HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan Penelitian
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita TB paru kategori I terbanyak pada usia 18-45 tahun. Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian ini yang dilakukan oleh Laily dkk (2015) di Manado bahwa penderita TB paru kategori I terbanyak pada usia 26-45 tahun yaitu sebanyak 78 pasien (39,8%). Penelitian Susilayanti (2012) di Padang menunjukkan bahwa lebih dari separuh penderita TB terjadi pada kelompok usia produktif. Menurut Kolappan dalam Laily dkk (2015) bahwa penuaan berhubungan erat dengan angka kejadian untuk kelompok yang berusia di atas 45 tahun.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan tingkat pendidikannya dari 80 orang pasien TB paru kategori I di Kota Medan terdapat 64 orang (80%) berpendidikan tinggi diantaranya Sekolah Menengah Atas, berpendidikan diploma, berpendidikan sarjana, dan berpendidikan sarjana strata 2.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Widagdo tahun 2002 mengenai faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penderita TB dimana sebagian besar responden berpendidikan rendah (53,1%). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Rachmadi pada tahun 2009 perihal hubungan pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru dengan kepatuhan pasien berobat menyatakan lebih banyak responden TB Paru yang berpendidikan tinggi (SMA) karena tingkat pendidikan SMA lebih mudah bergaul dengan orang-orang yang perokok aktif, bekerja di lokasi dengan asap, debu, dan bahan-bahan yang merusak saluran pernapasan, sehingga lebih mudah terpapar dengan kuman penyakit.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita TB Paru kategori I di Kota Medan terbanyak pada penderita yang bekerja (81,2%) dibandingkan dengan
penderita yang tidak bekerja (18,8%). Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Herryanto dalam Manalu (2010) yang menunjukkan bahwa penderita TB paru sebagian besar tidak bekerja. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penderita TB paru kategori I di Kota Medan dengan penghasilan <Rp 1.500.000 sama banyaknya dengan penderita yang berpenghasilan >Rp 1.500.000.
Menurut Hiswani dalam Manalu (2010) pendapatan keluarga sangat erat juga dengan kejadian TB Paru, karena pendapatan yang kecil membuat orang tidak dapat layak memenuhi syarat-syarat kesehatan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 pasien TB paru kategori I di Kota Medan, terdapat 74 orang (92,5%) dengan status gizi baik, sedangkan penderita TB paru dengan status gizi kurang hanya 6 orang (7,5%) saja. Pada penelitian ini gizi baik bila IMT >18,5% dan gizi kurang bila IMT <18,5. Hal ini berbeda dengan keterangan WHO yang menyatakan bahwa malnutrisi meningkatkan resiko terjadinya TB oleh karena efek negatif dari kekurangan makronutrien dan mikronutrien terhadap sistem imun (Lonroth et al, 2010).
Menurut Styblo et al dalam Lonroth et al (2010) tidak ada systemic review yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara status gizi dengan resiko tuberkulosis, dan tidak ada dampak perubahan status gizi seseorang untuk menjadi TB di kemudian hari.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 penderita TB Paru kategori I di Kota Medan terdapat 13 (16,3%) penderita gagal konversi dan 67 (83,8%) penderita terjadi konversi. Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan Babalik dkk (2012) di Turki yang menunjukkan bahwa dari dari 547 pasien TB Paru kategori I terdapat 88,1% penderita terjadi konversi.Angka konversi tergantung dari keteraturan minum obat, pengawasan minum obat dan dosis obat yang diminum. Angka konversi yang tinggi akan diikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula (Kurniati dkk, 2010).Angka konversi dapat membantu dalam menentukan investigasi yang diperlukan untuk mendeteksi kondisi komorbid lain dan menyarankan kultur sputum untuk mengetahui resistensi obat. Tidak konversi pada akhir tahap intensif berisiko untuk berkembang menjadi Multi Drug Resistant Tuberculosis (Tiwari, 2012).
