• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang berorientasi pada pencapaian tujuan melalui pembahasan masalah. Oleh karena itu, penelitian ini membutuhkan data yang dimiliki keabsahan sebagai sarana pembahasan masalah

Keseluruhan data yang akan dianalisis berdasarkan metode digunakan dalam rangka mengungkapkan nilai moral dalam novel dengan mengutip beberapa bagian yang menunjukan kebenaran analisis.

Pada pencapaian tujuan penelitian ini digunakan kriteria pengukuran variabel yang telah ditentukan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Dzikir Jantung Fatimah

Maka langkah yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah mengklasifikasikan nilai-nilai moral yang terdapat di dalamnya, yakni nilai yang bertentangan dengan norma sosial, susila, dan agama yang sesuai dengan norma sosial, susila dan agama.

1. Klasifikasi nilai moral yang sesuai dengan norma sosial, susila dan agama.

a. Nilai sosial

Nilai sosial dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto berupa bersosialisasi dengan lingkungan seperti pada kutipan berikut:

“Bagaimana mungkin jiwa dan perasaanku terbebas dari gua gelap gulita ini? Aku dalam labirin teka-teki. Aku dan ibuku

34

akan hidup bersama Ernie, orang asing itu. Bagiku, Ernie tidak hanya asisng secara ras saja, tetapi juga secara hubungan antarmanusia. Di antara kami, belum saling bertegur sapa.

Sama sekali tidak ada ikatan benang merah emosional di antara kami. Jadi, bagaimana aku bisa tenang, bisa percaya untuk hidup bersamanya? Apalagi berpasrah diri, memasrahkan mati-hidupku kepadanya? Tidak. Emoh . . . . ! Bagiku, ia baik lelaki dari musim gelap tanpa wajah.” (DJF, 2012: 13)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Ayu harus mampu berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan orang asing dan lingkungan asing yang akan di tempatinya.

“Ibuku lebih senang mengisi waktu luangnya dengan lengkapku. Sejujurnya, aku agak gugup. Aku tidak siap disapa orang asing atau siapa pun. Aku sedang ingin sendiri.

Menyendiri agar hatiku tenteram berada di tanah asing ini.

(DJF, 2012 : 28)

Pada kutipan di atas menunjukkan bahwa Ayu mampu beradaptasi dengan lingkungannya dengan berkenalan dengan orang yang baru dikenalnya, sekalipun sebenarnya ia masih ingin sendiri.

“Okay.” Marco tersenyum. “Jika you menetap di sini, mungkin saya bisa menjadi sahabat you.” (DJF, 2012 : 33)

“Oh, terima kasih sekali.” Aku kembali gugup, karena bingung menghadapi penawaran yang tidak terduga-duga.

Persahabatan.” (DJF, 2012 : 33)

“If you want, kita bisa mengaji bersama pada suatu hari. Atau any time kita diskusi tentang tafsir al-Qur’an atau hadits. Or could be we learn the fiqh ones untuk mendalami ajaran-Nya?

I strongly believe, semuanya itu mendatangkan cahaya-Nya

bagi bushira kita.” Suara Marco terdengar bening, sebening sorot mata cokelatnya yang menatapku” (DJF, 2012 : 33) Ketiga kutipan di atas menunjukkan bahwa persahabatan mampu membawa nilai positif di antara sesama.

“Marco sungguh baik sekali. Apakah ia perpanjangan tangan-Nya untuk menolongku yang sedang dalam kegelapan?” (DJF, 2012 : 74)

Kutipan di atas menunjukkan adanya sikap tolong menolong Marco meskipun baru mengenal Ayu.

“Kecewa boleh, tetapi please never say die! Jangan putus asa!

Marco memenggal kalimatku sambil menarik tanganku agar berhenti memukul dadaku. “Saya tidak akan membantu jika you ternyata hanya seorang gadis yang mudah putus asa.”

