IV. METODE PENELITIAN
4.3. Metode Pengolahan dan Analisis data
Studi kasus atau penelitian kasus (case study) adalah penelitian tentang kasus subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Maxfield 1930 dikutip dari Nazir 2003). Subjek penelitian dapat berupa individu, kelompok, lembaga mau pun masyarakat. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter- karakter yang khas dari kasus atau pun status individu yang kemudian dari sifat-sifat tersebut akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum (Nazir 2003).
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan satuan kasusnya adalah pengusahaan ikan lele dumbo di Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif, data yang terkumpul lalu diolah dan disajikan dalam bentuk tabel yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Data kuantitatif dan informasi yang telah dikumpulkan diolah menggunakan komputer program Microsoft Excel dan disajikan
dalam bentuk tabulasi yang digunakan untuk mengklasifikasi data yang ada serta mempermudah dalam melakukan analisis data.
Data kuantitatif meliputi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani mencakup biaya investasi dan biaya operasional serta penerimaan dari hasil penjualan ikan lele, sedangkan untuk data kualitatif disajikan dalam bentuk deskriptif. Data kualitatif merupakan hasil analisis terhadap aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan lingkungan.
4.3.1. Analisis Aspek Pasar
Analisis aspek pasar dapat dilihat dari sisi produk yang dihasilkan dimana adanya suatu permintaan terhadap benih ikan lele dan ikan lele ukuran konsumsi dengan harga jual yang dapat memperoleh penerimaan yang menguntungkan dalam kegiatan pemasaran produk yang dihasilkan. Aspek pasar yang dikaji yaitu bagaimana permintaan ikan lele dipasar, harga output yang dihasilkan yaitu benih dan ikan lele ukuran konsumsi, serta jalur pemasaran yang dilakukan oleh kelompok tani LPPMPU.
4.3.2. Analisis Aspek Teknis
Analisis aspek teknis dianalisis secara deskriptif yang mengungkapkan bagaimana secara teknis proses produksi yang dilaksanakan pada kegiatan pembenihan, pendederan, serta pembesaran ikan lele. Selain itu juga untuk mengetahui gambaran umum pengusahaan ikan lele, lokasi pengusahaan ikan lele, input proyek (penyediaan) dan output (produksi yang dihasilkan). Mengkaji perencanaan produksi sehingga dapat menghasilkan output berupa benih dan ikan lele ukuran konsumsi, kapasitas produksi dan jenis teknologi yang dipakai.
4.3.3. Analisis Aspek Manajemen
Aspek ini dapat dilihat berdasarkan struktur pengelola proyek, spesifikasi keahlian dan tanggung jawab pihak yang terlibat dalam proyek dan pelaksanaan pengusahaan ikan lele di lapangan. Mengkaji struktur organisasi dalam perusahaan, bagaimana bentuk organisasi atau kelembagaan dalam perusahaan.
4.3.4. Analisis Aspek Sosial dan Lingkungan
Analisis aspek sosial dan lingkungan dapat dilakukan dengan menganalisis perkiraan dampak yang ditimbulkan terhadap berjalannya kegiatan pada pengusahaan
∑
=+
−
=
n t t t ti
C
B
NPV
0(1
)
)
(
t i) 1 ( 1 +ikan lele, maupun manfaat bagi masyarakat sekitar dan lingkungan sekitar, maupun manfaat bagi perusahaan itu sendiri.
4.3.5. Analisis Kelayakan Finansial
Analisis usaha dilakukan untuk mengukur apakah usaha tersebut layak atau tidak untuk dilaksanakan. Perhitungannya meliputi biaya-biaya yang harus dikeluarkan serta keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan produk berdasarkan skala usaha serta teknologi yang digunakan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh dari usaha yang dilakukan dalam satu tahun.
Salah satu untuk melihat kelayakan dari analisis finansial adalah menggunakan metode cash flow analisis (Kadariah et al. 1999). Beberapa kriteria yang dipakai dalam penilaian kelayakan adalah Nilai Bersih Sekarang (Net Present Value), Rasio Manfaat Biaya Bersih (Net Benefit and Cost Rasio), Tingkat Pengembalian Investasi (Internal
Rate of Return) dan Masa Pengembalian Investasi (Payback Period).
