• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: MULIA RATNAWATI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh: MULIA RATNAWATI"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memeroleh Gelar Sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

MULIA RATNAWATI

10533794815

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

(2)
(3)

iv

PERSETUJUAN PEMBIMBING Mahasiswa yang bersangkutan:

Dengan Judul : Nilai Pendidkan Karakter Dalam Novel Sebelas Patrio Karya Andrea Hirata

Nama : Mulia Ratnawati Nim : 10533794815

Jurusan : Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti ulang Skripsi ini dinyatakan telah memenehi persyaratan untuk diujikan dihadapan tim penguji Ujian Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Maret 2020

Diketahui :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Muhammad Akhir,M.Pd. Ratnawati,S.Pd.,M.Pd.

Mengetahui

Dekan FKIP Ketua Prodi Pendidikan Unismuh Makassar Bahasa dan SastraIndonesia

Erwin Akib, M.Pd., Ph.D. Dr. Munirah, M.Pd.

(4)

v

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Mulia Ratnawati Nim : 10533794815

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul Skripsi : Nilai Pendidkan Karakter Dalam Novel Sebelas Patrio Karya Andrea Hirata

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuat oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Mei 2020 Yang Membuat Pernyataan

(5)

vi

SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Mulia Ratnawati Nim : 10533794815

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam menyusun skripsi. 4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1,2, dan 3, saya bersedia

menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran

Makassar, Mei 2020 Yang Membuat Perjanjian

Mulia Ratnawati Mengetahui

Ketua Jurusan

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Dra. Munira,M.Pd. NBM.858 623

(6)

vii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Jangan sia-siakan kesempatan

karena kesempatan tidak datang dua kali

Kupersembahkan karya ini buat: Kedua orang tuaku, saudaraku, suamiku, dan sahabatku, Atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan.

(7)

viii ABSTRAK

Ratnawati. Mulia. 2020. Nilai Pendidikan Karakter Dalam Novel Sebelas Patriot

Karya Andrea Hirata. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Dr. Muhammad Akhir,M.Pd dan pembimbing II Ratnawati,S.Pd.,M.Pd.,.

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu menemukan nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel sebelas patriot karya Andrea Hirata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kajian pustaka ( kualitatif ). Sedangkan, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif karena dalam metode deskriptif ini akan memberikan dan menghasilkan gambaran atau mendeskripsikan hasil analisis tentang nilai-nilai pendidikan karakter yang tercermin dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendidikan karakter bangsa yang berjumlah 18 menurut UU Sisdiknas yaitu mencakup nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, komunikatif, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, mandiri, tanggung jawab, cinta tanah air, menghargai prestasi, cinta damai. Namun dari 18 nilai tersebut hanya ada beberapa nilai pendidikan karakter bangsa yang terkandung dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata ada 11 nilai pendidikan, yaitu nilai religius, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai kreatif , nilai mandiri, nilai rasa ingin tahu, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta tanah air, nilai menghargai prestasi, nilai komunikatif dan nilai gemar membaca.

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Sebagai manusia ciptaan Allah Subhanahuwata’ala sudah sepatutnya lah penulis memanjatkan kehadirat-Nya karena atas segala limpahan rahmat dan karunia serta kenikmatan yang diberikan kepada penulis. Nikmat Allah itu sangat banyak dan melimpah. Bahkan jika penulis ingin melukiskan nikmat Allah

Subhanahuwata’ala menggunakan semua ranting pohon yang ada di dunia

sebagai penanya dan seluruh air laut sebagai tintanya, maka ranting-ranting pohon dan air laut akan habis dan belum cukup untuk menuliskan nikmat-Nya tersebut. Semoga nikmat Sang Pencipta selalu dilimpahkan kepada hamba-Nya yang senantiasa berbuat baik dan bermanfaat.

Salawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada Baginda Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia yang menjadi Sang revolusioner Islam yang telah menggulung tikar-tikar kebathilan dan membentangkan permadani-permadani Islam hingga saat ini. Nabi yang telah membawa misi risalah dianut Islam sehingga penulis dapat membedakan antara haq dan yang bathil. Sehingga, kejahiliyaan tidak dirasakan lagi oleh umat manusia di zaman yang serba digital ini.

Penulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar. Selain itu, Penulisan ini juga bertujuan agar pembaca dapat memperluas pengetahuannya tentang Sastra yang penulis sajikan berdasarkan dari beberapa sumber seperti artikel dan buku.

(9)

x

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis ucapan terima kasih yang teristimewa dan tak terhingga kepada Muhammad Senong dan Hasnawati,S.Pd., selaku orang tua penulis yang telah melahirkan, mengasuh, memelihara, mendidik, dan membimbing penulis dengan penuh kasih sayang serta pengorbanan yang tak terhitung sejak dalam kandungan hingga saat ini. Terima kasih juga kepada Ferdyanzah Fernandez selaku suami penulis yang senang tiasa membantu dan menemani penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Serta ucapan terima kasih juga kepada keluarga yang selalu memberikan motivasi baik moral maupun material yang diberikan kepada penulis.

Penulisan ini dapat terwujud dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr.H. Abd.Rahman Rahim,MM selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makssasr , Erwin Akib,M.Pd.,Ph.D., selaku Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar ,Dr. Munirah,M.Pd., selaku Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Muhammad Akhir,S.Pd.,M.Pd., selaku Sekretaris Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar, dan juga selaku Pembimbing I serta Ratnawati,S.Pd.,M.Pd., selaku Pembimbing II yang penuh kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan dalam memberikan bimbingan, arahan serta dorongan yang tiada hentinya di sela-sela kesibukannya, hingga terselesaikannya skripsi ini.

(10)

xi

Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada teman seperjuanganku Nurfitri Wahidah, Harni dan Harmi yang telah menemaniku suka dan duka serta selalu membantu disaat saya membutuhkan pertolongan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu menyelesaikan penulisan ini serta seluruh rekan mahasisiwa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2015 atas segala kebersamaan, motivasi, dan saran bantuannya kepada penulis. Tanpa ada partisipasi dari teman-teman tentunya penulisan ini tidak akan terselesaikan.

Terima kasih pula kepada pihak-pihak lain yang tak sempat disebutkan satu persatu dalam Penulisan ini. Pihak-pihak yang telah memberi semangat dan membantu dalam penulisan dan penyusunan penulisan ini, baik konstribusi secara langsung maupun tidak langsung sehingga penulisan ini dapat terselesaikan.

Sebuah kata sempurna tidak pantas penulis sandang karena tak ada gading yang tak retak. Hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Semoga tugas ini dapat memberikan setitik ilmu dan manfaat bagi para pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Wassalam

Makassar, 5 Maret 2020

(11)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penulisan ... 4

D. Manfaat Penulisan ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6

A. Penulisan Relevan ... 6

(12)

xiii

C. Kerangka Pikir ... 43

BAB III METODE PENELITIAN ... 45

A. Jenis Penulisan ... 45

B. Fokus Penulisan ... 45

C. Definisi Istilah ... 46

D. Data dan Sumber Data ... 47

E. Teknik Pengumpulan Data ... 47

F. Instrumen Penulisan ... 47

G. Teknik Analisis Data ... 48

H. Desain Analisis Data ... 49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 52

A. Hasil Penelitian ... 52

B. Pembahasan ... 64

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 68

A. Simpulan ... 68

B. Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 71

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sastra ialah sebuah karya ciptaan manusia yang memiliki nilai estetika tersendiri bagi pencipta itu sendiri maupun bagi penikmat sastra lainnya. Selain itu, sastra juga merupakan potret kehidupan dan peradaban manusia, sehingga wajar saja jika sastra tidak terlepas dari kehidupan manusia. Begitupun dalam dunia pendidikan, sastra disajikan kepada anak didik lewat model pengajaran yang berlandaskan kepada pendekatan komunikatif-integratif, yakni memadukan dan menyatukan pengajaran sastra dengan empat aspek keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, dalam hal ini sastra juga berkontribusi terhadap dunia pendidikan dan perkembangan anak , terutama jika itu menyangkut nilai-nilai pendidikan karakter atau nilai moral pada anak. Karya Sastra terbagi atas 3 yaitu puisi,drama dan Prosa. Adapun penelitian ini termasuk kedalam jenis prosa yakni analisi pendidikan karakter dalam novel

Sebelas Patriot karya Andrea Hirata.

