BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
Hasil analisis lanjutan terhadap ketiga subjek digunakan sebagai hasil pembahasan. Hasil pembahasan dilakukan dengan mensistesiskan tema-tema yang muncul secara berulang pada subjek dan tema-tema-tema-tema yang baru didapatkan pada subjek lainnya. Maka, dimungkinkan terjadinya tema-tema yang sama dan berbeda pada masing-masing subjek. Penyajian hasil pembahasan berupa tabel tema-tema yang sama dan berbeda pada masing-masing subjek kemudian dibahas menurut tahapannya.
1. Respon Terhadap Pengalaman yang Dialami Tabel 4
Respon Terhadap Pengalaman yang Dialami
Tema-tema Subjek Et Tgl Ir a. Tema-tema yang sama pada
ketiga subjek :
1. Merasakan ketidakadilan yang memunculkan pembelaan diri dan mempertanyakan figur otoritas
2. Kesedihan yang muncul dari perasaan takut dan sakit yang mendalam 3. Kesedihan yang
memunculkan rasa penyesalan yang mendalam dan
menyalahkan diri sendiri 4. Keadaan tidak berdaya
b. Tema-tema yang berbeda pada ketiga subjek :
1. Pergulatan sebagai “orang jahat”
2. Merasa hampa dengan kenyataan yang dialami
99 – 107, 80 – 83, 198 – 215 518 - 522 377 – 381 107 – 109 53 - 58 -68 – 71, 122 - 127 91 - 95 415 – 417 75 - 77 - -106 - 110 186 - 189 401 – 404 176 - 181 358 - 363 65 - 73
Ketiga subjek memiliki respon yang sama dalam menghadapi pengalamannya. Ketiganya merespon dengan merasakan ketidakadilan terhadap vonis dan perlakuan yang diberikan kepada mereka. Subjek Et merasakan ketidakadilan dalam proses peradilan, yakni ketika pihak Polsek membuat keterangan palsu di BAP sedangkan Tgl merasakan ketidakadilan ketika pengadilan membuat keputusan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Ir merasakan ketidakadilan yang terjadi selama dirinya berada di LAPAS, yakni ia merasa bahwa perlakuan yang diberikan kepadanya tidak sesuai
dengan aturan yang berlaku.
“Saya kaget, merasa diperlakukan tidak adil..di prosesnya itu, kita merasa dibohongi oleh Polsek. Kita lihat faktanya itu, mobil saya yang bermasalah itu cuma satu, tapi dalam BAP yang dilaporkan ke kejaksaan itu ada dua mobil, yang satu dianggap hilang”.
(Et, 99 - 107)
“Saya merasa tidak adil. Saya dituduh melindungi suami. Padahal saya juga gak tahu melindungi yang bagaimana”.
(Tgl, 68 - 71)
“Saya merasa ketidakadilan di sini tidak sesuai aturan, masa hukuman isolasi itu kan enam hari, tapi di sini bisa lebih dari enam hari”.
(Ir, 106 - 110) Ketidakadilan yang dialami oleh Et dan Tgl membuat mereka melakukan pembelaan diri. Pembelaan diri ini terlihat pada usaha yang dilakukan Et untuk menyelesaikan permasalahan di luar pengadilan.
“..pertama kali waktu ditangkap itu, kita berusaha jangan sampai masalah itu dibawa ke pengadilan..kita ngomong sama polisi, kita pernah mengajukan waktu satu minggu untuk menyelesaikan permasalahan itu..”
(Et, 80 - 83) Tgl melakukan pembelaan diri dengan mencoba menjelaskan pada hakim mengenai kenyataan yang sebenarnya terjadi.
“..saya waktu sidang sempat mendatangi jaksa buat ngomong bu saya ini kan tidak melakukan apa-apa, masak dituntut 20 tahun, demi Allah saya cuma melihat..”
