HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan pada 80 penderita TB paru kategori I di Kota Medan dengan riwayat merokok. Variabel yang diamati dalam penelitian ini ialah karakteristik sosiodemografi seperti: umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status gizi berdasarkan IMT, konversi, dan kebiasaan merokok seperti jenis rokok, jumlah rokok, dan lama merokok.
a. Univariat
Analisis univariat adalah analisa yang dilakukan menganalisis tiap variabel dari hasil penelitian (Notoadmodjo, 2005). Hasil analisis univariat karakteristik responden dapat dilihat sebagai berikut:
4.1.1 Karakteristik Sosiodemografi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan Menurut Umur, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan
Tabel 4.1 dibawah ini menunjukkan distribusi frekuensi karakteristik sosiodemografi penderita TB paru kategori I di Kota Medan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I perokok di Kota Medan pada fase akhir intensif, sebagian besar penderita berusia 18- 45 tahun sebanyak 48 orang (60%), sedangkan usia >45 tahun sebanyak 32 orang (40%).
Berdasarkan tingkat pendidikannya, diperoleh gambaran bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I di Kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif, terdapat 64 orang (80%) berpendidikan tinggi diantaranya Sekolah Menengah Atas, diploma, sarjana, dan berpendidikan sarjana strata 2 sedangkan yang berpendidikan rendah sebanyak 16 orang (20%).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I perokok di Kota Medan pada fase akhir intensif, terdapat 65 orang
35
(81,3%) bekerja dengan berbagai macam pekerjaan, sedangkan 15 (18,8%) penderita tidak memiliki pekerjaan karena sudah pensiun atau masih sekolah.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I perokok di kota Medan pada fase akhir intensif mempunyai penghasilan <Rp.
1.500.000,00 sebanyak 40 (50%) penderita dan penghasilan >Rp 1.500.000,00 sebanyak 40 (50%) penderita.
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Sosiodemografi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
No Karakteristik Demografi Jumlah Persentase (%) 1.
4.1.2 Distribusi Frekuensi Status Gizi - IMT Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Tabel 4.2 di bawah ini menunjukkan distribusi frekuensi status gizi penderita TB paru kategori I di Kota Medan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I perokok di Kota Medan pada fase akhir intensif dengan status gizi normal sebanyak 74 (92,5%) penderita, sedangkan penderita dengan status gizi tidak normal sebanyak (7,5%) penderita.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Status Gizi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
No Status Gizi Jumlah Persentase (%)
1.
2.
Normal Tidak Normal
74 6
92,5 7,5
Total 80 100
4.1.3 Distribusi Frekuensi Konversi Sputum Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Konversi Sputum Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Dari hasil penelitian ini dinyatakan dari 80 penderita TB paru Kategori I perokok di Kota Medan pada fase akhir intensif, terdapat 13 (16%) penderita gagal konversi, sedangkan 67 (83,8%) penderita terjadi konversi.
4.1.4 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Hasil penelitian ini menunjukkan dari 80 penderita TB paru kategori I perokok di Kota Medan pada fase akhir intensif, sebagian besar penderita lebih banyak menyukai rokok non filter yaitu 63 (78,8%) penderita dan memakai rokok filter sebanyak 17 (21,3%) penderita. Jumlah rokok dalam sehari yang dihisap kurang dari 10 batang sebanyak 29 (36,2%) orang, 10–20 batang dalam sehari sebanyak 28 (35%) orang, >20 batang dalam sehari sebanyak 23 (28,8%) orang.
Penderita yang merokok <10 tahun sebanyak 34 (42,5%) penderita dan >10 tahun sekitar 46 (57,5%) orang.
Konversi Sputum Jumlah Persentase (%)
Gagal Konversi 13 16,3
Konversi 67 83,8
Total 80 100
37
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
4.1.5 Indeks Brinkman (IB)
Penentuan derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun.
Tabel 4.5 Distribusi Proporsi Berdasarkan Indeks Brinkman (IB) pada Kebiasaan Merokok Responden di kota Medan
Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa proporsi terbanyak Indeks Brinkman responden adalah derajat ringan dengan proporsi sebesar 50 % dan proporsi seimbang terdapat pada derajat sedang dan berat yaitu dengan proporsi derajat sedang 25% dan untuk derajat berat 25%.
