• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Kesadaran masyarakat diartikan sebagai keadaan tahu, mengerti, dan mampu oleh masyarakat untuk menyeimbangkan, menyelaraskan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan peraturan perundangan yang di dukung oleh adanya etika dan moral masyarakat tersebut. Adanya kesadaran masyarakat seperti itu maka akan mendorong keinginan yang kuat untuk eningkatkan dan mengembangkan kepentingan bersama guna mencapai kehidupan yang lebih baik.

Pengertian pajak bumi dan bangunan menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah pajak atas bumi dan atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.

Objek pajak bumi dan bangunan adalah bumi dan/atau bangunan. Yang dimaksud dengan bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia dan tubuh bumi yang ada dibawahnya Contoh: sawah, lading, kebun, tanah, pekarangan, dan tambang.

Sedangkan yang dimaksud Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan.

Berdasarkan pengertian di atas, Pajak Bumi dan Bangunan adalah iuran yang wajib dibayarkan oleh wajib pajak atas pemilikan, pemanfaatan bumi dan bangunan oleh orang pribadi atau badan.

Berdasarkan penjelasan faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya kesadaran masyarakat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan sesuai dengan hasil wawancara dan hasil pengamatan oleh peneliti yang mempengaruhi kesadaran masyarakat membayar Pajak Bumi dan Bangunan antara lain:

1. Kurangnya informasi dari pihak pemerintah kepada wajib pajak menyebabkan kurangnya kesadaran untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Upaya yang dilakukan oleh pihak kelurahan serta kecamatan dirasa masih kurang optimal untuk memberikan serta mengingatkan wajib pajak untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

2. Adanya kebocoran pada penarikan pajak menyebabkan kesadaran masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan menjadi menurun dikarenakan kasus korupsi yang terjadi di Indonesia sehingga wajib pajak merasa dirugikan dan merasa sia-sia membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

Jika uang yang mereka setorkan untuk memenuhi kewajiban sebagai warga negara dikorupsi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka serta memperkaya diri dengan mengkorupsi uang dari Pajak Bumi dan Bangunan.

3. Suasana individu (belum memiliki uang) sangat mempengaruhi kesadaran untuk membanyar Pajak Bumi dan Bangunan. Wajib pajak sadar untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan namun mereka terhalang oleh tidak memilki uang yang lebih untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

Adapun upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan, antara lain:

1. Melakukan penyuluhan

Melakukan penyuluhandalam hal ini yaitu memberikan informasi yang kuat dan rata kepada masyarakat dan memberikan arahan pajak secara terus-menerus mengenai pentingnya membayar pajak. Saat penyaluran SPPT kepada masyarakat juga diingatkan kembali mengenai batas waktu tempo pembayaran PBB.

2. Meningkatkan pelayanan

Proses meningkatkan pelayanan sudah dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan mendekatkan pos pembayaran dari tempat tinggal wajib pajak sehingga telah memudahkan masyarakat dalam membayar PBB dan meminimalisir kurangnya target pajak yang ingin dicapai.

3. Memberikan penghargaan

Hal ini mungkin terdengar biasa dan bukan hal yang umum dilakukan mengingat membayar pajak merupakan kewajiban dan bukan ajang perlombaan siapa yang cepat maka akan mendapat hadiah, tetapi secara tidak langsung hal ini sedikit banyak mempengaruhi karena bisa dijadikan sebagai motivasi akan kesadaran masyarakat.

60 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dan pembahasan yang telah diuraikan mengenai Analisis Tingkat Kesadaran Masyarakat dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kelurahan Lembang, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa masih kurangnya kesadaran masyarakat Kelurahan Lembang dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan yang dilihat dari beberapa faktor, yaitu kurangnya informasi dari pihak kelurahan kepada rakyat, adanya kebocoran pada penarikan pajak, dan suasana individu (belum memiliki uang dan malas). Adapun upaya yang dilakukan Kantor Kelurahan Lembang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan masih kurang maksimal sehingga membuat masyarakat terlambat dalam melaksanakan kewajiban sebagai warga negara yang baik.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, penulis mengemukakan beberapa saran untuk dijadikan bahan pemikir dan pertimbangan untuk masa yang akan datang dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan, yaitu:

1. Sebagai warga nagara yang baik, sebaiknya menjalankan kewajiban dengan membayar Pajak Bumi dan Bangunan tepat waktu, karena pajak juga memiliki peranan penting dalam kehidupan bernegara, khususnya didalam

pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran pembangunan.