(DJF, 2012 : 238)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Marco memberi semangat kepada Ayu agar tidak mudah putus asa, dan selalu siap menolong Ayu di saat menghadapi masalah.

b. Nilai susila

Nilai yang susila yang terdapat dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto yaitu sebagai berikut:

“Aku juga memendam amarah atas pernikahan ibuku dengan Ernie. Edan! Kok, ibuku bisa berbuat demikian? Sungguh nekat. Ia telah berubah menjadi perempuan aneh, murahan, dan memalukan. Ia bukan lagi sebagai perempuan yang selama ini kukenal sebagai ibuku, ibu kandungku.” (DJF, 2012 : 14)

“Krismon, krisis moneter tahun 1998, mengubah perilaku ibuku yang bernilai very good menjadi very bad, bahkan to bad alias busuk.” (DJF, 2012 : 16)

Kedua kutipan di atas menunjukkan adanya rasa marah Ayu kepada ibunya dengan memberi makian berupa kata-kata yang tidak sesuai diucapkan seorang anak kepada ibunya.

“Abangku meninggalkan ibuku untuk menghindari adu mulut.

Ibuku memanggiliku, meminta aku memijat kakinya. Seperti biasanya, aku memijat kakinya dan baru berhenti bila ia telah jatuh tertidur pulas.” (DJF, 2012 : 90)

Kutipan di atas menunjukkan sikap Abang Ayu yang berusaha menghargai ibunya dengan cara meninggalkannya untuk menghindari pertengkaran. Di samping itu, Ayu menunjukkan sikap hormat kepada ibunya dengan memijat kaki ibunya.

“Diapa-apain itu apa?” Ibuku tiba-tiba tertawa, “Ibumu ini bukan perawan kencur. Ibumu ini sangat berpengalaman menghadapi laki-laki. Sudahlah, itu urusan orang tua!” (DJF, 2012 : 94)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa ibu Ayu menganggap bahwa hubungan dengan laki-laki itu merupakan hal yang mudah.

“Saya memang harus baik pada my mommy. Ia perempuan yang sengsara, korban ketidakadilan, korban kebiadaban, korban kesewenang-wenangan.” (DJF, 2012 : 116)

Kutipan di atas menunjukkan sikap seseorang yang berbuat baik kepada ibunya yang menjadi korban kekerasan orang lain.

“Memang hebat, jika tidak ada bangsat itu! Cuah . . . !” Tiba-tiba, Marco meludah, bola matanya memerah.” (DJF, 2012 : 118)

Kutipan di atas menunjukkan amarah Marco dengan ucapan dan tindakan yang dianggap tidak sesuai untuk disampaikan kepada orang lain.

“Ibu saya, ehm . . . , ibu saya diperkosa oleh anak Baron itu, Tuan Muda Franz. Lelaki itu adalah ayah saya. Gila!” tangan

Marco memukul badan mobil mini yang dikendarainya.” (DJF, 2012 : 118)

“Beberapa hari kemudian, ibu saya dibunuh seseorang ketika ia pulang dari Bolivia. Sungguh malang ibu saya, juga saya sebagai mulatto . . !” (DJF, 2012 : 120)

“Saya dituduh mau membunuh Franz dan memperkosa anak gadisnya yang bernama Veronica.” Marco mencibir garang.

“Sungguh menjijikkan dan keji. Cuah . . . !” Marco meludah lagi berkali-kali. (DJF, 2012 : 121)

Ketiga kutipan di atas menunjukkan adanya tindak pemerkosaan dan pembunuhan, serta fitnah yang dianggap sebagai suatu penyimpangan.

“Terima kasih, Manshur,” ucapku” (DJF, 2012: 146)

“Perlu kubantu bawaanmu?” Manshur menawarkan jasanya.

(DJF, 2012 : 146)

“Tidak usah. Terima kasih. See you later!” pamitku pada Manshur setelah memberesi bawaanku. (DJF, 2012 : 146) Ketiga kutipan di atas menunjukkan adanya sikap saling sopan santun dan menghargai antar sesama.

“Assalamu’alaikum, Habib!” Marco langsung menyampaikan salam sambil membungkuk ke arah lelaki yang dipanggilnya Habib. Ia keluar dari tenda raksasa. (DJF, 2012 : 242)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang menghargai orang lain dengan mengucapkan salam sambil membungkuk, sebagai ucapan rasa hormatnya.

c. Nilai agama

Nilai agama yang terkandung dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto yaitu sebagai berikut:

“Kubuka mataku lebar-lebar. Aku saksikan suatu keindahan yang menakjubkan. Inikah bagian dari ayat-ayat Allah yang terlukis di jagad raya? Padang tulip warna merah, ungu, biru, kuning. Angin bertiup lembut, kelopak-kelopak tulip pun bergoyang menggelombang. Tangkai-tangkai tulip menari-nari berbalut lembar daun hijau lumut. Ketika kuraba, permukaannya lembut bak beludru.” (DJF, 2012 : 10)

Kutipan di atas menunjukkan betapa kuasanya Allah swt. yang menciptakan alam semesta seindah ini. Hal ini berdasarkan kutipan di atas yang menjelaskan tentang keindahan warna tulip serta lembutnya angin bertiup.

