BAB II TINJUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
B. Kerangka Pikir
Novel merupakan bagian dan karya sastra. Dalam penelitian ini novel yang akan diteliti mengkhusus pada novel bermutu dan serius. Novel Dzikir Jantung Fatimah dibangun oleh unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.Unsur intrinsik terdiri atas tema, alur dan plot.Latar atau setting, penokohan atau perwatakan, amanat atau pusat pengisahan.Adapun unsur ekstrinsik yang terdiri atas aspek psikologis, sosiologis, ekonomi, politik, budaya, moral, religius, dan pendidikan.
Dideskripsikan secara rinci tentang nilai-nilai moral apa saja yang terdapat dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto. Berikut ini dipaparkan kerangka pikir penelitian.
Novel
Dzikir Jantung Fatimah
Intrinsik Ekstrinsik
Tema Alur Latar Tokoh
Sudut Pandang Amanah
Pendidikan Agama Budaya Moral
Nilai Sosial
Nilai Susila
Nilai Agama
Analisis
Temuan
Bagan Kerangka Pikir
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Fokus dan Desain Penelitian
1. Fokus Penelitian
Berdasarkan judul penelitian analisis nilai moral dalam novel Dzikir Jantung Fatimah maka fokus dalam penelitian ini adalah nilai moral yang terkandung di dalam novel Dzikir Jantung Fatimah.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian pada hakikatnya merupakan strategi yang mengatur ruang atau teknis penelitian agar memperoleh data maupun kesimpulan penelitian dengan kemungkinan munculnya kontaminasi yang paling kecil dan variabel lain.
Untuk memudahkan memperoleh data dan kesimpulan secara objektif tentang nilai-nilai moral dalam novel Dzikir jantung fatimah karya Naning Pranoto, langkah yang ditempuh penulis adalah mengadakan studi kepustakaan yang mengidentifikasi pemilihan dan perumusan masalah, menyelidiki variabel-variabel yang relevan melalui telaah kepustakaan.
Adapun metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode deskriptif Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau menuliskan keadaan subjek atau non objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
30
sebagaimana adanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan moral. Langkah yang dilakukan adalah menganalisis teks sastra (novel) untuk menemukan permasalahan yang berhubungan dengan nilai moral yang terdapat dalam novel Dzikir jantung fatimah karya Naning Pranoto.
B. Definisi Istilah 1. Analisis
Analisis adalah uraian karya sastra dengan tujuan untuk memahami pertalian unsur-unsurnya.
Analisis bisa diartikan sebagai kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam.
2. Nilai
Nilai adalah kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek.
3. Moral
Moral adalah kelakuan yang sesuai ukuran (nilai-nilai) masyarakat yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar, yang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut.
4. Novel
Novel merupakan suatu karya prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian luar biasa dan kehidupan orang-orang (tokoh cerita), dan kejadian ini menimbulkan konflik suatu pertikaian yang mengalihkan urusan nasib mereka.
5. Novel Dzikir Jantung Fatimah
Novel Dzikir Jantung Fatimah merupakan novel karangan Naning Pranoto, yang menceritakan tentang tentang kehidupan seorang gadis belia yang coba tingkatkan kesadaran untuk mendalami agama sekaligus ingin berjaya dalam akademik.
C. Data dan Sumber Data
1. Data
Data dalam penelitian ini adalah nilai moral yang terdapat dalam novel Dzikir Jantung fatimah karya Naning Pranoto. Dengan mengutip kata, kalimat, dan ungkapan-ungkapan yang dianggap sesuai dengan judul yang diteliti.
2. Sumber Data
Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah novel Dzikir Jantung Fatimah karya Isa Naning Pranoto Penerbit DIVA Press , Cetakan pertama Tahun 2012. Tempat terbit Banguntapan Jogjakarta.
D.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan untuk memperoleh data dan informasi mengenai nilai-nilai moral yaitu dengan melakukan penulisan pustaka (percetakan). Adapun langkah-langkah yang ditempuh penulis dalam teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Mencari dan mengumpulkan standar acuan yang dijadikan acuan dalam penelitian secara sistematis dan struktur agar tidak menjadi kesalahan akan subjek yang diteliti.