4.3.5.1. Net Present Value (NPV)
Net Present Value atau nilai kini manfaat bersih adalah selisih antara total present value manfaat dengan total present value biaya, atau jumlah present value dari manfaat bersih tambahan selama umur bisnis. Nilai yang dihasilkan oleh perhitungan NPV adalah dalam satuan mata uang (Rp) (Nurmalina et al. 2009). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan :
Bt = Manfaat pada tahun ke-t
Ct = Biaya pada tahun ke-t
t = Tahun kegiatan bisnis (t = 0, 1, 2, 3, …, n) i = Tingkat suku bunga (Discount Rate)
t i) 1 ( 1 +
∑
∑
= =+
−
+
−
=
n t t t t n t t t ti
B
C
i
C
B
C
NetB
0 0)
1
(
)
(
)
1
(
)
(
/
Kriteria investasi berdasarkan NPV yaitu :
• NPV > 0, artinya suatu proyek sudah dinyatakan layak dan dapat dilaksanakan.
• NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang dipergunakan. Dengan kata lain, proyek tersebut merugikan dan sebaiknya tidak dilaksanakan.
• NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu mengembalikan persis sebesar modal sosial
Opportinities Cost faktor produksi normal. Dengan kata lain, proyek tersebut tidak
untung dan tidak rugi.
4.3.5.2Net Benefit and Cost Ratio (Net B/C Ratio)
Net Benefit dan Cost Ratio (Net B/C Ratio) menyatakan besarnya pengembalian
terhadap setiap satu satuan biaya yang telah dikeluarkan selama umur proyek. Net B/C adalah perbandingan antara jumlah nilai kini dari keuntungan bersih pada tahun dimana keuntungan bersih positif dengan keuntungan bersih yang bernilai negatif (Nurmalina et al. 2009). Rumus untuk menghitung Net B/C adalah sebagai berikut :
Keterangan :
Bt = Manfaat pada tahun ke-t
Ct = Biaya pada tahun ke-t
i = Tingkat suku bunga (Discount Rate) t = Tahun
= Discount Factor (DF) pada tahun ke-t
4.3.5.3. Internal Rate of Return (IRR)
Menurut Nurmalina et al. (2009), kelayakan bisnis juga dinilai dari seberapa besar pengembalian bisnis terhadap investasi yang ditanamkan. Hal ini ditunjukkan dengan mengukur besaran Internal Rate of Return (IRR). IRR adalah tingkat discount rate (DR) yang menghasilkan NPV sama dengan nol. Besaran yang dihasilkan dari perhitungan ini adalah dalam satuan persentase (%). Suatu bisnis dikatakan layak apabila IRR-nya lebih besar dari opportunity cost of capital-nya (DR).
( Untuk Bt – Ct > 0)
⎥
⎦
⎤
⎢
⎣
⎡
−
−
+
=
'
+ − −x(i"
i')
NPV
NPV
NPV
i
IRR
⎥
⎦
⎤
⎢
⎣
⎡
−
−
+
=
'
+ − −x(i"
i')
NPV
NPV
NPV
i
IRR
Pada umumnya dalam menghitung tingkat IRR dilakukan dengan menggunakan metoda interpolasi di antara tingkat discount rate yang lebih rendah (yang menghasilkan NPV positif) dengan tingkat discount yang lebih tinggi (yang menghasilkan NPV negatif) (Nurmalina et al. 2009). Secara sistematis rumus untuk menghitung IRR adalah :
Keterangan :
i’ = Tingkat suku bunga yang menyebabkan nilai NPV > 0 i” = Tingkat suku bunga yang menyebabkan nilai NPV < 0 NPV+ = NPV positif
NPV- = NPV negatif
Kriteria yang berlaku :
IRR ≥ i ; maka usaha layak untuk dilaksanakan IRR ≤ i ; maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan 4.3.5.4. Analisis Payback Period (PP)
Analisis payback period adalah analisis suatu jangka waktu (periode) kembalinya keseluruhan investasi kapital yang ditanamkan, dihitung mulai dari permulaan proyek sampai dengan arus nilai netto produksi tambahan, sehingga mencapai jumlah keseluruhan investasi kapital yang ditanamkan dengan menggunakan aliran kas (Gittinger 1986). Pada dasarnya semakin cepat Payback Periode menandakan semakin kecil resiko yang dihadapi oleh investor. Secara matematis payback period dapat dirumuskan sebagai berikut :
Dimana :
I = Adalah besarnya biaya investasi yang diperlukan
Ab = Adalah manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya
tahun
x
Ab
I
Payback Period
=
1
4.3.2. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat perubahan yang ada dalam kegiatan budidaya ikan lele yang berdampak terhadap suatu analisis. Tujuan analisis ini adalah untuk melihat kembali hasil analisis suatu kegiatan investasi atau aktivitas ekonomi, apakah ada perubahan dan apabila terjadi kesalahan atau adanya perubahan di dalam perhitungan biaya atau manfaat (Nurmalina et al. (2009). Analisis sensitivitas ini perlu dilakukan karena dalam kegiatan investasi, perhitungan didasarkan pada proyek-proyek yang mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang (Gittenger 1986).
