• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Penelitian merupakan tahap pertama sebelum mengembangkan produk. Hasil penelitian didapatkan dari berbagai teknik pengumpulan data yaitu analisis dokumen, penyebaran kuesioner, pemberian wawancara, dan tes awal. Empat hasil penelitian itu dinamai sebagai hasil temuan awal.

Berdasarkan hasil analisis terhadap kumpulan artikel ilmiah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Magister, terdapat adanya kekeliruan bernalar dalam paragraf argumentasi yang dikembangkan oleh mahasiswa. Jenis kekeliruan itu ialah generalisasi yang terburu-buru, pengecualian yang tidak dipertimbangkan, penganalogian yang tidak benar, pembandingan dengan pendapat ahli, pembandingan dengan cara memaksa, pengelakkan, dan kedwimaknaan, serta kekaburan pernyataan posisi dan data (lihat lampiran 2). Kekeliruan bernalar yang dominan dalam paragraf argumentasi mahasiswa ialah generalisasi yang terburu-buru, pembandingan yang memaksa, dan kekaburan pernyataan posisi. Salah satu hasil temuan yang

memperlihatkkan adanya kekeliruan bernalar dalam pargraf argumentasi yang dikembangkan oleh mahasiswa akan disajikan sebagai berikut.

Pada paragraf argumentasi di atas, terdapat elemen jaminan yang tidak bernalar. Elemen jaminan yang berfungsi sebagai jembatan antara pernyataan posisi dan data. Seharusnya, jaminan yang diberikan oleh penulis berasal dari pendapat ahli atau pakar. Namun, penulis memberikan jaminan berupa pendapat peneliti lain yang disitir dari penelitian yang relevan. Pendapat peneliti lain hanya dapat digunakan sebagai dukungan yang menyokong jaminan, sedangkan jaminan itu sendiri harus berasal dari pendapat pakar yang memang otoritasnya di bidang itu.

Berdasarkan hasil analisis kumpulan artikel mahahsiswa, didapatkan informasi yaitu mahasiswa belum dapat membuat argumentasi yang mengandung penalaran dan belum dapat menyusun kalimat yang kohesif sehingga terjadi kekeliruan bernalar dalam mengembangkan paragraf argumentasi. Berdasarkan hasil temuan tersebut, peneliti menindaklanjuti dengan menyebar kuesioner

Ada strategi lainnya memadukan keterampilan membaca dalam berbagai kurikulum mata pelajaran, yakni kosa kata. Maksudnya, guru memperkenalkan istilah kosa kata yang terdapat dalam satu unit pelajaran sebelum pelajaran dimulai. Tugas siswa adalah membaca dan memaknai kosa kata istilah yang dituliskan guru. Selanjutnya, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menyampaikan hasil interpretasi terhadap kosa kata yang dibaca. Selanjutnya guru mengapresiasi hasil kerja siswa dan memberi penegasan terhadap makna kosa kata yang diperlihatkan. Cara ini dapat disebut dengan strategi kosa kata. Strategi ini sangat mungkin digunakan siswa diberbagai kesempatan membaca guna memperkaya kosa kata yang dimiliki (Hastuti, 2014).

terbuka kepada mahasiswa terkait untuk mendapatkan informasi mengenai pemahaman mereka tentang penalaran dalam berargumen.

Kuesioner yang disusun oleh peneliti memuat sepuluh pertanyaan yang akan mengungkap pemahaman mahasiswa tentang penalaran dalam berargumen. Pertanyaan-pertanyaan itu terkait dengan beberapa hal, yaitu: 1) pemahaman terkait hakikat argumen dalam penulisan artikel jurnal, 2) cara mengembangkan argumen, 3) hambatan dalam pengembangan argumen, 4) komponen-komponen dalam argumen, 5) hambatan dalam mengembangkan komponen argumen, 6) hakikat keruntutan berpikir, 7) cara mengembangkan keruntutan berpikir dalam berargumen, 8) pola bernalar atau keruntutan berpikir yang dikembangkan dalam berargumen, 9) hambatan mengembangkan keruntutan berpikir, dan 10) Hal-hal yang dapat membantu untuk mengembangkan keruntutan berpikir.

Berdasarkan hasil isian kuesioner, dapat diketahui bahwa responden kurang memahami hakikat keruntutan berpikir atau bernalar dalam berargumen. Hal ini dapat dilihat dari jawaban terkait cara mereka mengembangkan keruntutan berpikir atau bernalar dalam beragumen. Asumsinya yaitu jika seseorang memahami hakikat keruntutan berpikir atau bernalar dalam berargumen, ia akan mengimplementasikannya ketika mengembangkan argumen. Berikut merupakan beberapa jawaban responden terkait cara mengembangkan keruntutan berpikir atau bernalar dalam berargumen.

―Iya. Sesuai dengan pola pengembangan yang biasa saya gunakan maka biasanya saya akan memulai dengan memaparkan suatu masalah tertentu, setelah itu melanjutkan dengan bagaimana atau mengapa masalah itu muncul disertai dengan fakta-fakta yang mendukung, kemudian dilanjukan dengan dampak atau akibat dari masalah tersebut, terakhir saya kadang kala meambahkan penguatan terhadap argument saya.‖

―Ya dengan pengalaman sebelumnya, karena dengan pengalaman akan mudah seseorang untuk mengembangkan argumennya.‖

―Tidak. Saya kurang terlalu mengerti akan hal tersebut.‖

Terdapat variasi pemahaman responden terkait keruntutan berpikir atau bernalar dalam argumen. Jawaban-jawaban tersebut menunjukkan bahwa ada responden yang memahami hakikat keruntutan berpikir atau bernalar tetapi tidak utuh, ada pula responden yang tidak memahami hakikat keruntuntan berpikir atau bernalar dalam mengembangkan argumen.

Hasil isian kuesioner didukung oleh hasil wawancara. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa beberapa responden belum memahami konsep keruntutan berpikir dalam menulis artikel sehingga mereka mengembangkan argumen tanpa memperhatikan keruntutan berpikir atau bernalar. Hal ini dapat dilihat pada cuplikan jawaban responden di bawah ini.

―Itu karena kami pemahaman kami mengenai argumen dan keruntutan berpikir terbatas. Jadinya artikel yang kami buat argumen hanya menerapkan pemahaman yang terbatas itu. Jujur saja saya tidak tahu cara berargumen yang baik dan tidak tahu apakah artikel yang saya buat runtut atau tidak cara berpikirnya.‖

Selain itu, menurut responden lain, mata kuliah menulis tidak memfasilitasi mahasiswa untuk menulis ilmiah yang mengarahkan pada keruntutan berpikir dalam berargumen. Hal ini dapat dilihat pada cuplikan jawaban responden berikut. ―.... Itu yang saya pahami secara pribadi karena S-1 pun mata kuliah-mata kuliah tertentu seperti menulis terutama, terkadang tidak memfasilitasi dengan baik berkaitan dengan kegiatan menulis ilmiah....‖ Terkait dengan permasalahan di atas, responden dimintai pendapat tentang cara yang dapat membantu untuk mengembangkan keruntutan berpikir dalam

menulis argumen. Beberapa responden menyatakan bahwa mereka membutuhkan buku ajar yang mengandung materi keruntutan berpikir atau bernalar dalam berargumen. Berikut ini merupakan cuplikan hasil isian kuesioner.

―Menurut saya panduan atau bahan ajar dapat membantu saya lebih memahami materi tentang menulis argumen. Selain itu, latihan-latihan yang berkaitan dengan penulisan argumen juga akan sangat membantu.‖ ―Yang dapat membantu ialah penyediaan buku ajar....‖

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa buku ajar dapat dijadikan solusi yang membantu mahasiswa mengembangkan keruntutan berpikir atau bernalar dalam berargumen pada penulisan artikel jurnal.

Terakhir, peneliti melakukan tes awal menulis paragraf argumentasi yang mengandung penalaran kepada mahasiswa untuk mendapatkan data yang dapat memberikan informasi lebih mendalam. Hasil tes awal tersebut menunjukkan bahwa terdapat kekeliruan bernalar yaitu adanya jaminan yang tidak relevan untuk mendukung pernyataan posisi dan data sehingga argumen tidak logis, kekaburan pernyataan posisi dan data, dan pembandingan yang memaksa. Berikut merupakan salah satu paragraf argumentasi yang mengandung kekeliruan bernalar.

Pada pembuatan bahan ajar dalam buku ajar BIPA di Wisma Bahasa pada pelajaran 1 dan pelajaran 2 sudah menggunakan gradasi spiral atau gradasi putar. Hal ini dibuktikan dengan penyajian materi yang mengulang topik di pelajaran 1 juga terdapat di pelajaran ke 2. Menurut Corder (van, E. 1984) penggunaan gradasi putar atau gradasi spiral dalam pembuatan materi ajar sangat bermanfaat karena satu materi dengan materi berikutnya saling terkait. Materi pada mata pelajaran 3 juga memiliki kaitan dengan mata pelajaran 1 dan pelajaran ke 2. Mata pelajaran 1, 2, 3 memiliki bentuk kosakata yang sangat rendah, namun meskipun penggunaan kata tanya ―siapa‖, ―bagaimana‖, dan ―itu apa‖ sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari, pola kalimat ini dipilih karena dinilai sangat produktif untuk memperkenalkan benda.

Paragraf argumentasi di atas terdiri atas dua gagasan pokok dan banyaknya penggunaan kalimat yang tidak mengandung penalaran. Hal ini menyebabkan tidak jelasnya pernyataan posisi sehingga argumen dapat dipatahkan. Gagasan pokok yang dimuat dalam paragraf di atas ialah penggunaan gradasi spiral pada pembuatan buku ajar di Wisma Bahasa dan penggunaan kosakata yang sederhana dalam pelajaran satu hingga pelajaran tiga. Hal itu tentu membuat paragraf argumentasi menjadi tidak runtut dan tidak mampu meyakinkan pembacanya karena dari segi penyampaian gagasan sudah tidak runtut. Selain itu, terdapat pula kalimat yang tidak bersubjek dan kalimat yang menggunakan konjungsi yang tidak sesuai dengan kaidahnya. Kalimat yang tidak bersubjek dapat dilihat pada kalimat satu dan tiga, sedangkan kesalahan penggunaan konjungsi terdapat pada kalimat lima.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, didapatkan informasi, yaitu: (1) mahasiswa belum dapat menyusun argumentasi yang mengandung penalaran karena mahasiswa tidak mampu menyusun argumentasi yang mengandung penalaran karena tidak memahami konsep tentang argumentasi yang mengandung penalaran dan (2) mahasiswa membutuhkan buku ajar yang di dalamnya terdapat pemaparan materi mengenai argumentasi yang mengandung penalaran. Oleh karena itu, peneliti akan mengembangkan buku ajar untuk Mata Kuliah Penulisan Artikel Jurnal yang dapat membantu mahasiswa untuk mengembangkan keruntutan berpikir atau bernalar dalam berargumen pada penulisan artikel jurnal.

Dokumen terkait