2. Membaca novel Dzikir Jantung Fatimah secara keseluruhan 3. Dan memahami maksud dan tujuannya.
4. Menganalisis paragraf demi paragraf, bab demi bab, dan melakukan pengklasifikasian.
5. Mengelompokkan data yang di dalamnya mengandung nilai-nilai moral.
E. Teknik Analisis Data
Berdasarkan teknik pengumpulan data yang dipergunakan maka data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan nilai moral yang dijadikan acuan penelitian meliputi:
1. Menelaah seluruh data yang telah diperoleh berupa nilai Moral dalam Nove Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto.
2. Mereduksi dan mengaitkan data tertulis berupa nilai moral, selanjutnya dikutip untuk memperkuat analisis data.
3. Bila hasil penelitian sudah dianggap sesuai, maka hasil tersebut dianggap sebagai hasil akhir
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang berorientasi pada pencapaian tujuan melalui pembahasan masalah. Oleh karena itu, penelitian ini membutuhkan data yang dimiliki keabsahan sebagai sarana pembahasan masalah
Keseluruhan data yang akan dianalisis berdasarkan metode digunakan dalam rangka mengungkapkan nilai moral dalam novel dengan mengutip beberapa bagian yang menunjukan kebenaran analisis.
Pada pencapaian tujuan penelitian ini digunakan kriteria pengukuran variabel yang telah ditentukan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Dzikir Jantung Fatimah
Maka langkah yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah mengklasifikasikan nilai-nilai moral yang terdapat di dalamnya, yakni nilai yang bertentangan dengan norma sosial, susila, dan agama yang sesuai dengan norma sosial, susila dan agama.
1. Klasifikasi nilai moral yang sesuai dengan norma sosial, susila dan agama.
a. Nilai sosial
Nilai sosial dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto berupa bersosialisasi dengan lingkungan seperti pada kutipan berikut:
“Bagaimana mungkin jiwa dan perasaanku terbebas dari gua gelap gulita ini? Aku dalam labirin teka-teki. Aku dan ibuku
34
akan hidup bersama Ernie, orang asing itu. Bagiku, Ernie tidak hanya asisng secara ras saja, tetapi juga secara hubungan antarmanusia. Di antara kami, belum saling bertegur sapa.
Sama sekali tidak ada ikatan benang merah emosional di antara kami. Jadi, bagaimana aku bisa tenang, bisa percaya untuk hidup bersamanya? Apalagi berpasrah diri, memasrahkan mati-hidupku kepadanya? Tidak. Emoh . . . . ! Bagiku, ia baik lelaki dari musim gelap tanpa wajah.” (DJF, 2012: 13)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Ayu harus mampu berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan orang asing dan lingkungan asing yang akan di tempatinya.
“Ibuku lebih senang mengisi waktu luangnya dengan lengkapku. Sejujurnya, aku agak gugup. Aku tidak siap disapa orang asing atau siapa pun. Aku sedang ingin sendiri.
Menyendiri agar hatiku tenteram berada di tanah asing ini.
(DJF, 2012 : 28)
Pada kutipan di atas menunjukkan bahwa Ayu mampu beradaptasi dengan lingkungannya dengan berkenalan dengan orang yang baru dikenalnya, sekalipun sebenarnya ia masih ingin sendiri.
“Okay.” Marco tersenyum. “Jika you menetap di sini, mungkin saya bisa menjadi sahabat you.” (DJF, 2012 : 33)
“Oh, terima kasih sekali.” Aku kembali gugup, karena bingung menghadapi penawaran yang tidak terduga-duga.
Persahabatan.” (DJF, 2012 : 33)
“If you want, kita bisa mengaji bersama pada suatu hari. Atau any time kita diskusi tentang tafsir al-Qur’an atau hadits. Or could be we learn the fiqh ones untuk mendalami ajaran-Nya?
I strongly believe, semuanya itu mendatangkan cahaya-Nya
bagi bushira kita.” Suara Marco terdengar bening, sebening sorot mata cokelatnya yang menatapku” (DJF, 2012 : 33) Ketiga kutipan di atas menunjukkan bahwa persahabatan mampu membawa nilai positif di antara sesama.
“Marco sungguh baik sekali. Apakah ia perpanjangan tangan-Nya untuk menolongku yang sedang dalam kegelapan?” (DJF, 2012 : 74)
Kutipan di atas menunjukkan adanya sikap tolong menolong Marco meskipun baru mengenal Ayu.
