• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Teknik Analisis Data

Miles dan Huberman dalam Musfah (2016: 62), mengatakan analisis data yang akan digunakan dalam penelitian kualitatif adalah model analisis data mengalir (flow model). Sejumlah langkah analisis terdapat dalam model ini, yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Jadi, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini melalui teknik-teknik sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data

Peneliti membuat catatan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi yang merupakan catatan lapangan yang terkait dengan pertanyaan dan tujuan penelitian.

2. Reduksi Data

Tahap ini merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pengabstraksian, dan penstranspormasian data kasar yang diambil dari lapangan. Inti dari reduksi data adalah proses penggabungan dan penyeragaman segala bentuk data menjadi bentuk tulisan yang akan dianalisis.

3. Penyajian Data

Pada tahap ini, penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian. Sugiyono (2017: 95) menyatakan yang paling sering digunakan untuk penyajian data adalah dengan teks yang bersifat naratif. Sajian data memudahkan untuk

memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya dengan berdasarkan apa yang dipahami. Fenomena sosial bersifat kompleks dan dinamis. Sehingga apa yang ditemukan pada saat memasuki lapangan dan setelah berlangsung agak lama di lapangan akan mengalami perkembangan data. Pola-pola yang ditemukan dan telah didukung oleh data-data selama penelitian akan menjadi pola yang baku yang tidak lagi berubah. Pola tersebut selanjutnya disajikan pada laporan akhir penelitia.

4. Penarikan Kesimpulan

Pada tahap ini, peneliti membandingkan data-data yang sudah didapat dengan data-data hasil observasi, wawancara, tulisan puisi siswa dan informan lainnya yang bertujuan untuk menarik kesimpulan. Selanjutnya data yang telah dianalisis, dijelaskan dan dimaknai dalam bentuk kata-kata untuk mendeskripsikan fakta yang ada di lapangan, pemaknaan atau untuk menjawab pertanyaan penelitian yang kemudian diambil intisarinya saja.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Kegiatan awal yang dilakukan pada peneltian ini adalah menemui staf tata usaha kemudian diarahkan untuk bertemu dengan kepala sekolah, dan guru kelas X IPA di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Limbung yang dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2020 pada masa pandemik Covid-19, sehingga proses belajar mengajar dilakukan secara daring. Pada pertemuan awal, peneliti membicarakan tentang rencana penelitian yang akan dilaksanakan dan melakukan konsultasi dengan guru kelas X IPA di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Limbung. Setelah konsultasi dengan guru bahasa Indonesia. Peneliti diarahkan untuk melakukan penelitian secara daring.

Pada hasil penelitian ini, peneliti akan menguraikan data-data mengenai problematika siswa kelas X IPA dalam menulis puisi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Limbung kecamatan bajeng Kabupaten Gowa. Berdasarkan hasil observasi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Limbung. Peneliti mengamati bahwa pembelajaran sastra dalam proses belajar mengajar kurang berjalan dengan efektif.

Hal ini disebabkan karena buku dan referensi sebagai modal utama para siswa masih terbatas dan metode pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan oleh guru masih menggunakan metode ceramah sehingga tidak ada feedback dari siswa, inila yang menyebabkan siswa mudah bosan dalam proses pembelajaran.

Media yang digunakan juga hanya bergantung pada buku paket sehingga siswa mudah bosan dan kurang kreatif. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti melihat bahwa siswa masih belum mampu mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini terlihat terhadap respon siswa pada saat guru menjelaskan materi, hanya beberapa siswa yang hadir dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, siswa masih terbiasa menggunakan bahasa daerah pada saat pembelajaran bahasa Indonesia. Inilah yang mempengaruhi sehingga siswa kesulitan dalam pengelolaan kata pada hasil tulisannya.

Peneliti juga melihat cara mengajar guru yang kurang efektif karena setelah guru membuka pembelajaran beliau langsung menjelaskan materi pembelajaran tanpa memberikan pertanyaan sekitar seputar pembelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya. Seharusnya guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai pembelajaran yang telah dipelajari, sehingga siswa dapat mengembangkan potensinya dengan baik, karena setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda dalam mengingat dan mengulang pembelajaran yang telah mereka pelajari.

