BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bagian ini peneliti akan menguraikan tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata. Nilai pendidikan karakter bangsa yang berjumlah 18 menurut UU Sisdiknas yaitu mencakup nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, komunikatif, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, mandiri, tanggung jawab, cinta tanah air, menghargai prestasi, cinta damai. Namun dari 18 nilai tersebut hanya ada beberapa nilai pendidikan karakter bangsa yang terkandung dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata. Berikut ini akan lebih dijabarkan nilai pendidikan karakter dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata. 1. Nilai Religius
“… Tapi Kemudian kami dikumpulkan untuk berdoa. Seperti biasa, doa Pelatih Toharun sebelum pertandingan sangat panjang karena tidak hanya doa agar tidak terjadi kezaliman di lapangan sepak bola terhadap para pemain, wasit, penjaga garis, dan penonton, tetapi juga doa bagi keselamatan para pemimpin negara, doa bagi para pahlawan yang telah mendahului kita, dan doa bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.”(hal 47, paragraf 4).
Berdasarkan kutipan di atas mereka melakukan doa sebelum pertandingan dimulai, dengan melakukan doa mereka menunjukkan kebiasaan yang baik dan merupakan nilai religius.
2. Nilai Disiplin
“Ayah bekerja menjadi kuli di PN Timah, bergegas berangkat kerja naik sepeda, dan bergegas pula pulangnya.”(hal 2, paragraf 4)
Berdasarkan kutipan di atas Ayah terburu-buru berangkat kerja, menunjukkan nilai disiplin. Agar tidak terlambat kerja ayah selalu terburu-buru berangkat kerja dan selalu tepat waktu baik pergi maupun pulang.
3. Nilai Kerja Keras Data 001
“… mereka saudara kandung dan dipaksa Belanda mrninggalkan rumah untuk menggantikan ayah mereka yang hampir sepanjang hidup telah ditindas Belanda, sampai lunas tenaga dan usianya. Ketiga anak itu bergabung dengan ratusan anak seusia mereka, gergelimang lumpur, membanting tulang sepanjang waktu.”(hal 6, paragraf 1).
Berdasarkan kutipan di atas tiga orang anak yang bersaudara terpaksa ikut bergabung dengan anak seusia mereka, membanting tulang di bawah perintah Belanda untuk menggantikan ayah mereka yang sudah tua dan tidak kuat bekerja.
Data 002
“Pekerjaanku memunguti bola, mengumpulkan kaus pemain, dan diperintah-perintah pembantu dari pembantu pelatih utama atau oleh Margarhita alias
Nyonya Vegas… Aku tak Peduli, sebab aku gembira , karena kian hari aku kian yakin dapat mengumpulkan 250 euro… Maka jadilah aku tukang cat dan angkat-angkat perabot pada siang hari dan tukang pungut bola pada malam hari.”(hal 82, paragraph 1)
Berdasarkan kutipan di atas demi mendapatkan uang sebanyak 250 euro, Ikal bekerja keras meski menjadi tukang pungut bola pada malam hari dan menjadi tukang cat serta tukang angkat perabot pada siang hari.
4. Nilai Kreatif
“Melalui filosofi buah-buahan, para pemain sayap, berarti termasuk aku, diajari dengan saksama oleh pelatih Toharun cara ,melakukan tendangan pisang. Jika tendangan ini berhasil, bola akan meluncur secara melengkung seperti buah pisang … Para striker diajarinya tehnik sundul labu siam … Maksudnya agar
striker unggul dalam umpan-umpan tinggi dan mampu melakukan tandukan
secara akurat.(hal 44 , paragraph 2)
“Pada para defender , Pelatih Toharun sedikit kejam, yaitu disuruh membayangkan diri mereka sebagai buah nangka… Maksudnya, para pemain belakang bertindak selayaknya buang nangka besar yang tidak mudah digeser.”(hal 45, paragraph 2)
“Yang paling brutal adalah bagaimana Pelatih Toharun mengolah penjaga gawang. Tekniknya disebut teknik durian runtuh , yakni seluruh pemain yang ada di lapangan siduruh menendang bola sekuat-kuat tulang secara bersamaan dalam jarak dekat dan sang keeper harus mampu menangkap bola sebanyak-banyak kemampuannya.”(hal 45, paragraph 3)
Berdasarkan kutipan di atas Pelatih Toharun memiliki cara sendiri yang sangat unik untuk melatih para pemain bolanya. Ia menggunakan nama buah untuk setiap teknik yang ia ajarkan. Tetapi sebutan unik tersebut bukan hanya sekadar sebutan. Melainkan memiliki arti yang sangat kuat.
