METODE PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Bab ini akan menguraikan (1) makna simbolik yang terkandung dalam acara maggiri pada pesta adat komunitas Bissu di Kecamatan Segeri Kabupaten Pangkep (2) Persepsi masyarakat Segeri terhadap keberadaan Bissu.
Simbol dalam acara maggiri akan dianalisis berdasarkan aspek bentuk dan jenis peralatan yang digunakan, maka peneliti menggunakan teori stukturalsme Levi-Strauss karena teori tersebut berhubungan dengan mitos dan bahasa. Sebagaimana diungkapkan oleh Levi-Staruss bahwa bahasa adalah sebuah media, alat, dan sarana dalam berkomunikasi.
Untuk lebih jelasnya analisis mempeoleh hasil berikut: a. Temuan Peneliti
(a). Simbol yang ditemukan oleh peneliti adalah perlengkapan yang digunakan dalam acara maggiri yang terdiri atas:
1. Alat yaitu berupa badik, ota, beras , dan ayam.
2. Kue yaitu onde-onde (umba-umba), cangkuling, lapisi, dan beppa oto, cucuru bayao dll.
3. Pakaian yaitu baju, sarung, celana, selendang, dan passapu.
Berdasarkan hasil perolehan data maka untuk lebih jelasnya dipaparkan di bawah ini.
b. Makna simbol dalam penelitian ini 1. Alat
Alat atau perkakas (inggris: tools). Alat adalah suatu benda yang dapat dipakai untuk mengerjakan sesuatu; perkakas, perabot, yang dipakai untuk mencapai maksud (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005, hal: 30). Begitu pula halnya peralatan yang digunakan oleh para bissu dalam melakukan ritual adalah untuk mempermudah komunitas tersebut dalam melaksanakan pekerjaannya dalam hal maggiri, sebagai berikut:
a. Ota Sakke (Sirih, pinang, kapur, tembakau)
Ota atau lebih dikenal dengan sebutan siri yang mempunyai nama latin piper betle l merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya daun dan buahnya biasa dikunyah bersama gambir, pinang, tembakau, dan kapur. Selain itu sirih juga mempunyai banyak manfaat untuk menjaga kesehatan.
Ciri daun sirih adalah panjangnya 5-8 cm daunnya tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Sedangkan batangnya ialah berwarna coklat kehijauan berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Jenis-jenis daun
sirih terbagi atas sirih hias, sirih hitam, sirih merah, sirih gading, sirih belanda, sirih hijau, sirih kuning, dan sirih hitam.
Ota (Sirih)
Konon sebelum dunia ini berpenghuni, Dewa Patotote berkeinginan untuk menurunkan salah seorang putranya untuk turun ke dunia tengah ( Ale lino=bumi) menjadi tunas yang akan berketurunan dan dapat memakmurkan bumi yang masih kosong dari pengaruh kerajaan dan kedewaan, yang kelak akan menyembah kepada Dewata dikala sulit maupun mengirim doa-doa pujian dikala senang kepada Dewa. Maka, diutuslah seorang putra Dewata untuk turun ke bumi dan berkembang biak seperti sekarang ini.
Ota atau sirih yang konon digunakan oleh Batara Guru turun ke bumi sebagai kendaraan, yang menyerupai sebuah mangkuk oleh Batara Guru dari botting langi turun ke ale lino (dari langit turun ke bumi).
Siri (bahasa la galigo) namun lebih dikenal oleh masyarakat bugis dengan nama ota dan selalu digunakan pada setiap upacara adat baik untuk acara pengantin mupun acara sakral lainnya, seperti pada saat hendak memanggil perias pengantin atau indo botting, dukun beranak dan lain sebagainya, maka sirih atau ota ini dijadikan sebagai salah satu syarat untuk dapat diterima oleh sang perias pengantin maupun dukun beranak tadi, begitupun halnya pada acara ritual bissu yang selalu menyertakan ota dalam setiap melakukan ritual.
