• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka peneliti dapat menarik simpulan bahwa:

Makna Simbolik Ritual Maggiri pada Pesta Adat Komunitas Bissu di Kabupaten Pangkep sarat dengan simbol. Adapun jenis simbol yang digunakan dalam acara tersebut adalah simbol kesempurnaan seorang manusia atau bissu, simbol starata sosial, simbol religius, simbol kehidupan, simbol kejujuran, simbol warna kehidupan, simbol persatuan, simbol dunia simbol kerukunan.

Simbol kesempurnaan seperti “ota sakkek” (siri,kapur, tembakau, dan pinang), simbol rasa malu atau harga diri masyarakat Bugis, “puale” (kapur) tulang-belulang manusia, putih bersih, “ico” (tembakau) simbol kehidupan masih berlangsung, “alosi” (pinang) simbol otak manusia. “ota patapullo” (sirih empat puluh) simbol religius. “lempu-lempu” (bunga nangka) simbol kejujuran. “ pute bali’ lotong, pute bali’ cella, ridi, dan gau” ( putih berubah menjadi hitam, putih menjadi merah , kuning, biru) simbol warna-warna kehidupan. “adidi massebbu” (seribu lidi) simbol persatuan. “tope” (sarung) adalah

simbol dunia yang luas. Beppa seppulo dua rupanna (kue dua belas macam) simbol pembauran dengan suku lain. Sedangkan memmangnya (mantera) atau nyanyiannya adalah pesan-pesan kepada manusia untuk selalu mengingat sang pencipta akan semua yang ada di dunia ini pada akhirnya akan kembali ke haribaan sang Pencipta, jangan sombong dan jangan pernah takabur karena hidup di dunia hanya sementara saja.

Makna yang terkandung di balik Simbol ritual maggiri pada pesta adat komunitas bissu merupakan makna yang ditentukan oleh pandangan dan budaya suku Bugis serta adanya kesamaan sifat dan wujud suatu simbol dengan hal-hal yang disimbolkan.

Begitu pun persepsi masyarakat yang menganggap kehadiran bissu sebagai hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat, terkhusus para petani yang sangat mempercayai ritual bissu dapat memengaruhi hasil panen.

A. Saran

Sehubungan dengan tujuan penulisan ini, maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Sebagai anggota masyarakat Bugis tidak berlebihan jika peneliti menyarankan bahwa penelitian tentang sastra terkhusus tentang acara Ritual Bissu perlu mendapat perhatian peneliti, secara khusus masyarakat bugis atau peneliti yang cinta dan tertarik dengan kebudayaan Bugis.

2. Seiring dengan perkembangan zaman Keberadaan sastra Bugis kuno semakin terkikis oleh oleh adanya pengaruh budaya luar, Oleh karena itu generasi muda sebagai pewaris budaya agar menjaga dan melestarikannya.

3. Makna Simbolik Ritual Maggiri pada Pesta Adat Komunitas Bissu yang penulis kaji belumlah sempurna, mengingat masih banyak hal yang belum terungkap secara maksimal. Penulis mengharapkan penelitian dan pengkajian lebih lanjut untuk lebih menyempurnakan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Hamid. 1985. Manusia Bugis Makassar.Jakarta: Inti Idayu Press

Abidin Farid, Andi Zaenal. 1979. Beberapa Istilah dan Ungkapan di dalam Lontarak dan Petuah Lisan. Ujung Pandang: FIISBUD Universitas Hasanuddin.

Ahimsa-Putra, Heddy Sri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press

Ahmad. 2003. Urgensi Pemetaan Wilayah Bahasa Daerah dan Reinventarisasi Nilai Sejarah dan Seni Budaya Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Dinas Pendidikan Nasional Pemerintah Kabupaten Pangkep: Pangkep

Alwasilah, A, Chaedar. 1984. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.

Amie, A, Yayi. 2014. Interaksi Simbolik Tokoh Dewa dalam Novel “Biola Tak Berdawai” Karya Seno Gumira Adjidarma: Kajian Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead.

Anthoni. 1975. Pengantar Semantik Indonesia dalam Karya Sastra.Jakarta: Rineke Cipta.

Azis, Sitti Aida. 2009. Puisi Sodom dan Gomorrha Karya Sastrowardoyo Suatu Tinjauan Semiotik. Stilistika. 1:69-87. Azis, Sitti Aida. 2012. Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi. Surabaya:

Penerbit Bintang Surabaya.

Bogdan, R,C. dan Sari Knopp Biklen. 1982. Riset Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rieneke Cipta.

Culler, J. 1973. “The Linguistik Basic of Strukturalism dalam Strukturalism: An Introduction, D. Robey (ed) Oxford: Clarendon Press.

Darmaputra, Juma. 2014. Bissu Perantara Dewa. Makassar: Arus Timur.

de Saussure, Ferdinand. 1996. Course in Generale Linguistic. New York: Mc Grow Hill.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Devvit, Michael dan Richard Hanley. 2006. Black Well Guide to Philosophy. Oxford: Blackwell.

Gofman, Ervin. 1947. Interaksi Simbolik Sosial. Bandung: Angkasa.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widiyatama.

Fausi, Mappasare. 1982. Transliterasi dan Terjemahan Naskah Kuno Bugis Surek Selleang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Radjawali.

Kambie, A,S. 2003. Akar Kenabian Sawerigading. Makassar: Penerbit Parasufia.

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Levi-Strauss. 1963. Struktural Anthropology. New York: Basic Books.

