur.

e. Guna memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan.

f. Memungkinkan perusahaan untuk memiliki persediaan yang cukup dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggannya.

g. Memungkinkan perusahaan memberikan syarat kredit yang menarik minat pelanggan, dengan kemampuan yang dimilikinya.

h. Guna memaksimalkan penggunaan aktiva lancar guna meningkatkan penjualan dan laba.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja

Faktor-faktor yang mempengaruhi modal kerja menurut Kasmir (2016:254) yaitu :

a. Sifat/jenis perusahaan, didasarkan pada kebutuhan modal kerja pada peusahaan kepentingan umum (seperti perusahaan gas, telepon, air, minum dan sebagaianya) adalah relative rendah, oleh karena itu persediaan dan piutang dalam persediaan tersebut cepat beralih menjadi uang.sedangkan pada perusahaan industri memerlukan modal kerja yang cukup besar yakni untuk melakukan investasi dalam bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi.

b. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi dan memperoleh barang yang akan dijual dan harga satuan barang yang bersangkutan. Adanya hubungan langsung antara jumlah modal kerja dan jangka waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang itu dijjual kepada paea pembeli.

c. Kebutuhan modal kerja dari suatu perusahaan dipengaruhi oleh syarat-syarat pembelian dan penjualan. Makin banyak diperoleh syarat kredit yang lunak untuk membeli barang dari pemasok, maka lebih kurang atau sedikit uang yang perlu ditanamkan dalam persediaan.

d. Tingkat perputaran persediaan yaitu kebutuhan modal kerja tergantung dari jangka waktu yang diperlukan untuk menagih piutang. Makin sedikit waktu yang diperlukan untuk menagih piutang,makin sedikit modal kerja yang diperlukan.Pengendalian piutang secara efektif dapat dilaksanakan dengan mengatur kebijakan mengenai pemberian kredit, syarat penjualan, ditetapkannya kredit maksimum bagi para pembeli dan cara penagihan.

e. Siklus usaha (konjungtur, Dalam usaha “prosperity” konjungtur tinggi) aktivitas perusahaan diperluas dan ada kecenderungan bagi perusahaan untuk membeli barang mendahului kebutuhan agar dapat memanfaatkan harga rendah dan untuk memastikan diri akan adanya persediaan yang cukup.

f. Resiko kemungkinan penurunan harga aktiva lancar, suatu penurunan harga dibandingkan dengan nilai buku dari aktiva lancar seperti surat berharga, persediaan, piutang maka mengakibatkan penurunan modal kerja. Sehubungan dengan makin besar risiko kerugian semacam itu makin besar modal kerja yang diperlukan. Untuk dapat menampung kontingensi terdapat (kemungkinan yang belum pasti akan terjadi)

perusahaan mengusahakan adanya banyak uang/surat berharga.

g. Musim, apabila perusahaan tidak terpengaruh oleh musim maka penjualan tiap bulan rata-rata sama. Tetapi dalam hal ada musim, maka terdapat perbedaan didalam musim maka terjadi aktivitas yang besar, sedangkan di luar musim aktivitas adalah rendah, perusahaan yang mengalami musim memerlukan sejumlah modal kerja yang maksimum untuk jangka relatif pendek.

4. Macam-macam Modal Kerja

MenurutDjarwanto (2011:94) modal kerja terdiri dari beberapa macam antara lain sebagai berikut :

a. Modal kerja permanen, adalah modal kerja yang harus terus ada pada perusahaan untuk dapat terus menjalankan fungsinya. Modal kerja permanen ini dapat dibedakan menjadi:

1. Modal kerja primer, yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.

2. Modal kerja normal, yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luar produksi yang normal.

b. Modal kerja variabel yaitu modal kerja yang jumlahya berubah-ubah sesuai dengan perberubah-ubahan keadaan. Modal kerja variabel ini dapat dibedakan dalam:

1. Modal kerja musiman, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah. Perubahan tersebut disebabkan karena fluktuasi musim.

2. Modal kerja siklus, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.

3. Modal kerja darurat, yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat atau mendadak yang tidak dapat diketahui atau diramalkan terlebih dahulu.

5. Efektivitas Modal Kerja

Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan dalam setiap organisasi.Efektivitas disebut juga efektif, apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah ditemukan sebelumnya.Hal ini sesuai dengan pendapat Soewarno yang mengatakan bahwa efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Efektivitas modal kerja merupakan suatu ukuran bagaimana modal kerja perusahaan dapat digunakan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu return on assets yang tinggi (Gitusudarmo,2002:34), dengan rumus yang digunakan sebagai berikut:

D. Rasio Keuangan

1. Jenis-Jenis Rasio Keuangan

Sutrisno (2009:215) jenis rasio menurut tujuan penggunaan dapat dikelompokkan menjadi:

a. Rasio Likuiditas (Liquidity ratio), yaitu rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang-hutang jangka pendeknya.

b. Rasio Leverage (Leverage ratio), yaitu rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang.

c. Rasio Aktivitas (Activity ratio), yaitu rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya.

d. Rasio Keuntungan (Profitability ratio), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam mendapatkan keuntungan.

e. Rasio Penilaian (Valuation ratio), yaitu rasio-rasio mengukur kemampuan manajemen untuk menciptakan nilai pasar agar melebihi biaya modalnya.