4.1.6 Pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF pada Penderita TB Paru Kategori I Gagal Konversi di Kota Medan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita TB paru kategori I gagal konversi yang dilakukan pemeriksaan GeneXpert sebanyak 13 orang, 5 orang (38,4%) yang resisten rifampisin dan 8 orang (61,6%) sensitif rifampisin. Data
No Variabel Jumlah Persentase (%)
3. Lamanya Merokok <10 Tahun
>10 Tahun
Variabel Jumlah Persentase (%)
Indeks Brinkman (IB) Derajat ringan 0-200 40 50 Derajat sedang 200-600
kuesioner menunjukkan bahwa 8 orang yang sensitif rifampisin menghisap rokok
>10 tahun.
Tabel 4.6 Pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF pada Penderita TB Paru Kategori I Gagal Konversi
Tabel 4.7 Perbandingan Hasil Pemeriksaan BTA Minggu ke-8 pada Penderita TB Paru Kategori I di kota Medan yang Sensitif Rifampisin
Variabel Konversi Gagal Konversi
Lama rokok
Tabel 4.7 di atas menunjukkan hasil pemeriksaan BTA pada minggu ke 8 pada penderita TB paru kategori I di Kota Medan yang sensitif rifampisin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 64 penderita TB paru kategori I di Kota Medan yang sensitif rifampisin dengan lama merokok <10 tahun terdapat 33 (49%) penderita TB paru kategori I terjadi konversi dan 1 (13%) penderita terjadi gagal konversi, sedangkan pada penderita TB paru kategori I di Kota Medan dengan lama merokok >10 tahun terdapat 34 (52%) penderita terjadi konversi dan 7 (87%) penderita terjadi gagal konversi. Konversi sputum penderita TB paru kategori I di Kota Medan yang sensitif rifampisin, merokok dengan jenis rokok non filter terdapat 13 (19%) penderita dan 4 (50%) penderita terjadi gagal
Hasil GeneXpert Jumlah Persentase (%)
Resisten Rif 5 38,4
Sensitif Rif 8 61,6
Total 13 100
39
konversi, sedangkan konversi pada penderita TB paru kategori I sensitif rifampisin jenis rokok yang filter sebanyak 54 (81%) penderita dan 4 (50%) terjadi gagal konversi.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan konversi penderita TB paru kategori I yang sensitif rifampisin dengan merokok <10 batang/ hari 13 (19%) penderita, 10-20 batang/ hari 54 (81%) penderita, >20 batang/ hari 20 (30%) penderita, dan gagal konversi terjadi pada 10-20 batang/ hari 6 (75%) penderita, >20 batang/ hari 2 (27%) penderita. Konversi penderita TB paru kategori I yang sensitif rifampisin dengan IMT normal dan IMT tidak normal terjadi pada 66 (58%) penderita dan 1 (2%) penderita sedangkan gagal konversi terjadi pada 4 (50%) penderita dan 4 (50%) penderita.
b. Hasil Analisis Bivariat
Berdasarkan analisis secara bivariat didapat hasil sebagai berikut:
4.1.8 Hubungan Usia Dengan Kejadian Konversi
Tabel 4.8 Hubungan Usia dengan Kejadian Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I di Kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif terdapat 48 penderita dengan usia 18-45 tahun, diantaranya 42 (62,7%) penderita terjadi konversi dan 6 (46,2%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF menunjukkan terdapat 3 penderita TB MDR. Penderita dengan usia
>45 tahun sebanyak 32 orang, diantaranya 25 (37,3%) penderita terjadi konversi dan 7 (44,4%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF terdapat 2 penderita TB MDR.
Usia (tahun) Konversi Gagal Konversi Total p value
n % N % n %
18-45 tahun 42 62,7 6 46,2 48 56,1
0,265 >45 tahun 25 37,3 7 53,8 32 43,9
Jumlah 67 100 13 100 80 100
Hasil analisis ini menggunakan uji Chi-Square diperoleh p value sebesar 0,265 (p value >0,05) menunjukkan bahwa usia tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian konversi TB paru. Hal ini menunjukkan bahwa usia 18-45 tahun dan usia >45 tahun tidak berhubungan dengan kejadian konversi.
4.1.9 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Konversi
Tabel 4.9 menyatakan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I di Kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif terdapat 16 penderita berpendidikan rendah, diantaranya 15 (22,4%) orang terjadi konversi dan 1 (7,7%) orang terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF resisten rifampisin (TB MDR).