Wawancara pada penelitian ini dilaksanakan setelah pembelajaran selesai. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pembelajaran tidak terganggu. Wawancara dimaksudkan untuk mengetahui problematika siswa dalam menulis puisi. Proses wawancara dilakukan secara daring melalui aplikasi whatsapp dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan secara individu kepada siswa. Beberapa hal yang ditanyakan dalam wawancara adalah sebagai berikut:

1) Bagaimanakah menurut anda mengenai pembelajaran daring (online) dalam pembelajaran menulis puisi?

2) Apa sajakah kesulitan yang anda alami pada saat menulis puisi?

3) Apakah anda tidak terganggu menulis puisi pada lingkungan sekitar anda?

4) Apakah anda menyukai pembelajaran menulis puisi? jelaskan!

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa, peneliti menemukan beberapa problematika siswa dalam menulis puisi. Hal ini dapat dilihat karena salah satu siswa mengungkapkan bahwa mereka tidak memegang buku paket, mereka tidak mendapatkan buku karena minimnya buku paket dan hanya guru yang memegang buku paket pada pembelajaran bahasa Indonesia. Selain itu, siswa mengungkapkan bahwa mereka kesulitan dalam menentukan tema, judul puisi, siswa kesulitan dalam pengelolaan kata/diksi, dan siswa merasa kesulitan pada teknik penulisan puisi.

Karena pembelajaran yang dilakukan di rumah akibat covid-19, siswa mengungkapkan merasa terganggu ketika menulis puisi di rumah. Hal ini dikarenakan diganggu oleh adiknya ketika menulis puisi.

Kegiatan menulis puisi memang memerlukan suasana yang nyaman, karena menulis puisi merupakan suatu kegiatan yang sangat menggali kreativitas siswa.

Belum lagi metode dan media yang digunakan oleh guru dalam mengajar masih kurang kreatif sehingga beberapa siswa mudah bosan dan siswa tidak terlalu menyukai pembelajaran menulis puisi. Dalam hal ini, tidak heran jika siswa kesulitan dalam menulis puisi karena kurang kreatifnya guru dalam melakukan proses belajar

mengajar. Untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, semua komponen yang terlibat dalam proses belajar mengajar di sekolah harus turut memberikan dukungan. Baik dari media, sumber belajar maupun cara mengajar yang baik.

Komponen-komponen yang terkait tersebut harus diupayakan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat mewujudkan proses belajar mengajar yang diharapkan.

Seperti yang telah diketahui bahwa dalam menulis puisi ada beberapa unsur yang harus diperhatikan. Unsur-unsur puisi berfungsi untuk memberikan keindahan dan memberikan kesan tersendiri bagi pembacanya. Kosasih (2012: 97) mengungkapkan bahwa secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi menjadi dua macam. Adapun kedua unsur tersebut yaitu: unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik terdiri atas; diksi, pengimajinasian, kata konkret, bahasa figuratif, rima/ritma, dan tatap wajah (tipografi). Sedangkan unsur batin terdiri atas; tema, perasaan, nada dan suasana, dan amanat.

Berdasarkan hasil tulisan siswa, peneliti mengamati terdapat problematika siswa dalam menulis puisi. Problematika siswa dalam menulis puisi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa aspek, yaitu problematika siswa dalam menentukan diksi, problematika dalam menentukan visual puisi, problematika dalam menentukan suasana, problematika dalam penggunaan bahasa figuratif, dan problematika dalam rima. Peneliti memberikan inisial (P) kepada setiap siswa dan diikuti dengan nomor

urut sesuai yang ada di absen kelasnya, yaitu P(1), P(2), P(3), P(4), P(5), P(6), P(7), P(8), P(9), P(10), P(11), P(12), P(13), P(14),P(15),P(16),P(17), dan P(18).

1. Problematika siswa dalam menentukan diksi

Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti melihat ada beberapa siswa yang memiliki problematika dalam menentukan diksi yaitu puisi karya P(2), P(5), P(12), P(13), P(15), P(16), dan P(18). Problematika tersebut yaitu dapat dilihat dari hubungan dan pengelolaan katanya yang kurang tepat.

