• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Tingkat Kesadaran Masyarakat dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kelurahan Lembang.

Pajak Bumi dan Bangunan merupakan salah satu sumber pendapatan daerah. Oleh karena itu, perlu diusahakan agar pendapatan dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan dapat diperoleh secara maksimal, meskipun sampai saat ini masih sangat sulit untuk mewujudkannya karena adanya bermacam-macam masalah.

Hal ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah khususnya pemerintah Kelurahan Lembang guna lebih mengoptimalkan upaya untuk dapat meningkatkan hasil penerimaan pajak bumi dan bangunan secara

maksimal dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh petugas, selain petugas seluruh masyarakat (wajib pajak) juga harus ikut berperan aktif dalam mensukseskan upaya pemerintah dengan membayar Pajak Bumi dan Bangunan dengan tepat waktu.

Tabel 4.4

Jumlah Objek Pajak Bumi dan Bangunan Buku Jumlah Objek Pajak

1 1.872

2 111

3 18

4 3

5 0

Jumlah 2.004

Sumber: Dokumen Kelurahan, 2022 Tabel 4.5

Realisasi Penerimaan PBB di Kelurahan Lembang Tahun 2020-2021

No Tahun Jumlah Wajib Pajak Hasil Pemungutan

1 2020 1.978 1.823

2 2021 1.985 1.678

Sumber: Dokumen Kelurahan, 2022

Berdasarkan tabel diatas, penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan di Kelurahan Lembang Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng mengalami penurunan dari tahun 2020-2021. Hal ini dikarenakan faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan, di mana faktor tersebut antara lain:

a. Faktor kultural dan historis

Faktor kultural atau historis dimana rakyat Indonesia yang telah mengalami penjajahan selama kurang lebih setengah abad pada

zaman kolonial maupun saat pendudukan Jepang menyisakan pemikiran yang jelek tentang pajak. Pada zaman penjajahan pajak dikenal rakyat sebagai alat pemeras. Hasil wawancara sebagai berikut yang dilakukan pada tanggal 06 Juli 2022 dengan salah satu wajib pajak yang memiliki luas bangunan seluas 70 m2 serta luas tanah seluas 84 m2 dan memiliki beban pajak sebesar Rp12.513 diketahui bahwa:

“kalau menyisihkan pendapatan untuk membayar PBB itu ya beban karena kewajibanta sebagai warga negara kita harus taat pajak”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas kita dapat mengetahui bahwa membayar pajak pada zaman sekarang tidak lagi dipandang sebagai alat pemeras namun sebagai beban bagi wajib pajak.

Anggapan masyarakat terhadap pajak sebagai alat pemeras telah berubah dengan perkembangan zaman serta pengetahuan seseorang tentang arti pajak di zaman modern ini. Bahwa pajak tidak lagi sebagai alat pemeras namun pajak digunakan untuk melancarkan roda pemerintah, dengan membayar Pajak Bumi dan Bangunan kita membantu program pemerintah.

Selain mewawancarai wajib pajak, peneliti juga mewawancarai petugas kelurahan dalam penagihan PBB yaitu Bapak Saeful Setiawan, SE. yang dilakukan pada tanggal 06 Juli 2022 menyatakan bahwa:

“kalau menurut saya, pemahaman masyarakat dalam membayar pajak itu masih kurang karena masih banyak masyarakat yang menganggap pajak itu sebagai beban bukan kewajiban”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pajak sebagai alat pemeras sudah bergeser menjadi suatu beban bagi wajib pajak. Semakin berkembangnya zaman serta teknologi membuat wajib pajak dapat mengerti serta memahami bahwa membayar Pajak Bumi dan Bangunan merupakan suatu kewajiban sebagai warga negara guna ikut mensukseskan roda pemerintah serta program pemerintah yang terutang di dalam APBN.