Enam puluh empat penderita berpendidikan tinggi diantaranya 52 (77,6%) penderita terjadi konversi, dan 12 (92,3%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF 4 orang TB MDR. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square diperoleh p value sebesar 0,225 (p value >0,05), artinya tingkat pendidikan tidak berhubungan dengan kejadian gagal konversi.
Tabel 4.9 Tabel Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Tingkat Pendidikan Konversi Gagal Konversi Total p value
n % N % n %
Rendah 15 22,4 1 7,7 16 20,0
0,225 Tinggi 52 77,6 12 92,3 64 80,0
Jumlah 67 100 13 100 80 100
4.1.10 Hubungan IMT dengan Kejadian Konversi
Tabel 4.10 Hubungan IMT dengan Kejadian Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
IMT Konversi Gagal Konversi Total p value
n % N % n %
Normal 66 98,5 8 61,5 74 92,5
0,0001
Tidak Normal 1 1,5 5 38,5 6 7,5
Jumlah 67 100 13 100 80 100
41
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I di kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif terdapat 74 penderita IMT normal diantaranya 66 (98,5%) penderita terjadi konversi dan 8 (61,5%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF ada 4 orang yang TB MDR.
Konversi yang terjadi pada 6 penderita IMT tidak normal sebanyak 1 (1,5%) penderita terjadi dan 5 (38,5%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF dijumpai 1 orang TB MDR. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square diperoleh p value sebesar 0,0001 (p value <0,05), artinya IMT berhubungan dengan kejadian gagal konversi.
4.1.11 Hubungan Tingkat Pekerjaan dengan Kejadian Konversi
Tabel 4.11 Hubungan Tingkat Pekerjaan dengan Kejadian Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Tingkat Pekerjaan Konversi Gagal Konversi Total p value
n % N % n %
Bekerja 56 83,6 9 69,2 65 81,2
0,225 Tidak Bekerja 11 16,4 4 30,8 15 18,8
Jumlah 67 100 13 100 80 100
Tabel 4.11 menyatakan bahwa dari 80 penderita TB Paru kategori I di Kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif, terdapat 65 penderita memiliki pekerjaan dengan 56 (83,6%) penderita terjadi konversi dan 9 (69,2%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF 3 orang TB MDR.
Konversi yang terjadi pada 15 penderita yang tidak memiliki pekerjaan sebanyak 11 (16,4%) penderita dan 4 (30,8%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF 2 orang TB MDR. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square diperoleh p value sebesar 0,225 (p value >0,05), artinya tingkat pekerjaan tidak berhubungan dengan kejadian konversi.
4.1.12 Hubungan Tingkat Penghasilan dengan Kejadian Konversi
Tabel 4.12 di bawah ini menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I di Kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif, terdapat 40
penderita berpenghasilan <Rp 1.500.000,00 diantaranya 36 (53,7%) penderita terjadi konversi dan 4 (30,8%) penderita gagal konvers dengan hasil GeneXpert MTB/RIF 2 orang TB MDR. Konversi yang terjadi pada 40 penderita berpenghasilan >Rp. 1.500.000,00 adalah 31 (46.3%) penderita dan 9 (68,2%) penderita terjadi gagal konversi, dengan hasil GeneXpert MTB/RIF sebanyak 3 orang TB MDR. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square diperoleh p value sebesar 0,130 (p value >0,05), artinya tingkat penghasilan tidak berhubungan dengan kejadian gagal konversi.
Tabel 4.12 Hubungan Tingkat Penghasilan dengan Kejadian Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Tingkat Pendapatan Konversi Gagal Konversi Total p value
n % N % n %
< Rp. 1.500.000,00 36 53,7 4 30,8 40 50
0,130
> Rp. 1.500.000,00 31 46.3 9 69,2 40 50
Jumlah 67 100 13 100 80 100
4.1.13 Hubungan Jenis Rokok dengan Kejadian Konversi
Tabel 4.13 Hubungan Jenis Rokok dengan Kejadian Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Jenis Rokok Konversi Gagal Konversi Total p value
n % N % n %
Rokok nonfilter 13 19,4 4 30,8 17 21,3
0,359 Rokok Filter 54 80,6 9 69,2 63 78,8
Jumlah 67 100 13 100 80 100
Tabel 4.13 di atas menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB Paru kategori I di Kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif, terdapat 17 penderita yang memilih rokok non filter, diantaranya13 (19,4%) penderita terjadi konversi dan 4 (30,8%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF 1 orang TB MDR. Enam puluh tiga responden yang memilih rokok filter terdapat 54 (46.3%) penderita terjadi konversi, dan 9 (68,2%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF 4 orang didiagnosa TB MDR. Hasil
43
analisis menggunakan uji Chi-Square diperoleh p value sebesar 0,359 (p value
>0,05), artinya tingkat jenis rokok tidak berhubungan dengan kejadian gagal konversi.