2. Bagi pihak Kelurahan Lembang sebaiknya lebih meningkatkan lagi upaya yang dilakukan agar wajib pajak tidak terlambat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

62

DAFTAR PUSTAKA

Adi, S., & Bhirawa, U. (2020). International Journal of Economics , Business and Accounting Research ( IJEBAR ) International Journal of Economics , Business and Accounting Research ( IJEBAR ). 2020(2), 11–22.

Aprilia, D., Muchsin, S., Widodo, R. P., Unisma, L., Mt, J., & Malang, H. (2020).

Evaluasi Kepatuhan Wajib Pajak PBB dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan ( Studi Kasus Kepatuhan Wajib Pajak PBB Di Desa Slamparejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang ) Pendahuluan. 14(2), 119–131.

Arikanto dan Cepi. 2008. Evaluasi Kinerja Pemunugtan Pajak Bumi dan Bangunan dan Konstribusinya Terhadap Penendapatan Daerah. Bandung:

Alfabeta.

Ayza, Bustamar. 2016. Hukum Pajak Indonesia. Jakarta: Kencana

Crawfoard. 2000. Evaluasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Ernawati. 2016. Pembagian Hasil Pajak Bumi dan Bangunan. Yongyakarta: Andi Hadi Irawan dan Aminul Amin. 2003. Pengantar Perpajakan. Yongyakarta:

Banyumedia Publishing

Hartati, Neneng. 2017. Pengantar Perpajakan. Jakarta: Pustaka Setia

Hendono. 2002. Pendapatan Daerah. Ungaran: Pemerintah Kabupaten Semarang

Herlina, Vivi. 2020. Pengaruh Sanksi, Kesadaran Perpajakan dan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Bumi dan Bangunan di Kabupaten Kerinci. 5(2), 252–263.

Kesa, Antonius. Evaluasi Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Melalui Intensifikasi pada Kantor Kelurahan Karang Pilang di Surabaya. Diss.

Universitas Katolik Darma Cendika, 2018.

Kurniawan, M. Orba. 2019. Pengaruh pemahaman, kesadaran wajib pajak, dan sanksi pajak terhadap kepatuhan membayar pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan pada badan pengelolaan pajak daerah kota palembang. 631–640.

Mannayong, J. (2019). Pinisi Discretion Review The Effectiveness of Earth and Building Tax Collection in Takalar District. 3(1), 13–20.

Mumu, A., Sondakh, J., Suwetja, I. 2020. Pengaruh Pengetahuan Perpajakan, Sanksi Pajak, dan Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Sonder Kabupaten Minahasa. 3 1,

2, 3. 15(2), 175–184.

Mutaqqin, I dan Anggara, E. 2018. Pajak, W., Pelaksanaan, D., Denda, S., Pemeriksaan, D. A. N., & Terhadap, P. (n.d.). BREBES.

Noviani. 2018. Perpajakan Indonesia. Jakarta: Mitra Wacana Media

Okataviani, Hana. 2011. Kesadaran Masyarakat dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Gajah Mangkur Kota Semarang. Semarang.

Rahman, Arif. 2018. "Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Tingkat Pendidikan, Dan Pendapatan Terhadap Kepatuhan Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan." Jurnal Akuntansi 6.1.

Rantumbanua, C. A., Kasenda, V., & Undap, G. (2017). Kesadaran Masyarakat Dalam Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan Di Desa Pinabetengan Utara Kecamatan Tompaso Barat Kabupaten Minahasa. Jurnal Jurusan Ilmu Pemrintahan, 2(2).

Risawatie. 2021. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketaatan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (Studi Kasus di Kabupaten Malang) Fakultas Ekonomi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 4, 1–8.

Saidi, M. Djaffar. 2011. Pembaruan Hukum Pajak. Jakarta: Rajawali Pers, hal 53.

Siahaan, Maribot Pahala. 2009. Pajak Bumi dan Bangunan di Indonesia.

Yogyakarta:Graha Ilmu.

Tarmudji, Tarsis. 2001. Memahami Pajak dan Perpajakan. Semarang: Unes.

