BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Penyebab mahasiswa berani untuk melakukan hubungan seks pranikah :
Dalam penelitian ini, peneliti berusaha mendalami
kehidupan Raja dengan menggunakan wawancara terstruktur
tentang penyebab Raja berani untuk melakukan hubungan seks
pranikah. Dari hasil wawancara subjek mendapati bahwa subjek
pertama kali melakukan hubungan seks pertama kali di usianya 16
tahun, saat duduk di kelas 2 SMA, motivasi pertama kali subjek
adalah film porno, karena penasaran akan hal itu lalu subjek
mencoba melakukan dengan pasangannya. Hal ini dapat diketahui
melalui hasil wawancara terhadap Raja:
“Aku melakukan hubungan sex pertama kali waktu SMA kelas 2, usia 16 tahun.” ( WSIR-10.S1)
“Motivasi aku pertama kali ketika diliatin temen untuk nonton film porno, kemudian karena penasaran seperti apa terus mencoba.” (WSIR-11.S2)
“Pertama kali melakukan itu karena kondisi sebenarnya posisinya orang tua kerja, kakak kuliah, adik pulangnya dengan orang tua dan pulangnya siang. Rumah sepi dan akhirnya terjadilah seperti itu.” (WSIR-14.S5)
Sama halnya dengan Ratu yang mengalami kebiasaan
melakukan hubungan seks pranikah. Berawal dari rasa penasaran
yang sampai akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Hal ini dibuktikan
dari hasil wawancara terhadap Ratu :
“Mungkin karena pacar saya ini terbuka, dia suka menceritakan apa yang dia lakukan bersama mantan-mantannya. Kebetulan temen saya juga bercerita mba tentang hal yang berbau seks, jadi saya semakin penasaran mba.” (WSIIR-20.S2)
“Iya mba baru 3 bulan terus ngelakuin, karena ada perasaan kecocokan dan ada pemikiran bahwa hubungan ini bisa di pertahankan dan bisa sampai kejenjang pernikahan. Kenyamanan saya dengan dia itu masuk banget dan membuat saya semakin yakin dengan dia.” (WSIIR-26.S3) “Iya mba, ketika dia goda-godain disuatu hari itu aku bilang kalau coba aku pikir dulu ya, lalu keesokan harinya kami melakukan. Jadi sebelumnya sudah direncanakan dengan pasangan saya mba.” (WSIIR-48.S4)
Dari hasil wawancara kedua subjek, peneliti menemukan
adanya hal-hal diluar dari diri mereka yang menyebabkan kebiasaan
melakukan hubungan seks pranikah yaitu pengaruh dari lingkungan
sekitar. Pengalaman ini membentuk perilaku mereka menjadi orang
yang selalu diarahkan oleh lingkungan sekitarnya dan belum mampu
untuk menetapkan tujuan yang sudah ditetapkannya.
Peneliti juga mendapatkan hasil wawancara dari informan
Raja bahwa adanya keselarasan terhadap hasil wawancara yang
telah dilakukan dengan subjek. Dari hasil wawancara yang
dilakukan terhadap informan Raja memperoleh hasil wawancara
yang sama bahwa:
“Iya saya tau, dia sudah melakukan hal itu dengan beberapa wanita. Tapi saya tidak tau tepatnya sudah ada berapa wanita yang tidur dengan dia. Setau saya ada 4 wanita yang sudah tidur dengan dia, tapi tidak semua pacarnya yang tidur dengan dia. Tidur disini masut saya melakukan hubungan seks pranikah ya mba, agak saru kalau frontal mengatakan seks begitu, hehehe.” (WISTS-7.S1)
Sama halnya dengan Ratu, yang gampang terpengaruh dari
lingkungan sekitarnya. Dimana ratu terpengaruh dari cerita teman
yang sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah, timbulnya
rasa penasaran yang menyebabkan Ratu untuk berani melakukan
hubungan seks pranikah. Serta adanya dorongan yang kuat dari
pacarnya untuk melakukan hubungan seks pranikah tersebut. Dari
hasil wawancara yang dilakukan terhadap informan Ratu
memperoleh hasil bahwa:
“Iya saya tau mba. Waktu itu gak sengaja dia keceplosan cerita.” (WISIIVP-6.S1)
“Iya waktu itu dia bilang udah pernah melakukan gitu.” (WISIIVP-7.S2)
“Katanya sih karena penasaran, trus pacarnya godain gitu trus terjadilah.” (WISIIVP-8.S3)
“Waktu itu dia gak sengaja cerita juga sih mba kalau dia sudah melakukan hubungan seks pranikah.”
