FRAUD Oppurtunity
METODE PENELITIAN
E. Operasionalisasi Variabel Penelitian
Operasionalisasi variabel penelitian adalah penentuan construct sehingga menjadi variabel yang dapat diukur. Definisi operasionalisasi menjelaskan cara tertentu yang digunakan dalam suatu penelitian dalam mengoperasionalisasikan construct, sehingga memungkinkan penelitian lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran construct yang lebih baik. Pada bagian ini akan diuraikan definisi dari masing-masing variabel yang digunakan berikut dengan operasional dan cara pengukurannya.
60
1. Financial Statement Fraud (Y)
Financial statement fraud sering kali diawali dengan salah saji atau manajemen laba dari laporan keuangan kuartal yang dianggap tidak material tetapi akhirnya tumbuh menjadi fraud secara besar-besaran dan menghasilkan laporan keuangan tahunan yang menyesatkan secara material (Rezaee,2002). Oleh sebab itu, earnings management digunakan sebagai proksi Financial statement fraud dalam penelitian ini. Jika pada suatu kondisi di mana pihak manajemen ternyata tidak berhasil mencapai target laba yang ditentukan, manajemen termotivasi untuk memperlihatkan kinerja yang baik dalam menghasilkan nilai atau keuntungan maksimal bagi perusahaan (Halim et al., 2005). Dasar akrual dalam laporan keuangan memberikan kesempatan kepada manajer untuk memodifikasi laporan keuangan untuk menghasilkan jumlah laba yang diinginkan (Halim et al., 2005). Jumlah akrual yang tercermin dalam penghitungan laba terdiri dari discretionary accruals dan nondiscretionary accruals. Nondiscretionary accruals merupakan komponen akrual yang terjadi seiring dengan perubahan dari aktivitas perusahaan. Discretionary accruals merupakan komponen akrual yang berasal dari earnings management yang dilakukan manajer.
Selanjutnya manajemen laba diproksikan lagi menggunakan discretionary accruals yang dihitung dengan cara menyelisihkan total accruals (TACC) dan nondiscretionary accruals (NDACC). Dalam menghitung DACC, digunakan model yang disusun oleh Kothari et al.
61 (2005), model ini terbukti menghasilkan nilai adjusted R2yang lebih besar daripada model Jones, modified Jones, dan Kasznik (Fanny, 2007; Permatasari, 2011 dalam Junius dan Fitriany, 2012).
����� �� ��− = � + ��[�1 ��− ] + � �[∆������− ∆ ���� ��− ] + � �[� ��� ��− ] + � � ��,�− + ɛ�� Keterangan :
TACC = Total akrual perusahaan, dihitung dari laba bersih sebelum pos luar biasa dikurangi dengan arus kas operasi (CFO)
A = Total aset perusahaan
ΔREV =Perubahan pendapatan, dihitung dari pendapatan bersih pada tahun t dikurangi dengan pendapatan pada tahun t-1 ΔAR = Perubahan account receivable (AR), dihitung dari AR pada
tahun t dikurangi AR pada tahun t-1
PPE = Nilai Plant, Property, dan Equipment (PPE) bruto untuk perusahaan i
ROA = Lababersih perusahaan dibagi dengan total aset
62
2. Financial Stability
a. Persentase perubahan total aset (ACHANGE)
Financial stability merupakan keadaan yang menggambarkan kondisi
keuangan perusahaan dalam kondisi stabil. Penilaian mengenai kestabilan kondisi keuangan perusahaan dapat dilihat dari
bagaimana keadaan asetnya. FASB (1980) dalam Ghozali dan Chariri (2007) mendefinisikan aset sebagai manfaat ekonomi
yang mungkin terjadi di masa mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa masa lalu. Total aset menggambarkan kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang meliputi aset lancar dan aset tidak lancar.
