• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR DAN TARIF RETRIBUSI PELAYANAN PASAR

C. HASIL PENELITIAN

Pada bagian ini di uraikan mengenai hasil dan pembahasan dari data yang telah di peroleh dari penelitian di lapangan, dimulai dengan melakukan observasi kemudian melakukan wawancara mengenai Pengelolaan Retribusi Pasar Di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang. Hasil dari observasi maupun wawancara dalam penelitian ini kemudian akan dianalisis sesuai fokus penelitian dengan menggunakan teori yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu dari teori Stoner.

NO KLASIFIKASI KELAS OJEK TARIF

1 Kelas I meliputi:

Pasar Enrekang, Baraka, Sudu, dan Cakke

a. Kios b. Lods / gardu c. Pelataran 5.000 / m2 / bln 3.500 / m2 / bln 2.000 / m2 / hari 2 Kelas II meliputi: Pasar Maroangin a. Kios b. Lods / gardu c. Pelataran 3.500 / m2 / bln 3.000 / m2 / bln 2.000 / m2 / hari

3 Kelas III meliputi:

Pasar Kotu, Temban, Lo’ko, Banti a. kios b. Lods / gardu c. pelataran 3.000 / m2 / bln 2.500 / m2 / bln 2.000 / m2 / hari

data primer sebagai data pendukung, dengan ini pengelolaan retribusi pasar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang sebagai narasumber yang dianggap mampu dan dapat memberikan informasi yang akurat mengenai pengelolaan retribusi pasar, bahwa tujuan dilakukanya pengelolaan retribusi pasar adalah pertama untuk pendapatan daerah dan yang kedua yaitu masyarakat atau pedagang yang menggunakan fasilitas pasar, ada kewajiban yang harus di jalankan yakni pemabayaran retribusi.

1. Perencanaan (planning)

Perencanaan dalam manajemen adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Dengan adanya perencanaan, maka pelaksanaan kegiatan usaha dapat di usahakan dengan efektif dan efisien. Dalam proses perencanaan untuk mengetahui tahapan awal dalam perencanaan serta penetuan target retribusi pengelolaan retribusi pasar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang. Penulis melakukan wawancara dengan bapak SB selaku Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang mengenai tahapan awal dalam perencanaan pengelolaan retribusi pasar dan hal yang dikemukakan informan adalah:

“Jadi indikatornya sebelum membuat target anggaran bahwa penentuan target pendapatan retribusi terkhususnya retribusi pasar itu kita melihat atau membandingkan realisasi pendapatan tahun lalu, realisasi tahun berjalan dan potensi tahun kedepanya. Kalau untuk perencanaanya, itu dimulai dari bidang teknis terkait apa yang ditargetkan dalam satu tahun anggaran, kemudian datanya disampaikan ke Kepala sub bagian

penganggaran, data yang dimaksud tadi itu ada data target pendapatan itumi retribusi, ada juga data pengadaan sarana pasar, pemeliharaan sarana pasar termasuk juga kebersihan dan kemananan pasar. perencanaan itu menuyusun RKA lewat aplikasi E-Planing untuk perencanaan, aplikasi E-Budgeting untuk anggaran dan RKA nanti akan di asistensi oleh tim anggaran Kabupaten dan setelah Ok maka disusun lagi DPA sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan SKPD dan OPD termasuk pengelolaan retribusi, dan untuk perencanan disampaikan ke Bapedda, untuk anggaran di kantor Bpkd”.

