BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
J. Hasil Penelitian
Konfirmasi data Rabu, 5 November 2008 Pukul: 15.00 WIB di Panti asuhan Mardi Siwi Sabtu, 8 November20 08 Pukul: 10.00 WIB di Panti asuhan Mardi Siwi - - - -
Tabel 3. Waktu dan tempat pengambilan data
Alat bantu berupa alat perekam (tape recorder), kaset kosong, dan alat tulis. Semua alat bantu tersebut digunakan dengan izin dan persetujuan dari kedua subyek.
J. Hasil Penelitian
1. Panti Asuhan Mardi Siwi Kalasan Yogyakarta
Panti asuhan ini adalah panti asuhan Kristen yang dihuni oleh remaja baik remaja yang masih memiliki orangtua namun tidak mampu secara ekonomi, remaja terlantar, dan remaja yatim piatu. Oleh karena itu
semua sistem dijalankan dengan cara agama Kristen. Remaja di panti asuhan dibiasakan untuk berdoa, membaca renungan harian dan firman Tuhan. Hubungan antar penghuni dilandaskan pada kasih dan rasa saling percaya. Pengasuh juga mengajarkan mereka untuk saling menolong. Pengasuh menjadi pengganti orang tua bagi mereka sebagai tempat perlindungan dan sumber dukungan.
Keadaan di panti asuhan ini secara umum tidak jauh berbeda dengan kondisi di panti asuhan lain antara lain ada jadwal khusus untuk memasak, berdoa, sekolah, piket dan ke gereja. Namun pengasuh tidak terlalu membatasi kegiatan remaja panti asuhannya. Ia hanya mengingatkan dan mengarahkan. Menurutnya, pembatasan ketat tidak terlalu perlu dilakukan karena mengingat banyak peristiwa buruk yang sebelumnya terjadi terkait dengan remaja di panti asuhannya. Hal itu terjadi karena pengasuh terlalu membatasi dan mengekang mereka sehingga mereka terkadang curi-curi di luar.
Hal yang membedakan panti asuhan ini dengan panti asuhan lain ialah adanya kehangatan antara pengasuh dan remaja di panti asuhan. Hal ini terlihat dari interaksi mereka setiap hari di panti asuhan. Remaja panti asuhan melakukan piket bersama-sama dengan pengasuh. Bila waktu luang, pengasuh ikut memasak, menyapu dan menonton televisi bersama-sama sambil bercerita/ sharing mengenai kegiatan mereka masing-masing di sekolah dan lain-lain.
Di panti asuhan Mardi Siwi beberapa tahun belakangan ini pernah terjadi beberapa kasus buruk. Salah satunya adalah ada remaja panti asuhan yang hamil di luar nikah tanpa diketahui oleh pengasuh dan kemudian remaja tersebut membunuh anaknya itu sehingga akhirnya ia masuk penjara. Untuk mengantisipasi hal tersebut ke depannya, pengasuh berusaha adil dan mengerti kebutuhan remaja dan tetap mengarahkan dengan benar. Ia mencoba membebaskan mereka namun dengan tanggungjawab. Pengasuh ingin mencoba akrab dengan semua remaja panti asuhan meskipun ia memiliki keterbatasan waktu untuk bisa selalu berkomunikasi dan kesulitan dalam memerhatikan satu persatu penghuni panti asuhan dengan seksama. Setiap kali ada kesempatan, pengasuh selalu mencoba untuk memperhatikan kebutuhan setiap remaja di panti asuhan. Hal ini ia lakukan karena ia sempat merasa lalai dalam membina remaja di panti asuhannya sehingga pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu sebisa mungkin pengasuh memberi bimbingan dan dukungan kepada remaja di panti asuhan ini.
2. Subyek pertama (Ririn) a. Latar belakang
Ririn adalah remaja berusia 18 tahun. Ia saat ini masih bersekolah di SMA Imanuel dan tinggal di panti asuhan Mardi Siwi, Kalasan, Yogyakarta. Ia berada di panti asuhan ini sejak kelas satu SMP. Sebelum tinggal di panti asuhan ini, ketika kecil ia pernah diasuh dan merasakan
kasih sayang dari ibu kandungnya. Ririn merasa lebih dekat kepada ibunya daripada dengan ayahnya karena ayahnya hidup terpisah dengan mereka. Ririn bersama adik dan kakaknya diasuh oleh ibunya, sedangkan ayah mereka sesekali hanya mengirimkan uang. Adik Ririn menghilang ketika ia masih kecil, tiba-tiba adiknya tidak diketahui lagi keberadaannya sampai saat ini. Hal itu membuat ibu Ririn mengalami kegoncangan sampai sakit-sakitan.