Ota atau sirih bisa juga diartikan mappalise (berisi), karena manusia diciptakan dan terlahir dalam keadaan sempurna yang mempunyai akal dan pikiran yang dinamai otak. Dengan otak inilah, manusia dapat hidup dan menghidupi keluarganya dengan menggunakan otaknya untuk berfikir dan bekerja sehingga mereka dapat hidup dengan layak di bumi ini dan saling menghargai dengan sesama mahluk hidup lainnya. Karena sesungguhnya manusia adalah mahluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa yang diberikan akal serta fikiran yang bisa membedakan antara hal yang baik dan perbuatan yang buruk.
Dalam budaya Bugis Makassar siri atau ota juga dipercaya adalah simbol atau cermin identitas serta watak seseorang, rasa malu atau harga diri orang bugis pada masa itu dan bahkan sampai saat ini, masih sangat dipegang kuat. Suku bugis sangat memegang kuat dan menghindari agar tidak kehilangan siri, karena seorang bugis merasa siri itu diatas segala-galanya mereka rela mati mati demi memertahankan martabat dan harga dirinya. Karena seseorang tidak akan tertimpa atau kehilangan siri apabila mereka menggunakan otaknya untuk berpikir dengan baik dan akal sehat agar tidak kehilangan sirina atau pammate siri (dipermalukan).
Kata siri , dalam bahasa Bugis atau Makassar bermakna “malu”. Struktur siri dalam budaya Bugis atau Makassar mempunyai empat kategori yaitu, (1) Siri’Ripakkasiri’, (2) Siri’Mappakasiri’siri, (3) Tabbe’Siri”, (4) Siri’Mate siri”.
Siri Ripakasiri
Adalah siri yang berhubungan dengan harga diri pribadi, serta harga diri atau tau harkat dan martabat keluarga. Siri jenis ini adalah sesuatu yang tabu dan pantang untuk dilanggar karena taruhannya adalah nyawa.
Sebagai contoh dalam hal ini adalah membwa lari seorang gadis (kawin lari), baik laki-laki maupun perempuan, harus dibunuh, terutama oleh pihak kelurga perempuan (gadis yang dibawa lari) karena telah membuat malu keluarga.
Contoh lain adalah kasus kekerasan, penganiayaan atau pembunuhan dimana pihak ke;uarga korban yang merasa terinjak-injak harga dirinya (Sirina) wajib untuk menegakkannya kembali, kendati pun ia harus membunuh atau terbunuh. Utang darah harus dibalas dengan darah, utang nyaa harus dibals dengan nyawa.
Dalam keyakinan orang Bugis atau Makassar bahwa orang yang mati terbunuh karena mempertahankan siri’, mtinya adalah mati syahid, atau yang mereka sebut Mate risantangi atau Mate Rigollai, yang artinya bahwa, yang atinya kematiannya ibarat kematian yang terbalut oleh santan atau gula.
Secara logika orang lain (selain suku Bugis-Makassar) memang tidak dapat memahami hal tersebut, kecuali bagi mereka yang telah paham makna siri yang sesungguhnya. Agar dapat memahami tentang bagaimana pentingnya menjaga siri’Ripakkasiri, simaklah pepatah
berikut: sirimi imonro tuo rilinoe, narekko denagaga sirimu mutuwo sirupa olokoloe, yang artinya karena malu kita masih hidup, jika hidup sudah tidak mempunyai rasa malu maka hidup ini menjadi hina seperti binatang, bahkan lebih dari binatang.
Siri’Mapakkasiri’Siri’
Siri ini berhubungan dengan etos kerja. Dalam falsafah Bugis disebutkan, “narekko de gaga sirimu inrengko siri”, yang artinya kalau anda tidak mempunyai rasa malu maka pinjamlh kepada orang yang masih memilki rasa malu (siri). Begitu pula sebaliknya, “Narekko engka siri’mu, aja’ mupakasiri-siri.”Artinya jangan membuat malu. Bekerjalah dengan giat, agar harkat dan martabat keluarga dapat terangkat. Jangan menjadi peminta-minta karena itu sama halnya dengan membuat keluarga menjadi malu atau mempermalukan keluarga.
Dengan dimotivasi oleh semangat siri’ sebagaimana ungkapan orang Makassar “Takkunjunga bangun turu’ naku gunciri’ gulingku kualleangngangi tallanganna to waliya”. Artinya, begitu mata terbuka (bangun di pagi hari), arahkan kemudi, tetapkan tujuan ke mana kaki akan melangkah, bulatkan tekad “lebih baik tenggelam daripada balik haluan (kembli ke rumah) sebelum tercapai cita-cita”. Atau, sekali layar terkembang panang biduk surut ke pantai sebelum tercapai tujuan, sebelum tercapai pulau harapan.
