BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai problematika siswa kelas X IPA dalam menulis puisi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Limbung, telah dijumpai berbagai macam problematika siswa dalam menulis puisi. Puisi memiliki unsur-unsur di dalamnya, fungsi dari unsur-unsur tersebut adalah untuk memberikan keindahan dan memberikan kesan tersendiri bagi pembacanya. Sedangkan Kosasih (2012: 97) mengungkapkan bahwa secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi menjadi dua macam. Adapun kedua unsur tersebut yaitu:
1. Unsur Fisik
a. Diksi (Pilihan Kata)
Berdasarkan data mengenai problematika siswa dalam menulis puisi, peneliti telah mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa dari 18 siswa 38,8% siswa memiliki problematika dalam menentukan diksi. Problematika tersebut disebabkan karena siswa terbiasa menggunakan bahasa daerah pada saat pembelajaran berlangsung, sehingga pengelolaan kata pada puisinya masih memiliki kesalahan. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara, siswa mengungkapkan bahwa mereka kesulitan dalam menentukan diksi pada tulisan puisinya. Sebagaimana pada puisi siswa sebagai berikut:
Semangat tegaklah seperti batu karang.
Keraskan segala usaha kita, jangan hanya suara kita.
Karena usaha tak menghianati hasil kita (P((2))
Berdasarkan puisi di atas pengelolaan diksi katanya masih kurang tepat karena siswa masih memasukkan dialek bahasa daerahnya. Hal ini terjadi karena siswa masih terbiasa menggunakan bahasa daerah sehingga terbawa kepenulisan puisinya. Padahal diksi merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan dalam penulisan puisi. Sebagaimana yang dikemukakan Kosasih bahwa diksi atau pilihan kata merupakan dasar atau inti pembangun puisi, sehingga diksi memiliki peran yang sangat penting dalam proses menulis puisi. Selain itu, menurut Waluyo (2003: 72) diksi merupakan kata-kata yang terdapat dalam puisi yang telah dipilih dan disusun oleh penyair dengan mempertimbangkan maknanya,
komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata-kata itu ditengah konteks kata lainnya dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi.
Berdasarkan pendapat di atas peneliti dapat simpulkan bahwa diksi merupakan hal yang sangat diutamakan dalam menulis sebuah puisi. Ketepatan penulis dalam pemilihan kata dapat menjadi kekuatan utama dalam puisi yang ditulisnya.
b. Pengimajinasian
Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa sudah mampu menggunakan pengimajinasian dalam puisi yang mereka tulis. Namun, pengimajinasian yang digunakan masih dalam taraf dasar, karena siswa pada jenjang Madrasah/SMA belum memiliki pengalaman yang lebih untuk menulis puisi yang tinggi akan imaji.
Matahari telah memancarkan sinar Membunuh malam yang sunyi Rasa lelah letih
Telah pergi menemani malam (P(4))
Berdasarkan penggalan pada puisi di atas, dapat dilihat bahwa puisi tersebut menggunakan pengimajinasian atau citra penglihatan ini terlihat dari kata
“matahari telah memancarkan sinar”. Pada puisi di atas masih pada taraf dasar.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sayuti bahwa pengimajinasian atau citraan adalah kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan gambaran-gambaran angan atau imajinasi. Pradopo (dalam Wiyatmi, 2006: 68) mengemukakan bahwa
citraan adalah gambaran-gambaran dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Jadi pengimajinasian atau citraan dalam puisi adalah gambaran angan yang terbentuk dan diekspresikan melalui media bahasa yang merupakan hasil pengalaman indra manusia.
2. Kata Konkret
Untuk membangkitkan imajinasi pembaca, kata-kata harus diperjelas. Jika penyair mahir memperkonkret kata-kata, maka seolah-olah pembaca melihat, mendengar atau merasakan apa yang dilukiskan penyair.