Seperti contoh berikut:

Gagal adalah awal kesuksesan Kata-kata yang kudapat dari seorang Ilmuan ini bukan janji ataupun mimpi Pasti sukses akan terjadi aku berdoa, berusaha dan percaya selama masih hidup kemungkinan pastilah bisa

(P(12))

Ibu…kau yang melahirkanku, merawatku,

memberi kasih sayang kepadaku. kau yang memberi

asi kepada anakmu dan kaupula yang membesarkanku mulai kecil sampai sebesar ini.

(P(18))

Dapat dilihat dari kedua penggalan puisi di atas, puisi tersebut sama-sama belum memiliki hubungan antarkata yang tepat, ini disebabkan oleh tidak jelasnya baris pada puisi tersebut, sehingga ketika dibaca puisi tersebut menjadi tidak padu, karena setiap kata yang dituangkan dalam bait-bait puisi erat kaitannya dengan makna, nada dan irama serta keselarasan bunyi. Puisi di atas seharusnya ditulis seperti sebagai berikut:

Gagal adalah awal dari kesuksesan

Kata-kata yang ku dapat dari seorang ilmuan Ini bukan janji ataupun mimpi

Kau yang melahirkanku, merawatku, memberi kasih sayang kepadaku Kau yang memberi asi kepada anakmu ini

Kaupula yang membesarkanku mulai kecil sampai sebesar ini (P(18)

Selain memiliki problematika dari hubungan antarkatanya, pada puisi siswa juga terdapat pengelolaan katanya yang kurang tepat. Sebagaimana contoh di bawah ini:

Semangat teganah seperti batu karang.

Keraskan segala usaha kita, jangan hanya suara kita.

Karena usaha tak menghianati hasil kita.

((P(5))

Tanpamu aku tidak bisa bagaimana cara menulis Tanpamu aku tak akan mengerti arti sekolah.

(P(2))

Penggalan kedua puisi di atas, dapat dilihat bahwa pengelolaan katanya masih kurang tepat. Contoh pada P(2), dapat dilihat pada baris kedua yaitu “ pada kata “dibeli”, kata yang digunakan seharusnya yaitu kata”

ditukar”. Kata ini lebih cocok disandingkan dengan kata-kata sebelum dan

sesudahnya. Sedangkan pada puisi P(2) terlihat pada baris kedua yaitu

“tanpamu aku tidak bisa bagaimana cara menulis”. Pada baris tersebut terlihat ambigu, seharusnya yaitu “ tanpamu aku tidak bisa tau bagaimana cara menulis”. Hal inilah yang menyebabkan sehingga maksud yang akan disampaikan kepada pembaca belum bisa tersampaikan dengan baik. Puisi di atas seharusnya ditulis seperti sebagai berikut:

Semangat dan tegaklah seperti batu karang Keraskan segala usaha

Jangan hanya suara saja

Karena usaha tak menghianati hasil (P(5)

Bersabar menghadapi tingkah laku kami

Sabarmu tidak dapat ditukar dengan emas ataupun uang (P(2)

Guruku…

Tanpamu aku tidak bisa tau bagaimana cara menulis Tanpamu aku tak akan mengerti arti sekolah

(P(2)

Jadi, dapat dilihat bahwa ketika pengelolaan katanya bagus maka pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca juga akan lebih mudah untuk dipahami.

2. Problematika siswa dalam wujud visual puisi siswa

Berdasarkan hasil puisi siswa, peneliti melihat ada beberapa siswa yang memiliki prolematika dari wujud visualnya. Siswa yang memiliki problematika dalam wujud visual puisinya, yaitu P(1), P(3), P(5), P(9), P(10),

P(11), P(12), P(15), P(16), P(17), dan P(18). Namun, dalam wujud visual tulisan puisi siswa terdapat problematika tipografi yang beragam, yaitu problematika dalam penggunaan tipografi yang kurang menarik dan problematika dari tipografi dari segi ejaan. Problematika tersebut dapat dilihat di bawah ini:

Sahabat engkaulah teman terbaikku menemani saat suka maupun duka

senantiasa menolongku dikala sedang susah (P (17))

Jika dilihat penggalan puisi di atas belum memiliki tipografi yang menarik, karena puisi di atas masih menggunakan tipografi yang sangat biasa, sehingga puisi tersebut belum terlihat indah dan menarik. Selain itu, jika dilihat puisi karya P(1) terdapat kesalahan dari segi tipografi ejaan yaitu kata

“terimah kasih gururku”, dan “mengajarkan ku”. Kata yang seharusnya adalah

“terima kasih guruku”. Terdapat juga kesalahan ejaan pada puisi P(3) yaitu pada kata “se isi”, dan “tempu”. Kata yang seharusnya yaitu “seisi” dan

“tempuh”. Dapat juga dilihat pada puisi P(5) terdapat kesalahan dalam ejaan yaitu kata “tekat” dan “Negri”. Kata yang seharusnya yaitu “tekad” dan Negeri”.

