• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Dalam bab ini peneliti menyajikan hasil penelitian dan pembahasannya. Hasil penelitian ini merupakan jawaban atas rumusan masalah penelitian yang pertama, yaitu Bagaimanakah persepsi orang tua terhadap kebutuhan anak Taman Kanak-kanak Kanisius Demangan Baru Yogyakarta tahun ajaran 2005/2006.

Hasil penelitian ini disajikan dalam tabel yang berisi nomor item kebutuhan, jenis kebutuhan, skor, persentase, dan peringkat yang tertinggi. Semakin tinggi skor item, maka semakin perlu kebutuhan tersebut untuk dibantu pemenuhannya oleh pihak sekolah.

Tabel V. Hasil Penelitian No. Item Kebutuhan Skor % Jenis kebutuhan Pering-kat 1

Anak saya mampu makan sendiri.

143 95.33 P 1

15

Anak saya mampu menyebutkan bilangan secara urut.

143 95.33 B 2

6

Anak saya mampu membuat garis tegak, garis datar dan lingkaran.

142 94.67 B 3

13 Anak saya mampu 141 94.00 B 4

mengelompokkan benda-benda dengan berbagai cara (misalnya menurut warna, bentuk, ukuran).

30

Anak saya mampu bekerja sama dengan teman sebaya.

141 94.00 S 5

7

Anak saya mampu berjalan lurus.

140 93.33 P 6

8 Anak saya mampu berlari cepat. 140 93.33 P 7

9

Anak saya mampu berjalan tanpa terjatuh.

139 92.67 P 8

10

Anak saya mampu melompat ke depan tanpa terjatuh.

139 92.67 P 9

28

Anak saya mampu

mengungkapkan rasa bahagia dan gembira.

139 92.67 P 10

5

Anak saya mampu menyusun menara kubus.

138 92.00 K 11

11

Anak saya mampu terampil melompat.

138 92.00 P 12

25

Anak saya menyayangi anggota keluarga dan teman-temannya.

138 92.00 S 13

27

Anak saya menyayangi semua ciptaan Tuhan.

36

Anak saya mampu mengucapkan terima kasih setelah diberi sesuatu

138 92.00 S 15

44

Anak saya mampu melakukan permainan warna dengan menggunakan pensil warna, pastel, krayon, dan cat air.

137 91.33 K 16

17

Anak saya mampu mengurutkan benda berdasarkan urutan tinggi, besar, berat, atau tebal.

136 90.67 B 17

56

Anak saya mampu mengucapkan doa-doa pendek.

136 90.67 P 18

4

Anak saya mampu membuat berbagai bentuk menggunakan playdough, malam ,was.

135 90.00 K 19

19

Anak saya mampu menceritakan kembali cerita sederhana.

135 90.00 B 20

29

Anak saya mampu

mengekspresikan rasa puas atas prestasinya tanpa

menyombongkan diri.

135 90.00 P 21

35

Anak saya mampu bertenggang rasa dengan orang lain (misalnya

berbagi makanan dan minuman dengan temanya ).

3

Anak saya mampu mandi sendiri.

134 89.33 P 23

57

Anak saya mampu toleransi terhadap teman yang berbeda agama.

134 89.33 S 24

18

Anak saya mampu menyebutkan nama, jenis kelamin, umur, alamat rumah.

133 88.67 P 25

22

Anak saya mampu dan paham menggunakan kata sambung ( “dan”, “karena”, dan “tetapi” ).

133 88.67 B 26

14

Anak saya mampu menjelaskan pernyataan sebab-akibat (misal : nasi berasal dari apa ).

132 88.00 B 27

32

Anak saya cenderung aktif dalam pergaulan.

132 88.00 S 28

46

Anak saya terampil mewarnai bentuk gambar sederhana.

132 88.00 B 29

37

Anak saya mampu bersopan santun.

131 87.33 S 30

melaksanakan ibadah.

21

Anak saya mampu dan paham menggunakan kata ganti ( aku, saya, dia).

