• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN

4.2. Hasil Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 065002 dan 065003 Kecamatan Medan Labuhan yang terletak 16 km ke arah barat dari pusat kota Medan pada bulan Januari 2014.

Gambar 4.2. Alur penelitian

Setelah dilakukan penyuluhan singkat mengenai kecacingan, seluruh siswa mendapat pot dan kuisioner yang akan diisi oleh orangtua. Dari 643 anak di kedua sekolah, ada 486 anak yang mengembalikan formulir orangtua

Anak yang dibagi kuisioner & pot N=643

486 anak mengembalikan kuisioner dan feses

Eksklusi:

-14 kuisioner tidak lengkap

-4 umur < 6 tahun 468 anak memenuhi kriteria eksklusi dan

Telur cacing positif Telur cacing negatif 296 Wawancara, observasi,pengukuran

Pemeriksaan feses

Nilai faktor risiko:

usia, suku, jenis kelamin, pendidikan orangtua, kondisi jamban, air bersih, kebiasaan mencuci tangan, menggigit kuku dan

yang telah diisi dan pot berisi feses. Dari 486 anak, 14 anak diekslusikan karena kuisioner yang diisi orangtua tidak lengkap dan 4 anak berusia dibawah 6 tahun.

Tabel 4.1. Karakteristik subjek

Karakteristik Total (n= 468) Jenis kelamin Laki-laki,n(%) 213 (45.5) Perempuan,n(%) 255 (54.5) Usia, mean(SD) 9.30 (1.8) Suku Melayu,n(%) 117 (25.0) Batak,n(%) 213 (45.5) Jawa,n(%) 93 (19.9) Suku lainnya,n(%) 45 (9.6) Status nutrisi normal, n(%) 267 (57.1) gizi kurang, n(%) 201 (42.9) Pendidikan ayah Rendah,n(%) 294 (62.8) Tinggi,n(%) 174 (37.2) Pendidikan ibu Rendah,n(%) 288 (61.5) Tinggi,n(%) 180 (38.5)

Tabel 4.1 menggambarkan karakteristik subjek. Subjek 468 anak dengan jumlah anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan. Rerata usia adalah 9.30 tahun yang didominasi suku Batak (45.5%). Anak dengan tingkat

pendidikan ayah yang rendah lebih banyak dibandingkan yang tinggi, begitu juga dengan pendidikan ibu subjek (62.8 vs 37.2, 61.5 vs 38.5).

Infeksi cacing didapati pada 172 anak (36.7%), infeksi terbanyak adalah infeksi gabungan A.lumbricoides dan T.trichuris diikuti dengan infeksi tunggal T. trichiura dan A. lumbricoides (41.3%, 40.1% dan 18.6%). Tidak ada satupun infeksi cacing tambang yang didapati pada pemeriksaan feses subjek.

Gambar 4.3. Distribusi infeksi cacing berdasarkan suku

Gambar 4.3 merupakan gambar distribusi jenis cacing yang didapati pada subjek berdasarkan suku. Prevalensi infeksi cacing paling tinggi pada suku

Suku Pr evalen si infeksi STH

Batak, diikuti oleh suku Melayu, Jawa dan suku lainnya (45.5%, 25%, 19.9% dan 9.6%).

Tabel 4.2. Hubungan suku dengan pola hidup

Melayu (n=117) Batak (n=213) Jawa (n=93) Suku lain (n=45) p Jamban 0.235 Tidak baik,n(%) 53 (45.3) 56 (26.3) 42 (45.2) 18 (40.0) Baik,n(%) 64 (54.7) 157 (73.7) 51 (54.8) 27 (60.0) Air bersih 0.088 Tidak baik,n(%) 57 (48.7) 139 (65.3) 62 (66.7) 23 (51.1) Baik,n(%) 60 (51.3) 74 (34.7) 31 (33.3) 22 (48.9)

Kebiasaan cuci tangan 0.942

Tidak baik,n(%) 59 (50.4) 123 (57.7) 45 (48.4) 23 (51.1)

Baik,n(%) 58 (49.6) 90 (42.3) 48 (51.6) 22 (48.9)

Kebiasaan menggigit kuku 0.845

Ya, n(%) 45 (38.5) 67 (31.5) 29 (31.2) 14 (31.1)

Tidak, n(%) 72 (61.5) 146 (68.5) 64 (68.8) 31 (68.9)

Perawatan kuku 0.385

Buruk,n(%) 43 (36.8) 100 (46.9) 45 (48.4) 23 (51.1)

Baik,n(%) 74 (63.2) 113 (53.1) 48 (51.6) 22 (48.9)

Tabel 4.2 menggambarkan hubungan suku dan pola hidup yang diuji dengan uji alternatif Chi-square yaitu uji Kolmogorov-Smirnov. Persentase kondisi jamban, pemakaian air bersih, kebiasaan cuci tangan dan perawatan kuku

hampir sama pada keempat suku. Dari tabel ini, tidak ada hubungan yang signifikan antara suku dengan pola hidup sehat.