Berdasarkan semua hasil tulisan puisi siswa, secara keseluruhan siswa sudah mampu menggunakan kata konkret dalam puisinya. Sehingga pembaca sudah mampu membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan dalam setiap puisi yang ditulis. Dapat dilihat dari puisi siswa sebagai berikut:
Masa tetap berlanjut Rindu ini terbengkalai Kepadanya yang teduh Jauh dari risau
Aku di sini rindu Tak kuasa tahan bisu Berucap tapi semu
Aku hanya ingin bersua denganmu Walau hanya khayalan semu
(P(10))
Pada puisi di atas dalam setiap katanya bisa dikatakan sudah sangat konkret.
Ini dapat dibuktikan ketika puisi di atas dibaca. Seolah-olah pembaca melihat, mendengar atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. Seperti yang telah
dikemukakan oleh Kosasih bahwa untuk membangkitkan imaji pembaca, kata-kata harus diperjelas. Selain itu Wicaksono (2014:25) mengungkapkan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca.
Dari beberapa pendapat di atas, peneliti dapat simpulkan bahwa jika penulis mahir memperkonkret kata-kata maka pembaca akan merasa seolah-olah dapat melihat, mendengar, atau merasakan apa yang lukiskan oleh penyair.
3. Bahasa Figuratif (Majas)
Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa dari 18 jumlah siswa terdapat 72,2% siswa memiliki problematika dalam penggunaan bahasa figuratif. Problematika tersebut disebabkan karena adanya siswa yang kurang menyukai pembelajaran menulis puisi. Menulis puisi pada dasarnya harus didasari oleh keinginan seorang penulis, karena menulis puisi sangat membutuhkan daya khayal (imajinasi) yang tinggi, dan penulis memang dituntut untuk mampu menggunakan bahasa figuratif dalam tulisan puisinya. Sebagaimana contoh puisi siswa di bawah ini:
Ibu
Sembilan bulan kau mengandung Hingga aku dilahirkan
Kau mendidikku
Membesarkanku sampai sekarang (P(11))
Berdasarkan dari penggalan puisi di atas, dapat dilihat bahwa masih belum ada bahasa-bahasa figuratif yang terdapat di dalam puisi tersebut. Kata-kata yang digunakanpun merupakan kata-kata yang umum dipakai. Sehingga terlihat biasa saja. Sebagaimana Kosasih mengemukakan bahwa bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara membandingkan dengan benda atau kata lain. Bahasa figuratif atau bahasa kiasan yang digunakan oleh penyair memiliki peranan penting sebagai upaya penyair dalam menggandakan makna dalam sajaknya. Sayuti (2002:195) menyatakan bahwa bahasa kias dalam puisi berfungsi sebagai sarana pengedepanan sesuatu yang berdimensi jamak dalam bentuk yang sesingkat-singkatnya.
Sedangkan menurut Abrams (dalam Wiyatmi, 2006: 64) bahasa kias sebagai salah satu kepuitisan berfungsi agar sesuatu yang digambarkan dalam puisi menjadi jelas, hidup, intensif, dan menarik. Menurut Pradopo (dalam Suryaman, 2012: 50), mengungkapkan bahwa bahasa figuratif terdiri atas perbandingan/perumpamaan, metafora, personifikasi, hiperbola, metonimia, sinekdoki, dan allegori.
Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa figuratif adalah bahasa kias yang digunakan penyair dalam puisi yang ditulisnya yang memiliki peran penting agar puisi yang dihasilkan dapat lebih jelas, hidup, intensif, dan lebih menarik.
4. Rima
Berdasarkan hasil tulisan puisi, mengenai problematika siswa dalam menulis puisi, peneliti telah mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa dari 18 jumlah
siswa terdapat 83,3% siswa memiliki problematika dalam menggunakan rima.
Problematika tersebut disebabkan karena siswa belum terlalu memahami mengenai rima, sebagaimana diketahui rima adalah segala sesuatu berkaitan dengan teknik seorang penulis dalam menyusun kata pada tiap bait dan barisnya, sehingga ketika dibaca puisi akan menjadi sesuatu yang lebih indah untuk dibaca dan didengar. Pada saat wawancara siswa mengungkapkan bahwa mereka memang sangatlah kesulitan dalam teknik penulisan puisi. Sebagaimana contoh puisi siswa di bawah ini:
Telah lama waktu yang kita jalani bersama Saling membantu dan menolong.