Lanjut, dikatakan oleh SB selaku ketua bidang pasar menyatakan bahwa: “Berbicara dokumen perencanaan Itukan setiap tahun sebelum kita melakukan kegiatan organisasi perangkat daerah kita ada namanya musrenbang, output dari musrenbang itu ada nanti namanya RKPD rencana kerja pembangunan itu skop kabupaten, kalau ditingkat OPD atau SKPD namanya RENJA rencana kerja. Dari RKPD itu maka terbitlah namanya KUA PPAS itu KUA namanya kebijakan umum anggaran kalau PPAS (prioritas plafon anggaran sementara) dari situ turun ke OPD di kasi pagu per OPD, pagu anggaran yah. Dari KUA PPAS ke RAPBD rancangan anggaran pendapatan belanja daerah kalau tingkat kabupaten kemudian kalau tingkat OPD RKA namanya rencana kerja anggaran, stelah selesai kan itu ada namanya pembahasan ada namanya asistensi pembahasan itu kan nanti di perda kan, di peraturan daerah Per APBD kemudian diturunkan ke APBD itu lah kemudian menjadi dokumen pembangunan daerah tapi kalau ditingkat namanya DPA dokumen pelaksanaan anggaran dari RKA ini setelah final menjadi DPA, jadi muatan dari RKPD ini adalah kumpulan rencana kerja semua opd mulai dari kecamatan sampai ke unit itu (Hasil wawancara SB, 13 agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara diatas maka dapat diketahui bahwa, dalam proses perencanaan menentukan target anggaran retribusi pasar, terlebih dahulu perlu melihat dan membandingkan antara realisasi pendapatan retribusi tahun sebelumnya dan tahun berjalan serta melihat potensi kedepanya. Data perencanaan anggaran di kelola oleh sub bagian perencanaan, dimana penyusunan RKA (rencana kerja anggaran) di susun dengan menggunakan aplikasi khusus, yaitu aplikasi E-planning untuk dokumen perencanaan dan

tersebut di asistensi oleh tim anggaran kabupaten, selanjutnya dokumen tersebut di susun kembali oleh DPA sebagai pedoman melaksanakan kegiatan SKPD dan OPD yang di dalamnya sudah termasuk pengelolaan retribusi pasar yang selanjutnya dokumen perencanaan di laporkan ke Bapedda sedangkan untuk anggaran dilaporkan ke Bpkd.

Pendapat tersebut didukung oleh MS selaku Kepala UPT pasar Kabupaten Enrekang yang menyatakan bahwa:

“Dengan melihat realisasi perbandingan realisasi tahun kedepanya dan tahun berjalan, Mengenai perencanaan itu dimulai dari bidang teknis terkait target anggaran dalam satu tahun, lalu datanya disampaikan ke bagian perencanaan untuk dimasukkan ke dokumen perencanaan dan anggaran, itu nanti di asistensi oleh tim anggaran Kabupaten termasuk pengelolaan retribusi. (Hasil wawancara MS, 17 agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atsas maka diketahui bahwa dalam melakukan perencanaan target anggaran perlu melakukan perbandingan antara realisasi tahun berjalan serta potensi kedepanya. kemudian dokumen atau data perencanaan anggaran diserahkan ke teknisi khusus bagian perencanaan. Dan akan di asistensi oleh tim anggaran yang di dalamnya sudah termasuk pengelolaan retribusi.

Lanjut sepadan yang dikatakan oleh HR selaku bendahara penerima Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang, menyatakan bahwa:

“Yah jadi sebelum melakukan penargetan anggaran harus dilihat dulu perbandingan realisasinya antara tahun sekarang dan kedepanya bagaimana dan Perencanaan itu mulai dilakukan dari bidang teknisi terkait target anggaran, terus itu disampaikan dibidang sub perencanaan karena mau dimasukkan ke dokumen perencanaan dengan dokumen anggaran yang nantinya akan di asistensi oleh tim anggaran Kabupaten. (Hasil wawancara HR, 14 agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat diketahui bahwa dalam melakukan perencanaan target anggaran harus melihat perbandingan antara realisasi tahun berjalan maupun potensi kedepanya, data dokumen perencanaan dan dokumen anggaran di tangani khusus oleh bidang sub perencanaan yang nantinya akan di asistensi oleh tim anggaran.