Selain itu, siri’ Mappakasiri’siri’ juga dapat mencegah seseorang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum, nilai-nilai moral, agama, adat-istiadat dan perbuatn-perbuatan lainnya ang dapat merugikan manusia daan kemanusiaan itu sendiri.
Salah satu falsafah Bugis dalam kehidupan bermasyarakat adalah “Mali siparappe, Malilu sipakainge”, dan “pada idi’ pada elo’ sipatuo sipattokkong” atau “pada idi’ pada elo’ sipatuo sipatettong”. Artinya ketika seorang sanak keluarga tertimpa kesusahan atau musibah maka keluarga yang lain ikut membantu. Dan, kalau seseorang terjerumus ke dalam kubangan nista karena khilaf maka kelurga yang lain wajib untuk mengingatkan atau meluruskannya.
Siri’ Tappela’ Siri’ (Makassar) atau Siri’ Tabbe Siri’ (Bugis)
Yang artinya rasa malu sesorang sudah hilang “terusik” karena sesuatu hal. Misalnya, seseorang yang mempunyai utang dan telah berjanji untuk membayarnya maka si pihak yang berutang berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya atau membayar utangnya, sebagaimana waktu yang telah ditentukan (disepakati). Ketika sampai waktu yang telah ditentukan, jika orang yang berutang tidak menepati janjinya, itu artinya telah mempermalukan dirinya sendiri.
Orang Bugis atau orang Makassar yang masih memegang teguh nilai-nilai Siri’, ketika berutang tidak perlu ditagih, dia akaan datang senddiri untuk membayar utangnya.
Siri’ yang satu ini, berhubungan dengan iman. Dalam pandangan orang Bugis atau Makassar,orang yang mate siri’-nya adalah orang yang di dalam dirinya sudah tidak ada rasa malu (iman) sedikit pun. Orang seperti ini diapakan juga tidak akan pernah merasa malu, atau yang biasa disebut bangkai hidup yang hidup.
Betapa hina dan tercelanya orang seperti ini dalam kehidupan. Aroma busuk kan tercium di mana-mana. Tidak hanya di lingkungan Istana, di senayan, bahkan di tempat-tempat ibadah juga tercium bau busuk yang terasa sangat menyengat. Korupsi, kolusi dan nepotisme, jual-beli putusan, mafia anggaran, mafia pajak, serta mafia-mafia lainnya, akan senantiasa mewarnai pemberitaan media setiap harinya, Nauzubillahi min-dzalik.
Siri’ yang merupakan konsep kesadaran hukum dan falsafah dalam masyarakat Bugis-Makassar adalah sesuatu yang dianggap sakral. Begitu sakralnya kata tersebut, sehingga apabila seseorang kehilangan Siri’-nya atau Dena gaga siri’na, maka tak ada lagi artinya menempuh kehidupan sebagai manusia. Bahkan orang Bugis-Makassar berpendapat kalau mereka itu sirupai olo’ kolo’ e (seperti binatang). Petuah Bugis berkata: Siri’mi Narituo (karena malu kita hidup).
Alosi (Pinang)
Alosi (Bahasa Bugis) yang lebih dikenal dengan nama pinang mempunyai nama latin Areca catechu L. Alosi atau pinang
mempunyai ciri-ciri pohon tumbuh satu-satu tidak berumpun jenis palem. Batang lurus agak licin, dengan tinggi pohon dapat mencapai 25 meter, sedangkan dimeter batang atau jarak ruas batang sekitar 15 cm dan mempunyai garis lingkaran batangtampak jelas, bentuk buah bulat telurdengan ukuran sekitar 3,5 cm sampai 7 cm serta berwarna hijau aktu muda dan merah kekuningan saat masak atau tua.
Alosi atau pinang pada jaman dahulu terutama ditanam untuk dimanfaatkan bijinya, yang di dunia Barat dikenal sebagai betel nut. Biji ini dikenal sebagai salah satu campuran orang makan sirih, selan gambir dan kapur. Biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak.