(Tgl, 122 - 127) Ketidakadilan yang dialami Et mau tidak mau memunculkan pemikirannya dengan mempertanyakan figur otoritas, dalam hal ini lembaga peradilan. Et mempertanyakan pihak kepolisian yang tidak bijaksana, tidak membantu namun malah menyengsarakan masyarakat. Lebih lanjut Et
mengatakan bahwa seharusnya yang ditangkap adalah para pejabat yang melakukan tindak korupsi.
“..kalau dipikir itu, polisi itu katanya membantu masyarakat, tapi itu apa? Jadi polisinya itu kurang bijaksana. Disini itu juga banyak lurah
yang ditangkap. Harusnya yang kayak gitu yang
ditangkap..mtidakakanya kadang polisi itu kayak gitu, bukannya membantu masyarakat tapi menyengsarakan..”
(Et, 198 - 215) Ketidakadilan yang terjadi menyebabkan perasaan takut dan sakit yang mendalam bagi ketiga subjek. Et merasakan sakit ketika harus meninggalkan ketiga anaknya untuk menjalani hukuman di dalam LAPAS.
“..mungkin kalau tidak ada anak, tidak akan sakit rasanya. Tapi ini ada anak yang masih sekolah-sekolah, kok rasanya jadi besar masalahnya..”
(Et, 518 - 522) Di sisi lain, lamanya masa hukuman yang harus dijalani merupakan penyebab rasa sakit yang dialami oleh Tgl. Ia merasa diperlakukan tidak adil karena hukumannya tersebut tidak sesuai dengan perbuatan yang telah ia lakukan.
“..stres, rasanya sakit mas. Sakitnya itu kan karena ketidakadilannya itu lho mas, karena kesalahannya cuma kecil saya dihukum lama..”
(Tgl, 91 - 95) Berbeda dengan kedua subjek lainnya, rasa sakit dan takut yang dialami oleh Ir muncul dari siksaan fisik yang harus dialaminya.
“..iya, kalau rasa takut pada situasi itu gak, tapi kalau rasa takut dan sakit dipukuli petugas itu iya..”
(Ir, 186 - 189) Kesedihan yang dirasakan oleh ketiga subjek memunculkan rasa penyesalan yang mendalam dan menyalahkan diri sendiri. Et menyalahkan dirinya sendiri karena telah berbuat kesalahan yang membuat malu
keluarga.
“..ya saya sama anak jadi kayak malu, sudah bikin malu sama anak-anak saya. Jadi merasa bersalah juga karena telah buat kesalahan..”
(Et, 377 - 381) Lain halnya dengan Et, Tgl merespon penderitaan yang dialami dengan menyalahkan diri sendiri karena perbuatannya melanggar hukum. Akibatnya, ia harus menanggung sendiri akibat dari perbuatannya tersebut.
“..di koran kan muka saya ditutupi, dia bilang kemarin aku baca, muka’e mak kok dipetengi kuwi to mak..saya sempat meneteskan air mata. Iya saya salah..”
(Tgl, 415 - 417) Ir juga menyesal karena telah berbuat kesalahan yang membuatnya menjalani kehidupannya di penjara. Ia merasa jera karena merasa hukuman yang diberikan tersebut berat untuk dijalani.
“Saya menyesal di penjara. Kapok berada di penjara. Dua belas tahun itu waktu yang lama.”
(Ir, 401 – 404) Ketiga subjek merasa dalam keadaan tidak berdaya dengan kondisi yang dialami oleh mereka. Karena pihak kepolisian memberikan keterangan palsu di BAP, Et kesulitan untuk memperoleh keringanan hukuman.
“..di prosesnya itu, kita merasa dibohongi oleh Polsek..jadi susah buat kita untuk dapat keringanan hukuman..”
(Et, 107 - 109) Di sisi lain, Tgl mengatakan bahwa vonis dari pengadilan sempat membuat dia pingsan di pengadilan. Ia membayangkan bahwa ia harus menjalani hukuman dalam waktu yang lama. Hal ini menimbulkan perasaan tidak berdaya yang dialaminya.