129 86.00 B 32

39

Anak saya terampil menggambar bebas di dalam lingkaran,

segitiga, segiempat, yang sudah tersedia.

129 86.00 B 33

31

Anak saya mudah bergaul dengan orang lain termasuk orang dewasa.

129 86.00 S 34

47

Anak saya mampu menggambar bebas dengan bentuk dasar titik, garis, lingkaran, segitiga, segiempat yang sudah tersedia.

129 86.00 B 35

45

Anak saya mampu menciptakan berbagai bentuk bangunan dari beberapa kubus yang disusun.

128 85.33 K 36

50

Anak saya mampu berdoa sebelum dan sesudah tidur.

128 85.33 P 37

54

Anak saya mampu berdoa sebelum dan sesudah makan.

128 85.33 P 38

kegiatan keagamaan.

23

Anak saya terampil mengurutkan dan menceritakan isi gambar berseri.

128 85.33 B 40

16

Anak saya mampu mengenal ukuran panjang-pendek dan isi.

127 84.67 B 41

33

Anak saya mampu mengikuti aturan permainan dengan adil.

126 84.00 S 42

20

Anak saya mampu memahami konsep lawan kata.

124 82.67 B 43

53

Anak saya mampu menjaga ketenangan di dalam tempat ibadah.

124 82.67 S 44

51

Anak saya mampu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.

123 82.00 P 45

48

Anak saya mampu menciptakan kreasi dengan stempel.

122 81.33 K 46

52

Anak saya mampu

berkonsentrasi ketika sedang beribadah.

122 81.33 P 47

43

Anak saya berani menirukan gerakan binatang atau tanaman.

2

Anak saya tidak perlu bantuan dalam memakai baju..

117 78.00 P 49

42

Anak saya mampu melukis dengan jari.

113 75.33 K 50

26

Tidak mengamuk bila

keinginannya tidak terpenuhi.

112 74.67 P 51

38

Anak saya mampu membuat berbagai bentuk aksesoris dari manik-manik yang dironce (misal, kalung, gelang ).

107 71.33 K 52

24

Anak saya mampu

mengendalikan emosi ketika marah.

108 72.00 P 53

34

Anak saya patuh dalam mengikuti peraturan keluarga (misalnya meletakan alat permainan pada tempatnya ).

103 68.67 S 54

40 Anak saya terampil menganyam. 94 62.67 K 55 41 Anak saya mampu membatik. 88 58.67 K 56

12

Anak saya membutuhkan sedikit bantuan untuk berdiri setelah posisi duduk.

Dengan menggunakan passing grade 75%, berarti item yang skornya ≥ 75%, kebutuhan yang termuat dalam item tersebut perlu dibantu pemenuhannya. Oleh karena itu dari tabel di atas kebutuhan-kebutuhan yang perlu dibantu pemenuhannya oleh pihak sekolah menurut orang tua adalah:

