• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Dalam melaksanakan tugasnya hakim dituntut untuk mampu mengadili dan memeriksa perkara secara cermat dan teliti dari setiap gugatan yang di ajukan kepadanya. Majelis hakim sebelum menjatuhkan putusannya terlebih dahulu harus menemukan fakta yang terungkap dari pengugat dan tergugat serta alat-alat bukti yang di ajukan oleh para pihak dalam persidangan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan yang di peroleh melalu data skunder sebagai data pendukung dengan ini Pengambilan Keputusan Majelis Hakim Dalam Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sebagai narasumber yang dianggap mampu dan dapat memberikan informasi yang akurat mengenai pengambilan keputusan majelis hakim dalam perkara perceraian di pengadilan agama kabupaten sidrap, tujuan dari pengambilan keputusan majelis hakim untuk memberikan kepastian kepada pengugat dan tergugat apakah gugatannya di terima atau tidak.

Proses pengambilan keputusan terdiri dari tiga tahap menurut Herbert A. Simon dalam Hasan (2004) yaitu: 1. Tahap intelegensia Merupakan tahap penelusuran informasi untuk keadaan yang memungkinkan dalam rangka

pengambilan suatu keputusan. tahap ini yaitu pengamatan lingkungan dalam pengambilan suatu keputusan. Data dan informasi diperoleh, diuji dan diperoleh untuk mencari bukti-bukti yang dapat diidentifikasi, baik yang permasalahan pokok peluang untuk memecahkanya. b) Tahap desain Merupakan tahap pencaria/penemuan, pengembangan serta analisis kemungkinan suatu tindakan. Jadi tahap ini adalah kegiatan perancangan dalam pengambilan suatu keputusan yang terdiri dari identifikasi masalah dan formulasi masalah. c) tahap pemilihan Merupakan tahap seleksi alternatif atau tindakan yang dilakukan dari alternatif-alternatif tersebut. Alternatif yang dipilih kemudian dilaksanakan dan diputuskan. Jadi pada tahap ini yaitu kegiatan dalam memilih alternatif atau tindakan tertentu dari beragam kemungkinan yang bisa ditempuh.

1. Tahap Intelegensia pengambilan keputusan

Tahap Intelegensia yaitu tahap penelusuran informasi sebelum melakukan pengambilan Putusan atau penetapan putusan hakim, tahap ini merupakan menemuan, mengidentifikasi masalah yang terjadi pada suami istri yang melakukan perceraian. Data dan informasi diperoleh, diproses dan diuji untuk mencari bukti-bukti yang dapat diidentifikasi, baik yang permasalahan pokok serta peluang untuk memecahkanya. Dalam tahap intelegensia, untuk mengetahui cara memperoleh informasi terkait pertimbangan keputusan dalam perkara

perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap, sebagaimana yang diungkap oleh MB selaku Kepala Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Dalam perkara perceraian kita liat dari pembuktiaan sebelum mengambil sebuah keputusan dasarnya itu dari bukti bukti yang di ajukan penggugat kepada tergugat apakah itu bukti tertulis, atau saksi, tentu kita akan lihat apakah bukti tertulis itu mendukung dalilnya pengugat begitu juga dengan bukti saksi apakah mendukung dari dalilnya penggugat kalau dua-duanya mendukung tentu baru kita mengambil keputusan kalau tidak mendukung ada juga keputusannya tentu berbeda dengan yang mendukung, dasarnya itu pembuktiaan kita lihat sistematikannya seperti itu karna sistematika persidangan seperti itu, jadi ada gugatan ada jawaban ada replik dublik baru masuk ke pembuktiaan. jadi tahapan tahapnnya itu mengambarkan sistem pengambilan keputusan dalam perkara perceraian (hasil wawancara pada tanggal 24 Juni 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara memperoleh informasi terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu sistematika persidangan ada gugatan, jawaban, replik, dublik baru masuk ke pembuktiaan. cara melihat pembuktian memeriksa bukti tertulis dan saksi setra gugatan yang di ajukan ke pengadilan.