(WISIITR-11.S1)
2. Penikmat hubungan seks pranikah memaknai tanggung jawab sebagai pelajar.
Peneliti memperoleh data bahwa Raja adalah seorang
mahasiswa yang sedang berusaha menyelesaikan studinya yang
sudah memasuki semester 12. Peneliti memperoleh data bahwa ia
belum mampu memenuhi tugasnya sebagai mahasiswa. Dalam
penelitian ini Raja belum mempu memenuhi tanggung jawab
sarjana. Ia memiliki rasa penyesalan atas apa yang ia lakukan selama
ia kuliah. Hak ini dapat dilihat dari hasil wawancara terhadap Raja:
“Berpengaruh dek. Salah satu dampaknya adalah kuliah aku yang berantakan, hubungan dengan teman juga kurang dekat” (WSIR-38.P1)
“Iya menyesal karena teman-teman aku sekarang udah pada lulus, udah ada yang kerja juga sedangkan aku masih disini-sini aja. Orang tua juga nanyain terus kapan lulus, kapan selesai skripsinya. Ya nyesel sih, Cuma ya mau gimana itu kesalahan aku juga, bukan kesalahan orang lain. Bersyukurnya sekarang aku udah mulai sadar dengan kuliah aku yang harus aku perjuangin lagi, walaupun nyesel tapi masih bersyukur karena aku masih ada semangat buat selesaikan kuliah aku.Karena aku merenung atau menyesali terus gak aka nada gunanya, gak akan balikin aku ke masa lalu.” (WSIR-42.P2)
Peneliti memperoleh data bahwa Ratu adalah seorang
mahasiswI yang sedang berusaha menyelesaikan skripsinya yang
sudah memasuki semester 10. Peneliti memperoleh data bahwa ia
belum mampu memenuhi tugasnya sebagai mahasiswa. Hal ini
dapat dilihat dari hasil wawancara terhadap Ratu:
“Kayaknya sih gak ada, masih gini-gini aja mau seks ataupun gak seks juga. Sekarang saya tinggal skripsi tidak ada mata kuliah, jadi lebih tergantung mood saya saja, jika mau mengerjakan ya ngerjakan kalau gak ya gak.”
(WSIIR-37.P1)
Berdasarkan hasil wawancara peneliti mendapatkan hasil
wawancara bahwa subjek Raja memiliki masalah dalam
memilih untuk bersama pasangannya di kost ketika jam perkuliahan.
Hal ini diperoleh melalui hasil wawancara berikut:
“Kalau bisa dibilang kurang mba, dia sering gak masuk dan akhirnya dia harus mengulang mata kuliah. Semester kemarin dia tidak kuliah sama sekali mba, dia kerjaannya
pacaran saja dan lebih mementingkan pacarnya
dibandingkan masuk mata kuliah. Sekarang dia sudah tidak punya pacar jadi sekarang dia lebih sering kumpul sama temen-temennya.” (WISTS-11.P1)
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan terdapat
keselarasan, peneliti memperoleh hasil bahwa Ratu merupakan siswi
yang rajin masuk kelas ketika ada mata perkuliahan. Jika dikaitkan
hasil wawancara Ratu dengan informan dapat selaras, bahwa tidak
ada sangkut paut antara studi dan seks. Hal ini diperoleh dari hasil
wawancara berikut:
“Ratu anak yang rajin, bisa di bilang tidak pernah bolos ketika kuliah.” (WISIIVP-11.P1)
3. Penikmat hubungan seks pranikah memaknai tanggung jawab sebagai anak dalam keluarga.
Peneliti mendapati bahwa dalam keluarga Raja yang mengetahui
hubungan seks pranikahnya adalah Bapak dan kakak perempuannya.
Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil wawancara Raja:
“Kalau ada ketakutan atau gak sih gak ada, namanya lagi pengen dan pengen ngerasain kayak apa rasanya jadi gak ada kepikiran kesana. Jadi aku istilahnya karena udah tau posisi rumah kosong, jadi bisa memperkirakan kalau orang datang pasti ada suara kendaraan entah mobil atau motor dan pasti ada suara gerbang kebuka. Posisinya pintu depan
itu juga dibuka istilahnya tidak terlalu ketutup banget.” (WSIR-15.K1)
“Iya, yang tau di keluarga aku Cuma kakak sama bapakku aja.” (WSIR-51.K2)
“Ada rasa malu, takut juga kalau semisal aku dimarahi oleh kakak dan bapakku. Sejak kejadian SMA itu aku sempat berfikir untuk tidak melakukan lagi, namun ya udah niat itu ilang gitu aja dan akhirnya aku melakukan lagi.”
