• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara. Teknik ini digunakan dengan harapan dapat memberikan informasi yang lebih dalam dari narasumber sehingga

38

mampu menjawab rumusan masalah pada penelitian ini. Wawancara yang dilakukan peneliti berkaitan dengan penerapan aspek-aspek penyelenggaraan sekolah inklusi. Namun, peneliti fokus pada satu aspek, yaitu aspek Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang diterapkan di empat (4) sekolah inklusi yang ada di wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Adapun hasil wawancara yang dilakukan sebagai berikut:

a. Narasumber 1 Kepala Sekolah

SD Mekar Jaya setiap tahunnya menyediakan kuota bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus. Kuota yang disediakan bagi siswa berkebutuhan khusus jumlahnya 2-3 siswa. Namun dalam penerapannya, sekolah sering menemui anak-anak yang terindikasi berkebutuhan khusus setelah mereka masuk di kelas 1. Kepala sekolah SD Mekar Jaya mengatakan “Jumlahnya itu untuk setiap tahunnya kan 2 ya mbak.. atau 3 begitu, tapi kan di dalam proses pembelajaran sering menemui anak-anak yang ternyata juga terindikasi ABK .. jadi jumlahnya lebih dari itu, disini itu malah per kelas biasanya 6 anak” (W2.KSa.12042019.1-3). Hal yang sama terjadi di SD Cinta Kasih. SD Cinta Kasih selalu menyediakan kuota bagi anak berkebutuhan khusus setidaknya 2 anak di setiap tahunnya. Kuota itu diprioritaskan bagi anak berkebutuhan khusus dengan tipe slow learner dan yang memiliki daya penglihatan ringan. Kepala sekolah SD Cinta Kasih mengatakan, “Iya yaitu sekitar dua anak, terutama ya yang...ya yang eee…slow learner dan daya penglihatan ringan tapi yang ringan kalau sedang gak nerima” (W1.KSb.09042019.1-2). SD Pagi Cerah dan SD Harapan Mulia juga menyediakan kuota yang sama di setiap tahunnya. Kepala sekolah SD Harapan Mulia menyampaikan bahwa sekolah menyediakan kuota bagi anak berkebutuhan khusus dengan jumlah 3 kuota.

39

Dalam proses PPDB, tidak ada tes khusus yang diberikan bagi siswa berkebutuhan khusus. Namun calon peserta didik wajib melampirkan hasil assesmen sebagai tanda bahwa calon peserta didik tersebut memiliki kebutuhan khusus. Kepala sekolah SD Mekar Jaya mengatakan, ”Ndak ada tes khusus mbak ... ee tapi nanti orangtua menyerahkan assesmen saja yang menandakan bahwa anak itu ABK” (W2.KSa.12042019.5-6). Kepala sekolah inklusi lainnya yaitu SD Cinta Kasih, SD Pagi Cerah, dan SD Harapan Mulia juga menyampaikan hal yang sama. Tidak ada tes khusus yang diberikan untuk calon peserta didik yang berkebutuhan khusus saat PPDB. Calon peserta didik cukup diminta untuk melampirkan hasil assesmen dalam formulir PPDB.

SD Mekar Jaya sampai saat ini belum mampu menerima semua tipe anak berkebutuhan khusus karena terhalang beberapa kendala. Salah satu kendala yang dialami oleh sekolah yaitu jumlah GPK yang kurang memadahi dan fasilitas yang ada di sekolah belum mendukung. Kepala sekolah SD Mekar Jaya mengatakan “disini cuma ada 4 sedangkan fasilitas disini juga belum terlalu mendukung untuk sekolah inklusi, jadi kami hanya menerima beberapa ABK saja. kalau yang seperti tunanetra gitu kami ndak bisa nerima mbak, tapi nanti kami arahkan untuk langsung ke SLB saja” (W2.KSa.12042019.8-12). Tipe anak berkebutuhan khusus yang diterima di sekolah saat ini yaitu lambat belajar, low vision, autis, ADHD, dan tunagrahita. Hal serupa juga terjadi di tiga sekolah inklusi lainnya. Kepala sekolah SD Pagi Cerah mengatakan “Eee..untuk sekolah kami, itu kami hanya menerima slow learner sama tunagrahita ya yang ringan. Serta low vision ringan”. (W3.KSc.30032019.7-8). Kepala sekolah SD Harapan Mulia juga menyampaikan bahwa saat ini tipe anak berkebutuhan khusus yang diterima adalah tipe anak berkebutuhan khusus yang tergolong ringan, “Slow lerner misalnya itu kan masih bisa di ini eeh diatasi di

40

kelas tapi spesial-spesial itu yang kayak autis, hiperaktif itu kan memang harus di batasi” (W4.KSd.12042019.16-17).