“..saya sampai pingsan dua kali di pengadilan lho mas. Ya karena vonis delapan tahun itu, rasanya panjang dan lama gitu..”
(Tgl, 75 - 77)
Dalam situasi yang berbeda dengan Et dan Tgl, Ir merasa tidak berdaya dengan menghuni ruangan sempit sel LAPAS sebagai hukuman atas perbuatan yang dilakukannya.
“..ya, dengan ukuran ruangan 2x3 tanpa air, tanpa alas, keluar dari kamar cuma waktu ngambil jatah makan sama mandi. Stres mas ada di ruangan itu..”
(Ir, 176 - 181) Ketiga subjek juga memberikan respon yang berbeda terhadap pengalaman yang dialami. Et dan Ir merespon penderitaan yang mereka alami dengan mengalami pergulatan sebagai “orang jahat”. Dari perbuatan penggelapan mobil yang dilakukannya, Et merasa khawatir bahwa orang lain tidak akan bisa lagi percaya kepadanya.
“..rencana masih ingin kerja lagi, tapi kalau untuk mengelola rental kayaknya udah nggak, mungkin temen-temen udah khawatir dan sulit membuat kepercayaan lagi..”
(Et, 53 - 58) Ir merasa bahwa jika nantinya keluar dari LAPAS dan kembali bekerja di tempat yang sama, ia akan mendapat cibiran dari teman sekantor dan masyarakat.
“..sebenarnya mungkin bisa saja saya kembali kerja di usaha sebelumnya, tapi pasti akan ada cibiran dari teman-teman sekantor dan masyarakat. Itu malah membuat tidak nyaman. Jadi ya saya cari yang lain saja..”
(Ir, 358 - 363) Pada awal masuk LAPAS, Ir menjalani hari-harinya dengan melamun karena merasa hampa dengan kenyataan yang dialami. Kehampaan itu
disebabkan pikirannya yang kacau akibat teringat anak-anaknya yang harus ditinggalkan.
“..saya waktu hari-hari pertama di penjara sempat melamun saja..ya saya teringat anak-anak saya yang akhirnya harus saya tinggal karena tindakan saya.”
(Ir, 65 - 73)
2. Sikap Awal Terhadap Pengalaman yang Dialami Tabel 5
Sikap Awal Terhadap Pengalaman yang Dialami
Tema-tema Subjek Et Tgl Ir a. Tema-tema yang berbeda
pada ketiga subjek :
1. Penolakan terhadap penderitaan yang membatasi diri 2. Penolakan terhadap penderitaan yang dialihkan
b. Tema-tema yang sama pada ketiga subjek : 1. Penerimaan terhadap penderitaan 221 - 223 - 254 - 256 - - 102 - 103 131 - 136 296 – 301 54 - 58
Sikap awal dari ketiga subjek berbeda satu dengan yang lainnya. Et pada awalnya menolak penderitaan yang membatasi dirinya. Penolakan Et bersumber dari ketidakadilan hukuman dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Menurut Et, dengan hukumannya itu, salah satu anaknya tidak dapat melanjutkan pendidikan dan pekerjaannya menjadi terganggu.
“..untuk menerima itu ya tidak terima, masalah cuma sepele gitu..karena saya kena masalah ini kan jadi semua berantakan, anak saya jadi tidak kuliah, urusan-urusan saya juga jadi terbengkalai.”
(Et, 221 - 223) Ir menolak penderitaan yang dialami karena akan membatasi dirinya
dalam berkomunikasi dengan keluarga.
“..minggu wartel yang disediakan itu tutup. Hari-hari yang lain itu saya merasanya waktu yang disediakan untuk menelepon keluarga itu terbatas waktunya..”
(Ir, 131 - 136) Penolakan Ir terhadap penderitaan yang dialami membuatnya merasa ada sosok yang harus bertanggung jawab terhadap dirinya. Maka dari itu, It memilih untuk menyalahkan Tuhan atas segala hal terjadi pada dirinya. Pada awal-awal masuk di LAPAS, Ir justru menjauhi sosok Tuhan.