Utara, P. S. (2020). Prosiding Seminar Nasional Hasil Pengabdian 2020. 293–

298.

L A M

P

I

R

A

N

LAMPIRAN 1

PEDOMAN WAWANCARA

Analisis Tingkat Kesadaran Masyarakat dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan

(Studi Kasus Kelurahan Lembang Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng)

Identitas Petugas Kelurahan

Nama :

TTL :

Pekerjaan : Alamat :

Daftar Pertanyaan

1. Apakah petugas kelurahan membagikan SPPT kepada wajib pajak tepat waktu?

2. Apakah ada pelayanan dari kelurahan untuk pembayaran PBB?

3. Apakah ada wajib pajak yang membayar PBB di kelurahan?

4. Apakah warga yang membayar PBB di kelurahan membayar tepat waktu?

5. Apakah kelurahan memberikan informasi kepada wajib pajak tentang batas waktu pembayaran PBB?

6. Apakah ada upaya yang dilakukan oleh petugas untuk mengingatkan para wajib pajak untuk segara membayar PBB?

PEDOMAN WAWANCARA

Analisis Tingkat Kesadaran Masyarakat dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan

(Studi Kasus Kelurahan Lembang Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng)

Identitas Wajib Pajak

Nama :

TTL :

Pekerjaan : Alamat :

Daftar Pertanyaan

1. Sudakah Bapak/Ibu membayar Pajak Bumi dan Bangunan?

2. Kapan Bapak/Ibu membayar Pajak Bumi dan Bangunan?

3. Adakah batas waktu yang ditentukan oleh BPKD untuk membayar PBB?

4. Apakah Bapak/Ibu melewati batas waktu dalam membayar PBB?

5. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu ketika menerima SPPT?

6. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu ketika harus menyisihkan pendapatan untuk membayar PB?

7. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu ketika beban kewajiban pajak bersamaan dengan kebutuhan pribadi Bapak/Ibu yang harus dipenuhi?

8. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu ketika dalam kondisi tertentu harus terlambat dalam membayar PBB?

9. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu ketika beban pajk bertambah tiap tahunnya?

10. Adakah yang mengingatkan Bapak/Ibu ketika pembayaran PBB sudah jatuh tempo?

11. Apakah dengan adanya kasus Gayus Tambunan beberapa tahun silam membuat Bapak/Ibu enggan untuk membayar PBB?

12. Apakah ada kendala yang dialami oleh Bapak/Ibu dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan?

LAMPIRAN 2 DAFTAR INFORMAN

No Nama Alamat Pekerjaan

1 Saeful Setiawan, SE

(Petugas Kelurahan) Jl. Andi Mannappiang PNS 2 Muslimin, S.Pd., M.Pd Jl. H. Solthan PNS

3 Balkis, SE BTN Arakeke PNS

4 Asmawarni Aziz, S.IP Jl. PGRI Raya Ibu Rumah Tangga 5 Alwi Shihab, A.Md.Pjk BTN Arakeke Honorer 6 Muh. Ridwan H. Mangka Jl. Sungai Bialo Wiraswasta

7 H. Lukman Jl. Andi Mannappiang Nelayan

8 Ruma Jl. Andi Mannappiang Petani

9 Sukman Jl. Andi Mannappiang Petani

10 Nurlaela Lahae BTN Arakeke Ibu Rumah Tangga

11 Akbar Arfa, S.KM BTN Arakeke PNS

LAMPIRAN 3 PERSURATAN

LAMPIRAN 4 FOTO DOKUMENTASI

BIOGRAFI PENULIS

RISMA MULYANA MUSLIM, panggilan Ririn lahir di Bantaeng pada tanggal 21 Maret 2000 dari pasangan suami istri Bapak Muslimin dan Ibu Nasrah. Peneliti adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Peneliti sekarang bertempat tinggal di Jl. H. Solthan Kelurahan Lembang Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Pendidikan yang ditempuh oleh peneliti yaitu SD Inpres Tappanjeng Bantaeng lulus tahun 2012, SMP Negeri 1 Bantaeng lulus tahun 2015, SMA Negeri 4 Bantaeng lulus tahun 2018 dan mulai tahun 2018 mengikuti program S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar sampai dengan sekarang.

Sampai dengan penulisan skripsi ini peneliti masih terdaftar sebagai mahasiswa Program S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dokumen terkait