(WSIR-52.K3)
Peneliti mendapati bahwa dalam keluarga Ratu tidak ada
yang mengetahui perbuatan seks pranikahnya. Subjek memiliki
ketakutan untuk tidak diterima lagi didalam keluarga jika hal ini
diketahui oleh keluarganya. Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil
wawancara Ratu:
“Iya mba karena baru pertama kali melakukan, jadi ada ketakutan jika nanti keluarga mengetahui apa yang aku lakukan apa lagi keluargaku dari keluarga yang baik-baik.” (WSIIR-25.K1)
“Pasti akan berfikir, mau bilang apa nanti ke ibu, ya ada perasaan takut juga unutuk tidak diterima lagi didalam keluarga.” (WSIIR-29.K2)
Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap informan terdapat keselarasan, peneliti memperoleh hasil wawancara bahwa hubungan seks pranikah yang dilakukan raja ini diketahui oleh kakak dan bapaknya. Hal ini dibuktikan melalui hasil wawancara Informan sebagai berikut:
“Iya mba saya tahu akan hal itu.” (WISK-4.K1)
“Di rumah yang mengetahui hal ini hanya saya dan Bapak saja. Waktu itu dia menceritakan karena dia di ancam oleh pacarnya yang dulu.” (WISK-6.K2)
Berbeda dengan Ratu, dimana keluarganya tidak ada yang
mengetahui hubungan seks pranikahnya. Hal ini dibuktikan melalui
hasil wawancara informan sebagai berikut :
“Penyesalan sih ada, seperti rasa takut yang dia sampaikan kepada saya jika nanti hal ini diketahui oleh orang tuanya.” (WISIIVP-10.K1)
4. Mahasiswa memaknai hidupnya setelah melakukan hubungan seks pranikah.
Peneliti mendapati bahwa subjek Raja melakukan hubungan seks
pranikah dengan pasangannya merupakan tanda cinta dalam hubungan
cintanya. Hubungan seks pranikah ini juga merupakan sebuah
kebutuhan bagi hubungan cintanya. Hal ini dapat dibuktikan melalui
hasil wawancara Raja:
“Disitu rasanya seneng karena akhirnya terpuaskan juga rasa penasaran aku selama ini.” (WSIR-18.H1)
“Iya itu merupakan hal yang wajib untuk dilakukan dalam sebuah hubungan berpacaran. Walaupun memiliki pacar yang tidak melakukan hubungan seks, karena posisi gak mau ya aku menghargai apa yang menjadi keputusannya dan aku bukan tipikal orang yang memaksa.” (WSIR-29.H2)
“Ketika sedang melakukan hubungan seks tidak ada pikiran kesana karena hanya seks seks dan seks. Tapi kalau sedang sadar ya berfikir kalau misal. Pertama, cewe ini udah punya cowo harusnya aku gak ngelakuin hal ini sama dia. Kedua, wah cewe ini masih perawan harusnya aku gak ngerebut keperawanan dia dimana kita juga gak tau kedepannya gimana. Tapi kalau nafsu sudah berjalan tidak adal lagi hati nuraniku. Jadi ada rasa penyesalan seperti itu tapi hanya sesaat, karena aku tidak memaksa karena berdasarkan mau sama mau.” (WSIR-31.H3)
Peneliti mendapati bahwa hubungan seks pranikah yang Ratu lakukan
bersama pasangannya, merupakan bentuk cinta yang ia berikan kepada
pasangannya. Ratu akan melakukan hal apapun terhadap pasangannya
untuk membuat pasangannya merasa bahagia. Hal ini dapat dibuktikan
melalui hasil wawancara Ratu:
“Rasanya takut sih mba, tapi enak.” (WSIIR-24.H1)
“Ada senengnya juga mba, karena bisa nyenengin pacar saya, tapi ada satu lagi yang saya rasakan tapi bingung menyampaikannya gmn. Kayak galau gitu mungkin ya.” (WSIIR-34.H2)
“Bisa di bilang begitu. Karena saya menyayanginya. Saya kalau sudah mencintai seseorang, pasti saya akan memberikan semua apapun yang dia minta saya kasih.” (WSIIR-36.H3)
“Biasa saja sih mba, mungkin lebih lega karena rasa
penasarannya sudah terbayarkan.” (WSIIR-38.H4)
Berdasarkan hasil wawancara peneliti mendapati bahwa
subjek Raja memiliki rasa kepuasan karena hal yang selama ini
hanya bisa ia tonton bisa terealisasikan, dan ketika melakukan hanya
nafsu yang berjalan. Hal ini dibuktikan melalui hasil wawancara
sebagai berikut:
“Kayaknya gak sih mba, malah terkesan bangga karena sudah melakukan hubungan seks pranikah tersebut.” (WISTS-9H1)
Tidak jauh berbeda dengan subjek Ratu dimana adanya rasa
pranikah. Hal ini dibuktikan melalui hasil wawancara dengan
informan sebagai berikut:
“Setau saya ada, sempat merasa ada perasaan bersalah” (WISIIVP-13.HI)
Peneliti mendapati adanya kesamaan pendapat antara subjek
Ratu dan subjek Raja, keduanya sama-sama berpendapat bahwa
hubungan seks pranikah merupakan tanda cinta dalam sebuah
hubungan.