Novel Sebelas Patriot karya Andrea Hirata membahas tentang persepakbolaan yang menceritakan tentang kisah yang menggetarkan dan sangat inspiratif tentang cinta seorang anak, pengorbanan seorang ayah, makna menjadi orang Indonesia dan kegigihan menggapai mimpi-mimpinya. Seperti tertulis dalam judulnya, Sebelas Patriot mengangkat jiwa patriotisme dan cinta tanah air. Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat bagaimana gambaran karakter yang

(14)

dimiliki tokoh dalam novel “Sebelas Patriot” karya Andrea Hirata. Keistimewaan cerita yang terdapat dalam novel ini adalah nilai pendidikan karakter yang dimiliki oleh tokoh cerita. Karakter yang dimiliki tokoh cerita sangatlah berkarakter dan bisa menjadi inspirasi bagi pembaca novel ini.

Nilai pendidikan karakter adalah jenis nilai yang terdapat dalam sebuah objek kajian, dalam hal ini novel sebagai suatu karya sastra yang dapat memberikan dampak positif dan nilai yang luhur kepada setiap pembaca karya sastra tersebut. Nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam suatu karya satra dapat menjadi alat untuk memberikan pendidikan yang positif kepada masyarakat, khususnya penikmat karya sastra. Oleh karena itulah alasan peneliti untuk menganalisis nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata.

Salah satu pendekatan yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Pendekatan sosiologi sastra menekankan kajiannya tentang hubungan pengaruh timbal balik antara sosiologi dan sastra. Peneliti menggunakan tinjauan sosiologi sastra pada penelitian ini karena peneliti tertarik meneliti secara sosiologis, terutama karya fiksi novel untuk menggali makna sastra dan aspek sosial dalam sastra. Penelitian mengenai sosiologi sastra juga belum banyak diteliti dikalangan mahasiswa kampus Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk

(15)

mengetahui bagaimana nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Sebelas

Patriot karya Andrea Hirata ditinjau dari sosiologi sastra.

Pendidikan karakter pada siswa biasanya bergantung pada bahan ajar yang digunakan di sekolah. Usia remaja yang labil, serta kondisi lingkungan sekitar yang buruk, membuat siswa mudah terpengaruh ke dalam pergaulan yang salah dan mengakibatan runtuhnya nilai nilai pendidikan karakter yang sedang dicoba untuk ditanamkan pada peserta didik. Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan, banyak orang tua maupun tenaga pendidik yang membiasakan anak maupun peserta didiknya agar gemar membaca, salah satunya adalah membaca novel. Namun Maraknya novel bergenre SMS dan FAK dengan bahasa vulgar yang beredar bebas dan luas bisa saja menjadi pilihan peserta didik dalam membaca novel. Walaupun pada dasarnya novel-novel tersebut belum selayaknya untuk mereka baca. Untuk mengantisipasi dan memberikan solusi terhadap kekhawatiran orang tua maupun tenaga pendidik terhadap pemilihan jenis novel yang baik untuk dibaca oleh peserta didik, maka penulis mencoba meneliti dan menganalisis nilai pendidikan karakter dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata

Penelitian ini juga dapat mempermudah pembaca secara umum, serta peneliti selanjutnya sebagai referensi atau perihal mengkonsumsi secara bersama guna menambah wawasan pengetahuan terkait informasi kejadian negara lain, dan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalam sebuah novel. Selain itu, pembaca juga dapat mengetahui bahwa sesungguhnya novel bukanlah sekadar

(16)

bahan bacaan semata, melainkan terdapat pesan moral maupun nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya.

Penelitian ini memang layak dilakukan, karena tidak semua masyarakat Indonesia pernah membaca atau melakukan penelitian terhadap Sebelas Patriot karya Andrea Hirata ini. Terutama penelitian dalam ranah karya tulis ilmiah berupa proposal, skripsi, maupun jurnal yang terakreditasi ataupun tidak terakreditasi sama sekali.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini mengacu pada kajian nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata, dapat dirumuskan sebagai berikut:

Nilai-nilai pendidikan karakter apa sajakah yang terdapat di dalam novel Sebelas

Patriot Karya Andrea Hirata ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

Mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel

Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata. D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan khususnya mengenai pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia :

(17)

1. Manfaat Teoritis

a) Menjadi sumbangan ilmu pengetahuan yang dapat menambah informasi mengenai analisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel.

b) Memotivasi dalam menjalani hidup sehari-hari dengan penuh tanggung jawab dan memasyarakat.

c) Memperkaya penelitian di bidang sastra khusunya mengenai Nilai Pendidikan Karakter dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata.

2. Manfaat Praktis

a) Bagi pembaca, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang nilai pendidikan karakter dalam novel Sebelas

Patriot Karya Andrea Hirata.

b) Bagi peneliti lain, diharapkan dapat digunakan sebagai referensi penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan hal-hal yang sama. c) Bagi masyarakat, diharapkan dapat memberikan wawasan arti

(18)

6 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Relevan

Penelitian yang terkait dengan nilai pendidikan karakter dalam suatu novel memang telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Akan tetapi, tentunya ditemukan beberapa perbedaan antara penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan penelitian yang akan dilakukan ini. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh :

Reny Nawang Sakti (2013) yang berjudul “Nilai Pendidikan Karakter Novel Bumi Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy Dan Relevansinya Terhadap Materi Pembelajaran Sastra Di SMA”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Bumi Cinta mencakup nilai jujur, religius, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, komunikatif, peduli lingkungan serta peduli sosial, (2) novel Bumi Cinta dapat digunakan sebagai materi pembelajaran sastra di SMA karena menggunakan bahasa yang mudah dipahami, memunculkan situasi baru yang menarik bagi peserta didik, merupakan bacaan yang memiliki kisah romansa berbalut dakwah serta dapat digunakan sebagai bacaan wajib dalam pembelajaran sastra.

Teguh Alif Nurhuda (2017) dengan judul “Kajian Sosiologi Sastra Dan Pendidikan Karakter Dalam Novel Simple Miracles Karya Ayu Utami Serta Relevansinya Pada Pembelajaran Sastra Di SMA”. Hasil penelitian ini

(19)

menunjukkan adanya hubungan sosial antar tokoh baik dalam satu anggotakeluarga maupun di luar anggota keluarga. Selain itu hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan dari 18 nilai pendidikan karakter yang ditentukan oleh pemerintah terdapat sepuluh nilai pendidikan karakter di dalam novel tersebut, di antaranya religius, jujur, toleransi, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat, gemar membaca, peduli sosial, dan tanggung jawab. Novel ini juga memiliki nilai kebudayaan lokal di dalamnya, religius, dan sosial sehingga dapat dijadikan bahan ajar di SMA kelas 12 sesuai dengan KD 4.1.

