• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Usahatani Bawang Merah

Deskripsi penelitian sesuai dengan tujuan pertama yaitu untuk menganalisis usahatani bawang merah musim tanam I dan musim tanam II di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima, maka data yang didapat dari pengisian angket tersebut selanjutya nanti akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Analisis tersebut bertujuan untuk bisa memberikan penjelasan dari masing-masing variabel.

Tabel 11. Rata-rata penggunaan faktor-faktor produksi per hektar usahatani bawang merah musim tanam I (MT I) dan musim tanam II (MT II) di Desa Rato, Sumi dan Kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

No Sarana Produksi Jumlah (Kg)/ha Total (kg) Musim Sumber: Data Primer setelah diolah, 2021

1) Benih

Pada penggunaan benih, umumnya petani. Rata-rata penggunaan benih petani responden di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima pada

benih di simpan maka akan semakin banyak yang susut, akan tetapi jika cocok dengan perawatan yang dilakukan oleh petani dan benih tersebut berasal dari benih yang berkualitas maka benih tidak terlalu mengalami susut bahkan tidak ada sama sekali.

Responden biasanya sebelum musim tanam tiba ada yang mempersiapkan benih dari hasil tanam sebelumnya sewalaupun akan dibeli lagi untuk penambahan benihnya. Untuk petani kelas bawah, biasanya akan mencari orang yang bersedia meminjamkan benih bawangnya untuk ditanam yang kemudian ketika masa panen akan di bayar dan untuk petani kelas atas biasanya akan membeli benih dari petani lain yang ada di Kecamatan Lambu bahkan dari pedagang bawang merah yang dari luar Daerah.

Penggunaan varietas bawang merah di lokasi penelitian ini adalah menggunakan varietas super Philip dan keto monca. Varietas tersebut sudah terbukti cocok dengan keadaan tanah yang ada dilokasi penelitian.

Varietas super Philip tersebut adalah benih yang berasal dari daerah ncera dan ngali yang dimana merupakan daerah yang ada di Kabupaten Bima sedangkan varietas keto monca adalah varietas asli dari Kecamatan Lambu itu sendiri, namun sampai sekarang varietas tersebut sudah kurang digunakan karena petani lebih suka dengan varietas super Philip.

Selaras dengan teori (Zainal, 2004) bahwa semakin unggul benih komoditas pertanian, semakin tinggi produksi pertanian yang akan

dicapai. Maka pemilihan benih unggul menentukan hasil produksi dengan kualitas yang baik dan terjamin.

2) Pupuk

Pupuk anorganik/pupuk kimia yang banyak digunakan oleh petani di musim tanam I pada umumnya banyak menggunakan pupuk Urea pada sehingga mencapai 205,83, KCL mencapai 65,278, ZA mencapai 62,5 dan NPK mencapai 60kg. Berbeda dengan musim tanam II pada umumnya sedikit menggunakan pupuk dibandingkan dengan musim tanam I, penggunaan pupuk Urea mencapai 150, KCL mencapai 53,57, ZA mencapai 25 dan NPK sebanyak 58. Hal ini dikarenakan bahwa pada musim hujan (MT I) cuaca yang kurang mendukung sehingga sangat ditakutkan akan munculnya penyakit pada bawang merah sehingga akan banyak pupuk yang diberi sedangkan pada musim kemarau (MT II) kurang akan penyakit pada bawang merah, para petani tidak terlalu kewalahan dalam berusahatani bawang merah pada musim tersebut. Petani melakukan pemupukan 4 kali dalam musim tanam I sedangkan pada musim tanam II sebanyak 3 kali. Pupuk susulan pertama diberikan pada umur 10-15 hari setelah tanam dengan menggunakan pupuk. Pemupukan susulan kedua diberikan pada umur 30 hari setelah tanam pemupukan ketiga diberikan pada saat tanaman berumur 45 hari setelah tanam. Cara pemupukan dilakukan dengan mencampurkan setiap kombinasi berbagai jenis pupuk kemudian pupuk ditaburkan/ditebar pada tanaman bawang merah. Pemupukan merupakan kegiatan dalam usahatani yang bertujuan

untuk memenuhi kebutuhan zat hara bagi tanaman yang kurang tersedia didalam tanah. Jika melihat kondisi di lapangan bagus, maka tak jarang petani bawang merah di lokasi penelitian tersebut melakukan pemupukan lebih dari empat kali pada musim tanam I agar memperoleh hasil yang meningkat/maksimal. Hal inilah yang mengakibatkan pemakaian pupuk petani meningkat.