5. Nilai Mandiri
“Maka kawan, sejak itu aku dan Mahar menjunjung kue lebih banyak dan berjualan keliling lebih rajin demi membeli sepatu sepak bola.”(hal 41, paragraph 1)
Berdasarkan kutipan di atas, Ikal dan Mahar tidak meminta atau merepotkan orang tuanya. Mereka berusaha sendiri mengumpul uang dengan berjualan keliling kampung agar bisa membeli sepatu bola.
6. Nilai Rasa Ingin Tahu Data 001
“Kucari-cari album itu di tempat-tempat ibu biasa menyembunyikan sesuatu, misalnya di bawah kasur, tak ada. Di dalam kasur, tak ada. Akhirnya, album itu kutemukan di dalam sebuah kaleng, di atas sebuah lemari rustic yang tua.”(hal 7, paragraph 3)
Berdasarkan kutipan di atas Ikal mencari sampai ketemu album foto yang disembunyikan ibunya. Meskipun dilarang, tetapi rasa ingin tahu mendorongnya bersikeras mencarinya foto tersebut.
Data 002
“Seiring usia aku semakin dekat dengan Ayah, dan Ayah tetaplah Ayah yang pendiam. Jika bepergian bersamanya, mulutku berkicau-kicau dan
bertanya-tanya ini itu , Ayah hanya diam atau sesekali tersenyum.”(hal 9, paragraph 2)
Berdasarkan kutipan di atas Ikal yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, selalu bertanya ini dan itu pada Ayahnya setiap kali mereka bepergian bersama.
Data 003
“Aku ingin sekali tahu kisah di balik foto itu. Namun, tak tahu kepada siapa aku harus bertanya… Perlukah kutanya pada orang-orang tua seangkatan ayah? Masalahnya, ayah sudah sangat sepuh, Sebagian besar sahabat seangkatannya telah meninggal kecuali sang pemburu tua. Foto itu kubawa ke rumahnya dan kutanyakan “siapakah orang ini, Pak Cik?” Pemburu tekejut.”Ah itu ayahmu! Ayahmu sendiri, Ikal”. Kini aku terkejut”(hal 26, paragraph 1)
Berdasarkan kutipan di atas Ikal sangat ingin tahu siapa gerangan sosok yang ada dalam foto, namun ia tidak tahu akan bertanya pada siapa. Akhirnya ia bertanya pada si pembutu tua yang seangkatan dengan ayahnya. Betapa terkejutnya ikal saat ia tahu yabg ada di foto adalah ayahnya sendiri.
“Jawaban Andriana itu menginspirasiku. Aku menjadi tergoda untuk mengetahui sisi feminine dari olahraga yang maskulin ini.”(hal 94, paragraph 2)
Berdasarkan kutipan di atas Ikal penasaran mengetahui sisi perempuan dari sepak bola, karena jawaban yang ia dapat dari Andriana.
7. Nilai Semangat Kebangsaan Data 001
“… Dalam sebuah pertandingan, mereka nekad tampil. Mereka tak menghiraukan bahaya yang bahkan dapat mengancam jiwa. Mereka tak dapat menahan diri untuk tidak bermain sepak bola.”(hal 21, paragraph 3) “Esoknya, Pelatih Amin dan tiga saudara keluar dari tangsi dalam keadaan
babak belur. Orang-orang kampung yang menunggu di luar tangsi menyongsong dan memapah mereka.”(hal 22, paragraph 3)
Berdasarkan kutipan di atas mereka sebenarnya di larang bermain bola, tetapi karena kecintaan mereka dengan sepak bola serta demi rakyat yang mendukung mereka. Akhirnya mereka turun ke lapangan dan menhiraukan larangan Belanda. Akibatnya, mereka dan Pelatih Amin di bawah ke tangsi dan keesokan harinya mereka babak belur keluar dari tangsi tersebut.
Data 002
“… Pelatih Amin dan tiga saudara kembali dilarang terlibat dalam sepak bola. Namun mereka tak menghiraukan larangan itu. Sebelas pemain, sebelas patriot berbaris tegak, tak dapat lagi ditakuti Belanda.”
