KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
1. Strukturalisme Levi-Strauss
Sehubungan dengan strukturalisme Levi-Strauss, dapat ditemukan paling tidak lima pandangan dari de Saussure yang kemudian menjadi dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yakni pandangan tentang: (1) signified (tinanda) dan signifier (penanda). (2) form (bentuk) dan content (isi); (3) langue (bahasa) dan parole (ujaran, tuturan); (4) synchronic (singkronis) dan diachronic (diakronis); (5) syntagmatic (sintagmatik) dan associative (paradigmatik).
De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda kebahasaan (linguistic sign), yang wujudnya tidak lain adalah ‘kata-kata’. De Saussure menolak anggapan kubu nominalis yang mengatakan bahwa kata-kata ini memiliki makna karena kata-kata ini stand for sesuatu atau mewakili sesuatu. Alasan penolakannya adalah karena: (a) pandangan tersebut menganggap bahwa ide-ide sebelum kata-kata, padahal (b) pandangan tersebut tidak mengatakan kepada kita, apakah suatu nama pada dasarnya bersifat ‘vokal’ (bersuara) atau psikologis (psychological). Selain itu, (c) pandangan tersebut menganggap
bahwa hubungan antara suatu nama dengan suatu benda adalah sederhana, atau tidak problematis (Pettit, 1976:5-6).
Bagi De Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata, dan menurut dia secara psikologis pikiran kita –terlepas dari perwujudannya dalam kata-kata –sebenarnya hanyalah “a shapeless and indistinct mass”, suatu massa yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan.
De Saussure mengemukakan dua macam pembedaan yang sangat penting, yakni (a) pembedaan antara signified (tinanda) dan signifier (penanda), serta (b) pembedaan antara form (bentuk) dan content, substance (isi). Dua pembedaan ini saling menyilang sehingga pada setiap kata terdapat empat aspek, yakni: bentuk dan isi dari tinanda, dan bentuk dan isi dari penanda.
Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang signifier-, dengan sebuah ide atau tinanda –yang disebut signified-. Walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisah-pisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler, 1976: 19). oleh karena itu, setiap upaya untuk memaparkan teori de saussure mengenai bahasa pertama-tama harus membicarakan pandangan de Saussure tentang hakekat tanda tersebut.
De Saussure ( dalam Ahimsa:2001-34) mengatakan bahwa setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image), bukan menyatukan
sesuatu dengan sebuah nama. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier), sedang konsepnya adalah tinanda (signified). Dua unsur ini tidak dapat dipisahkan sama sekali.
Pemisahan hanya akan menghancurkan ‘kata’ tersebut. Ambil saja misalnya sebuah kata, apa saja, maka kata tersebut pasti menunjukkan tidak hanya suatu konsep yang berbeda (distinct concept), tetapi juga suara yang berbeda (distinct sound). “In language, a concept is a quality of its phonic substance, just as particular slice of sound is a quality of the concept” (Saussure, 1996: 103).
Bahasa dapat diumpamakan seperti selembar kertas yang memiliki dua sisi. Sisi yang satu adalah pikiran dan sisi yang lain adalah suara, dan tidak dapat menggunting sisi yang satu tanpa menggunting sisi yang lain.
Selanjutnya tanda kebahasaan (Linguistic Sign), menurut de Saussure, adalah sebuah entitas yang arbitrair, semena-mena. Artinya, hubungan atau kombinasi antara elemen penanda dan tinanda yang bersifat semena-mena. Tidak ada hubungan alami atau intrinsik antara kedua unsur tersebut. Contoh, tidak ada alasan yang jelas dan pasti mengapa seekor binatang berkaki empat yang dapat berlari kencang atau citra binatang yang seperti itu dalam pikiran – yang disebut konsep- disebut dengan istilah ‘kuda’, pada orang jawa menyebutnya jaran dan orang Inggris menyebutnya horse.
Bahasa bukan sekedar kumpulan nama-nama atau nomenklatur (nomenclatures). Tinanda dalam berbagai bahasa bisa sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Kata tresna dalam bahasa Jawa misalnya, tidak dapat diterjemahkan begitu saja menjadi kata cinta atau setia dalam bahasa Indonesia. Demikian pula halnya kata kunduran. Kata tresna dalam bahasa Jawa misalnya tidak dapat diterjemahkan begitu saja menjadi kata cinta atau setia dalam bahasa Indonesia. Demikian pula halnya kata kunduran. Kata ini tidak dapat diartikan sebagai kemunduran . Jadi, setiap bahasa sebenarnya mengartikulasikan, menyatakan ide tentang realitas di dunia dengan cara yang berbeda-beda.