Persentasi perubahan total aset (ACHANGE) merupakan rasio perubahan aset selama dua tahun. ACHANGE dihitung dengan rumus:
ACHANGE = �� �� � � – �� �� � � −� �� �� � �
b. Arus kas operasi (OCF)
Skousen et al. (2009) menyatakan bahwa ketidakmampuan untuk menghasilkan arus kas positif dalam pertumbuhan laba yang dilaporkan akan berkaitan dengan stabilitas keuangan. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Lou dan Wang (2009) bahwa ada hubungan positif yang terjadi antara arus kas operasi negatif dengan
63 kecurangan laporan keuangan. Arus kas negatif akan berdampak pada penilaian investor karena arus kas dapat digunakan untuk meramalkan kinerja perusaahaan di masa depan. Arus kas biasanya juga sebagai pembanding kinerja antar perusahaan. Jika perusahaan mengalami arus kas operasi negatif maka perusahaan tersebut sedang dalam keadaan yang tidak stabil dan menimbulkan suatu tekanan bagi manajemen.
Nilai arus kas operasi diukur berdasarkan nilai operating cah flow laporan arus kas akhir tahun berjalan di bagi dengan total aset akhir tahun berjalan (Pradhana dan Rudiawarni, 2013).
c. Perusahaan yang melaporkan kerugian (LOSS)
Hayn dalam Lou dan Wang (2009) menunjukkan tingkat cross-sectional pengembalian laba (atau harga) perusahaan yang dilaporkan mengalami kerugian jauh lebih lemah dibandingkan dengan perusahaan yang melaporkan keuntungan. Adanya kerugan dari aktivitas utama perusahaan menandakan bahwa perusahaan tidak mampu memaksimalkan penjualannya sehingga para investor tidak akan menerima dividen pada tahun tersebut. Varibel LOSS yaitu perusahaan yang melaporkan adanya kerugian diukur dengan menggunakan variabel dummy dimana kategori 1 untuk perusahaan yang melaporkan adanya kerugian, dan kategori 0 untuk perusahaan yang melaporkan keuntungan.
64
3. Financial Targets: Return On total Assets (ROA)
Dalam menjalankan aktivitasnya, perusahaan seringkali mematok besaran tingkat laba yang harus diperoleh atas usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkan laba tersebut, kondisi inilah yang dinamakan financial targets. Salah satu pengukuran untuk menilai tingkat laba yang diperoleh perusahaan atas usaha yang dikeluarkan adalah ROA. Perbandingan laba tehadap jumlah aktiva (ROA) adalah ukuran kinerja operasional yang banyak digunakan untuk menunjukkan seberapa efisien aktiva telah bekerja (Skousen et al., 2009). ROA sering digunakan dalam menilai kinerja manajer dan dalam menentukan bonus, kenaikan upah, dan lainlain. Oleh karena itu, ROA dijadikan sebagai proksi untuk variabel financial targets dalam penelitian ini.
Pengertian Return On total Asset (ROA) menurut Hanafi dan Halim (2003) adalah:
“Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total aset (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai aset tersebut”. Return On total Asset (ROA) merupakan bagian dari rasio profitabilitas dalam analisis laporan keuangan atau pengukuran kinerja perusahaan. ROA dihitung dengan rumus sebagai berikut:
ROA = � � � �
65 4. Personal Financial Need: Persentase Kepemilikan Saham Oleh
Orang Dalam (OSHIP)
Personal financial need merupakan suatu kondisi dimana keuangan perusahaan turut dipengaruhi oleh kondisi keuangan para eksekutif perusahaan (Skousen et al., 2009). Sebagian saham yang dimiliki oleh eksekutif perusahaan akan mempengaruhi kebijakan manajemen dalam mengungkapkan kinerja keuangan perusahaan. Struktur kepemilikan saham perusahaan dapat mempengaruhi tingkat terjadinya fraud.
Personal financial need diproksi dengan OSHIP. Proksi OSHIP merupakan persentase komulatif dari kepemilikan pada perusahaan yang dimiliki oleh orang dalam. Saham yang dimiliki oleh manajemen dibagi dengan saham biasa yang beredar.
OSHIP = The cumulative percentage of ownership in the firm held by insiders. Shares owned by management divided by the common shares outstanding.
