• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Hasil Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menganalisis kelayakan usaha budidaya perikanan seperti lobster air tawar, udang dan budidaya ikan konsumsi maupun ikan hias. Salah satunya adalah Perdana (2007) yang meneliti tentang “Analisis Kelayakan Usaha secara Partisifasif pada Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Gurame (Studi Kasus Kelompok Tani Tirta Maju, Desa Situgede)”. Analisis kelayakan usaha yang dilakukan menunjukkan bahwa usaha keseragaman budidaya pembesaran ikan gurame pada Kelompok Tani Tirta Maju layak untuk diimplementasikan dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen maupun finansial. Analisis pendapatan usahatani menunjukkan nilai keuntungan sebesar Rp 16.238.500,00 dan R/C sebesar 1,29, sedangkan dalam analisis penilaian investasi usaha diperoleh nilai NPV, PI, IRR dan PBP masing-masing sebesar Rp 10.433.512,00 : 1,67 ; 28,9 persen ; dan 2,9 periode. Namun demikian, usaha ini masih termasuk kurang profitable dan menarik bagi bank atau investor untuk menanamkan modalnya. Hal ini dikarenakan keuntungan per bulan usaha ini selama 5 periode berjalan hanya sebesar Rp 260.838,00. Selain itu, pendapatan per bulan setiap anggota yang terlibat berdasarkan nilai keuntungan satu periode hanya sebesar Rp 225.535,00 dan lebih rendah dari kebutuhan rumah tangga yang mencapai Rp 450.000,00 per bulan.

Hasil perhitungan dari analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kelayakan usaha Tirta Maju cukup peka terhadap perubahan yang terjadi pada faktor harga jual ikan gurame dan volume produksi. Sementara itu, perubahan pada faktor harga pakan buatan (pelet) tidak terlalu berpengaruh terhadap kelayakan usaha ini. Pada kenaikan harga pelet mencapai 61 persen dapat menyebabkan usaha ini menjadi tidak layak.

Afni (2008) yang melakukan penelitian dengan judul ”Analisis Kelayakan Pengusahaan Lobster Air Tawar (Kasus K’BLAT’S Farm, Kecamatan Gunung Guruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat)”. Penelitian ini menggunakan 3 skenario yaitu, sekenario I pada usaha pembenihan lobster air tawar arus penerimaan diperoleh dari hasil

penjualan benih lobster air tawar dan nilai sisa biaya investasi berupa tanah dan bangunan. Tiap induk betina dapat menghasilkan 200 ekor telur dengan tingkat kematian (SR) telur menjadi benih lobster berumur 2 bulan adalah 15 persen. Jadi, pada tiap produksi didapatkan 10.000 butir telur dengan jumlah benih hidup sebanyak 8.500 ekor.

Hasil analisis kriteria investasi terhadap usaha pembenihan lobster diperoleh NPV sebesar Rp 73.792.135,00. Net B/C sebesar 3,47 dan IRR sebesar 33 persen. Menyatakan bahwa usaha pembenihan lobster air tawar layak untuk diusahakan. Pola usaha pembenihan lobster air tawar memiliki periode pengembalian biaya investasi selama 4,04 tahun. Hasil analisis sensitivitas pada usaha pembenihan lobster air tawar, apabila terjadi penurunan produksi, kenaikan harga pakan, dan penurunan harga jual yang masing-masing adalah 23,8 persen, 774,95 persen, dan 23,8 persen. Besarnya penurunan produksi dan harga jual sebesar 23,8 persen menunjukkan bahwa usaha pembenihan lobster air tawar ini masih layak apabila penurunan yang terjadi terhadap produksi dan harga jual tidak lebih besar dari 23,8 persen. Sementara itu, besarnya kenaikan harga pakan yang masih dapat mendatangkan keuntungan bagi usaha pembenihan lobster air tawar adalah 774,95 persen. Hal ini berarti bahwa kenaikan harga pakan memiliki pengaruh yang kecil terhadap kelangsungan usaha.

