• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PNELITIAN

5.2 Hasil Penelitian

5.2.3 Hasil Penelitian Informan Tambahan

A.Bapak Munthoha selaku kepala desa dan menjadi infoman kunci yang diwawancarai, berikut adalah pertanyaan peneliti dan jawaban dari bapak Munthoha.

“Pekerjaan mayoritas warga sini ya jadi petani Wan, hampir semua petani sawit. Beberapa ada yang buka bengkel, grosir, warung, di koperasi, jadi guru sekolah. Tapi memang hampir semuanya petani sawit, yang petani itu ada yang ngerjain ladangnya sendiri, ada yang ngerjain ladang orang, ada yang kerja di perusahaan perkebunan ini juga.”

Peneliti bertanya mengenai apa pekerjaan mayoritas warga di Desa Perkebunan Teluk Panji.

“Desa kita ini kan ada 15 dusun, data terakhir kependudukan tahun 2020 lalu jumlah penduduk desa ini 8230 orang dan 1370 Kartu Keluarga (KK), Kebanyakan jumlah warga itu jadi petani.

Kalau jumlah yang kerja buruh harian di perkebunan PT. ABM itu datanya nggak ada Wan, nah dari yang bapak ketahui kebanyakan warga sini yang kerja harian di PT. ABM dari dusun VI dan VIII ada 34 orang, dari dusun III ada 2 orang, dusun V ada 6 orang”

Peneliti bertanya mengenai berapa banyak jumlah pekerja buruh harian di desa ini yang bekerja di perusahaan perkebunan PT. Abdi Budi Mulia.

“Pekerja buruh harian di desa ini tergolong masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah Wan. Rumahnya walau uda permanen tapi masih bahan papan. Kalau untuk kebutuhan sehari hari alhamdulillah nggak ada kekurangan, di halaman rumahnya entah ditanemi sayuran apa aja, jadi gak banyak kali beli sayuran ke kedai. Paling yang gak sanggup mereka ini kuliahkan anaknya, makanya rata-rata cuma mentok sampe SMA aja, atau ada juga yang putus di SMP milih nyari duit”

Peneliti bertanya mengenai bagaimana kondisi warga yang bekerja sebagai buruh harian.

“Kalau dibilang perkembangan itu gak ada ya Wan, masih gitu itu aja kondisinya. Bapak liat warga yang kerja harian disini ya yang penting bisa hidup gak kekurangan uda syukur, yang penting gak nyusahin orang lain sama gak punya hutang. Anaknya juga ikut kerja buruh harian, ada juga yang jadi kernet tukang bangunan. Mau beli ladang kan atau tanah kosong aja lah minimal nanti tinggal ditanamin sendiri sawitnya, itu ya gak ada mereka.”

Peneliti bertanya mengenai bagaimana perkembangan warga yang bekerja sebagai buruh harian

“Jadi untuk bantu warga bapak ini yang tergolong ekonomi menengah ke bawah, bukan untuk yang kerja buruh harian aja ya Wan, ya kalau ada progam bantuan dari pemerintah mereka jadi prioritas pertama. Dari pemerintah itu kan ada program PKH tapi gak banyak, ada bantuan sejak 2015 itu dalam bentuk sembako dan

68

uang tunai contoh nya kayak PKH regular dan akses yang regular per keluarga dapat 500rb sebulan kalau yang PKH akses 1juta rupiah setahun wan, ada bantuan covid juga sama subsidi gas 3 kg.Perbulan untuk bantuan gas nya dan per setengah tahun bantuan sembakonya”

Peneliti bertanya mengenai bagaimana peran dari pemerintah desa untuk membantu warga yang bekerja sebagai buruh harian 5.3 Pembahasan Hasil Penelitian dan Observasi

Strategi bertahan hidup buruh harian PT. Abdi Budi Mulia dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga di Desa Perkebunan Teluk Panji Kecamatan Kampung rakyat Kabupaten Labuhan Batu Selatan, dari observasi yang dilakukan peneliti dengan melalui beberapa proses untuk mengamati khususnya fokus kepada buruh harian maupun keluarga buruh harian tersebut yang bekerja di PT. Abdi Budi Mulia dengan hal yang pertama sekali dilakukan adalah meminta izin kepada kepala desa untuk melakukan wawancara kepada buruh harian dan mandor harian yang memiliki tanggung jawab terhadap rekrutmen, pengawasan, serta perkembangan bagi buruh harian.

Meminta izin untuk melihat data-data warga yang bekerja menjadi buruh harian yang bekerja di perusahaan perkebunan PT Abdi Budi Mulia, ternyata dilihat dari data-data tersebut ada sebagian buruh harian maupun keluarganya dikenal oleh peneliti sehingga dapat memudahkan proses wawancara karena sudah merasa akrab dan nyaman kepada pihak keluarga buruh harian tersebut sebagian dari informan peneliti tidak mengenali

sehingga harus mudah berbaur dan beradaptasi, penelitian dilakukan dengan visit home atau kunjungan rumah kepada si buruh harian tersebut untuk melihat langsung kondisi tempat tinggal buruh harian tersebut dari pembahasan pada bagan alur pikir peneliti yaitu bagian dari fokus penelitian yang ingin diketahui tentang strategi bertahan hidup secara aktif, pasif maupun jaringan ditemukan lah kecocokan terhadap hal-hal yang ada pada kehidupan buruh harian tersebut, dari fenomena yang terjadi , keseharian buruh harian tersebut, serta permasalahan yang dihadapi oleh buruh harian tersebut, maka untuk memperjelas kembali peneliti akan menjelaskannya pada bagian berikut ini. Strategi Bertahan Hidup Corner (dalam Kusnadi 2000 : 187 – 189) mengemukakan beberapa strategi yang dikembangkan untuk menjaga keberlangsungan hidup, yaitu :

1. Melakukan beranekaragaman pekerjaan untuk memperoleh penghasilan.

2. Jika kegiatan – kegiatan tersebut masih kurang memadai, penduduk miskin akan berpaling pada sistem penunjang yang ada di 22 lingkungannya. Sistem ikatan kekerabatan, ketetanggaan, dan pengatur tukar – menukar secara timbal balik merupakan sumber daya yang sangat berharga bagi penduduk miskin.

3. Memilih alternatif lain jika kedua alternatif di atas sulit dilakukan dan kemungkinan untuk tetap bertahan hidup di kelurahan sudah sangat kritis. Manusia sebagai mahluk sosial tentu memiliki kebutuhan yang banyak dan beranekaragam. Kebutuhan – kebutuhan itu harus bisa dipenuhi dengan baik apabila dengan pendapatan yang mencukupi.

70

Namun kebutuhan – kebutuhan tersebut tidak semua dapat dipenuhi oleh keluarga yang memliliki pendapatan yang kecil.

Dalam penelitian ini fokus yang akan diteliti merupakan sebuah keluarga yang memiliki pekerjaan buruh tani harian yang merupakan pekerjaan yang memiliki pendapatan relatif kecil. Bagaimana strategi hidup yang mereka lakukan juga termasuk dalam lingkaran penelitian ini. Sesuai dengan pengertian diatas, strategi bertahan hidup dapat digolongkan menjadi 3 kategori yaitu, strategi aktif, strategi pasif dan strategi jaringan.

5.3.1 Strategi Aktif

Strategi aktif yaitu mengoptimalkan segala sesuatu dalam potensi keluarga untuk mengatasi guncangan ekonomi. Menurut Suharto (2009 :31) strategi aktif merupakan strategi yang dilakukan keluarga miskin dengan cara mengoptimalkan potensi keluarga seperti melakukan aktivitas memperpanjang jam kerja dan melakukan apapun demi mendapatkan penghasilan yang lebih. Strategi aktif yang dilakukan yang biasanya dilakukan dengan diversifikasi penghasilan atau mencari penghasilan tambahan dengan cara melakukan pekerjaan sampingan, lainnya bisa dilakukan dengan cara berdagang, usaha bengkel maupun industri rumah tangga lainnya. Sedangkan menurut Andrianti (dalam Winarno, 2016 : 21) salah satu strategi yang digunakan oleh rumah tangga untuk mengatasi kesulitan ekonomi dengan mendorong isteri untuk ikut mencari nafkah.

Seperti halnya pada keluarga bapak suriadi, untuk membantu perekonomian keluarga, istrinya ikut membantu untuk mencari nafkah

walaupun penghasilannya tidak seberapa yang terpenting bagi istrinya adalah dapat menambah pendapatan suami, berikut adalah hasil wawancara bersama bapak suriadi tentang terciptanya suatu dorongan untuk membantu suami dalam menambah pendapatan dan membantu perekonomian keluarga.

“Setiap minggu mancing nyari ikan, di paret perkebunan ini kan banyak ikan. Nanti itu dijual, ikan gabus banyak yang nyari buat obat.

Kalau istri kadang nyari lidi di perkebunan, nanti dikumpul terus dijual. Lidi lidi itu nantinya dibuat sapu sama pengrajinnya disini.

Kadang lelek ikut bantu juga nyari lidi di perkebunan, nanti istri yang bersihkan di rumah.”

Adanya bentuk sikap dan dorongan antara suami dan istri untuk saling membantu dalam perekonomian keluarga dan memenuhi kebutuhan keluarga seperti biaya pendidikan anak, membeli kebutuhan dapur untuk memasak tetapi istri dari bapak Suriadi memanfaatkan ladang kecil dihalam rumah untuk ditanami sayur-sayuran untuk mengurangi pengeluaran, dan juga untuk kebutuhan dasar hidup seperti membeli gas, membayar sewa listrik dengan pendapatan yang tidak layak. Bapak suriadi hanya bekerja 12 hari dalam sebulan dan per hari nya digaji sekitar 132 ribu Rupiah kalau di hitung dalam sebulan pendapatan hanya Rp1.584.000 untuk memenuhi semua kebutuhan hidup keluarga seperti halnya juga memenuhi kebutuhan kesehatan walaupun itu jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit penanganannya hanya dengan mantri

72

sekitar atau hanya dengan menggunakan pengobatan herbal dilakukan secara mandiri dirumah dan melakukan stok terhadap obat-obat pil yang dipasarkan diwarung dengan harga yang murah. Berikut adalah hasil wawancara bersama ibu Sugiyem

“Kalau kebutuhan kesehatan karena duit terbatas kali bibi cuman pakai obat-obatan biasa aja yang dijual di warung atau pakai herbal gitu kayak bawang merah kalau masuk angin atau demam di campur dengan minyak urut kalau masuk angin, BPJS gak punya kalau ke puskesmas juga biayanya mahal karena duit bibik emang terbatas kali apalagi bibi yang mecari nafkah sendiri terus tanggungan masih ada dua orang suami dan anak bibik yang masih sekolah”

5.3.2 Strategi Pasif

Strategi pasif merupakan strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara meminimalisir pengeluaran keluarga. Suharto (2009 : 31) mengatakan kalau strategi pasif merupakan strategi bertahan hidup dengan cara mengurangi pengeluaran keluarga misalnya biaya untuk sandang, pangan, pendidikan, dan sebagainya. Strategi pasif yang biasanya dilakukan oleh keluarga miskin adalah dengan membiasakan hidup hemat. Hidup hemat tersebut sudah menjadi budaya bagi keluarga miskin agar terus dapat mempertahan hidupnya. Menurut Kusnadi (2000 : 8) strategi pasif adalah strategi dimana individu meminimalisir pengeluaran uang. Strategi ini merupakan salah satu cara masyarakat miskin untuk bertahan hidup. Pekerja sebagai buruh

tani yang umumnya dilakukan oleh masyarakat desa membuat pendapatan mereka relatif kecil dan tidak menentu, sehingga buruh tani lebih memprioritaskan kebutuhan pokok sehari – hari daripada kebutuhan lainnya. Pola hidup hemat juga dilakukan keluarga miskin agar penghasilan yang mereka terima bisa untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga mereka.

Banyak dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti dalam wawancara para buruh harian dengan jelas menggambarkan bahwasanya para buruh harian melakukan strategi ini untuk mengurangi biaya pengeluaran dengan ekstra penghematan untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga mereka. Seperti pada hasil wawancara berikut ini dilihat berdasarkan bagaimana informan memenuhi kebutuhan pangan, contohnya bapak Tukiman informan utama 1 setiap kerja selalu mencari ikan untuk disantap dirumah artinya ada teknik penghematan yang dilakukan bapak Tukiman sehingga istri tidak perlu belanja untuk makan malam. Berikut adalah hasil wawancaranya bersama bapak Tukiman.

“Kalau malem kadang nyari ikan di parit kebon, dapet ikan gabus sama betik. Lumayan banyak buat dijual, kan harga ikan gabus mahal. Kalau ada sisa digoreng sendiri di rumah. Alatnya pake pancing sama bubu. Kalau bubunya ditinggal semalaman, besok siangnya diambil habis pulang kerja”

Strategi bertahan hidup pasif juga dapat dilihat berdasarkan dari pemenuhan kebutuhan pakaian keluarga buruh harian yaitu dengan

74

menekan angka pengeluaran dengan melakukan penghematan dengan cara tidak pernah membeli baju baru hanya mengharapkan sedekah pakaian dari orang, kalaupun membeli baju itu dilakukan setahun sekali biasanya menjelang hari raya, berikut adalah hasil wawancara nya bersama istri dari bapak Tukiman yaitu ibu Sunarti.

“Kalau pakaian cuman pakaian seadanya dan terbatas pakaian lama semua lah wan, artinya menghemat lah kalau soal pakaian, paling kalau ada pakaian tambahan itu dari sedekah juga dari masyarakat, kalau untuk baju baru paling bisa dibeli menjelang hari raya aja wan karena lelek mu pasti banyak dapat bonus dari kerjaan jadi bisa dimanfaatkan buat pakaianlah, intinya cuman bisa ganti setahun sekali wan.

Strategi bertahan hidup pasif untuk buruh harian juga digambarkan lewat pemenuhan kebutuhan pangan yang dilakukan istri buruh harian untuk membantu suami contohnya berdasarkan hasil wawancara ibu Warni

“Dari gaji suami sebulan sama tambahan penghasilan bibik itu harus di hemat, pinter pinter ngatur duit la wan. Bibik kan nanam sayuran juga di belakang rumah jadi gak terlalu sering kali beli sayuran ke kedai. Paling sesekali kalo kepengen tahu sama tempe.”

5.3.3 Strategi Jaringan

Strategi jaringan adalah strategi yang dilakukan dengan cara memanfaatkan jaringan sosial kehidupannya. Menurut Suharto (2009 : 31) strategi jaringan merupakan strategi bertahan hidup yang

dilakukan dengan cara menjalin relasi, baik formal maupun dengan lingkungan sosialnya dan lingkungan kelembagaan misalnya meminjam uang kepada tetangga, mengutang di warung atau toko, memanfaatkan program kemiskinan, meminjam uang ke rentenir atau baik dan sebagainya).

Kusnadi (2000 : 146) mengatakan bahwa strategi jaringan terjadi akibat adanya interaksi sosial yang terjadi di masyarakat, jaringan sosial dapat membantu keluarga miskin seperti buruh tani ketika membutuhkan uang secara mendesak. Secara umum strategi jaringan sering dilakukan oleh masyarakat pedesaan yang tergolong miskin, budaya meminjam atau hutang merupakan hal yang wajar bagi masyarakat desa karena budaya gotong royong dan kekeluargaan masih sangat kental dimasyarakat desa.

Strategi jaringan yang biasanya dilakukan adalah dengan memanfaatkan jaringan sosial yang dimiliki dengan cara meminjam uang ke kerabat, bank dan memanfaatkan bantuan sosial lainnya.

Bantuan sosial yang diterima merupakan modal sosial yang sangat berperan sebagai penyelamat ketika keluarga yang tergolong miskin membutuhkan bantuan. Bantuan dalam skala besar, komunitas atau dalam relasi pertemanan telah banyak membantu keluarga miskin.

Dari hasil penelitian dapat di analisis dengan menggambarkan strategi jaringan ini adalah suatu bentuk pemanfaatan oleh buruh harian dan keluarga terhadap pihak eksternal yang membantu baik itu berupa uang tunai, fasilitas, dan sembako dalam membantu

76

perekonomian buruh harian dalam garis kemiskinan, dari hasil wawancra yang berhasil di dapat strategi jaringan ini berarti pihak pemerintah yang membantu dalam perekonomian keluarga buruh harian baik itu berdasarkan bidang pemenuhan kebutuhan pangan maupun uang tunai yang dimana menurut informan tersebut bantuan dari pemerintah itu sangat membantu dalam perekonomian masyarakat miskin khususnya buruh harian.

Contoh beberapa dari hasil wawancara yang dapat menggambarkan adanya pemanfaatan strategi jaringan dalam bertahan hidup baik itu berupa bantuan untuk masyarakat miskin maupun itu bantuan yang hanya diterima hanya dalam situasi pandemi.

“Bantuan dari pemerintah ada dapet, itu PKH akses namanya jadi tiap keluarga miskin dapat bantuan 1 juta per bulan nya. Bisa terbantu dikit-dikit Wan »

Ibu Sugiyem adalah buruh harian wanita yang menjadi tulang punggung keluarga menghidupi tiga anggota keluarga nya menjadi tulang punggung keluarga sejak suami jatuh sakit yaitu penyakit stroke menjadikan nya harus bisa bertahan hidup dalam garis kemiskinan yang harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga nya.

Dengan strategi jaringan ia memanfaatkan bantuan program dari pemerintah untuk masyarakat miskin menggunakan fasilitas yang dilakukan contohnya adalah PKH akses dimana setiap target penerima bantuan adalah orang miskin dan diberikan 1juta per tahun ada juga yang PKH reguler hanya mendapatkan 500ribu per bulan.bagi

masyarakat miskin bantuan itu sudah sangat membantu mengurangi beban mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan.berikut adalah wawancara nya bersama ibu Sugiyem

“Bantuan dari pemerintah ada dapet, itu PKH dapet 1juta rupiah sebulan. Bisa terbantu dikit-dikit Wan untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga”

Kemudian ada juga informan yang memanfaatkan strategi jaringan dalam bentuk pangan dari pemerintah baik bantuan di masa covid baik itu bantuan rutin perbulan nya karena bantuan covid turun ke masyarakat sekitar pertengahan tahun sedangkan bantuan untuk masyarakat miskin yang bukan dikarenakan covid yaitu seperti sembako, gas , kedelai,tahu, tempe yang membantu buruh harian dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan bantuan datang tiap sebulan sekali yang pastinya sangat membantu keluarga buruh harian untuk menghemat dari sisi memenuhi kebutuhan makan dalam satu bulan, berikut adalah hasil wawancara bersama bapak suriadi (Doyok)

“Bantuan dari pemerintah alhamdulillah ada dari 2015 Wan sampe sekarang masih dapet. Tiap bulannya dapet beras 5kg, telur 15 biji sama kacang kedelai setengah kilo. Lumayan untuk membantu untuk kebutuhan makan sampai 2 -3 minggu kedepan.”

5.4 Keterbatasan Penelitian

1. Sebagian informan tidak memahami maksud dari inti pertanyaan yang diberikan sehingga membuat informasi hasil wawancara masih kurang lengkap

78

2. Terlalu ketatnya sistem di perusahaan PT Abdi Budi Mulia, contohnya tidak boleh sembarangan masuk untuk orang-orang yang tidak berkepentingan di perusahaan tersebut sehingga wawancara dan penelitian kurang intens.

3. Kalaupun diizinkan untuk mahasiswa melakukan penelitian tetapi tidak di perbolehkan untuk berlama-lama atau terlalu sering berkunjung ke areal perusahaan.

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Dalam sebuah penelitian yang cakupan pembahasannya cukup banyak, sehingga perlu ada bagian yang dapat memberi penjelasan secara singkat dan padat yaitu kesimpulan. Adapun kesimpulan dalam penelitian ini adalah :

1. Penghasilan buruh harian PT.Abdi Budi Mulia adalah Rp.132.000 per harinya.

Tetapi setiap pekerja harian memiliki hari masuk kerja yang berbeda-beda tergantung jenis pekerjaannya, contohnya pekerja harian yang bekerja di lahan dengan jenis pekerjaan seperti : membabat rumput, membersihkan piringan sawit, menyemprot gulma, memupuk sawit dan lainnya memiliki hari masuk kerja selama 13 hari dalam sebulan. sedangkan pekerja harian yang ditugaskan di komplek perumahan asisten dan manager untuk menjaga kebersihan lingkungan memiliki hari masuk kerja selama 20 hari dalam sebulan.

2. Dalam usaha untuk dapat mempertahankan hidupnya, buruh harian melalukan 3 (tiga) jenis strategi stategi bertahan hidup yaitu :

a. Strategi aktif yang dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang mereka miliki untuk menambah pendapatan dengan memancing ikan di parit-parit perkebunan untuk dijual, mencari lidi sawit kemudian dikumpulkan kemudia dijual untuk diproduksi menjadi sapu, mencari sayuran pakis yang melimpah di lahan perkebunan.

b. Strategi pasif yang dilakukan untuk menekan pengeluaran rumah tangga dengan menerapkan pola hemat seperti tidak menjual semua ikan dan sayuran pakis yang didapat untuk kemudian dijadikan sebagai lauk makan. Keluarga buruh harian juga menanam beberapa jenis sayuran dan cabai di pekarangan rumah agar meminimalisir pengeluaran belanja lauk ke kedai.

c. Strategi jaringan yang dilakukan dengan memanfaatkan bantuan material yaitu penerimaan bantuan dari pemerintah seperti bantuan program PKH dan

81

bantuan bulanan berupa sembako. Hal menarik dari keluarga pekerja buruh harian di Desa Perkebunan Teluk Panji adalah memiliki prinsip “pantang hutang” kecuali pada keadaan yang sangat mendesak, dikarenakan berhutang pada hal yang tidak mendesak akan menyusahkan keluarga sendiri ke depannya, dengan hal tersebut keluarga buruh harian lebih memilih aman.

3. Tabel berikut agar memudahkan memahami hasil penelitian terhadap langkah-langkah yang dilakukan buruh harian dalam melakukan strategi bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga :

No Kebutuhan Strategi Bertahan

Penerapan Strategi Bertahan 1. Sandang Pasif Menahan keinginan membeli pakaian

sampai menjelang hari raya.

Jaringan Memanfaatkan sedekah baju setengah pakai dari tetangga atau

Jaringan Memanfaatkan bantuan PKH dan bantuan covid-19 untuk memenuhi

79 kebutuhan pangan.

3. Papan Aktif Membangun rumah sederhana di lahan milik sendiri seluas 200m² dari hasil menabung.

4. Pendidikan Aktif Informan sebagai orangtua selalu mendukung anaknya di di kedai serta memanfaatkan bahan-bahan herbal

seperti bawang merah, daun brotowali, daun pacar cina dan lainnya.

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian ini maka peneliti memberikan saran sebagai berikut :

1. Kepada pihak perusahaan perkebunan agar menambah kembali hari masuk kerja buruh harian menjadi 26 hari dalam sebulan agar kesejahteraan para pekerja harian yang menggantungkan hidupnya menjadi buruh di perusahaan perkebunan PT.Abdi Budi Mulia menjadi lebih baik.

2. Kepada pemerintahan desa membuat program kesejahteraan dan kemandirian ekonomi untuk golongan keluarga buruh harian maupun yang memiliki kondisi sosial ekonomi yang sama.

3. Kepada pekerja buruh buruh harian agar melakukan terobosan ekonomi mandiri mikro yaitu membangun usaha sendiri dengan modal dan pangsa

80

pasar yang kecil seperti membuat kue dan makanan lainnya yang disukai masyarakat desa kemudian dititipkan ke kedai-kedai. Dari langkah tersebut akan dilakukan sistem bagi hasil antara produsen atau penitip dengan pihak kedai yang dititipkan.

82 DAFTAR PUSTAKA

Bungin, B. (2007). PenelitianKualitatif. Jakarta. Kencana.

Fahrudin, A. (2012). Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.

Khairuddin. H. (2008). Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta. Moleong, L. J. (2004). Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:

Remaja Rosdakaya.

Siagian, M (2011). Metode Penelitian Sosial Pedoman Praktis Penelitian Bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan. Medan: PT Grasindo Monoratma.

Siagian, M. (2011). MetodePenelitianSosial.Medan. PT. Grasindo Monoratama.

Siagian, M. (2012). Kemiskinan dan Solusi. Medan: Grasindo Monoratama.

Soekanto, S. (1990). Sosiologi Keluarga Tentang Ikhwal Keluarga, Remaja dan Anak. Jakarta: Rineka Cipta.

Soekanto S. (2006). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dan R & D.

Bandung: Alfabeta.

Suharto, E. (2009). Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia. Bandung Alfabeta.

Sukamdi. (2004). Profil Perkembangan Kependudukan dan Keluarga Berencana . Bali: Denpasar BKKBN.

Tatang, S. (2012). Ilmu Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Tatang, S. (2012). Ilmu Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Dokumen terkait