Ibu Ririn meninggal dunia karena sakit liver ketika ia masih kelas 3 SD. Hal ini membuatnya sangat terpukul dan tertekan. Ririn kehilangan figur seorang ibu yang penuh kasih. Kejadian ini terus membekas sampai ia remaja. Ia masih sering merasa tertekan dan sedih bila mengingat ibunya yang telah tiada dan sangat dikasihinya.
Setelah peristiwa itu, Ririn tinggal bersama neneknya di Solo. Nenek ialah satu-satunya keluarga yang masih ada dan mengasihinya. Di sana ia di asuh bersama dengan kakaknya, namun kemudian kakaknya pergi bekerja dan hampir tidak pernah lagi menghubungi ia dan neneknya. Hubungan Ririn dengan kakaknya tidak akrab. Ayahnya juga telah pergi meninggalkanya, sampai saat ini tidak pernah menghubungi dan tidak diketahui lagi keberadaannya.
Ririn memiliki keluarga di Solo selain neneknya yaitu tantenya (saudara ibu), namun ia selalu merasa diperlakukan tidak baik oleh mereka dan sering dianggap menyusahkan keluarga. Tidak ada keluarga yang bersedia menolong Ririn yang kesulitan ekonomi. Ia tinggal bersama
neneknya hanya sampai SMP dan kemudian ia masuk ke panti asuhan Mardi Siwi di Kalasan, Yogyakarta. Kondisi ekonomi neneknya yang tidak baik dan tidak adanya keluarga yang mau merawatmya menyebabkan ia harus tinggal di panti asuhan. Ririn sesekali pulang ke Solo untuk merawat neneknya dan terkadang terpaksa meminta bantuan biaya. Namun bagaimanapun kesulitannya, kondisi keuangan neneknya juga tidak baik. Neneknya juga sudah tua dan tidak memiliki usaha lain untuk menopang ekonomi keluarga dan membiayainya.
b. Resiliensi Ririn
Resiliensi Ririn terlihat dari kemampuannya dalam mengatasi, bertahan dari pengaruh yang merusak dan bangkit dari masalah atau tekanan-tekanan yang ia alami. Ada beberapa masalah yang membuatnya merasa cukup trauma dan tertekan seperti masalah pribadi terkait dengan kondisinya sebagai remaja yatim piatu yang tidak memiliki orang tua. Sebagai remaja ia juga mengalami masalah-masalah khas remaja.
Salah satu hal yang membuatnya sangat tertekan adalah ketika ia teringat ibunya yang telah meninggal dunia. Ia sangat mengasihi ibunya itu dan bagi dia, ibunya adalah satu-satunya orang yang mencintainya sehingga ketika ibunya meninggal, ia merasa sangat kehilangan dan terpukul. Kenangan akan ibunya dan kondisi keluarganya sering membuatnya merasa tertekan.
Setelah ibu Ririn meninggal, ia dan kakaknya tinggal bersama nenek di Solo. Hubungannya dengan kakaknya tidak akrab. Kemudian Ririn masuk ke panti asuhan Mardi Siwi di Kalasan Yogyakarta dengan tujuan ingin bersekolah dan tidak ingin merepotkan keluarganya lagi karena tante-tantenya juga memiliki keluarga yang harus mereka urus. Selain itu nenek nya juga sudah tua dan kakaknya sudah pergi bekerja.
Ririn merasa bahwa ia tidak boleh merepotkan siapapun termasuk neneknya dan ia menganggap bahwa keputusannya untuk masuk ke panti asuhan ini adalah sebagai suatu bentuk pengorbanan diri demi orang yang dikasihinya yaitu neneknya. Ia memiliki rasa empati yang besar pada orang lain bahkan walau ia harus mengorbankan dirinya sendiri untuk meringankan beban orang lain. Dengan demikian, ia berharap tidak akan menjadi beban lagi bagi keluarganya.