Konon pada jaman dahulu jenis pinang hitam, digunakan sebagai bahan peracun untuk menyingkirkan musuh atau orang yang disukai. Sedangkan pelepahnya yang mirip tabung (dikenal sebagai upih) digunakan sebagai pembungkus kue-kue dan makanan, sedangkan umbutnya dimakan sebagai lalapan atau dibikin acar.
Alosi atau pinang yang berbiji keras ini diibaratkan sebagai gambaran otak manusia, bijinya yang keras tidak dapat dipisahkan dari karakter orang bugis yang keras dalam pendirian namun tetap mengedepankan pikiran yang sehat agar tidak terjadi kesalahpahaman baik dengan suku sendiri terlebih lagi dengan suku lain.
Alosi atau pinang ini diibaratkan seseorang yang mempunyai martabat yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur, serta jujur yang
bersedia melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan pikiran yang terbuka. Makna ini bisa dilihat dari pohonnya yang tinggi menjulang, buahnya yang lebat, semua berguna untuk kehidupan manusia, mulai dari akarnya yang bisa dijadikan obat, buahnya yang pada jaman dahulu bisa digunakan untuk memperkuat gigi, serta batangnya yang bisa dijadikan tiang, bahkan bisa dibuat menjadi papan dan masih banyak lagi kegunaan dari pinang tersebut.
Puale (kapur)
Puale atau Kapur berasal dari batu kapur atau Calcium Carbonate (Ca CO3) terbentuk lebih dari 300-500 juta tahun lalu, yang berasal dari kerang, karang, ikan purba dan kalsium yang mengendap ke dasar laut dan membentuk lapisan dari batuan kapur.
Batuan kapur (Limestone) dapat berubah menjadi “kapur reaktif” apabila mendapatkan pemanasan 900 c, yang apabila dicampur dengan air membentuk reaksi kimia menjadi Calcium Hidroksida (Ca (OH) 2)an apabila mengering akan kembali ke bentuk aslinya.
Kapur yang digunakan dalam mengonsumsi sirih pinang mengandung manfaat untuk kesehatan periodental karena mengandung zat-zat kitin yang bermanfaat untuk kesehatan.
Kapur atau puale yang berwarna putih, merupakan simbol tulang belulang manusia yang dibungkus oleh daging dan kulit. Warna putih selalu diidentikkan dengan kebersihan dan kesucian. Warna putih sering dihubungkan dengan terang, kebaikan, kemurnian, kesucian dan keperawanan.
Makna dari warna putih adalah aman, murni, dan bersih. Warna putih pun oleh budaya manapun selalu dimaknai dengan suci, seperti halnya di Bali, pakaian pedanda memakai bajun yang berwarna putih, demikin pun paus dan uskup menggunakan jubah berwarna putih, terlebih lagi bagi umat islam menggunakan kain putih dalam menjalankan Ibadah haji yaitu kain Ihram baik laki-laki maupun wanita menggunakan warna yang sama yaiu warna putih.
Dari sinilah kenapa bissu dalam setiap melakukan ritualnya harus ada kapur atau puale tersebut, yang menganggap seorang bissu adalah sekelompok orang suci dan bersih karena sesungguhnya mereka tidak berdarah atau haid, tidak melahirkan dan tidak pula menyusui. namun mereka pun bisa lebih agresif dan marah bila keadaan memaksa.
Kapur diperoleh dari pemrosesan cangkang kerang atau pembakaran batu kapur. Secara fisik, warnanya putih bersih, tetapi reaksi kimianya bisa menghancurkan. Begitu pun dengan bissu, mereka lemah lembut dalam bertingkah laku dan bertutur kata, namun sesungguhnya mereka akan bisa lebih kuat dari laki-laki yang sempurna, apabila mereka dalam keadaan yang terdesak dan terancam.