1. Pengertian Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas atau sering juga disebut rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan.Caranya adalah dengan membandingkan seluruh komponen yang ada di aktiva lancar dengan komponen di pasiva lancar (utang jangka pendek). Likuiditas didefinisikan sebagai

kepemilikan sumber dana yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban yang akan jatuh tempo serta kemampuan untuk membeli dan menjual aset dengan cepat (Adisamartha dan Noviari, 2015). Menurut Sudirman (2013:185) rasio likuiditas yang umum digunakan dalam dunia perbankan diukur melalui Loan to Deposit Ratio (LDR). Menurut Sudana (2011:20-21) Likiditas merupakan rasio yang mengukur seberapa besar penggunaan utang dalam pembelanjaan perusahaan.

Suatu perusahaan dikatakan mempunyai posisi keuangan yang kuat apabila mampu :

a. Memenuhi kewajiban-kewajibannya tepat pada waktunya yaitu pada waktu ditagih(kewajiban keuangan terhadap pihak ekstern).

b. Memelihara modal kerja yang cukup untuk operasi yang normal(kewajiban keuangan terhadap pihak intern).

c. Membayar bunga dan deviden yang dibutuhkan.

d. Memelihara tingkat kredit yang menguntungkan.

Posisi keuangan jangka pendek atau likuiditas oleh Bambang Riyanto dalam Munawir (2004:70) dapat diukur dengan 4 ratio yaitu :Curren ratio, cash ratio, acid tes ratio dan working capital ratio. Ratio yang paling umum digunakan untuk mengukur likuiditas adalah current ratio yaitu perbandingan antara aktiva lancar dan utang lancar yang dinyatakan dalam prosentase.Current ratio 200% hanya merupakan kebiasaan /rule of thumb dan akan digunakan sebagai titik tolak untuk mengadakan analisis selanjutnya. Current ratio ini

menunjukkan tingkat keamanan (margin of safety) kreditur jangka pendek atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi utang- utang tersebut. Tetapi Current ratio yang tinggi belum tentu menjamin dibayarnya utang perusahaan karena proporsi atau distribusi dari utang lancar yang tidak menguntungkan.

2. Rasio Profitabilitas

Profitabilitas merupakan faktor yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan suatu laba atau keuntungan (Taufan &

Wahyudi 2013). Menurut Kasmir (2012:114) Rasio profitabilitas merupakan rasio yang dapat mengukur sejauh mana perusahaan dapat mendapatkan keuntungan atau laba dalam periode tertentu dan dapat digunakan untuk mengukur efektif atau tidaknya manajemen dalam menghasilkan laba penjualan dan pendapatan investasi.

Menurut Hantono (2018:11-12) Rasio Profitabilitas atau Rentabilitas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mencetak laba. Tujuan Profitabilitas yaitu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan profit yang dapat menguntungkan perusahaan dan para pemegang saham dan diharapkan akan tetap menjadi penyedia modal pada perusahaan (Zaki, Islahuddin &Shabri 2017).

Yang termasuk kelompok Rentabilitas menurut Hantono (2018:11-12) :

a. Gross Profit Margin

Menunjukkan berapa persen keuntungan yang diperoleh dari penjualan produk.Dalam kondisi normal, Gross Profit

Marginsemestinya positif karena menunjukkan apakah perusahaan dapat menjual barang diatas harga pokok.Bila negatif, itu berarti perusahaan mengalami kerugian.

b. Net Profit Margin

Menunjukkan tingkat keuntungan bersih (setelah dikurangi dengan biaya-biaya) yang diperoleh dari bisnis atau menunjukkan sejauh mana perusahaan mengelola bisnisnya.Sama dengan GPM, perusahaan yang sehat semestinya juga memiliki NPM yang positif.

Rumus:

c. Return on Investment (ROI)

Return on investment atau return on assets adalah rasio yang menunjukkan tingkat pengembalian bisnis dari seluruh investasi yang telah dilakukan. pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis dari modal yang telah dikeluarkan untuk bisnis tersebut.

Rumus:

e. Earning Per Share

Rasio laba per lembar saham atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham.

Rumus:

E. Tinjauan Empiris

Penelitian yang dilakukan oleh penulis berjdul “Pengaruh Efektivitas Modal Kerja dan Likuiditas Terhadap Return On Assets (ROA) pada PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Bantarng”. Penelitian ini tentu tidak lepas dari penelitian terdahulu yang dijadilan sebagai pandangan dan juga referensi sebagai bahan dasar atas acuan penulisan ini. Adapun referensi penelitian terdahulu yaitu :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

NO NAMA

PENELITI

JUDUL VARIABEL HASIL

PENELITIAN

3. Dian Pramitha

4.