Hal penting yang harus diperhatikan ketika proses PPDB yaitu persyaratan yang harus dibawa oleh calon peserta didik. Kepala sekolah SD Mekar Jaya mengatakan, “Biasanya formulir PPDB, akte, sama foto.” (W1.KSa.12042019.1). Kepala sekolah dari SD Pagi Cerah menambahkan bahwa untuk siswa reguler persyaratan PPDB yaitu C1 (Kartu Keluarga), akte kelahiran dan hasil assesmen bagi siswa berkebutuhan khusus, “yang pertama hanya data pribadi anak, yang kedua seperti KK, akta terus surat keterangan dari pemerintah serta kalo anak itu berkebutuhan khusus yo asessmennya” (W3.KSc.30032019.11-12). Hasil assesmen tersebut wajib dilampirkan agar sekolah dapat memberikan penanganan yang tepat pada siswa berkebutuhan khusus tersebut. Menurut kepala sekolah SD Mekar Jaya, sekolah perlu membentuk panitia PPDB yang melibatkan Guru Pendamping Khusus (GPK), “nanti kan melihat yang ABK kira-kira mampu kita tangani atau tidak. Nanti kan kalau ada ABK yang seperti tunanetra kan ee .. anu langsung kita apa itu .. rujuk ke SLB saja.” (W2.KSa.12042019.19-21). Keterlibatan GPK tersebut untuk melihat dan menganalisa hasil assesmen yang dibawa oleh calon peserta didik. Sama seperti SD Mekar Jaya, kepala sekolah SD Cinta Kasih juga menyampaikan bahwa GPK perlu dilibatkan pada proses PPDB. Beliau mengatakan, “ya untuk mengetahui tingkat ke-abk-anya itu kan guru GPK yang berperan” (W1.KSb.09042019.8-9).

SD Mekar Jaya tidak menyiapkan fasilitas khusus dalam proses PPDB. Fasilitas yang ada seperti fasilitas pada umumnya yaitu menyediakan alat tulis untuk pengisian formulir PPDB. Sekolah sudah memiliki beberapa fasilitas untuk anak berkebutuhan khusus, tetapi belum terlalu memadahi. Beliau mengatakan, “Ndak ada fasiltasnya kalau pas PPDB, kalau di sekolah ini juga belum banyak

41

.. ee.. itu tapi disini sudah punya toilet untuk yang difabel” (W2.KSa.12042019.23-24). Kepala sekolah SD Cinta Kasih juga menyampaikan hal yang sama. Tidak ada fasilitas khusus selain alat tulis yang disediakan ketika pelaksanaan PPDB.

Sekolah memerlukan dana selama melaksanakan kegiatan PPDB. Dana yang digunakan untuk pelaksanaan PPDB berasal dari dana BOS. Kepala sekolah SD Mekar Jaya mengatakan “Dari BOS mbak .. ee sudah ada dari BOS.” (W2.KSa.12042019.28). Dana tersebut digunakan untuk biaya seluruh calon peserta didik yang reguler maupun yang berkebutuhan khusus. Kepala sekolah SD Mekar Jaya juga menyampaikan bahwa tidak ada biaya khusus yang dianggarkan untuk anak berkebutuhan khusus, tetapi orangtua siswa sendiri yang memberikan subsidi secara sukarela untuk kebutuhan di sekolah. Hal yang sama disampaikan oleh kepala sekolah SD Pagi Cerah, beliau mengatakan “Ee..untuk biaya PPDB itu sekolah tidak menarik apapun itu sudah ditekel BOS setiap anak itu PPDB kalo gak salah tahun kemaren Rp30.000 atau Rp35.000 itu sudah dicukupi oleh BOS” (W3.KSc.30032019.36-38). Kepala sekolah dua (2) sekolah inklusi lain yaitu SD Cinta Kasih dan SD Harapan Mulia juga mengungkapkan hal yang sama.

b. Narasumber 2

GPK (Guru Pendamping Khusus)