1. Anak saya mampu makan sendiri.

2. Anak saya mampu menyebutkan bilangan secara urut.

3. Anak saya mampu membuat garis tegak, garis datar dan lingkaran.

4. Anak saya mampu mengelompokkan benda-benda dengan berbagai cara (misal : menurut warna, bentuk, ukuran).

5. Anak saya mampu bekerja sama dengan teman sebaya. 6. Anak saya mampu berjalan lurus.

7. Anak saya mampu berlari cepat.

8. Anak saya mampu berjalan tanpa terjatuh.

9. Anak saya mampu melompat ke depan tanpa terjatuh.

10. Anak saya mampu mengungkapkan rasa bahagia dan gembira. 11. Anak saya mampu menyusun menara kubus.

12. Anak saya mampu terampil melompat.

13. Anak saya menyayangi anggota keluarga dan teman-temannya. 14. Anak saya menyayangi semua ciptaan Tuhan.

15. Anak saya mampu mengucapkan terima kasih setelah diberi sesuatu.

16. Anak saya mampu melakukan permainan warna dengan menggunakan pensil warna, pastel, krayon, dan cat air.

17. Anak saya mampu mengurutkan benda berdasarkan urutan tinggi, besar, berat, atau tebal.

18. Anak saya mampu mengucapkan doa-doa pendek.

19. Anak saya mampu membuat berbagai bentuk menggunakan playdough, malam, was.

20. Anak saya mampu menceritakan kembali cerita sederhana.

21. Anak saya mampu mengekspresikan rasa puas atas prestasinya tanpa menyombongkan diri.

22. Anak saya mampu bertenggang rasa dengan orang lain (misalnya berbagi makanan dan minuman dengan temannya ).

23. Anak saya mampu mandi sendiri.

24. Anak saya mampu toleransi terhadap teman yang berbeda agama.

25. Anak saya mampu menyebutkan nama, jenis kelamin, umur, alamat rumah. 26. Anak saya mampu dan paham menggunakan kata sambung ( “dan”, “karena”,

dan “tetapi” ).

27. Anak saya mampu menjelaskan pernyataan sebab-akibat (misalnya nasi berasal dari apa ).

28. Anak saya cenderung aktif dalam pergaulan.

29. Anak saya terampil mewarnai bentuk gambar sederhana. 30. Anak saya mampu bersopan santun.

31. Anak saya mampu melaksanakan ibadah.

32. Anak saya mampu dan paham menggunakan kata ganti ( aku, saya, dia).

33. Anak saya terampil menggambar bebas di dalam lingkaran, segitiga, dan segiempat yang sudah tersedia.

35. Anak saya mampu menggambar bebas dengan bentuk dasar titik, garis, lingkaran, segitiga, dan segiempat yang sudah tersedia.

36. Anak saya mampu menciptakan berbagai bentuk bangunan dari beberapa kubus yang disusun.

37. Anak saya mampu berdoa sebelum dan sesudah tidur. 38. Anak saya mampu berdoa sebelum dan sesudah makan. 39. Anak saya senang mengikuti kegiatan keagamaan.

40. Anak saya terampil mengurutkan dan menceritakan isi gambar berseri. 41. Anak saya mampu mengenal ukuran panjang-pendek dan isi.

42. Anak saya mampu mengikuti aturan permainan dengan adil. 43. Anak saya mampu memahami konsep lawan kata.

44. Anak saya mampu menjaga ketenangan di dalam tempat ibadah. 45. Anak saya mampu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. 46. Anak saya mampu menciptakan kreasi dengan stempel.

47. Anak saya mampu berkonsentrasi ketika sedang beribadah. 48. Anak saya berani menirukan gerakan binatang atau tanaman. 49. Anak saya tidak perlu bantuan dalam memakai baju.

50. Anak saya mampu melukis dengan jari.

B. Pembahasan

Untuk lebih mempermudah pembahasan, peneliti menggolongkan kebutuhan-kebutuhan siswa yang terungkap dalam penelitian ini menjadi empat golongan, yaitu kebutuhan-kebutuhan pribadi, belajar, sosial, dan karier.

1. Kebutuhan-kebutuhan dalam bidang pribadi a. Mampu makan sendiri (item no 1)

Salah satu tugas perkembangan anak pada usia ini adalah agar anak mampu hidup mandiri. Sejak masih bayi segala kebutuhan anak dilayani oleh orang-orang sekitarnya. Pada usia ini anak belajar agar mampu melakukan kegiatan yang berhubungan kebutuhan dirinya tanpa dibantu. Salah satunya adalah makan sendiri. Ketika masih bayi anak masih dibantu makan dengan disuapi, pada usia ini anak diberi bimbingan agar anak mampu makan sendiri.

b. Tidak perlu bantuan dalam memakai baju (item no 2)

Seperti pada kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan kemandirian lainnya, anak juga dibimbing untuk mampu memakai sendiri bajunya. Bersamaan dengan bimbingan ini, anak juga bisa sekaligus dilatih untuk membedakan antara bagian depan dan belakang, atau antara bagian kiri dan kanan bajunya, sekaligus melatih kelenturan jari-jari tangannya, terutama ketika akan menggunakan baju-baju yang memiliki kancing.