5. Nature of Industry: Persentase Perubahan Piutang Pada Penjualan (RECEIV)
Summers dan Sweeney (1998) mencatat bahwa akun piutang memerlukan penilaian subjektif dalam memperkirakan tidak tertagihnya piutang. Mereka menyarankan bahwa karena adanya penilaian subjektif dalam menentukan nilai dari akun tersebut, manajemen dapat menggunakan akun tersebut sebagai alat untuk memanipulasi laporan keuangan. Argumen ini didukung oleh Loebbecke et al. (1998), yang menemukan bahwa akun
66 piutang terlibat dalam sejumlah besar fraud dalam sampel mereka. Summers dan Sweeney (1998), menggunakan proksi nature of industry yang berkaitan dengan piutang adalah rasio perubahan dalam piutang usaha.
Dalam Skousen (2009) Persentase Perubahan Piutang Pada Penjualan (RECEIV) dapat diukur dengan rumus:
RECEIV = �� / − �� −�/ −�)
6. Rationalization: Opini Audit (AUDREP)
Opini audit wajar tanpa pengecualian diberikan oleh auditor kepada perusahaan yang menyajikan laporan keuangannya secara wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum di indonesia. Opini audit wajar tanpa pengecualian mengindikasikan bahwa tidak terdapat kesalahan yang material dalam laporan keuangan yang disusun perusahaan (Mulyadi, 2010).
Hasil penelitian Effendi (2008) menunjukkan bahwa opini auditor wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) berpengaruh negatif terhadap kecurangan laporan keuangan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Soselisa dan Mukhlasin (2008), tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Skousen et al. (2009). AUDREP ini diukur dengan menggunakan variable dummy di mana kategori 1 untuk perusahaan yang mendapat opini audit Unqualified Opinion dan kategori 0 untuk perusahaan yang mendapat opini audit Unqualified Opinion with explanatory language.
67 Variabel dan skala pengukuran terdapat dalam penelitian disajikan secara ringkas dalam Tabel 3.1 dibawah ini:
Tabel 3.1
Operasional Variabel dan Pengukuran
No Variabel Definisi Operasional Pengukuran Skala Pengukuran 1 Financial Statement Fraud (Discretionary Accruals)
(Herusetya et al., 2012) Dependen
����� �� ��− = � + ��[�1 ��− ] + ��[∆������− ∆ ���� ��− ] + ��[� ��� ��− ] + � � ��,�− + ɛ�� Rasio 2 Pengaruh Persentase
Perubahan Total Aset (ACHANGE)
(Skousen et al. 2009; Ratmono et al. 2014)
Independen Total A��t t – Total A��t t−
Total A��t t
Rasio
3 Arus Kas Operasi (OCF)
(Pradhana dan Rudiawarni, 2013)
Independen
Arus kas operasi / total aset Rasio
4 Perusahaan Yang
Melaporkan Kerugian (LOSS)
(Herusetya et al., 2012)
Independen
Variabel dummy, diberi
angka 1 untuk perusahaan yang mengalami kerugian dan diberi angka 0 jika lainnya
Nominal
5 Return On total Assets
(ROA)
(Skousen et al. 2009; Ratmono et al. 2014)
Independen Net Income before
extraordinary item / Total Assets t
Rasio
6 Persentase Kepemilikan
Saham Oleh Orang Dalam (OSHIP)
(Skousen et al. 2009); Ratmono et al. 2014).
Independen Persentase saham yang
dimiliki oleh manajemen.
Rasio
7 Persentase Perubahan
Piutang Pada Penjualan (RECEIV)
(Skousen et al. 2009); Ratmono et al. 2014).
Independen R�c���abl�t/Sal��t−
R�c���abl�t− /Sal��t− )
Rasio
8 Opini Audit
(Skousen et al. 2009);
Ratmono et al. 2014). Independen
variable dumm,y di mana
angka 1 untuk perusahaan yang mendapat opini audit
Unqualified Opinion dan
angka 0 lainnya
Nominal
68 BAB IV