Menurut GPK di SD Mekar Jaya, sekolah menyediakan kuota bagi siswa berkebutuhan khusus dengan jumlah melebihi ketentuan dari dinas. GPK di SD Mekar Jaya mengatakan “kuota sebenarnya kalau dari dinas itu ditetapkan yang ini banget yang kebutuhannya yang kami ini tu cuma 2, tapi kami mempunyai kebijakan sendiri untuk menerima 3-4 siswa yang berkebutuhan khusus di setiap kelas”. (W1.GPKa.05042019.1-6). Menurut GPK di SD Mekar Jaya, kuota tersebut dapat berubah setelah sekolah mengadakan assesmen

42

yang dibantu dari dinas. GPK dari tiga sekolah inklusi lainnya juga menyampaikan hal yang sama. GPK dari SD Harapan Mulia menambahkan “Kalau PPDB sebetulnya begini mbak dari awal, dari awal itu kan ibuk kepala sekolah kan nanya .. bu mas mau berapa .. kan gitu.. dua buk waktu itu kan aku juga ngajar di kelas 1 aku bilang paling banyak 2 tapi kenyataannya yang belum assesmen kan banyak” (W3.GPKd.12042019.1-3). Di dalam pelaksanaan PPDB, GPK di SD Mekar Jaya mengatakan, “Untuk ABK tidak ada test khusus tapi dari orang tua harus membawa asessmen. Kalo tidak bawa hasil assesmen kami masukan ke yang reguler” (W1.GPKa.05042019.8-9). GPK di SD Cinta Kasih juga menyampaikan bahwa calon peserta didik berkebutuhan khusus, perlu membawa hasil assesmen. Beliau mengatakan, “tidak mbak, tapi kalau ada hasil tes IQ bisa dilampirkan” (W2.GPKb.11042019.9). Hasil tes IQ yang dimaksud adalah hasil assesmen. Jadi, ketika PPDB, calon peserta didik berkebutuhan khusus wajib membawa hasil assesmen sebagai tanda bahwa calo peserta didik tersebut berkebutuhan khusus. Selain hasil assessmen, calon peserta didik reguler maupun berkebutuhan khusus wajib membawa persyaratan lainnya. GPK di SD Mekar Jaya menambahkan, “C1, akte fotocopyan maksutnya sama asli, kalau C1 kopian, kemudian biasanya itu ee .. anak-anak sekolah yang tidak mampu membawa KMS, itu biasanya mereka membawa itu .. kemudian ada foto, dan hasil assesmen tersebut kalau yang berkebutuhan khusus kalau yang tidak ya tidak.” (W1.GPKa.05042019.12-15). Tiga sekolah inklusi lainnya yaitu SD Pagi Cerah, Cinta Kasih, dan SD Harapan Mulia juga menggunakan persyaratan yang sama sebagai syarat pendaftaran calon peserta didik baru.

Menurut GPK di SD Mekar Jaya, sekolah sudah membentuk panitia PPDB di setiap tahunnya. Beliau mengatakan “ketika PPDB

43

kami GPK selalu disertakan karna untuk nanti bagaimana tipe-tipe ABK ini apakah mampu ditangani atau tidak. Peran GPK biasanya kami lihat hasil asesmen kemudian analisa kemudian rembugan sesama GPK, guru kelas, kepsek” (W1.GPKa.05042019.17-20). Hal yang sama juga disampaikan oleh GPK di SD Cinta Kasih. Di SD Cinta Kasih, semua guru termasuk GPK dilibatkan menjadi panitia PPDB. Beliau mengatakan, “Iya, di tempat kita ada 3 GPK, nanti ya tadi itu mbak prosesnya, nanti disaring, nanti ada penyaringan juga kok mbak, tapi nggak ada sih tes-tesnya” (W2.GPKb.11042019.12).

Jumlah GPK di setiap sekolah tidak sama. SD Mekar Jaya memiliki 5 GPK dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. GPK di SD Mekar Jaya mengatakan, “Ada 5 GPK mbak yang di sekolah terus .. Kalau saya dari BK, sama Bu Kamboja, kemudian yang 1 dari Pendidikan Ekonomi, yang satu lagi itu .. ee ..MIPA mbak.. ada GPK yang dari ULD itu 1, seminggu sekali ke sekolah” (W1.GPKa.05042019.20-22). Dari kelima GPK yang ada, 1 GPK berasal dari latar belakang pendidikan inklusi, tetapi hanya datang ke sekolah setiap satu minggu sekali. Sedangkan, SD Cinta Kasih memiliki 3 GPK. Beberapa sekolah melibatkan GPK dalam pelaksanaan PPDB untuk membantu melakukan assesmen awal kepada calon peserta didik berkebutuhan khusus. GPK di SD Pagi Cerah mengatakan, “Saya dampingi aja kadang karena saya kan di dua tempat ya mbak di SLB sama disini. Kadang di SLB juga banyak kegiatan gitu. Untuk disini aja saya bantu cuma satu minggu satu kali” (W1.GPKc.29032019.27-29). Peran GPK di SD Pagi Cerah belum maksimal, karena jumlah GPK yang ada hanya 1.