Pada usaha pembesaran lobster air tawar dengan menggunakan skenario II, arus penerimaan yang diperoleh dari hasil penjualan lobster ukuran konsumsi dan diperoleh dari hasil nilai sisa biaya investasi proyek berupa lahan serta bangunan. Jumlah benih yang ditebar adalah 3.545 ekor dengan tingkat kematian benih (SR) adalah 25 persen, sehingga jumlah lobster yang dapat di panen hanya 75 persen dari total benih yang ditebar. Hasil analisis kriteria investasi terhadap usaha pembesaran lobster air tawar diperoleh NPV sebesar Rp 112.563.989,00. Net B/C sebesar 4,22 dan IRR sebesar 41 persen. Hal ini menyatakan bahwa usaha pembesaran lobster air tawar layak untuk diusahakan. Pola usaha pembesaran lobster air tawar memiliki periode pengembalian biaya investasi selama 3,40 tahun.

Hasil analisis sensitivitas pada usaha pembesaran lobster air tawar menunjukkan bahwa perubahan terhadap penurunan produksi, kenaikan harga pakan dan harga jual masih layak apabila besarnya penurunan produksi dan harga jual tidak melebihi 23,11 persen. Jika penurunan yang terjadi lebih besar dari 23,11 persen, maka usaha pembesaran lobster air tawar ini menjadi tidak layak. Sementara itu, kenaikan harga pakan tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap kelayakan usaha. Hal ini dapat dilihat dari besarnya perubahan kenaikan harga pakan yang mencapai 571,77 persen, sehingga

dapat dilihat bahwa usaha pembesaran lobster air tawar sangat sensitif terhadap perubahan produksi dan harga jual karena dapat mengubah tingkat kelayakan usahanya.

Pada pola usaha III yaitu usaha pembenihan dan pembesaran lobster air tawar, arus pemasukan diperoleh dari penjualan benih lobster dan penjualan lobster konsumsi. Hasil analisis kriteria investasi terhadap usaha pembenihan dan pembesaran lobster air tawar diperoleh nilai NPV sebesar Rp 138.280.330,00, Net B/C sebesar 5,14 dan IRR sebesar 52 persen. Hal ini menyatakan bahwa usaha pembenihan dan pembesaran lobster air tawar layak untuk diusahakan. Pola usaha pembenihan dan pembesaran lobster air tawar memiliki periode pengembalian biaya investasi selama 2,79 tahun.

Hasil analisis sensitivitas pada usaha pembenihan dan pembesaran lobster air tawar diperoleh apabila perubahan terhadap penurunan produksi dan penurunan harga jual yang terjadi melebihi 34,87 persen, maka usaha pembenihan dan pembesaran lobster air tawar ini menjadi tidak layak. Dengan perubahan kenaikan harga yang masih dapat mendatangkan keuntungan bagi usaha ini adalah sebesar 828,33 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga pakan memiliki pengaruh yang kecil terhadap kelayakan usaha pembenihan dan pembesaran lobster air tawar.

Anggraini (2008) melakukan penelitian yang berjudul ”Analisis Kelayakan Finansial Usaha Ikan Mas (Cyprinus carpio) dengan cara Pemberokan (Kasus : Desa Selajambe, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat)”. Berdasarkan hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada tingkat diskonto sebesar 5,5 persen dan umur ekonomis selama 10 tahun menunjukkan bahwa usaha ikan Mas dengan cara pemberokan pada ketiga skala usaha (kecil, menengah, dan besar) di daerah penelitian layak diusahakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai NPV pada skala kecil sebesar Rp 112,293 juta, pada skala menengah sebesar Rp 1.588,601 juta, dan pada skala besar sebesar Rp 6.772,189 juta. Sementara itu nilai IRR yang diperoleh pada skala kecil adalah 14 persen, pada skala menengah sebesar 59 persen, dan pada skala besar diperoleh IRR sebesar 55 persen. Nilai Net B/C yang diperoleh pada skala usaha kecil adalah 1,511, pada skala menengah adalah 4,45, dan pada skala besar adalah 4,19, sedangkan payback

period pada skala kecil yaitu 9 tahun 3 bulan, pada skala menengah adalah selama 2

tahun 10 bulan, dan pada skala besar adalah selama 3 tahun 7 bulan.

