FRAUD Oppurtunity
C. Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian dengan bahasan kecurangan laporan keuangan (financial statement fraud)sebelumnya beberapa kali telah dilakukan. Berikut ini adalah beberapa contoh penelitian yang berkaitan dengan fraud (kecurangan).
Penelitian yang dilakukan Spathis (2002) menggunakan data yang telah terpublikasi untuk mengembangkan model yang dapat mendeteksi faktor yang terkait dengan false financial statements (FFS). False financial statement di Yunani dapat diidentifikasi berdasarkan pada kuantitas dan konten
42
dari kualifikasi dalam laporan yang diajukan oleh auditor. Sampel yang digunakan berjumlah perusahaan terdiri dari 38 perusahaan dengan FFS
dan 38 perusahaan non-FFS. Spathis (2002) memilih sepuluh variabel keuangan yang berpotensi dapat digunakan untuk memprediksi FFS. Penelitian ini menggunakan statistik univariate dan multivariate seperti regresi logistik untuk mengembangkan model yang dapat mengidentifikasi faktor yang terkait dengan FFS. Model ini terbukti akurat dalam mengklasifikasikan total sampel dengan tingkat akurasi melebihi 84 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model berfungsi efektif dalam mendeteksi FFS dan dapat membantu auditor internal dan eksternal, dirjen pajak dan sistem perbankan suatu negara.
Intal and Do (2002) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasikan alasan mengapa auditor tidak dapat mendeteksi financial statements fraud. Metode penelitian dilakukan dengan menganalisis kasus kecurangan laporan keuangan khususnya pada masalah pengakuan pendapatan. Dari segi teknikal dapat disimpulkan alasan mengapa auditor tidak dapat mendeteksi financial statement fraud adalah karena tidak dapat menyediakan bukti audit yang layak dan kuat, lemahnya model risiko audit dan penilaian risiko internal control, dan kegagalan audit dalam pengakuan pendapatan dan pengungkapan transaksi dengan pihak ketiga. Dari segi etika, faktor yang berkaitan dengan gagalnya auditor mendeteksi financial statement fraud adalah mengenai independensi audit dan jumlah jasa non-audit yang diberikan oleh auditor.
43 Turner et al., (2003) menguji dampak dari fraud triangle terhadap proses audit. Turner et al., mengembangkan jaringan bukti yang memiliki dua sub-jaringan. Pertama, untuk menangkap resiko dan bukti hubungan untuk audit laporan keuangan konvensional. Kedua, untuk menangkap hubungan resiko dan bukti untuk penilaian resiko kecurangan. Jaringan ini menggunakan pendekatan belief functions untuk mengekspresikan ketidakpastian yang terlibat dalam bukti audit laporan keuangan. Hasil analisis pada penelitian ini mendukung konsep fraud triangle bahwa dalam tiga komponen dan hubungan antar komponen terbukti memilki dampak yang besar pada resiko audit.
Nguyen (2008) melakukan penelitian bertujuan untuk fokus pada sifat kecurangan laporan keuangan dan skema kecurangan terhadap laporan keuangan. Dua kasus kecurangan pada laporan keuangan dianalisis dari Enron dan WorldCom. Penelitian ini membahas teknik-teknik umum yang digunakan untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan.
Di Indonesia, Koroy (2008) berusaha untuk mengidentifikasi dan menguraikan permasalahan dalam pendeteksian kecurangan dalam audit atas laporan keuangan oleh auditor eksternal. Menurutnya, meskipun pendeteksian kecurangan penting untuk meningkatkan nilai pengauditan, namun terdapat banyak masalah yang dapat menghalangi implementasi dari pendeteksian yang tepat. Metode yang digunakan adalah dengan analisis faktor-faktor yang menjadi hambatan auditor dalam menjalankan tugasnya mendeteksi kecurangan. Berdasarkan telaah atas berbagai penelitian yang telah dilakukan, terdapat empat faktor penyebab besar yang diidentifikasikan melalui
44 penelitian tersebut. Pertama, karakteristik terjadinya kecurangan sehingga menyulitkan proses pendeteksian. Kedua, standar pengauditan belum cukup memadai untuk menunjang pendeteksian yang sepantasnya. Ketiga, lingkungan kerja audit dapat mengurangi kualitas audit. Keempat, metode dan prosedur audit yang ada tidak cukup efektif untuk melakukan pendeteksian kecurangan.