Gittenger (1986) mengatakan bahwa suatu variasi pada analisis sensitivitas adalah nilai pengganti (switching value). Switching value merupakan perhitungan untuk mengukur perubahan maksimum dari perubahan suatu komponen inflow (penurunan harga output, penurunan produksi) atau perubahan komponen outflow (peningkatan harga input atau peningkatan biaya produksi) yang masih dapat ditoleransi agar bisnis masih tetap layak (Nurmalina et al. 2009). Oleh karena itu, perubahan jangan melebihi nilai tersebut. Bila melebihi maka bisnis menjadi tidak layak untuk dilaksanakan. Perhitungan ini mengacu kepada berapa besar perubahan terjadi sampai dengan NPV sama dengan nol (NPV=0).
4.4. Asumsi Dasar Yang Digunakan
Analisis kelayakan pengusahaan ikan lele ini menggunakan beberapa asumsi dasar yaitu :
1) Usaha yang dilakukan dengan menggunakan modal sendiri.
2) Tingkat diskonto yang digunakan merupakan tingkat suku bunga deposito Bank Indonesia pada bulan Desember 2009 sebesar 7 persen.
3) Kegiatan pengusahaan ikan lele yang dilakukan di kelompok tani Lembaga Pemberdayaan Pemuda dan Masyarakat Peduli Umat (LPPMPU) adalah pengusahaan pembenihan ikan lele, dan pengusahaan pembesaran ikan lele.
4) Skala pengusahaan ikan lele pada pembenihan dan pendederan ikan lele adalah skala usaha kecil, dengan luasan lahan yang dimiliki oleh kelompok tani LPPMPU adalah 200 m2.
5) Induk yang digunakan dalam kegiatan pengusahaan pembenihan ikan lele merupakan induk betina yang sudah siap dipijahkan yang berumur 1 tahun dengan bobot ikan betina 1 kilogram dan bobot ikan jantan 1,25 kilogram dan mempunyai umur ekonomis.
6) Umur proyek dari analisis kelayakan finansial pengusahaan ikan lele adalah 10 tahun berdasarkan umur ekonomis kolam (kolam semen) yang digunakan dalam kegiatan produksi di kelompok tani LPPMPU.
7) Ikan lele yang diusahakan adalah jenis Clarias gariepinus atau disebut juga ikan lele dumbo.
8) Pada pengusahaan pembenihan ikan lele tingkat daya tetas telur adalah 90 persen dan tingkat kemampuan hidup adalah 88 persen, sedangkan pada pengusahaan pembesaran ikan lele tingkat kemampuan hidup adalah 88 persen.
9) Benih ikan lele yang siap panen adalah benih yang telah menjalani masa pemeliharaan selama 6 minggu dan panjangnya mencapai 5-5,5 cm, sedangkan benih ikan lele ukuran konsumsi yang mencapai 9-10 ekor per kilogram dipelihara selama 3 bulan.
10)Harga jual benih ikan lele yang berlaku dipasar yaitu Rp 150,00 per ekor kegiatan pendederan, dan harga ikan lele untuk kegiatan pembesaran atau konsumsi sebesar Rp 10.000,00 per kilogram. Nilai jual ini berdasarkan harga yang berlaku pada saat penelitian pada tahun 2009.
11)Analisis sensitivitas dalam penelitian ini menggunakan metode switching value, dengan adanya perubahan pada kenaikan harga pakan serta penurunan harga jual output yaitu benih dan ikan lele ukuran konsumsi.
12)Pajak pendapatan yang digunakan adalah pajak berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Tarif Umum PPh Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap yaitu sebesar 28 persen.