Lima sampai tiga puluh persen pasien dengan BTA positif, menunjukkan hasil
47
BTA tetap positif setelah dua bulan pengobatan. Penderita dengan hasil BTA tetap positif terebut beresiko untuk menyebarkan penyakit TB (Fitzwater et al, 2010).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 orang pasien TB Paru kategori I di Kota Medan yang mendapat pengobatan fase akhir intensif terdapat 63 (78,8%) orang yang menghisap rokok non filter dan 21,2% menghisap rokok filter. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Sarwani dan Nurlaela (2012) di Purwokerto yang menunjukkan bahwa penderita TB paru BTA positif terbanyak menghisap rokok filter sebesar 76,5%. Menurut Caldwell (2009) dan Wuaten (2010) bahwa jenis rokok juga berpengaruh terhadap kejadian TB paru, rokok filter menyaring sebagian tar termbakau dan mengurangi kandungan nikotin sebesar 25-50%. Nikotin yang terdapat pada rokok filter 8-12 mg per batang sedangkan rokok non filter kandungan nikotinnya 14-28 mg per batang. Rokok non filter tidak memiliki penyaring dan memiliki kandungan nikotin yang lebih besar dibandingkan dengan rokok filter sehingga resiko masuknya nikotin kedalam paru-paru pada rokok non filter lebih besar.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang menghisap rokok dibawah 10 batang perhari sebanyak 29 (36,3%). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Ghasemia dkk (2009) di Iran yang menunjukkan bahwa kebanyakan penderita TB Paru merokok <10 batang/hari. Penelitian Boon dkk di Afrika Selatan yang mengatakan bahwa jumlah bungkus rokok pada kelompok kasus dan 63 responden pada kelompok kontrol didapatkan hasil lama merokok dengan nilai OR = 3,75, p=0,0005, CI (95%) = 1,64-8,67, ini berarti bahwa secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kejadian penyakit TB paru.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 80 responden terdapat 46 orang (57,5%) menghisap rokok >10 tahun. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Murfikin (2014) yang menyatakan bahwa hasil analisa hubungan lama merokok dengan kejadian TB Paru diperoleh jumlah responden dengan lama merokok >10 tahun lebih banyak dengan hasil pemeriksaan BTA(+) (29,2%) dengan proporsi lama merokok 0-10 tahun. Hasil uji statistik didapatkan pvalue sebesar 0,149 > α = 0,05 Ho gagal ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara lama merokok dengan kejadian TB Paru.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita gagal konversi kategori I (kriteria suspek TB MDR ke 5) yang diperiksa GeneXpert MTB/RIF menunjukkan hasil penderita yang resisten rifampisin (RR) sebesar 38,4% dan sensitif rifampisin sebesar 61,6%. Hasil penelitian Novizar et al (2010) menunjukkan bahwa suspek TB MDR kriteria 5 hanya ada dua kasus tetapi pada penelitian tersebut tidak dijelaskan berapa persen penderita dengan hasil SR atau RR. Hasil penelitian Singla et al (2013) menunjukkan bahwa dari 74 pasien yang dilakukan pemeriksaan apusan sputum setelah 2 bulan pengobatan dan dilakukan uji kepekaan obat menunjukkan bahwa ada 30 (40,5%) pasien yang gagal konversi, 7 (9%) pasien didiagnosa TB MDR, 9 (12%) pasien bukan TB MDR.
Hasil penelitian Su et al di Taiwan dalam Pefura-Yone et al (2014) menunjukkan bahwa faktor utama yang berhubungan dengan tidak terjadinya konversi pada akhir fase intensif adalah pengobatan yang tidak adekuat atau tidak sesuai DOT dan adanya resistensi rifampisin.Hasil penelitian Pefura-Yone et al (2014) menunjukkan bahwa prevalensi TB MDR pada penderita yang gagal konversi adalah 4,3%.Meskipun GeneXpert MTB/RIF berguna untuk identifikasi resistensi rifampisin tetapi tetap harus dilakukan kultur dan uji kepekaan obat untuk konfirmasi khususnya pada sampel dengan BTA positif (Zeka et al, 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Friedrich et al (2013) menunjukkan bahwa GeneXpert MTB/RIF tidak membedakan antara M. tuberculosis yang viable, dormant, dan non viable pada saat penderita dalam pengobatan TB, setelah 8 minggu pengobatan TB 84% sampel sputum masih tetap positif pada pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF dan 26% pada media LJ. Karena itu pemeriksaan kultur dan uji kepekaan obat masih sangat diperlukan untuk mendiagnosa TB MDR.
Hasil penelitian ini dengan analisa bivariat menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara usia (18-45 tahun dan >45 tahun) dengan kejadian konversi (p value 0,265). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Behnaz et al di Iran (2015) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan usia dengan kejadian konversi. Laporan Kuaban et al dalam Bouti et al (2013) menyebutkan bahwa usia diatas ataupun di bawah 40 tahun merupakan independent predictor terhadap gagalnya konversi. Alasan mengapa usia tua gagal konversi belum diketahui dengan pasti. Menurut Babalik et al
49
(2012) kemungkinan disebabkan karena menurunnya imun pada usia lanjut menimbulkan ketidakmampuan fisik untuk melakukan pembersihan/melawan basil TB dan juga karena terlambat berobat.