Meskipun Ririn sudah berniat tidak ingin merepotkan keluarganya lagi, namun bagaimanapun juga ia masih membutuhkan bantuan dari keluarganya. Ia masih sering meminta bantuan uang dari neneknya untuk keperluan sekolah seperti biaya angkutan dan lain-lain. Hal tersebut menyebabkan ia sering dijelek-jelekkan oleh tantenya. Ririn dianggap menyusahkan keluarga karena hanya menghabiskan uang saja dan hal itu membuatnya sangat tertekan.
Kehilangan ibu yang dicintai, masalah ekonomi, ayah yang tidak diketahui keberadaannya, hubungan dengan kakak yang tidak begitu baik dan hubungan dengan saudara ibu (tantenya) yang buruk membuat Ririn
merasa tertekan, bahkan ia pernah merasa kecewa dan menyalahkan Tuhan. Karena hal tersebut, Ririn pernah merasa bahwa ia adalah anak pembawa sial. Ia merasa hanya nenek lah satu-satunya keluarganya yang tersisa dan mengasihinya. Namun ia dapat mengatasi pikiran-pikiran negatif itu dengan cara bercerita pada orang yang ia percaya, menulis buku harian, berdoa dan membaca renungan/ kitab suci. Kekuatan dirinya mulai terbentuk selama ia berada di panti asuhan.
Di panti asuhan ia menemukan teman untuk berbagi. Selain itu sistem di panti asuhan yang membiasakan remajanya untuk membaca renungan dan berdoa membantu Ririn dalam mengembangkan kekuatan diri dan hal itu dapat membuatnya mampu mengatasi pikiran-pikiran yan menekan tentang ibu dan keluarganya. Ajaran-ajaran kitab suci dan kepercayaan akan Tuhan menguatkan hatinya. Salah satu ayat kitab suci mengatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang yang dikasihinya. Ayat ini yang memberi motivasi dan kekuatan kepada Ririn untuk tetap mampu bertahan meskipun banyak tekanan hidup yang ia alami. Dengan demikian ia merasa tidak sendiri, ia merasa mendapat kekuatan dari Tuhan dari renungan-renungan yang ia baca. Hal-hal itu juga yang membantunya untuk selalu mencoba berpikir positif dalam mengatasi masalahnya.
Hal-hal dan sikap positifnya ketika mengalami tekanan-tekanan hidup terealisasi sebagai bentuk kepercayaannya yang baik akan ajaran-ajaran kitab suci sehingga ia bisa tetap setia pada hal-hal yang baik. Hal itu
terlihat dari caranya bersikap dalam mengatasi masalah dengan tantenya. Ririn sesekali pulang ke Solo dan ia masih diperlakukan tidak baik oleh tante-tantenya. Meskipun demikian, ia tetap belajar untuk tidak membenci orang-orang yang tidak mengasihinya. Ia hanya berusaha jujur dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Kondisi di panti asuhan juga membantunya untuk merasa kuat. Karena masalah ini, Ririn juga pernah merasa tidak pantas untuk disayang, namun teman-teman di panti asuhan dan pengasuh menolongnya untuk tetap kuat dan bangkit dari masalahnya.
Awal masuk ke panti asuhan ini Ririn mengalami masalah. Ia merasa sangat tertekan sampai sering jatuh sakit, namun pengasuh memberi dorongan dan semangat padanya agar tetap kuat, mencari pertolongan dari teman serta berani menghadapi hidup. Ririn akhirnya melihat bahwa orang-orang di sekelilingnya juga banyak yang mengalami hidup yang serupa bahkan jauh lebih kurang beruntung darinya. Ada temannya yang hidupnya kurang beruntung daripada dirinya, namun temannya itu mampu kuat dan bertahan sehingga ia meniru hal yang positif dari temannya itu.