“..pada tahun-tahun pertama kita malah jauh dari sosok yang kita sembah, yang disebut Tuhan itu. Mungkin itu timbul dari rasa sakit, kecewa dengan masuknya kita disini, merasa tidak adil karena hukum manusia, jadi kan ya larinya ke sosok Tuhan itu..”
(Ir, 296 – 301) Ketiga subjek juga memunculkan sikap yang sama yakni penerimaan terhadap penderitaan. Pada awal masuk LAPAS, Et merasa berat untuk menerima penderitaan yang dialaminya. Namun, ia tetap menjalani hukuman dan akhirnya menerima penderitaan yang dialami.
“..setelah kita masuk, memang untuk menerima agak berat. Tapi ya saya jalani saja dan terima saja..”
(Et, 254 - 256) Tgl juga menerima penderitaan yang dialaminya. Masukan dari orang lain membuat Tgl berpikir bahwa penderitaan yang dialami harus dijalani dengan perbuatan baik, seperti berdoa, puasa, dan beribadah.
“..alhamdulilah vonisnya delapan tahun. Saya terima..ada ibu penjaga blok yang sekarang sudah pensiun itu sering menasehati saya, katanya kamu itu harus berdoa yang rajin, puasa, sholat yang rajin, ibadahnya ditingkatkan. Biarpun kamu nangis darah kamu gak akan keluar. Saya pikir-pikir ya ada benarnya juga kata-kata dari ibu itu..”
Ir menerima penderitaan yang dialaminya dengan menganggap bahwa setiap orang yang masuk dalam LAPAS pasti akan merasakan penderitaan.
“Saya menerima bahwa semua orang yang masuk penjara itu pasti merasakan menderita, bagi saya itu pasti merasa sakit..”
(Ir, 54 - 58)
3. Pemaknaan Hidup Melalui Nilai-Nilai Tabel 6
Proses Penemuan Makna Hidup Melalui Nilai-Nilai
Tema-tema Subjek Et Tgl Ir a. Tema-tema yang sama pada
ketiga subjek :
1. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Kreatif a.Menghilangkan
perasaan negatif dengan beraktivitas 2. Bentuk dan Pemenuhan
Nilai-Nilai Penghayatan 2.1. Penghayatan terhadap Tuhan a. Mendekatkan diri pada Tuhan 2.2. Memaknai pengalaman melalui hubungan dengan orang lain a. Mendapat perhatian
dan cinta kasih dari keluarga
b. Perhatian dan mencintai keluarga 2.3. Penyerahan diri pada
pengalaman
a. Menghilangkan rasa menderita dan merasakan ketenangan hati 3. Bentuk dan Pemenuhan
Nilai-Nilai Bersikap a. Ikhlas menghadapi
kenyataan yang tidak dapat dikendalikan 263 - 270 289 - 291 348 - 354 364 - 366 435 - 442 540 - 547 216- 223 498 - 502 409 - 422 290 - 296 115 - 122 128 - 130 160 – 163 274 - 283 206 - 209 253 - 255 312 - 318 349 - 354
b. Tema-tema yang berbeda pada ketiga subjek :
1. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Kreatif a. Melakukan aktivitas
yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain
2. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Penghayatan 2.1. Penghayatan terhadap Tuhan a. Mensyukuri kehidupan dalam keadaan apapun 2.2. Memaknai pengalaman melalui hubungan dengan orang lain a. Kehadiran sesama
merubah rasa tidak berdaya
3. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Bersikap a. Hidup untuk keluarga
yang dicintai b. Bertanggung jawab
atas perbuatan yang dilakukan c. Berpikir positif terhadap kenyataan yang dialami d. Kekuatan mental untuk menyikapi keadaan hidup - 532 - 537 449 - 454 507 - 510 - - -234 - 245 521 - 528 536 - 543 448 - 454 491 - 493 - - - - - - 79 - 84 84 - 90 374 - 381
Ketiga subjek memiliki cara yang sama dalam memaknai pengalaman yang dialami melalui nilai-nilai yang menjadi sumber makna hidup. Cara-cara tersebut adalah :
1. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Kreatif
a. Menghilangkan perasaan negatif dengan beraktivitas
Aktivitas kerja yang dilakukan oleh ketiga subjek membuat mereka dapat melupakan penderitaan yang mereka alami. Mereka melalukan aktivitas kerja untuk menghilangkan rasa jenuh dan kebosanan akibat berada di dalam sel LAPAS.