“Aku pernah membaca tentang asmaul husna. Di dalamnya, menyuratkan bahwa cahaya Allah itu membuat segala bentuk kegelapan menjadi terang. Cahaya-Nya itu lebih dahsyat daripada benderangnya matahari, bintang-bintang, dan daripada semua jenis bintang mana pun dan rembulan purnama. Bila bias-bias cahaya-Nya diserap bushira, mata hati, maka Dia akan mampu menerangi jiwa siapa pun yang tengah dalam kegelapan.” (DJF, 2012 : 12)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa hanya kekuasaan Allah Swt. yang mampu menerangi kegelapan apa pun. Berdasarkan kutipan di atas dijelaskan bahwa cahaya Allah swt. melebihi cahaya mata hari dan bintang-bintang yang ada di langit.

“Ya, Al-Wali! Ya Allah yang Maha Melindungi.

Kini, aku berada di tempat yang jauhnya bermil-mil dari Jakarta. Aku nyaris berada di ring Kutub Selatan. Untuk mencapainya, melalui perjalanan sangat panjang. Tidak hanya panjang dalam jarak tempuh, tetapi juga menguras air mata dan mengombang-ambingkan emosi. Bagiku, baru pertama kali kualami.” (DJF, 2012 : 17)

“Ya Allah al-Malik. Allah Maha Merajai.

Kini aku telah di Australia, tepatnya di pegunungan Dandenong. Daerah kebanggan warga Victoria yang berada di ketinggian lebih kurang enam ratus tiga puluh tiga meter dari permukaan laut. Wajah Dandenong hijau subur. Buminya dilebati semak wangi dan pohon-pohon tinggi-tegak berbalut kulit cokelat yang mengandung lilin. Kawanan burung sejenis

kakak tua terbang rendah. Burung-burung magpie menguak-kuak, berduet dengan tambang dedaunan yang bergesekan.

Nyanyian alam pun menggema riuh di atas hamparan kursi-Nya, Allah yang Maha Merajai”. (DJF, 2012 : 22 – 23)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang senantiasa mengingat kepada Allah swt. ketika berada di suatu tempat jauh yang masih terasa asing baginya. Hal tersebut mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengingat kepada Allah swt. di mana pun kita berada.

“Apa pun yang tiba, apa pun pemberian Allah, kuterima dengan hati sukacita, terbuka, serta legowo. Karena, aku ingin bebas dari kegelapanku walau hanya sejenak. Aku ingin bisa bersama Sang Nur yang aku harapkan akan menerangi lembaran baru hidupku di bumi kanguru.” (DJF, 2012 : 23) Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang ikhlas dengan pemberian Allah swt. Berdasarkan kutipan di atas, kita diajarkan untuk bersikap ikhlas dengan apa yang diberikan Allah swt.

kepada kita, baik berupa suka maupun duka.

“Hampir sepuluh tahun, saya pernah putus asa dan mencoba bunuh diri, tetapi gagal. You know? Ternyata, cahaya-Nya menyelamatkanku. Cahaya Allah itu membias begitu dahsyat melalui kedua tangan agung guru saya, Syekh Khalil ar-Rahman. Ia yang membawa saya kemari dari Brazil.” Bibir Marco gemetar, matanya yang semula bening sekarang berkaca-kaca.” (DJF, 2012 : 34)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa mukjizat Allah swt.

menyelamatkannya dari tindakan yang sangat dibenci oleh Allah swt.

yaitu bunuh diri.

“Tetapi, bukan berarti tidak mampu,” Marco menguatkanku.

“You know? Dalam hadits Nabi Muhammad Saw. yang pernah kubaca, dikatakan bahwa hati kita itu ibarat sehelai bulu yang

terombang-ambing angin. Hadits itu menginspirasi saya menulis puisi.” (DJF, 2012 : 39)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang terinspirasi oleh hadits nabi tentang hati. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa hati kita diibaratkan seperti sehelai bulu yang terombang-ambing. Begitulah yang dirasakan hati kita, kadang merasa senang dan kadang pula merasa sedih.