“Kecewa boleh, tetapi please never say die! Jangan putus asa!
Marco memenggal kalimatku sambil menarik tanganku agar berhenti memukul dadaku. “Saya tidak akan membantu jika you ternyata hanya seorang gadis yang mudah putus asa.”
(DJF, 2012 : 238)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Marco memberi semangat kepada Ayu agar tidak mudah putus asa, dan selalu siap menolong Ayu di saat menghadapi masalah.
b. Nilai susila
Nilai yang susila yang terdapat dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto yaitu sebagai berikut:
“Aku juga memendam amarah atas pernikahan ibuku dengan Ernie. Edan! Kok, ibuku bisa berbuat demikian? Sungguh nekat. Ia telah berubah menjadi perempuan aneh, murahan, dan memalukan. Ia bukan lagi sebagai perempuan yang selama ini kukenal sebagai ibuku, ibu kandungku.” (DJF, 2012 : 14)
“Krismon, krisis moneter tahun 1998, mengubah perilaku ibuku yang bernilai very good menjadi very bad, bahkan to bad alias busuk.” (DJF, 2012 : 16)
Kedua kutipan di atas menunjukkan adanya rasa marah Ayu kepada ibunya dengan memberi makian berupa kata-kata yang tidak sesuai diucapkan seorang anak kepada ibunya.
“Abangku meninggalkan ibuku untuk menghindari adu mulut.
Ibuku memanggiliku, meminta aku memijat kakinya. Seperti biasanya, aku memijat kakinya dan baru berhenti bila ia telah jatuh tertidur pulas.” (DJF, 2012 : 90)
Kutipan di atas menunjukkan sikap Abang Ayu yang berusaha menghargai ibunya dengan cara meninggalkannya untuk menghindari pertengkaran. Di samping itu, Ayu menunjukkan sikap hormat kepada ibunya dengan memijat kaki ibunya.
“Diapa-apain itu apa?” Ibuku tiba-tiba tertawa, “Ibumu ini bukan perawan kencur. Ibumu ini sangat berpengalaman menghadapi laki-laki. Sudahlah, itu urusan orang tua!” (DJF, 2012 : 94)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa ibu Ayu menganggap bahwa hubungan dengan laki-laki itu merupakan hal yang mudah.
“Saya memang harus baik pada my mommy. Ia perempuan yang sengsara, korban ketidakadilan, korban kebiadaban, korban kesewenang-wenangan.” (DJF, 2012 : 116)
Kutipan di atas menunjukkan sikap seseorang yang berbuat baik kepada ibunya yang menjadi korban kekerasan orang lain.
“Memang hebat, jika tidak ada bangsat itu! Cuah . . . !” Tiba-tiba, Marco meludah, bola matanya memerah.” (DJF, 2012 : 118)
Kutipan di atas menunjukkan amarah Marco dengan ucapan dan tindakan yang dianggap tidak sesuai untuk disampaikan kepada orang lain.
“Ibu saya, ehm . . . , ibu saya diperkosa oleh anak Baron itu, Tuan Muda Franz. Lelaki itu adalah ayah saya. Gila!” tangan
Marco memukul badan mobil mini yang dikendarainya.” (DJF, 2012 : 118)
“Beberapa hari kemudian, ibu saya dibunuh seseorang ketika ia pulang dari Bolivia. Sungguh malang ibu saya, juga saya sebagai mulatto . . !” (DJF, 2012 : 120)
“Saya dituduh mau membunuh Franz dan memperkosa anak gadisnya yang bernama Veronica.” Marco mencibir garang.
“Sungguh menjijikkan dan keji. Cuah . . . !” Marco meludah lagi berkali-kali. (DJF, 2012 : 121)
Ketiga kutipan di atas menunjukkan adanya tindak pemerkosaan dan pembunuhan, serta fitnah yang dianggap sebagai suatu penyimpangan.
“Terima kasih, Manshur,” ucapku” (DJF, 2012: 146)
“Perlu kubantu bawaanmu?” Manshur menawarkan jasanya.