Hasil wawancara dengan beberapa informan tersebut menunjukan bahwa sebelum membuat target anggaran, sangat penting memperhatikan indikator salam penentuan target pendapatan retribusi terkhususnya retribusi pasar, dimana perlu adanya perbandingan antar relasi pendapatan tahun lalu, relasi tahun berjalan dan potensi tahun kedepanya. Perencanaan dilakukan oleh bidang teknis khusus terkait apa yang di anggarkam, yang kemudian data atau dokumen perencanaan di susun dengan menggunakan aplikasi E-Planning sedangkan dokumen anggaran di susun dengan menggunakan aplikasi

E-Budgeting, dimana dokumen tersebut kemudian dimuat dalam RKA (rencana

kerja anggaran) yang sifatnya masih bentuk rancangan yang nantinya aka di asistensi oleh tim anggaran kebupaten, kemudian di susun lagi DPA (dokumen pelaksanaan anggaran) sebagai pedoman SKPD atau OPD yang didalamnya sudah termasuk pengelolaan retribusi pasar yang selanjutnya dokumen perencanaan di laporkan ke BAPPEDA sedangkan anggaran di laporkan ke BPKD.

2. Pengorganisaian (organizing)

Dalam struktur organisasi terdapat komponene atau unit-unit kerja dalam organisasi. Struktur pada pengorganisasian menunjukan adanya pemabgaian kerja dan menunjukan spesialisasi-spesialisai pekerjaan dan menyampaiakn laporan. Dalam proses pengorganisasian yaitu untuk mengetahui proses pengelompokan mengenai yang bertugas melakukan pemungutan retribusi dan juga mengenai laporan terhadap retribusi pasar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang. Maka, penulis melakukan wawancara dengan bapak SB selaku Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang dengan pertanyaan mengenai bagaimana pengorganisasian retribusi pasar yang diterapkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang, serta bagaimana sistem pungutan pembayaran retribusi pasar, dan hal yang dikemukakan informan adalah:

“Jadi kalau sudah ada ketetapan dari Dispenda, dinas tersebut selanjutnya mencetak karcis-karcis sebagai dasar penarikan retribusi, lalu karcis ini didistribusikan ke kolektor-kolektor Disperindag yang ada disetiap pasar sebagai dasar penarikan retribusi, metode penarikan retribusinya itu berbeda kalau karcis kan tiap pasar sedangkan sewa lods, kios, toko dan lainya itu dibayar atau ditagih pertanggal jatuh tempo itumi perbulan yang pakai perjanjian kontrak. Yang kemudian uang tersebut akan disetor ke Disperindag lewat bendahara penerima, nah hasil pungutan retribusi ini di setor secara berkala kadang seminggu kadang juga dua minggu baru disetor, kemudian inikan ada surat setoran retribusi, jadi surat setoran ini yang sudah saya tanda tangani selanjutnya di laporkan ke Dispenda dan uang hasil retribusi langsung di setor ke Bank BPD (Hasil wawancara SB, 13 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka di ketahui bahwa setelah Dispenda menetapkan target retribusi untuk satu tahun kedepanya, maka selanjutnya melakukan pencetakan karcis yang kemudian di distribusikan ke

tarik atau di pungut perbulan bagi yang menggunakan kios atau lodsdan ada juga perhari atau setiap hari pasar bagi pedagang yang menjual di pelataran, hasi pungutan retribusi tersebut di setor secara berkala.

Pendapat tersebut didukung oleh MS selaku Kepala UPT pasar Kabupaten Enrekang yang menyatakan bahwa:

“Kalau adami ketetapan dari Dispenda, langsung dicetakmi itu karcis-karcisnya nanti kalau sudah dicetak itu, dikasimi itu kolektor pasar untuk penarikan retribusi.Jadi itukan retribusi ada yang di pungut perhari seperti di pasar sentral Enrekang itu ditarik retribusi pasar setiap hari senin dan kamis itu yang pelat aran itu dibayar dau ribu perhari yang pakai karcis, hasilnya itu biasa langsung di setor ke bendahara penerima dan kadang juga di setor secara berkala seminggu atau dua minggu kemudian baru di setor kalau merasa perlumi untuk disetor, kemudian bendahara penerima yang setor ke kantor bank BPD sul-sel setelah dibubukan oleh bendahara penerima, dan kalau laporan setoranya itu dilaporkan ke Dispenda kalau sudah di tanda tangani kabid pasar. (Hasil wawancara MS, 17 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka di ketahui bahwa setelah target anggaran retribusi di tetapkan oleh Dispenda maka selanjutnya Dispenda mencetak karcis yang kemudian di serahkan ke Disperindag dan pihak dari Disperindag menyerahkan karcis ke kolektor atau petugas retribusi, dimana retribusi tersebut ada yang di pungut perbulan bagi yang menggunakan kios atau lods dan perhari bagi pedagang di pelataran pasar. Dari hasil pungutan retribusi tersebut di setor ke bendahara penerima yang kemudian bendahara penerima menyetor uang hasil retribusi ke bank BPD setelah membuat laporan dan disetujui oleh kepala bidang pasar.