“Hanya dengan perangkat shalat seadanya, aku menunaikan shalat, yaitu celana panjang katun, atasannya kain batik yang kubuat jadi mukena dengan mengatupkan dua sudut ujung kain dengan peniti. Selimut aku jadikan sajadah. Karena, aku tidak membawa mukena maupun sajadah dari Jakarta. Buku doa juga tidak kubawa, padahal aku punya beberapa, termasuk Surat Yaasiin. Semua itu tak terpikirkan olehku bahwa sesampainya di Australia, aku memerlukannya. Maaf yang kupikirkan ketika meninggalkan Jakarta hanyalah persiapan sekolahku. Kata ibuku, aku akan disekolahkan di sebuah high school di Melbourne, kota pelajar yang juga kota budaya, kota bisnis, sekaligus ibu kota negara bagian Victoria. Aku senang sekali mendengarnya, membuatku seperti melayang-layang.

Duhai . . . duhai Melbourne, aku akan segera dalam pelukanmu, menuntut ilmu, seruku riang tiada henti-hentinya.

(DJF, 2012 : 52)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang masih tetap melaksanakan ibadah kepada Allah swt. meskipun keterbatasan perlengkapan dalam melaksanakannya.

“Ya Allah al-Waki. Ya Allah Yang Maha Memelihara.

Aku mengambil air wudhu, menyucikan diri untuk shalat Ashar. Aku berusaha keras untuk berserah diri kepada-Nya. Ini membuatku berangsur merasa tenang. Rasa pusing yang memalu kepalaku pun hilang. Aku baru menyadari bahwa mendirikan shalat benar-benar tombo ati yang mujarab. Shalat benar-benar membawa nikmat. Aku menyesal tidak melakukannya sejak dulu, setelah guru agama itu mengajarkan shalat kepadaku.” (DJF, 2012 : 55)

“Shalat juga membuatku mampu legowo dan pasrah. Hidup matiku aku pasrahkan kepada-Nya. Aku tak mau lagi terlalu

memikirkan keberadaan Ibu dan aku di Dandenong yang belum menentu. Aku juga berusaha keras melupakan Ernie yang aneh. Aku ingin menyikapi hidup ini bak air mengalir.

Just let it go. (DJF, 2012 : 56)

Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang merasa tenang setelah melaksanakan shalat dan senantiasa berserah diri kepada Allah swt. Hal tersebut membuktikan kepada kita bahwa shalat dapat menenangkan hati.

“Ya, aku memang ingin menjadi seseorang yang berarti. Maka, aku tidak mau terus-menerus terpuruk agar tak lekas mati. Aku berjanji kepada Allah al-Muhyi.” (DJF, 2012 : 59)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang berjanji kepada Allah Swt. untuk menjadi orang yang berarti.

“Guru agamaku pernah bercerita bahwa Nabi Muhammad Saw. menganggap putrinya bak belahan Jiwanya.

Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah radhiyallahu

‘anhu, Nabi bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku, menyakitinya berarti menyakitiku, mempedulikanku berarti mempedulikannya.” (DJF, 2012 : 64)

“Nabi Muhammad Saw. memang sangat memuliakan putrinya.

Fatimah memang putri yang mulia, semulia hatinya. Maka, layak dijuluki sebagai az-Zahra, Mawar Surga. Ia suri teladan bagi perempuan di mana saja, sepanjang zaman,” Ujar guru agamaku kala itu.”

Kedua kutipan di atas menunjukkan betapa Nabi Muhammad memuliakan putrinya, karena putrinya memang putri yang mulia, semulia hatinya.

“Malam nanti, saya tidak makan. Saya mulai puasa jam enam nanti, sampai esok malam pukul enam. Yeah, nanti malam saya tadarus di masjid bersama guru saya dan teman-teman mengaji saya. Saya setiap Senin dan Kamis berpuasa, untuk kesehatan dan mempertebal ketakwaan serta kesabaran.” Marco berkata sambil mengelus-elus dadanya. “Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa saya.” (DJF, 2012 : 74)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang senantiasa memohon pengampunan dari Allah swt. dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah swt. Hal tersebut mengajarkan kepada kita untuk tetap beribadah kepada Allah swt. untuk memohon pengampunan dari-Nya.