Skousen et al., (2009) melakukan penelitian secara empiris yang mengkaji efektivitas teori Cressey (1953) mengenai kerangka faktor resiko kecurangan yang diterapkan dalam SAS No. 99 untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Menurut teori Cressey, pressure, opportunity dan rationalization selalu hadir dalam situasi fraud. Skousen et al mengembangkan variabel yang berfungsi sebagai ukuran proksi untuk tekanan/motif, kesempatan, dan rasionalisasi dan menguji variabel-variabel ini menggunakan informasi umum yang tersedia.
Lou dan Wang (2009) melakukan penelitian untuk menguji faktor resiko dari fraud triangle. Hasilnya mengindikasikan bahwa kecurangan pelaporan berhubungan dengan salah satu kondisi berikut: tekanan keuangan dari suatu perusahaan atau supervisor perusahaan, persentase yang lebih tinggi dari transaksi yang kompleks suatu perusahaan, lebih dipertanyakannya integritas manajer sebuah perusahaan, atau penurunan hubungan antara perusahaan dengan auditornya. Sebuah model logistik sederhana berdasarkan contoh faktor risiko kecurangan ISA 240 dan SAS 99 mengukur kemungkinan kecurangan pelaporan keuangan dan dapat menguntungkan praktisi.
45 Gagola (2011) melakukan penelitian secara empiris yang mengkaji efektivitas teori Cressey (1953) mengenai kerangka faktor resiko kecurangan yang diterapkan dalam SAS No. 99 dan PSA No. 70 untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Gagola mengembangkan variabel yang berfungsi sebagai ukuran proksi untuk tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi dan menguji variabel-variabel ini menggunakan informasi umum yang tersedia.
Molida (2011) melakukan penelitian yang bertujuan untuk memperoleh bukti empiris tentang efektivitas dari fraud triangle dalam mendeteksi financial statement fraud. Variabel-variabel dari fraud triangle yang digunakan adalah financial stability yang diproksi dengan ACHANGE, personal financial need yang diproksi dengan OSHIP, dan ineffective monitoring yang diproksi dengan AUDCSIZE. Pendeteksian financial statement fraud pada penelitian ini menggunakan manajemen laba dengan proksi discretionary accruals sebagai variabel dependen.
Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008 dan 2009. Total sampel penelitian ini adalah 40 perusahaan manufaktur dengan dua tahun pengamatan. Analisis data dilakukan dengan uji asumsi klasik dan pengujian hipotesis dengan metode regresi linear.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa financial stability denga proksi ACHANGE dan personal financial need dengan proksi OSHIP berpengaruh signifikan terhadap financial statement fraud. Sementara itu,
46 ineffective monitoring dengan proksi AUDCSIZE tidak berpengaruh secara signifikan terhadap financial statement fraud.
Ratmono et al., (2014) melakukan penelitian yang betujuan untuk menguji kemampuan teori fraud triangle dalam menjelaskan fenomena kecurangan laporan keuangan. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menguji faktor-faktor yang mempengaruhi kecurangan laporan keuangan. Berdasarkan teori fraud triangle, terdapat tiga variabel yang dihipotesiskan mempengaruhi kecurangan laporan keuangan yaitu tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Penelitian ini menggunakan data 27 perusahaan yang melakukan kecurangan laporan keuangan dan 27 perusahaan lain sebagai sampel padanan. Data yang didapat dianalisisi dengan regresi logistik, yang menunjukan hasil bahwa terdapat hubungan positif antara tekanan dan rasioanalisasi dengan kecurangan laporan keuangan.
Tabel 2.2
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No. Penelitian Hasil Penelitian
1. Spathis (2002) Membuktikan bahwa model penelitian terbukti akurat dalam mengklasifikasikan total sampel dengan tingkat akurasi melebihi 84 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model berfungsi efektif.
2. Intal dan Do (2002) Alasan mengapa auditor tidak dapat mendeteksi financial statement fraud adalah:Segi technical, tidak dapatmenyediakan bukti audityang layak dan kuat, lemahnya model risiko audit dan penilaian risiko internal control, dan kegagalan audit dalam pengakuan pendapatan dan pengungkapan transaksi dengan pihak ketiga. Segi etika, mengenai independensi audit dan jumlah jasa
47 No. Penelitian Hasil Penelitian
3. Turner et al., (2003) Mengembangkan jaringan bukti yang memiliki dua sub-jaringan. Pertama, untuk menangkap resiko dan bukti hubungan untuk audit laporan keuangan konvensional. Kedua, untuk menangkap hubungan resiko dan bukti untuk penilaian resiko kecurangan.
