BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Muhammadiyah Limbung kecamatan bajeng Kabupaten Gowa. Berdasarkan hasil observasi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Limbung. Peneliti mengamati bahwa pembelajaran sastra dalam proses belajar mengajar kurang berjalan dengan efektif.
Hal ini disebabkan karena buku dan referensi sebagai modal utama para siswa masih terbatas dan metode pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan oleh guru masih menggunakan metode ceramah sehingga tidak ada feedback dari siswa, inila yang menyebabkan siswa mudah bosan dalam proses pembelajaran.
Media yang digunakan juga hanya bergantung pada buku paket sehingga siswa mudah bosan dan kurang kreatif. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti melihat bahwa siswa masih belum mampu mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini terlihat terhadap respon siswa pada saat guru menjelaskan materi, hanya beberapa siswa yang hadir dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, siswa masih terbiasa menggunakan bahasa daerah pada saat pembelajaran bahasa Indonesia. Inilah yang mempengaruhi sehingga siswa kesulitan dalam pengelolaan kata pada hasil tulisannya.
Peneliti juga melihat cara mengajar guru yang kurang efektif karena setelah guru membuka pembelajaran beliau langsung menjelaskan materi pembelajaran tanpa memberikan pertanyaan sekitar seputar pembelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya. Seharusnya guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai pembelajaran yang telah dipelajari, sehingga siswa dapat mengembangkan potensinya dengan baik, karena setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda dalam mengingat dan mengulang pembelajaran yang telah mereka pelajari.
Wawancara pada penelitian ini dilaksanakan setelah pembelajaran selesai. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pembelajaran tidak terganggu. Wawancara dimaksudkan untuk mengetahui problematika siswa dalam menulis puisi. Proses wawancara dilakukan secara daring melalui aplikasi whatsapp dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan secara individu kepada siswa. Beberapa hal yang ditanyakan dalam wawancara adalah sebagai berikut:
1) Bagaimanakah menurut anda mengenai pembelajaran daring (online) dalam pembelajaran menulis puisi?
2) Apa sajakah kesulitan yang anda alami pada saat menulis puisi?
3) Apakah anda tidak terganggu menulis puisi pada lingkungan sekitar anda?
4) Apakah anda menyukai pembelajaran menulis puisi? jelaskan!
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa, peneliti menemukan beberapa problematika siswa dalam menulis puisi. Hal ini dapat dilihat karena salah satu siswa mengungkapkan bahwa mereka tidak memegang buku paket, mereka tidak mendapatkan buku karena minimnya buku paket dan hanya guru yang memegang buku paket pada pembelajaran bahasa Indonesia. Selain itu, siswa mengungkapkan bahwa mereka kesulitan dalam menentukan tema, judul puisi, siswa kesulitan dalam pengelolaan kata/diksi, dan siswa merasa kesulitan pada teknik penulisan puisi.
Karena pembelajaran yang dilakukan di rumah akibat covid-19, siswa mengungkapkan merasa terganggu ketika menulis puisi di rumah. Hal ini dikarenakan diganggu oleh adiknya ketika menulis puisi.
Kegiatan menulis puisi memang memerlukan suasana yang nyaman, karena menulis puisi merupakan suatu kegiatan yang sangat menggali kreativitas siswa.
Belum lagi metode dan media yang digunakan oleh guru dalam mengajar masih kurang kreatif sehingga beberapa siswa mudah bosan dan siswa tidak terlalu menyukai pembelajaran menulis puisi. Dalam hal ini, tidak heran jika siswa kesulitan dalam menulis puisi karena kurang kreatifnya guru dalam melakukan proses belajar
mengajar. Untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, semua komponen yang terlibat dalam proses belajar mengajar di sekolah harus turut memberikan dukungan. Baik dari media, sumber belajar maupun cara mengajar yang baik.
Komponen-komponen yang terkait tersebut harus diupayakan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat mewujudkan proses belajar mengajar yang diharapkan.
Seperti yang telah diketahui bahwa dalam menulis puisi ada beberapa unsur yang harus diperhatikan. Unsur-unsur puisi berfungsi untuk memberikan keindahan dan memberikan kesan tersendiri bagi pembacanya. Kosasih (2012: 97) mengungkapkan bahwa secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi menjadi dua macam. Adapun kedua unsur tersebut yaitu: unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik terdiri atas; diksi, pengimajinasian, kata konkret, bahasa figuratif, rima/ritma, dan tatap wajah (tipografi). Sedangkan unsur batin terdiri atas; tema, perasaan, nada dan suasana, dan amanat.