Dalam mengatasi masalah-masalahnya, ia biasanya bertanya dan meminta pendapat serta masukan dari orang-orang di sekitarnya terutama sahabat, ia akan meniru perilaku positif orang lain yang sesuai dengan dirinya dan mau mendengar, menerima, memahami saran dari orang lain, serta melakukan hasil komunikasi. Ketika Ririn menghadapi masalah yang berat, ia dapat dengan segera menyadari bahwa hal-hal itu membuatnya sangat tertekan dan sedih. Ririn mengekspresikan perasaannya dengan
menangis di kamar dan berdoa. Setelah itu, Ririn segera mencari teman untuk berbagi perasaan. Ketika ada hal yang mengganggunya, ia bisa dengan cepat mencari pertolongan dengan cara bercerita kepada sahabat-sahabat terdekatnya di panti asuhan. Ada hubungan terpercaya yang tercipta diantara mereka.
Ririn percaya pada dua orang sahabatnya di panti asuhan karena mereka bisa membawa pengaruh yang positif baginya. Mereka bisa saling meringankan beban satu sama lain dengan bercerita dan mendengarkan cerita satu sama lain, saling mengingatkan, dan mengarahkan. Ketika sahabatnya mengalami masalah, ia juga menunjukkan perhatian pada sahabatnya itu dan mencoba membantu sahabat-sahabatnya yang sedang susah. Ketika ia masih ragu untuk bercerita mengenai masalahnya kepada sahabat-sahabatnya, ia akan terlihat tidak tenang sehingga sahabatnya bisa sensitif dan mengerti bahwa dirinya sedang memiliki masalah. Sebagai teman yang mengasihnya, sahabat-sahabatnya akan bertanya dan mencoba membantu. Dari data ini terlihat bahwa Ririn memiliki kemampuan untuk berkomunikasi berupa mampu menyampaikan perasaannya pada orang lain dan mampu menemukan orang yang tepat untuk menolong. Orang-orang itu adalah sahabatnya yang ia percaya. Hubungan terpercaya itu ditandai dengan adanya kehangatan, keterikatan dan penerimaan yang positif. Hal tersebut membantu memelihara dan mengembangkan resiliensi Ririn.
Ririn mengetahui strategi yang sesuai bagi dirinya untuk dapat mengatasi masalahnya. Ketika tidak ada sahabat di sampingnya padahal ia
sangat memerlukan seseorang untuk berbagi, ia akan menuliskan perasaannya di buku harian. Ia menumpahkan perasaannya pada buku tersebut dan hal itu cukup membantu meringankan beban perasaannya.
Hidup tanpa orang tua di panti asuhan menjadikan Ririn mandiri. Sebagai remaja yatim piatu, kondisi Ririn mengaharuskannya menjadi mandiri dan bertanggungjawab. Ia memutuskan segala sesuatu atas keinginannya sendiri dan berani menerima segala konsekuensi atas keputusan yang ia ambil. Meskipun banyak masalah dan tekanan yang menimpa Ririn, ia mengatasinya dengan berpikir positif.
Setiap ada tekanan yang menimpnya, Ririn mencoba mengatasinya dengan segera berpikir positif. Kondisinya sebagai remaja yatim piatu kurang menguntungkan dan memiliki faktor risiko. Ia sudah tidak memiliki orangtua, sedangkan satu-satunya keluarga yang mengasihinya hanya nenek. Nenek sudah tua dan ekonominya juga tidak begitu baik untuk dapat menolongnya. Ririn tidak mendapat bantuan dari kakak dan ayahnya. Ia juga dianggap merepotkan oleh tantenya. Untuk meminta bantuan dari panti asuhan membuatnya merasa segan. Kondisi panti asuhan juga kurang menguntungkan secara ekonomi. Panti asuhan sering kekurangan bantuan dan donatur tidak selalu ada. Bantuan dari pemerintah sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan di panti asuhan. Bahkan untuk makan, mereka harus sangat berhemat.
Dalam kondisinya yang serba kurang menguntungkan itu, Ririn tetap mau menunjukkan perhatian dan peduli pada keadaan orang lain yang
membutuhkan bantuan. Ketika ada temannya yang mengalami kesulitan ekonomi juga, ia tetap berusaha membantu meringankan beban temannya itu. Ririn berpikir positif dan merasa bisa bersyukur dengan keadaannya bahwa ada orang lain yang kondisinya lebih tidak baik daripada dirinya. Hal ini membantunya untuk tetap positif dan bertahan dalam hal yang baik. Keinginannya untuk berbuat baik merupakan bentuk dari kepercayaannya kepada Tuhan.