3) Pestisida

Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan oleh petani bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo yang dilakukan untuk menguragi kerugian yang diakibatkan adanya serangan hama/penyakit.

Kegiatan ini dikondisikan dengan kondisi hama/penyakit. Dilokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia yang terdiri dari Gordon, dumil, remazole, manzate, amistartop, antracol, green tonik, pil gibro, blanser, oblivion, dupont preza, dupont lanate, gandasil B dan gandasil D. Petani bawang merah dalam menggunakan pestisida sangat bervariasi, rata-rata penggunaan pestisida oleh petani di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima pada musim tanam I sebanyak 9,33kg sedangkan penggunaan pestisida pada musim tanam II sebanyak 4,96kg.

Semakin meningkatnya penggunaan pestisida tanpa memperdulikan ambang batas tentunya berdampak negatif. Karena selain akan meningkatkan biaya produksi juga akan mengancam keberadaan musuh alami bahkan meningkatkan resistensi hama dan penyakit. Dari 60 orang responden tersebut lebih banyak menggunakan pestisida pada saat

musim hujan atau musim tanam I dibanding dengan musim tanam II, hal ini terjadi karena cuaca pada saat musim tanam I yang kurang mendukung sehingga petani bawang merah memerlukan penggunaan pestisida yang lebih banyak bahkan petani menggunakan pestisida setiap hari. Namun jika kelebihan menggunakan pestisida maka akan berdampak buruk pada produksi bawang merah bahkan bisa menjadi menurun, hal tersebut selaras dengan teori yang menyatakan bahwa jika terjadi kesalahan dalam pemakaian pestisida baik dari cara maupun dari komposisi maka akan dapat menyebabkan kerugian bagi petani, kerugian tersebut antara lain rusaknya komoditas pertanian, pencemaran linggkungan, keracunan yg bisa mengakibatkan kematian pada hewan peliharaan dan manusia (Onibala, 2017). Pada musim penghujan biasa akan muncul penyakit busuk pada batang hingga ke umbi bawang merah bahkan sangat rentan akan hama ulat sehingga perlakuan pestisida harus. Hasil kajian Ameriana (2008) tentang perilaku petani dalam menggunakan pestisida kimiawi dapat disimpulkan bahwa: (a) semakin tinggi persepsi petani terhadap risiko maka semakin banyak kuan titas pestisida kimia yang di pakai, (b) semakin rendah ketahanan suatu farietas terhadap serangan OPT maka semakin tinggi kuantitas pestisida kimia yang digunakan oleh petani dan (c) semakin rendah penggetahuan petani terhadap bahaya pestisida maka semakin tinggi pestisida yang di gunakan.

4) Tenaga kerja (HOK)

Alokasi tenaga kerja mencakup tenaga kerja luar keluarg/tenaga kerja upahan (buruh) serta tenaga kerja dalam keluarga. Pada penelitian ini diperoleh jumlah rata-rata penggunaan tenaga kerja pada usahatani bawang merah pada musim tanam I sebanyak 40 HOK dan pada musim tanam II sebanyak 56,967 HOK. Dalam pengolahan lahan, penggunaan tenaga kerja ternak maupun manusia, ketika semakin langkah ditemukan dan semua petani responden di Kecamatan Lambu ini memakai tenaga mekanis yang berupa traktor roda dua milik petani lain bahkan ada sebagian dari petani yang memiliki traktor sendiri.

Penyortiran Benih yang dilakukan oleh petani responden bawang merah di kecamatan Lambu ini adalah sebagian besar melakukan secara gotong royong oleh istri beserta anak-anak perempuan mereka sesama petani bawang merah. Petani di Kecamatan Lambu khususnya di Desa Rato, Sumi, dan Desa Kaleo ini masih kental dengan sistem gotong royong terutama pada penyortiran benih. Jadi hampir seluruh responden bukan hanya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga namun juga menggunakan tenaga kerja luar keluarga bahkan lebih banyak tenaga kerja diluar keluarga dibanding dengan dalam keluarga.