Berdasarkan kutipan di atas Pelatih Amin dan tiga saudara tetpa terlibat dalam sepak bola, meskipun sudah dilarang oleh Belanda. Larangan tersebut mereka acuhkan demi membela dan memperjuangkan bangsanya.
8. Nilai Cinta Tanah Air Data 001
“… Tertindas di bawah penjajahan, rakyat menemukan caranya sendiri untuk melawan. Para penyelam tradisional melawan dengan membocorkan kapal-kapal dagang Belanda yang mendekati perairan Belitong. Para pemburu melawan dengan meracuni sumur-sumur yang akan dilalui tentara Belanda. Para imam membangun pasukan rahasia di langgar-langgar. Para kuli parit tambang melawan dengan sepak bola.”(hal 6, paragraf 3).
Berdasarkan kutipan di atas rakyat Indonesia melakukan perlawanan dengan membocorkan kapal selam belanda, meracuni sumur-sumur yang akan diminum para penjajah, membentuk pasukan rahasia serta melawan dengan sepak bola. Semua mereka lakukan agar para penjajah pergi dari Indonesia.
Data 002
“Mengenai si bocah bungsu… dia dipanggil Van Holden untuk memperkuat tim Belanda dalam sebuah pertandingan persahabatan sesame orang Belanda. Pada hari yang telah ditentukan si bungsu tidak hadir. Dia menolak bergabung dengan tim penjajah kaumnya. Dengan
membangkang, dia merasa telah membela abang-abangnya, membela bangsanya…”(hal 23, paragraph 2)
“si bungsu diangkut ke tangsi. Beberapa hari kemudian tentara mencampakkannya ke luar gerbang tangsi dalam keadaan luka parah.”(hal 23, paragraph 3)
Berdasarkan kutipan di atas si bungsu di panggil oleh Van Holden untuk bergabung ke tim sepak bola belanda, tetapi si bungsu tidak mau dengan tidak datang ke pertandingan pada waktu yang telah ditentukan, hal inilah yang membuat ia harus menanggung akibatnya. Karena ia tidak mengikuti perintah Van Holden ia dibawah ketangsi dan dicampakkan keluar dari tangsi dalam keadaan terluka parah.
Data 003
“… Diceritakan pemburu bahwa ribuan penonton menyerbu lapangan untuk menyambut ayah .”Ayahmu berterian-teriak,’Indonesia! Indonesia! Indonesia!’” Tubuhku gemetar.”(hal 29, paragraph 1)
“’Belanda berang mendengar ayahmu tak berhenti berteriak Indonesia!’. Pemburu termenung. ‘Pelatih Amin, ayahmu, dan abang-abangnya diangkut ke tangsi. Mereka dikurung selama seminggu, ayahmu pulang dengan tempurung kaki kiri yang hancur. Dia takkan pernah bisa main sepak bola lagi.’”(hal 29, paragraph 7)
“… saat itu lapangan sepak bola adalah medan perang di mana pribumi menggempur penjajah. Saat itu adalah saat rakyat Indonesia melawan, saat
itu tim nasional Indonesia –PSSI- menekuk tim nasional Belanda. Itulah makna teriakan Indonesia! Indonesia! Ayah itu.”(hal 34, paragraph 2)
Berdasarkan kutipan di atas si pemburu tua menceritakan pada Ikal pada saat ayahnya mencetak gol. Ayahnya berteriak Indonesia! Indonesia! Indonesia ! untuk menunjukkan rasa cintanya pada Indonesia dan gol yang ia buat untuk Indonesia. Tetapi karena teriakan itu, bapak ikal san saudara-saudaranya serta Pelatih Amin harus menanggung akibatnya. Mereka di kurung di dalam tangsi selama seminggu. Sepulang dari situlah ayah Ikal tidak dapat bermain bola lagi karena tempurung kakinya hancur.
Data 004
“… Sebelum pertandingan berlangsung, Pelatih Toharun selalu mengajak hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Sebagian orang menyilangkan lengan di dadanya ketika lagu yang megah itu berkumandang, sungguh mengharukan.”(hal 35, paragraph 2)
Berdasarkan kutipan di atas, untuk menghargai dan menunjukkan rasa cinta pada tanah air mereka. Sebelum pertandingan di mulai para penonton berdiri untuk menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, selain itu beberapa diantara mereka menyilangkan tangan di dadanya, yang menandakan Indonesia selalu ada dalam Jiwa mereka.