Persahabatan kita tak akan lenyap Meskipun dimakan waktu
(P(17))
Berdasarkan penggalan puisi di atas, dapat dilihat bahwa pada penggunaan rima pada puisi tersebut masih sangat tidak beraturan, sehingga ketika puisi dibaca hal yang dihasilkan menjadi sesuatu yang begitu biasa-biasa saja. Bunyi yang dihasilkan tidak beraturan pada setiap akhir baris. Sehingga tidak menghasilkan bunyi yang indah karena tidak beraturannya bunyi pada tiap akhir baris. Sebagaimana baris pertama bunyi akhirnya –ma, sedangkan baris kedua bunyi akhirnya –ng, dan pada baris ketiga bunyi akhirnya –ap. Kalimat dengan bunyi akhir –u terdapat pada baris keempat.
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Kosasih bahwa rima adalah suatu pengulangan bunyi yang ada dalam sebuah puisi. Selain itu, Jabrohim (2009:53-54), mengemukakan bahwa rima adalah suatu pengulangan bunyi dalam setiap
baris atau larik puisi, pada akhir baris puisi atau bahkan juga terdapat pada keseluruhan baris atau bait puisi yang ditulisnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa rima merupakan salah satu aspek bunyi yang membantu menciptakan sebuah musikalitas di dalam puisi yang dapat memperindah puisi yang diciptakan penulis.
5. Wujud Visual Puisi
Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa dari 18 jumlah siswa terdapat 61,1% siswa mengalami problematika dalam wujud visual puisi. Hal ini disebabkan karena siswa masih belum memahami apa itu wujud visual puisi karena kurangnya membaca.
Sehingga siswa mengalami problem pada tipografi dan ejaan dalam tulisan puisinya yang ditulisnya. Sebagaimana contoh puisi siswa di bawah ini:
Ibu…kau yang melahirkanku, merawatku,
Memberi kasih sayang kepadaku. kau yang memberi
Asi kepada anakmu dan kaupula yang membesarkanku mulai kecil sampai sebesar ini.
(P(18))
Berdasarkan puisi di atas, peneliti dapat simpulkan bahwa larik/ baris pada bait tersebut tidak jelas sehingga pembaca bingung di mana memulai dan di bagian mana akhir dari larik atau baris pada puisi tersebut. Seperti yang telah dikemukakan oleh Kosasih bahwa tipografi merupakan suatu pembeda yang sangat penting antar puisi dengan prosa dan drama. Selain itu, menurut Sayuti (2002:329), tipografi adalah bentuk visual puisi yang berupa tata huruf dan tata baris dalam puisi. Jadi dapat disimpulkan bahwa wujud visual puisi harus
benar-benar diperhatikan dalam penulisan puisi karena wujud visual merupakan hal pertama yang dilihat oleh pembaca.
3) Unsur Batin e) Tema
Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa siswa sudah mampu menentukan tema pada puisi yang ditulisnya. Sehingga pembaca mampu menemukan tema pada puisi yang dibacanya. Sebagaimana contoh puisi siswa di bawah ini:
Permataku….
Ke mana lagi engkau akan ku cari
Seisi dunia telah aku datangi untuk mencarimu Dan tak aku temui secuil berita pun tentangmu
(P(3))
Berdasarkan penggalan puisi di atas, dapat dilihat bahwa tema dari puisi tersebut yaitu tentang kehilangan. Pembaca akan langsung dapat menemukan tema yang terdapat dalam puisi tersebut ketika puisinya dibaca secara sungguh-sungguh. Sebagaimana Aminuddin (2009:150), mengungkapkan bahwa tema adalah pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya.
Selain itu, menurut Waluyo (2005:17), tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya. Jadi dapat disimpulkan bahwa tema adalah suatu hal yang sangat penting dalam penulisan puisi karena puisi adalah gagasan pokok dari sebuah puisi yang ditulis.
f) Perasaan/Rasa
Puisi merupakan karya sastra yang paling mewakili ekspresi perasaan penyair.