3. Problematika siswa dalam menentukan suasan pada puisi

Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti melihat ada beberapa siswa yang memiliki problematika dalam menentukan suasana pada puisi

yang ditulisnya. Problematika tersebut adalah karya P(12), P(13), P(15), dan P(18). Sebagaimana penggalan puisi di bawah ini:

Gagal adalah awal kesuksesan Kata-kata yang ku dapat dari seorang Ilmuan ini bukan janji ataupun mimpi Pasti sukses akan terjadi aku berdoa, Berusaha dan percaya selama masih Hidup kemungkinan pastilah bisa

(P (12)

Pada puisi di atas, puisi tersebut belum mampu membuat pembaca terhanyut ke dalam suasana puisi yang ingin disampaikan. Hal ini disebabkan oleh hubungan antarkatanya yang kurang tepat, sehingga berpengaruh terhadap nada yang akan dihasilkan untuk menimbulkan suasana yang ingin diciptakan. puisi di atas seharusnya ditulis seperti sebagai berikut:

Gagal adalah awal dari kesuksesan

Kata-kata yang ku dapat dari seorang ilmuan Ini bukan janji ataupun mimpi sehingga pembaca dapat dengan mudah merasakan suasana yang terdapat dalam puisi tersebut.

4. Problematika dalam penggunaan bahasa figuratif

Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti melihat ada beberapa siswa yang belum mampu menggunakan bahasa figuratif sebagai ciri khas

puisi, yaitu: puisi P(1), P(2), P(5), P(8), P(9), P(11), P(12), P(13), P(14), P(15), P(16), P(17), dan P(18). Problematika tersebut dapat dilihat pada pusi di bawah ini:

Pulpenku

Pulpenku memang murah dan tidak mahal Tapi bagiku pulpenku itu teramat berharga Karena dengannya aku belajar merangkai aksara

(P(14))

perkenalkan namaku adalah alam aku adalah tempat bagi flora dan fauna

di mana bagi hewan-hewan aku adalah rumah mereka

tempat mereka bertumbuh dan berkembang biak, dan mencari makan melakukan semua aktivitas kehidupan alam

(P(8)

Dari kedua puisi di atas, dapat dilihat bahwa puisi tersebut belum menunjukkan adanya penggunaan bahasa figuratif sebagai ciri khas puisi, sehingga puisi tersebut terlihat seperti pada halnya prosa. Hal ini terlihat pada puisi (P(14)) pada kata “pulpenku”. Pada kata tersebut bukanlah kata figuratif, kata tersebut hanyalah kata-kata biasa yang umum digunakan pada kehidupan sehari-hari.

5. Problematika dalam rima

Berdasarka hasil tulisan puisi siswa, peneliti melihat ada siswa yang belum mampu menggunakan rima yang indah dalam puisi yang ditulisnya, yaitu terlihat dari puisi karya P(2), P(4), P(6), P(7), P(8), P(9), P(10), P(11), P(12), P(13), P(14), P(15), P(16), P(17), dan P(18). Problematika dalam penggunaan verifikasi dapat dilihat dari contoh di bawah ini:

Telah lama waktu yang kita jalani bersama memperindah puisi, karena bunyi pada akhir baris yang tidak sama. Contoh pada puisi P(17), sebagaimana baris pertama bunyi akhirnya –ma, sedangkan baris kedua bunyi akhirnya –ng, dan pada baris ketiga bunyi akhirnya –ap. Kalimat dengan bunyi akhir –u terdapat pada baris keempat. Inilah yang menyebabkan bunyi yang dihasilkan tidak beraturan, sehingga ketika dibaca puisi tersebut tidak menghasilkan bunyi yang indah untuk didengar.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai problematika siswa kelas X IPA dalam menulis puisi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Limbung, telah dijumpai berbagai macam problematika siswa dalam menulis puisi. Puisi memiliki unsur-unsur di dalamnya, fungsi dari unsur-unsur tersebut adalah untuk memberikan keindahan dan memberikan kesan tersendiri bagi pembacanya. Sedangkan Kosasih (2012: 97) mengungkapkan bahwa secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi menjadi dua macam. Adapun kedua unsur tersebut yaitu:

1. Unsur Fisik

a. Diksi (Pilihan Kata)

Berdasarkan data mengenai problematika siswa dalam menulis puisi, peneliti telah mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa dari 18 siswa 38,8% siswa memiliki problematika dalam menentukan diksi. Problematika tersebut disebabkan karena siswa terbiasa menggunakan bahasa daerah pada saat pembelajaran berlangsung, sehingga pengelolaan kata pada puisinya masih memiliki kesalahan. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara, siswa mengungkapkan bahwa mereka kesulitan dalam menentukan diksi pada tulisan puisinya. Sebagaimana pada puisi siswa sebagai berikut:

Semangat tegaklah seperti batu karang.

Keraskan segala usaha kita, jangan hanya suara kita.

Karena usaha tak menghianati hasil kita (P((2))

Berdasarkan puisi di atas pengelolaan diksi katanya masih kurang tepat karena siswa masih memasukkan dialek bahasa daerahnya. Hal ini terjadi karena siswa masih terbiasa menggunakan bahasa daerah sehingga terbawa kepenulisan puisinya. Padahal diksi merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan dalam penulisan puisi. Sebagaimana yang dikemukakan Kosasih bahwa diksi atau pilihan kata merupakan dasar atau inti pembangun puisi, sehingga diksi memiliki peran yang sangat penting dalam proses menulis puisi. Selain itu, menurut Waluyo (2003: 72) diksi merupakan kata-kata yang terdapat dalam puisi yang telah dipilih dan disusun oleh penyair dengan mempertimbangkan maknanya,

komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata-kata itu ditengah konteks kata lainnya dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi.

Berdasarkan pendapat di atas peneliti dapat simpulkan bahwa diksi merupakan hal yang sangat diutamakan dalam menulis sebuah puisi. Ketepatan penulis dalam pemilihan kata dapat menjadi kekuatan utama dalam puisi yang ditulisnya.

b. Pengimajinasian

Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa sudah mampu menggunakan pengimajinasian dalam puisi yang mereka tulis. Namun, pengimajinasian yang digunakan masih dalam taraf dasar, karena siswa pada jenjang Madrasah/SMA belum memiliki pengalaman yang lebih untuk menulis puisi yang tinggi akan imaji.

Matahari telah memancarkan sinar Membunuh malam yang sunyi Rasa lelah letih

Telah pergi menemani malam (P(4))

Berdasarkan penggalan pada puisi di atas, dapat dilihat bahwa puisi tersebut menggunakan pengimajinasian atau citra penglihatan ini terlihat dari kata

“matahari telah memancarkan sinar”. Pada puisi di atas masih pada taraf dasar.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sayuti bahwa pengimajinasian atau citraan adalah kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan gambaran-gambaran angan atau imajinasi. Pradopo (dalam Wiyatmi, 2006: 68) mengemukakan bahwa

citraan adalah gambaran-gambaran dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Jadi pengimajinasian atau citraan dalam puisi adalah gambaran angan yang terbentuk dan diekspresikan melalui media bahasa yang merupakan hasil pengalaman indra manusia.

2. Kata Konkret

Untuk membangkitkan imajinasi pembaca, kata-kata harus diperjelas. Jika penyair mahir memperkonkret kata-kata, maka seolah-olah pembaca melihat, mendengar atau merasakan apa yang dilukiskan penyair.

Berdasarkan semua hasil tulisan puisi siswa, secara keseluruhan siswa sudah mampu menggunakan kata konkret dalam puisinya. Sehingga pembaca sudah mampu membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan dalam setiap puisi yang ditulis. Dapat dilihat dari puisi siswa sebagai berikut:

Masa tetap berlanjut Rindu ini terbengkalai Kepadanya yang teduh Jauh dari risau

Aku di sini rindu Tak kuasa tahan bisu Berucap tapi semu

Aku hanya ingin bersua denganmu Walau hanya khayalan semu

(P(10))

Pada puisi di atas dalam setiap katanya bisa dikatakan sudah sangat konkret.