b. Kurangnya informasi dari pihak pemerintah kepada rakyat

Kurangnya informasi dan penyuluhan yang dilakukan pemerintah dapat menyebabkan menurunnya kesadaran masyarakat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Pemberian informasi serta penyuluhan kepada setiap wajib pajak dapat menambah pengetahuan wajib pajak tentang manfaat membayar pajak serta dapat mengingatkan wajib pajak untuk selalu dapat membayar Pajak Bumi dan Bangunan dengan tepat waktu tanpa harus wajib pajak terlambat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Dengan pemberian informasi serta penyuluhan yang dilakukan pemerintah dapat menumbuhkan rasa atau sikap kegotong royongan karena dengan wajib pajak membayar Pajak Bumi dan Bangunan membantu program pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. Pemberian informasi dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan mengadakan dengar pendapat dikelurahan, pertemuan khusus yang membahas Pajak Bumi

dan Bangunan serta dengan mendatangi tiap RT/RW. Dari hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 06 Juli 2022 dengan petugas kelurahan, menyatakan bahwa:

“Pemberian informasi yang kami lakukan itu pada saat membagikan SPPT kepada setiap wajib pajak. Saya bilang ini kan PBB dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, apalagi ini PBB wajibki karena di negarata itu hampir semua dikenakan pajak, untungnya kita disini mungkin mulai dari 2019 sampai sekarang masih turun jumlah pembayaran pajaknya”.

Selain mewawancarai petugas kelurahan, peneliti juga mewawancarai wajib pajak yang dilakukan pada tanggal 07 Juli 2022 yang mengatakan bahwa:

“Biasa setelah na bagikan SPPT datangji lagi menagih kalau dekatmi batas waktu pembayarannya, tapi biasa juga tidak”.

Akan tetapi dari hasil wawancara oleh salah satu wajib pajak yang dilakukan pada tanggal 10 Juli 2020 mengatakan bahwa:

“Biasa juga pihak kelurahan kalau bawa SPPT tidak bilang kalau ada batas waktunya ini pembayaran atau biasa datang paki lagi membayar selanjutnya baru bilang kalau menunggaki pembayaranta”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan penyuluhan secara resmi belum dilakukan dan kurangnya pemberian informasi yang diberikan oleh pemerintah Kelurahan Lembang kepada masyarakat masih menjadi penyebab banyaknya masyarakat Kelurahan Lembang yang belum menjalankan kewajibannya dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan karena

kurangnya pemberian informasi kepada wajib pajak yang optimal sehingga banyak wajib pajak yang mengesampingkan kewajiban untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

c. Adanya kebocoran pada penarikan pajak

Kebocoran ini terjadi karena kurang kontrol dan pengawasan dari pemerintah terkait dengan para petugas sehingga menimbulkan suatu pandangan yang negatif dari masyarakat. Seperti uang yang telah dibayarkan wajib pajak untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan dikorupsi oleh petugas pajak untuk kepentingan serta keperluan pribadi. Contohnya dapat dilihat dari kasus Gayus Tambunan yang menghebohkan beberapa tahun silam secara tidak langsung membuat wajib pajak enggan untuk membayar pajak karena mereka dengan susah payah membayar pajak tetapi masih banyak oknum yang menyalahgunakan hasil dari pembayaran pajak tersebut untuk kepentingan pribadi. Seperti yang dikatakan oleh salah satu wajib pajak yang peneliti wawancarai pada tanggal 06 Juli 2022, yaitu:

“Sebagai warga negara yang baik kita mempunyai kewajiban untuk membayar pajak, karena fungsi pajak dialihkan untuk aparatur negara dan pembangunan yang lebih baik, akan tetapi dengan adanya kasus tersebut (Kasus Gayus Tambunan) kita sebagai warga negara merasa rugi untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan karena disalahgunakan atau dikorupsi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Jadi untuk membayar pajak selanjutnya harus lebih dicermati prosedurnya agar tidak terjadi lagi kasus yang serupa”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kebocoran pada penarikan pajak yang terjadi membuat wajib pajak enggan untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan karena mereka terpengaruh oleh kasus korupsi yang terjadi di Indonesia.