Bentuk ekspresi itu bisa berupa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada kekasih, alam atau sang Khalik. Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti menemukan hasil yang menunjukkan bahwa secara keseluruhan tulisan puisi siswa sudah mampu membuat pembaca merasakan apa yang ingin disampaikannya. Hal ini terlihat disetiap tulisan puisi siswa. Sebagaimana contoh puisi siswa di bawah ini:
Permataku ….
Engkau telah pergi meninggalkan kesan Kesan yang tidak dapat aku lupakan
Engkau telah pergi meninggalkan kenangan
Kenangan yang tidak dapat aku temui dari orang lain..
(P(3))
Berdasarkan puisi di atas, dapat dilihat bahwa pada puisi tersebut sudah mampu membuat pembaca merasakan apa yang ingin disampaikan yaitu penulis merasakan perasaan sedih karena ditinggalkan oleh sang kekasih. Seperti yang dikemukakan oleh Kosasih bahwa puisi merupakan karya sastra yang paling mewakili ekspresi perasaan. Selain itu, Menurut Djojosuroto (2005:26) menyatakan bahwa dalam puisi dapat mengungkapkan perasaan penyair. Jadi dapat peneliti simpulkan bahwa dalam menulis puisi penulis harus bisa menulis sebuah puisi yang mampu membuat para pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan penulis dalam puisinya.
g) Suasana
Suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu. Suasana adalah akibat yang ditimbulkan puisi itu terhadap jiwa pembaca. Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti menemukan hasil yang menunjukkan bahwa dari 18 jumlah siswa terdapat 22,2% siswa mengalami problematika dalam menentukan suasana pada tulisan puisinya. Hal ini disebabkan karena siswa dalam tulisan puisinya tidak padu dalam pengelolaan katanya dan hubungan antarkatanya kurang tepat, sehingga suasana yang ingin disampaikan menjadi tidak tercipta dan tidak begitu dapat dirasakan oleh pembaca. Sebagaimana contoh puisi siswa di bawah ini:
Derita siang dan malam menimpamu Tak sedetikpun kau mengeluh
Dan yang selalu kau berkata Padaku aku menyayangimu Sekarang dan waktu aku tak
Lagi bersamamu aku menyayangimu anakku dengan ketulusan hatiku
(P(15))
Berdasarkan penggalan puisi di atas, dapat dilihat bahwa puisi P(15) belum mampu menciptakan membangkitkan suasana yang ingin disampaikan kepada pembaca karena pengelolaan katanya tidak padu. Sebagaimana dikemukakan Jabrohim (2009:66), mengemukakan bahwa suasana merupakan keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut, atau dampak psikologis yang ditimbulkan puisi tersebut terhadap pembaca.
h) Amanat
Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti menemukan hasil yang menunjukkan bahwa secara keseluruhan tulisan puisi siswa sudah mampu menciptakan amanat yang dapat dipahami oleh pembaca. Sebagaimana contoh puisi siswa di bawah ini:
Hadirkan kursi bukan untuk jadi rebutan Tapi tempat untuk berbicara
Mewakili kaum tani yang tertindas Dan para pengarung ombak yang terluka Hadirkan kursi bukan untuk kepentingan Supaya perut natural tak lagi kembung
Dan mulut masih mengoceh untuk perut yang kelaparan Karena masih banyak terkumpul karung
Dan baju koyak tergeletak dibibir jalan
Menunggu kalian yang bersuara atas nama rakyat (P(7))
Berdasarkan puisi di atas, dapat dilihat bahwa siswa sudah mampu menciptakan amanat yang dapat dipahami oleh pembaca. Sebagaimana puisi tersebut memberikan pesan kepada pemerintah supaya dapat memimpin dengan baik dan dapat menepati janji yang telah dijanjikan kepada rakyat. Sebagaimana dikemukakan oleh Wardoyo (2013:53), bahwa amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. selain itu, menurut Waluyo (2009:67), mengemukakan bahwa amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun dan juga berada di balik tema yang diuangkapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa amanat merupakan pesan yang secara tersirat ingin disampaikan penulis kepada pembaca melalui puisi yang ditulisnya.