Ini dapat dibuktikan ketika puisi di atas dibaca. Seolah-olah pembaca melihat, mendengar atau merasakan apa yang dilukiskan penyair. Seperti yang telah

dikemukakan oleh Kosasih bahwa untuk membangkitkan imaji pembaca, kata-kata harus diperjelas. Selain itu Wicaksono (2014:25) mengungkapkan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca.

Dari beberapa pendapat di atas, peneliti dapat simpulkan bahwa jika penulis mahir memperkonkret kata-kata maka pembaca akan merasa seolah-olah dapat melihat, mendengar, atau merasakan apa yang lukiskan oleh penyair.

3. Bahasa Figuratif (Majas)

Berdasarkan hasil tulisan puisi siswa, peneliti mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa dari 18 jumlah siswa terdapat 72,2% siswa memiliki problematika dalam penggunaan bahasa figuratif. Problematika tersebut disebabkan karena adanya siswa yang kurang menyukai pembelajaran menulis puisi. Menulis puisi pada dasarnya harus didasari oleh keinginan seorang penulis, karena menulis puisi sangat membutuhkan daya khayal (imajinasi) yang tinggi, dan penulis memang dituntut untuk mampu menggunakan bahasa figuratif dalam tulisan puisinya. Sebagaimana contoh puisi siswa di bawah ini:

Ibu

Sembilan bulan kau mengandung Hingga aku dilahirkan

Kau mendidikku

Membesarkanku sampai sekarang (P(11))

Berdasarkan dari penggalan puisi di atas, dapat dilihat bahwa masih belum ada bahasa-bahasa figuratif yang terdapat di dalam puisi tersebut. Kata-kata yang digunakanpun merupakan kata-kata yang umum dipakai. Sehingga terlihat biasa saja. Sebagaimana Kosasih mengemukakan bahwa bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara membandingkan dengan benda atau kata lain. Bahasa figuratif atau bahasa kiasan yang digunakan oleh penyair memiliki peranan penting sebagai upaya penyair dalam menggandakan makna dalam sajaknya. Sayuti (2002:195) menyatakan bahwa bahasa kias dalam puisi berfungsi sebagai sarana pengedepanan sesuatu yang berdimensi jamak dalam bentuk yang sesingkat-singkatnya.

Sedangkan menurut Abrams (dalam Wiyatmi, 2006: 64) bahasa kias sebagai salah satu kepuitisan berfungsi agar sesuatu yang digambarkan dalam puisi menjadi jelas, hidup, intensif, dan menarik. Menurut Pradopo (dalam Suryaman, 2012: 50), mengungkapkan bahwa bahasa figuratif terdiri atas perbandingan/perumpamaan, metafora, personifikasi, hiperbola, metonimia, sinekdoki, dan allegori.

Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa figuratif adalah bahasa kias yang digunakan penyair dalam puisi yang ditulisnya yang memiliki peran penting agar puisi yang dihasilkan dapat lebih jelas, hidup, intensif, dan lebih menarik.

4. Rima

Berdasarkan hasil tulisan puisi, mengenai problematika siswa dalam menulis puisi, peneliti telah mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa dari 18 jumlah

siswa terdapat 83,3% siswa memiliki problematika dalam menggunakan rima.

Problematika tersebut disebabkan karena siswa belum terlalu memahami mengenai rima, sebagaimana diketahui rima adalah segala sesuatu berkaitan dengan teknik seorang penulis dalam menyusun kata pada tiap bait dan barisnya, sehingga ketika dibaca puisi akan menjadi sesuatu yang lebih indah untuk dibaca dan didengar. Pada saat wawancara siswa mengungkapkan bahwa mereka

Problematika tersebut disebabkan karena siswa belum terlalu memahami mengenai rima, sebagaimana diketahui rima adalah segala sesuatu berkaitan dengan teknik seorang penulis dalam menyusun kata pada tiap bait dan barisnya, sehingga ketika dibaca puisi akan menjadi sesuatu yang lebih indah untuk dibaca dan didengar. Pada saat wawancara siswa mengungkapkan bahwa mereka

Dokumen terkait