5. Cara mahasiswa memaknai keperjakaan/keperawanan setelah melakukan hubungan seks pranikah.
Peneliti mendapati bahwa keperjakaan bagi Raja itu adalah yang
biasa saja. Subjek menyampaikan bahwa keperjakaan laki-laki tidak
kelihatan, beebeda dengan wanita yang terlihat masih perawan atau
tidaknya. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara Raja: “Biasa aja. Rasanya enak mba soalnya.” (WSIR-59.M1) “Mungkin karena kalau cowo perjaka dan tidak itu kan tidak kelihatan, kalau cewe dari fisik kelihatan jika sudah tidak perawan, entah dari kerapatan maupun selaput dara.” (WSIR-60.M2)
Peneliti mendapati bahwa subjek memiliki rasa bersalah
dalam dirinya karena sudah melakukan hubugan seks pranikah,
namun hal itu tidak dianggap serius. Hal ini dibuktikan melalui hasil
wawancara Ratu:
“Wah udah gak perawan terus kayak bingung gitu mba. Oww gini rasanya, oww gitu, kayak banyak yang mau ditanyakan ke siapa juga yang ingin aku tanyakan, kayak ada rasa bingung yang tidak dapat dijelaskan.” (WSIIR-56.M2)
“Ada perasaan bersalah, namun yasudahlah. Karena sudah terlajur basah ya sekalian saja basah.” (WSIIR-57.M3) Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti
mendapati bahwa adanya keselarasan hasil wawancara dengan
subjek Raja, hal ini dapat dibuktikan melalui hasil wawancara
berikut:
“Waktu itu dia bilang perjaka sama gak perjaka sama saja. Gapapalah, buat pemanasan besok sebelum sama istri. Biar besok bisa bahagiain pasangan, gitu katanya.”
(WISTS-10.M1)
Peneliti mendapati hasil wawancara dari informan, bahwa
ada rasa penyesalan dalam diri Ratu. Hal ini dibuktikan melalui hasil
wawancara berikut:
“Dia khawatir kalau nanti dia putus dengan yang ini, apakah ada laki-laki lain yang mau menerima dia dengan kondisi sudah tidak perawan.” (WISIITR-16.MI)