V.
GAMBARAN UMUM
5.1. Gambaran Lokasi Penelitian 5.1.1. Letak dan Keadaan Alam
Kecamatan Babelan adalah kecamatan yang terletak di bagian utara Kebupaten Bekasi yang mempunyai garis pantai sepanjang 1,5 kilometer atau kurang lebih 1.500 meter. Kali Cikarang Barat Laut (CBL) yang membelah wilayah Kecamatan Babelan merupakan potensi alam yang perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kegiatan pertanian, transportasi laut, dan wisata bahari. Luas wilayah Kecamatan Babelan sekitar 5.712,62 hektar, 80 persen dari luas wilayah merupakan daerah lahan terbuka atau daerah pertanian.
Secara geografis wilayah Kecamatan Babelan terletak antara 107o Bujur timur dan 60o Lintang Selatan dengan ketinggian 0-7 meter diatas permukaan laut, suhu maksimum mencapai 280C dan suhu minimum 290C. Adapun batas wilayah dari Kecamatan Babelan yaitu sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa (Kecamatan Muaragembong), sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sukawangi dan Kecamatan Tambun Utara, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Medan Satria, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bekasi Utara Kota Bekasi. Kecamatan Babelan terbagi menjadi 9 Desa, yang diantaranya Desa Bahagia, Kebalen, Babelan Kota, Kedung Pengawas, Kedung Jaya, Buni Bakti, Muara Bakti, Pantai Hurip, dan Hurip Jaya.
Desa Kedung Pengawas merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, dengan luas wilayah 584.84 hektar. Secara orbitrasi Desa Kedung Pengawas berjarak 2 kilometer dari Kecamatan Babelan, dengan lama tempuh setengah jam menggunakan kendaraan beroda dua. Desa Kedung Pengawas merupakan daerah sentra pertanian (termasuk perikanan) dan tanaman holtikultura, akses jalan yang menghubungkan desa ini dengan desa lainnya sangat pesat, sehingga di sisi jalan tumbuh daerah pemukiman baru banyak bermunculan perdagangan dan industri kecil menengah. Dengan luas lahan pertanian kurang lebih 150 hektar dari luas desa. Desa Kedung Pengawas
berada pada ketinggian 250 meter di atas permukaan laut, dengan suhu udara rata- rata 280C.
5.1.2. Kependudukan
Penduduk merupakan jumlah orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu dan merupakan hasil dari proses demografi yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Jumlah penduduk Kecamatan Babelan sebanyak 47.093 KK (kepala keluarga). Jumlah penduduk pada daerah ini periode 2009 berjumlah 164.504 jiwa yang terdiri atas 81.068 jiwa laki-laki, dan 83.616 jiwa perempuan. Komposisi jumlah keluarga penduduk Desa Kedung Pengawas berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Jumlah Penduduk Desa Kedung Pengawas Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2009
No Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase
1. Laki-laki 5.522 47 %
2. Perempuan 6.340 53 %
Jumlah 11.862 100 %
Sumber : Data Monografi Kecamatan Babelan (2009)
Jika dilihat dari segi pendidikan, jumlah penduduk di Kecamatan Babelan mayoritas adalah penduduk dengan tingkat pendidikan tamat SLTP/sederajat yaitu sebanyak 8.446 orang dan yang paling sedikit adalah tidak tamat SD/sederajat yaitu 2.346 orang. Tabel 4. menunjukkan komposisi penduduk Kecamatan Babelan menurut tingkat pendidikan.
Tabel 4. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Babelan Tahun 2008-2009
No Tingkat Pendidikan
Jumlah (Jiwa)
Tahun 2008 Tahun 2009
1. Tidak Tamat SD/sederajat 2.111 2.346
2. Tamat SD/sederajat 5.865 7.038
3. Tamat SLTP/sederajat 8.211 8.446
4. Tamat SLTA/sederajat 6.100 6.217
5. Tamat D1-D3 4.926 5.278
6. Tamat Perguruan Tinggi (S1) 3.753 4.340
5.1.3. Prasarana dan Sarana
Prasarana dan sarana yang ada di Desa Kedung Pengawas terdiri atas prasarana dan sarana transportasi, komunikasi, air bersih, irigasi, pemerintahan, peribadatan, kesehatan, dan pendidikan. Prasarana dan sarana tersebut memegang peranan penting dalam memperlancar kegiatan pembangunan di Desa Kedung Pengawas, karena dengan adanya sarana dan prasarana tersebut dapat memudahkan penduduk Desa Kedung Pengawas dalam melakukan kegiatan sehari-harinya, serta dapat menunjang kegiatan usaha dalam bidang perikanan khususnya pengusahaan ikan lele yang melakukan kegiatan pembenihan, pendederan, serta pembesaran.
