• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Lokasi Penelitian a. Letak dan geografis

Wilayah Kecamatan Lambu dengan luas 404,25 km2 terbagi dalam 14 Desa dan terbagi lagi yaitu 12 desa lama dan 2 desa pemekaran, dimana desa terluas adalah desa Nggelu dan yang terkecil adalah desa Kaleo. Sebagai pusat pemerintah kecamatan Lambu, desa Sumi berada pada jarak 52 km dari ibukota Kabupaten Bima dengan ketinggian 18 meter di atas permukaan laut. Diantara 14 desa, desa Hidirasa merupakan desa dengan jarak terjauh dari ibukota kecamatan.

Wilayah Kecamatan Lambu berbatasan dengan Kecamatan Sape dan Kecamatan Wawo. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.

Batas-Batas Kecamatan

Sebelah Utara : Kecamatan Sape Sebelah Selatan : Samudera Hindia Sebelah Barat : Kecamatan Wawo Sebelah Timur : Selat Sape

Luas Wilayah Kecamatan Lambu dengan luas 404,25 Km2 dan terdiri 14 Desa sedangkan Ketinggian Ibukota Kecamatan Lambu dari Permukaan Laut 18 mdpl.

Tabel 2. Luas Wilayah Dirinci Perdesa

No Desa Luas Wilayah (Km²) Persentase

1 Mangge 45,16 11,17

2 Nggelu 95,77 23,69

3 Lambu 49,03 12,13

4 Soro 5,91 1,46

5 Sumi 76,00 18,80

6 Rato 22,08 5,46

7 Lanta 11,18 2,77

8 Simpasai 12,03 2,98

9 Kaleo 2,70 0,67

10 Hidirasa 44,00 10,88

11 Melayu 6,21 1,54

12 Lanta Barat 23,13 5,72

13 Monta Baru 2,92 0,72

14 Sangga 8,13 2,01

Jumlah 404,25 100,00

Sumber: Kecamatan Lambu dalam Angka, 2019

b. Jumlah Penduduk

Berdasarkan proyeksi penduduk Kecamatan Lambu di tahun 2018 sebanyak 37.765 jiwa dimana 18.924 jiwa adalah penduduk perempuan.

Perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan dapat dilihat dari angka rasio jenis kelamin yang menunjukkan angka rata-rata

kurang dari 100. Ini berarti penduduk di kecamatan Lambu lebih didominasi oleh penduduk perempuan.

Di kaitkan dengan luas wilayahnya, kecamatan Lambu mempunyai kepadatan penduduk sebanyak 96 jiwa per kilometer persegi. Sebagai ibu kota kecamatan, desa Sumi memiliki 43 jiwa per kilometer persegi.

Sementara itu jumlah kelahiran pada tahun 2018 mencapai 799 jiwa, sedangkan jumlah kematiannya mencapai196 jiwa, dimana 10 jiwa diantarannya adalah bayi.

Jumlah rumah tangga pada tahun 2018 sebanyak 8.698 rumah tangga. Sehingga dari 37.765 jiwa penduduk yang ada, ratarata setiap rumah tangga terdapat 4 orang anggota rumah tangga.

Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Per Desa

Sumber: Kecamatan Lambu dalam Angka, 2019

c. Sektor Pertanian

Tanah sawah di Kecamatan Lambu pada umumnya merupakan tanah irigasi setengah teknis, akan tetapi ada juga yang berintegrasi sederhana dari tandah hujan. Dari tanah sawah yang ada di Kecamatan Lambu, pada Tahun 2018 telah memproduksi bawang merah mencapai 44.474,25 ton per hektar pada padi sawah hingga mencapai 5,32 ton per hektar, sedangkan padi lading mencapai 3,63 ton per hektar. Rata-rata produksi untuk masing-masing komoditi palawija adalah jagung sebesar

6,45 ton per hektar, kacang tanah sebesar 1,3 ton per hektar dan kedelai sebesar 10,76 ton per hektar.

Seperti daerah-daerah lain di wilayah Kabupaten Bima, ternak yang ada di wilayah Kecamatan Lambu adalah kuda, sapi, kerbau, kambing, dan ternak unggas seperti ayam buras dan itik. Untuk ternak besar, jumlah terbanyak adalah sapi yang mencapai 6.275 ekor, sementara untuk ternak kecil dan ternak unggas, jumlah terbesar masing-masing adalah kambing dan ayam buras.