Ico (tembakau)
Tembakau (ico) yang bernama latin Nicoiana tabacum. Dalam Bahasa Indonesia tembakau merupakan serapan dari bahasa asing. Bahasa Spanyol “tabaco” dianggap sebagai asal kata dalam bahasa
Arawakan, khususnya, dalam bahasa Tainodi Karibia, disebutkan mengacu pada gulungan daun-daun pada tumbuhan ini (menurut Bartolome de Las Casas, 1552) atau bisa juga dari kata “tabago”, sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup asap tembakau (menurut Oviedo, daun-daun tembakau dirujuk sebagai Cohiba, tetapi Sp. Tabaco (juga It. Tobacco) umumnya digunakan untuk mendefinisikan tumbuhan obat-obatan sejak 1410, yang berasal dari Bahasa arab “tabbaq”, yang dikabarkan ada sejak abad ke-9, sebagai nama dari berbagai jenis tumbuhan. Kata tobacco (bahasa Inggris) bisa jadi berasal dari Eropa dan pada akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis yang berasal dari Amerika.
Tembakau adalah produk pertanian semusim yang bukan termasuk komoditas pangan, melainkan komoditas perkebunan. Produk ini dikomsumsi bukan untuk makanan tetapi sebagai pengisi waktu luang atau “hiburan” , yaitu sebagai bahan baku rokok dan cerutu.
Tembakau dapat dikunyah. Kandungan metabolit sekunder yang kaya juga membuatnya bermanfaat sebagai pestisida dan bahan baku obat. Ico atau tembakau di simbolkan sebagai rumpu api (dapur yang selalu berasap) yang berarti kehidupan manusia sangat bergantung dengan dapur yang selalu harus beraktifitas.
Dapur adalah tempat keluarga untuk melakukan segala aktifitas yang berhubungan dengan perut, baik untuk keluarga itu sendiri maupun sekedar untuk berbagi dengan sesama. Dapur diumpamakan
sebagai sebuah negeri atau kampung, yang bila suatu kampung keadaannya subur, makmur dan sentosa tentu akan selalu berasap atau ada aktifitas yang selalu dijalankan atau dikerjakan oleh masyarakat tersebut.
Apabila sebuah kampung yang penduduknya sangat miskin maka, diibaratkan dapurnya tak akan pernah berasap atau masyarakat dalam kampung tersebut taraf ekonominya berada di tingkat paling bawah, karena mungkin penghuninya atau masyarakatnya malas atau tidak mau untuk bekerja keras agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak, yang pada akhirnya mengakibatkan dapur menjadi diam dan tidak berasap. Apabila dapur tak berasap maka sebuah keluarga atau kaum akan tersebut akan mati dan bahkan bisa punah.
Kehidupan manusia di dunia ini akan selalu membutuhkan makanan dan mengonsumsinya untuk kelangsungan hidupnya. Yang berarti manusia hidup karena semua makanan harus selalu dan pasti ada hubungannya dengan api, yang menurut orang bugis bahwa “iya maneng kianrede nakke’na maneng sellung api” yang berarti apapun yang ada hubungnnya dengan makanan yang akan kita konsumsi setidaknya harus dimasak terlebih dahulu dengan menggunakan api.
Sellung-sellung api ini juga mengingatkan pada salah satu filosofi Bugis yang mengatakan “Makkalu Dapureng Wekka Pitu” yang berarti dalam kehidupan berumah tangga, seorang suami atau pemimpin keluarga harus mampu untuk bisa mengelilingi dapur sebanyak tujuh
kali, yang bermakna bahwa seseorang yang telah bertekad untuk membina rumah tangga, maka orang tersebut telah sanggup untuk dapat menafkahi istrinya atau keluarganya dengan usaha sekuat tenaga agar keluarga yang dibinanya bisa menjadi langgeng, sejahtera tanpa kekurangan sedikit pun, baik sandang, pangan dan papan.
Keluarga yang sejahtera adalah keluarga yang mampu untuk selalu membuat dapurnya selalu berasap. Dengan berasapnya dapur berarti keluarga tersebut atau sebuah kampung telah dapat mencukupi segala kebutuhan dan keperluan yang dapat menunjang terciptanya keluarga yang sehat bukan hanya dari lahir namun dari segi batin membuat keluarga menjadi tenteram dan sentaosa demi kelangsungan kehidupan selanjutnya.