BAB V
PENUTUP
a. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya mengenai hasil penelitian dan pembahasan, peneliti menyimpulkan bahwa ada beberapa problematika siswa kelas X IPA di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Limbung dalam menulis puisi, problematika tersebut yaitu:
1. Problematika dalam menentukan diksi, problematika tersebut mengenai hubungan antarkatanya yang masih kurang tepat dan juga pengelolaan katanya masih kurang menarik.
2. Problematika dalam wujud visual puisi, yaitu seperti tipografi kurang menarik dan ejaan pada tulisan puisi siswa.
3. Problematika dalam menentukan suasana pada hasil tulisan puisi siswa.
4. Problematika dalam penggunaan bahasa figuratif yang merupakan ciri khas sebuah puisi.
5. Problematika dalam rima sehingga puisi yang ditulis siswa terlihat biasa-biasa saja dan kurang indah untuk dilihat.
B. Saran
Berdasarkan berbagai macam problematika siswa dalam menulis puisi yang telah diuraikan dalam penelitian ini, maka saran dari peneliti adalah sebagai berikut:
1. Bagi Guru
Guru disarankan menggunakan metode serta media pembelajaran yang kreatif dalam proses pembelajaran terutama dalam pembelajaran menulis puisi.
2. Bagi Siswa
Berdasarkan hasil penelitian mengenai problematika siswa dalam menulis puisi, ternyata masih banyak problem yang dihadapi siswa dalam menulis puisi, terutama dari rima, wujud visual puisi, dan figuratif puisi. siswa disarankan untuk dapat memahami apa saja unsur-unsur pembangun dalam puisi dengan baik, agar puisi yang dihasilkan dapat membuat pembaca lebih paham dan puisinya juga bisa lebih menarik untuk dibaca.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiyah, Sabarti dkk. 2012. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
Aisyah, Airin. 2016. Problematika Penulisan Puisi Siswa Kelas VII J SMP N 5 Kota Jambi Tahun Pelajaran 2015/2016. Skripsi tidak diterbitkan. Jambi:
Universitas Jambi.
Aminuddin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru
Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Bunda, M.M . 2017. Kemampuan Menulis Puisi Bebas siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pangsit Kabupaten Sidenreng Rappang. Skripsi tidak diterbitkan.
Makassar: Universitas Negeri Makassar.
Depdikbud. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Djojosuroto, Kinayati. 2005. Puisi, Pendekatan dan Pembelajaran. Bandung: Nuansa Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta; Muhammadiyah University
Press.
Tarigan, H.G. 2013. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.
Hastiyanti. 2017. Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Media Ilustrasi Musik pada Siswa Kelas IX MTs. Guppi Al-Abrar Biringbulu. Skripsi tidak diterbitkan. Universitas Muhammadiyah Makassar.
Jabrohim, dkk. 2009. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Komaidi, Didik. 2011. Panduan Lengkap Menulis Kreatif Teori dan Praktek.
Kosasih. 2012. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya.
Khasanah, Umi. 2011. Meningkatkan Keterampilan Menulis Puisi Bebas Menggunakan Mind Map untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Soka UPT Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunungkidul. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: UNY.FIP.
Kusnadi, Wasrie. 2008. Kumpulan Peribahasa disertai Pantun dan Puisi.
Yogyakarta: Lingkar Media.
Moleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.
Munirah. 2018. Evaluasi Keterampilan Berbahasa Indonesia. Berkah Utami.
Musfah, Jejen. 2016. Tips Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: PT. Fajar.
Oktavia, W.C. 2014. Problematika Siswa Kelas X dalam Menulis Puisi di SMA Negeri 6 Kecamatan Talang Empat Kabupaten Bengkulu Tengah Tahun Ajaran 2013/2014. Skripsi tidak diterbitkan. Bengkulu: Universitas Bengkulu.
Restu, Arwini. 2019. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Pendek Melalui Media Berita Dengan Metode Terbimbing Pada Siswa Kelas X SMK Selayar. Skripsi Tidak Diterbitkan. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.
Rokhman. 2015. Kendala Menulis Bagi Penulis Pemula. (Online).