Lanjut dikatakan hal yang sama oleh HR selaku Kepala Bidang Sub Perencanaan Disperindag kabupaten Enrekang menyatakan bahwa:

yang mau diserahkan ke kolektor-kolektor pasar sebagai bentuk penarikan retribusi pasar. seperti dipasar sentral Enrekang itukan pasarnya setiap hari kamis dan senin biasa itu uang hasil pungutanya lngsung nasetor itu petugas retribusi karna dekatji dari kantor tapi biasa juga seminggu atau dua mingguanpi baru na setor. Kalau untuk laporan setoranya itu dilaporkan ke Dispenda kalau sudah ditanda tangani kabid pasar dan itu uangnya langsung di setor ke bank BPD (Hasil wawancara HR, 14 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka di ketahui bahwa pencetakan karcis retribusi dilakukan setelah target anggaran retribusi di tetapkan oleh Dispenda yang akan di serahkan ke petugas retribusi atau kolektor-kolektor di tiap pasar sebagai alat untuk melakukan pungutan retribusi, dari hasil pungutan tersebut di setor ke bendahara penerima di kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Dimana laporan hasil pungutan retribusi di laporkan ke Dispenda dan uang hasil retribusi di setor langsung ke bank BPD setelah di setujui oleh kabid pasar.

Hal yang sama juga dikatakan oleh AR selaku petugas retribusi atau kolektor pasar menyatakan bahwa:

“Semua pedagang yang menjual di pelataran tetap kena retribusi, kalau yang pelataran seperti ini itu dua ribu meraka bayar sesuai yang sudah ditetapkan pemerintah, kalau seperti kios-kios atau toko itu mereka bayar perbulan. Uangnya biasa saya setor ke bendahara seminggu atau dua minggupi baru saya setor tapi biasa juga langsung saya setor karna kan dekatji kantor dari sini (Hasil wawancara AR, 17 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka di ketahui bahwa semua pedagang yang menjual di dalam area pasar baik itu yang di pelataran dan pengguna kios atau lods wajib membayar retribusi sesuai dengan yang telah di tetapkan pemerintah daerah.

Enrekang menyatakan bahwa:

“Jadi kalau ada keributan disini kami langsung tangani secepatnya, kami langsung selesaikan juga pada saat itu selama masih bisa ditangani, tapi kalau tidak bisa kami selesaikan langsung kita laporkan ke kantor tapi alhamdulillah saat ini pasar aman-aman saja tidak ada juga laporan masuk persoalan keributan atau masalah yang lainya dek, kalau masalah kebersihan itu setiap hari jumat kita membersihkan bekerjasama dengan kantor kebersihan, semua pegawai di kantor perindag datang juga membrsihkan, namanya jumat bersih (Hasil wawancara RL, 17 Agustus 2020)”.

Berdasrkan hasil wawancara di atas maka di ketahui bahwa apabila terjadi keributan di dalam area pasar maka akan ditangani langsung oleh keamanan atau security pasar selama masih bisa di tangani, akan tetapi apabila keamanan pasar tidak mampu menyelesaikan keributan tersebut maka dilaporkan langsung ke kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Dan setiap hari jumat melakukan kerja bakti di area pasar yang dilakukan oleh semua pegawai dari kantor Disperindag petugas retribusi dan juga petugas keamanan pasar.