Lempu (Bunga nangka)
Nangka yang mempunyai nama latin (Artocarpus heterophyllus) pohonnya memiliki tinggi 10-15 m. Batangnya tegak berkayu, bulat, kasar dan berwarna hijau kotor. Daun Artocarpus heterophyllus, tunggal, berseling, lonjong, memiliki tulang daun yang menyirip, daging daun tebal, tepi rata, ujung runcing, panjang 5-15 cm, mempunyai lebar 4-5 cm, tangkai panjang lebih kurang 2 cm dan berwarna hijau, bunga jantan dan betinanya terpisah dengan tangkai yang memiliki cincin, bunga jantan ada di batang baru diantara daun
atau di atas bunga betina. Buah berwarna kuning ketika masa, oval, dan berbiji coklat muda (Heyne, 1987).
Lempu atau bunga nangka melambangkan kejujuran, lurus dan tidak macam-macam. Kejujuran harus selalu dijunjung tinggi dimana pun seseorang berada dan dalam keadaan apapun, kejujuran inilah yang harus dipegang teguh dan dijadikan pegangan dan menjadi pagar diri agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang bersipat buruk ataupun jatuh dalam kenistaan.
Orang tua dulu sering berpesan kepada remaja atau anak-anak muda yaitu ”Duami Uala Sappo, Unganna panasae na belo kanuku” yang berarti “Hanya dua yang kujadikan pegangan dalam hidup, bunga nangka=lempu yang bermakna kejujuran, dan perhiasan kuku=pacci= paccing yang berarti bersih.
Dalam bahasa Bugis, bunga nangka disebut lempu yang berasosiasi dengan kata jujur, sedangkan hiasan kuku dalam bahasa Bugis disebut pacci yang kalau ditulis dalam aksara lontara’ dapat dibaca paccing yang berarti suci atau bersih. Bagi suku Bugis, segala macam perbuatan harus dimulai dengan yang suci karena tanpa niat suci (baik), tindakan manusia mendapatkan ridha dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Saat ini, seiring pesatnya perkembangan dunia modern, semakin banyak pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin saja bisa menjerumuskan generasi saat ini, bahkan pemimpin-pemimpin dalam negeri ini pun masih bisa diragukan tingkat kejujurannya.
Seorang manusia yang hidup di dalam sebuah masyarakat, tentulah sangat diharapkan kejujurannya dalam segala hal, bukan hanya perilaku namun juga ucapan-ucapan yang dikeluarkan dalam setiap berkomunikasi akan menjadi modal utama untuk bisa dipercaya apakah orang tersebut mempunyai sifat jujur atau tidak.
Dalam adat Bugis atau kebiasaan suku Bugis, sering diucapkan oleh orang-orang tua bahwa “Ikkonami yakkateni olokolo’e, tau adami yakkateni” yang berarti bahwa binatang yang kita pegang adalah ekornya agar tidak lari, namun manusia yang dipegang adalah ucapannya atau janjinya, maksudnya apabila seseorang berkata atau berjanji hendaklah ucapannya itu bisa dipercaya dan menjadi pegangan bahwa apa yang telah diucapkan bisa dipercaya, karena satu kali saja kita ingkar akan apa yang telah terucapkan berarti orang tidak akan menaruh kepercayaan kepada seseorang untuk kedua kalinya.
a. Sesajen dalam ritual
Adapun sesajen yang bisa djumpai sebelum bissu melakukan ritualnya dan makna yang terkandung didalamnya adalah sebagai berikut:
1. Benang 7 ikat
2. Ayam (manu) 17 ekor 3. Siri (ota) 40
5. Cucu Bannang
6. Beppa (kue) 12 macam
1. Wennang Pitu Sio (Benang tujuh ikat) adalah simbol status sosial
Benang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari, karena baju,celana dan sarung yang kita gunakan berasal dari benang yang telah dipintal menjadi kain dan diolah menjadi pakaian. Fungsi pakaian yang digunakan sehari-hari adalah sebagai penutup tubuh atau aurat ( yang tentunya akan memberikan rasa nyaman dan aman). Pakaian dalam fungsinya memberikan keamanan adalah sebagai benteng atau tameng dari gangguan baik gangguan dari udara dingin, panas, atau gangguan yang diakibatkan karena pandangan mata.
Setiap bentuk dan jenis pakaian apapun yang dikenakan baik secara gamblang maupun secara samar-samar akan menyampaikan penanda sosial (social signals) tentang si pemakainya. Orang yang