Begitu juga halnya penanaman, kegiatan penanaman dominan di kerjakan oleh tenaga kerja luar keluarga yang diperhitungkan berdasarkan luas lahan tanamnya. Penggunaan tenaga kerja pada usahatani bawang

merah ini hampir seluruh diambil dari tenaga kerja yang ada pada desa itu sendiri dan ada juga sebagian dari petani yang menggunakan tenaga kerja di luar Desa karena ketika musim tanam mulai tiba biasa para petani akan mengalami kelangkaan tenaga kerja jadi harus menyewa jauh-jauh hari untuk mendapatkan tenaga kerja, petani yang lambat maka akan menggunakan tenaga kerja yang ada diluar Desa.

Pada pemupukan, petani dilokasi penelitian ini rata-rata menggunakan tenaga kerja dalam keluarga begitu pula pada perlakuan penyemprotan dan pengendalian OPT pada bawang merah petani sering melakukan tenaga kerja dalam keluarga. Berbeda dengan penyiangan, petani biasa menggunakan tenaga kerja dalam keluarga juga menggunakan tenaga kerja luar keluarga dikarenakan ketika rumput-rumput tumbuh harus segera dicabut karena akan mempengaruhi pertumbuhan bawang merah, terkecuali petani yang memiliki tenaga kerja dalam keluarga yang banyak otomatis tidak menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Banyak dan tidaknya tenaga kerja yang digunakan tergantung dari rerumputan yang ada.

Pada proses pengairan sama halnya pada kegiatan pemupukan, penyemprotan, dan pengendalian OPT rata-rata penggunaan tenaga kerja yang digunakan pada penelitian adalah tenaga kerja dalam keluarga.

Dalam kegiatan penyiraman usahatani bawang merah dengan menyesuaikan kondisi musim tanam yang dilaksanakan oleh petani bawang merah, jika petani melakukan penanaman pada musim hujan

maka frekuensi penyiramannya tidak sering dilakukan sebagaimana di lakukan pada musim tanam II. Penyiraman yang dilakukan pada musim tanam II yaitu setiap hari sampai tanaman bawang merah itu tumbuh. Hal ini terjadi karna pada musim tanam II bawang merah membutuhkan pengairan yang cukup, setelah tanaman bawang merah tumbuh, penyiraman bawang merah pun dikurangi. Selain pengairan dilakukan secara langsung petani responden melakukan penyiraman bawang merah dengan menggunakan gembor. Tenaga kerja yang dilakukan pada pengairan ini.

Kegiatan Pemanenan yang biasa dilakukan oleh petani bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo meliputi pencabutan dengan menggunakan curok atau sejenisnya, mangangkat bawang merah di tempat yang sudah tersedia sebagai tempat untuk penjemuran bawang merah, biasanya petani bawang merah menjemur bawang merah ± 7 hari apabila intensitas matahari bagus. Setelah bawang merah kering bawang dikumpulkan dan dibersihkan umbinya, kemudian diikat rapi untuk dijual maupun yang mau disimpan untuk bibit. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan oleh tenaga kerja laki-laki dan perempuan baik tenaga dalam keluarga maupun tenaga luar keluarga. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi utama dalam usahatani bawang merah. Dalam mengelola usahataninya, petani tidak hanya menyumbangkan tenaganya, tetapi juga kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Untuk kegiatan panen dan pascapanen perempuan memiliki peranan yang cukup besar.

Saptanah et al., (2010) menyatakan bahwa penggunaan tenaga kerja yang intensif terkait juga dengan usaha menanggulangi risiko secara interaktif dengan mengelola usahatani secara sungguh-sungguh. Artinya penambahan penggunaan tenaga kerja akan bersifat mengurangi risiko kegagalan usahatani.