Data 005
“Usai berdoa, Pelatih Toharun bercerita… Sebagai penutup, kami diminta mencium bendera merah putih.”(hal 48, paragraph 2)
Berdasarkan kutipan di atas sebelum melakukan pertandingan seusai berdoa dan mendengarkan Pelatih Toharun bercerita mereka mencium bendera merah putih sebagai bukti bahwa mereka mencintai Indonesia. Data 006
“… menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10% mencintai sepak bila dan 90% mencintai Tanah Air.”(hal 88, paragraph 4)
Berdasarkan kutipan di atas tidak menutup kemungkinan para penggemar sepak bolah mencintai tim sepak bola dalam negeri karena kecintaan kepada tanah air lebih besar.
Data 007
“Ketika Real Madrid berhasil mencetak gol, puluhan ribu penonton berteriak, “Real! Real!” Aku berteriak, “Indonesia! Indonesia!”.”(hal 99 Paragraf 1) Berdasarkan kutipan di atas meskipun bukan di negeri sendiri, meskipun yang bermain bukan tim negeri sendiri. Ikal tetap berani dan bangga berteriak Indonesia! Indonesia! di tengah puluhan orang yang berteriak Real! Real!.
Data 008
“Taka da yang lebih layak kuberikan bagi bangsaku selain cinta, dan takkan kubiarkan apapun menodai cintai itu, termasuk juga karena ulah para koruptor…”(hal 99, paragraph 2)
Berdasarkan kutipan di atas ia tidak ingin cintanya kepada Indonesia di kotori oleh siapapun, temasuk para koruptor yang merajalela.
Data 001
“Aih tak apa-apa, hanyalah berhitung, janganlah takut. Dadaku mengembang karena bangga memeluk seorang patriot. “Nilai empat kan lebih baik daripada nilai nol, aih janganlah takut, Bujang, janganlah takut.” Aku memeluknya makin kuat.”(hal 31, paragraph 2)
Berdasarkan kutipan di atas ayah Ikal selalu menghargai prestasi anaknya bahkan jika anaknya mendapatkan nilai empat pun ia tidak marah dan tetap memberikan semangat serta membuat anaknya tenang.
Data 002
“Namun, jika kami berhasil melakukan tugas sesuai perintah, Pelatih Toharun menghadiahi kami buah-buahan dari kebunnya sendiri.”(hal 46, parageaf 2)
Berdasarkan kutipan di atas Pelatih Toharun memberikan hadiah kepada pemain bolanya buah-buahan dari kebunnya sebagai hadiah ketika mereka menang.
Data 003
“Ayah tak mengatakan mengapa dia mau memboncengku, namun aku tahu, begitulah caranya menghargai golku tadi.”(hal 51, paragraph 3)
Berdasarkan kutipan di atas Ayah Ikal menolak dibonceng pulang oleh Ikal, padahal dengan usianya yang semakin tua dan kaki kirnya yang semakin tak mampu mengayuh sepeda ia tetap ingin membonceng Ikal pulang, sebagai penghargaan atas gol dan kemenangannya.
“… dan kuingat lelaki-lelaki yang duduk melingkar itu bersenda gurau tentang kami.”(hal 2, paragraf 1).
Berdasarkan kutipan di atas para orang tua berkumpul duduk melingkar dan bersenda gurau tentang anak-anak mereka.
11. Nilai Gemar Membaca Data 001
“Telah kutemukan dalam buku sejarah, bahwa timah berlimpah di pulau kami Belitong- membuat Belanda bernafsu benggeruk sebanyak-banyaknya.”(hal 5, paragraf 1).
Berdasarkan kutipan di atas, dengan membaca ia tahu bahwa timah berlimpah di pulaunya Belitong, karena itulah yang membuat Belanda sangat ingin menguasai Belitong agar dapat mengambil timah sebanyak-banyaknya.
Data 002
“Aku telah membaca sebuah laporan bahwa dunia olahraga tercengang dengan meningkatnya penggemar bola perempuan-tak peduli di Indonesia.”(hal 92, paragraph 2)
Berdasarkan kutipan di atas dari laporan yang Ikal baca, ia mengetahui bahwa penggemar bola perempuan di dunia meningkat, termasuk Indonesia.