Hasil penelitian ini dengan analisa bivariat menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan rendah dan tingkat pendidikan tinggi dengan kejadian konversi (p value 0,225). Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Nagu et al di Tanzania (2014) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pendidikan dengan kejadian konversi. Penelitian yang dilakukan oleh Maingi et al di Kenya (2014) menunjukkan bahwa walaupun tingkat pendidikan tidak berhubungan signifikan dengan konversi sputum tetapi ada penurunan resiko gagal konversi pada penderita dengan pendidikan yang lebih tinggi
Hasil penelitian ini dengan analisa bivariat menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang bermakna antara gizi/IMT (normal dan tidak normal) dengan kejadian konversi (p value 0,0001). Hasil penelitian ini dengan analisa multivariat menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian konversi (p value 0,001, PR 41,250, 95% CI 4,266-398,857), penderita dengan IMT tidak normal memiliki resiko terjadi 41,250 kali terjadi gagal konversi dibandingkan dengan penderita TB paru dengan IMT normal. Penelitian yang dilakukan Singla et al (2013) menunjukkan pada analisis univariat secara statistik ada hubungan antara IMT < 18,5 kg/m2 dengan konversi sputum tetapi setelah dianalisa secara multivariat tidak ada hubungan antara IMT
<18,5 kg/m2 dengan konversi sputum. Penelitian oleh Nagu et al (2014) menunjukkan bahwa IMT <18,5 kg/m2 meskipun tidak berhubungan langsung dengan konversi sputum, tetapi dapat sebagai perantara interaksi imun kompleks antara konversi sputum, anemia dan malnutrisi. Malnutrisi atau IMT rendah diketahui sebagai penyebab reaktivasi tuberkulosis dan outcome pengobatan yang rendah (Singla et al, 2013)
Hasil penelitian ini dengan analisa bivariat menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan (bekerja dan tidak bekerja) dengan kejadian konversi (p value 0,225). Hasil penelitian ini dengan analisa bivariat juga menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang
bermakna tingkat pendapatan (<Rp 1.500.000 dan > Rp 1.5000.000) dengan kejadian konversi (p value 0,130). Hasil penelitian sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Maingi et al (2014) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pekerjaan dengan kejadian konversi dan tidak ada hubungan pendapatan dengan kejadian konversi. Pengobatan TB diberikan gratis tetapi biaya yang lain seperti transportasi, makanan, dan lain-lain mempengaruhi infeksi tuberkulosis.
Menurunnya gagal konversi yang berhubungan dengan kepatuhan meminum obat diantara penderita dengan pekerjaan formal dan mempunya penghasilan yang cukup.
Hasil penelitian ini dengan analisa bivariat menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis rokok (filter dan non filter) dengan kejadian konversi (p value 0,359).Banyak zat yang bersifat karsinogenik dan beracun terhadap sel namun tar dan nikotin telah terbukti imunosupresif dengan mempengaruhi respons kekebalan tubuh bawaan dari pejamu dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Semakin tinggi kadar tar dan nikotin efek terhadap sistem imun juga bertambah besar (Wijaya, 2012).
Kandungan nikotin pada rokok filter lebih sedikit tetapi pengujian dari 12 merk rokok terkenal menunjukkan bahwa serat yang terbuat dari asetat selulosa tersebut ikut terhirup dan tertelan, hasil dari scan menunjukkan bahwa ada serat filter di paru-paru (Novotny et al, 2009).
Hasil penelitian ini dengan analisa bivariat menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang bermakna antara jumlah rokok (<10 batang, 10-20 batang, >20 batang) dengan kejadian konversi (p value 0,001). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Metanat et al (2010) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan ditemukan pada perokok dengan 5-10 batang perhari dan merokok
<5 batang perhari tetapi penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara perokok berat (15-20 batang perhari) dan merokok 10-15 batang perhari dengan kejadian konversi (p value <0,05). Hasil penelitian Nijenbandring et al (2013) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara jumlah rokok yang dihisap perhari dengan kejadian konversi.
Hasil penelitian ini dengan analisa bivariat menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang bermakna antara lama merokok (<10 tahun dan >10
51
tahun) dengan kejadian konversi (p value 0,006). Hasil penelitian ini dengan analisa multivariat menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan lama merokok dengan kejadian konversi (p value 0,006, PR 11,647 95% CI 1,433-94,681), penderita yang mempunyai riwayat merokok memiliki resiko 11,647 kali terjadi gagal konversi dibandingkan dengan penderita yang tidak memiliki riwayat merokok. Hasil penelitian ini tidak sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Nijenbandring et al (2013) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lama merokok (<10 tahun dan >10 tahun) dengan kejadian konversi sputum (kultur). Hal ini didukung oleh hipotesis bahwa sistem imun mengalami perubahan akibat merokok yang mengganggu pada saat pengobatan TB. Lamanya merokok juga mempengaruhi keseimbangan dalam saluran pernafasan dan alveolar (Sepper et al, 2012). Merokok merusak fungsi pertahanan paru-paru untuk melawan infeksi termasuk TB kronik dan infeksi lainnya. Makrofag alveolar merupakan sel pertama yang berperan dalam melawan basil TB yang terhirup atau tertelan. Merokok mengaktivasi makrofag alveolar untuk menghasilkan respon inflamasi lokal, tetapi nikotin menekan fungsi antigen untuk bekerjanya respon imun spesifik dan menginduksi T cell anergy. Aktivitas sel natural killer juga berkurang. Interleukin-18 mengurangi induksi sputum pada perokok oleh karena itu pada orang yang terpapar rokok dalam waktu lama dapat mengurangi aktivitas imun T-cell (Metanat et al, 2010). Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan bahwa merokok berhubungan dengan konversi sputum hanya pada penderita extensive TB yang didefenisikan dari kriteria radiologi dan tingkat kepositifan sputum (Nijenbandring et al, 2013).