Berdasarkan tujuan kedua dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat produksi usahatani bawang merah musim tanam I dan musim tanam II di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima. Jika data yang didapat dari pengisian angket selanjutnya dilakukan analisis produksi mengunakan CV (koefisien variasi) kemudian dilakukan perbandingan produksi antara petani bawang merah pada musim hujan (MT I) dengan musim kemarau (MT I). Nilai koefisien variasi produksi yang kecil menunjukan bahwa variabilitas nilai rata-rata produksi yang rendah. Hal tersebut mengambarkan tentang produksi yg dihadapi agar mendapatkan hasil produksi tersebut kecil, demikian sebaliknya perbandingan produksi antara usahatani bawang merah antar musim.

Analisis Produksi

Produksi usahatani bawang merah pada lokasi penelitian ini memiliki produksi yang dianalisis dengan koefisien variasi. Adapun analisis produksi bawang merah di Desa Rato, Sumi dan Kaleo bisa dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Analisis produksi usahatani bawang merah

No Uraian Produksi Bawang Merah

MT I MT II

Sumber: Data Primer setelah diolah, 2021

Tabel 12 menunjukkan bahwa produksi usahatani bawang merah pada musim hujan (MT I) lebih rendah kalau dibandingkan dengan usahatani bawang merah pada musim kemarau (MT II), koevisien variasi yang didapatkan pada (MT I) berdasarkan perhitungan dengan di bandingkannya rata-rata produksi dengan standar deviasi sebanyak 1691,034 dengan nilai koevisien variasi 0,975972 sedangkan koevisien variasi yang diperoleh pada MT II yang berdasarkan perhitungan dengan perbandingan rata-rata produksi standar deviasi sebesar 2248,886 dengan nilai koefisien variasi 0,572965, hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Ghani (2013) bahwa curah hujan termasuk faktor yang meningkatkan risiko. Tingginya risiko produksi akan berpengaruh terhadap produksi usahatani bawang merah yang akan di hasikan. Lebih tingginya risiko produksi bawang merah pada musim hujan jika dibandingkan pada musim kemarau hal ini diduga bahwa pada musim hujan terdapat banyak serangan penyakit lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau, selain itu pada musim hujan intensitas radiasi matahari lebih rendah dibandingkan dengan musim kemarau yang pastinya akan mempengaruhi proses fotosintesis. Menurut Satoto et al., (2013) menyatakan bahwa

beberapa upaya yang bisa di kerjakan untuk mengurangi senjang hasil antar musim yaitu asntara lain mampu mengetahui prevalensi serangan hama/penyakit, menerapkan teknik budidaya spesifik baik itu pada musim hujan maupun pada musim kemarau dan memetakan varietas spesifik.

Misalnya jarak tanam, pengelolan hama/penyakit tanaman, pengairan, dan rekomendasi pemupukan.

Kecamatan Lambu adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Bima yang unggul terhadap produksi tanaman bawang merah, penghasilan yang didapatkan oleh petani disana adalah rata-rata dari berusahatani bawang merah. Dari pengalaman berusahatani bawang merah yang turun temurun membuat petani di Kecamatan Lambu khususnya di Desa Rato, Sumi dan Kaleo tidak terlalu membutuhkan ilmu dari pertanian modern karena mereka percaya bahwa dengan pengalaman dari nenek moyang cukup menjadi bekal mereka untuk meningkatkan produksi bawang merah dengan baik dan itu sudah terbukti dengan produksi bawang merah yang diusahakan oleh petani bawang merah.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Bawang Merah

a. Luas lahan (X1)

Luas lahan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi usahatani bawang merah. Semakin luas lahan maka hasil

produksi akan bertambah begitu juga sebaliknya jika luas lahan sempit maka hasil produksi juga sedikit.

Tanah sebagai faktor produksi yang memiliki nila bergantung pada tingkat kesuburan tanah atau kelas tanah, posisi lokasi terhadap jalan, fasilitas irigasi, sarana perhubungan serta adanya rencana pengembangan. Lahan merupakan faktor yang penting dalam sector pertanian sejalan dengan menurut Nasution, 2006 mengatakan bahwa lahan memiliki nilai ekonomi yang dapat sangat tinggi, dengan seperti itu akan menguntungkan pemiliknya, konteks dalam pertanian, penilaian tanah subur memiliki nilai yang lebih banyak daripada tanah yang tidak subur.

b. Benih (X2)

