• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Tahap Intelegensia

Merupakan tahap penelusuran informasi sebelum melakukan pengambilan keputusan atau penetapan putusan hakim, tahap ini merupakan menemuan, mengidentifikasi masalah yang terjadi pada suami istri yang melakukan perceraian. Data dan informasi diperoleh, diproses dan diuji untuk mencari bukti-bukti yang dapat diidentifikasi, baik yang permasalahan pokok serta peluang untuk memecahkanya.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dapat dikatakan bahwa tahap intelegensia dalam pengambilan keputusan Majelis Hakim dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sudah dapat dikatakan sesuai dengan sistematika persidangan dalam pengambilan keputusan pada tahap intelegensia.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa cara memperoleh informasi terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sudah dapat dikatakan sesuai dengan alur atau prosedur yang terdapat di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap dengan adanya gugatan yang di ajukan oleh pengugat atau tergugat. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Herbert A. Simon (2004) bahwa dalam pengambilan keputusan tahap intelegensia merupakan tahap untuk menelusuri informasi, maka hakim persidangan telah melakukan tugasnya dengan maksimal begitu pula dengan apa yang disampaikan oleh Simon (2018) pada proses pengambilan keputusan tersebut.

2. Tahap Desain

Tahap desain merupakan tahap pencarian/penemuan, pengembangan serta analisis kemungkinan suatu tindakan. Jadi tahap ini adalah kegiatan perancangan dalam pengambilan suatu keputusan yang terdiri dari identifikasi masalah dan formulasi masalah.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti bahwa tahap desain yaitu cara identifikasi dan formulasi masalah terkait

pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sudah sesuai dengan langkah-langkah pengidentifikasian dan dalam perumusan untuk penyelesaian masalah terkait perkara perceraian. Dengan ini penulis menilai bahwa apa yang dikatakan oleh Herbert A. Simon (2004), Duker (2015) bahwa dalam pengambilan keputusan perlu dilakukannya analisis masalah yang dimana, kegiatan tersebut akan segera di proses sehingga adanya tujuan yang harus diselesaikan. Dengan ini penulis dapat mengetahui bahwa pengambilan keputusan dalam teori ini sudah dilakukan dengan maksimal.

Kemudian untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan Majelis Hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian menurut hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa waktu yang dibutuhkan majelis hakim dalam pengambilan keputusan perkara perceraian yaitu minimal selama 1 (satu) minggu sampai dengan 1 (satu) bulan dan maksimal selama 3 (tiga) bulan. 3. Tahap Pemilihan

Tahap pemilihan merupakan tahap seleksi alternatif atau tindakan yang dilakukan dari alternatif-alternatif tersebut, dan pada tahap inilah hakim menentukan alteternatif yang dipilih kemudian dilaksanakan dan diputuskan.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan informan dapat disimpulkan bahwa dalam tahap pemilihan, ada beberapa alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten terdapat 2 (dua) alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian

di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu positif dan negatif atau diterima atau tidak diterima.

Sejalan dengan wawancara dan observasi di lapangan yang dilakukan peneliti ada beberapa alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu terdapat dua alternatif pilihan diterima atau tidak diterima, namun kebanyakan alternatif yang dipilih adalah diterima karena bukti dan saksi yang mereka bawa sudah cukup untuk menjadi pertimbangan keputusan majelis hakim.

4. Faktor Penghambat

Faktor penghambat sesuatu yang sifatnya menghambat keputusan Majelis Hakim hal yang bisanya berjalan semestinya, pekerjaan dan semacamnya menjadi tidak lancar, lambat atau tertahan.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat dalam pengambilan keputusan hakim perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap memang berdasar pada pihak penggugat dan tergugat yang mangkir atau tidak datang saat sidang, bukti yang tidak lengkap serta saksi yang tidak dihadirkan sehingga harus ditunda persidangannya.

74 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya maka kesimpulannya sebagai berikut:

1. Tahap Intelegensia pada pengambilan keputusan Majelis Hakim dalam perkara perceraian di Pengadian Agama Kabupaten Sidrap sudah dapat dikatakan sesuai dengan alur atau prosedur yang terdapat di Pengadilan Agama. Kemudian sudah dapat dikatakan sesuai dengan sistematika persidangan dalam pengambilan keputusan Majelis Hakim dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap.

2. Tahap desain menunjukkan bahwa cara identifikasi dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sudah sesuai dengan langkah-langkah pengidentifikasian dan dalam perumusan untuk penyelesaian masalah terkait perkara perceraian.