Jika dilihat dari nilai IRR, Net B/C, dan payback period pada ketiga skala usaha tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha ikan Mas dengan cara pemberokan pada skala menengah adalah yang paling efisien untuk diusahakan. Hal tersebut dikarenakan usaha yang dilakukan pada skala menengah merupakan yang paling optimal di mana produksi ikan Mas per meter perseginya sudah lebih sesuai dengan kondisi ideal menurut dinas

perikanan. Sementara itu untuk skala usaha kecil dan skala usaha besar, produksi ikan Mas per meter perseginya belum mencapai kondisi ideal. Jumlah tenaga kerja yang kurang seimbang dengan luas usaha yang diolah mengakibatkan sistem budidaya pada skala usaha besar, khususnya cara pemupukan dan pemberian pakan, tidak dilakukan secara optimal. Pada skala usaha kecil, penggunaan benih yang kurang berkualitas menyebabkan usaha ikan Mas pada skala tersebut memiliki tingkat kelayakan lebih rendah dibandingkan dengan skala lainnya.

Beberapa penelitian lain yang terkait dengan kelayakan usaha budidaya komoditas perikanan juga dilakukan oleh Sugama (2008) yang melakukan penelitian mengenai ”Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Kerapu Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali)”. Berdasarkan hasil analisis finansial diperoleh nilai NPV pada usaha pembenihan ikan kerapu macan, kerapu bebek, kerapu sunu dan masing- masing hasilnya adalah Rp 330.405.688,00, Rp 448.428.815,00, dan Rp 206.600.377,00 keuntungan yang diperoleh pada selama 10 tahun. Nilai IRR yang diperoleh yaitu pada ikan kerapu macan sebesar 72 persen, ikan kerapu bebek sebesar 96 persen, dan ikan kerapu sunu sebesar 46 persen, sedangkan nilai Net B/C yang diperoleh pada usaha pembenihan ikan kerapu macan sebesar 3,179, pembenihan ikan kerapu bebek diperoleh 4,867, dan pembenihan ikan kerapu sunu diperoleh nilai sebesar 2,431. Payback period yang diperoleh dalam usaha pembenihan ikan kerapu macan adalah 3 tahun, pembenihan ikan kerapu bebek adalah 2 tahun 2,9 bulan dan untuk pembenihan ikan kerapu sunu adalah 3 tahun 3,36 bulan.

Berdasarkan nilai-nilai tersebut maka usaha pembenihan ikan kerapu secara masing-masing layak untuk diusahakan. Dari hasil analisis sensitivitas, diperoleh bahwa usaha pembenihan ikan kerapu macan paling sensitif dan tidak layak diusahakan jika terjadi pada penurunan harga benih, diikuti dengan pembenihan gabungan, pembenihan kerapu bebek, dan pembenihan kerapu sunu tetapi masih layak untuk dilaksanakan. Jika terjadi penurunan tingkat kematian (SR), usaha pembenihan ikan kerapu sunu dan ikan kerapu macan merupakan usaha yang paling sensitif dan tidak layak untuk dilaksanakan, diikuti dengan pembenihan kerapu gabungan, dan kerapu bebek tetapi masih layak untuk dilaksanakan. Jika terjadi kenaikan harga telur, usaha pembenihan ikan kerapu sunu merupakan usaha yang paling sensitif diikuti pembenihan ikan kerapu macan, pembenihan ikan kerapu bebek, pembenihan ikan gabungan tetapi usaha masih tetap layak untuk dilaksanakan.

Surahmat (2009), meneliti mengenai Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Larva Ikan Bawal Air Tawar Ben’s Fish Farm Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Berdasarkan kriteria kelayakan finansial pada skenario I dengan tingkat diskonto 7,25 persen usaha pembenihan larva ikan bawal Ben’s Fisha Farm di cabang usaha yang ke 24, diperoleh NPV lebih besar dari nol yaitu sebesar Rp 587.596.184,05 artinya usaha ini layak untuk dilaksanakan, sedangkan nilai Net B/C rasio yang diperoleh sebesar 4,15 lebih besar dari satu yang berarti dari setiap satu rupiah yang dikeluarkan selama umur proyek mampu menghasilkan manfaat bersih sebesar 4,15 rupiah dan usaha ini layak untuk dilaksanakan. Nilai IRR sebesar 61 persen lebih besar dari tingkat suku bunga deposito, sedangkan waktu yang diperlukan untuk pengembalian total investasi selama 2 tahun 3 bulan.