Benih adalah salah satu faktor yang menentukan berhasil dan tidaknya usahatani, itu artinya pengunaan benih harus dilakukan secara proporsional yang sesuai dengan kebutuhan disetiap luas lahan jika luas lahan itu sempit maka ada baiknya benih diberikan dengan kondisi lahan yang ada. Biasanya petani mengunakan benih yang mereka budidayakan sendiri dimana hal tersebut bertujuan untuk meminimalkan biaya produksi itu sendiri. Benih bisa juga mempengaruhi jumlah produksi dari suatu usahatani, benih yang unggul pastinya akan memberikan hasil yang unggul pula, begitu pula sebaliknya benih yang kualitasnya rendah maka

akan memberikan hasil yang kurang baik dan bisa jadi pengeluaran biaya perawatan akan meningkat.

c. Pupuk (X3)

Kegiatan pemupukan perlu dilakukan supaya unsur hara yang telah habis pada musim tanam sebelumya bisa kembali tercukupi pada musim tanam berikutnya, hal ini disebabkan tanaman bawang merah sangat membutuhkan ketersediaan unsur hara yang cukup supaya proses pertumbuhan serta masa produksinya terutama urea. Selain itu, kebutuhan tanaman terhadap unsur hara disetiap fase pertumbuhan yang berbeda-beda sehingga perlu dilakukan pemupukan. Secara umum penggunaan pupuk oleh petani responden bawang merah di Kecamatan Lambu Kabupaten Bima memiliki 4 jenis pupuk ialah urea, NPK, ZA dan KCL. Pemakaian pupuk oleh petani responden harus disesuaikan dengan banyak dan tidaknya luas lahan yang mereka miliki dan juga kebutuhan bawang merah itu sendiri, biasanya penggunaan pupuk dilokasi penelitian ini pada musim tanam I lebih banyak dibanding dengan musim tanam II.

d. Pestisida (X4)

Saat ini penggunaan pestisida sangat berpengaruh untuk mempertahankan peningkatan produksi bawang merah, dengan melihat pertumbuhan dengan berbagai jenis gulma, serangan hama dan penyakit yang tumbuh dan menyerang tanaman bawang merah dilahan petani responden. Herbisida adalah obat yang berbahan kimia serta memiliki

bahan aktif agar bisa mengendalikan gulma dilahan bebas tanam dan gulma dilahan tanaman. Fungisida dengan bahan aktif supaya dapat mengendalikan penyakit pada tanaman bawang merah dan insektisida dengan bahan aktif untuk mengendalikan hama/seranga pada tanaman (Supartama, 2013).

Distribusi responden yang berdasarkan pemakaian pestisida adalah salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan produksi petani adapun pestisida yang sering digunakn oleh petani responden di Desa Rato, Sumi, dan kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima adalah Gordon, Dumil, Remazole, Manzate, Amistartop, Antracol, Green Tonic, Pil Gibro, Blanser, Oblivion, Dupont Lanate, Dupont Preza, Gandasil B dan Gandasil D. Pestisida ini memiliki fungsi untuk membunuh gangguan serangga/hama, mengatasi penyakit, membantu pertumbuhan tanaman dengan baik, memperbesar umbi dan juga dapat membunuh gulma. Dosis yang digunakan pun bervariasi tergantung dari luas area yang petani punya dan juga dalam penggunaanya bergantung dari tingkat serangan yang ada. Namun pada penelitian ini penggunaan pestisida harus diperhatikan secara teliti karena kapan penggunaan pestisida secara berlebihan maka akan mengurangi daripada produksi bawang merah.

e. Tenaga kerja (X5)

Pengunaan tenaga kerja yang efisien yang keterampilan yang memadai merupakan salah satu penentu dari keberhasilan usahatani.

Pengunaan tenaga kerja pada kegiatan produksi usahatani bawang merah yang secara umum yaitu untuk pekerjaan pengolahan lahan, penyortiran benih, penanaman. penyiangan, penyemprotan, pemupukan, pengendalian OPT, pengairan dan panen. Tenaga kerja yang digunakan oleh petani di Desa Rato, sumi dan kaleo Kecamatan Lambu Kabupaten Bima ini terutama pada penyortiran benih dan panen petani biasa melakukan gotong royong kecuali pada pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, penyemprotan, penyiangan, pengendalian OPT, dan pengairan. Pada usahatani bawang merah tidak menggunakan tenaga mesin kecuali pada saat pengolahan lahan menggunakan traktor.