Tabel 4.3. Analisis bivariat hubungan faktor risiko dengan infeksi STH Karakteristik Positif Negatif (n=296) p OR (IK 95%) (n=172) Jenis kelamin Laki-laki,n(%) 75 (35.2) 138 (64.8) 0.527 0.88 (0.60-1.29) Perempuan,n(%) 97 (38.0) 158 (62.0) Usia < 10 tahun,n(%) 104 (45.4) 125 (54.6) 0.001 2.09 (1.42-3.06) >= 10 tahun,n(%) 68 (28.5) 171 (71.5) Kelas 1-3,n(%) 95 (44.4) 119 (55.6) 0.002 1.83 (1.25-2.68) 4-6,n(%) 77 (30.3) 177 (69.7) Suku Melayu,n(%) 41 (35.0) 76 (65.0) 0.557 1.23 (0.60-2.50) Batak,n(%) 79 (37.1) 134 (62.9) 0.714 1.13 (0.58-2.18) Jawa,n(%) 34 (36.6) 59 (63.4) 0.696 1.15 (0.55-2.40) Suku lain,n(%) 18 (40.0) 27 (60.0) Pendidikan ayah Rendah,n(%) 110 (37.4) 184 (62.6) 0.699 1.08 (0.73-1.59) Tinggi,n(%) 62 (35.6) 112 (64.4) Pendidikan ibu Rendah,n(%) 110 (38.2) 178 (61.8) 0.413 1.17 (0.79-1.73) Tinggi,n(%) 62 (34.4) 118 (65.6) Jamban Tidak baik,n(%) 109 (64.5) 60 (35.5) 0.001 6.80 (4.47-10.35) Baik,n(%) 63 (21.1) 236 (78.9) Air bersih Tidak baik, n(%) 145 (51.6) 136 (48.4) 0.001 6.31 (3.94-10.11) Baik,n(%) 27 (14.4) 160 (85.6)

Kebiasaan cuci tangan

Tidak baik,n(%) 160 (64.0) 90 (36.0) 0.001 30.51 (16.14-57.69) Baik,n(%) 12 (5.5) 206 (94.5)

Ya, n(%) 95 (61.3) 60 (38.7) 0.001 4.85 (3.21-7.33) Tidak, n(%) 77 (24.6 236 (75.4)

Perawatan kuku

Tidak baik,n(%) 106 (50.2) 105 (49.8) 0.001 2.92 (1.98-4.31) Baik,n(%) 66 25.7) 191 (63.2)

Tabel 4.3 menunjukkan analisis bivariat masing-masing faktor risiko dengan infeksi STH pada subjek dengan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik. Hasil data menunjukkan variabel faktor risiko yang bermakna dengan nilai P < 0.05 adalah usia dibawah 10 tahun (OR 2.09), anak dari kelas yang lebih rendah (OR 1.83), jamban tidak memenuhi syarat (OR 6.80), air yang tidak bersih (OR 6.31), kebiasaan cuci tangan yang tidak baik (OR 30.51), kebiasaan menggigit kuku (OR 4.85) dan perawatan kuku yang buruk (OR 2.92).

Tabel 4.4. Analisis multivariat faktor risiko dengan infeksi STH

Faktor risiko koefisien P OR (IK95)

Umur 6-9 tahun 0.813 0.131 2.25 (0.78-6.50)

Kelas I-III -0.925 0.097 0.39 (0.13-1.18)

Jamban tidak baik 1.613 0.000 5.01 (2.75-9.14) Air yang tidak bersih 1.696 0.000 5.45 (2.80-10.59) Kebiasaan cuci tangan tidak baik 3.178 0.000 24.00 (11.45-50.33) Kebiasaan menggigit kuku 1.882 0.000 6.56 (3.41-12.61) Perawatan kuku yang buruk 0.832 0.006 2.29 (1.27-4.14)

Tabel 4.4 menggambarkan analisis multivariat faktor-faktor risiko dengan STH. Variabel yang dimasukkan dalam analisis multivariat adalah variabel

dengan nilai P < 0.25 untuk dapat mengetahui variabel mana yang paling besar pengaruhnya. Variabel tersebut adalah umur 6-9 tahun, kelas I-III, jamban dan air yang tidak baik, kebiasaan cuci tangan yang tidak baik, kebiasaan menggigit kuku dan perawatan kuku yang buruk. Analisis multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik dengan metode Enter.

