• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Hasil Penelitian, Pembahasan, dan Keterbatasan Penelitian

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian pengembangan ini dilakukan peneliti dengan prosedur pengembangan Sugiyono, yang telah dimodifikasi sehingga penelitian ini hanya sampai revisi produk setelah uji coba produk pada sampel terbatas. Prosedur pengembangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Potensi dan Masalah

Penelitian pengembangan terlebih dahulu dilakukan dengan analisis kebutuhan di kelas VIII E di SMP N 1 Yogyakarta. Analisis kebutuhan ini menggunakan metode observasi dan wawancara. Instrumen dalam penelitian

ini menggunakan lembar observasi dan pedoman wawancara. Observasi dilakukan di kelas VIII E SMP Negeri 1 Yogyakarta untuk mencari menemukan informasi mengenai potensi dan masalah yang muncul dalam pembelajaran, sedangkan wawancara dilakukan dengan guru untuk memperjelas hasil observasi. Berdasarkan data observasi dan wawancara yang diperoleh, peneliti dapat melakukan upaya untuk mengatasi permasalahan serta memanfaatkan potensi siswa.

Observasi dilakukan saat kegiatan pembelajaran matematika berlangsung pada semester genap tahun ajaran 2015/2016 kelas VIII E di SMP N 1 Yogyakarta. Berdasarkan hasil observasi, peneliti melihat bahwa siswa memiliki rasa keingintahuan yang tinggi serta aktif dalam pembelajaran. Hal ini terlihat ketika siswa memahami penjelasan terlebih dahulu dan jika belum paham siswa tidak malu bertanya kepada guru. Namun disamping itu peneliti juga menemukan masalah yaitu siswa kurang mampu merefleksikan dan mengevaluasi proses pembelajaran sehingga materi yang diperoleh tidak dikembangkan dan aspek afektif siswa kurang dikembangkan pada proses pembelajaran. Selain itu, guru terkadang merasa kesulitan dalam mengkondisikan kelas karena kebanyakan siswa cenderung aktif dan banyak bertanya meskipun hal yang ditanyakan tidak berkaitan dengan materi yang diajarkan. Pembelajaran ini menggunakan kurikulum 2006 tetapi proses pembelajarannya sudah mulai menggunakan pendekatan saintifik. Dengan

demikian, terlihat jika pendekatan saintifik belum dilakukan dengan baik dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

Wawancara dilakukan dengan guru matematika kelas VIII E di SMP N 1 Yogyakarta. Berdasarkan hasil wawancara tersebut guru menggunakan pendekatan saintifik namun belum sepenuhnya terlaksana karena kegiatan diskusi dan presentasi belum maksimal. Di kelas VIII E SMP N 1 Yogyakarta ada beberapa siswa yang masih kurang dalam memahami materi sehingga harus diberi perhatian khusus untuk memahami materi dan untuk melanjutkan ke pembahasan selanjutnya. Proses pembelajaraan yang dialami siswa sudah sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa namun dalam mewujudkan hal tersebut guru mengalami kesulitan dalam membuat LKS yang berbeda-beda sesuai tingkat perkembangan siswa. Selanjutnya guru juga sudah mengaitkan proses pembelajaran dengan kehidupan di sekitar siswa, sehingga siswa sudah terbiasa untuk mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari.

Materi yang dinilai sulit diajarkan bagi guru adalah materi bangun ruang sisi datar. Siswa masih kesulitan dalam mengaitkan hubungan antara bangun ruang sisi datar. Guru juga menyampaikan bahwa alat peraga yang digunakan guru masih terbatas, sehingga alat peraga hanya digunakan oleh guru dan beberapa siswa yang ingin mencoba saja sedangkan siswa lain hanya memperhatikan. Guru mengatasi kendala keterbatasan alat peraga yang

dialami oleh siswa dengan cara siswa ditugaskan untuk membuat alat peraga seperti jaring-jaring bangun ruang. Hal tersebut direspon oleh siswa meskipun jaring-jaring yang dibuat masih seadanya.

2. Pengumpulan data

Pengumpulan data diperoleh dari potensi dan masalah yang peneliti temukan. Data diperoleh dari hasil wawancara guru, observasi aktivitas guru di kelas, aktivitas siswa di kelas. Wawancara dilakukan terhadap guru kelas untuk melihat pembelajaran yang telah dilaksanakan dari sudut pandang guru. Observasi dilakukan di kelas VIII E SMP Negeri 1 Yogyakarta untuk menemukan dan memperjelas masalah yang muncul dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penelti dapat menemukan beberapa potensi siswa dan guru untuk mengembangkan proses pembelajaran yang dilakukan.

Potensi tersebut diantaranya mayoritas siswa tergolong siswa yang aktif, mau bertanya dan kritis ketika menanggapi sesuatu. Hal ini nampak saat banyak siswa yang sering menjawab pertanyaan guru, siswa berani bertanya mengenai materi yang belum paham, siswa berani menyampaikan kritikan jika terdapat sesuatu yang kurang tepat. Siswa terbiasa mengaitkan materi dengan kehidupan di sekitarnya sehingga hal ini akan memudahkan proses pembelajaran. Namun ada beberapa siswa yang masih kurang mampu dalam

memahami materi sehingga harus diberi perhatian khusus untuk memahami materi dan untuk melanjutkan ke pembahasan selanjutnya.

Data yang diperoleh dari wawancara dan observasi menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan dalam memahami materi bangun ruang sisi datar. Siswa tidak memiliki kendala yang berarti dalam sifat-sifat bangun ruang sisi datar, hanya saja siswa masih merasa kesulitan dalam melukis bangun ruang sisi datar, membedakan dalam menghitung luas permukaan maupun volume bangun ruang sisi datar dan memahami keterikatan antara bangun ruang sisi datar. Guru juga menyampaikan bahwa alat peraga yang digunakan guru masih terbatas, sehingga tidak semua siswa dapat memanfaatkan alat peraga yang tersedia. Untuk mengatasi kendala tersebut guru memberi tugas siswa untuk membuat alat peraga seperti jaring-jaring bangun ruang.

Guru sudah menggunakan penilaian kognitif, afektif dan psikomototrik hanya saja guru masih kurang dalam menilai afektif dan psikomotorik karena guru masih merasa kebingungan dalam membuat rubrik dan skala penilaiannya. Siswa masih kurang dilatih untuk merefleksikan dan mengevaluasi proses pembelajaran sehingga materi yang diperoleh tidak dikembangkan dan aspek afektif siswa kurang dikembangkan pada proses pembelajaran.

Saat peneliti mengadakan wawancara awal dengan guru, peneliti menanyakan mengenai pengetahuan Paradigma Pedagogi Reflektif dan teori

Van Hiele yang digunakan ketika proses pembelajaran. Namun guru masih merasa asing dengan PPR maupun teori Van Hiele. Selanjutnya peneliti menjelaskan rangkuman PPR dan teori Van Hiele agar menambah wawasan guru dan guru dapat mempersiapkan diri saat mengajar di dalam kelas.

3. Desain Produk

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, maka peneliti merancang pembelajaran menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan mengakomodasi teori Van Hiele pada materi bangun ruang sisi datar topik balok. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan guru dan siswa yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara.

Adapun desain produk perangkat pembelajaran matematka yang dibuat peneliti berupa silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan penilaian.

Berikut ini merupakan paparan dari perangkat pembelajaran tersebut. a Silabus

Silabus yang dikembangkan oleh peneliti berpedoman pada silabus yang ada di sekolah dengan menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) dan fase Van Hiele untuk materi balok. Silabus ini terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, karakter, indikator, penilaian yang berupa teknik, bentuk

dan instrumen, alokasi waktu, sumber belajar. Untuk lebih jelasnya peneliti melampirkan silabus pada lampiran 11 (halaman 244).

Indikator dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan melihat dari standar kompetensi dan kompetensi dasar serta mempertimbangkan nilai- nilai kemanusiaan yang dikembangkan siswa (competence, conscience dan compassion). Indikator tersebut untuk mengukur atau mengobservasi perilaku siswa untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar.

Kegiatan pembelajaran pada silabus ini menggunakan tata cara pelaksanaan PPR (konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi) yang mengakomodasi fase pembelajaran Van Hiele. Guru membimbing siswa untuk mengembangkan karakter-karakter conscience (percaya diri, tanggung jawab, ketelitian dan kerja sama) dan compassion (saling membantu dan saling menghargai) pada diri siswa. Penilaian pencapaian kompetensi dasar siswa dilakukan berdasarkan indikator. Setiap indikator yang dikembangkan menjadi 3 aspek penilaian yaitu competence mengandung unsur kognitif dan psikomotorik dan conscience serta

compassion mengandung unsur afektif.

Peneliti menggunakan beberapa buku sebagai sumber belajar yang digunakan untuk menyusun silabus dan kegiatan pembelajaran seperti buku Matematika untuk SMP Kelas VIII dari Wilson dan Sukino, Matematika untuk SMP/ MTS Kelas VIII Semester 2 dari M.Cholik dan

Sugijono, dan Perangkat Pembelajaran Matematika Bangun Ruang SMP dari Rahmatya Nurmeidina. Alat dan bahan yang dipersiapkan untuk menunjang proses pembelajaran antara lain slide proyektor/LCD, laptop, LKS, balok, kerangka balok, jaring-jaring balok, kubus satuan dan kotak transparan yang berbentuk balok.

b Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP disusun untuk setiap pertemuan yang terdiri dari dua rencana pembelajaran, masing-masing dirancang selama 80 menit. Kegiatan pembelajaran dikembangkan dari rumusan tujuan pembelajaran yang mengacu dari indikator untuk mencapai hasil belajar.

Pola pembelajaran ini menggunakan PPR yaitu pembelajaran yang mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan yang disesuaikan dengan konteks siswa, yang dikembangkan melalui dinamika pengalaman, refleksi dan aksi kemudian diakhiri dengan evaluasi.

Peneliti merancang RPP dengan berpedoman pada silabus yang telah dibuat. RPP yang dikembangkan memiliki komponen yang terdiri dari: identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, nilai kemanusiaan, pendekatan dan metode pembelajaran, alokasi waktu, skenario pembelajaran, alat dan media pembelajaran, sumber pembelajaran, sumber belajar dan penilaian.

Untuk lebih jelasnya peneliti melampirkan RPP pada lampiran 12

(halaman 250).

Identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator sesuai dengan silabus yang telah dibuat oleh peneliti. Untuk tujuan pembelajaran dikembangkan berdasarkan indikator dengan melihat dari standar kompetensi dan kompetensi dasar serta mempertimbangkan nilai- nilai kemanusiaan yang dikembangkan siswa (competence, conscience dan compassion). Penelitian ini tidak menggunakan pendekatan, model ataupun metode pembelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif dan mengakomodasi teori Van Hiele dengan diskusi kelompok dan tanya jawab berbantu alat peraga untuk menumbuhkembangkan pribadi siswa.

Perbedaan RPP yang dikembangkan peneliti dengan RPP lainnya adalah pada langkah-langkah pembelajarannya. Langkah-langkah pembelajaran pada RPP ini menerapkan PPR menggunakan dengan fase pembelajaran Van Hiele pada kegiatan inti. Penelitian ini menggunakan 5 komponen dari PPR yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi yang akan dikemas dalam 3 tahap, yakni pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Berikut ini merupakan tahap-tahap kegiatan pembelajaran:

1) Pendahuluan

Pada kegiatan pendahuluan guru menunjukkan perwujudan dari PPR yang berupa konteks yang dikemas dalam apersepsi dan motivasi. Kegiatan pendahuluan ini bertujuan untuk mengingatkan siswa pada materi yang sudah dipelajari sebelumnya lalu mengajak siswa untuk melihat contoh atau aplikasi balok dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan untuk memancing rasa ingin tahu siswa mengenai balok dan kaitannya dengan bangun ruang sisi datar yang lain. Selain itu, juga untuk memotivasi siswa agar tertarik mengikuti proses pembelajaran karena aplikasi balok banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Pada kegiatan pendahuluan, guru juga menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pencapaian dari kegiatan pembelajaran, rencana kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan didampingi oleh guru serta nilai-nilai afektif yang dicapai dari proses pembelajaran ini.

2) Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti guru menunjukkan perwujudan atau implementasi dari PPR yang berupa pengalaman yang mengakomodasi fase Van

Hiele berbantu alat peraga dengan tujuan agar siswa dapat

memahami konsep balok. Kegiatan ini diantaranya guru menunjukkan benda berbentuk balok yang dapat digunakan dalam

kehidupan sehari-hari. Selanjutnya siswa diminta untuk memberikan pendapatnya atau dapat menyebutkan contoh aplikasi balok yang lain dalam kehidupan sehari-hari, hal ini diharapkan dapat menarik rasa ingin tahu siswa. LKS diharapkan membantu siswa untuk memahami konsep dengan baik dan tidak hanya sekedar dihafalkan. LKS dikerjakan secara kelompok agar siswa dapat berkomunikasi dengan baik dalam kelompok. Hal ini dapat ditunjukkan dengan saling membantu satu dengan yang lain. Di akhir proses diskusi, siswa diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya sedangkan siswa yang lain diperbolehkan untuk menanggapi. Guru memfasilitasi siswa untuk membahas hasil diskusi, mengoreksi jika ada kesalahan dalam pengerjaan.

3) Penutup

Pada kegiatan penutup guru menunjukkan perwujudan atau implementasi dari paradigma pedagogi reflektif yang berupa refleksi, aksi dan evaluasi. Kegiatan ini meliputi guru mengajak siswa untuk merefleksikan proses pembelajaran yang sudah dilakukan dengan menemukan nilai kemanusiaan yang didapatkan dalam pengalaman. Sebagai aksi, siswa juga diajak untuk membuat, merancang, dan menghasilkan benda yang berbentuk balok yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai evaluasi guru

dapat memberikan tugas pada siswa mengenai materi balok agar siswa mengaplikasikan pengetahuan dan rumus untuk mengerjakan berbagai soal yang terkait dalam masalah balok.

Untuk menunjang proses pembelajaran, peneliti menggunakan beberapa buku sebagai sumber belajar, alat dan bahan ajar yang sudah dijelaskan dalam silabus. Sistem penilaian dikembangkan menjadi 3 instrumen penilaian competence, conscience dan compassion. Mengenai prosedur penilaian dijelaskan lebih lanjut pada tahap penilaian.

c Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS dikembangkan dengan berdasarkan teori Van Hiele sebagai acuan kegiatan-kegiatan siswa dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan PPR. LKS digunakan untuk menunjang proses pembelajaran sehingga pada setiap pertemuan menggunakan LKS dengan kegiatan yang berbeda-beda berdasarkan indikator yang dikerjakan secara kelompok. Struktur LKS terdiri dari: judul, identitas siswa (nama anggota kelompok, kelas, dan presensi); waktu; alat peraga yang digunakan; tujuan kegiatan; petunjuk umum pengerjaan; langkah kegiatan; dan kesimpulan. Petunjuk umum pengerjaan dan langkah kegiatan disusun dengan bahasa yang tidak ambigu sehingga siswa dapat memahami instruksinya. Untuk lebih jelasnya peneliti melampirkan LKS 1 dan 2 pada lampiran 14 (halaman 270).

Lembar kerja siswa pada pertemuan pertama menjelaskan tentang sifat-sifat, unsur-unsur dan jaring-jaring balok. Pada tahap konteks, siswa membahas bagian-bagian dan sifat-sifat balok serta diajak untuk menggali nilai kemanusiaan yang nampak pada keterkaitan materi dengan kehidupan sehari-hari. Pada tahap pengalaman mengakomodasi fase Van Hiele, pada tahap ini siswa masih membahas bagian-bagian dan sifat-sifat balok. Fase informasi terlihat saat siswa menggali informasi untuk mencari sisi, titik sudut dan rusuk. Fase orientasi terarah atau terpadu siswa mengetahui ciri-ciri dan dapat menyebutkan diagonal sisi, diagonal ruang serta bidang diagonal dengan menggunakan kerangka balok. Fase eksplisitasi membahas jaring-jaring balok dimana siswa diminta untuk membongkar balok dengan cara mengiris bagian rusuk balok. Fase orientasi bebas siswa mengambar jaring-jaring yang telah diiris pada kertas berpetak. Fase yang terakhir adalah fase integrasi, siswa meninjau kembali dan meringkas materi yang telah dipelajari. Refleksi dilakukan siswa dengan menuliskan perasaan, nilai kemanusiaan serta manfaat setelah mempelajari materi pada lembar refleksi yang telah diberikan guru. Aksi dapat berupa niat atau rencana yang dilakukan siswa setelah mempelajari materi, setelah itu siswa membuat benda berbentuk balok yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Tahap

evaluasi berisikan rangkuman materi yang siswa tulis berdasarkan pemahaman siswa.

LKS pada pertemuan kedua menjelaskan tentang luas permukaan dan volume balok. Kegiatan pembelajaran memuat tata cara pelaksanaan PPR yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi. Tahap konteks nampak ketika siswa mengaitkan banyak kertas kado minimal yang dibutuhkan untuk membungkus sebuah kado dengan luas permukaan balok. Tahap ini siswa juga diajak untuk menggali nilai kemanusiaan yang nampak pada keterkaitan materi dengan kehidupan sehari-hari. Fase informasi pada Van Hiele yang terlihat dalam siswa menggali informasi dengan melihat jaring-jaring balok untuk menemukan luas permukaan balok. Selanjutnya pada tahap pengalaman siswa masih membahas luas permukaan balok. Pada fase orientasi terarah atau terpadu siswa menemukan rumus luas permukaan balok dengan menggunakan jaring-jaring balok. Fase eksplisitasi pada LKS membahas volume balok dengan mencermati alat peraga kubus satuan yang dimasukkan kedalam kotak transparan hingga penuh lalu menemukan rumus volume balok. Fase orientasi bebas, siswa mengerjakan latihan soal dengan materi luas permukaan dan volume balok. Pada fase integrasi, siswa meninjau kembali materi yang telah dipelajari serta membahas latihan soal yang telah dikerjakan. Refleksi dilakukan siswa

dengan menuliskan perasaan, nilai kemanusiaan serta manfaat setelah mempelajari materi pada lembar refleksi yang telah diberikan guru. Aksi dapat berupa niat atau rencana yang dilakukan siswa setelah mempelajari materi, setelah itu siswa membuat benda berbentuk balok yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Tahap evaluasi berisikan rangkuman materi yang siswa tulis berdasarkan pemahaman siswa.

d Bahan Ajar dan Media pembelajaran

Bahan ajar dikembangkan dengan Paradigma Pedagogi Reflektif dengan mengakomodasi teori Van Hiele. Bahan ajar memuat konteks, pengalaman, evaluasi, refleksi dan aksi. Tahap konteks berisi ajakan bagi siswa untuk mengenal bangun balok dengan memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari serta memotivasi siswa tentang kegunaan dan manfaat mempelajari balok dalam kehidupan sehari-hari. Tahap pengalaman berisi kegiatan yang mempelajari materi balok, unsur-unsur, sifat-sifat, jaring-jaring, luas permukaan balok dan volume balok. Tahap refleksi berisi arahan agar siswa melakukan refleksi dan menuliskan hasil refleksi mengenai pembelajaran hari ini dalam kertas dan dikumpulkan. Tahap aksi berisi arahan agar siswa menuliskan aksi yang mencerminkan nilai kemanusiaan berdasarkan pengalaman belajar, membuat jaring- jaring balok, serta membuat benda berbentuk balok yang dapat berguna

untuk kehidupan sehari-hari. Tahap terakhir yaitu evaluasi berisi ajakan bagi siswa untuk merangkum dan menuliskan ringkasan materi yang mereka pelajari sepanjang pertemuan dengan pemahaman masing-masing siswa.

Media yang digunakan dalam pembelajaran materi balok adalah

power point dan gambar-gambar benda berbentuk balok. Power point

digunakan untuk menjelaskan kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, motivasi, apersepsi maupun kaitan dengan kehidupan sehari-hari. Power point membuat siswa lebih mudah untuk berkonsentrasi dan memahami materi sehingga dapat memperlancar proses pembelajaran.

Alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran materi balok adalah balok, kerangka balok, jaring-jaring balok, kubus satuan dan kotak transparan yang berbentuk balok. Balok digunakan sebagai contoh benda konkret yang dipelajari. Kerangka balok digunakan untuk menemukan unsur-unsur dan sifat-sifat pada balok. Jaring-jaring balok digunakan untuk menemukan rumus luas balok. Kubus satuan dan kotak transparan yang berbentuk balok digunakan untuk menemukan rumus volume balok. Sumber belajar yang dipakai oleh peneliti berasal dari berbagai sumber, baik dari guru, buku maupun internet. Sumber buku yang digunakan oleh peneliti yaitu Matematika untuk SMP Kelas VIII dari

Wilson dan Sukino, Matematika untuk SMP/ MTS Kelas VIII Semester 2 dari M.Cholik dan Sugijono, Paradigma Pedagogi Reflektif dari Subagya, van Hiele. Sumber belajar dari internet yang digunakan oleh peneliti yaitu Perangkat Pembelajaran Matematika Bangun Ruang SMP dari Rahmatya Nurmeidina. Untuk lebih jelasnya peneliti melampirkan bahan ajar pada lampiran 13 (halaman 261).

e Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar siswa dirancang berdasarkan penilaian dalam PPR dan indikator. Setiap indikator yang dikembangkan menjadi 3 instrumen penilaian competence, conscience dan compassion. Penilaian tersebut serupa dengan penilaian kognitif, psikomotorik dan afektif. Competence mengandung unsur kognitif dan psikomotorik.

Conscience dan compassion mengandung unsur afektif. Untuk lebih

jelasnya peneliti melampirkan penilaian competence pada lampiran 15

(halaman 280) serta conscience dan compassion pada lampiran 16

(halaman 285).

Penilaian competence dilihat dari tes tertulis berbentuk tes uraian yang diberikan pada siswa. Tes hasil belajar ini dibuat mengacu pada kompetensi dasar yang ingin dicapai, dijabarkan ke dalam indikator hasil belajar dan disusun berdasarkan kisi-kisi penulisan butir soal. Tes ini digunakan untuk mengetahui tahap berpikir siswa sesuai tahap berpikir

geometri Van Hiele mengenai materi balok. Soal tes yang dibuat sebanyak 4 butir berupa soal uraian. Keempat soal tersebut telah disesuaikan dengan indikator-indikator dalam silabus.

Penilaian conscience dan compassion dilihat dari pengamatan pada sikap dan perilaku siswa di dalam kelas dengan menggunakan rubrik penilaian. Penilaian conscience merupakan aspek yang erat yang menekankan suara hati, terutama untuk memahaman mengenai nilai-nilai teliti, percaya diri, kerjasama dan tanggung jawab. Penilaian Compassion merupakan aspek afektif yang dikembangkan sebagai kemampuan untuk berbela rasa pada sesama dan lingkungan. Aspek ini merupakan aspek dalam PPR yang menekankan sikap saling menolong dan saling menghargai. Kriteria penilaian conscience dan compassion terlampir dalam lampiran 16 (halaman 285).

4. Validasi Desain

Desain perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan perlu diujicobakan. Desain tersebut perlu divalidasi oleh ahli terlebih dahulu sebelum diujicobakan. Validasi ini bertujuan untuk mengetahui perangkat pengajaran yang disusun menjadi valid dan layak untuk diimpelmentasikan. Dalam penelitian ini, validasi dilakukan oleh ahli yang sudah berpengalaman yaitu 1 dosen dan 1 guru.

Tabel 4.1 Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran

DOSEN GURU RATA-RATA KRITERIA

SILABUS 4 4.38 4.19 Baik

RPP 3.56 4.46 4.01 Baik

BAHAN AJAR 3.6 4.8 4.2 Baik

LKS 3.38 4.54 3.96 Baik

PENILAIAN

Competence 3.5 4.5 4 Baik

3.5 4.5 4 Baik

Conscience 4 4.55 4.27 Sangat Baik

4 3.8 3.9 Baik

Compassion 4.4 4.5 4.45 Sangat Baik

4.4 4.4 4.4 Sangat Baik TOTAL 4.14 Baik

Hasil validasi menunjukkan skor rata-rata 4.14. Artinya perangkat yang telah dikembangkan termasuk kategori BAIK sesuai dengan tabel 3.8 hal 75. Hal ini menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran sudah dirancang oleh peneliti layak untuk diujicobakan pada saat penelitian. Untuk lebih jelasnya peneliti melampirkan hasil validasi perangkat pembelajaran terdapat pada lampiran 8 (halaman 183)

5. Revisi Desain

Setelah divalidasi oleh para ahli, peneliti melakukan revisi untuk

Dokumen terkait