Tri Nela Sabconita (2007) dengan judul “Nilai-nilai Budaya dalam Novel

Ayat-ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy dan Kesesuaiannya sebagai

Bahan Pengajaran Sastra di SMA”. Dalam penelitiannya, Tri Nela mengidentifikasi dan mendeskripsikan nilai-nilai budaya dalam novel Ayat-ayat

Cinta. Sumber data adalah novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El

Shirazy, penerbit Pesantren Basmala Indonesia, tahun 2008, di Semarang. Teknik penelitian yang digunakan adalah analisis konten, sedangkan metode yang digunakan untuk menganalisis menggunakan deskriptif kualitatif.

Adapun perbedaan antara ketiga penelitian relevan yang dilakukan oleh Reny Nawang Sakti, Teguh Alif Nurhuda dan Tri Nela Sabconita dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti sekarang yaitu terletak pada sumber data dan objek kajiannya. Pada penelitian relevan di atas, mengkaji tentang relevansi dan implementasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA, sedangkan pada penelitian kali ini adalah menganalisis nilai pendidikan karakter yang ada dalam novel Sebelas Patriot Karya Andrea Hirata. Sementara itu, adapun

(20)

persamaannya dengan penelitian relevan di atas yaitu sama-sama meneliti tentang nilai pendidikan karakter, dan metode penelitian serta jenis penelitian yang sama.

B. Landasan Teori. 1. Karya Sastra

Sastra adalah suatu bentuk hasil pemikiran dan pekerjaan seni yang kreatif yang dihasilkan oleh manusia dan menjadikan kehidupannya sebagai objeknya. Sastra pun dapat berarti potret artistik dari sebuah lingkungan sosial. Menurut Gramsci (Anwar, 2012:77) karya sastra yang berkualitas adalah karya sastra yang menunjukkan keterlibatan pengarangnya dengan sejarah yang sedang mewujudkan diri. Sedangkan Wellek dan Warren ( 1990:3) mengatakan bahwa sastra adalah suatu kajian kreatif, sebuah cabang seni. Jadi sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Sastra adalah karya imajinatif. Karya sastra merupakan universe atau semesta. Pada sisi lain, karya sastra menjadi rekaman sejarah suatu masa. Adapun salah satu karya sastra yaitu novel. Karya sastra merupakan hasil kreativitas manusia sebagai cerminan kehidupan manusia.

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sastra adalah suatu karya manusia yang memiliki nilai estetika tersendiri baik bagi penciptanya maupun bagi penikmat karya sastra. Menurut genrenya karya sastra dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: prosa (fiksi), puisi dan drama. Dari ketiga jenis genre sastra tersebut penulis hanya memfokuskan kajiannya pada puisi.

(21)

Drama sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu draomai yang berarti berbuat, bertindak, dan sebagainya. Kata drama dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan. Secara umum, pengertian drama merupakan suatu karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dan dengan maksud dipertunjukkan oleh aktor. Pementasan naskah drama dapat dikenal dengan istilah teater. Drama juga dapat dikatakan sebagai cerita yang diperagakan di panggung dan berdasarkan sebuah naskah.

b. Puisi

Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan.

Puisi merupakan suatu bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran serta perasaan dari penyair dan secara imajinatif serta disusun dengan mengonsentrasikan kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik serta struktur batinnya. Puisi merupakan seni tertulis yang menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya (keindahan).

Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993: 7) mengatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindra, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur. Puisi terbagi menjadi 2 yaitu puisi baru dan puisi lama.

(22)

c. Prosa.

Ada beragam konsep yang berkaitan dengan cerita fiksi (rekaan), ada yang mengatakan fiksi itu prosa. Rekaan dan ada pula yang cerita fiksi, kata fiksi itu sendiri berasal dari kata latin fictio yang berarti pembentukan, angan-angan, khayalan (Frans Mido, 1994:13). Sedangkan menurut (KBBI 2003) yang dimaksud dengan fiksi mencakup 1) seperti roman, novel dll, 2) rekaan, khayalan tidak berdasakan kenyataan, dan 3) pernyataan yang berdasarkan khayalan atau pikiran.

Prosa adalah karangan bebas. Maksudnya adalah penulis prosa tidak terikat oleh banyaknya baris, banyaknya suku kata, dalam setiap baris serta tak terikat oleh irama dan rimanya seperti dalam puisi. Prosa adalah hasil karya sastra yang bersifat paparan atau berbentuk cerita. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat serta berbagai jenis media lainnya. Prosa dibedakan menjadi 2 jenis yaitu prosa lama dan prosa baru.

1) Prosa Lama

Prosa lama umumnya tidak diketahui nama pengarangnya. Prosa lama merupakan warisan leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Prosa lama berisi petuah atau nasihat dalam kehidupan sehari-hari. Jenis-jenis prosa lama yaitu dongeng, cerita rakyat, kisah, riwayat, dan hikayat.

(23)

Prosa baru adalah prosa yang diciptakan pada masa sekarang. Umumnya prosa baru diketahui secara pasti nama penulisnya. Yang termasuk prosa baru yaitu:

1.1) Roman

Roman adalah karangan yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Roman biasanya bercerita tentang keadaan pada zaman saat roman tersebut ditulis. Roman adalah bagian dari karya sastra dengan bentuk prosa yang berisi pengalaman kehidupan tokoh, mulai dan lahir sampai dewasa hingga meninggal dunia. Dalam pengertian yang lain, roman adalah cerita dengan urutan kejadian yang bersambung satu dengan yang lain yang melukis pengalaman-pengalaman batin dan lahir dari tokoh-tokohnya dalam suatu situasi hidup tertentu. Roman biasanya lebih panjang daripada novel jika dilihat dari panjang pendeknya cerita. Roman sengaja diciptakan oleh pengarangnya untuk menampilkan keseluruhan perjalanan hidup suatu tokoh, lengkap dengan segala permasalahannya, termasuk bagaimana kehidupan sosial tokoh tersebut.

1.2) Biografi

Biografi adalah jenis tulisan yang menceritakan riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Umumnya pembuatan biografi hanya untuk tokoh-tokoh yang dianggap penting dan memiliki pengaruh bagi kehidupan orang banyak. Biografi bisa berbentuk tulisan singkat dalam satu artikel pendek, namun bisa juga dalam bentuk buku atau lebih dari satu buku.

(24)

Cerpen adalah prosa yang memiliki cerita yang lebih singkat dan padat. Cerpen biasanya dimuat dalam surat kabar, majalah atau tabloid. Cerita pendek biasanya mempunyai kata yang kurang dari 10.000 kata atau kurang dari 10 halaman saja. Selain itu, cerpen atau cerita pendek hanya memberikan sebuah kesan tunggal yang demikian serta memusatkan diri pada salah satu tokoh dan hanya satu situasi saja.

1.4) Novel

Novel berasal dari bahasa Latin yaitu Novellus yang diturunkan dari kata novles yang berarti baru. Novel dikatakan baru karena muncul setelah puisi dan drama. Menurut istilah, novel adalah suatu narasi yang panjang dan sering mengangkat kisah kehidupan manusia yang dibangun dari unsur ekstrinsik dan intrinsic

Novel atau sering adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut. Novel memunyai ciri bergantung pada tokoh, menyajikan lebih dari satu impresi, menyajikan lebih dari satu efek, menyajikan lebih dari satu emosi (Tarigan, 1985: 164-165).

Nurgiyantoro (2010: 10) mengemukakan bahwa novel merupakan karya fiksi yang dibangun oleh unsur-unsur pembangun, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Novel juga diartikan sebagai suatu karangan berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku.