Ririn juga pernah mengalami masalah di sekolah, seperti masalah dengan temannya yang memusuhinya. Ia sensitif pada perasaan orang lain dan tahu cara menghargai dirinya sendiri, ia melakukan introspeksi diri sebagai bentuk penghargaan pada dirinya sendiri dan orang lain. Ia mau berubah ke arah yang lebih baik dengan mengkoreksi kekurangan diri dan tidak menyalahkan orang lain. Hal ini mampu membantunya dalam mengatasi pikiran-pikiran yang negatif baik mengenai orang lain maupun dirinya sendiri.
Ririn menyadari kesalahannya dan mencoba berpikir kritis dan positif. Dengan cara ini, ia mampu mengatasi hal-hal negatif seperti perasaaan-perasaan benci, marah atau frustasi karena diperlakukan tidak baik oleh temannya itu. Ia tetap mampu tenang dan dengan cepat memperbaiki dirinya. Ia juga memiliki jati diri. Ketika ada temannya yang mencoba mempengaruhinya untuk melakukan hal yang tidak baik, ia tetap mampu mengontrol dirinya. Ada teman di sekolahnya yang mengajaknya untuk melakukan hal-hal yang tidak baik karena tidak ada lagi orang yang
harus mereka senangkan dan sudah tidak ada lagi orang yang peduli pada mereka. Teman Ririn itu juga mengalami kondisi yang serupa denganya, sama-sama tidak memiliki orangtua lagi. Ia dengan segera mampu menepis pengaruh yang buruk itu.
Ketika Ririn mengalami masalah-masalah yang banyak, ia pernah menganggap bahwa masalah itu adalah hal-hal buruk yang terus menimpanya, namun kemudian ia dengan cepat mengubah pikiran itu dengan pikiran yang positif. Ririn akhirnya menganggap bahwa masalah adalah sesuatu yang justru membuatnya semakin kuat dan membantunya menjadi orang yang lebih baik.
Ririn juga percaya dan bangga pada dirinya sendiri. Ia merasa bangga karena meskipun ia tidak memiliki orangtua dan tidak mampu secara ekonomi seperti teman-temannya yang lain di sekolah, ia tetap mampu berprestasi dan semangat bersekolah. Motivasinya adalah ingin membahagiakan neneknya dan hal itu sangat membantunya untuk tetap bertahan meskipun berada dalam tekanan yang berat.
Ketika Ririn mengalami masalah, ia akan mengkomunikasikannya kepada orang lain yang ia percaya, meminta masukan dan solusi, namun bila solusi itu tidak sesuai dengan dirinya, ia akan menghargainya namun tetap melakukan keputusannya sendiri karena ia lebih tahu apa yang terbaik untuk mengatasi masalahnya sendiri. Misalnya ketika ada salah satu teman nya yang menyarankan agar ia membalas perbuatan tantenya dengan mengatakan bahwa ibu Ririn dulu ketika masih hidup juga pernah menolong
tante-tantenya dan sekarang seharusnya tantenya juga membalas budi dengan menolong Ririn. Masukan ini dianggap tidak sesuai dengan dirinya dan ia memilih untuk tetap setia pada hal-hal yang baik.
3. Subyek kedua (Sinta) a. Latar belakang
Sejak usia kurang lebih 5 tahun, Sinta sudah dititipkan di panti asuhan oleh seorang bapak tua yang mengaku sebagai kakeknya. Sinta ditinggal dalam keadaan yang memprihatinkan dengan pakaian seadanya dan tanpa identitas yang jelas. Bapak tua itu tidak memberikan informasi apapun tentang orang tua kandunnya. Orang tuanya tidak diketahui keberadaannya sejak ia masih kecil dan tidak pernah memberi kabar pada panti asuhan sampai saat ini. Sampai Sinta remaja, ia tidak pernah ditengok oleh orang tuanya bahkan oleh kakek yang dulu mengantarnya. Sejak usia 5 tahun, ia diasuh oleh pengasuh di panti asuhan bersama dengan anak-anak yang lainnya.