Pendapat tersebut didukung oleh SM selaku hakim di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Datang mendaftar dulu kemudian dibikinkan gugatnnya sama posbakum Jadi pihak datang mendaftar dulu dan dibuatkan gugatan dan membayar panjar perkara, panjar untuk memanggil perpihak nanti karna ada namanya pemanggilan Pengugat dan tergugat Supaya ditau ada sidang tanggal sekian itu tujuan dari membayar. Jadi setelah berkasnya sudah di terima kemudian di sidang di ruangan sidang di sana sidang pertama pembacaan gugatan setelah itu sidang kedua di periksa saksinya. disitu mi hakim menjadikan patokan

untuk mengabil keputusan dari saksi saksi yang dipergunakan, ada alat bukti tertulis dan alat bukti saksi (hasil Wawancara pada 17 Juni 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara memperoleh informasi terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu mendaftar dulu di posbakum, dibuatkan gugatan dan melakukan pembayaran , setelah mendapakan panggilan kemudian di laksanakan persidangan sebanyak 2 (dua) kali.

Pendapat tersebut didukung oleh HF selaku hakim di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Berawal dari gugatan hakim menentukan apa yang menjadi alasan Penggugat mengajukan perceraian kemudian alasan tersebut dilihat masuk ke dalam pasal berapa huruf apa contoh untuk alasan perceraian karena pertengkaran maka dimasukkan ke dalam pasal 116 huruf f KHI kemudian alasan tersebut dijadikan pokok masalah dan digali kebenaran nya melalui proses pembuktian (bisa bukti tertulis bisa bukti saksi) apabila keterangan saksi mendukung apa yang didalilkan dalam gugatan maka gugatan bisa diterima atau dikabulkan. (hasil Wawancara pada 17 November 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara memperoleh informasi terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu hakim dalam mengidentifikasi masalah dengan cara melihat gugatan apa yang menjadi alasan pengugat mengajukan perceraian dan dimasukkan kedalam pasal kemudian alasan itu di jadikan pokok permasalahan dan di benarkan melalui pembuktian.

Pendapat tersebut juga didukung oleh MBM selaku Panitera di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Panitera dalam menjalankan tugas sebagai pendamping hakim, dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu melaksanakan persidangan khususnya di bidang perceraian itukan mencatat apa yang terjadi dan apa yang dibicarakan di dalam persidangan itu tugas panitera contohnya itu mencatat saksi, identitas, mencatat apa yang menjadi kesaksian. Panitera mencatat, hakim menganalisa. Tugas panitera mencatat mulai dari pendaftaran sampai meja persidangan, di sidang di bantu lagi hakim oleh panitera yang namanya panitera pengganti. Panitera bekerja mencatat administrasi mulai dari pendaftaran sampai keluarnya produk pengadilan (hasil wawancara pada tanggal 24 Juni 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara memperoleh informasi terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu: tugas panitera sebagai pendamping hakim dalam melaksanakan persidangan terkhusus pada bidang perceraian adalah melakukan pencatatan administrasi mulai dari pendaftaran sampai meja persidangan hingga dikeluarkannya produk pengadilan. Adapun tanggapan NL selaku penggugat dalam perkara perceraian di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sebagai Berikut:

“Pertama disuruh ka dulu mendaftar terus masukkan berkas baru isi semacam formulir yang ada nama saya sebagai penggugat dan nama suami saya sebagai tergugat terus disuruh perlihatkan buku nikah dan KTP di dalam ruangan mediasi baru saya dimediasi juga, setelah berkas saya di terima baru bisa ikut sidang (hasil wawancara pada tanggal 14 Juli 2020)”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara memperoleh informasi terkait pertimbangan keputusan dalam

perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu: mendaftar terlebih dahulu dengan memasukkan berkas kemudian mengisi formulir dengan memperlihatkan buku nikah dan KTP sebelum masuk tahap mediasi. setelah berkas di terima baru bisa mengikuti persidangan.

Dari beberapa hasil wawancara yang telah di peroleh dapat dikatahkan bahwa cara memperoleh informasi untuk dijadikan sebagai pertimbangan keputusan dalam proses perkara perceraian, Berawal dari gugatan hakim menentukan apa yang menjadi alasan Penggugat mengajukan perceraian kemudian alasan-alasan tersebut dilihat dan di masuk ke dalam pasal sesuai dengan alasan perceraian, alasan tersebut dijadikan pokok masalah dan digali kebenarannya.

Berdasarkan hasil observasi yang di peroleh di lapangan bahwa cara memperoleh informasi untuk di jadi pertimbangan keputusan yaitu dengan memeriksa gugatan yang masuk kemudian hakim menjikan patokan untuk di gali kebenarannya di persidangan.