Dari tabel 4.4 ini diketahui bahwa variabel faktor risiko untuk infeksi STH yang paling berpengaruh dengan nilai P < 0.05 adalah kondisi jamban yang tidak baik, air yang tidak baik, kebiasaan cuci tangan yang tidak baik, kebaiasaan menggigit kuku dan perawatan kuku yang buruk. Jamban yang tidak baik (OR 5.01) berisiko 5.01 kali dibandingkan jamban yang baik untuk terinfeksi STH. Air yang tidak bersih (OR 5.45) berisiko 5.45 kali terinfeksi STH dibandingkan air bersih. Kebiasaan cuci tangan yang tidak baik (OR 24.00) berisiko 24.00 kali dibandingkan anak yang mencuci tangannya dengan benar untuk terinfeksi STH. Kebiasaan menggigit kuku (OR 6.56) berisiko 6.56 kali terinfeksi STH. Perawatan kuku yang buruk (OR 2.29) berisiko 2.29 kali dibandingkan perawatan yang baik untuk terinfeksi STH.

BAB 5. PEMBAHASAN

Masalah kecacingan merupakan masalah global yang masih menjadi masalah kesehatan utama pada anak-anak usia sekolah di Indonesia. Di Indonesia masalah ini belum dianggap sebagai masalah kesehatan yang serius. Meskipun angka mortalitasnya sangat kecil, dampaknya dapat menjadi sangat berat karena dapat mempengaruhi perkembangan intelegensia dan mental anak.

Epidemi STH dipengaruhi oleh pejamu dan faktor tanah. Lokasi penelitian merupakan daerah pantai laut Belawan. Sebanyak 468 sampel feses anak telah diperiksa dan didapati 172 (36.7%) anak menderita infeksi kecacingan. Hasil ini lebih rendah dibandingkan prevalensi infeksi cacing usus di daerah pantai lainnya yaitu pantai Cermin, Sumatera Utara, Indonesia (53%).25

Pada studi ini dilakukan analisa untuk melihat hubungan suku dengan pola hidup sehat dan tidak ada hubungan yang signifikan suku dengan pola hidup sehat berupa sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Jenis kelamin anak tidak berhubungan dengan infeksi STH pada studi ini. Hasil yang berbeda didapati pada penelitian di kabupaten Karo yang mendapati bahwa anak laki-laki lebih banyak terkena infeksi trikuris dan cacing tambang, yang kemungkinan disebabkan lebih banyaknya anak laki-laki terpapar dengan tanah dibandingkan anak perempuan.25

Pada studi ini, subjek dibagi dalam 2 kelompok umur yaitu dibawah 10 tahun dan diatas atau sama dengan 10 tahun. Prevalensi infeksi STH didapati lebih banyak pada anak yang lebih muda, namun setelah disesuaikan dengan faktor risiko lainnya, tidak dijumpai hubungan yang signifikan usia dengan infeksi STH. Hasil ini sama dengan yang didapati dengan penelitian sebelumnya pada anak usia sekolah dasar di kabupaten Karo.22

Penelitian terhadap adanya peran genetik pada infeksi STH telah dilakukan di Ekuador dan Cina. Penelitian yang dilakukan pada 4 komunitas ras di Ekuador mendapati tidak ada hubungan faktor ras dan golongan darah dengan angka infeksi STH. Penelitian di Cina mendapati bahwa ada hubungan antara suku dan infeksi ketiga jenis STH, bahkan setelah disesuaikan dengan faktor risiko lainnya seperti faktor sosial ekonomi dan lingkungan.9,10 Pada penelitian ini tidak dijumpai hubungan antara suku dengan infeksi STH. Hasil yang berbeda ini bisa terjadi mungkin karena adanya perkawinan antar suku diantara masyarakat. Hasil ini membutuhkan penelitian yang lebih besar lagi dengan jumlah sampel dan kelompok suku yang lebih banyak lagi.

Faktor pendidikan juga dianggap merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan infeksi STH. Faktor pendidikan yang lebih tinggi seyogyanya berkaitan dengan pengetahuan dan standar hidup mengenai kesehatan juga lebih tinggi. Dari penelitian ini didapati bahwa anak yang

duduk di kelas yang lebih rendah berhubungan dengan infeksi STH, namun setelah digabung dengan faktor risiko lainnya, tidak dijumpai lagi perbedan yang signifikan. Pendidikan ayah maupun ibu juga tidak berhubungan dengan infeksi STH pada penelitian ini. Hasil ini sama dengan penelitian terhadap Orang Asli di Malaysia terhadap ketiga infeksi STH. Pada studi di daerah lainnya didapati hubungan pendidikan ibu dan atau pendidikan ayah dengan infeksi STH.9,23

Lingkungan memegang peranan penting dalam transmisi STH ini. Kondisi jamban dan sarana air bersih berhubungan signifikan dengan infeksi STH. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah perilaku hidup bersih dan sehat pada anak usia sekolah dasar tersebut. Di penelitian ini dinilai perilaku seperti kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan menggigit kuku dan perawatan kuku. Sama seperti faktor lingkungan, faktor ini juga berhubungan signifikan, bahkan kebiasaan mencuci tangan yang tidak baik merupakan faktor risiko terbesar dalam infeksi STH. Hasil yang serupa juga didapati pada penelitian lainnya serta meta analisis yang pernah dilakukan.9,23,25,38

Dokumen terkait