“..saya ikut kegiatan, ya pengajian, olahraga, sama kadang bikin kerajinan-kerajinan itu. Tiap minggu itu dua kali pengajian, terus ikut olahraga satu minggu satu kali. Ya itu untuk menghilangkan jenuh”.
(Et, 263 - 270)
“..kegiatan saya di sini mengaji dan membaca Alquran. Kalau ada temen bikin monte-monte gitu atau nyulam gitu ya bisa. Kalau Selasa Kamis itu kan ngaji mas, kadang-kadang juga masak. Biar gak jenuh gitu istilahnya mas”.
(Tgl, 216- 223)
“..ya waktu di sini itu saya ikut kegiatan bikin handycraft, sablon, batik buat menghilangin bosan”.
(Ir, 160 – 163) 2. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Penghayatan
2.1. Penghayatan terhadap Tuhan a. Mendekatkan diri pada Tuhan
Penderitaan selama berada di LAPAS membuat Et sadar bahwa ia harus mendekatkan diri pada Tuhan. Sebelumnya, Et jarang untuk beribadah namun saat berada di dalam LAPAS, ia menjalankan sholat
lebih sering dan menjadi dekat dengan Tuhan.
“..sekarang..sholat jadi lebih banyak.. Karena kan sunnah. Dulu sama Tuhan itu kayaknya jauh, sekarang jadi sadar dan jadi dekat..”
(Et, 289 - 291) Penyerahan diri pada Tuhan juga dilakukan oleh Tgl. Ia melakukannya dengan cara meningkatkan ibadah karena dengan demikian dirinya akan berubah menjadi individu yang lebih baik.
“..ya berbuat baik, ibadahnya ditingkatkan, ya gimana caranya, pokoknya berubah menjadi lebih baik, semaksimal mungkin..”
(Tgl, 498 - 502) Ir juga mendekatkan diri pada Tuhan dengan menjalankan ibadah. Ia merasa bahwa dengan menjalankan ibadah, ia akan lebih dekat pada Tuhan. Dari kedekatannya pada Tuhan tersebut, ia dapat mudah untuk mencurahkan isi hatinya.
“..saya jadi sering ke gereja di sini. Saya bisa dekat sama Tuhan dari sering ke gereja..di sel saja berdoa apa ajanya, tanpa bimbingan pendeta, pastur, romo. Apa yang ada di hati, itu yang dicurhatkan ke Tuhan..”
(Ir, 274 - 283) 2.2. Memaknai pengalaman melalui hubungan dengan orang lain
a. Mendapat perhatian dan cinta kasih dari keluarga
Perhatian dan cinta kasih ditunjukkan oleh anak dari Et melalui nasehat-nasehat yang diberikan pada Et agar Et selalu sabar, jujur, dan “tidak aneh-aneh dalam berperilaku.
“..jadi sekarang anak saya sering menasehati, saya disuruh sabar, jujur, gak reko-reko..”
Tgl menerima cinta kasih dari anaknya yang mendoakan Tgl agar Tgl menjadi orang yang lebih baik. Anak dari Tgl juga mendoakan Tgl agar cepat pulang.
“..mamak sesuk rasah ikut-ikutan, kalau bilang suami saya kan pakdhe, mamak sesuk ora sah ikut-ikutan pakdhe ya mak, di rumah saja. Saya doakan mamak cepet pulang…trus dia ngaji di dekat saya..”