Menurut Bu Mawar selaku GPK di SD Mekar Jaya, sampai saat ini sekolah belum bisa menerima semua tipe anak berkebutuhan khusus, “ABK yang ada disini paling banyak lambat belajar, kemudian tunagrahita, ada yang low vision tunadaksa, autis, dan ADHD” (W1.GPKa.05042019.10-12). Berbeda dengan SD Mekar

44

Jaya, GPK di SD Cinta Kasih menyampaikan bahwa pada dasarnya sekolah bersedia menerima semua tipe anak berkebutuhan khusus, namun hingga saat ini tipe anak berkebutuhan khusus yang ada baru slow learner. Menurut GPK di SD Harapan Mulia, sekolah juga belum bisa menerima semua tipe anak berkebutuhan khusus. Hal tersebut juga disebabkan karena kurangnya jumlah GPK yang ada di sekolah. Selain jumlah GPK yang kurang, sekolah tidak bisa menerima tipe anak berkebutuhan khusus yang berat seperti tunanetra dan tunarungu karena fasilitas yang dimiliki untuk menangani tipe ABK tersebut belum memadahi. Meskipun fasilitas yang dimiliki belum memadahi, SD Mekar Jaya berusaha untuk menyempurnakan fasilitas yang ada dengan cara mengajukan proposal. Bu Mawar menambahkan “Kami sudah mengajukan beberapa proposal gitu ya mbak.. kalau misalnya ada yang mau dibeli sesuatu gitu kan nggak bisa langsung beli gitu.” (W1.GPKa.05042019.30-32).

Untuk fasilitas ketika PPDB, Bu Mawar menambahkan, “Fasilitas untuk PPDB paling kami ini saja sih kadang menyediakan buku-buku yang menarik untuk anak, apakah tertarik atau tidak belajar di sekolah” (W1.GPKa.05042019.24-25). Guru Pendamping Khusus di SD Pagi Cerah menambahkan fasilitas yang ada ketika PPDB, beliau mengatakan “Sekolah cuma menyiapkan formulir, formulir pendaftaran, menyediakan alatnya itu timbangan sama yang untuk tinggi badan itu loh mbak” (W1.GPKc.29032019.33-34). Tidak ada fasilitas khusus yang disediakan oleh pihak sekolah untuk menunjang pelaksanaan PPDB. Untuk sumber biaya yang digunakan dalam pelaksanaan PPDB, semua GPK di setiap sekolah yang diteliti menyampaikan bahwa biaya pelaksanaan PPDB diperoleh dari BOS.

c. Narasumber 3 Guru Kelas Bawah

45

Ibu Dahlia selaku guru kelas 1 di SD Mekar jaya mengatakan “Kalau aturannya itu kan 2 apa 3 gitu tapi disini kan banyak ya mbak yang mau masuk itu. Jadi ya lebih dari 2, di kelas 1 itu awalnya 2 tapi seiring berjalannya waktu kok disuruh nulis nggak bisa, diajak komunikasi nggak nyambung .. jadi disarankan untuk assesmen. sekarang itu ada 5 siswa yang ABK” (W3.GK1a.12042019.3-6). Pada proses PPDB, sekolah memang menerapkan kebijakan yaitu menerima maksimal 3 siswa berkebutuhan khusus. Namun, saat KBM guru sering menjumpai siswa yang terindikasi berkebutuhan khusus. Siswa yang terindikasi tersebut selanjutnya diassesmen oleh pihak sekolah yang dibantu oleh dinas sehingga dalam satu kelas sekolah memiliki lebih dari 2 siswa berkebutuhan khusus. Tiga sekolah inklusi yang lain juga mengalami kendala yang sama dalam memberi kuota bagi siswa berkebutuhan khusus. SD Pagi Cerah menerima lebih dari 2 siswa berkebutuhan khusus dengan mempertimbangkan rasa kemanusiaan, “Sebenernya itu kuota itu harusnya hanya 2. Kalo di SD SD yang sudah inklusi itu cuma 2. Tapi kalo di sini belum bisa mbak. Rasa kemanusiaannya itu loh mbak hehe” (W2.GK2c.29032019.21-23). SD Cinta Kasih juga menyediakan kuota bagi calon peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi menurut guru kelas 1 di SD Cinta Kasih jumlah kuota yang disediakan tidak menentu, “Kalau itu kurang pasti mbak, soalnya kan kita juga gak boleh keliebihan dan kekurangan. Tapi kalau ada yang mendaftar pasti ada kuotanya mbak” (W3.GK1b.09042019.2-4).