2. Tahap desain

Tahap desain Merupakan tahap pencarian/penemuan, pengembangan serta analisis kemungkinan suatu tindakan. Jadi tahap ini adalah kegiatan perancangan dalam pengambilan suatu keputusan yang terdiri dari identifikasi masalah dan formulasi masalah. Dalam tahap desain, untuk mengetahui cara identifikasi masalah dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara

perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap, sebagaimana yang diungkap oleh MB selaku Kepala Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Ada pemeriksaan gugatan ,setelah memberikan jawaban kepada para pihak, sudah jawaban kemudian reflik sudah reflik lalu duplik. Kemudian diberikan kesemptan pembuktian, sudah pembuktian kesimpulan, kemudian musyawarah setelah itu membacakan putusan setelah itu kita serahkan kepada para pihak apakah menerima putusan ini atau tidak, kalau dia menerima berarti persoalan sudah selesai tapi kalau tidak, maka ada upaya hukum. Upaya hukum itu ada 2 macam bisa banding bisa kasasi jadi setelah dia mendapatkan itu kita langsung bacakan putusannya setelah itu diserahkan kepada pihak tersebut mau menerima atau tidak (hasil wawancara pada tanggal 24 Juni 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara identifikasi masalah dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu Pemeriksaan gugatan, pemberian jawaban, replik, duplik pembacaan kesimpulan, dan kemudian musyawah dan pembacaan putusan. Jika pihak menerima berarti perkaranya selesai jika tidak biasa mengajukan banding atau kasasi.

Pendapat tersebut didukung oleh SM selaku hakim di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Jadi begini memang betul disini ada gugatan yang diajukan di dalam persidangan apa yang diucapkan oleh pengugat dan saksi-saksi. Dan jika penggugat dan saksi-saksi tidak bisa membuktian gugatannya maka gugatannya ditolak. Hakim merumuskan perkara dengan cara ada dalil yang diakui dan ada dalil yang dibantah dan kalau perceraian itu tetap harus dibuktikan (hasil Wawancara pada 17 Juni 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara identifikasi masalah dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu dengan pemeriksaan gugatan dan pembuktian dari ucapan pengugat dan saksi-saksi. jika tidak dibuktikan dan tidak ada dalil yang diakui maka gugatan di tolak. Pendapat lain oleh HF selaku hakim di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Mengidentifikasi masalah atau menentukan pokok masalah dilihat dari gugatan, jawaban, replik, dan duplik mana mana saja hal2 yang didalilkan dalam gugatan kemudian dibantah secara tegas oleh tergugat atau diakui secara klausula atau diakui secara kualifikasi maka itu semua menjadi pokok masalah yang kemudian harus dibuktikan oleh masing2 pihak. (hasil Wawancara pada 17 November 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara identifikasi masalah dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu dari gugatan yang di ajukan, jawaban, replik, duplik. Maka itu semua menjadi pokok masalah yang kemudian harus di buktikan.

Adapun tanggapan dari masyarakat NL selaku penggugat di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sebagai berikut:

“Waktu sidang pertama dibacakan gugatan saya setelah itu berkas seperti buku nikah dan KTP yang sebelumnya saya bawa waktu pendaftaran, kemudian dimediasi lagi kemudian disidang kedua baru disuruh bawa saksi lalu saksi juga ditanya-tanya mengenai masalah perceraian saya setelah saksi sudah diperiksa lanjut saya diberikan kesempatan untuk membuat pernyataan apakah mau rujuk atau bercerai setelah menjawab hakim mengetuk palu untuk

memutuskan perkara perceraian (hasil wawancara pada tanggal 14 Juli 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara identifikasi masalah dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu setelah melakukan pendaftaran dan pemeriksaan berkas kemudian dimediasi, disidang kedua setelah bukti dan saksi sudah diperiksa kemudian penggugat membuat pernyataan lalu hakim mengetuk palu untuk memutuskan perkara perceraiannya.

Adapun tanggapan dari masyarakat U selaku penggugat di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sebagai berikut:

“Saya menerima surat pangillan di pengadilan kemudian saya menghadiri persidangan, di dalam persidangan hakim berusan mendamiakan. Saya di berikan kesempatan untuk menjawab apakah benar apa yang di gugat oleh istri saya dan hakim menyimpulkan dari jawaban saya. ( hasil wawancara 19 november 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui cara identifikasi masalah dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu setelah menerima surat pangilan baru hakim memerisa tergugat dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan barulah itu hakim menyimpulkan.