5.2. Gambaran Umum Pengusahaan Ikan Lele
Pada umumnya, sebelum mengenal dan melakukan usaha di bidang perikanan penduduk Desa Kedung Pengawas sudah terbiasa dalam menggarap sawah dan menanam sayur-sayuran. Ada pula sebagian penduduk yang melakukan usaha lain, yaitu sebagai pembudidaya ikan. Lahan yang digunakan untuk melakukan kegiatan tersebut merupakan lahan milik sendiri, yaitu di sekitar lingkungan rumah. Pada awalnya kegiatan budidaya ikan ini merupakan usaha yang sifatnya usaha sampingan. Usaha di bidang perikanan ini dilakukan dengan berbagai alasan antara lain untuk pemenuhan keluarga atas kebutuhan konsumsi ikan, usaha sampingan ataupun sebagai hobi.
Pada saat ini, para petani beralih untuk melakukan kegiatan budidaya ikan menjadi usaha yang sifatnya utama. Hal ini dikarenakan kegiatan usaha budidaya ikan lebih cepat menghasilkan uang apabila dibandingkan dengan kegiatan menggarap sawah. Selain itu kegiatan usaha budidaya ikan tidak membutuhkan waktu yang lama, proses kegiatan yang tidak sulit, dan modal yang tidak terlalu besar, tidak seperti kegiatan usaha menggarap sawah yang membutuhkan waktu lebih lama dan modal yang besar.
Saat ini, para petani ikan dapat dengan mudah mendapatkan informasi mengenai dunia perikanan. Para petani mulai mengetahui keberadaan usaha perikanan khususnya untuk ikan lele, baik mengenai pasarnya, tingkat permintaan beserta harganya. Pada awalnya para petani ikan mengalami kesulitan untuk
melakukan kegiatan usaha ikan lele, khususnya yang berkaitan dengan masalah teknis budidaya ikan lele. Setelah berjalan beberapa waktu dan mendapatkan penyuluhan dari UPTD Perikanan Kecamatan Babelan, maka masyarakat Desa Kedung Pengawas secara perlahan mulai mengusai teknik pemeliharaan ikan lele dengan baik dan tepat. Selain itu, para petani juga mendapatkan bantuan dari pemerintah yaitu berupa induk ikan lele, serta didukung pula oleh keadaan alam yang potensial dalam melakukan pemeliharaan ikan lele.
Teknologi yang digunakan pembudidaya ikan lele di daerah penelitian masih bersifat tradisional. Sumber air yang digunakan untuk kegiatan budidaya ikan lele berasal dari Kali Cikarang Barat Laut (CBL) dan berasal dari pengairan irigasi. Lahan yang digunakan untuk pemeliharaan ikan lele yaitu halaman di sekitar rumah. Dengan sebagian menggunakan terpal sebagai tempat pemijahan dan pemeliharaan benih. Hal ini dikarenakan, lokasi kegiatan budidaya ikan lele dekat dengan sungai. Jika terjadi hujan lebat menyebabkan daerah ini terkena banjir, untuk menghindari hal tersebut maka petani menggunakan terpal sebagai tempat pemeliharaan, agar jika terkena banjir ikan dapat dipindahkan ke tempat yang tidak terkena banjir.
Dari pengamatan langsung di lokasi penelitian, kondisi alam Desa Kedung Pengawas cocok untuk melakukan kegiatan usaha ikan lele. Kondisi air baik dengan sistem setengah irigasi dan dekat dengan Kali Cikarang Barat Laut (CBL), sehingga air dapat dengan mudah dialirkan secara langsung ke setiap kolam. Suhu di daerah penelitian berkisar antara 27 0C – 32 0C, dan pH air 7,3 yang merupakan syarat penting untuk melakukan kegiatan budidaya ikan lele. Begitu juga dengan ketersediaan input yang digunakan dalam kegiatan produksi dapat dengan mudah diperoleh petani, petani ikan lele dapat membelinya di pasar terdekat.