(25)

1.4.1) Ciri-ciri novel

1.4.1.1) Memiliki alur/plot yang kompeks. Berbagai peristiwa ditampilkan saling berkaitan sehingga novel dapat bercerita panjang lebar, membahas persoalan secara luas dan lebih mendalam

1.4.1.2) Tema dalam novel tidak hanya satu, tetapi muncul tema-tema sampingan. Oleh karena itu, pengarang dapat membahas hamper semua segi persoalan.

1.4.1.3) Tokoh/karakter tokoh dalam novel biasa banyak. Dalam novel, pengarang sering menhidupkan banyak tokoh ceerita yang masing-masing digambarkan secara lengkap dan utuh.

1.4.2) Penggolongan novel:

Berdasarkan unsur intrinsiknya, novel dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:

1.4.2.1) Novel plot : adalah novel yang mengutamakan struktur cerita berupa perkembangan kejadian atau urutan peristiwa. Oleh karena lebih mengutamakan penggambaran tentang peristiwa, novel ini banyak menghadirkan kejutan dan ketegangan.

1.4.2.2) Novel watak atau novel karakter adalah novel yang mengutamakan penggambaran watak atau karakter tokoh-tokohnya, misalnya : penakut, pemalas, humoris, pemarah, mudah putus asa, tidak tetap pendirian atau berkecil hati.

(26)

1.4.2.3) Novel Tematis adalah novel yang mengutamakan tema atau pokok permasaahan yang dibahas sehingga digolongkan dalam beberapa jenis.

1.4.2.4) Novel Politik, lebih mengutamakan permasalahan dalam dunia politik pemerintahan, misanya Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis.

1.4.2.4) Novel Agama, lebih mengutamakan pembahasan tentang keagamaan dengan berbagai permasalahn yang melingkutinya, misalnya Kemarau karya A.A. Navis

1.4.2.5) Novel Sosial lebih mengutamakan pembahasan tentang kehidupan kemasyarakatan sebagai dunia yang beragam (heterogen), misalnya Bako karya Darman Moenir

1.4.3) Unsur Intrinsik 1.4.3.1) Tema

Tema adalah ide atau gagasan utama dari novel. Tema mengandung gambaran luas mengenai kisah yang akan diangkat sebagai ceritanya, sehingga sangat penting untuk memilih tema yang tepat sebelum memulai membuat sebuah novel. Sebab tema yang bagus akan menghasilkan cerita yang bagus pula.

1.4.3.2) Tokoh / Penokohan

Tokoh merupakan pemeran atau seseorang yang menjadi pelaku dalam cerita novel. Sedang penokohan atau karakterisasi merupakan watak atau sifat dari tokoh yang ada dalam cerita novel tersebut.

(27)

Berdasarkan watak atau karakternya, tokoh dibagi menjadi tiga, antara lain: Tokoh protagonis, merupakan tokoh utama yang menjadi pusat perhatian dalam cerita. Tokoh utama ini digambarkan sebagai seseorang yang baik yang selalu mendapatkan masalah. Tokoh antagonis, merupakan tokoh yang menjadi musuh dari tokoh utama atau tokoh protagonis dalam cerita. Tokoh antagonis digambarkan dengan seseorang yang memiliki sifat yang buruk, tidak bersahabat dan selalu menimbulkan konflik. Tokoh tritagonis, merupakan tokoh yang menjadi penengah antara tokoh protagonis dan juga tokoh antagonis. Tokoh tritagonis ini digambarkan dengan seseorang yang memiliki sifat dan sikap netral, kadang bisa berpihak pada tokoh protagonis, dan kadang berpihak pada tokoh antagonis. Akan tetapi di saat keduanya terlibat konflik, maka tokoh tritagonis ini bertindak sebagai pelerai dari keduanya.

1.4.3.3) Alur (Plot)

Alur (Plot) merupakan serangkaian peristiwa-peristiwa yang membentuk sebuah jalannya cerita pada novel. Secara umum alur pada novel dibedakan menjadi 3 macam, antara lain:

Alur maju (Progresif), merupakan alur peristiwa-peristiwa atau kejadian dalam cerita yang bergerak secara urut dari awal hingga akhir dan memiliki jalan cerita yang rapi. Biasanya alur maju ini digunakan pada novel autobiografi dan biografi.

(28)

Alur mundur (Regresif), merupakan alur peristiwa-peristiwa atau kejadian dalam cerita yang bergerak secara terbalik atau dari yang sudah berlalu. Pada alur ini cerita tidak diawali dengan pengantar.

Alur campuran, adalah perpaduan antara alur maju (Progresif) dengan alur mundur (Regresif ) namun kadang jalannya alur secara acak dan tidak rapi. Alur ini biasanya digunakan untuk novel misteri atau novel fantasi.

1.4.3.4) Latar atau Setting

Latar atau setting yaitu tempat dan waktu yang melatarbelakangi terjadinya kejadian dan peristiwa dalam cerita. Latar atau setting ini merupakan salah satu unsur pembangun novel yang penting untuk menciptakan suasana dalam cerita. Latar atau setting terdiri dari beberapa macam, di antaranya:

Waktu, yaitu masa di mana jalannya cerita sedang berlangsung. Latar atau setting waktu ini bisa digambarkan secara garis besar ataupun secara terperinci. Secara garis besar misalnya saja, pada musim kemarau, musim hujan, siang hari, malam hari, hari minggu, dan lain sebagainya.

Tempat, yaitu lokasi di mana jalannya cerita tersebut berlangsung. Latar atau setting tempat ini digambarkan secara umum dan khusus, misalnya saja secara umum seperti di terminal Bekasi, di Stadion, dan lain sebagainya. Sedangkan secara khusus seperti di ujung jalan mawar, di rumah Anton dan lain sebagainya.

(29)

Sosial budaya, yaitu pergaulan yang secara status sosial. Ini berhubungan dengan latar tempat, sebab status sosial sangat erat hubungannya dengan tempat bergaul. Keadaan lingkungan, lingkungan dari tokoh-tokoh dalam cerita akan memunculkan konflik batin dalan jalannya cerita.

1.4.3.5) Sudut Pandang / Point of View

Sudut pandang merupakan cara pandang pengarang dalam menempatkan dirinya pada cerita atau cara pengarang menempatkan dirinya dalam cerita. Sudut pandang ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

Sudut pandang orang pertama-sebagai pelaku utama.Pengarang dalam sudut pandang ini berperan sebagai tokoh utama dalam cerita. Sehingga apa yang diceritakan merupakan kisah pengalaman yang dapat dirasakan saat membaca cerita. Kalimat yang digunakan biasanya menggunakan kalimat dalam bentuk aktif, dan pengarang menggunakan kata ganti “Aku” atau “Saya”.

Sudut pandang orang pertama-sebagai pelaku sampingan. Pengarang dalam sudut pandang ini sebagai pelaku di luar tokoh utama. Pengarang seperti menceritakan atau mengungkapkan tanggapannya atau sebagai pencerita apa yang dilihatnya dari tokoh utama. Pada sudut pandang ini pengarang berperan ganda. Namun posisinya sebagai pencerita cenderung terbatas.

(30)

Sudut orang ketiga-serba tahu Pada sudut pandang ini pengarang menempatkan dirinya menjadi pelaku cerita sekaligus penciptanya. Pengarang bisa mengarahkan, membuat, mengomentari, bahkan melakukan dialog dengan tokoh-tokoh dalam cerita. Bisa dikatakan posisi ini merupakan posisi sebebas-bebasnya.