Sinta tidak memperoleh kasih sayang orang tua sejak masa-masa awal hidupnya sampai saat ini. Ada keinginan untuk bertemu namun hal itu dirasa sudah tidak mungkin baginya. Terkadang dalam hatinya muncul kekecewaan dengan kondisinya sehingga ia tertekan, sedih dan merasa rendah diri dengan keadaannya.
Dalam pergaulannya di dalam dan di luar panti asuhan, Sinta tumbuh menjadi remaja yang rendah diri, minder, tertutup dan senang
menyimpan segala sesuatu sendiri. Ia sering menarik diri dari teman-temannya. Di lingkungan kampus, ia sering menutupi keadaannya yang sebenarnya. Hal itu disebabkan juga karena ia sering merasa mendapat tuntutan dari lingkungannya seperti tuntutan dari pacarnya dan teman-temannya. Sinta merasa tidak mampu memenuhi tuntutan lingkungannya sehingga ia merasa malu dan cenderung menarik diri. Ia sangat takut dinilai dan dikritik oleh lingkungannya. Oleh karena itu di dalam dirinya sering terjadi konflik dimana ia merasa ingin sekali memenuhi tuntutan lingkungan namun kondisinya tidak memungkinkan. Terkadang ia mengikuti lingkungan yang kurang baik dan tidak sesuai dengan dirinya karena takut dinilai tidak baik oleh lingkungan pergaulannya.
Selain rasa minder, Sinta juga sering merasa dirinya kurang dicintai. Ia merasa sendirian dan tidak dikasihi oleh orang-orang di sekitarnya. Ia senang menyimpan masalahnya sendiri karena ia tidak mudah memercayai orang sekalipun ada orang yang dekat padanya. Hal itu dipicu juga oleh kejadian di masa lalnya. Dulu ia pernah cukup terbuka pada orang yang dekat padanya yaitu pacarnya namun ia pernah dikecewakan. Hal itu membuatnya cukup trauma dan menjadi remaja yang tidak mudah memercayai orang lain. Sinta juga merasa enggan berbagi dengan orang lain mengenai dirinya. Hal itu juga dikarenakan Sinta pernah merasa dikecewakan oleh orang lain. Ketika ia menyampaikan masalahnya pada seseorang, ia pernah merasa diacuhkan
dan tidak ditanggapi. Banyak hal yang menyebabkannya kecewa dan hal-hal itu mempengaruhi kepribadianya.
Sinta sering merasa tidak diterima dengan baik oleh lingkungannya dan ia juga merasa kondisinya tidak beruntung bila dibandingkan teman-temannya yang lain. Ia terkadang merasa iri dengan kondisi orang lain yang lebih beruntung. Ketika liburan tiba, ia merasa tidak ada yang memerhatikannya. Ia tidak memiliki keluarga satu pun yang menengok atau menjemputnya. Ia selalu merasa sendiri. Ketertutupannya inilah yang menyebabkannya merasa tidak memiliki sahabat dekat untuk berbagi. Sinta lebih nyaman menyimpan segala sesuatu sendiri dan berusaha keras untuk memecahkan masalahnya sendiri. Ia menyimpan banyak kekecewaan dan tidak mudah memercayai orang lain. Hal itu menjadikannya terkadang skeptis terhadap orang lain. Sinta merasa malu dengan keadaannya dan memilih untuk menghadapi setiap masalahnya sendiri. Dari caranya berbicara, Sinta kurang berani menatap lawan bicaranya dan ketika berbicara ia sering tampak ragu.
Saat ini Sinta tinggal di panti asuhan bersama dengan taman-temannya yang lain. ia sering bekerja paruh waktu pada keluarga pengasuh dan bertugas mengurusi anak-anak mereka. Dari usaha itu, ia terkadang mendapatkan uang saku untuk tambahan. Saat ini ia menjadi mahasiswa semester tiga di UKRIM Yogyakarta.
b. Resiliensi Sinta
Ketika mengalami tekanan/ hal-hal yang mengganggu, sebisa mungkin Sinta berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Sinta senang memikirkan tindakan dan strategi untuk mengatasi masalahnya sendiri tanpa harus mengkomunikasikannya pada orang lain. Ia mencoba mengatasi dan