c. Mampu mandi sendiri (item no 3)

Pada masa ini tingkat kemandirian anak semakin meningkat. Kemampuan anak untuk mandi sendiri merupakan bentuk dari kemandirian yang mulai timbul. Di usia ini keterampilan anak menggunakan jari-jari tangan, dan pergerakan pergelangan tangan mulai lentur.

d. Mampu berjalan lurus (item no 7)

Menurut ukuran umum, mampu berjalan lurus adalah mampu berjalan dengan relatif stabil (tidak sempoyongan). Hal itu bisa dicapai karena ada dua hal yang dipenuhi, yaitu adanya konsep pemahaman otak yang benar

mengenai arti “lurus”, dan telah tercapainya kematangan cerebellum sebagai faktor pengendali keseimbangan seorang anak. Dengan begitu, jika seorang anak telah dapat disebut “mampu berjalan lurus”, berarti anak tersebut telah memiliki keseimbangan fisik yang relatif matang, serta memiliki konsep pikiran yang benar tentang arti “lurus”. Pada kenyataannya, kedua hal tersebut merupakan salah satu kemampuan terpenting yang di kemudian hari amat dibutuhkan untuk menjadi semacam pondasi dari berbagai macam keterampilan motorik lain yang lebih rumit.

e. Mampu berlari cepat (item no 8)

Berlari cepat merupakan suatu kegiatan yang termasuk dalam kategori perkembangan lanjutan, karena berlari cepat baru bisa dilakukan apabila anak telah lebih dahulu mampu untuk berjalan dengan keseimbangan yang sempurna, dan telah memiliki otot yang cukup untuk menghasilkan tenaga yang dibutuhkannya untuk meningkatkan kecepatannya dalam bergerak (dari berjalan menjadi berlari). Dalam hal ini, perkembangan keseimbangan fisik anak tersebut telah mencapai standar yang lebih tinggi, karena dia tidak saja mampu menjaga keseimbangan tubuhnya dalam keadaan berjalan, tetapi dia juga mampu menjaga keseimbangan tubuhnya ketika dia harus dihadapkan dengan variabel baru yang tidak dihadapinya ketika dia hanya sekedar berjalan, seperti percepatan lari, kecepatan reaksi, koordinasi anggota tubuh yang prima, dan lainnya. Selain itu, kemampuan berlari cepat akan amat menolong anak menjadi lebih aktif, lebih cepat, dan lebih gesit dalam melakukan kegiatan-kegiatannya, yang kemudian pada gilirannya akan membuat lingkungan bergaul anak menjadi lebih luas dan lebih berkembang.

f. Mampu berjalan tanpa terjatuh (item no 9)

Salah satu kemampuan alami seorang manusia adalah mampu berjalan dengan dua kaki. Tapi kemampuan itu tidaklah didapatnya sejak lahir. Secara sederhana, seorang anak akan mampu berjalan tanpa terjatuh apabila dia memiliki otot yang bukan hanya cukup untuk membuatnya kuat menyangga tubuhnya saat berdiri, tetapi juga cukup untuk melangkahkan kakinya. Selain itu, anak juga harus memiliki keseimbangan yang baik, karena keseimbangan yang buruk akan membuatnya mudah terjatuh ketika berjalan. Normalnya, seorang anak dapat berjalan tanpa bantuan pada umur 12-14 bulan ( Hurlock, Elizabeth ; Perkembangan Anak – Jilid 1, 1978 : 155), sehingga bila ada anak yang belum mampu berjalan dengan baik pada kisaran usia yang menjadi pokok bahasan peneliti (4-6 tahun), maka dikhawatirkan bahwa anak itu memiliki kelainan tertentu secara fisik ataupun non-fisik yang harus segera dicari penyebabnya. Dengan begitu, kemampuan berjalan tanpa terjatuh bisa dijadikan sebagai salah satu sinyalemen awal yang sederhana tentang ada tidaknya gangguan terhadap perkembangan fisik anak.

g. - Mampu melompat ke depan tanpa terjatuh (item no 10) - Terampil melompat (item no 11)

Melompat adalah kegiatan yang menuntut kemampuan fisik yang lebih maju dari anak, dibanding dengan kegiatan berjalan ataupun berlari. Anak harus memiliki kemampuan yang menyeluruh, baik dalam kekuatan otot maupun keseimbangan, untuk bisa melompat dengan baik. Karena itu, anak harus dibimbing untuk dapat mencapai tingkat perkembangan fisik seperti ini.