Tidak ada tes khusus ketika PPDB untuk ABK, tetapi orangtua wajib menyerahkan hasil assesmen. Jika siswa berkebutuhan khusus belum memiliki assesmen, sekolah menyarankan orangtua untuk melakukan assesmen di puskemas ataupun lembaga-lembaga inklusi lainnya, “Bukan testlah namanya tapi harus punya asesmen, kalau belum disuruh mencari dari sekolah menyarankan kalau ini berkebutuhan terus dicari asesmen” (W3.GK1a.12042019.7-9), kata

46

Bu Dahlia selaku guru kelas 1 di SD Mekar Jaya. Untuk tipe anak berkebutuhan khusus yang diterima, SD Mekar Jaya hanya menerima beberapa tipe saja dengan kategori ABK ringan. Hal yang serupa juga terjadi di SD Pagi Cerah. Salah satu guru kelas bawah di SD Pagi Cerah mengatakan, “Sebenarnya iya tapi kalo yang selama ini yang kami terima itu cuma yg slow learner, tuna daksa ringan, kemaren juga sempet yang tidak punya telinga tapi masih bisa mendengar tapi kebetulan pindah rumah jadi dia juga pindah. Terus kemudian yang dulu parah sekali itu yg IQ nya Cuma di bawah 70. Terus kemudian yang hiperaktif juga ada. Kalau yang low vision parah juga ada tapi udah lulus.” (W2.GK2c.29032019.40-47). Tipe anak berkebutuhan khusus seperti tunanetra dan tunarungu juga belum bisa diterima di SD Mekar Jaya karena sekolah belum memiliki fasilitas yang memadahi, “Kalau disini itu juga belum banyak mbak, makane kami itu kan belum anu.. istilahnya belum berani gitu lho kalau nerima ABK yang seperti tunanetra gitu kan karena belum ada fasilitasnya”. (W3.GK1a.12042019.19-20). Fasilitas yang kurang memadahi tersebut juga disampaikan oleh salah satu guru kelas bawah di SD Pagi Cerah, beliau mengatakan, “Kalo misalnya ada yang tuna netra aja kita gak bisa menerima. Karena fasilitas undak-undakan nggak ada terus braille juga belum ada yang menguasai to” (W2.GK2c.29032019.7-9). SD Cinta Kasih juga belum bisa menerima semua tipe anak berkebutuhan khusus karena fasilitas yang dimiliki tidak memenuhi. Hal ini disampaikan guru kelas bawah, “Sementara kita belum, untuk berkebutuhan khusus hanya untuk yang memakai kursi roda” (W3.GK1b.09042019.31-32).

Tidak banyak perbedaan untuk syarat-syarat yang harus dilengkapi calon peserta didik reguler dan berkebutuhan khusus. Untuk calon peserta didik reguler Bu Dahlia guru kelas bawah di SD Mekar Jaya mengatakan “Ya itu kan yang pasti formulir.. ee .. anu foto, akte lahir, KK. Kalau yang ABK ya pasti bawa hasil assesmen

47

gitu lho mbak” (W3.GK1a.12042019.13-14). Hal serupa juga diungkapkan oleh guru kelas bawah di SD Pagi Cerah, yaitu “Ya cuma itu yang jelas cuma akte sama KK to sekarang yang diperlukan cuma itu seperti yang lain” (W2.GK2c.29032019.58-59). Menurut guru kelas bawah di SD Pagi Cerah, GPK perlu dilibatkan dalam pelaksanaan PPDB. Beliau mengatakan, “Kalo peran GPK nya itu paling gak secara kan biasanya anaknya kan disuruh datang disuruh ikut nah dia yang ngajak ngobrol, jadi ngecek apakah anak itu e nyambung gak kalo diajak ngobrol, kayak gitu-gitu jadi ya proses identifikasi secara gak langsung lah gitu” (W2.GK2c.29032019.64-67). Sama seperti di SD Pagi Cerah, Bu Dahlia selaku guru kelas bawah di SD Mekar Jaya juga menyampaikan bahwa GPK perlu dilibatkan dalam pelaksanaan PPDB. Keterlibatan GPK tersebut untuk melihat dan menganalisis jenis kebutuhan anak yang bisa ditangani di sekolah.