5.

7. Bagus

8. Novi Sagita,

9. Ali Hamdi

10. Agus Wibowo

F. Kerangka Konsep

Berdasarkan rumusan masalah dari teori-teori yang telah di jelaskan sebelumnya, maka perlu dibuat suatu kerangka fikir yang menunjukkan hubungan antar variabel yang akan diteliti. Berikut kerangka fikir yang akan digunakan.

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

Keterangan :

X₁ dan X₂= Variabel Independen Y= Variabel Dependen

= Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen

G. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat diajukan hipotesis bahwa :

1. Diduga efektivitas modal kerja berpengaruh terhadap Return On Assets pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Bantaeng.

2. Diduga likuiditas berpengaruh terhadap Return On Assets pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Bantaeng.

Efektivitas Modal Kerja

32

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif.Metode penelitian kuantitatif menurut Sugiyono (2015:7) adalah metode penelitian yang berlandaskan pada pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Dimana penelitian ini mengambil tempat di PT. Pegadaian (Persero) Cabang Bantaeng.

2. Waktu Penelitian

Adapun waktu penelitian ini akan dilaksanakan dalam rentangwaktu kurang lebih 2 bulan, yaitu mulai pada bulan November sampai dengan bulan Desember 2020.

C. Defenisi Operasional Variabel dan Pengukuran

Variable yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu variable bebas dan variable terikat. Variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable terikat (Sugiyono, 2015:39).variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Efektivitas Modal Kerja dan Likuiditas.Menurut penelitiefektivitas modal kerja merupakan sebuah

sasaran atau unsur pokok yang harus dituju dalam perusahaan yang dimana sudah direncanakan sebelummnya sedangkan likuiditas yaitu merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau hutang jangka pendeknya. Variabel terikat yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya Variabel bebas (Sugiyono, 2015:39). Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu Return On Assets. Return On Assets merupakan alat untuk mengukur kemampuanperusahaan yang dimana untuk menghasilkan laba bersih dari penggunaan seluruh aset atau sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan.

Menurut Hantono ( 2018:11-12 ) rumus yang terkait dengan hal tersebut adalah sebagai berikut:

a. Return On Equity (ROE)

Digunakan untuk mengukur kemampuan peusahaan untuk mempergunakan sumber daya yang telah dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas, rasio ini menunjukkan efisiensipenggunaan modal sendiri.

Rumus:

b. Return On Assets (ROA)

Mengukur kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aset yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak, rasio ini menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan perusahaan.

Rumus:

c. Current Ratio (Rasio Lancar)

Digunakan untuk mengukur keampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan, Rasio ini dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (Margin Of Safety) suatu perusahaan.

Rumus:

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut Syofian (2013: 30) Populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup dan sebagainya. Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan PT Pegadaian (Persero) Cabang Bantaeng 5 tahun terakhir.

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2015:81) sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.Sampel dalam penelitian ini adalah laporan

keuanganyaitu Neraca Keuangan PT Pegadaian (Persero) Cabang Bantaeng mulai dari tahun 2015 sampai 2019.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini ialah sebagai berikut : 1. Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu mengumpulkan data berupa laporan keuangan pegadaian diantaranya laporan keuangan berupa neraca dan laporan hasil usaha.

2. Wawancara

Menurut P. Joko Subagyo (2011:39) adalah sebagai berikut :

“suatu kegiatan dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan pada para responden. Wawancara bermakna berhadapan langsung antara interview dengan responden, dan kegiatannya dilakukan secara lisan”. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan pimpinan cabang pegadaian dan karyawan pegadaian.

3. Observasi

Observasi adalah pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan langsung pada objek penelitian.

F. Teknik Analisis Data A. Analisis Regresi 1) Analisis Statistik

a. Analisis Regresi Berganda

Menurut Sugiyono (2010:227) analisis regresi berganda adalah hubunggan secara linerar antara dua atau lebih variabel independen yaitu Efektivitas Modal Kerja (X1) dan Likuiditas (X2) dengan variabel dependen Return on Assets (Y). Analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel berhubungan secara positif atau negatif dan utnuk memprediksi nilai dan variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan. Jadi analisis regresi linear berganda akan dilakukan jika jumlah variabel independennya minimal 2. Persamaan regresi linear berganda dapat dihitung sebagai berikut :

Y= a + b1X1 + b2X2 + e Keterangan :

Y = Return On Assets a = Konstanta

b = Koefisien Regresi X1 = Efektivitas Modal Keja X2 = Likuiditas

2) Uji Asumsi Klasik a) Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi variabel bebas dan terikat keduanya mempunyai distribusi normal.Deteksi normalitas dapat dilakukan dengan melihat histogram atau grafik Normal P-Plot of Regression Standardized Residual dengan melihat persebaran data pada sumbu diagonal atau grafik normal. Dasar pengambilan keputusan pengujian ini antara lain :

1) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka

2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka

Dokumen terkait