4.1.14 Hubungan Jumlah Batang Rokok dengan Kejadian Konversi
Tabel 4.14 dibawah ini menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I di kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif, terdapat 29 penderita menghisap rokok <10 batang perhari semuanya terjadi konversi.
Penderita yang menghisap rokok 10 – 20 batang perhari sebanyak 18 (26,9%) penderita terjadi konversi dan 10 (79,9%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF 4 orang TB MDR. Dua puluh tiga penderita yang menghisap rokok >20 batang perhari diantaranya 20 (29,9%) penderita terjadi konversi dan 3 (23,1%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF 1 orang TB MDR. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square diperoleh p value sebesar 0,001 (p value <0,05), artinya jumlah batang rokok perhari berhubungan dengan kejadian gagal konversi.
Tabel 4.14 Hubungan Jumlah Rokok dengan Kejadian Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Jumlah Rokok Dalam Satu Hari
Konversi Gagal Konversi Total p value
n % N % n %
4.1.15 Hubungan Lama Merokok dengan Kejadian Konversi
Tabel 4.15 dibawah ini menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB paru kategori I di kota Medan pada pengobatan fase akhir intensif, terdapat 34 penderita dengan lama merokok < 10 tahun, diantaranya 33 (49,3%) penderita terjadi konversi dan 1 (7,7%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF adalah TB MDR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 57 penderita dengan lama merokok >10 tahun terdapat
34 (50,7%) penderita terjadi konversi dan 12 (92,3%) penderita terjadi gagal konversi dengan hasil GeneXpert MTB/RIF terdapat 4 orang TB MDR. Hasil analisis menggunakan uji Chi-Square diperoleh p value sebesar 0,006 (p value
<0,05), artinya tingkat lamanya merokok berhubungan dengan kejadian gagal konversi.
Tabel 4.15 Hubungan Lama Merokok dengan Kejadian Gagal Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Lamanya Merokok Konversi Gagal Konversi Total p value
n % N % n %
< 10 Tahun 33 49,3 1 7,7 34 42,5 0,006
> 10 Tahun 34 50,7 12 92,3 57 57,5
Jumlah 67 100 13 100 80 100
c. Hasil Analisis Multivariat
Analisis multivariat dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh model persamaan terbaik untuk mengetahui pengaruh yang paling bermakna pada variabel bebas setelah dianalisis bersama-sama (mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian gagal konversi). Nilai p <0,25 maka variabel tersebut masuk dalam model analisis multivariat (sebagai kandidat model), maka ditemukan 2 variabel yang paling dominan yaitu:
4.1.16 Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kejadian Konversi
Tabel 4.16 Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kejadian Konversi Penderita TB Paru Kategori I di Kota Medan
Variabel Koef.
Regresi (B)
Wald Sig. (p) PR 95% C.I.
Lama Merokok
2,455 5,273 0,006 11,647 1,433-94,681 Status gizi
(IMT)
3,720 10,324 0,001 41,250 4,266-398,857
Tabel 4.16 menunjukan hasil dominan yang mempengaruhi kejadian konversi pada pasien TB paru kategori I setelah menjalani pengobatan fase intensif adalah lama merokok dengan PR 11,647 (95% CI 1,433-94,681) dan
45
status gizi berdasarkan IMT dengan PR 41,250 (95% CI 4,266-398,857). Hasil analisis ini menjelaskan bahwa status gizi paling berpengaruh terhadap kemungkinkan terjadinya gagal konversi sebanyak 41,250 kali. Penderita TB paru yang memiliki kebiasaan merokok yaitu lama merokok >10 tahun mempunyai kemungkinan 11,647 kali mengalami gagal konversi dibanding yang merokok
<10 tahun