Sudut pandang orang ketiga-sebagai pengamat Pada sudut pandang ini pengarang menempatkan dirinya sebagai pengamat cerita saja. Sehingga pengarang hanya menyampaikan yang dia lihat, dengar, dan rasakan, kemudian disimpulkan ke dalam cerita saja. Dengan kata lain pengarang terbatas posisinya meski ada dalam cerita.

1.4.3.6) Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah suatu corak dalam pemilihan bahasa yang digunakan oleh penulis di dalam cerita novel. Gaya bahasa ini berguna untuk menciptakan suasana atau nada untuk mengajak. Selain itu juga dapat berguna untuk merumuskan dialog yang bisa menggambarkan hubungan atau interaksi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam cerita. 1.4.3.7) Amanat

Amanat merupakan pesan dari pengarang ke pada pembacanya yang terkandung di dalam cerita novel. Dalam menyampaikan maksud pesannya, sang penulis biasanya mengungkapkannya secara tersirat ataupun tersurat.

Tersirat , adalah amanat yang cara penyampaiannya secara langsung sehingga pembaca bisa langsung menemukannya.

(31)

Tersurat, adalah amanat yang cara penyampaiannya secara tidak langsung, atau pembaca perlu membaca cerita dari awal hingga akhir untuk bisa menemukan pesan dari penulis.

Amanat merupakan salah satu unsur yang paling penting dari sebuah karya sastra. Amanat dapat berupa nasehat, ajakan, kritik sosial, protes, dan lain sebagainya.

1.4.3) Unsur Ekstrinsik 1.4.3.1) Unsur Biografi

Unsur biografi merupakan unsur tentang latar belakang penulis, diantaranya seperti tempat tinggal penulis, keluarganya, latar belakang pendidikannya, lingkungannya, dan lain sebagainya.

Latar belakang cukup berpengaruh dalam penulisan puisi, misalnya saja penulis yang latar belakangnya dari keluarga miskin, maka ia akan dapat membuat puisi yang sangat menyentuh hati orang yang membacanya.

1.4.3.2) Unsur Sosial

Unsur sosial sangat erat hubungannya dengan kondisi masyarakat ketika puisi dibuat. Misalnya saja puisi tersebut dibuat ketika masa orde baru. Pada waktu itu kondisi masyarakat sedang dalam keadaan kacau dan keadaan pemerintahan pun acak-acakan, sehingga puisi yang dibuat pada waktu itu adalah puisi yang berisi sindiran-sindiran terhadap masyarakat.

(32)

Unsur nilai dalam puisi berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, politik, sosial, budaya, adat-istiadat, hukum, seni, dan lain sebagainya. Nilai yang ada dalam puisi menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca, dan juga cukup mempengaruhi baik tidaknya puisi tersebut.

2. Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra dengan menggabungkan dua disiplin ilmu yang berbeda, sosiologi dan sastra. Secara harfiah mesti ditopang oleh dua konsep yang berbeda, yaitu konsep sosiologi dan konsep sastra. Sosiologi dan sastra, memiliki kesamaan pandang terhadap fakta kemanusiaan. Sosiologi mencoba mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah ekonomi, agama, politik dan lain-lain yang semuanya itu merupakan struktur sosial kita untuk mendapatkan gambaran tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tentang mekanisme sosialisasi, proses pembudayaan yang menempatkan anggota masyarakat di tempatnya masing-masing. Sastra pun akan membidik hal ihkwal yang jarang atau mungkin tidak terpahami oleh sosiolog. Sastra menawarkan kehidupan unik manusia yang bersifat imajinatif.

Sosiologi sastra adalah suatu telaah sastra yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam suatu masyarakat yang berkenaan dengan sosial dan proses sosial. Semi (1988:52) menyatakan bahwa sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang dengan baik, dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan masalah perekonomian, keagamaan, politik, dan lain-lain. Sedangkan Swingewood ( Faruk, 2010:1) mendefinisikan sosiologi merupakan studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat,

(33)

studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial. Dilihat dari pernyataan Swingewood tersebut ada perbedaan mendasar sosiologi dengan dunia sastra sebab sosiologi bersifat objektif dan ilmiah, sedangkan sastra lebih berdasar pada perasaan. Menurut Endraswara (2004:77), sosiologi sastra adalah penelitian sastra yang bersifat reflektif dengan pertimbangan dapat melihat sastra digemari para peneliti. Asumsi dasar penelitian sosiologi sastra adalah kelahiran sastra tidak dalam kekosongan sosial.

Sementara itu, sastra berurusan dengan manusia dalam masyarakat serta usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Adaptasi manusia di masyarakat, merupakan makanan empuk sastrawan dalam berkreasi secara imajinatif. Itulah sebabnya, sosiologi dan sastra selalu memiliki titik temu yang signifikan. Perihal isi, sesungguhnya sosiologi dan sastra berbagi masalah yang sama. Pada pandangan ini, nampak bahwa sastra tidak akan lepas dari masalah sosial. Sastra sering berurusan dengan hal-hal lain di luar sastra. Maka, studi sosiologi sastra merupakan jawaban tepat atau bahkan dapat disebut sebuah alternatif untuk melacak hubungan tersebut.

Watt (Damono, 1978: 3) mengemukakan bahwa dalam sosiologi sastra yang dipelajari meliputi: Pertama, konteks sosial pengarang, yakni: (a). bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencaharian (pengayom, dari masyarakat atau kerja rangkap) misalnya Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri yang bekerja sebagai penyair saja demikian juga Rendra dengan teaternya, (b) Profesionalisme kepengarangan, misalnya Chairil Anwar, Rendra, Sutardji, Danarto, Putu wijaya yang murni sebagai sastrawan, (c) Masyarakat apa yang dituju: Karya-karya

(34)

Danarto dan Sutardji Calzoum Bachri ditujukan bagi pembaca yang menyukai sufisme, Rendra ditujukan untuk kalangan masyarakat intelektual, Nh Dini ditujukan untuk kalangan wanita, Iwan Simatupang ditujukan untuk kalangan yang menyukai filsafat. Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat: (a) sastra mungkin dapat mencerminkan masyarakat, (b) menampilkan fakta-fakta sosial dalam masyarakat: lintah darat, kawin paksa (Siti Nurbaya), kehidupan diplomat (novel Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini), kehidupan pelacur (puisi Nyanyian Angsa karya Rendra.

Patut direnungkan, bahwa konsep sosiologi sastra akan melesap pada setiap genre sastra. Setiap genre memiliki pendukung secara kolektif. Ada sekelompok orang yang gemar macapatan, tetapi tidak suka geguritan, atau sebaliknya. Genre sastra sekaligus menjadi wajah dari sekelompok orang.Genre sastra sering merupakan suatu sikap kelompok tertentu. Novel-novel karya Putu Wijaya yang teatrikal, banyak digemari kelompok tertentu. Karya-karya geguritan St. Iesmaniasita, biasanya dipandang lebih ndesani dan feminis. Karya-karya cerpen Jayus Pete, banyak melukiskan dunia mungkin, sebagai karya absurd. Kadang-kadang sebuah karya akan menampilkan seluruh kondisi masyarakat secara detail. Ada pula karya sastra yang serampangan, hanya mengemukakan hal ihwal yang dangkal. Sastra yang menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya, kadang-kadang gagal. Sastra yang demikian, sering kurang menarik dari aspek estetika. Merahnya Merah menceritakan kehidupan gelandangan: rumah, cara kerja mereka, bercinta, kehidupan sehari-hari: mandi, makan, tidur, ke belakang, dan seterusnya, dianggap terlalu lugas. Mustinya sastra adalah dunia sosial

(35)

pilihan, bukan asal-asalan. Novel Dokter Wulandari karya Yunani, hanya melukiskan sebagaian hidup Wulandari saja, yang penuh duka lara. Kecermatan novelis penting, namun tidak harus melukiskan semua hal.