6. Mahasiswa penikmat hubungan seks pranikah memandang diri sebagai pribadi yang berharga di masa depannya.
Peneliti memperoleh data bahwa ketika Raja berhubungan
badan bersama pacarnya mengandalkan perasaan, serta memiliki
niat serius menjalin hubungan kedepan. Sedangkan dengan orang
perasaan. Hal ini dibuktikann dengan hasil wawancara terhadap
Raja:
“Pasti akan merasa malu, takut jika orang tua tau tentang kehamilan yang terjadi. Sempat kejadian beberapa kali cewekku telat datang bulan, sempat merasa khawatir tapi untungnya tidak terjadi kehamilan yang tidak diinginkan itu.” (WSIR-46.D1)
Peneliti memperoleh data bahwa Ratu memiliki harapan jika
tidak berjodoh dengan yang sekarang, pasangannya kelak bisa
menerima dirinya yang sudah tidak perawan dan sudah pernah
melakukan hubungan seks pranikah. Hal ini dapat dibuktikan
melalui hasil wawancara Ratu:
“Gak sih mba, karena aku kuliah di perawatan jadi aku tau bagaimana caranya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Kebetulan pacar saya juga sudah beberapa kali untuk melakukan hubungan seks jadi saya rasa dia sudah tau bagaimana mencegah terjadinya kehamilan.”(WSIIR-27.D1)
“Harapannya orang-orang bisa menerima aku yang seperti ini, lebih tepatnya pasangan aku kelak jika tidak berjodoh dengan yang sekarang.” (WSIIR-62.D2)
Dari hasil wawancara dengan dua subjek peneliti
memperoleh hasil bahwa adanya kekhawatiran dari dalam diri
subjek. Subjek Raja memiliki kekhawatiran bila terjadinya
kehamilan diluar nikah karena beberapa kali pasangannya
mengalami telat dalam siklus menstruasi. Hal ini dibuktikan melalui
” Oww iya saya ingat satu kejadian ketika ada pacarnya yang telat bulan. Disitu dia sempet uring-uringan gitu mba. Sempet nanya cara gugurin bayi gimana. Tapi setelah dia tanya itu besoknya dia cerita kalau pacarnyas sudah datang bulan, lega sekali katanya.” (WISTS-8.D1)
Subjek Ratu juga memiliki kekhawatiran jika hubungan dia
yang sekarang tidak berlanjut sampai pernikahan, dan juga bila nanti
orang yang selanjutnya tidak bisa menerima dia yang sudah tidak
perawan lagi. Hal ini dibuktikan melalui hasil wawancara Informan
Ratu sebagai berikut :
““Dia khawatir kalau nanti dia putus dengan yang ini, apakah ada laki-laki lain yang mau menerima dia dengan kondisi sudah tidak perawan.” (WISIITR-16.DI)
Peneliti mendapati subjek Raja memiliki pendapat bahwa
hubungan seks pranikah tidak memiliki sangkut paut dengan harga
diri. Subjek juga menyampaikan bahwa sekecil apapun dosa sama
halnya dengan dosa besar, jadi apapun yang dilakukan didunia ini
adalah dosa. Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil wawncara Raja: “Menurut aku hubungan seks pranikah itu tidak ada sangkut pautnya dengan harga diri. Harga diri itu ketika bercerita tentang kejelekan orang lain, menjatuhkan orang lain dibelakang orang tersebut. Munafik, ketika di depan A membicarakan B , tapi ketika berhadapan dengan si B membicarkan si A. jadi aku merasa kyk gak dihargai gitu loh, sesuatu hal yang gak aku lakuin tapi diomongin aneh-aneh.” (WSIR-61.D2)
“Berkaitan tentang hal itu aku merasa bahwa tidak ada manusia didunia ini yang tidak berdosa. Sekecil apapun ataupun sekedar mencibir atau ngomongin orang itu adalah hal dosa. Jadi buat apa ketika kita membuat diri kita sok-sokan gak berdosa tapi kita melakukan dosa yang lain,
karena dosa itu bukan hanya hubungan seks doang. Jadi kalau semisal ada temen yang komen kalau aku itu berdosa loh berhubungan seks di luar nikah , tapi ketika teman aku bergosip di belakangku soal aku itu kan juga sebagai dosa. Hal yang mengatakan kejelkan orang itu kan dosa.” (WSIR-62.D3)
Peneliti mendapati bahwa subjek Ratu tidak terlalu
memikirkan terlalu jauh, dan berusaha berlaku seperti orang yang
sewajarnya saja. Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil wawancara
Ratu:
“Teringat sih akan ajaran agama, tapi saya melihat teman-teman saya banyak gitu yang melakukan walaupun mereka tidak bercerita tapi terlihat gitu dan bagaimana dia berhubungan dengan pacarnya kita tau. Pacar saya juga bilang, jalani saja hidup seperti nyamannya kita. Jadi aku merasa kita jadi orang gak usah munafiklah, pasti semua melakukannya walaupun gak bilang. Ini juga sebagai privasi aja, sebagai konsumsi pribadi saja.” (WSIIR-52.D3)
“Karena saya baru melakukan hubungan seks dengan satu orang saya tidak terlalu memikirkan terlalu jauh, dan berusaha berlaku seperti orang yang sewajarnya saja. Seperti wanita polos yang tak tau apa-apa, dan berlindung di bawah orang tua yang baik-baik, dimana orang akan
memandang saya sebagai anak yang baik-baik.”
(WSIIR-59.D4)
Berdasarkan hasil wawancara peneliti memperoleh hasil
bahwa kedua subjek memiliki perbedaan dalam memandang masa
depan. Subjek Raja merasa bahwa hubungan seks pranikah wajar
untuk dilakukan, dan merasa bahwa semua orang akan berdosa, dosa
kecil maupun dosa yang besar. Subjek Ratu mengambil sikap untuk