Kegiatan melompat juga menuntut peregangan maksimal dari seluruh anggota tubuh anak, yang pada gilirannya akan membuat anak lebih maksimal dalam pertumbuhan fisik secara keseluruhan.

h. Mampu menyebutkan nama, jenis kelamin, umur, dan alamat rumah (item no 18)

Kemampuan kognitif dan kesadaran diri terus meningkat pada usia ini. Anak semakin mampu mengingat beberapa data tentang dirinya. Selain di rumah ia juga mendapat stimulasi di sekolah dan lingkungan luar rumah. Kemampuan kognitif yang meningkat ini juga didukung dengan perkembangan sosialisasinya. Meskipun kemampuan kognitif anak meningkat, ia harus tetap mendapatkan stimulasi dan latihan agar ia semakin mampu mengingat identitas dirinya. Kemampuan mengingat data diri akan membantu anak untuk dapat bersosialisasi.

i. Menyayangi semua ciptaan Tuhan (item no 27)

Anak dididik dibimbing untuk memiliki sikap menyayangi dan menghargai segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Sikap ini akan menuntun anak pada tingkat penerimaan sosial yang lebih baik, di mana dia akan lebih mudah menerima dan diterima di lingkungan apapun yang akan dihadapi dalam hidupnya. Yang lebih penting, dalam pemenuhan kebutuhan ini anak juga diperkenalkan pada konsep bahwa semua hal dalam hidupnya adalah ciptaan Tuhan. Ketika anak menyayangi seseorang atau sesuatu, maka dia juga akan mengingat bahwa Tuhanlah yang menciptakan seseorang atau sesuatu tersebut, sehingga dia diharapkan juga akan menyayangi Tuhan yang telah menciptakan seseorang atau sesuatu yang dia sayangi tersebut. Pola logika

ini yang kemudian akan membantu menerjemahkan konsep abstrak agama ke dalam konsep kongkrit yang lebih dipahami anak.

j. Mampu mengungkapkan rasa bahagia dan gembira (item no 28)

Pada masa ini anak dihadapkan pada susunan emosi yang baru. Anak semakin mengenal berbagai macam emosi termasuk emosi atau rasa bahagia dan gembira. Pada masa ini anak diharapkan mampu mengungkapkan emosi atau perasaan yang sedang dialaminya. Pengungkapan emosi akan membantu anak melepaskan ketegangan-ketegangan yang ada dalam dirinya. k. Mampu mengekspresikan rasa puas atas prestasinya tanpa menyombongkan

diri (item no 29)

Heckhausen dan Roelofsen ( Monks, Knoers, Haditono, 1989 : 163) menuturkan bahwa pada usia ini anak menunjukkan semua cirri-ciri tingkah laku kompetisi. Mereka menunjukkan adanya tingkah laku yang mengarah ke prestasi. Pada usia ini rasa otonomi, rasa puas atas prestasi-prestasi yang mampu diraih semakin meningkat. Anak juga semakin mampu mengungkapkan rasa puas dan bangga.