“Alhamdulillah, aku telah menikmati kemurahan-Nya di senja yang berhiaskan langit jingga. Dia mengulurkan melalui tangan Marco, lelaki dari Paraty. Yang kunilai sebagai kemurahan-Nya itu bukanlah Pizza dan sebotol kecil orange juice yang kini sedang aku bawa pulang untuk ibuku.

Melainkan kebaikan dan perhatian Marco terhadapku.” (DJF, 2012 : 77)

“Kebaikan dan perhatian Marco aku tafsirkan sebagai wujud dari kasih yang sesungguhnya, yaitu tanpa membeda-bedakan.

Ini suatu bukti bahwa Dia memang mewariskan kasih sayang dan kebaikan bagi seluruh makhluk-Nya tanpa membeda-bedakan. Sungguh, aku sangat bersyukur memperolehnya.”

(DJF, 2012 : 77)

Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa Allah swt.

mewariskan kasih sayang kepada semua makhluk-Nya, tanpa membeda-bedakan.

“Kebaikan dan perhatian Marco bersumber dari kedalaman ibadahnya. Keduanya itu aku rasakan mampu mengurangi kegelapan yang tengah menyelubungi perasaanku. Dan, itu akan aku ceritakan kepada ibuku, walau ada kekhawatiran bahwa ia tidak suka mendengarnya. Tetapi, aku harus mencerit Kan. (DJF, 2012 : 77)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang berbuat baik dan memberi perhatian kepada orang lain, bersumber dari kedalaman ibadahnya.

“Aku jadi ingat cerita guru agamaku mengenai Fatimah, putri Nabi Muhammad Saw., yang begitu tabah menghadapi berbagai penganiayaan yang sangat keji. Penganiayaan dari

kaum kafir yang dilakukan secara fisik, psikis, teror mental, dan penyitaan harta sehingga ludes. Jadi, apa yang kini tengah kualami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan penganiayaan yang pernah dialami Fatimah, mawar surga itu.

Bibirku tergerak memohon diberi ketabahan.” (DJF, 2012 : 82)

“Ya Allah, Allah al-Muqtadir. Ya Allah yang Maha Menentukan. Mohon engkau tentukan nasib yang terbaik bagi hamba yang lemah ini. Ya Allah, berikanlah ketentuan-Mu sebelum hamba mati kaku. Ya Allah, jadikanlah hamba setabah Fatimah, mawar surga-Mu.” (DJF, 2012 : 82)

Kedua kutipan di atas menunjukkan seorang hamba yang memohon diberi ketabahan kepada Allah swt., seperti ketabahan yang dimiliki Fatimah, mawar surga.

“Ya Allah al-Mujib. Ya Allah Yang Maha Mengabulkan.

Hamba mohon Engkau limpahi kekuatan dan keteguhan agar hamba mampu senantiasa berdzikir kepada-Mu. Agar hamba tak pernah lupa bersyukur kepada-Mu serta teguh beribadah kepada-Mu. Ya Allah al-Mujib, kabulkanlah, Allah Yang Maha Mengabulkan. Amin.” (DJF, 2012 : 84)

Kutipan di atas menunjukkan seorang hamba yang memohon kekuatan dan keteguhan kepada Allah swt. karena sesungguhnya, hanya Allah Yang Maha Mengabulkan segala permintaan hamba-Nya.

“Air mataku hangat menetes di kedua pipiku di ujung doa, setelah shalat Subuh. Aku melepaskan mukena batikku dan melipat selimut yang kujadikan sajadah. Terasa plong perasaanku. Tubuhku yang tak berdaya karena semalaman tidak tidur berangsur-angsur bugar. Shalat subuh ternyata mujarab untuk tombo atiku yang sedang rongseng. Shalat Subuh juga mujarab sebagai kendali amarah dan pengusir duka lara. Semoga aku mampu memadamkan api kemarahan terhadap ibuku dan mampu mengusir kesedihanku.” (DJF, 2012 : 96 – 97)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang amarahnya mereda setelah melaksanakan ibadah shalat subuh.

“Ya Allah, alhamdulillah, hamba jadi dekat dengan Engkau!”