Oleh karena bahasa bukanlah sekedar nomenklatur, maka tinanda-tinandanya bukanlah konsep-konsep yang sudah ada lebih dulu, tetapi konsep-konsep yang dapat berubah-ubah dan tergantung pada yang lain; konsep-konsep yang bervariasi mengikuti perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Dengan kata lain, setiap bahasa sebenarnya merupakan seperangkat tinanda-tinanda yang berbeda-beda. Setiap bahasa memiliki sendiri caranya yang khas dan arbitrair, seenaknya, dalam mengorganisir dunia dengan segala isinya ini menjadi konsep-konsep, menjadi kategori-kategori (Culler, 1976: 23).
Lebih dari itu, bahasa juga membagi suatu spektrum kemungkinan konseptual dengan cara yang disukainya. Fakta bahwa konsep-konsep atau tinanda-tinanda tersebut merupakan pembagian
–pembagian suatu kontinum secara arbitrair menunjukkan bahwa tinanda-tinanda tersebut tidaklah otonom atau berdiri sendiri, yang masing-masing memiliki semacam esensi atau inti yang menentukannya. Sebaliknya, tinanda-tinanda tersebut adalah bagian dari sebuah sistem dan ditentukan, didefinisikan, oleh bagian-bagian lain dari sistem tersebut (Culler, 1976: 24).
Menurut De Saussure bahasa juga harus mengandung differential structure (struktur differensial), sebab kalau tidak bagaiamana kita akan dapat mengetahui apakah suatu kata tetap tampak sama –jika ada peralihan atau pergantian dalam pengucapan dan penggunaan-, jika kata tersebut tidak memiliki suatu identitas formal dalam bahasa lewat pembedaannya dengan kaa-kata yang lain. Bahasa –demikian De Saussure menyimpulkan-, pada hakekatnya adalah juga sebuah sistem untuk membedakan kata-kata (Pettit, 1976: 8).
Berbeda dengan parole, atau performance menurut Chomsky, yang merupakan wujud atau aktualisasi dari languge dalam rupa lisan maupun tulisan (Culler, 1973: 8). Parole atau tuturan adalah apa yang di wujudkan ketika menggunakan suatu bahasa dalam percakapan atau ketika menyampaikan pesan tertentu lewat sura-suara simbolik yang keluar dari mulut seseorang. Tuturan bersifat individual, sehingga mencerminkan atau menunjukkan kebebasan pibadi seseorang.
Dalam istilah Levi-Staruss (1963) tuturan adalah sisi statistical dari fenomena bahasa Walaupun tuturan merupakan wujud empiris bahasa, namun sebuah tuturan tidak tidak pernah merupakan perwujudan dari keseluruhan dari bahasa yang merupakan sistem dengan struktrur tertentu.
Language dan parole memang berbeda, meskipun demikian bagaikan dua sisi dari sebuah mata uang yang sama, keduanya tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Agar pesan yang ingin disampaikan seseorang mencapai sasarannya atau dimengerti oleh pihak yang lain, maka parole yang diwujudkannya harus berada dalam sistem languge tertentu. Diabaikannya language akan membuat pesan yang ingin disampaikan tidak dapat dimengerti atau disalahmengertikan. Dengan kata lain, tanpa adanya language tidak akan ada parole. Sebaliknya, tanpa parole, language juga tidak akan diketahui keberadaannya.
Dalam analisis struktural struktur ini dibedakan menjadi dua macam: struktur lahir, struktur luar (surface structure), dan struktur batin, struktur dalam (deep structure). Struktur luar adalah relasi-relasi antar unsur yang dapat dibuat atau bangun berdasar, atas ciri-ciri luar atau ciri-ciri empiris dari relasi-relasi tersebut, sedang struktur dalam adalah susunan tertentu yang dibangun berdasarkan atas struktur lahir yang telah berhasil dibuat, namun tidak selalu tampak pada sisi empiris fenomena yang dipelajari. Struktur dalam ini dapat disusun
dengan menganalisis dan membandingkan berbagai struktur luar yang berhasil diketemukan atau dibangun.