Watt (1964:300-305) menyatakan fungsi sosial sastra sepertinya merupakan efek karya sastra pada dataran penikmat. Pembaca, termasuk golongan yang menjadi sasaran karya sastra. Pembaca yang mampu memanfaatkan karya sastra, tentu memiliki makna tersendiri. Idaman setiap zaman pun berbeda-beda dalam menikmati sastra. Watt (1964:311-312) menyatakan bahwa setiap masyarakat memiliki idola terhadap karya sastra. Idola berkaitan fungsi karya sastra. Ada masyarakat yang memiliki idola karya sastra: (1) buku-buku sastra yang memuat kebijaksanaan hidup, (2) karya sastra epic, kepahlawanan, petualangan, (3) sastra himne, yang membuat senandung tertentu. Masyarakat jelas memiliki keyakinan, ilmu pengetahuan, dan aspirasi tertentu terhadap sebuah karya sastra. Jadi idealisme kolektif sering mempengaruhi keberadaan karya sastra. Karya-karya seperti Serat Wulang Reh, Serat Wedhatama, dan Serat Kalatidha, seakan menjadi 19 favorit setiap kelompok. Banyak sinden wayang dan ketoprak yang sampai tergilagila pada karya tersebut. Karya sastra yang menjadi perhatian publik, tentu menyimpan kelebihan khusus. Karya yang memiliki energi khusus, akan disimpan, dibaca berkali-kali, dan digunakan pada situasi tertentu guna menenteramkan jiwa dan keadaan sosial. Karya-karya sastra yang sukses akan mampu memberikan: (1) efikasi terhadap penikmatnya, (2) memberikan obat yang mujarap bagi pembaca, (3) mengubah tindakan masyarakat, dan (4) mempengaruhi sikap hidup pembacanya. Masyarakat pembaca akan

(36)

menginternalisasi karya sastra atas dasar kemampuannya. Kehadiran nilai moral dan nilai sosial akan diserap oleh pembaca, hingga dijadikan pedoman hidup.

Bagi Wordworth (Watt, 1964:311) karya sastra dapat mengubah suasana hidup. Karya sastra dapat menciptakan suasana buruk dan sebaliknya juga mampu membuat suasana dunia menjadi lebih baik. Watt menawarkan pemikiran bahwa karya sastra memiliki fungsi: (1) memberikan kesenangan, (2) menyemaikan hiburan, (3) menawarkan kesempurnaan hidup. Ide dan doktrin karya sastra sering diikuti oleh pembaca. Karya sastra seringkali juga menampilkan tindakan anti sosial. Konsekuensinya, karya sastra tidak jarang yang mempengaruhi pembacanya. Karya sastra yang baik, menurut Watt (1964:312) akan memberikan fungsi sebagai: (1) pleasing, yaitu kenikmatan hiburan. Karya sastra dipandang sebagai pengatur irama hidup, hingga menyeimbangkan rasa. (2) instructing, artinya memberikan ajaran tertentu, yang menggugah semangat hidup. Karya sastra diharapkan mencerminkan aspek didaktik. Sejak zaman Goethe, Tolstoy, dan Shakespeare, karya sastra telah menawarkan ajaran moral. Kesadaran moral dalam sastra akan menjadi unsur penting dalam karya sastra. Kenikmatan dan ajaran selalu dibungkus dengan moralitas oleh sastrawan yang hebat. Sastrawan yang mampu berolah imajinasi, akan menyadarkan moral sosial secara bijak. Kalau demikian, berarti fungsi sastra tidak harus ditawar-tawar lagi, melainkan inherent dalam karya sastra.

W.B. Yeats (Watt, 1964:313) meletakkan dasar pemahaman sosiologi sastra, khususnya fungsi sastra. Menurut dia, seni dan sastra adalah refleksi tindakan sosial manusia. Itulah sebabnya,membaca sastra sama halnya orang sedang

(37)

memetik ajaran penting dari kehidupan. Keterkaitan sastra dan masyarakat sudah tidak dapat ditawar lagi. Sastra menjadi potret keadaan sosial. Yang menjadi tugas peneliti sosiologi sastra adalah menemukan fungsi ajaran dan hiburan karya sastra dalam hidup bermasyarakat. Tidak hanya fungsi sastra sebagai kebutuhan pribadi, melainkan juga berhubungan dengan aspek sosial. Mungikin sekali karya akan mempererat persaudaraan, kerukunan, dan peran serta manusia sebagai anggota masyarakat. Konsep sosiologi sastra tetap akan mempertimbangkan aspek estetika. Aspek fungsi sosial sastra memang menjadi penekanan wajib, namun tidak berarti harus meninggalkan unsur estetika. Harry Levin (Junus, 1986:7) menyatakan bahwa melihat karya sastra bukan merefleksikan realita, tetapi membiaskan (to refract), bahkan mungkin merubah sehingga terjadi bentuk yang berlainan. Untuk mengembalikan ke bentuk asli, diperlukan interpretasi. Interpretasi sosiologi sastra, jelas mengaitkan estetika dengan fungsi-fungsi sosial sastra. Interpretasi merupakan jalur konseptik sosial, yang selalu dikaitkan dengan kaidah estetis.

. Beberapa orang peneliti mengemukakan berbagai konsep sebagaimana diuraikan oleh Wellek dan Warren (1993). Pertama Bucher yang telah membuat konsep yang agak berat sebelah, menurutnya puisi lahir dari irama kerja para pekerja kasar. Ahli-ahli anropologi meneliti fungsi magis seni primitif. George Thomson mencoba mengaitkan tragedi Yunani dengan kepercayaan dan ritual dan dengan revolusi sosial demokratis pada zaman Aeschylus. Christopher Cauldwell dengan agak naif mencoba menelusuri asalusul puisi pada emosi suku-suku primitif dan pada ilusi kaur.l borjuis tentang kebebasan individu. Berdasarkan

(38)

berbagai penelitian di atas Wellek dan Warren (1993) mengatakan bahwa efektif tidaknya sikap sosial memperkaya suatu karya sastra bergantung pada faktor penentu sosial dan bentuk-bentuk sastra yang sudah dikemukan. Sifat sosial bukan merupakan inti konsep sastra, kecuali kalau kita beranggapan bahwa sastra pada dasarnya adalah tiruan hidup dan kehidupan sosial. Tetapi sastra jelas bukan pengganti sosiologi atau politik. Sastra mempunyai tujuan dan alasan keberadaannya sendiri.

Wellek dan Warren kemudian mencoba merumuskan hubungan antara sastra dan masyarakat yang dapat diteliti dengan berbagai cara: (a) faktor-faktor di luar teks, dan (b) hubungan antara teks sastra dan masyarakat. Faktor-faktor di luar teks sendiri, gejala konteks sastra; sedangkan teks sastra itu sendiri tidak ditinjau. Misalnya kita dapat meneliti kedudukan pengarang di dalam masyarakat, sidang pembaca, dunia penerbitan dan seterusnya. Faktor-faktor konteks ini dipelajari oleh sosiologi sastra empiris yang tidak mempergunakan pendekatan ilmu sastra. Hal-hal yang bersangkutan dengan sastra memang diberi patokan dengan jelas, tetapi diteliti dengan metode-metode dari ilmu sosiologi. Adapun secara singkat Grebstein (Damono, 1978:4) mengungkapkan konsep tentang sosiologi sastra, yaitu: Karya sastra tidak dapat dipahami selengkapnya tanpa dihubungkan dengan kebudayaan dan peradaban yang menghasilkannya. Gagasan yang ada dalam karya sastra sama pentingnya 21 dengan bentuk teknik penulisannya.