(Tgl, 409 - 422) Perhatian ditunjukkan oleh istri dari Ir dengan selalu menjenguk Ir setiap minggunya.
“..iya, istri saya masih sering menjenguk. Anak-anak kan sekolah. Sebulan sekali itu pasti..”
(Ir, 206 - 209) b. Perhatian dan mencintai keluarga
Et sengaja tidak memberi tahu anak-anaknya selama ia berada di dalam LAPAS. Hal ini semata-mata agar anak-anaknya tidak mengalami tekanan psikologis yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
“..anak-anak saya yang lain belum pernah besuk karena memang tidak diberi tahu. Tahunya saya kerja di Jakarta. Yang tahu hanya anak saya yang pertama. Kasihan kalau diberi tahu. Nanti waktu keluar kalau bisa saya kasih tahu..”
(Et, 364 - 366) Walaupun ingin berpisah dengan suaminya, Tgl masih menaruh perhatian dan cinta kepada suaminya tersebut. Tgl masih sempat memberikan barang-barang yang ia punyai semata karena Tgl merasa masih ada ikatan antara dirinya dengan suaminya.
“..tapi kok ya, hati seorang wanita itu masih ada, suami saya kan gak pernah dibesuk, kalau saya punya apa gitu, ya saya
kirimkan ke dia, entah lewat tamping atau apa. Rasanya masih ada ikatan..”
(Tgl, 290 - 296) Ir memberikan cinta kasih kepada istrinya dengan mempercayai sepenuhnya hal=hal yang istri Ir lakukan. Keterbatasan dalam bertemu dengan keluarga justru membuat Ir mempunyai prinsip yang tegas untuk menaruh kepercayaan sepenuhnya bahwa istrinya tidak akan berbuat macam-macam selama Ir berada di balik terali besi.
“..saya percaya saja. Istri bilang tidak ada apa-apa ya sudah. Yang saya pegang cuma itu..”
(Ir, 253 - 255) 2.3. Penyerahan diri pada pengalaman
a. Menghilangkan rasa menderita dan merasakan ketenangan hati Fasilitas yang disediakan oleh pihak LAPAS dimanfaatkan sepenuhnya oleh Et. Dengan demikian, perasaan kesendirian yang ia alami dapat dihilangkan dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan tersebut.
“..ketika ada jam besuk bisa digunakan bertemu keluarga biar gak merasa sendiri. Ada wartel juga..sekarang ada pengajian disini. Jadi saya ikuti itu semua dan saya sudah merasa
nyaman.”
(Et, 435 - 442) Ketidakberdayaan yang dirasakan Tgl pada awalnya membuatnya putus asa dan memiliki pikiran untuk bunuh diri. Akan tetapi, Tgl mampu menerima ketidakberdayaan yang ia alami dengan melakukan hal yang menurutnya mampu mendatangkan ketenangan hati bagi dirinya.
“..dengan puasa kan saya bisa tenang. Kenyataannya, dengan tuntutan awalnya 20 tahun, kalau gak prihatin ya gimana..saya kan mendingan mati aja daripada dihukum lama sekali..”
(Tgl, 115 - 122) Sama dengan Tgl, Ir juga melakukan suatu hal yang dapat menimbulkan ketenangan hati bagi dirinya. Ia berdoa agar selalu diberi ketenangan hati dan pikiran.
“..yang saya tahu sekarang saya berdoa sama Tuhan untuk mencukupi kebutuhan, bukan seperti kebutuhan manusia, seperti makan, tapi ketenangan hati dan pikiran.”
(Ir, 312 - 318) 3. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Bersikap
a. Ikhlas menghadapi kenyataan yang tidak dapat dikendalikan
Et dapat ikhlas menghadapi kenyataan hidup yang dialaminya serta mengambil hikmah bahwa Et harus mawas diri dan hati-hati dalam melangkah.