Tabel 4. Jumlah penduduk yang bekerja disektor pertanian dirinci per Desa Tahun 2018

Sumber: Kecamatan Lambu dalam Angka, 2019

Tabel 5. Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Dirinci Per Desa Tahun 2018

Desa Tanaman Pangan

Hortikultura Perkebunan Peternaka n

Perikanan Kehutanan Mangge

Sumber: Kecamatan Lambu dalam Angka, 2019 2. Deskripsi Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada Kecamatan Lambu Kabupaten Bima ini dan berdasarkan pula data penduduk yang diambil bahwa masyarakat petani di Kecamatan Lambu ini tidak semua petani bawang merah, baik itu dilihat dari per Kecamatan maupun per Desa. Sehingga pada penelitian ini memilih Desa yang mayoritasnya petani bawang merah dan juga memilih lokasi yang mampu dijangkau untuk dijadikan sampel. Maka dari itu pada penelitian ini mengambil Desa

Rato, Sumi dan Kaleo, dikarenakan Desa tersebut merupakan Desa yang mayoritasnya petani bawang merah dan lokasi mudah dijangkau.

1) Identitas responden

Pada penelitian ini terdapat 60 responden petani, sekaligus petani bawang merah yang berasal dari Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

Dari identitas responden tersebut bisa dilihat dari segi umur, tingkat pendidikan, luas lahan dan jumlah tanggungan keluarga.

a. Umur

Kemampuan dan kondisi seseorang secara fisik itu adalah pengaruh dari segi umur yang memungkinkan menjadi pertimbangan dalam memakai tenaga kerja. Dari hasil pengumpuln data yang didapat dari petani responden bawang merah menunjukkn bahwa umur responden bervariasi mulai dari 17-59 Tahun. Komposisi umur responden dapat disajikan pada Tabel 6 tersebut.

Tabel 6. Kisaran distribusi umur petani responden di Desa Rato, Sumi dan Kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

No Umur Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 17 – 22 1 1,67

2 23 – 28 12 20

3 29 – 34 12 20

4 35 – 40 17 28,33

5 41 – 46 5 8,33

6 47 – 52 6 10

7 53 – 58 6 10

>58 1 1,67

Total 60 100%

Sumber: Data primer setelah diolah, 2021

Dari Tabel 6 menunjukkan bahwa menurut kelompok umur, petani responden didominasi oleh kelompok umr 35-40 Tahun dimana terdiri dari 17 orang dari 60 petani responden. Berdasarkan hasil penelitian lapangan bahwa umur yang paling muda adalah 17 Tahun sedangkan umur yang paling tua adalah 59 Tahun. Dengan begitu bisa diketahui bahwa umur petani responden yang ada di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima adalah umur yang produktif untuk menjadi tenaga kerja. Di Indonesia memiliki batas usia kerja yang berlaku adalah pada umur 15-64 Tahun.

b. Pendidikan

Tujuan dari pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas manusia yang terampil serta cerdas dengan diikuti rasa percaya diri serta sikap dan perilaku yang kreatif dan inovasi. Secara umum pendidikan formal petani responden adalah pendidikan yang dilaksanakan disekolah.

Dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Tingkat pendidikan petani responden bawang merah di Desa Rato,Sumi dan Kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

No Tingkat pendidikan

Jumlah (orang) Persentase (%)

1 Tidak tamat SD 7 11,66

2 SD 13 21,67

3 SLTP 15 25

4 SLTA 13 21,67

5 S1 12 20

Total 60 100%

Sumber: Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 7 menunjukkan bahwa persentase tertinggi pada tingkat pendidikan yaitu petani responden tingkat pendidikan SLTP dengan

jumlah 15 orang persentase sebesar 25%, tingkat SD dan SLTA dengan jumlah sama-sama 13 orang persentasenya sebesar 21,67%, petani responden tingkat S1 sebanyak 12 orang persentasenya 20% sedangkan petani responden yang tida tamat SD adalah sebanyak 7 orang persentasenya 11,66%.

c. Pengalaman berusahatani

Pengalaman usahatani dapat dilihat dari lamanya seorang petani dalam mengelola usahataninya, semakin lama petani responden mengelola usahataninya maka akan semakin banyak pengalaman yang mereka miliki. Pengalaman usahatani dari petani responden sangat menentukan tingkat pemahaman atau kualitas dari petani terkait dengan teknik usahatani system yang terintegrasi. Secara rinci, pengalaman usahatani bisa dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Pengalaman usahatani petani responden bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo Kecamatn Lambu Kabupaten Bima.

No Pengalaman Usahatani (Tahun)

Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 5 – 9 2 3,33

Sumber : Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 8 menunjukkan bahwa pengalaman usahatani petani responden yang paling tinggi adalah 20-24 Tahun terdapat 16 orang persentasenya 26,67% dan yang terkecil adalah >40 Tahun terdapat 1 orang persentasenya 3,33%. Dari hal tersebut, menunjukkan bahwa pengalaman usahatani petani bawang merah di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima tergolong sudah lama. Pengalaman yang dimiliki oleh petani ini sesungguhnya dapat digunakan sebagai peluang kearah efisiensi dalam penggunaan input-input produksi yang mereka gunakan.