Karya sastra bisa bertahan lama pada hakikatnya adalah suatu prestasi. Masyarakat dapat mendekati sastra dari dua arah: (a) sebagai faktor material istimewa, (b) sebagai tradisi. Dari gagasan itu, sekaligus menyajikan pilihan pada

(39)

peneliti. Peneliti bebas menekankan fokus, apakah akan membahas masalah sastra sebagai ungkapan budaya atau yang lain. Namun, seluruh hal yang dibahas memang layak dikaitkan dengan kondisi pengarang. Keistimewaan karya sastra tidak semata-mata sebagai imajinasi, melainkan juga kemampuan melukiskan realitas sosial.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra adalah suatu bidang studi yang memandang manusia sebagai objek sosial dan lahirnya sastra bukan karena kekosongan sosial.

3. Nilai Pendidikan Karakter

a. Nilai

Nilai adalah sesuatu yang abstrak, bukan konkret. Nilai hanya bisa dipikirkan, dipahami, dan dihayati. Nilai juga berkaitan dengan cita-cita, harapan, keyakinan, dan hal-hal yang bersifat batiniah. Nilai yang dimaksud adalah nilai etika, (baik-buruknya) karakter atau perilaku.

b. Karakter

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Karakter sebagai nama dari sejumlah seluruh ciri pribadi yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecendrungan, potensi, nilai-nilai dan pola-pola pemikiran. Menurutnya suatu kerangka kepribadian yang relatif mapan memungkinkan ciri-ciri semacam ini

(40)

mewujudkan dirinya (Lorens Bagus, 2005:392). Berkarakter adalah berkepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak (Aqib, 2015:129). c. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah atau madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal), Barnawi (2013, hal.24). Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha sadar untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Ratna Megawangi, (2004:93).

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus,yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (felling), dan tindakan (action) (Wibowo, 2012:33). Pendidikan karakter juga diartikan sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berpikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengalaman dalam bentuk perilaku, yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, masyarakat, dan lingkungannya (Zubaedi, 2011:17). Berkenaan dengan artifisial pendidikan karakter, Kesuma dkk, (2012:5) menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah upaya mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak

(41)

dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.

Pendidikan karakter juga terdapat dalam Kurikulum 2013 yang bertujuan untuk meningkatkan kegiatan proses pembelajaran dan hasil kegiatan pembelajaran yang mengarah pada pembentukan budi pekerti yang berakhlak mulia, sopan, santun, bertanggung jawab, peduli, dan responsif. Pendidikan karakter bukanlah sebagai sesuatu yang baru lagi, saat ini pendidikan karakter menjadi isu utama dalam pendidikan. Adapun pengertian lainnya pendidikan karakter adalah sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah meliputi komponen pengetahuan, kesabaran atau kemampuan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, ( aqib,dkk). Isi Kurikulum 2013 mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Jadi dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha sadar yang dapat dilakukan oleh tenaga pendidik atau guru untuk memengaruhi karakter siswa agar memiliki karakter yang baik, bermoral dan berakhlak baik di luar ruangan maupun di dalam ruangan sekolah. Sebagaimana yang telah digariskan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

(42)

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

d. Nilai- Nilai Pendidikan Karakter

Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 – 2025 (UU No. 17 Tahun 2007) antara lain adalah dalam mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. Salah satu upaya untuk merealisasikannya adalah dengan cara memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui pendidikan. Upaya ini bertujuan untuk membentuk dan membangun manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan antar umat beragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan modal sosial, menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangunan bangsa.

Dalam UU RI No 20 tahun 2003 dirumuskan tentang fungsi dan tujuan pendidikan Nasional yang digunakan untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia, sebagaimana pasal 3 UU Sikdiknas bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi, peserta didik agar menjadi manusia yang beriman yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

(43)

Menurut Sartono, pada pendidikan karakter terdapat nilai-nilai yang perlu dijabarkan deskripsinya. Deskripsi ini berguna sebagai batasan atau tolok ukur ketercapaian pelaksanaan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah. Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2010) berikut ini adalah 18 nilai-nilai pendidikan karakter yang menjadi indikator pendidikan karakter :

1. Nilai religius yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Nilai jujur yaitu perilaku yang dilaksanakan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Nilai toleransi yaitu sikap dan tindakan yang menghargai perbadaan suku, agama, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Nilai disiplin yaitu tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Nilai kerja keras yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6. Nilai kreatif yaitu berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Nilai mandiri yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

(44)

8. Nilai demokratis yaitu cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Nilai rasa ingin tahu yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Nilai semangat kebangsaan yaitu cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Nilai cinta tanah air yaitu cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang

menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap hal-hal yang terkait dengan kebangsaan.

12. Nilai menghargai prestasi yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui keberhasilan orang lain.

13. Nilai komunikatif (bersahabat) yaitu tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14. Nilai cinta damai yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman dengan kehadirannya.

15. Nilai gemar membaca yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Nilai peduli lingkungan yaitu sikap dan tindakan yang selalu berusaha mencegah dan memperbaiki kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya. 17. Nilai peduli sosial yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi

(45)

bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Nilai tanggung jawab yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Sementara itu, dalam ajaran Saridin (Said, 2012 hal.141-147), diantara nilai-nilai karakter yang bisa ditemukan antara lain : 1) Ikhlas, 2) Sabar, 3) Jujur, 4) Berbakti kepada orang tua dan gurunya, 5) Peduli lingkungan, dan 6) Iman Kuasa Allah. Sedangkan, menurut Nurgiyantoro (2009:323-324) menyatakan bahwa secara garis besar persoalan hidup dan kehidupan manusia itu dibedakan menjadi empat kategori, yaitu sebagai berikut:

a. Hubungan Antara Manusia dengan Tuhan

Hal ini dapat digambarkan dengan kelemahan manusia. Manusia yang lemah memerlukan pelindung dan tempat mengadu segala permasalahan. Terkadang memang permasalahan yang mudah dapat diselesaikan oleh manusia sendiri. Namun, tak jarang persoalan himpitan hidup, rasa putus asa, hilangnya harapan dan lain sebagainya tak mungkin diselesaikan sendiri. Maka ia butuh sesuatu yang sempurna, yaitu Tuhan. Tempat mengadu segala persoalan hidup. Tanpa-Nya, manusia bisa jadi kehilangan arah dan tujuan hidup.

b. Hubungan Antara Manusia dengan Dirinya Sendiri

Hal ini lebih menggambarkan kondisi manusia dengan dirinya sendiri atau perasaannya. Bagaimana diri kita dapat menjaga, menghormati dan menghargai diri kita sendiri, dengan segala prinsip atau aturan yang telah kita

(46)

buat sendiri. Kondisi ini diuapayakan agar manusia dapat menjaga dirinya sendiri dari segala macam godaan yang kapan saja dapat menerpa.

c. Hubungan Antara Manusia dengan Masyarakat

Hubungan manusia dengan manusia lainnya atau masyarakat perlu dijaga, karena hubungan ini juga turut berperan dalam menentukan pola hidup manusia itu sendiri. Hal ini dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain dalam artian manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

d. Hubungan Antara Manusia dengan Lingkungan

Hal ini digambarkan dengan lingkungan yang ditempati maupun fasilitas yang ada di sekitarnya yang digunakan oleh manusia itu sendiri. Seperti halnya rumah, masjid, dan lain-lain. Baik dan buruknya lingkungan yang ditempati tergantung oleh manusia yang menempati dan berkomunikasi.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Ini berarti bahwa pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, dengan harapan agar nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa dan agama.