Mereka beranggapan untuk apa membayar Pajak Bumi dan Bangunan kalau nantinya akan di korupsi oleh para petugas pajak untuk keperluan pribadi. Kepercayaan wajib pajak terhadap petugas pajak menjadi turun karena adanya kasus tersebut. Dengan menurunnya kepercayaan wajib pajak juga akan menimbulkan turunnya penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan.

d. Suasan individu (belum memiliki uang, malas serta tidak adanya imbalan langsung dari pemerintah).

Pajak yang merupakan beban bagi sebagian masyarakat terutama warga yang bekerja sebagai petani dan nelayan, mereka mendapatkan penghasilan yang tidak tetap, bisa untung dan rugi. Jika pada saat panen tentu mereka memiliki uang tetapi apabila musim panen sudah lewat maka penghasilan mereka tentu berkurang. Selain wajib pajak belum memiliki uang untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan, wajib pajak juga merasa jika dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan tidak ada imbalan secara langsung dan terdapat wajib pajak yang malas untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Hal ini dapat menghambat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

Hasil wawancara yang dilakukan dengan petugas kelurahan yaitu Bapak Saeful Setiawan, SE pada tanggal 06 Juli 2022, mengatakan bahwa:

“Rata-rata yang terkendala di pembayaran itu yang objek pajaknya berupa sawah karena kita tidak tahu alamat pemiliknya dan biasa minta dibayarkan dulu tapi pas waktu penagihan tidak adami kabarnya. Banyak juga masyarakat setelah diberi SPPT dia bilang nanti saya sendiri pergi bayar di Kantor BPKD langsung tapi pas pengecekan ternyata belum dibayar dan ada juga setelah penagihan untuk tahun berikutnya baru dia bilang kalau dia lupa bayar PBB tahun lalu ”.

Selain petugas kelurahan, peneliti juga mewawancarai wajib pajak yang memiliki objek pajak berupa sawah yang luasnya sekitar 1.612 m2 dan memiliki beban pajak sebesar Rp15.604 yang dilakukan pada tanggal 10 Juli 2022 yang diketahui bahwa:

“Kalau untuk pajak biasa saya langsung bayar, tapi kadang juga lupa sampai batas waktu tempo belum sempat dibayar. Kadang juga pembayaran PBB bersamaan dengan pembayaran listrik dan air jadi saya tunda untuk bayar PBB dulu sampai ada rejeki lagi”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa masih ada beberapa masyarakat yang malas membayar PBB dan masih ada masyarakat yang mungkin belum memiliki uang untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Hal itu menjadi alasan yang logis karena tidak semua wajib pajak di Kelurahan Lembang memiliki pendapatandan memiliki pekerjaan yang sama. Walaupun menjadi beban, mereka berusaha untuk membayar pajak sedikit demi sedikit menyisihkan uang dari pendapatan mereka untuk membayar pajak.

Wajib pajak juga menyadari akan kewajiban mereka sebagai warga negara sehingga mereka berupaya untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan karena wajib pajak takut untuk terkena denda jika mereka telat dalam membayar pajak.

2. Upaya Untuk Meningkatkan Kesadaraan Masyarakat dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

a. Melakukan Penyuluhan

Melakukan penyuluhan yang dimaksud yaitu dengan memberikan informasi, konsultasi dan bimbingan perpajakan secara berkesinambungan kepada masyarakat guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan anggota masyarakat untuk memperoleh hak dan melaksanakan kewajiban perpajakan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Saeful Setiawan, SE. selaku petugas kelurahan yang dilakukan pada tanggal 06 Juli 2022 mengatakan bahwa:

“Kalau pemberian informasi itu biasanya kami lakukan pada saat membagikan SPPT kepada setiap wajib pajak. Biasanya kami juga melakukan pengecekan kembali jika memang penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan kurang dari target atau biasanya, maka kami menyampaikan kepada wajib pajak dengan mendatangi kembali rumahnya untuk mengingatkan bahwa beliau belum membayar pajaknya dan sudah mendekati batas waktu tempo pembayaran”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan penyuluhan tidak dilakukan secara bertahap kepada wajib

pajak oleh pihak kantor Kelurahan Lembang, dengan dilakukan penyuluhan kepada wajib pajak diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan dapat memberikan pengetahuan yang luas kepada wajib pajak tentang peran pentingnya Pajak Bumi dan Bangunan.

Sehingga dengan dilakukannya penyuluhan secara bertahap tanpa menunggu batas waktu tempo pembayaran maka dapat meningkatkan kesadaran wajib pajak untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan dengan tepat waktu tanpa harus terlambat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Dengan dilakukaknnya penyuluhan juga diharapkan pemerintah Kelurahan Lembang dapat memberikan solusi kepada wajib pajak yang memiliki pendapatan minim agar dapat membayar Pajak Bumi dan Bangunan dengan tepat waktu tanpa harus terlambat.

b. Meningkatkan pelayanan

Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, antara lain melalui pelayanan terpadu dan mendekatkan pos-pos pembayaran pajak ditempat-tempat tertentu yang dekat dengan tempat tinggal wajib pajak seperti BANK terdekat sehingga memudahkan wajib pajak untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Ada juga kendala yang dialami oleh petugas kelurahan seperti banyaknya objek pajak berupa sawah yang alamat pemiliknya jauh dari objek pajak tersebut, juga banyak tanah atau rumah yang kepemilikannya sudah berpindah tangan sehingga menyulitkan petugas untuk menyalurkan SPPT. Seperti dari

hasil wawancara dengan Bapak Saeful Setiawan, SE. selaku petugas kelurahan yang dilakukan pada tanggal 06 Juli 2022, mengatakan bahwa:

“Pelayanan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan tidak lagi dilakukan di Kantor Pajak melainkan di Kantor Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng, juga bisa dilakukan pembayaran melalui Bank Sulselbar, pos-pos terdekat, E-Banking Sulselbar, ATM, melalui Indomaret juga bisa, Gopay, dan juga bisa dilakukan pembayaran melalui Tokopedia sehingga wajib pajak tidak perlu lagi ke Kantor BPKD untuk membayar pajak.

Peningkatan pelayanan yang kami lakukan juga dengan membagikan SPPT tepat waktu atau jauh hari sebelum batas waktu tempo pembayaran”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa upaya untuk meningkatkanan pelayanan yang dilakukan Kantor Kelurahan Lembang masih kurang maksimal karena pembayaran pajak hanya dapat dilakukan melalui Bank Sulselbar, pelayanan penyuluhan juga tidak diadakan secara rutin melainkan hanya dilakukan pada saat penyaluran SPPT pada setiap wajib pajak.

c. Memberikan penghargaan

Upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan bisa dilakukan dengan memberikan penghargaan kepada wajib pajak. Kelurahan yang dapat menggerakkan serta mengingatkan wajib pajak untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan yang membayar tepat pada waktunya, untuk lebih memotivasi masyarakat dalam membayar pajak bumi dan bangunan, dan dapat memberikan suatu kebanggan kepada individu. Berikut hasil

wawancara dengan petugas kelurahan yaitu Bapak Saeful Setiawan, SE. yang dilakukan pada tanggal 06 Juli 2022, mengatakan bahwa:

“Kalau untuk pemberian penghargaan kepada wajib pajak kami tidak pernah melakukan, yang kami lakukan itu ya paling meningatkan kembali kepada masyarakat kalau belum membayar pajak”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada pemberian penghargaan kepada wajib pajak di Kelurahan Lembang maka dari itu tidak ada yang memotivasi masyarakat untuk melakukan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan dengan tepat waktu.

Dokumen terkait