Lingkungan di sekitar anak juga hendaknya mampu menunjukkan penghargaan atas prestasi yang didapat anak. Penghargaan atas prestasi yang didapat anak akan memupuk ‘self esteem’ anak. Namun anak juga harus mampu mengekspresikan rasa puas atas prestasinya dengan wajar tanpa menyombongkan diri. Apabila anak tidak mampu mengekspresikan rasa puas atas prestasinya dengan wajar atau dengan kata lain si anak menjadi sombong, ia akan menjadi anak yang tidak disukai atau bahkan menjadi anak

yang dijauhi lingkungan sekitarnya. Hal ini akan mengganggu perkembangan jiwa anak.

l. Mampu melaksanakan ibadah (item no 49)

Kemampuan ini diperlukan untuk memperkenalkan anak pada perlunya menjalankan kegiatan keagamaan di samping kegiatan-kegiatan rutin lahiriah lainnya. Dalam tahap awal, biasanya anak akan merasa bosan karena dia masih belum memahami konsep beribadah orang dewasa. Oleh karena itu, sebaiknya anak tidak diikutkan dalam ibadah yang diperuntukkan bagi orang dewasa, karena cara ibadah seperti itu akan sangat tidak menarik bagi anak. Akan lebih baik apabila anak diikut sertakan dalam ibadah yang memang dirancang untuk anak seusianya, karena biasanya cara beribadahnya sudah disesuaikan dengan kondisi umum perkembangan anak seusia itu, sehingga anak akan lebih tertarik mengikutinya. Ketika anak sudah mulai tertarik melaksanakan ibadah tersebut, maka selanjutnya anak tinggal diarahkan untuk lebih memahami dasar dari kegiatan beribadah tersebut.

m. - Mampu berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan (item no 51) - Mampu berdoa sebelum dan sesudah tidur (item no 50)

- Mampu berdoa sebelum dan sesudah makan (item no 54)

Sebagaimana kemampuan-kemampuan yang lain, kemampuan ini juga merupakan langkah pembiasaan yang diajarkan oleh orangtua/guru pada anak, sehingga jika anak belum bisa memahami alasannya sekalipun, anak tetap bisa dan terbiasa melakukannya. Setelah langkah pembiasaan itu berjalan lancar, anak bisa mulai diberi pengertian bahwa manusia adalah

mahluk yang serba punya kelemahan, sehingga manusia membutuhkan perlindungan, bantuan, dan penguatan dari Tuhan ketika akan melakukan sebuah kegiatan, apapun itu. Ketika kegiatan tersebut telah selesai dikerjakan, sepatutnyalah manusia juga kembali menghadap Tuhan untuk mengucapkan terimakasih atas perlindungan, bantuan, dan penguatan tersebut. Pembimbingan yang baik akan membuat anak menjadi semakin dekat dengan Tuhan, dan membuat anak semakin memahami Tuhan sebagai sesuatu yang kongkrit.

n. Mampu berkonsentrasi ketika sedang beribadah (item no 52)

Anak dididik diarahkan untuk lebih mampu menempatkan kegiatan beribadah sebagai suatu kegiatan yang setara dengan kegiatan bercengkrama dengan orang lain seperti orang tua, guru, atau teman-temannya. Tujuan akhirnya adalah supaya anak dapat menempatkan Tuhan sebagai suatu figur yang juga nyata, senyata orang-orang lain yang sering diajaknya berkomunikasi, untuk kemudian mulai belajar memahami konsep-konsep abstrak yang lain yang biasa kita dapatkan dalam ajaran agama.

o. Senang mengikuti kegiatan keagamaan (item no 55)

Anak mulai dikenalkan dengan konsep Ketuhanan. Ketika anak mulai mengenal konsep Ketuhanan, maka anak juga dikenalkan dengan lembaga keagamaan. Anak sering diajak mengikuti kegiatan keagamaan, masuk rumah ibadah tempat tinggal Tuhan. Hal ini sebagai media agar anak mampu mengenal bentuk Tuhan. Anak-anak dalam usia ini pada umumnya masih sulit mengerti tentang konsep yang tidak nyata, oleh sebab itu kegiatan

keagamaan dapat menjadi sebuah sarana anak agar mampu memahami arti Ketuhanan.

p. Mampu mengucapkan doa-doa pendek (item no 56)