Karena sebagian besar petani dalam melaksanakan kegiatan usahataninya didasarkan pada pengalaman empiris yang diperoleh di lahannya selama beberapa periode.

d. Luas lahan

Luas lahan pertanian adalah salah satu bagian dari sumberdaya lahan. Lahan merupakan tempat untuk melakukan kegiatan dalam

bercocok tanam serta menghasilkan produk pertanian yang diinginkan oleh petani dengan hasil yang dijual oleh konsumen.

Tabel 9. Luas lahan petani responden bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

No Luas Lahan Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 0,10 – 0,20 19 31,67

2 0,21 – 0,31 19 31,67

3 0,32 – 0,42 7 11,66

4 0,43 – 0,53 8 13,33

5 0,54 – 0,64 0 0

6 0,65 – 0,75 5 8,33

7 0,76 – 0,86 1 1,67

>0,86 1 1,67

60 100%

Sumber: Data primer setelah dioleh, 2021

Tabel 9 menunjukkan bahwa ada 19 orang petani mengatakan bahwa luas lahan adalah termasuk kriteria sempit dimana antara 0,10-0,20 dan 0,21-0,31 ada 15 petani yang mengatakan kriteria luas lahan itu cukup luas dan terdapat 7 petani yang mengatakan bahwa luas lahannya sempit.

e. Jumlah tanggungan keluarga

Jumlah tanggungan keluarga adalah semua orang yang tinggal dalam satu rumah. Banyak dari petani yang menggunakan tenaga kerja dari keluarga sendiri. Hal tersebut bisa dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Jumlah tanggungan keluarga petani responden bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

No Tanggungan keluarga

Jumlah (orang) Persentase (%)

1 1 – 2 21 35

2 3 – 4 30 50

3 5 – 6 9 15

Jumlah 60 100%

Sumber: Data primer setelah diolah, 2021

Tabel 10 menunjukkan bahwa tanggungan keluarga, sebanyak 21 orang keluarga memiliki tanggungan sebanyak 1-2 orang, 30 orang kepala keluarga memiliki tanggungan sebanyak 3-4 orang dan 9 kepala keluarga memiliki tanggungan keluarga sebanyak 5-6 orang.

3. Pengujian Hipotesis

Dari tabel 13 dapat disimpulkan hasil estimasi determinan bahwa terdapat variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap produksi usahatani bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima, variabel independen tersebut adalah tenaga kerja, hasil estimasi yang berdasarkan tabel 13 terlihat bahwa nilai t-hitung untuk variabel (X5) tenaga kerja sebesr 4,4433 dan nilai probabilitas F-statistk sebesar 0,000 yang lebih kecil dari tingkat kesalahan 0,01 (α=1%) yang berarti bahwa tenaga kerja sangat berpengaruh signifikan dan positif terhadap produksi usahatani bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima pada taraf kepercayaan 99%.

a. Pengujian secara bersama (uji F)

Uji F-statistik adalah agar dapat mengetahui pengaruh variabel bebas (indpenden) tehadap variabel terkait (dependen) secara bersama-sama (simultan). Analisis tersebut dilakukan dengan melihat nilai probabilitas F-statistik pada tabel estimasi dengan memakai program eviews 10. Pada tabel 13 diketahui yang berdasarkan hasil estimasi bahwa nilai F-statistik sebesar 120,428 dan nilai probabilitas (F-statistik) sebanyak 0,000. Sehingga dapat diketahui bahwa variabel independen (benih, luas lahan, pupuk, tenaga kerja, dan pestisida) secara bersama-sama mempengaruhi produksi usahatani bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima secara signifikan pada taraf kepercayaan sebesar 99% (α = 1%).

b. Uji koefisien determinan (R2)

R2 (Koefisien determinan) mencerminkan banyaknya pengaruh perubahan variabel-variabel bebas dalam menjalankan perubahan-perubahan pada variabel terkait secara bersama-sama dengan tujuan supaya dapat mengukur kebenaran dan kebaikan hubungan antara variabel pada model yang dipakai. Dari banyaknya nilai koefisien determinan ialah antar 0 hingga 1 90<R2<1, yang dimana nilai koefisien mendekati 1, jadi model tersebut dikatakan baik karena semakin dekat hubungannya antara variabel bebas dengan variabel terkait.

Berdasarkan Tabel 13 pada hasil estimasi bahwa R2 (koefisien determinan) sebesar 0,864 yang bermakna bahwa variabel independen (variabel bebas) terdapat luas lahan, benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja mampu menjelaskan variasi total produksi usahatani bawang merah sebanyak 86% dan sisanya sebanyak 14% dipengaruhi oleh variabel yang tidak diteliti.

Dokumen terkait