Selain itu, untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan majelis hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian. Sebagaimana yang diungkapkan oleh MB selaku Kepala Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Tergantung kerumitan perkaranya Apalagi di masa pendemi ini, waktu awal-awal pendemi ada beberapa kantor pengadilannya tutup, itu mempengaruhi juga karena tentu ketika kita minta bantuan kesana tidak ada jawaban, yg dulunya mungkin 1 bulan tapi karena pendemi menunggu dulu. Tetapi inikan sudah ada edaran dari mahkamah agung ada edaran menyelesaikan kasus maksimal 3 bulan. Jadi lewat dari itu harus ada penjelasan dari majelis hakim, ada penjelasannya ketika lewat 3 bulan. Karena kita biasanya dituntut untuk menyelesaikan paling cepat kalau bisa 1 bulan (hasil wawancara pada tanggal 24 Juni 2020).

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan majelis hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian yaitu: tergantung kerumitan perkaranya bisa 1 (satu) bulan dan maksimal 3 (tiga) bulan juga karena adanya pandemi sehingga mempengaruhi putusan perkara.

Pendapat tersebut didukung oleh SM selaku hakim di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Biasanya dek 1 minggu atau ta satu bulan, karena biasa sidang kedua itu pemeriksaan saksi apalagi kalau saksi yang mereka bawah itu tidak mengetahui permasalahannya karena saksi itu harus mengetahui, mendengar dan melihat langsung dengan pengamatannya sendiri. Itu yg menjadi dasar perceraian dari diperiksanya saksi. Jika saksi tidak melihat langsung pertengkarannya setidaknya saksi mendengar.”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan majelis hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian yaitu: biasanya 1 (satu) minggu atau 1 (satu) bulan jika tidak

ada kendala saat persidangan terkhusus menghadirkan saksi yang paham atas permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga tergugat dan penggugat.

Pendapat lain oleh HF selaku hakim di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Ada namanya agenda persidangan setelah kesimpulan dari kedua belah pihak yakni musyawarah majelis, musyawarah majelis tersebut adalah waktu bagi majelis hakim untuk menentukan apakah gugatan dikabulkan atau ditolak biasanya untuk perkara verstek 1 minggu cukup untuk menghasilkan putusan, kalau kontradiktur paling cepat 2 minggu tergantung kualitas perkara dan banyak atau sedikitnya putusan yang dikerjakan. (hasil Wawancara pada 17 November 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan majelis hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian yaitu sesuai dengan perkaranya bisa 1 sampai 2 minggu.

Pendapat tersebut juga didukung oleh MBM selaku Panitera di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Masuknya perkara 3 hari harus munculnya penetapan majelis hakim setelah itu berdampingan dengan penetapan panitera pengganti dan tidak boleh lewat 3 hari setelah itu masuk ke majelis hakim dan mejelis hakim yang menentukan hari sidangnya. Biasa penyelesaiannya 1 bulan dan tapi maksimal selama 3 bulan. (hasil wawancara pada tanggal 24 Juni 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan majelis hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian yaitu setelah masuknya perkara 3 (tiga) hari selanjutnya muncul penetapan majelis hakim, berdampingan dengan penetapan panitera

pengganti tidak lewat 3 (tiga) hari setelah masuk ke majelis hakim kemudian menentukan hari sidangnya. Penyelesaiannya biasa 1 (satu) bulan atau maksimal 3 (tiga) bulan.

Pendapat ini juga didukung oleh masyarakat yang bercerai oleh NL Selaku masyarakat yang menggugat sebagai berikut:

“setelah masuk berkas saya menunggu panggilan dari pihak pengadilan sekitar satu minggu lebih setelah dapat panggilan baru bisa sidang saya sidang sebanyak 2 kali itu satu minggu setelah sidang pertama (hasil wawancara pada tanggal 14 Juli 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan majelis hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian yaitu: setelah berkas masuk kemudian menunggu waktu panggilan dari pihak pengadilan lebih dari 1 (satu) minggu untuk melakukan sidang di sidang sebanyak 2 kali selama 2 minggu.