Pada umumnya, orang dewasa mendidik anak untuk berdoa dalam bentuk doa-doa pendek yang dihafalkan, sebagai awal dari pendidikan spiritual yang lebih lanjut yang akan diajarkan di kemudian hari, di mana dalam tahap perkembangan berikutnya anak akan dididik untuk bisa berdoa dengan kata-katanya sendiri, dan bisa mengungkapkan sendiri akan apa saja yang dirasanya perlu untuk disampaikan dalam doanya. Ketika anak mampu mengucapkan doa-doa pendek yang telah dihapalkan sebelumnya, otak anak dilatih untuk belajar mengingat dan juga belajar mengungkapkan kembali apa yang diingatnya. Ketitika anak sampai pada kemampuan mengucapkan doa-doa pendek dengan kata-kata yang disusunnya sendiri, anak dilatih untuk bisa mengekspresikan isi hatinya sendiri. Hal ini berguna agar di tahap perkembangan selanjutnya, anak memiliki pengalaman untuk mengungkapkan hal-hal tersirat dalam dirinya supaya orang lain lebih mudah memahami apa yang ada dalam pikiran anak itu. Yang tak kalah pentingnya, dalam tahap ini anak mulai deperkenalkan pada konsep-konsep abstrak/batiniah, yaitu bahwa hidup ini tidak hanya ditentukan oleh hal-hal yang bisa dilihat atau didengar saja, tapi juga oleh hal-hal yang tidak terlihat atau terdengar.

2. Kebutuhan dalam bidang sosial

Manusia adalah mahluk sosial, yang hidup di antara banyak manusia lainnya dan saling membutuhkan satu sama lain. Segala struktur kehidupan yang diberlakukan manusia pun semuanya didasarkan pada kenyataan tersebut, sehingga bisa dipastikan bahwa seseorang yang bersikeras berpendapat bahwa dia bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain akan mendapatkan banyak kesulitan. Ketika anak masih kecil dan masih harus banyak dibantu untuk melakukan segala sesuatu, keluarganya lebih menyediakan waktu yang cukup untuk bermain dengan dia. Sangat mungkin apabila anak memiliki ego yang tinggi pada masa itu karena dialah yang menjadi pusat perhatian di rumahnya. Tetapi ketika dia sudah cukup mampu mengurus dirinya sendiri, biasanya keluarganya mengurangi waktu bermain mereka dengan anak. Jika anak tidak mampu berinisiatif untuk bergaul dan hanya menunggu orang lain untuk bergaul dengannya, maka dia akan merasa kesepian. Inisiatif anak untuk bergaul bukan dimulai dari tindakannya untuk mencari teman bermain yang baru yang belum dikenalnya, tetapi dimulai dari tindakannya memelihara hubungan baik dengan teman bermainnya yang lama yang sudah lebih dahulu dikenal sebelumnya, seperti orangtua atau saudara-saudaranya. Anak harus dibimbing pada pemahaman bahwa dia baru bisa memiliki hubungan yang baik dengan orang lain jika dia menunjukkan kasih sayangnya pada orang tersebut, dan jika dia tidak menyayangi orang lain (bersikap egois) maka otomatis orang itu tidak akan mau lagi menjadi teman bermainnya. Baru kemudian setelah anak bisa mengerti pemahaman itu, anak dibimbing untuk melangkah lebih jauh, yaitu

berinisiatif membangun hubungan dengan orang lain yang belum dikenalnya untuk dijadikan sebagai teman bermain yang baru.

b. Mampu bekerja sama dengan teman sebaya (item no 30)

Anak mulai hidup dalam lingkungan sosial yang lebih besar, yaitu lingkungan di sekolah yang terdiri dari guru dan teman-teman sebayanya. Lingkungan sekitar anak tersebut terutama teman sebaya, akan membantu perkembangan sosialnya.

Ketika teman sebaya menunjukkan reaksi yang menyenangkan pada anak, maka anak akan mampu menunjukkan penyesuaian sosial yang baik. Hal ini akan berpengaruh pada kehidupan sosialnya kelak. Anak tidak akan menjadi

Dokumen terkait