Berdasarkan hasil tulisan siswa, peneliti mengamati terdapat problematika siswa dalam menulis puisi. Problematika siswa dalam menulis puisi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa aspek, yaitu problematika siswa dalam menentukan diksi, problematika dalam menentukan visual puisi, problematika dalam menentukan suasana, problematika dalam penggunaan bahasa figuratif, dan problematika dalam rima. Peneliti memberikan inisial (P) kepada setiap siswa dan diikuti dengan nomor
urut sesuai yang ada di absen kelasnya, yaitu P(1), P(2), P(3), P(4), P(5), P(6), P(7), P(8), P(9), P(10), P(11), P(12), P(13), P(14),P(15),P(16),P(17), dan P(18).
1. Problematika siswa dalam menentukan diksi
Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti melihat ada beberapa siswa yang memiliki problematika dalam menentukan diksi yaitu puisi karya P(2), P(5), P(12), P(13), P(15), P(16), dan P(18). Problematika tersebut yaitu dapat dilihat dari hubungan dan pengelolaan katanya yang kurang tepat.
Seperti contoh berikut:
Gagal adalah awal kesuksesan Kata-kata yang kudapat dari seorang Ilmuan ini bukan janji ataupun mimpi Pasti sukses akan terjadi aku berdoa, berusaha dan percaya selama masih hidup kemungkinan pastilah bisa
(P(12))
Ibu…kau yang melahirkanku, merawatku,
memberi kasih sayang kepadaku. kau yang memberi
asi kepada anakmu dan kaupula yang membesarkanku mulai kecil sampai sebesar ini.
(P(18))
Dapat dilihat dari kedua penggalan puisi di atas, puisi tersebut sama-sama belum memiliki hubungan antarkata yang tepat, ini disebabkan oleh tidak jelasnya baris pada puisi tersebut, sehingga ketika dibaca puisi tersebut menjadi tidak padu, karena setiap kata yang dituangkan dalam bait-bait puisi erat kaitannya dengan makna, nada dan irama serta keselarasan bunyi. Puisi di atas seharusnya ditulis seperti sebagai berikut:
Gagal adalah awal dari kesuksesan
Kata-kata yang ku dapat dari seorang ilmuan Ini bukan janji ataupun mimpi
Kau yang melahirkanku, merawatku, memberi kasih sayang kepadaku Kau yang memberi asi kepada anakmu ini
Kaupula yang membesarkanku mulai kecil sampai sebesar ini (P(18)
Selain memiliki problematika dari hubungan antarkatanya, pada puisi siswa juga terdapat pengelolaan katanya yang kurang tepat. Sebagaimana contoh di bawah ini:
Semangat teganah seperti batu karang.
Keraskan segala usaha kita, jangan hanya suara kita.
Karena usaha tak menghianati hasil kita.
((P(5))
Tanpamu aku tidak bisa bagaimana cara menulis Tanpamu aku tak akan mengerti arti sekolah.
(P(2))
Penggalan kedua puisi di atas, dapat dilihat bahwa pengelolaan katanya masih kurang tepat. Contoh pada P(2), dapat dilihat pada baris kedua yaitu “ pada kata “dibeli”, kata yang digunakan seharusnya yaitu kata”
ditukar”. Kata ini lebih cocok disandingkan dengan kata-kata sebelum dan
sesudahnya. Sedangkan pada puisi P(2) terlihat pada baris kedua yaitu
“tanpamu aku tidak bisa bagaimana cara menulis”. Pada baris tersebut terlihat ambigu, seharusnya yaitu “ tanpamu aku tidak bisa tau bagaimana cara menulis”. Hal inilah yang menyebabkan sehingga maksud yang akan disampaikan kepada pembaca belum bisa tersampaikan dengan baik. Puisi di atas seharusnya ditulis seperti sebagai berikut:
Semangat dan tegaklah seperti batu karang Keraskan segala usaha
Jangan hanya suara saja
Karena usaha tak menghianati hasil (P(5)
Bersabar menghadapi tingkah laku kami
Sabarmu tidak dapat ditukar dengan emas ataupun uang (P(2)
Guruku…
Tanpamu aku tidak bisa tau bagaimana cara menulis Tanpamu aku tak akan mengerti arti sekolah
(P(2)
Jadi, dapat dilihat bahwa ketika pengelolaan katanya bagus maka pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca juga akan lebih mudah untuk dipahami.