“..Allah menunjukkan bahwa baru satu mobil yang saya gadaikan dan itu bisa kembali, saya diingatkan itu. Saya ambil hikmahnya saja sekarang, saya harus mawas diri dan hati-hati, saya terima dengan ikhlas..”
(Et, 540 - 547) Dengan mengikhlaskan pengalaman hidup yang dialami dan juga berdoa kepada Tuhan, Tgl berusaha melupakan kejadian yang telah dialami dan memandang ke depan untuk menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya.
“..ya saya sekarang mengikhlaskan, berdoa juga. Berusaha melupakan kejadian..”
Begitu pula dengan Ir. Cibiran dari teman-teman sekantor membuat Ir ikhlas dan sabar dalam menghadapi kenyataan yang dihadapi.
“..ya saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya sabar saja, Toh saya gak pernah ganggu mereka, saya juga gak ngrugiin mereka. Kalau saya gak bisa kerja kan saya bisa wiraswasta..”
(Ir, 349 - 354) Ketiga subjek memiliki tema yang berbeda dalam menyikapi situasi yang mereka alami.
1. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Kreatif
a. Melakukan aktivitas yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain Setiap aktivitas bisa mengantarkan individu pada penemuan makna asalkan aktivitas itu merupakan usaha memberikan sesuatu kepada hidup, baik itu kehidupan sendiri maupun orang lain. Hal tersebut dibuktikan sendiri oleh Tgl. Ia, yang semula tidak dapat membaca ayat kitab suci, menjadi bisa membacanya selama berada di dalam LAPAS. Bahkan, saat ini Tgl mampu untuk mengajari orang lain yang juga ingin belajar membaca ayat kitab suci.
“..dari rumah belum bisa baca Alquran, belum bisa Iqra, cuma bisa ayat pendek tapi cuma sedikit sekarang ayat panjang sudah bisa, malah kadang saya mengajari orang lain kalau malam. Ya ada manfaatnya di penjara mas, bisa Alquran..”
(Tgl, 234 - 245) 2. Bentuk dan Pemenuhan Nilai-Nilai Penghayatan
2.1. Penghayatan terhadap Tuhan
a. Mensyukuri kehidupan dalam keadaan apapun
dapat mengambil hikmah dengan tidak lagi bekerja di bidang yang beresiko tinggi menjeremuskan dirinya.
“..di sini menjadi pengalaman saya, disyukuri saja, mungkin kalau saya masih mengelola rental akan lebih berat karena di sini kan banyak melarikan mobil rental kasusnya..”
(Et, 532 - 537) Tgl menyadari bahwa ia harus merasakan penderitaan di LAPAS dalam waktu yang cukup lama namun ia mensyukuri hal tersebut. Ia dapat menerima cobaan yang terjadi pada dirinya dan berharap akan menjadi individu yang lebih baik ketika dirinya keluar dari LAPAS nanti.
“..rasanya tu ya kok lama sekali di sini, di luar kan setiap hari jualan dapat uang, kalau di sini kan cuma duduk, jenuh. Ya bersyukur saja, mudah-mudahan kalau keluar ya bisa jualan lagi. Saya dapat cobaan di sini ya diterima saja..”
(Tgl, 521 - 528) 2.2. Memaknai pengalaman melalui hubungan dengan orang lain
a. Kehadiran sesama merubah rasa tidak berdaya
Dengan melakukan aktivitas bersama dan saling membantu, Et dapat merasakan dukungan sosial yang diberikan oleh orang lain.
“..kalau sholat, untuk kita yang muslim, bareng. Kerja, bersih-bersih kita juga bareng-bareng. Kalau kita sakit minta tolong sama temen buat diambilkan obat. Kita ngumpulnya juga waktu kita ngobrol-ngobrol, soalnya kan kadang sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang berada di kerajinan, menyulam juga..”
(Et, 449 - 454) Bahkan, hanya dengan saling bertukar cerita, Tgl dapat merasakan kehadiran dan dukungan sosial dari orang lain pada