(DJF, 2012 : 146)
“Tidak usah. Terima kasih. See you later!” pamitku pada Manshur setelah memberesi bawaanku. (DJF, 2012 : 146) Ketiga kutipan di atas menunjukkan adanya sikap saling sopan santun dan menghargai antar sesama.
“Assalamu’alaikum, Habib!” Marco langsung menyampaikan salam sambil membungkuk ke arah lelaki yang dipanggilnya Habib. Ia keluar dari tenda raksasa. (DJF, 2012 : 242)
Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang menghargai orang lain dengan mengucapkan salam sambil membungkuk, sebagai ucapan rasa hormatnya.
c. Nilai agama
Nilai agama yang terkandung dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto yaitu sebagai berikut:
“Kubuka mataku lebar-lebar. Aku saksikan suatu keindahan yang menakjubkan. Inikah bagian dari ayat-ayat Allah yang terlukis di jagad raya? Padang tulip warna merah, ungu, biru, kuning. Angin bertiup lembut, kelopak-kelopak tulip pun bergoyang menggelombang. Tangkai-tangkai tulip menari-nari berbalut lembar daun hijau lumut. Ketika kuraba, permukaannya lembut bak beludru.” (DJF, 2012 : 10)
Kutipan di atas menunjukkan betapa kuasanya Allah swt. yang menciptakan alam semesta seindah ini. Hal ini berdasarkan kutipan di atas yang menjelaskan tentang keindahan warna tulip serta lembutnya angin bertiup.
“Aku pernah membaca tentang asmaul husna. Di dalamnya, menyuratkan bahwa cahaya Allah itu membuat segala bentuk kegelapan menjadi terang. Cahaya-Nya itu lebih dahsyat daripada benderangnya matahari, bintang-bintang, dan daripada semua jenis bintang mana pun dan rembulan purnama. Bila bias-bias cahaya-Nya diserap bushira, mata hati, maka Dia akan mampu menerangi jiwa siapa pun yang tengah dalam kegelapan.” (DJF, 2012 : 12)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa hanya kekuasaan Allah Swt. yang mampu menerangi kegelapan apa pun. Berdasarkan kutipan di atas dijelaskan bahwa cahaya Allah swt. melebihi cahaya mata hari dan bintang-bintang yang ada di langit.
“Ya, Al-Wali! Ya Allah yang Maha Melindungi.
Kini, aku berada di tempat yang jauhnya bermil-mil dari Jakarta. Aku nyaris berada di ring Kutub Selatan. Untuk mencapainya, melalui perjalanan sangat panjang. Tidak hanya panjang dalam jarak tempuh, tetapi juga menguras air mata dan mengombang-ambingkan emosi. Bagiku, baru pertama kali kualami.” (DJF, 2012 : 17)
“Ya Allah al-Malik. Allah Maha Merajai.
Kini aku telah di Australia, tepatnya di pegunungan Dandenong. Daerah kebanggan warga Victoria yang berada di ketinggian lebih kurang enam ratus tiga puluh tiga meter dari permukaan laut. Wajah Dandenong hijau subur. Buminya dilebati semak wangi dan pohon-pohon tinggi-tegak berbalut kulit cokelat yang mengandung lilin. Kawanan burung sejenis
kakak tua terbang rendah. Burung-burung magpie menguak-kuak, berduet dengan tambang dedaunan yang bergesekan.
Nyanyian alam pun menggema riuh di atas hamparan kursi-Nya, Allah yang Maha Merajai”. (DJF, 2012 : 22 – 23)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang senantiasa mengingat kepada Allah swt. ketika berada di suatu tempat jauh yang masih terasa asing baginya. Hal tersebut mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengingat kepada Allah swt. di mana pun kita berada.
“Apa pun yang tiba, apa pun pemberian Allah, kuterima dengan hati sukacita, terbuka, serta legowo. Karena, aku ingin bebas dari kegelapanku walau hanya sejenak. Aku ingin bisa bersama Sang Nur yang aku harapkan akan menerangi lembaran baru hidupku di bumi kanguru.” (DJF, 2012 : 23) Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang ikhlas dengan pemberian Allah swt. Berdasarkan kutipan di atas, kita diajarkan untuk bersikap ikhlas dengan apa yang diberikan Allah swt.
kepada kita, baik berupa suka maupun duka.