4. Nguyen (2008) Melakukan penelitian bertujuan untuk fokus pada sifat kecurangan laporan keuangan dan skema kecurangan terhadap laporan keuangan. Dua kasus kecurangan pada laporan keuangan dianalisis dari Enron dan WorldCom. Penelitian ini membahas teknik-teknik umum yang digunakan untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan.
5. Koroy (2008) Terdapat empat faktor penyebab hambatan: 1. Karakteristik terjadinya kecurangan sehingga menyulitkan proses pendeteksian.
2. Standar pengauditan belum cukup memadai untuk menunjang pendeteksian yang
sepantasnya.
3. Lingkungan kerja audit dapat mengurangi kualitas audit.
4. Metode dan prosedur audit yang ada tidak cukup efektif untuk melakukan
pendeteksian kecurangan.
Berdasarkan permasalahan ini, perbaikan yang perlu disarankan untuk diterapkan.
6. Skousen et al., (2009)
Melakukan penelitian secara empiris yang mengkaji efektivitas teori Cressey (1953) mengenai kerangka faktor resiko kecurangan yang diterapkan dalam SAS No. 99 untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Menurut teori Cressey, pressure, opportunity dan rationalization selalu hadir dalam situasi fraud. Skousen et al mengembangkan variabel yang berfungsi sebagai ukuran proksi untuk tekanan/motif, kesempatan, dan rasionalisasi dan menguji variabel-variabel ini menggunakan informasi umum yang tersedia.
48 No. Penelitian Hasil Penelitian
7. Lou dan Wang (2009)
Menguji faktor resiko dari fraud triangle. Hasilnya mengindikasikan bahwa kecurangan pelaporan berhubungan dengan salah satu kondisi berikut: tekanan keuangan dari suatu perusahaan atau supervisor perusahaan, persentase yang lebih tinggi dari transaksi yang kompleks suatu perusahaan, lebih dipertanyakannya integritas manajer sebuah perusahaan, atau penurunan hubungan antara perusahaan dengan auditornya. Sebuah model logistik sederhana berdasarkan contoh faktor risiko kecurangan ISA 240 dan SAS 99 mengukur kemungkinan kecurangan pelaporan keuangan dan dapat menguntungkan praktisi.
8. Gagola (2011) Melakukan penelitian secara empiris yang mengkaji efektivitas teori Cressey (1953) mengenai kerangka faktor resiko kecurangan yang diterapkan dalam SAS No. 99 dan PSA No. 70 untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Gagola mengembangkan variabel yang berfungsi sebagai ukuran proksi untuk tekanan/motif, kesempatan, dan rasionalisasi.
9 Molida (2011) Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa financial stability dengan proksi ACHANGE dan personal financial need dengan proksi OSHIP berpengaruh signifikan terhadap financial statement fraud. Sementara itu, ineffective monitoring dengan proksi AUDCSIZE tidak berpengaruh secara signifikan terhadap financial statement fraud.
10 Ratmono et al. (2014)
Melakukan penelitian yang betujuan untuk menguji kemampuan teori fraud triangle dalam menjelaskan fenomena kecurangan laporan keuangan, dengan menggunakan 27 sampel perusahaan yang melakukan kecurangan laporan keuangan dan 27 sampel perusahaan lain sebagai padanan. Data diuji dengan menggunakan regresi logisitik, dengan hasil bahwa terdapat hubungan positif antara tekanan dan rasioanalisasi dengan kecurangan laporan keuangan. Rasioanalisasi tidak didukung sebagai determinan kecurangan laporan keuangan. Hasil penelitian ini memberikan dukungan parsial untuk teori fraud triangle dalam menjelaskan fenomena kecurangan laporan keuangan.
49 D. Kerangka Pemikiran
Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam gambar 2.2 sebagai berikut.
Gambar. 2.2
Skema Kerangka Pemikiran
PRESSURE
OPPORTUNITY
RATIONALIZATION
Cukup banyaknya kasus-kasus manipulasi laporan keuangan pada perusahaan-perusahaan besar dan adanya kasus kebangkrutan yang disebabkan oleh kegagalan
audit
Basis Teori: Teori Agensi,Teori Fraud Triangle
Financial Stability
Financial Target Kerugian perusahaan (LOSS)
Arus kas operasi (CFO) Persentase perubahan total aset
(ACHANGE)
Nature of Industry Persentase perubahan piutang
pada penjulan (RECEIV) Return on total assets (ROA)
Rationalization Opini audit (AUDREP)
Financial Statement Fraud (DAC)
50 Lanjutan...
Hasil Pengujian dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
51 BAB III