Hasil analisis finansial dengan skenario II yang berasal dari modal pinjaman diperoleh nilai NPV sebesar Rp 9.501.982,34 yang artinya usaha pembenihan larva Ben’s Fish Farm di cabang yang ke 24 memberikan manfaat yang positif pada tingkat suku bunga kredit 14 persen. Usaha tersebut jika dilaksanakan akan masih memperoleh keuntungan yang sangat kecil yaitu sebesar Rp 9.501.982,34. Nilai Net B/C rasio sebesar 3,9 lebih besar dari satu yang berarti dari setiap satu rupiah yang dikeluarkan selama umur proyek mampu menghasilkan manfaat bersih sebesar 3,9 rupiah dan usaha ini layak untuk dilaksanakan. Nilai IRR sebesar 21 persen lebih besar dari tingkat suku bunga pinjaman sebesar 14 persen, artinya investasi di usaha ini masih menguntungkan dan usaha ini layak untuk dilaksanakan. Waktu pengembalian modal investasi melebihi dari 10 tahun yang lebih besar dari umur proyek, sehingga usaha tersebut tidak layak.

Dari hasil analisis switching value untuk mengetahui tingkat perubahan harga jual larva, penurunan produksi larva, dan kenaikan harga input (ovaprim), sehingga keuntungan mendekati normal, dimana NPV mendekati atau sama dengan nol atau bisa juga dengan menggunakan parameter IRR sama dengan tingkat suku bunga. Skenario I dengan modal sendiri, penurunan harga jual larva yang masih dapat ditolerir sebesar 7,04 persen yaitu dari harga Rp 8 per ekor menjadi Rp 7,43 per ekor. Pengusahaan pembenihan larva ikan bawal masih layak diusahakan apabila penurunan jumlah produksi tidak melebihi 42,1 persen yaitu dari 29.030.400 ekor menjadi 16.810.661 ekor, sedangkan untuk peningkatan harga input agar usaha tersebut masih layak diusahakan sampai 95,89 persen. Untuk skenario II dengan modal pinjaman, tidak dilakukan

switching value karena dengan modal pinjaman usaha tidak layak untuk dilaksanakan

berdasarkan waktu pengembalian modal investasi yang lebih besar dari umur proyek. Dengan demikian dapat disimpulkan berdasarkan hasil analisis kelayakan finansial, bahwa skenario I dengan modal sendiri usaha tersebut layak untuk dilaksanakan, sedangkan dengan modal pinjaman tidak layak untuk dilaksanakan, hal ini dikarenakan

waktu pengembalian investasi lebih besar dari umur proyek. Hasil analisis switching value usaha tersebut sangat sensitif terhadap perubahan harga jual larva ikan bawal.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, persamaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian sebelumnya yaitu terletak pada kriteria analisis kelayakan usaha yaitu menggunakan alat analisis data seperti NPV, Net B/C, IRR, Payback Period dan analisis

Switching value. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah

mengambil topik dan komoditi yang berbeda yaitu analisis kelayakan usaha ikan lele dan tempat yang berbeda dengan yang sebelumnya. Narasumber dalam penelitian ini merupakan kelompok tani LPPMPU (Lembaga Pemberdayaan Pemuda dan Masyarakat Peduli Umat) yang melakukan pengusahaan ikan lele di daerah Kecamatan Babelan yang melakukan kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan lele. Modal awal yang ditanamkan dalam pengusahaan ikan lele dumbo merupakan modal sendiri, selain itu juga yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah membandingkan jenis pengusahaan yang dilakukan oleh kelompok tani yaitu pengusahaan pembenihan ikan lele dumbo dengan pengusahaan pembesaran ikan lele dumbo, serta merencanakan untuk mengembangkan skala usaha kecil menjadi skala usaha besar. Data diolah dengan menggunakan Sofware Microsoft Excel dan interpretasi data secara deskriptif untuk melihat apakah investasi usaha ini nantinya akan layak untuk dilaksanakan atau tidak.

Dokumen terkait