2. Problematika siswa dalam wujud visual puisi siswa
Berdasarkan hasil puisi siswa, peneliti melihat ada beberapa siswa yang memiliki prolematika dari wujud visualnya. Siswa yang memiliki problematika dalam wujud visual puisinya, yaitu P(1), P(3), P(5), P(9), P(10),
P(11), P(12), P(15), P(16), P(17), dan P(18). Namun, dalam wujud visual tulisan puisi siswa terdapat problematika tipografi yang beragam, yaitu problematika dalam penggunaan tipografi yang kurang menarik dan problematika dari tipografi dari segi ejaan. Problematika tersebut dapat dilihat di bawah ini:
Sahabat engkaulah teman terbaikku menemani saat suka maupun duka
senantiasa menolongku dikala sedang susah (P (17))
Jika dilihat penggalan puisi di atas belum memiliki tipografi yang menarik, karena puisi di atas masih menggunakan tipografi yang sangat biasa, sehingga puisi tersebut belum terlihat indah dan menarik. Selain itu, jika dilihat puisi karya P(1) terdapat kesalahan dari segi tipografi ejaan yaitu kata
“terimah kasih gururku”, dan “mengajarkan ku”. Kata yang seharusnya adalah
“terima kasih guruku”. Terdapat juga kesalahan ejaan pada puisi P(3) yaitu pada kata “se isi”, dan “tempu”. Kata yang seharusnya yaitu “seisi” dan
“tempuh”. Dapat juga dilihat pada puisi P(5) terdapat kesalahan dalam ejaan yaitu kata “tekat” dan “Negri”. Kata yang seharusnya yaitu “tekad” dan Negeri”.
3. Problematika siswa dalam menentukan suasan pada puisi
Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti melihat ada beberapa siswa yang memiliki problematika dalam menentukan suasana pada puisi
yang ditulisnya. Problematika tersebut adalah karya P(12), P(13), P(15), dan P(18). Sebagaimana penggalan puisi di bawah ini:
Gagal adalah awal kesuksesan Kata-kata yang ku dapat dari seorang Ilmuan ini bukan janji ataupun mimpi Pasti sukses akan terjadi aku berdoa, Berusaha dan percaya selama masih Hidup kemungkinan pastilah bisa
(P (12)
Pada puisi di atas, puisi tersebut belum mampu membuat pembaca terhanyut ke dalam suasana puisi yang ingin disampaikan. Hal ini disebabkan oleh hubungan antarkatanya yang kurang tepat, sehingga berpengaruh terhadap nada yang akan dihasilkan untuk menimbulkan suasana yang ingin diciptakan. puisi di atas seharusnya ditulis seperti sebagai berikut:
Gagal adalah awal dari kesuksesan
Kata-kata yang ku dapat dari seorang ilmuan Ini bukan janji ataupun mimpi sehingga pembaca dapat dengan mudah merasakan suasana yang terdapat dalam puisi tersebut.
4. Problematika dalam penggunaan bahasa figuratif
Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti melihat ada beberapa siswa yang belum mampu menggunakan bahasa figuratif sebagai ciri khas
puisi, yaitu: puisi P(1), P(2), P(5), P(8), P(9), P(11), P(12), P(13), P(14), P(15), P(16), P(17), dan P(18). Problematika tersebut dapat dilihat pada pusi di bawah ini:
Pulpenku
Pulpenku memang murah dan tidak mahal Tapi bagiku pulpenku itu teramat berharga Karena dengannya aku belajar merangkai aksara
(P(14))
perkenalkan namaku adalah alam aku adalah tempat bagi flora dan fauna
di mana bagi hewan-hewan aku adalah rumah mereka
tempat mereka bertumbuh dan berkembang biak, dan mencari makan melakukan semua aktivitas kehidupan alam
(P(8)
Dari kedua puisi di atas, dapat dilihat bahwa puisi tersebut belum menunjukkan adanya penggunaan bahasa figuratif sebagai ciri khas puisi, sehingga puisi tersebut terlihat seperti pada halnya prosa. Hal ini terlihat pada puisi (P(14)) pada kata “pulpenku”. Pada kata tersebut bukanlah kata figuratif, kata tersebut hanyalah kata-kata biasa yang umum digunakan pada kehidupan sehari-hari.
5. Problematika dalam rima
Berdasarka hasil tulisan puisi siswa, peneliti melihat ada siswa yang belum mampu menggunakan rima yang indah dalam puisi yang ditulisnya, yaitu terlihat dari puisi karya P(2), P(4), P(6), P(7), P(8), P(9), P(10), P(11), P(12), P(13), P(14), P(15), P(16), P(17), dan P(18). Problematika dalam penggunaan verifikasi dapat dilihat dari contoh di bawah ini:
Telah lama waktu yang kita jalani bersama memperindah puisi, karena bunyi pada akhir baris yang tidak sama. Contoh pada puisi P(17), sebagaimana baris pertama bunyi akhirnya –ma, sedangkan baris kedua bunyi akhirnya –ng, dan pada baris ketiga bunyi akhirnya –ap. Kalimat dengan bunyi akhir –u terdapat pada baris keempat. Inilah yang menyebabkan bunyi yang dihasilkan tidak beraturan, sehingga ketika dibaca puisi tersebut tidak menghasilkan bunyi yang indah untuk didengar.