Pendapat ini juga didukung oleh masyarakat yang bercerai oleh U Selaku masyarakat yang tergugat sebagai berikut:

“Saya mengikuti persidangan hanya 2 kali jadi setelah sidang pertama selesai hakim tetapkan hari sidang selanjutnya dan itu waktunya satu minggu kedepan. (hasil wawancara 19 november 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan majelis hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian yaitu: persidangan di lakukan sebanyak 2 kali dengan waktu 2 minggu. Hasil observasi di lapangan yang dilakukan peneliti untuk mengetahui

cara identifikasi masalah dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu dari masuknya gugatan perceraian kemudian diproses didalam sidang pertama dibacakan gugatan selanjutnya, hakim memberikan kesempatan tergugat dan pengugat menjawab pertanyaan hakim dilanjutkan pada sidang kedua dengan membawa saksi yang mengetahui masalah rumah tangga antara pihak tergugat dan penggugat. untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan Majelis Hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian yaitu minimal satu minggu menunggu sidang pertama. setelah mengikuti sidang pertama selanjutnya sidang kedua untuk penetapan putusan yaitu minimal selama 1 (satu) minggu. Penyelesainya perkara sampai 2 (dua) minggu, 1 (satu) bulan dan maksimal selama 3 (tiga) bulan tergantung kerumitan perkaranya.

3. Tahap Pemilihan

Merupakan tahap seleksi alternatif atau tindakan yang dilakukan dari alternatif-alternatif tersebut, dan pada tahap inilah hakim menentukan alteternatif yang dipilih kemudian dilaksanakan dan diputuskan. Dalam tahap pemilihan, terdapat beberapa alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap, sebagaimana yang diungkap oleh MB selaku Kepala Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sebagai berikut: “Jadi pilihannya kalau putusan itu ada positif dan negatif. Kalau positif, itu berarti dikabulkan dan kalau negatif itu banyak, misalnya gugur itu kalau penggugatnya tidak hadir maka di N.O tidak dapat diterima maksudnya jika

dalil gugatannya tidak jelas kapan pisahnya penyebabnya, atau misalnya dicabut itu negatif misalnya dia masukkan gugatan percerain tapi ternyata setelah kita panggil katanya sudah saya rubah kembali gugatannya. jadi macam macamnya seperti itu (hasil wawancara pada tanggal 24 Juni 2020).” Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa dalam tahap pemilihan, terdapat beberapa alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu putusan ada positif dan negatif jika positif berarti di terima jika negatif berarti di tolak atau gugur.

Pendapat tersebut didukung oleh SM selaku hakim di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Alternatifnya itu ada yang dikabulkan atau diterima ada yang di N.O maksudnya disini tidak diterima perkaranya karena ada cacat formil pada gugatannya dan tidak dibenarkan oleh hukum, jadi pilihannya itu ada dua diterima dan tidak diterima (hasil Wawancara pada 17 Juni 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa dalam tahap pemilihan, terdapat beberapa alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu gugatan ada yang di kabulkan atau di N.O Jika di N.O berarti ada cacat formil pada gugatannya dan tidak di benarkan oleh hukum.

Pendapat tersebut didukung oleh HF selaku hakim di Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

“Jenis putusan dalam perkara perceraian dikabulkan,dikabulkan sebagian bagi perkara yang ada rekonvensi nya, ditolak, No atau tidak diterima, gugur, gicabut. Tapi maksudnya tetap 2 pilihan di terima dan tidak di terima No. (hasil Wawancara pada 17 November 2020).”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa dalam tahap pemilihan, terdapat beberapa alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu ada yang di kabulkan atau di N.O.

Selain itu, selama hakim menangani kasus perkara perceraian terdapat adanya dari pihak penggugat atau tergugat merasa keberatan atas keputusan majelis hakim. Sebagaimana yang diungkapkan oleh MB selaku Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap berikut:

”Jadi begini prinsipnya kita tidak akan pernah bisa memberikan kepuasan kepada para pihak karena biasanya dalam pengambilan keputusan cerai ada saja yang merasa tidak puas, kecuali suami sama istri sama-sama mau cerai yang tidak puas itu ketika satu mau cerai yang satu tidak mau pasti apapun keputusan kita memuaskan bagi yang mau cerai dan sisanya tidak, ada yang diuntungkan dan dirugikan (hasil wawancara pada tanggal 24 Juni 2020).” Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat di katakan bahwa dalam tahap pemilihan selama hakim menangani kasus perkara perceraian terdapat adanya dari

Dokumen terkait