BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pendekatan dalam Pengajaran Menulis
Hyland (2009:7) mengemukakan tiga pendekatan dalam meneliti dan mengajarkan menulis. Tiga pendekatan itu berorientasi pada teks, penulis, dan pembaca. Pertama, pendekatan yang berorientasi pada teks. Pendekatan ini berfokus pada teks sebagai sebuah produk dengan memperhatikan struktur kalimat atau wacana. Kedua, pendekatan yang berorientasi pada penulis. Pendekatan ini dapat dibagi menjadi tiga yaitu ekspresi, kognisi, dan situasi. Pendekatan ini berfokus pada proses pembuatan teks. Ketiga, pendekatan yang berorientasi pada pembaca. Pendekatan ini berfokus pada peran pembaca sehingga teks yang ditulis harus dapat menciptakan komunikasi dengan pembaca. Berikut merupakan pemaparan masing-masing pendekatan tersebut.
2.1.1 Pendekatan yang Berorientasi pada Teks
Pendekatan yang menekankan pada teks sebagai sebuah produk menitikberatkan perhatian pada aspek yang dapat dilihat dan dianalisis. Aspek yang dapat dilihat dan dianalisis ini yaitu kalimat atau wacana sebagai suatu
produk tekstual. Dapat dikatakan bahwa pendekatan ini terkait dengan bidang ilmu linguistik atau retorika, karena menaruh perhatihan terhadap kajian tentang struktur permukaan sebuah teks. Pendekatan yang berorientasi pada teks dapat dibagi menjadi dua bagian kecil yaitu teks sebagai objek dan wacana.
(1) Teks sebagai Objek
Pandangan ini melihat teks sebagai objek yang otonomi. Artinya, sebuah teks tidak disangkutpautkan dengan hal di luar teks itu sendiri. Tidak heran jika pendekatan ini memfokuskan diri pada keteraturan sebuah teks. Oleh sebab itu, ketepatan bahasa dan pemaparan yang jelas merupakan indikator yang digunakan untuk menilai suatu tulisan dalam pandangan ini. Dalam perspektif ini, akurasi menjadi poin utama. Akurasi dapat diperoleh dengan menggunakan metode latihan. Latihan yang dilakukan secara terus-menerus dapat meningkatkan akurasi atau ketepatan dalam memproduksi sebuah teks. Akurasi dapat dilihat dari banyak atau sedikitnya kesalahan kebahasaan yang terdapat dalam suatu teks. Kesalahan yang sedikit digunakan sebagai indikator kemajuan terhadap kemampuan menulis pada diri seseorang.
Perspektif ini tidak melihat konteks. Inilah yang menjadi kekurangan pendekatan yang melihat teks sebagai objek. Padahal, sebuah teks bukan sekadar rentetan kalimat, melainkan di dalam terdapat pula tujuan dan makna yang dapat diinterpretasi dengan memperhatikan konteks.
(2) Teks sebagai Wacana
Pandangan yang melihat teks sebagai wacana menekankan pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Teks tidak lagi
dipandang sebagai struktur yang tidak bergantung pada konteks. Artinya, sebuah teks bukan hanya kumpulan kalimat, melainkan juga sebagai suatu keutuhan yaitu wacana yang disusun untuk memenuhi tujuan tertentu. Teks merupakan bentuk komunikasi tertulis yang diciptakan dengan menggunakan bahasa yang di dalamnya mengandung tujuan dan konteks. Pandangan ini menekankan pada fungsional bahasa.
Melalui pandangan ini, didapatkan gagasan bahwa teks sebagai wacana utuh yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang membentuk pola tertentu. Misalnya saja, terdapat pola teks yang di dalamnya terdiri atas elemen pemaparan situasi, penemuan masalah, pemberian tanggapan/jawaban, dan pengevaluasian terhadap sebuah tanggapan/jawaban.
Karena membuat sebuah teks membentuk pola tertentu, antara elemen satu dengan elemen yang lain memiliki koherensi untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, melalui bahasa yang dirangkai sedemikian rupa untuk menyampaikan gagasan tertentu, terdapat tujuan yaitu agar pembaca dapat menarik makna atau mendapatkan sesuatu dari teks itu. Teks akan diinterpretasi oleh pembaca. Interpretasi dilakukan dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yang dimiliki pembaca sehingga terdapat perbedaan interpretasi antara satu pembaca dengan pembaca lain. Interpretasi ini tergantung latar belakang dan kemampuan interpretasi yang dimiliki pembaca.
