BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Modal Kerja
1. Pengertian Modal Kerja
Modal kerja menurut Kasmir (2016:250) adalah “Modal yang digunakan untuk melakukan kegiatan operasi perusahaan.Modal kerja juga dapat diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek seperti kas, surat-surat berharga, piutang, persediaan dan aktiva lancar lainnya”.Modal kerja juga sangat penting bagi operasional suatu perusahaan. Oleh karena itu, setiap perusahaan berusaha memenuhi kebutuhan modal kerjanya, dengan terpenuhinya modal kerja perusahaan juga dapat memaksimalkan perolehan labanya. Untuk menunjang setiap aktivitas yang ada dalam suatu perusahaan, tentunya diperlukan modal kerja yang cukup dan baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Dengan adanya modal kerja yang cukup dan baik, perusahaan tidak akan
mengalami kesulitan dalam menghadapi krisis ekonomi atau masalah keuangan, sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan baik dan optimal agar tujuan perusahaan dapat tercapai.
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa modal kerja adalah harta yang dimiliki perusahaan uang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan usaha atau membiayai operasional perusahaan tanpa mengorbankan aktiva yang lain dengan tujuan memperoleh laba yang optimal. Terdapat dua konsep utama modal kerja yaitu modal kerja bersih dan dan modal kerja kotor. Jika seorang akuntan menggunakan istilah modal kerja, pada umumnya ia mengacu pada modal kerja bersih, yaitu perbedaan jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini merupakan ukuran sampai sejauh mana perusahaan dilindungi dari masalah likuiditas.
2. Tujuan Modal Kerja
Tujuan manajemen modal kerja bagi perusahaan menurut Kasmir (2016:253-254) adalah sebagai berikut :
a. Bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan profitabiitas perusahaan.
b. Perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban tepat waktu jika mempunyai kecukupan.
c. Manajemen dapat melindungi perusahaan apabila terjadi masalah pada modal kerja disebabkan adanya penurunan nilai aktiva lancar.
d. Jika rasio keuangan memenuhi persyaratan, perusahaan bisa mendapatkan tambahan dana dari pihak kreditur.
e. Guna memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan.
f. Memungkinkan perusahaan untuk memiliki persediaan yang cukup dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggannya.
g. Memungkinkan perusahaan memberikan syarat kredit yang menarik minat pelanggan, dengan kemampuan yang dimilikinya.
h. Guna memaksimalkan penggunaan aktiva lancar guna meningkatkan penjualan dan laba.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi modal kerja menurut Kasmir (2016:254) yaitu :
a. Sifat/jenis perusahaan, didasarkan pada kebutuhan modal kerja pada peusahaan kepentingan umum (seperti perusahaan gas, telepon, air, minum dan sebagaianya) adalah relative rendah, oleh karena itu persediaan dan piutang dalam persediaan tersebut cepat beralih menjadi uang.sedangkan pada perusahaan industri memerlukan modal kerja yang cukup besar yakni untuk melakukan investasi dalam bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi.
b. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi dan memperoleh barang yang akan dijual dan harga satuan barang yang bersangkutan. Adanya hubungan langsung antara jumlah modal kerja dan jangka waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang itu dijjual kepada paea pembeli.
c. Kebutuhan modal kerja dari suatu perusahaan dipengaruhi oleh syarat-syarat pembelian dan penjualan. Makin banyak diperoleh syarat kredit yang lunak untuk membeli barang dari pemasok, maka lebih kurang atau sedikit uang yang perlu ditanamkan dalam persediaan.
d. Tingkat perputaran persediaan yaitu kebutuhan modal kerja tergantung dari jangka waktu yang diperlukan untuk menagih piutang. Makin sedikit waktu yang diperlukan untuk menagih piutang,makin sedikit modal kerja yang diperlukan.Pengendalian piutang secara efektif dapat dilaksanakan dengan mengatur kebijakan mengenai pemberian kredit, syarat penjualan, ditetapkannya kredit maksimum bagi para pembeli dan cara penagihan.
e. Siklus usaha (konjungtur, Dalam usaha “prosperity” konjungtur tinggi) aktivitas perusahaan diperluas dan ada kecenderungan bagi perusahaan untuk membeli barang mendahului kebutuhan agar dapat memanfaatkan harga rendah dan untuk memastikan diri akan adanya persediaan yang cukup.
f. Resiko kemungkinan penurunan harga aktiva lancar, suatu penurunan harga dibandingkan dengan nilai buku dari aktiva lancar seperti surat berharga, persediaan, piutang maka mengakibatkan penurunan modal kerja. Sehubungan dengan makin besar risiko kerugian semacam itu makin besar modal kerja yang diperlukan. Untuk dapat menampung kontingensi terdapat (kemungkinan yang belum pasti akan terjadi)
perusahaan mengusahakan adanya banyak uang/surat berharga.
g. Musim, apabila perusahaan tidak terpengaruh oleh musim maka penjualan tiap bulan rata-rata sama. Tetapi dalam hal ada musim, maka terdapat perbedaan didalam musim maka terjadi aktivitas yang besar, sedangkan di luar musim aktivitas adalah rendah, perusahaan yang mengalami musim memerlukan sejumlah modal kerja yang maksimum untuk jangka relatif pendek.
4. Macam-macam Modal Kerja
MenurutDjarwanto (2011:94) modal kerja terdiri dari beberapa macam antara lain sebagai berikut :
a. Modal kerja permanen, adalah modal kerja yang harus terus ada pada perusahaan untuk dapat terus menjalankan fungsinya. Modal kerja permanen ini dapat dibedakan menjadi:
1. Modal kerja primer, yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
2. Modal kerja normal, yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luar produksi yang normal.
b. Modal kerja variabel yaitu modal kerja yang jumlahya berubah-ubah sesuai dengan perberubah-ubahan keadaan. Modal kerja variabel ini dapat dibedakan dalam:
1. Modal kerja musiman, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah. Perubahan tersebut disebabkan karena fluktuasi musim.
2. Modal kerja siklus, yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.
3. Modal kerja darurat, yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat atau mendadak yang tidak dapat diketahui atau diramalkan terlebih dahulu.
5. Efektivitas Modal Kerja
Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan dalam setiap organisasi.Efektivitas disebut juga efektif, apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah ditemukan sebelumnya.Hal ini sesuai dengan pendapat Soewarno yang mengatakan bahwa efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Efektivitas modal kerja merupakan suatu ukuran bagaimana modal kerja perusahaan dapat digunakan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu return on assets yang tinggi (Gitusudarmo,2002:34), dengan rumus yang digunakan sebagai berikut: