BAB II DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
2.4 Data Pemerintahan
3.1.1 Hasil Penelitian Lapangan
Tabel. 5
Pendapat responden mengenai apakah pemberian otonomi desa (berdasarkan UU No. 32 tahun 2004) sudah sesuai atau tidak? (n=5)
No. Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1. Sudah sesuai 2 40
2. Tidak/belum sesuai 3 60
3. Tidak menjawab - -
Total 5 100
Sumber Data: Hasil wawancara peneliti dengan responden
Dari tabel 5 tersebut diatas kita melihat terdapat variasi jawaban para responden dan masing-masing memiliki argumentasi. Bagi responden yang menjawab bahwa pemberian otonomi desa berdasarkan UU No.32 Tahun 2004 “sudah sesuai”
sebanyak 40 % mengatakan bahwa hal tersebut sudah tepat karena pemerintah desa yang berhadapan langsung dengan masyarakatnya dan yang mengetahui permasalahan sekaligus untuk penanggulangannya. Selain itu juga pemerintah desa pulalah sebagai ujung tombak atau pelaksana terdepan dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat, baik pelayanan umum, pembangunan dan kemasyarakatan.
Sedangkan bagi responden yang menjawab bahwa pemberian otonomi desa berdasarkan UU No.32 Tahun 2004 “tidak atau belum sesuai” sebanyak 60 % di dasarkan pada alasan bahwa sebelum UU ini lahir desa sudah menentukan pola pembangunannya melalui musrenbangdes, apa yang diajukan ke kecamatan kemudian di bawa lagi ke musrenbang kabupaten yang sekaligus akan menyediakan dana. Namun, semua yang direncanakan desa tersebut akan dapat berjalan berdasarkan alokasi dana yang ada. Sebagai argumentasi lain pemberian otonomi desa melalui UU No. 32 Tahun 2004 belum sesuai dengan alasan hal yang menyangkut tentang desa bahwa otonomi desa itu lebih terasa bahwasanya ada kearifan lokal (local wisdom)
disana, jadi diberikan peluang setelah otonomi daerah itu kepada sistem pemerintahan terendah (desa) untuk mengembalikan model, nama maupun cirinya. Substansinya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan UU No.22 Tahun 1999 tetapi idealnya belum terdapat di UU No.32 Tahun 2004 karena disana tidak diatur bagaimana sebenarnya desa harus berjalan, UU No.32 Tahun2004 menyerahkan kepada daerah otonom kabupten/kota untuk mengeluarkan peraturan daerah, artinya bagaimana bentuk desa adalah sesuai dengan political will daripada kepala daerah itu sendiri jadi desa itu tidak otonom karena otonomi desa diberikan oleh Perda bukan oleh Undang-Undang.
Selain itu dalam UU ini memang ada upaya untuk memberi kewenangan yang lebih luas bagi desa untuk menjalankan tugas-tugas pelayanan publik sehingga bisa melayani rakyat, tetapi kenyataannya karena yang melimpahkan kewenangan itu kepada desa adalah kecamatan sekalipun UU 32 Tahun 2004 memberi peluang kepada desa untuk melakukan tugas-tugas pelayanan publik yang lebih luas tapi pada kenyataanya tidak sepenuhnya benar dapat terjadi di lapangan, jadi secara normatif UU memang memberi peluang tetapi secara empirik dilapagan sebetulnya tidak terjadi dan banyak desa saat ini masih banyak yang sangat tergantung kepada kecamatan dan masih banyak urusan-urusan yang sebetulnya dapat dialihkan kepada desa itu masih dikerjakan oleh pihak kecamatan, belum ada proses yang lebih alamiah yang bisa memaksa kecamatan untuk menyerahkan sejumlah kewenangan urusan-urusan itu untuk diserahkan kepada desa meskipun berdasarkan perspektif UU No.32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah tersebut sekalipun.
Tabel. 6
Apakah seluruh desa yang ada di Kecamatan Percut Sei Tuan telah mampu melaksanakan otonomi desa ? (n=5)
No. Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1. Semuanya Sudah Mampu 2 40
2. Sebahagian Yang Telah Mampu 1 20
3. Belum Ada yang Mampu 2 40
4. Tidak menjawab - -
Total 5 100
Dari tabel 6 tersebut di atas responden yang mengatakan semua desa yang ada di kecamatan Percut Sei Tuan telah mampu melaksanakan otonomi desa beralasan bahwa sampai saat ini otonomi daerah maupun otonomi desa dapat berjalan dengan baik. Terhadap jawaban hanya sebahagian yang telah mampu melaksanakan otonomi desa mengatakan meskipun secara penuh belum maksimal tetapi ada upaya yang mengarah untuk mencapainya.
Atas jawaban responden belum ada desa di Kecamatan Percut Sei Tuan yang mampu melaksanakan otonomi desa. Sebagai alasan yang disampaikan adalah bahwa otonomi desa itu belum jelas sama sekali kecuali hanya dengan pemilihan kepala desanya saja dan desa yang sudah mengalami heterogenitas seperti di desa Laut Dendang pola-pola masyarakat mengenal desa itu hanya sebagai simbolis saja tapi eksistensi dan esensi desa itu sebenarnya sudah jauh bertransformasi, desa itu lahir jauh sebelum ada kabupaten/kota bahkan NKRI, jadi seharusnya desa menjadi bagian yang paling sentral dalam unsur pemerintahan sehingga desa harus dikembalikan secara total karena pembentukan Indonesia juga bukan atas keseragaman tapi atas keberagaman untuk menciptakan sebuah negara bangsa (Indonesia) jadi mulailah dari desa diberikan kesempatan kepada desa-desa untuk mengakomodir ciri khas/karakteristiknya.
Tabel. 7
Apakah ruang lingkup kewenangan yang ada sekarang sudah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan serta kreatifitas Desa Laut Dendang? (n=5)
No. Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1. Sudah sesuai 2 40
2. Tidak/belum sesuai 2 40
3. Tergantung Tipe Kepemimpinan 1 20
4. Tidak menjawab - -
Total 5 100
Sumber Data: Hasil wawancara peneliti dengan responden
Dari tabel 7 diatas dapat kita lihat responden yang menjawab ruang lingkup kewenangan yang ada sekarang sudah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan serta kreatifitas Desa Laut Dendang “sudah sesuai” 40%, “tidak/belum sesuai” 40% dan
“tergantung tipe kepemimpinan” 20%. Untuk jawaban yang sudah sesuai memberikan alasan bahwa potensi dan sumber daya yang ada saat ini tengah digali dan dalam pelaksanaanya ada mengalami kemajuan. Adapun argumentasi atas jawaban belum sesuai yaitu karena desa hanya menjadi unit administrasi saja dimana desa merupakan perpanjangan tangan dari pemerintahan daerah tetapi fungsi pemberdayaan masyarakat belum dapat dikelola selain itu juga ada argumentasi yang menyatakan bahwa masih banyak persoalan-persoalan, sebagai contoh persoalan tanah di desa siapa yang paling berwenang memutuskan masalah tanah itu bukan desa tetapi ditarik lagi ke camat, surat desa itu tidak berlaku karena memang surat camat itu lebih kuat daripada desa. Itu masih dalam satu sisi pelayanan saja belum lagi dari segi perekonomian, pelayanan KTP, akta kelahiran, KK dan lain-lain.
Sedangkan argumentasi terhadap jawaban “tergantung pada tipe
kepemimpinan” menjelaskan artinya apa yang sudah dijadikan wadah apakah sudah
dikuasai oleh kepala desa keseluruhannya. Apa-apa saja kewenangan yang harus dijalankan, tapi kalau kita melihat by documen UU sudah memadai tetapi implementasinya belum sepenuhnya dapat dijalankan meskipun untuk sementara dapat dikatakan berjalan cukup baik khususnya di Desa Laut Dendang dengan tidak menafikkan masih ada riak-riak kecil.
Tabel. 8
Apakah ruang lingkup kewenangan pemerintah kecamatan yang di atur dalam PP No. 72 Tahun 2005 telah sesuai dengan tugas dan fungsi pemerintah kecamatan? (n=5)
No. Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1. Sudah sesuai 2 60
2. Tidak/belum sesuai 3 40
4. Tidak menjawab - -
Total 5 100
Sumber Data: Hasil wawancara peneliti dengan responden
Dari tabel 8 diatas terlihat jawaban responden atas pertanyaan Apakah ruang lingkup kewenangan pemerintah kecamatan yang di atur dalam PP No. 72 Tahun 2005 telah sesuai dengan tugas dan fungsi pemerintah kecamatan, maka responden yang menjawab “sudah sesuai” sebanyak 60% walaupun mereka sendiri mengakui
dalam implementasinya masih banyak menemui kendala begitu juga termasuk dalam fungsi pendampingan yang dilakukan oleh kecamatan belum memadai, seandainya dapat terlaksana maka desa-desa tidak terlalu bergantung langsung pada pemerintahan kabupaten karena seharusnya dapat diantisipasi oleh pemerintah kecamatan.
Sebagai contoh dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan seperti dokumen-dokumen penting yang ada di desa mulai dari RPJMDes, RKPD kemudian dalam penyusunannya dikaitkan dengan potensi dan sumber daya yang ada di desa, selain itu desa harus punya profil desa dalam pembuatan RPJMDes, RKPD dan profil desa. Sepertinya saat ini peran kecamatan ke desa kurang berarti malah lebih banyak desa khususnya desa Laut Dendang berkonsultasi langsung ke pemerintah kabupaten. Selain itu dalam hal administrasi dapat dikatakan sudah tetapi fungsi untuk memberdayakan desa sebagai unit pemerintahan terendah yang kemudian menjaga nilai-nilai karakteristik lokal sendiri belum sesuai. Kecamatan dalam hal ini hanya memiliki fungsi koordinasi dan tidak bisa melakukan intervensi terhadap kebijakan-kebijakan desa kecuali kebijakan-kebijakan desa yang bertentangan dengan regulasi yang ada walaupun sejauh ini belum terlihat penerapan yang lebih jauh. Seperti misalnya perubahan yang terjadi hari ini di desa hanya mengenai namanya saja namun struktur organisasi secara substansi belum berubah malah desa itu hanya menjadi formalitas karakteristiknya saja.
Sedangkan responden yang menjawab “tidak/belum sesuai” sebanyak 40% didasarkan pada beberapa argumentasi seperti bahwa kewenangan kecamatan yang diemban terlalu banyak dan belum ada kekuatan yang memaksa kecataman untuk menyerahkan kewenagan tersebut, mestinya pemerintahan secara tegas dan jelas seperti urusan kependudukan, perizinan, tanah, surat menyurat dan seterusnya diserahkan kepada desa. Banyak kewenangan yang bisa dilimpahkan kepada desa dan harusnya disebutkan secara tegas, meskipun peraturan itu ada saat ini tapi kurang tegas untuk memaksa atau untuk mengatur sehingga pihak kecamatan bisa melepas sejumlah urusan itu kepada desa.
Tabel. 9
Apakah bentuk/pola hubungan antara pemerintah kecamatan dengan desa seperti yang di atur dalam PP No. 19 Tahun 2008 telah sesuai dengan fungsi dan peran pemerintah kecamatan sebagai intermedary institution dan sebagai pembina desa?(n=5)
No. Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1. Sudah sesuai 2 40
2. Tidak/belum sesuai 2 40
4. Tidak menjawab 1 20
Total 5 100
Sumber Data: Hasil wawancara peneliti dengan responden
Dari tabel 9 diatas menunjukkan sebanyak 40% responden menjawab sudah sesuai. Sedangkan yang berpendapat bahwa hal itu “belum sesuai” juga sebanyak 40% yang mendasarkan pendapatnya pada alasan bahwa kecamatan tidak bisa intervensi kepada desa dalam hal kebijakan tapi dalam hal anggaran desa tetap bergantung dan tanpa ada anggaran desa tidak akan bisa berjalan. Jadi desa tidak mampu mengelola keuangannya sendiri karena memang disitulah seharusnya fungsi kecamatan untuk memberikan pendidikan, pembinaan dan supervisi kepada desa bagaimana mereka meningkatkan kesejahteraan desanya tetapi fungsi ini belum berjalan maksimal.
Tabel. 10
Apakah sejak pelaksanaan otonomi daerah ada hambatan/kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan koordinasi antara pemerintah kecamatan dengan pemerintah desa?
(n=5)
No. Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1. Ada Hambatan 4 80
2. Tidak Ada Hambatan 1 20
3. Tidak menjawab - -
Total 5 100
Sumber Data: Hasil wawancara peneliti dengan responden
Dari tabel 10 diatas tersebut terdapat sebanyak 80% responden yang menjawab “ada hambatan” . adapun yang menjadi dasar argumen responden atas jawaban tersebut diantaranya adalah dalam hal sumber daya manusia sebagaimana kita tahu bahwa kepala desa dipilih dan bukan berdasarkan keterampilan. Selain itu ada pendapat yang menyatakan bahwa camat dalam tugasnya sebagai pengemban sebagian pelimpahan kewenangan oleh bupati dalam melaksanakan tugasnya
sebenarnya camat masih berpola pada UU No. 5/1974 karena lingkup kewenangannya yang begitu luas atau dengan kata lain tugas camat itu melebihi dari kewenangan yang dilimpahkan oleh bupati itu sendiri, camat sebaiknya sebagai kepala wilayah karena camat mengkoordinasikan tugas-tugasnya yang sangat luas baik kepada pihak kepolisian, koramil dan instansi-instansi lain yang ada di kecamatan sehingga kendala-kendala dalam pelaksanaan tugas dapat diminimalisir.
Pendapat lain mengatakan hambatanya secara praktek pasti ada karena regulasi atau perda yang menjadi payung hukum untuk desa juga belum jelas kerangkanya sehingga terjadi tumpang tindih tugas pokok dan fungsi antara kecamatan dan desa, kecamatan merasa sebagai sebuah pemerintahan yang lebih atas daripada desa dan kecamatan mampu untuk mengkoordinasikan semua desa tetapi desa juga memiliki ego wilayahnya masing-masing dan semua ini tergantung kepada kemampuan manajerial kepemimpinan baik camat maupun kepala desa. Selanjutnya kendalanya adalah apakah pihak kecamatan memahami benar tentang filosofi otonomi daerah dan itu menjadi problem, mindset kita tidak sama antara pihak kecamatan dengan desa, begitu juga tentang fungsi pelayanan akhirnya kita memahami kemampuan camat dan kemampuan desa sebagai ujung tombak pelayanan publik lemah, jadi baik desa maupun kecamatan tidak menampilkan sosok yang betul-betul paripurna untuk menjalankan fungsi-fungsi pelayanan dan berkaitan dengan kultur kita saat ini banyak sekali mendapati stakeholders yang memiliki kebiasaan untuk menyelenggarakan semua urusan itu ditangannya sendiri serta dipihak desa sendiri apakah mereka mampu menjalankan kewenangan yang dilimpahkan dari camat kalau memang ada pelimpahan? kita meyakini pemerintahan desa saat ini juga belum mampu.
Sedangkan untuk responden yang menjawab “tidak ada hambatan” sebanyak 20% yang didasarkan pada pertimbangan yaitu khusus untuk kecamatan Percut Sei Tuan memiliki cakupan wilayah yang cukup luas dan apabila pendampingan yang dilakukan kecamatan justru kurang memadai desa dengan sendirinya dapat melakukan koordinasi langsung kepada pihak kabupaten.
Tabel 11
Apakah potensi dan inisiatif masyarakat tumbuh dalam mengatasi permasalahan desa?
No. Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1. Ada 2 40
2. Tidak Ada 2 40
3. Ada Tapi Tidak Semua 1 20
4. Tidak menjawab - -
Total 5 100
Sumber Data: Hasil wawancara peneliti dengan responden
Dari tabel 11 diatas terdapat sebanyak 40% responden yang menjawab “ada”
dengan argumentasi yaitu inisiatif masyarakat tumbuh dan kreatif bahkan masukan-masukan dari masyarakat untuk membuat program-program. Masyarakat juga sudah berdaya untuk tumbuh dan berkembang serta mampu mengatasi masalahnya sendiri dan banyak memberi informasi untuk membantu masalah yang timbul ditengah masyarakat. Terhadap jawaban “ada tapi tidak semua” sebanyak 20% beragumentasi bahwa masyarakat yang dekat dengan pemerintahan atau kelompok-kelompok tertentu saja yang dapat memberikan inisiatif dan tentu ada masyarakat yang terabaikan, selain itu juga ada masyarakat yang apatis karena mereka punya kesibukan sendiri.
Sedangkan responden yang memilih jawaban “tidak ada” sebanyak 40% mendasarkan pendapatnya pada argumentasi bahwa secara umum masyarakat cenderung pasif mungkin juga karena mereka belum paham akan fungsi dan peran pemerintahan desa dan itulah yang seharusnya dilakukan oleh kepala desa dan kecamatan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat desa bahwasanya desa itu merupakan sentral dari pemerintahan terendah dan masyarakat harus paham bahwa mereka sebagai wujud dari karakteristik desa itu sendiri, disisi lain yang dituntut oleh desa yaitu otonomi tapi justru kepala desa yang melakukan demonstrasi di Jakarta untuk diangkat menjadi PNS yang merupakan pola pikir lama sehingga fungsi desa masih jauh dari harapan yang sesungguhnya. (dalam kurun waktu yang singkat proses sosialisasi juga belum memadai dalam gelombang era ufria dimana daerah-daerah dan masyarakat menginginkan adanya peluang dan kesempatan yang sama kepada siapapun warga negara untuk berkompetisi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya tapi kecenderungan masyarakat desa ada pola pikir bahwa desa itu tidak trend, sehingga terjadi urbanisasi kepadatan penduduk dikota karena ada
perubahan cara berfikir masyarakat desa yang melihat peluang meningkatkan kesejahteraan itu harus berpindah ke kota, seharusnya basis-basis ekonomi mikro ada di desa sehingga masyarakat desa tidak merasakan sebagai karakteristik lokal sehingga desa mengalami ketertinggalan apalagi desa-desa yang ruang lingkupnya dekat atau berbatasan langsung dengan kota seperti Desa Laut Dendang Kecamatan Percut Sei Tuan sehingga ada perubahan mind set orang desa sebagai mana orang kota dalam melihat negara. Sebagai contoh mata pencaharian orang desa yang non formal menjadi formal ketika menjadi buruh dengan urbanisasi ke perkotaan yang merupakan gejala moderenisasi, indonesia sebagai negara agraris tentu basis pertanian di desa harus dipertahankan.
Dengan pola pikir semacam ini masyarakat desa cenderung menganggap di desa tidak akan dapat berkembang. Potensi sda, pendidikan, pemberdayaan juga berpengaruh terhadapcara berpikir masyarakat desa. Pemerintah harus serius untuk menyusun regulasi seperti RUU desa yang pantas untuk di gol kan supaya lebih tegas dan jelas sehingga desa tidak lagi menjadi belas kasihan dari pemerintah kabupaten.
Tabel. 12
Apakah peran pelaku di desa (pemerintahan desa, swasta dan masyarakat) sudah optimal dalam mendukung penyelenggaraan otonomi daerah? (n=5)
No. Jawaban Frekuensi Persentase (%)
1. Sudah Optimal 1 20
2. Tidak/belum Optimal 4 80
3. Tidak menjawab - -
Total 5 100
Sumber Data: Hasil wawancara peneliti dengan responden
Dari tabel 12 diatas terdapat 20% responden memilih jawaban “sudah
optimal” dengan argumentasi bahwa dalam rangka otonomi daerah dibutuhkan
sosialisasi yang cukup kuat dan saat ini masyarakat, pengusaha dan lain-lain mengetahui apa yang menjadi fungsi-fungsi pemerintahan desa dan kecamatan selain itu sosialisasi otonomi daerah berjalan dengan baik karena dalam setiap kegiatan pemerintahan kecamatan maupun desa selalu melibatkan berbagai pihak di dalamnya.
Sebaliknya responden yang menjawab “tidak/belum optimal” sebanyak 80% yang mendasarkan argumentasinya pada bahwa kehadiran swasta hanya akan mengeksploitasi desa tanpa dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyat dan dibutuhkan regulasi serta political will dari kepala daerah. Dalam hal ini tergantung pada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat mungkin banyak misalnya swasta yang memiliki dana Coorporate Social Responsibility (CSR) untuk pembinaan masyarakat desa yaitu sebagai salah satu peran swasta untuk mendukung suksesnya desa sebagai sebuah daerah yang otonom dalam pengembangan desa. Mengenai pembangunan di desa-desa menyangkut eksploitasi alam belum berperan baik karena banyak muncul persoalan tentang pembagian hasil, masyarakat yang dilibatkan dan terhadap pemberian dana kontribusi kepada desa dan rehabilitasi yang banyak bermasalah. Desa memiliki SDA (resources) yang digarap untuk keuntungan swasta dan pemerintah sementara yang ditinggalkan di desa hanya kerusakan, hal ini yang disesali oleh masyarakat desa seperti di daerah MADINA yang mengeksploitasi emas tapi seandainya ada pembangunan yang melibatkan masyarakat desa kemudian masyarakat desa dapat merasakan kesejahteraan dan tidak merusak lingkungan tentu masyarakat tidak akan menolak kehadiran swasta jadi kembali kepada political will pemerintah untuk serius memberdayakan masyarakat desa dengan menekan swasta. Jawaban atas pertanyaan : Bagaimana meningkatkan peran pemerintahan desa dalam
rangka menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat? (n=5)
Dari pertanyaan tersebut diatas muncul berbagai jawaban yang cukup bervariasi dengan berbagai argumentasi seperti bahwa desa perlu diberikan otonomi secara penuh untuk dilaksanakan dengan dibarengi pemberian pendanaan yang memadai untuk dapat dikelola oleh desa kemudian dalam hal ini tentu konteksnya ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka pemerintahan baik desa maupun kecamatn harus banyak menggali permasalahn yang ada dimasyarakat kemudian membuat solusi penyelesaianya dan yang pasti dibutuhkan pelatihan-pelatihan kepada kepala desa, perangkat desa seperti melakukan studi banding dan kunjungan-kunjungan kerja ke desa-desa yang lebih maju.
Pendapat lain yang menganggap penting bahwa pertama kembali pada akar persoalan bahwa dibutuhkan sumber daya manusia di desa yang memadai untuk menyelenggarakan pembangunan di desa. Pembangunan desa itu butuh perangkat desa (SDM) yang kuat, butuh BPD yang kuat sehingga kedua institusi otonomi ini bisa menyelenggarakan fungsi-fungsinya secara optimal dan ini merupakan hal utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Birokrasi desa yang harus dilakukan pemberdayaan seperti pendidikanya, kesejahteraannya dan seterusnya. Ketika birokrasi sudah berdaya untuk memberdayakan masyarakatnya ditambah dengan adanya payung hukum yang jelas tentang desa kemudian membuat regulasi yang berorientasi pada pembangunan sumber daya desa, dua hal ini minimal efektif apabila dilakukan untuk meningkatkan kemampuan desa untuk berotonomi.27