Pandangan mengenai teks sebagai wacana juga melihat teks sebagai suatu genre atau jenis tertentu. Teks diklasifikasikan berdasarkan persamaan atau ciri-ciri yang melekat pada teks itu. Teks yang memiliki genre yang berbeda tentunya
memiliki tujuan yang berbeda. Artinya, gagasan yang ingin disampaikan pun berbeda. Teks ini dapat diinterpretasi pembaca dengan mudah berdasarkan tujuan penggunaan teks itu. Namun, kekurangan pendekatan yang melihat teks sebagai wacana ialah tidak memberi ruang untuk berekspresi dan scripted atau memiliki prosedur yang baku sehingga terlalu kaku dan tidak memberi ruang untuk melakukan penyelesaian masalah.
2.1.2 Pendekatan yang Berorientasi pada Penulis
Pendekatan yang berorientasi pada penulis terdiri atas tiga fokus, yaitu: 1) kreativitas individul penulis, 2) proses kognitif dalam penulisan, dan 3) konteks penulis. Tiga fokus dalam pendekatan ini akan dipaparkan lebih rinci sebagai berikut.
(1) Menulis sebagai Ekspresi Penulis
Pandangan ini melihat tulisan sebagai suatu kreativitas penulisnya. Dalam pandangan ini, penulis ialah subjek sehingga mempunyai kebebasan mengembangkan sebuah tulisan sesuai dengan gagasan yang dimilikinya. Penulis tidak dicecar dengan aturan-aturan penulisan, tetapi diberikan kebebasan menuangkan imajinasinya ke dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Guru hanya bertugas memberikan dorongan, tanpa harus memaksakan pandangan tentang model tulisan yang tepat atau membatasi siswa pada topik tertentu. Sebaliknya, guru harus merangsang pemikiran siswa dengan memberikan tugas pra-penulisan. Dengan begitu, siswa akan menulis sesuai dengan penemuannya sendiri dari hasil pra-penulisan. Namun, pandangan ini tidak dapat memberikan ukuran yang jelas tentang kriteria tulisan yang baik.
Hal ini karena tidak ada kriteria baik atau buruk terhadap sebuah imajinasi sebagai bentuk kreativitas penulisnya. Kekurangan pendekatan yang memandang bahwa menulis sebagai bentuk ekspresi penulis yaitu kurang diperhatikannya ketepatan dalam menulis dan tidak adanya aturan atau ketentuan baku yang diikuti.
(2) Proses Kognitif
Pandangan ini melihat bahwa menulis merupakan proses kognitif penulis dalam mengembangkan sebuah teks atau tulisan. Menulis merupakan suatu proses yang tidak dapat berlangsung begitu saja. Terdapat proses-proses yang harus dilalui dalam membentuk sebuah tulisan. Proses-proses inilah yang ditekankan dalam pandangan ini, sedangkan hasil akhir tidak menjadi perhatian utama.
Agar dapat membuat tulisan, penulis harus menemukan sebuah masalah dan mencari penyelesaian atas masalah itu dengan melibatkan intelektualnya. Proses menemukan dan menyelesaikan masalah ini dapat dikatakan sebagai proses kognitif dalam menulis. Dikatakan demikian karena penulis menjalani suatu proses kognitif tertentu sebelum sampai pada sebuah tulisan. Misalnya, penulis menemukan masalah yang sedang aktual dan urgensi untuk diselidiki, lalu membuat rumusan masalah. Setelah itu, penulis menjawab atau menemukan solusi terhadap permasalahan yang ditemukan. Kemudian, melakukan interpretasi terhadap data yang menjadi jawaban atau solusi atas suatu permasalahan. Setelah itu, penulis menuangkan hasil penemuannya ke dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca orang lain.
Pandangan ini melihat sisi lain dari sebuah tulisan yaitu tulisan bukan hanya sebuah produk jadi, melainkan suatu proses kognitif. Namun, pandangan
ini tidak mempertimbangkan adanya perbedaan kemampuan kognitif satu orang dengan orang yang lain. Kenyataannya, tidak semua orang memiliki kemampuan menemukan dan melakukan penyelesaian secara tepat terhadap masalah itu. Latar belakang dan kemampuan kognitif menjadi sangat penting. Misalnya, penulis yang banyak membaca berpotensi menemukan masalah dan melakukan penyelesaian secara tepat karena mendapat masukan dari berbagai bacaan dan kemampuan kognitif yang mampu mengolah dan mengelaborasi berbagai informasi sehingga dapat menemukan solusi yang paling tepat. Selain itu, adanya pelaporan hasil temuan memungkinkan penulis hanya memberikan penjelasaan daripada merefleksikan proses yang dilakukan dalam mendapatkan suatu temuan.
(3) Menulis sebagai Tindakan terhadap Situasi
Pandangan ini melihat tulisan sebagai tindakan atas situasi tertentu. Artinya, sebuah tulisan dilatarbelakangi oleh adanya konteks tertentu. Konteks di sini merupakan situasi yang melatarbelakangi terciptanya sebuah tulisan. Dengan kata lain, tulisan menggambarkan situasi tertentu yang terjadi di lingkungan penulis sehingga membuatnya menuangkan situasi itu ke dalam sebuah tulisan sebagai bentuk reaksinya terhadap situasi itu. Pandangan ini mengakomodasi hal-hal di luar yang tertulis seperti faktor personal, sosial, dan faktor eksternal lainnya. Namun, kecenderungan penulis yaitu membuat tulisan berdasarkan faktor sosial yang ada pada lingkungannya, tanpa melihat faktor sosial yang lebih luas.