Menurut IB selaku pedagang di pasar sentral Kabupaten Enrekang menyatakan bahwa:

“iye membayar, semua yang berjualan disini itu dikenakan biaya retribusi kalau kios-kios seperti tempatku ini dibayar perbulan, ada perjanjian kontraknya, ada SK di tandatangani. Jadi setiap bulan itu membayar kalau yang seperti penjual-penjual sayur itu setahuku bayar karcis Rp. 2.000 itu yang pelataran-pelataran semua itu membayar karcis setiap pasar (Hasil wawancara IB, 13 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka diketahui bahwa semua pengguna atau pedagang yang berjualan di area pasar di kenakan tarif retribusi. Bagi pengguna kios di kenakan retribusi perbulan sesuai dengan

retribusi sebesar Rp. 2.000 dan itu berlaku setiap hari pasar.

Menurut IM selaku pedagang di pasar sentral Kabupaten Enrekang menyatakan bahwa:

“ada dan pasti membayar itu karcis-karcis yang Rp. 2000, kalau saya iya tidak pernah di mintaki lebih, karna itu kan sudah ada tertera di karcis disitu tertulis Rp.2000 jadi yah bayar segitu juga, nggak pernah saya bayar atau dimintaki lebih dari itu. Kalau pedagang yang lain saya nggak tau (Hasil wawancara IM, 13 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan narasumber maka diketahui bahwa tarif retribusi yang dibayarkan pedagang yaitu Rp 2.000 setiap hari pasar sesuai dengan yang tertera di karcis.

Menurut AN selaku pedagang di pasar sentral Kabupaten Enrekang menyatakan bahwa:

“iye membayar dek karna ada karcis nakasiki di bayar Rp.2000, setiap hari pasar kalau saya datang menjual pasti ada terus itu petugas karcis, nakasiki itu karcis baru di bayarmi, tidak enakki juga kalau tidak di bayarki karna ada tawwa karcisnya masa menjualki saja disini baru tidak bayarki, tidak pernahja saya dengar teman-teman penjual disini dimintaki lebih tetap sama dibayar (Hasil wawancara AN, 17 Agustus 2020). Berdasarkan hasil wawancara dengan peneliti maka diketahui bahwa setiap hari pasar petugas karcis selalu di pasar menjalankan tugasnya dalam memungut karcis retribusi pada setiap pedagang di pasar. Diketahui juga dari pedagang bahwa tidak ada pemungutan lebih yang dilakukan oleh petugas karcis retribusi di pasar

Hasil wawancara dengan beberapa informan di atas menunjukan bahwa setelah Dispenda menetapkan besaran anggaran, maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah mencetak karcis dimana karcis tersebut adalah dasar

penarikan retribusi ini ada yang di pungut perhari (perpasar) dan tiap bulan atau jatuh tempo bagi yang menggunakan SK (perjanjian kontrak) tergantung sesuai yang tertera di SK sesuai luas kios atau lods dan tidak ada penarikan atau pemungutan lebih dari petugas retribusi pasar. Hasil penarikan retribusi di setor ke bendahara penerima, kemudian dibuatkan laporan atau surat setoran yang selanjutnya dilaporkan ke Dispenda setelah di setujui oleh Kepala Bidang Pasar, dan uang hasil penarikan retribusi itu disetor langsung ke Bank BPD.

3. Kepemimpinan (leading)

Kepemimpinan berarti mengarahkan, mengontrol para bawahan agar lebih bertanggung jawab dan semua bagian pekerjaan terkoordinasi demi mencapai tujuan suatu organisasi atau perusahaan. Seorang pemimpin harus seorang yang menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahanya. Secara sederhana pemimpin yang baik adalah seseorang yang membantu mengembangkan orang lain. Dalam tahap kepemimpinan untuk mengetahui bagaimana seseorang pemimpin mengatasi masalah ketika terjadi kendala dalam pengelolaan retribusi pasar. Maka penulis melakukan wawancara dengan bapak SB selaku Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang dan hal yang dikemukakan informan adalah:

“Jadi begini, hal yang paling terpenting di dalam organisasi pemerintah tentu hal displin bertanggung jawab atas pekerjaan apa yang sudah di tugaskan ke mereka mulai dari orang kantor sendiri sampai kepada petugas kita dipasar itukan ada SK-nya semua di dalam SK itu ada

di pasar kalau itu terbukti itu kita akan pecat misalnya ada juga petugas retribusi, kita akan pecat kalau dia menyelewengkan anggaran artinya ada teguran artinya berleter,pertama kita tegur dulu kalau ndk mempan yah sampai pemecatan itu, Istilahnya kita selalu ada pembinaan makanya kita selalu ada monitoring evaluasi pengawasaan pengendalian pasar itu sangat luas cakupannya termasuk mi sarana prasarananya termasuk personilnya nah kalau misalnya ada personilnya yang melakukan pelanggaran kaidah kaidah yang ada kita tegur, tegur berapa kali kalau tidak perubahan yah hukuman terberat yah di pecat diberentikan dari tugasnya (Hasil wawancara SB, 13 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara maka diketahui bahwa pemimpin pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang senatiasa melakukan pembinaan terhadap bawahannya dan juga seringkali mengadakan monitoring evaluasi pengawasan yang salah satu cakupannya yaitu sarana prasarana juga termasuk personilnya jika ada salah satu petugas yang melakukan pelanggaran maka akan diberikan saksi teguran tetapi jika tidak ada perubahan maka petugas akan diberikan hukuman terberat yaitu diberhetikan dari tugasnya.

Adapun pernyataan lain dari MS selaku Kepala UPT pasar Kabupaten Enrekang bahwa:

“tentunya kita memegang yang namanya kepercayaan dan tegas kepada semua anggota yang bertugas dipasar, kita tidak ingin terjadi kesalahan yang fatal dilapangan karna yang namanya pemimpin kalau tidak tegas kepada anggotanya maka anggotanya juga akan bersikap acuh tak acuh dan sesekali kita melakukan pengawasan (Hasil wawancara MS, 18 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara maka peneliti mengetahui bahwa agar tidak terjadi kesalahan yang fatal dalam pemungutan retribusi pasar maka kepala UPT pasar Kabupaten Enrekang selalu bersikap tegas terhadap bawahannya hal itu dilakukan agar anggota tidak bersikap acuh kepada atasannya.

Enrekang menyatakan bahwa:

“jelas kita ini diberikan kepercayaan orang di kantor, jadi kita harus jaga kepercayaan itu karena yang namanya kepercayaan itu susah di dapatkan dek, jadi seperti saya yang bertugas sebagai keamanan pasar harus memprhatikan bagaimana kemanan di dalam pasar, jangan sampai ada kericuhan atau terjadi hal yang tidak kita inginkan jadi seperti sekarang ini kan hari pasar jadi setiap hari pasar sebagai petugas kemanan pasar harus selalu stay di pasar sampai pasar tutup karena kalau ada apa-apa yang terjadi pasti kemanan pasar juga di soroti dari kantor kalau tidak ada yang tagani, dan itu sudah menjadi tanggungjawab saya atau petugas kemanan yang lain (Hasil wawancara RL, 18 Agustus 2020)”.

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka di ketahui bahwa kepercayaan itu sangat penting bagi petugas keamanan pasar di dalam menjalankan tugas dan fungsinya, sebagai petugas keamanan pasar harus selalu stay di dalam pasar setiap hari pasar sampai tutup, karena apabila terjadi sesuatu di area pasar seperti kericuhan maka yang harus bertindak adalah petugas keamanan tersebut menangani sesuai denga tugas dan fungsinya.

Hasil wawancara dengan beberapa informan di atas menunjukan bahwa di butuhkan sikap disiplin dan bertanggungjawab atas apa yang telah di tugaskan baik itu untuk pegawai di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan maupun semua petugas di pasar. Ketegasan dan kepercayaan seorang pemimpin sangatlah di perlukan dalam pengelolaan retribusi pasar, dimana apabila seorang pemimpin tidak tegas terhadap anggota atau bawahanya, maka anggotanya juga akan acauh tak acuh dalam melaksanakan tugasnya, untuk pengelolaan yang maskimal maka pemimpin atau pimpinan dari Dinas

Dokumen terkait