Telah diidentifikasi sejumlah nilai pembentuk karakter yang merupakan hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai-nilai yang bersumber dari agama,

(47)

pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dikelompokkan menjadi lima yaitu :

1. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Hubungannya Dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa yaitu religius. Religius adalah sifat leligi yang melekat pada diri seseorang. Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama yang dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hudup rukun dengan pemeluk agama lain (Yaumi, 2014:87).

2. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Hubungannya dengan Diri Sendiri a. Jujur

Jujur adalah perilau seseorang yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan (Yaumi, 2014: 87). Jujur merupakan sifat dan sikap yang terpuji, jujur secara lahir juga harus diiringi dengan jujur secara batin sehingga terjadi kesesuaian antara yang lahir dan yang batin. Seseorang tidak hanya harus jujur didalam perkataannya tapi juga harus jujur dalam tindakannya sehingga dapat dipercaya pekerjaannya.

b. Tanggung jawab

Sikap serta perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan yang Maha Esa (Samani dan

(48)

Hariyanto, 2012:9). Orang yang bertanggung jawab memiliki karakter berbuat sebaik mungkin dan tidak menyalahkan orang lain ketika berbuat kesalahan karena manusia bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya, baik ataupun buruk. Manusia akan menerima dampak dari apa yang dilakukannya. Akan berdampak baik jika manusia melakukan kebaikan dan akan berdampak buruk jika manusia melakukan keburukan.

c. Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan (Yaumi, 2014:92). Orang yang disiplin akan memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya dan konsisten dalam melakukannya dan menjadikannya sebuah rutinitas. Belajar disiplin sangat diperlukan. Disiplin dapat melahirkan semangat menghargai waktu, bukan menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja (Djaramah, 2002:13). Sayyidina Ali selalu memposisikan kedisiplinan diatas segalanya kedisiplinan adalah gerbang menuju sebuah kesuksesan. Sayyidina Ali selalu menerapkan kedisiplinan kepada anak-anaknya.

d. Bekerja Keras

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya (Yaumi, 2014:94). Banyak orang yang tidak memiliki kecerdasan yang tinggi dan kepintaran yang luar biasa tapi dapat berhasil karena memiliki kemauan yang kuat dan bekerja keras untuk mewujudkannya. e. Kreatif

(49)

Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki (Yaumi, 2014:95). Seseorang dikatakan kreatif karena memiliki ide dan menghasilkan sesuatu yang baru, mengubah sesuatu yang imajinatif menjadi kenyataan. Kreativitas melibatkan dua proses: berpikir, kemudian memproduksi. Kreativitas adalah menghasilkan ilmu baru, gerakan baru dalam bidang seni, perubahan budaya dan program sosial baru dalam bidang ekonomi.

f. Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas (Yaumi, 2014:98). Pribadi yang mandiri tidak lari dari tanggung jawab dan berupaya mencari jalan keluar untuk mengatasi setiap masalah. Kemandirian berkembang melalui proses belajar yang dilakukan secara bertahap dan berulang-ulang mulai dari tahap ulang perkembangan kemandirian yang sempurna.

g. Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar (Yaumi, 2014:102). Sikap dan tindakan rasa ingin tahu dapat dimaknai juga sebagai sikap yang penasaran akan sesuatu hal yang mendalam. Menjadi seseorang yang ingin tahu bukanlah hal yang sulit namun sering dihadapkan dengan berbagai persoalan seperti; keraguan, ketakutan atau mungkin merasa belum terlalu mendesak untuk diketahui. Rasa ingin tahu adalah landasan dasar yang yang harus dimiliki oleh seseorang jika ingin belajar karena belajar

(50)

harus melalui proses bertanya untuk mendapatkan ilmu, mencari informasi, bertanya kepada narasumber lalu menyimpulkannya sendiri.

h. Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya (Yaumi, 2014:109). Membaca merupakan langkah awal untuk mencerdaskan bangsa dan tanpa membaca tidak mungkin tercipta kualitas sumber daya manusia, karakter manusia dapat terbangun dan perilaku dapat diarahkan. Orang yang sering membaca pasti akan cerdas dan memiliki kreativitas yang tinggi.

3. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Hubungannya dengan Sesama a. Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, serta mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain (Yaumi, 2014:105). Prestasi adalah dambaan setiap orang, untuk meraih prestasi seseorang harus bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk mencapainya dan seseorang juga harus dapat menghargai prestasi yang diperoleh orang lain agar dapat dijadikan contoh bagi dirinya untuk menjadi lebih baik.

b. Demokratis

Cara berpikir, bersikap, serta bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dengan orang lain (Yaumi, 2014:100). Sikap demokratis harus dibangun melalui pendidikan agar menjadi tradisi dan karakter sehingga sikap untuk memperlakukan setiap orang sama.

(51)

c. Peduli Sosial

Sikap serta tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan (Yaumi, 2014:112). Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu berhubungan dengan makhluk lainnya, makhluk yang saling membutuhkan. Maka, saling memberi bantuan antar sesama akan menumbuhkan sikap peduli sosial yang tinggi.

d. Bersahabat/Komunikatif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain (Yaumi, 2014:106). Orang yang bersahabat atau komunikatif akan membawa kedamaian dan kenyamanan bagi orang disekitarnya karena orang yang bersahabat akan menunjukkan sikap memahami perilaku, pikiran dan sikap orang lain.

4. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Hubungannya dengan Lingkungan a. Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, serta mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi (Yaumi, 2014:111). Seseorng yang peduli dengan lingkungan sekitar akan menjaga lingkungannya agar tetap terlihat bersih, indah dan rapi. Mereka bersahabat dengan alam bukan merusak dan mengeksploitasinya.

Gambar

Gambar Bagan Kerangka Pikir

Referensi

Dokumen terkait

Informasi lain yang berhasil dikumpulkan adalah bahwa harga jual ditetapkan sebesar Rp 15.000,- Dari data tersebut, hitunglah berapa titik impas atau break event point (BEP) dalam

Tahap perencanaan dana BOS meliputi penyusunan RAPBS, sumber daya manusia/Tim managemen BOS dan data siswa. Berdasarkan hasil penelitian di SDN 04 Teluk Suak

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung perubahan penggunaan dan tutupan lahan yang terjadi dalam kurun 2 dekade, antara 1989 dan 2006 dengan mengggunakan citra Landsat 5

Tugas Akhir dengan judul “ Proses Pengolahan Berita Citizen Journalism Pada Program Wide Shot Metro TV ” ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan

Sistem Informasi Hasil Studi Berbasis Web SMAN 2 SEMARANG ini diharapkan dapat berguna bagi sekolah dan dapat digunakan secara mudah oleh semua warga sekolah khususnya

Untuk hasil pengupasan, banyaknya buah aren yang dapat terkupas menggunakan mesin hasil rancangan rata-rata sebesar 97.33 % sementara dengan cara manual sebesar 100 % dan

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh variabel likuiditas, growth opportunity dan asset tangibility terhadap struktur modal pada perusahaan sektor

namun tidak mereka lihat di negeri sendiri. Semangat gerakan massa di Tunisia dan Mesir pun menyebar ke negara-negara Timur Tengah lainnya. Kata kunci dalam penyebaran tersebut