Untuk biaya PPDB, Bu Dahlia mengatakan “Biasanya dianggarke dari BOS sama BOSDA itu sudah ada sendiri.” (W3.GK1a.12042019.21). Biaya tersebut digunakan untuk biaya calon peserta didik reguler maupun yang berkebutuhan khusus. Sekolah tidak memungut biaya sepeserpun dari calon peserta didik ketika pelaksanaan PPDB. Hal itu diungkapkan oleh guru kelas bawah di SD Harapan Mulia dengan mengatakan, “Oh tidak ada mbak kan sekarang tanpa di pungut biaya sepeserpun dari siswa selama siswa sekolah juga tidak boleh di pungut biaya apapun.” (W1.GK2d.28032019.30-31). Meskipun sekolah tidak memungut biaya dari calon peserta didik, namun peserta didik berkebutuhan khusus mendapatkan beasiswa selama di sekolah. Guru kelas bawah di SD Pagi Cerah mengatakan, “Itu yang dari provinsi, beasiswa. Kemudian yang dari BOSS seperti yang reguler ada. Iya tapi kalo dari provinsi khusus untuk ABK yang bener-bener masuk ABK” (W2.GK2c.29032019.77). Beasiswa yang diperoleh digunakan untuk

48

keperluan sekolah selama satu tahun, “Beasiswanya itu sekarang pengajuan 1.200.000 per anak untuk 1 tahun itu bisa dibelikan ATK, seragam, LKS, kemudian jam belajar atau les. Itu tapi kalo yang GPK dari provinsi gak boleh dikasih transportasi tapi kalo GPK yang dari kelas itu bisa untuk itu kemudian untuk membeli alat itu misalnya dia membutuhkan apa dia perlu apa. Kalo misalnya yang low vision itu kita butuh kacamata, senter kita butuh, lup itu” (W2.GKc.29032019.80-85).

d. Narasumber 4 Guru Kelas Atas

Salah satu guru kelas atas di SD Cinta Kasih mengatakan, “Kuota dinas itu 28 siswa untuk ABK itu paling tidak 10% karena pendamping ABK hanya guru kelas untuk GPK belum mencukupi” (W4.GK4b.11042019.1-2). Lain halnya dengan SD Cinta Kasih, salah satu guru kelas atas di SD Harapan Mulia menyampaikan bahwa kuota yang ada di SD Harapan Mulia sering melebihi batas yang ditentukan. Beliau mengatakan, “Kalo aturannya kan 2 kursi tetapi karena disini tu baik, satu kelas tu 2 kursi, disini tu baik buktinya apa kelas saya tu paling sedikit jumlahnya kalo kelas lain banyak, jumlah siswa nya ya maksud nya. Kelas saya tu 9 anak kalo yang lain 20 ke atas. Kelas saya tu terakhir, kelas saya terakhir yang paling sedikit itu yang sudah terasesmen itu 4 orang ABK jelas, yang masih tanda tanya 2 orang, bayangkan 9 anak 6 orang ABK” (W2.GK6d.02042019.2-9). Untuk tipe anak berkebutuhan khusus yang diterima, SD Harapan Mulia mempunyai kriteria tersendiri agar sekolah dapat memilah tipe anak berkebutuhan khusus seperti apa yang akan diterima. Guru kelas atas mengatakan,”Ya ada kriteria nya, kalo kriterianya di sini kalo untuk tunawicara, tunarungu kan kita belum bisa, ya kan karna kita belum bisa menangani, ya ada kriterianya harus dibedakan” (W2.GK6d.02042019.14-15). Berbeda

49

dengan SD Harapan Mulia, guru kelas atas di SD Cinta Kasih mengatakan, “Tipe ABK yang diterima sekolah selama ini baru slow learner” (W4.GK4b.11042019.3). Tidak semua tipe anak berkebutuhan khusus dapat diterima di SD Cinta Kasih karena fasilitas yang ada di sekolah belum memenuhi, “Untuk ABK belum ada fasilitas khusus yang disediakan, karena sekolah baru sekolah inklusi rintisan” (W4.GK4b.11042019.9-10). Hal yang sama juga disampaikan oleh guru kelas atas di SD Harapan Mulia. SD Harapan Mulia belum memiliki fasilitas khusus yang digunakan untuk membantu anak berkebutuhan khusus, “Kalo untuk fasilitas kurang

Dokumen terkait