(DJF, 2012 : 98)

“Aku merasakan ada hasta-hasta lembut yang membimbingku untuk senantiasa dekat dengan-Nya. Apakah itu hasta-hasta Fatimah? Fatimah az-Zahra telah mendekatkanku kepada Allah al-Mani’, Yang Maha Mencegah segala bentuk perbuatantburuk dan terkutuk yang ingin kulakukan, yaitu mengakhiri hidup alias bunuh diri.” (DJF, 2012 : 98)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang dekat kepada Allah swt. dijauhkan dari perbuatan-perbuatan buruk dan terkutuk.

Hal tersebut mengajarkan bahwa untuk menghindari perbuatan-perbuatan buruk, maka kita harus mendekatkan diri kepada Allah swt.

“Syekh Khalil ar-Rahman mengutip hadits Nabi yang bersabda, ‘Janganlah salah seorang dari kalian mengharap kematian. Seandainya ia orang baik, mudah-mudahan kebaikannya bertambah; dan seandainya ia orang jelek, siapa tahu ia diberi-Nya kesempatan untuk berubahí.” (DJF, 2012 : 122 – 123)

“Syekh Khalil mengatakan saya bisa berubah jika saya mau.

Lalu, ia memperkenalkan saya kepada Allah dengan sembilan puluh sembilan keagungan asma-Nya. Asmaul Husna.” (DJF, 2012 : 123)

Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa selalu ada jalan jika seseorang mau bertobat kepada Allah swt.

“Aku yakin bahwa Allah al-Hafizh. Buktinya, Dia telah memeliharaku untuk terus hidup, walau aku dalam keadaan terjepit. Dia juga membukakan jalan untukku terus melanjutkan hidup. Karena Dia adalah al-Fattah, Yang Maha Pembuka Rahmat, membuka jalan bagi hidupku.” (DJF, 2012: 128)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang bersyukur atas hidup yang diberikan Allah swt. kepadanya.

“Iya. Bukankah katamu Allah al-Muhaimin, Allah Yang Maha Pemelihara? Aku akan dipelihara-Nya, itu berarti akan selamat sampai di rumah,” Kataku yakin.” (DJF, 2012 : 134) Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang yakin bahwa Allah swt. senantiasa bersamanya dan menjaganya.

“Suara adzan, gema alunan orang mengaji, pujian dan dzikir, dinamika orang-orang yang menunaikan shalat, harumnya mulut orang-orang yang berpuasa, serta keikhlasan orang berderma. Semuanya itu membuat mataku terbuka. Apa yang mereka lakukan memberikan ketenangan dan keteduhan jiwa.” (DJF, 2012 : 138)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang merasa kagum terhadap orang-orang yang melaksanakan perintah Allah swt. dengan tulus.

“Malam ini, aku memang telah menjelma menjadi sosok lain, sosok yang tegar karena berani berpasrah kepada-Nya.

Berserah diri kepada Yang Maha Lembut, Allah al-Lathif. Apa tanggapan Budhe Wien, Tante Lies, dan abangku jika tahu akan perubahanku ini? Tentu mereka akan menganggapku aneh. Aku pada mulanya juga merasa aneh menyikapi perubahanku. Tetapi, kata Marco, jika Allah telah berkehendak, apa pun bisa terjadi. Dan, apa yang terjadi atas kehendak-Nya pada diriku adalah hal yang positif. (DJF, 2012:

15)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang berani berpasrah kepada Allah swt. dan menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah swt.

“Subhanllah! Malam itu, selain kenyang, aku juga tidak ketakutan walau ditinggal ibuku. Benar-benar, Allah al-Wali, Allah Yang Maha Melindungi, melindungiku. Aku berjanji untuk membalas kebaikan-Nya yang melimpah. Caranya? Aku akan berpuasa Senin dan Kamis agar tidak lupa akan rasa haus dan lapar. Sehingga, aku bisa berempati kepada siapa saja yang mengalaminya. Dengan begitu, aku mempunyai kesadaran untuk menolong mereka yang kelaparan dan kehausan. Seperti yang telah Marco lakukan terhadapku.” (DJF, 2012 : 156)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang tidak lupa berterima kasih atas nikmat yang diberikan Allah swt. kepadanya.

“Hadits Nabi Muhammad Saw. menguatkanku untuk tetap dalam kendali diri. Segera kuikuti kembali percakapan Chia dengan ibuku.” (DJF, 2012 : 174)

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang tetap berpegang pada hadits Nabi Muhammad saw. untuk menguatkan dirinya.

Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang tetap berpegang pada hadits Nabi Muhammad saw. untuk menguatkan dirinya.

Dokumen terkait