Makkulau. 2005. Sejarah dan Kebudayaan Pangkep –I. Dinas KebudayaanPemerintah Kabupaten Pangkep

Makkulau, M, Farid. 2006. Upacara Adat Perkawinan Bugis Makassar. Makassar: YKAM.

Makkulau, M, Farid. 2007. Komunitas Bissu di Pangkep dan Bone. Makassar: Refleksi.

Makkulau,W,Farid. 2008. Manusia Bissu. Makassar: Pustaka Refleksi.

Mattulada. 1970. “Kebudayaan Bugis Makassar” dalam Koentjraningrat, Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Moleong, J, Lexy. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda

Monoharto, Goenawan, dkk. 2003. Seni Tradisional Sulawesi Selatan, Pengantar. Makassar: Adjiep Padindang, Lamacca Press.

Mujahiduddin. 2004. Konsep Calabai dalam Pandangan Komunitas Bissu di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan (Sebuah Kajian Edmund-Husserl) Tesis Fakultas UGM, 2004.

Nurgiantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Universits Gajah Mada.

Palmer, F.R. 1976. Semantics. A New Outline London: Cambridge Univ Press.

Pateda, Mansur. 1981. Semantik Leksikal. Ende: Nusa Indah

Pettit,L. 1976. The Concept of Strukturalism. Berkeley University of California Press.

Pradopo, Rahmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Universits Michigan: Pustaka Pelajar.

Rosyidi, M. Ikwan, dkk. 2010. Analisis Mistisme. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Setiadi, Elly, M. 2005. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Bandung: Kencana.

Slametmuljana. 1964. Semantik. Jakarta: Djembatan.

Sugiono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sujinah. 2009. Simbol-Simbol dalam Cerpen Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan Karya Kontowijoyo. Stilistika. 1: 89-113.

Syahrul. 2012. ”Menjadi Muslim yang Animis” Telaah Identitas Bissu. Al Fihr. Makassar: Stain Bone

Tarigan, H.G. 1985. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa.

Veerhar, S.J.1981. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Of Press.

Wahyuliana, A. Yenni. 2005. Makna simbolik Gerak Ma’bissu dalam Upacara Ritual Mattompang Arajang. Skripsi Fakultas Seni Tari IKIP Ujung Pandang.

Winata, Hendra. 2011. Simbol dalam Novel Diaroma Sepasang Albanna Karya Ari Nur Utami: Tinjauan Strukturalisme Semiotik”

tanggal 12 Februari 2011 dalam

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/30125.

Wulan, Nanang. 2010. “Mendengar Hati, Mengejar Mimpi dan Realitas Dunia: Interpretasi Simbol dalam Novel The Alchest Karya Paulo

Coelho”. tanggal 11 Februari 2012 dalam eprints.undip.ac. id/23977/1/D-Nawang- Wulan-E.P.S.

maggiri? a) Biasa saja b) Acuh c) Antusias d) Ikutserta

2. Bagaimanakah partisipasi masyarakat Segeri dalam acara ritual maggiri?

a) Biasa saja b) Acuh c) Antusias d) Ikutserta

3. Bagaimanakah tanggapan masyarakat Segeri terhadap kehadiran Bissu?

a) Biasa saja b) Mencemooh c) Menghargai d) Menolak

4. Bagaimanakah partisipasi masyarakat dalam menyumbangkan dana untuk kegiatan ritual tersebut?

a) Menolak memberi b) Memberi

5. Adakah upaya masyarakat segeri untuk menghilangkan atau meninggalkan ritual tersebut?

a) Tidaktahu b) Tidak ada c) Tidak ingin d) Menolak

6. Adakah kekhawatiran masyarakat akan gagal panen apabila ritual tersebut tidak dilaksanakan?

a) Tidak tahu b) Tidak ada c) Ada d) Biasasaja

7. Apakah masyarakat Segeri masih mempercayai bahwa bissu satu-satunya yang bisa membawakan ritual tersebut?

a) Ya b) Tidak

8. Bagaimanakah tanggapan pemuka agama terhadap rirula tersebut? a) Diam saja

b) Menolak

c) Tidak mau tahu d) Acuh saja

a) Diam saja b) Menolak

c) Tidak mau tahu d) Acuh saja

10. Adakah rasa prihatin masyarakat Segeri terhadap kaum bissu yang semakin sedikitjumlahnya?

a) Biasasaja b) Tidakada c) Khawatir d) Tidaktahu

IRAWATI. Lahir di Segeri Mandalle, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan pada tanggal 27 Juni 1976. Menghabiskan masa kecil sampai remaja (SD, SMP, dan SMEAdi kabupaten Pangkep. Penulis melanjutkan kuliah pada jenjang yang lebih tinggi yaitu pada STKIP Cokroaminoto Pinrang dengan mengambil Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun 2006- 2008.

Pada tahun 2013 penulis kembali melanjutkan studi ke jenjang S-2 pada perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Makassar dengan tetap memilih program yang sama yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada program Pascasarjana.

Saat ini, penulis selain sebagai Ibu rumah tangga juga menyibukkan diri dengan mengajar pada salah satu sekolah di kecamatan Segeri, tepatnya SMA negeri 1 Segeri. Dan untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd) dan menulis Tesis dengan judul Makna Simbolik dalam Teks Ritual Maggiri pada Pesta Adat Komunitas Bissu di Kabupaten Pangkep.

Dokumen terkait