Pandangan ini tidak dapat memastikan segala hal yang diinterpretasi dengan melihat konteks dapat dipertanggungjawabkan secara penuh karena pembaca hanya melakukan rasionalisasi terhadap konteks yang melekat pada
penulis, sedangkan penulislah yang mempunyai gagasan yang ingin disampaikan terhadap pembaca. Terkecuali, pembaca melakukan konfirmasi langsung terhadap penulis atas interpretasi yang dilakukannya. Selain itu, menulis dengan pendekatan ini membuat kekhawatiran tertentu bagi penulis karena dapat mengingat penulis pada pengalaman negatif.
2.1.3 Pendekatan yang Berorientasi pada Pembaca
Pendekatan yang berorientasi pada pembaca melihat bahwa tulisan merupakan bentuk komunikasi antara penulis dan pembaca sehingga penulis harus menuangkan gagasannya dengan baik agar dapat diterima secara utuh oleh pembaca. Pandangan ini menggunakan teori fungsi interpersonal bahasa yang dikemukan oleh Halliday. Dalam pandangan ini, tulisan harus dapat menarik dan mengajak pembaca untuk mempunyai cara melihat dunia yang sama dengan penulis. Pendekatan ini terdiri atas tiga fokus, yaitu: 1) menulis sebagai interaksi sosial, 2) menulis sebagai konstruksi sosial, dan 3) menulis sebagai kekuatan dan ideologi.
(1) Menulis sebagai Interaksi Sosial
Dalam pandangan ini, menulis merupakan interaksi antara penulis dan pembaca sehingga tulisan yang diciptakan oleh penulis harus memuaskan tuntutan retoris pembaca. Penulis harus membuat tulisan selayaknya ia berkomunikasi secara langsung dengan pembaca. Oleh karena itu, penulis harus mengetahui kebutuhan pembacanya.
(2) Menulis sebagai Konstruksi Sosial
Pandangan ini melihat sebuah tulisan sebagai bentuk kontruksi sosial penulisnya. Konstruksi sosial terbentuk dari suatu komunitas tertentu yang memiliki persamaan pandangan terhadap suatu hal. Persamaan ini terjadi karena adanya kesepakatan di antara mereka. Dalam pandangan ini, sebuah tulisan dibuat dengan memenuhi cara-cara atau norma-norma komunitas tertentu yang menandai penulis sebagai anggota komunitas itu.
(3) Menulis sebagai Kekuatan dan Ideologi
Dalam pandangan ini, menulis menghubungkan bahasa dengan kekuatan dan ideologi yang terdapat dalam sebuah masyarakat, yang dibangun melalui teks. Tulisan atau sebuah wacana merupakan realitas sosial dan terkait erat dengan politik. Artinya, sebuah tulisan mencerminkan kekuatan dan ideologi tertentu yang terdapat di dalam sebuah masyarakat sehingga membentuk wacana tertentu. Wacana seperti ini dapat dianalisis dengan menggunakan teori Analisis Wacana Kritis.
Kekurangan pendekatan yang berorientasi pada pembaca ialah tidak memberi ruang kepada penulis untuk berekspresi. Selain itu, pendekatan ini memiliki prosedur yang baku atau scripted sehingga terlalu kaku dan tidak memberi ruang kepada penulis untuk melakukan penyelesaian masalah.
Berdasarkan beberapa paparan tentang pendekatan dalam pengajaran menulis di atas, penelitian dan pengembangan ini menggunakan pendekatan yang berorientasi pada teks. Pendekatan ini melihat teks sebagai sebuah produk (Hyland, 2009:7). Dalam pendekatan ini, teks dilihat sebagai objek dan wacana.
Sebuah teks dituntut memiliki ketepatan dan mengandung fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, cara mengajarkan menulis ialah dengan memberikan latihan agar meningkatkan ketepatan dalam menulis dan membangun teks sesuai dengan genre atau jenisnya berdasarkan tujuan penggunaan teks itu.
Kekurangan pendekatan teks sebagai objek yaitu tidak melihat konteks. Padahal, sebuah teks bukan hanya menyangkut ketepatan penggunaan bahasa, melainkan di dalam terdapat pula tujuan dan makna yang dapat diinterpretasi dengan memperhatikan konteks. Namun, kekurangan ini dapat disandingkan dengan pendekatan yang melihat teks sebagai sebuah wacana untuk meminimalkan kekurangan pendekatan tersebut. Pendekatan ini telah memberikan perhatian terhadap adanya konteks.