(https://www.kompasiana.com/omank/5619bdd3c1afbd0b048b4567/kendal a-menulis-bagi-penulis-pemula). Diakses 9 Januari 2020.
Rimang, S.S. 2011. Kajian Sastra Teori dan Praktik. Yogyakarta: Aura Pustaka.
Sayuti, Suminto. 2002. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media Semi, A. 2007. Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Angkasa.
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung:
Alfabeta.
Suharsini. 2010. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.
Suryaman, Maman, dkk. 2012. Puisi Indonesia. Yogyakarta: Ombak
Susetyo, Budi. 2010. Statistika Untuk Analisis Data Penelitian. Bandung: Refika Aditama.
Toyidin. 2013. Sastra Indonesia Puisi Prosa Drama. Subang: CV. Pustaka.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Waluyo, Herman. 2003. Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiwa. Jakarta:
Gramedia
2005. Apresiasi Puisi Untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta:
Gramedia
Wardoyo, Sigit. 2013. Teknik Menulis Puisi. Jakarta: Graha Ilmu.
Wicaksono, Andri. 2014. Menulis kreatif sastra: dan beberapa model pembelajarannya. Yogyakarta: Garuda Waca
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Yulianti, Santi. 2014. Problematika Siswa dalam Menulis Naskah Drama di SMP Negeri 01 Pondok Kelapa Bengkulu Tengah. Skripsi tidak diterbitkan.
Bengkulu: Universitas Bengkulu.
Yunus, S . 2015. Kompetensi Menulis Kreatif. Bogor: Ghalia Indonesia.
L A M
P
I
R
A
N
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
2 Amiratul Istiqamah P(2)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
1 Alfi Safira P(1)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
3 Andhika P(3)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
4 Dimas Andrian P(4)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
5 Erni Esti Rahayu P(5)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
6 Fadhilah Ainur Zahra P(6)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
7 Ikram P(7)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
8 Khaerana Muthia Alim P(8)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
9 Muh Irham Gani P(9)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
10 Mutmainnah P(10)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
11 Natasya P(11)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
12 Nur Annisa M P(12)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
13 Nur Syamsinar P(13)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
14 Nurfadhila Musdah P(14)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
15 Rahmadani P(15)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
16 Ruqayah P(16)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
17 ST. Aisyah P(17)
No Nama Siswa Inisial Nama Peserta Didik
18 Umniya Nur Faadiyah P(18)
INSTRUMENT WAWANCARA
5) Bagaimana menurut anda mengenai pembelajaran daring (online) dalam pembelajaran menulis puisi?
6) Apa saja kesulitan yang anda alami pada saat menulis puisi?
7) Apakah anda tidak terganggu menulis puisi dengan lingkungan sekitar anda?
8) Apakah anda menyukai pembelajaran menulis puisi? jelaskan!
HASIL WAWANCARA
a. Hasil wawancara dengan Erni Esti Rahayu
1. Menurut saya pembelajaran yang kita lakukan pada saat pandemik ini sedikit terganggu karena saya sebagai peserta didik tidak dapat mendengarkan penjelasan secara langsung dari guru dan itu menyebabkan ada diantara kami yang sedikit kurag mengerti.
2. Kesulitan saya dalam menulis puisi yaitu kesulitan dalam menentukan judul dan kesulitan dalam merangkai kata/diksi dalam menulis puisi
3. Tidak, karena dilingkungan saya justru bisa mendapat inspirasi.
4. Saya sangat menyukai karena dapat mengajari kita cara merangkai kata menjadikannya suatu kalimat dan melatih otak kita untuk selalu berfikir pada saat diberi tugas membuat puisi.
b. Hasil wawancara dengan Rahmadani
1. Alhamdulillah baik dan lancar. Namun kesulitan memahami materi karena tidak adanya buku paket.
2. Kesuliatan saya yaitu dalam menyusun kata-kata
3. Tidak, karena di situ kita bisa menyesuaikan kata-kata apa yang cocok dengan judul puisi kita.
4. Tidak terlalu suka karena menurut saya dalam menulis puisi itu sangat sulit.
4. Tidak terlalu suka karena menurut saya dalam menulis puisi itu sangat sulit.