3. Tahap pemilihan menunjukkan bahwa terdapat dua alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap yaitu alternatif pilihan diterima atau tidak diterima. Adapun selama hakim menangani kasus perkara perceraian masih

terdapat adanya dari pihak penggugat atau tergugat yang merasa keberatan atas keputusan majelis hakim.

4. Adapun faktor penghambat pada pengambilan keputusan yaitu berdasar pada pihak penggugat dan tergugat yang mangkir atau tidak datang saat sidang, bukti yang tidak lengkap serta saksi yang tidak dihadirkan sehingga harus ditunda persidangannya.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan Majelis Hakim dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap sebagai berikut:

1. Meskipun pengambilan keputusan Majelis Hakim dalam perkara perceraian sudah sesuai dengan prosedur, alur dan sistematika persidangan namun perlu terus meningkatkan kemampuan dan melakukan upaya perbaikan serta pembaharuan pada sistem pengambilan keputusan Majelis Hakim.

2. Disarankan kepada Majelis Hakim agar lebih memperhatikan segala bentuk tuntutan masyarakat yang ingin bercerai dengan melakukan pendekatan-pendekatan tertentu agar bisa diberikan jalan alternatif selain bercerai.

76 DAFTAR PUSTAKA

Asriani & Ilham, L. (2014). Peran Hakim Dalam Penyelesaian Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama Kabupaten Pangkep. Volume 2 (2). 24-28 Univesitas Negeri Makasssar.

Creswell, J. W. (2002). Research Design: Qualitative and Quantitative Approach. London: Sage Publication Inc.

Creswell, J. W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Yogyakarta: PT. Pustaka Pelajar.

Dagun, M. S. (2006). Kamus Besar Ilmu pengetahuan. Jakarta:Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara.

Enal (7 januari 2020) Gara-gara Perselingkuhan, 800 Perempuan Jadi Janda di Sidrap, 360 Diantaranya Janda Muda. Pedomanrakyat.com, diperoleh dari

https://pedomanrakyat.com/read/2957/gara-gara-perselingkuhan-800-perempuan-jadi-janda-di-sidrap-360-diantaranya-janda-muda/.

Fahmi, I. (2018). Teori Dan Teknik Pengambilan Keputusan Kualitatif dan Kuantitatif. Depok: Raja Grafindo Persada

Hartono, R. (2014). Keyakinan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Perkara Perceraian (Keyakian Hakim Dalam Memutuskan Perkara Perceraian (Studi Terhadap Putusan-Putusan Hakim Peradilan Agama Ambarawa) Volume 3 (2), 75-83 Jurnal Universitas Negeri Semarang.

Hasan, I. (2004). Pokok-Pokok Materi Teori Pengambilan Keputusa. Bogor: Gralia Indonesia.

Rismawati (2015) Responsivitas Pelayanan Perceraian Kantor Pengadilan Agama Sengkang Kabupaten Wajo, jurnal Administrasi Publik, Volume 1 (3) Universitas Muhammadiyah Makassar.

Simanjutak, P.N.H (2007). Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia. Jakarta, Pustaka Djambatan

Syah, M. H. (18 Jauniari 2019). Setahun Pengadilan Agama Tangani 1.207 Perceraian di Sidrap. Tribun-Timur.com, di peroleh dari

Syamsi, I. (2000). Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi (Jakarta: Bumi Aksara)

Pasolong, H. (2015). Kepemimpinan Birokrasi. (Makassar: Alfabeta, Cv). Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975

UU perkawinan no 1 Tahun 1974. Pasal 39

Yin, Rober K. (2000). Studi Kasus: Desain dan Metode, Cetakan Ke-III. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

78

L

A

M

P

I

R

A

N

1. Lampiran Daftar Informa

2. Dokumentasi Penelitian

(Wawancara dengan Wakil Ketua Pengadilan Agama Dr. Mukhtaruddin Bahrum, S.H)

No Informan /Gol/ Ruangan Jabatan/ selaku Kode

Inisial 1 Dr. Mukhtaruddin

Bahrum, S.H.I / IV A Hakim kadya Pratama

Wakil Ketua Pengadilan Agama Sidrap

MB

2 Dra. Sitti Musyayyadah/ III D Penata Tk. I

Hakim Pengadilan Agama Sidrap

SM 3 Heru Fachrurizal, S.H.I/

III/a penata Muda

Hakim Pengadilan Agama Sidrap HF 4 H. Muhammad Basyir Makka, S.H.,M.H/ III D/ Penata TK. I Panitera Pengadilan Agama Sidrap MBM

5 Nur Linda Masyarakat Yang

Berkara (pengugat)

NL

6 Anti Masyarakat Yang

Berkara (pengugat)

A

7 Ullah Masyarakat yang

berperkara (tergugat)

(Wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Dra. Sitti Musyayyadah)

(Wawancara dengan Masyarakat yang Berperkara Ibu Nur Linda)

3. Proses untuk mendaftar gugatan dan mengikuti sidang 4. Proses Persidangan

5. Bagan Alur Pengambilan Keputusan Hakim Dalam Perkara Perceraian Majelis Hakim Pengugat Pembacaan Gugatan Replik Jawaban Tergugat Putusan Hakim

Kesimpulan oleh pengugat dan tergugat Pembuktian dari pengugat dan tergugat

Duplik Tergugat upaya Damai 1 4 5 3 1 4 2 6

6. X- Banner dan pamplet alur proses gugatan

7. Kantor Pengadilan Agama

8. Data Perkara Perceraian

Data Perkara perceraian Tahun 2018 Bulan Klasfikasi Sisa Bulan

Lalu

Perkara Masuk

Putus Minutasi Sisa

Januari Perdata Gugatan 94 77 59 51 112

Januari Perdata Pengugat 4 17 12 11 9

Februari Perdata Gugatan 112 65 53 37 124

Februari Perdata Pengugat 9 11 15 14 5

Maret Perdata Gugatan 124 47 60 40 111

Maret Perdata Pengugat 5 11 6 5 10

April Perdata Gugatan 111 84 50 44 145

April Perdata Pengugat 10 21 23 17 8

Mei Perdata Gugatan 145 45 77 68 113

Mei Perdata Pengugat 8 17 18 14 7

Juni Perdata Gugatan 113 21 40 29 94

Juni Perdata Pengugat 7 5 7 6 5

Juli Perdata Gugatan 94 100 67 53 127

Juli Perdata Pengugat 5 19 16 15 8

Agustus Perdata Gugatan 127 36 79 57 84

Agustus Perdata Pengugat 8 5 12 12 1

Sebtember Perdata Gugatan 84 92 34 30 142

Sebtember Perdata Pengugat 1 21 13 13 9

Oktober Perdata Gugatan 142 80 96 91 126

Oktober Perdata Pengugat 9 44 46 43 7

November Perdata Gugatan 126 53 72 72 107

November Perdata Pengugat 7 12 15 15 4

Desember Perdata Gugatan 107 28 98 98 37

Desember Perdata Pengugat 4 17 20 20 1

Data Perkara Perceraian Tahun 2019

Bulan Klasfikasi Sisa Bulan Lalu

Perkara Masuk

Putus Minutasi Sisa

Januari Perdata Gugatan 37 107 35 35 109

Januari Perdata Pengugat 1 24 16 16 9

Februari Perdata Gugatan 109 80 62 62 127

Februari Perdata Pengugat 9 20 22 22 7

Maret Perdata Gugatan 127 83 94 93 116

April Perdata Gugatan 116 107 63 63 160

April Perdata Pengugat 7 17 18 18 6

Mei Perdata Gugatan 160 52 95 95 117

Mei Perdata Pengugat 6 15 16 16 5

Juni Perdata Gugatan 117 64 61 61 120

Juni Perdata Pengugat 5 16 13 13 8

Juli Perdata Gugatan 120 94 85 84 129

Juli Perdata Pengugat 8 18 18 18 8

Agustus Perdata Gugatan 129 60 73 73 116

Agustus Perdata Pengugat 8 24 20 20 12

Sebtember Perdata Gugatan 116 85 75 75 126

Sebtember Perdata Pengugat 12 23 26 26 9

Oktober Perdata Gugatan 126 76 110 110 92

Oktober Perdata Pengugat 9 27 26 26 10

November Perdata Gugatan 92 72 90 90 74

November Perdata Pengugat 10 54 49 49 15

Desember Perdata Gugatan 74 35 81 81 28

Desember Perdata Pengugat 15 64 73 73 6

Data Perkara Perceraian Tahun 2020

Bulan Klasfikasi Sisa Bulan Lalu

Perkara Masuk

Putus Minutasi Sisa

Januari Perdata Gugatan 28 109 45 45 92

Januari Perdata Pengugat 6 65 57 57 14

Februari Perdata Gugatan 92 72 68 68 96

Februari Perdata Pengugat 14 51 48 48 17

Maret Perdata Gugatan 96 69 70 70 95

Maret Perdata Pengugat 17 42 35 35 24

April Perdata Gugatan 95 6 28 28 73

April Perdata Pengugat 24 5 22 22 7

Mei Perdata Gugatan 73 21 39 39 55

Mei Perdata Pengugat 7 9 8 8 8

Juni Perdata Gugatan 55 138 69 69 124

Juni Perdata Pengugat 8 71 56 56 23

Juli Perdata Gugatan 124 69 114 114 79

Juli Perdata Pengugat 23 81 86 86 18

Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dalam 3 tahun terakhir yakni pada tahun 2018-2020 di peroleh bahwa perkara perceraian yang paling tinggi terjadi pada tahun 2019 sebanyak 1.241 kasus dan sedangkan kasus yang paling sedikit di temukan pada tahun 2020 sebanyak 745 kasus per juli 2020, akan tetapi jumlah kasus ini masih dapat bertambah sampai pada akhir tahun 2020. Data menunjukan bahwa selama perkara masuk selama 2018-2020 perjuni sebanyak 2.974.

9. Pedoman wawancara

No Rumusan masalah Pertanyaan Informan

1 Bagaimana tahap Intelegensia

pengambilan keputusan majelis hakim dalam perkara perceraian di pengadilan agama kabupaten Sidrap ?

Bagaimana cara

memperoleh informasi terk ait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap? Wakil pengadilan agama Hakim pengadilan agama Panitera Masyarakat yang berperkara 2 Bagaimana tahap Desain pengambilan keputusan majelis hakim dalam perkara perceraian di pengadilan agama kabupaten Sidrap ?

Bagaimana cara untuk mengetahui cara

identifikasi masalah dan formulasi masalah terkait pertimbangan keputusan dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap

Membutuhkan waktu berapa lama majelis hakim

Wakil pengadilan agama Hakim pengadilan agama Masyarakat yang berperkara

dalam pengambilan keputusan perkara perceraian? 3 Bagaimana tahap Pemilihan pengambilan Bagaimana tahap Intelegensia pengambilan keputusan majelis hakim dalam perkara perceraian di pengadilan agama kabupaten Sidrap ?

terdapat be rapa alternatif pilihan keputusan dalam setiap perkara perceraian di Pengadilan Agama

Kabupaten Sidrap ?

Selain itu, selama hakim menangani kasus perkara perceraian apakah ada dari pihak penggugat atau tergugat merasa keberatan atas keputusan majelis hakim ? Wakil pengadilan agama Hakim pengadilan agama Masyarakat yang berperkara

4 Apa Faktor- faktor penghambat

pengambilan keputusan majelis hakim dalam perkara perceraian di pengadilan agama kabupaten Sidrap ?

Apa Faktor- faktor penghambat pengambilan keputusan majelis hakim dalam perkara perceraian di pengadilan agama kabupaten Sidrap ? Wakil pengadilan agama Hakim pengadilan agama Masyarakat yang berperkara

`RIWAYAT HIDUP

MAKMUR, lahir pada tanggal 26 Juni 1995 di Kalosi

Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan. Ia merupakan anak bungsu dari ke-5 bersaudara dari pasangan Dahlan dan Yupe. Peneliti menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasarnya di SD Muhammadiyah Tanah Grogot Tanah Paser kecamatan Tanah grogot provensi Kalimantan Timur pada tahun 2009. Pada tahun 2012, juga menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamanya yakni di SMPN 1 Tanah Grogot Kabupaten Paser, lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang atas yakni di SMA Inderakarya Duapitue dan selesai pada tahun 2015. Pada tahun 2016, melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi yakni di Universitas Muhammadiyah Makassar Program S1 Reguler Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Satra 1 (S1).

Penulis telah berhasil menyelesaikan tugas akhir skripsi ini. Semoga dengan penelitian tugas akhir skripsi ini mampu memberikan kontribusi terutama bagi dunia pendidikan khususnya dalam pengembangan disiplin Ilmu Administrasi Negara. Akhir kata penulis mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya atas terselesainya skripsi yang berjudul “Pengambilan Keputusan Majelis Hakim Dalam Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama Kabupaten Sidrap”.

Dokumen terkait