“Hampir sepuluh tahun, saya pernah putus asa dan mencoba bunuh diri, tetapi gagal. You know? Ternyata, cahaya-Nya menyelamatkanku. Cahaya Allah itu membias begitu dahsyat melalui kedua tangan agung guru saya, Syekh Khalil ar-Rahman. Ia yang membawa saya kemari dari Brazil.” Bibir Marco gemetar, matanya yang semula bening sekarang berkaca-kaca.” (DJF, 2012 : 34)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa mukjizat Allah swt.
menyelamatkannya dari tindakan yang sangat dibenci oleh Allah swt.
yaitu bunuh diri.
“Tetapi, bukan berarti tidak mampu,” Marco menguatkanku.
“You know? Dalam hadits Nabi Muhammad Saw. yang pernah kubaca, dikatakan bahwa hati kita itu ibarat sehelai bulu yang
terombang-ambing angin. Hadits itu menginspirasi saya menulis puisi.” (DJF, 2012 : 39)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang terinspirasi oleh hadits nabi tentang hati. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa hati kita diibaratkan seperti sehelai bulu yang terombang-ambing. Begitulah yang dirasakan hati kita, kadang merasa senang dan kadang pula merasa sedih.
“Hanya dengan perangkat shalat seadanya, aku menunaikan shalat, yaitu celana panjang katun, atasannya kain batik yang kubuat jadi mukena dengan mengatupkan dua sudut ujung kain dengan peniti. Selimut aku jadikan sajadah. Karena, aku tidak membawa mukena maupun sajadah dari Jakarta. Buku doa juga tidak kubawa, padahal aku punya beberapa, termasuk Surat Yaasiin. Semua itu tak terpikirkan olehku bahwa sesampainya di Australia, aku memerlukannya. Maaf yang kupikirkan ketika meninggalkan Jakarta hanyalah persiapan sekolahku. Kata ibuku, aku akan disekolahkan di sebuah high school di Melbourne, kota pelajar yang juga kota budaya, kota bisnis, sekaligus ibu kota negara bagian Victoria. Aku senang sekali mendengarnya, membuatku seperti melayang-layang.
Duhai . . . duhai Melbourne, aku akan segera dalam pelukanmu, menuntut ilmu, seruku riang tiada henti-hentinya.
(DJF, 2012 : 52)
Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang masih tetap melaksanakan ibadah kepada Allah swt. meskipun keterbatasan perlengkapan dalam melaksanakannya.
“Ya Allah al-Waki. Ya Allah Yang Maha Memelihara.
Aku mengambil air wudhu, menyucikan diri untuk shalat Ashar. Aku berusaha keras untuk berserah diri kepada-Nya. Ini membuatku berangsur merasa tenang. Rasa pusing yang memalu kepalaku pun hilang. Aku baru menyadari bahwa mendirikan shalat benar-benar tombo ati yang mujarab. Shalat benar-benar membawa nikmat. Aku menyesal tidak melakukannya sejak dulu, setelah guru agama itu mengajarkan shalat kepadaku.” (DJF, 2012 : 55)
“Shalat juga membuatku mampu legowo dan pasrah. Hidup matiku aku pasrahkan kepada-Nya. Aku tak mau lagi terlalu
memikirkan keberadaan Ibu dan aku di Dandenong yang belum menentu. Aku juga berusaha keras melupakan Ernie yang aneh. Aku ingin menyikapi hidup ini bak air mengalir.
Just let it go. (DJF, 2012 : 56)
Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang merasa tenang setelah melaksanakan shalat dan senantiasa berserah diri kepada Allah swt. Hal tersebut membuktikan kepada kita bahwa shalat dapat menenangkan hati.
“Ya, aku memang ingin menjadi seseorang yang berarti. Maka, aku tidak mau terus-menerus terpuruk agar tak lekas mati. Aku berjanji kepada Allah al-Muhyi.” (DJF, 2012 : 59)
Kutipan di atas menunjukkan seseorang yang berjanji kepada Allah Swt. untuk menjadi orang yang berarti.
“Guru agamaku pernah bercerita bahwa Nabi Muhammad Saw. menganggap putrinya bak belahan Jiwanya.
Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah radhiyallahu
‘anhu, Nabi bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku, menyakitinya berarti menyakitiku, mempedulikanku berarti mempedulikannya.” (DJF, 2012 : 64)
“Nabi Muhammad Saw. memang sangat memuliakan putrinya.
Fatimah memang putri yang mulia, semulia hatinya. Maka, layak dijuluki sebagai az-Zahra, Mawar Surga. Ia suri teladan bagi perempuan di mana saja, sepanjang zaman,” Ujar guru agamaku kala itu.”
Kedua kutipan di atas menunjukkan betapa Nabi Muhammad memuliakan putrinya, karena putrinya memang putri yang mulia, semulia hatinya.
“Malam nanti, saya tidak makan. Saya mulai puasa jam enam nanti, sampai esok malam pukul enam. Yeah, nanti malam saya tadarus di masjid bersama guru saya dan teman-teman mengaji saya. Saya setiap Senin dan Kamis berpuasa, untuk kesehatan dan mempertebal ketakwaan serta kesabaran.” Marco berkata sambil mengelus-elus dadanya. “Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa saya.” (DJF, 2012 : 74)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang senantiasa memohon pengampunan dari Allah swt. dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah swt. Hal tersebut mengajarkan kepada kita untuk tetap beribadah kepada Allah swt. untuk memohon pengampunan dari-Nya.
“Alhamdulillah, aku telah menikmati kemurahan-Nya di senja yang berhiaskan langit jingga. Dia mengulurkan melalui tangan Marco, lelaki dari Paraty. Yang kunilai sebagai kemurahan-Nya itu bukanlah Pizza dan sebotol kecil orange juice yang kini sedang aku bawa pulang untuk ibuku.
Melainkan kebaikan dan perhatian Marco terhadapku.” (DJF, 2012 : 77)
“Kebaikan dan perhatian Marco aku tafsirkan sebagai wujud dari kasih yang sesungguhnya, yaitu tanpa membeda-bedakan.
Ini suatu bukti bahwa Dia memang mewariskan kasih sayang dan kebaikan bagi seluruh makhluk-Nya tanpa membeda-bedakan. Sungguh, aku sangat bersyukur memperolehnya.”
(DJF, 2012 : 77)
Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa Allah swt.
mewariskan kasih sayang kepada semua makhluk-Nya, tanpa membeda-bedakan.
“Kebaikan dan perhatian Marco bersumber dari kedalaman ibadahnya. Keduanya itu aku rasakan mampu mengurangi kegelapan yang tengah menyelubungi perasaanku. Dan, itu akan aku ceritakan kepada ibuku, walau ada kekhawatiran bahwa ia tidak suka mendengarnya. Tetapi, aku harus mencerit Kan. (DJF, 2012 : 77)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang berbuat baik dan memberi perhatian kepada orang lain, bersumber dari kedalaman ibadahnya.
“Aku jadi ingat cerita guru agamaku mengenai Fatimah, putri Nabi Muhammad Saw., yang begitu tabah menghadapi berbagai penganiayaan yang sangat keji. Penganiayaan dari
kaum kafir yang dilakukan secara fisik, psikis, teror mental, dan penyitaan harta sehingga ludes. Jadi, apa yang kini tengah kualami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan penganiayaan yang pernah dialami Fatimah, mawar surga itu.
Bibirku tergerak memohon diberi ketabahan.” (DJF, 2012 : 82)
“Ya Allah, Allah al-Muqtadir. Ya Allah yang Maha Menentukan. Mohon engkau tentukan nasib yang terbaik bagi hamba yang lemah ini. Ya Allah, berikanlah ketentuan-Mu sebelum hamba mati kaku. Ya Allah, jadikanlah hamba setabah Fatimah, mawar surga-Mu.” (DJF, 2012 : 82)
Kedua kutipan di atas menunjukkan seorang hamba yang memohon diberi ketabahan kepada Allah swt., seperti ketabahan yang dimiliki Fatimah, mawar surga.
“Ya Allah al-Mujib. Ya Allah Yang Maha Mengabulkan.
Hamba mohon Engkau limpahi kekuatan dan keteguhan agar hamba mampu senantiasa berdzikir kepada-Mu. Agar hamba
Hamba mohon Engkau limpahi kekuatan dan keteguhan agar hamba mampu senantiasa berdzikir kepada-Mu. Agar hamba