Untuk mengetahui produksi usahatani bawang merah pada penggunaan faktor-faktor produksi bawang merah dapat dianalisis menggunakan model fungsi produksi Cobb Douglass menurut Just and Pope, dimana model tersebut menunjukkan adanya pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi bawang merah. Hasil analisis fungsi produksi Cobb-Douglas dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani bawang Model Regresi Hasil Estimasi Determinan Produksi

LnY = -0.4408 + 0.0871 lnX1 + 0.6948 lnX2 - 0.1087 lnX3 - 0.1357 lnX4 + 0.8426 lnX5 - 0.5929

Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2021

1. Uji R-Squared (R2)

Tabel 13 bahwa hasil R-Squared (R2) menunjukkan nilai koefisien adalah sebesar 0,8647 itu artinya kekuatan berpengaruh cukup kuat dimana 0,8647% (86%) variabel produksi bawang merah dipengaruhi oleh 5 variabel (luas lahan, benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja) tersebut sedangkan sisanya 14% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model yang telah dianalisis.

2. Uji F-Statistik (Simultan)

Pada Tabel 13 menunjukkan bahwa nilai uji F 120,428 dengan probabilitas 0,0000 artinya seluruh variabel yang diuji (luas lahan, benih,

pupuk, pestisida dan tenaga kerja) sangat berpengaruh secara signifikan terhadap produksi bawang merah.

Marfin Lawalata (2017) bahwa nilai F hitung pada musim tanam pertama sebesar 8,26 lebih besar dari F tabel (2,166) sehingga variabel independen secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. Sehingga pada musim tanam tersebut, perilaku petani terhadap risiko dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi petani secara bersama-sama.

3. Uji Standar Eror

Standard error adalah standar deviasi dari distribusi sampling suatu statistik. Standard error adalah istilah statistik yang mengukur keakuratan sampel dalam merepresentasikan populasi. Jika statistiknya rata-rata sampel maka dinamakan standard error mean. Semakin kecil ukuran sampel, maka akan semakin besar nilai standard error, berkebalikan dengan ukuran sampel. Semakin besar ukuran sampel, maka akan semakin kecil standard error karena statistik mendekati nilai yang sebenarnya.

Tabel 13 menunjukkan bahwa dari lima variabel independen yang signifikan, standard error paling rendah yaitu pada variabel pestisida (X4) yang artinya bahwa variabel pestisida memiliki estimasi yang kuat terhadap produksi bawang merah sebesar 0, dengan taraf tingkat kepercayaan 95 persen ( = 5%).

4. Uji T (Parsial)

Hasil pendugaan yang dilakukan dalam analisis diatas juga menerangkan bahwa variabel yang berpengaruh nyata terhadap faktor-faktor produksi adalah luas lahan, benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 13.

Sulistyani Budiningsih (2006) bahwa uji parsial menunjukkan variabel harga jual bawang merah memberi hasil yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Di daerah penelitian harga jual bersifat musiman, apabila bawang merah ditanam dan dipanen pada musim kemarau maka harga jual relatif lebih tinggi karena lebih kering dibandingkan musim penghujan.

a) Luas Lahan

Variabel luas lahan mempunyai nilai koefisien elastisitas sebesar 0,0871 nilai koefisien dari variabel tersebut menunjukkan korelasi positif dan berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 99% (0,0000 < 0,01) terhadap produksi pada usahatani bawang merah. Dengan demikian dapat diketahui bahwa secara kuantitatif apabila luas lahan petani bertambah satu persen/hektar. Maka produksi pada usahatani bawang merah akan meningkat sebesar 0,0871%

Hasil analisis pada Tabel 13 menunjukkan bahwa memang luas lahan sangat berpengaruh terhadap peningkatan produksi usahatani

Hasil analisis pada Tabel 13 menunjukkan bahwa memang luas lahan sangat berpengaruh terhadap peningkatan produksi usahatani

Dokumen terkait