5.3. Kelompok Pembudidaya
Dalam perkembangannya, banyak penduduk mulai membudidayakan ikan lele di beberapa desa yang tersebar di Kecamatan Babelan. Dengan semakin meningkatnya permintaan ikan lele ukuran konsumsi, sehingga bertambah petani yang melakukan pengusahaan ikan lele. Oleh karena itu, dibentuklah kelompok tani ikan lele yang bernama Kelompok Masyarakat Peduli Umat yang berdiri pada
tahun 2002. Jumlah anggota kelompok tani tersebut pada awalnya sebanyak 20 orang. Kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tani ada yang melakukan kegiatan pembenihan, dan pembesaran.
Pada tahun 1999 terjadi bencana yaitu banjir yang menyebabkan para petani mengalami kerugian besar. Semua benih serta induk yang dimiliki habis terkena banjir, sehingga jumlah petani yang melakukan kegiatan budidaya ikan lele menjadi berkurang hingga saat ini. Selain itu juga, kendala yang membuat petani mengalami kerugian besar adalah benih ikan lele yang dipelihara terserang penyakit yang bernama white spot. Hingga saat ini para petani ikan lele belum dapat mengatasi masalah penyakit tersebut. Sebagian petani ikan lele ada yang mengalami kebangkrutan (collapse), sehingga petani tersebut tidak melanjutkan lagi usahanya.
Kelompok Masyarakat Peduli Umat menjadi berkurang akibat permasalahan yang tidak bisa ditangani dengan baik, maka pada tahun 2004 kelompok tani Masyarakat Peduli Umat mengganti nama kelompoknya menjadi Lembaga Pemberdayaan Pemuda dan Masyarakat Peduli Umat (LPPMPU). Tujuannya di bentuk kelompok tani ini adalah untuk meningkatkan produksi hasil pembudidayaan ikan lele, serta mensejahterakan para anggota kelompok tani. Peran kelompok tani ini adalah untuk mempermudah proses pengembangan dan pembinaan pembudidayaan ikan. Anggota yang bergabung dalam kelompok LPPMPU ini berjumlah 20 orang. Jumlah anggota yang aktif dalam kegiatan kelompok tani pada tahun 2009 sebanyak 4 orang.
Kelompok LPPMPU mengadakan rapat satu bulan sekali yang membahas permasalahan kelompok yang mencakup teknik budidaya, mengenai pemasaran, ketersediaan benih, dan masalah pengadaan modal untuk melakukan pengembangan skala usaha. Saat ini, kelompok tani LPPMPU belum memiliki aturan-aturan yang tersusun dalam AD dan ART, tetapi apabila terjadi permasalahan yang dihadapi maka jalan yang ditempuh adalah dengan mengambil kesepakatan bersama antara sesama anggota kelompok.
Jenis pengusahaan ikan lele yang dilakukan pada kelompok tani LPPMPU adalah pengusahaan pembenihan ikan lele dan pengusahaan pembesaran ikan lele. Kegiatan pengusahaan pembenihan ikan lele dilakukan untuk mendapatkan benih
yang berkualitas dengan ukuran 5-5,5 cm, sedangkan kegiatan pengusahaan pembesaran ikan lele menghasilkan ikan konsumsi yang berukuran 9-10 ekor per kilogramnya.
Proses kegiatan yang dilakukan oleh anggota kelompok tani ini merupakan sistem tradisional. Kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing kelompok tani LPPMPU dengan menggunakan kolam semen, kolam tanah dan terpal, serta pengairan kolam berasal dari Kali Cikarang Barat Laut (CBL) dan pengairan irigasi. Kolam yang digunakan sesuai dengan lahan yang dimiliki oleh masing- masing anggota kelompok tani LPPMPU. Setiap anggota kelompok tani LPPMPU menggunakan teknik budidaya yang sama, seperti proses pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan benih, pemberian pakan dan pemanenan.
VI.
ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL
6.1. Aspek Pasar
Pasar merupakan suatu sekelompok orang yang diorganisasikan untuk melakukan tawar-manawar, sehingga dengan demikian terbentuk harga (Umar 2007). Analisis terhadap aspek pasar pada pengusahaan ikan lele yang diproduksi oleh kelompok tani LPPMPU dapat dilihat melalui permintaan, penawaran, dan harga benih dan ikan lele ukuran konsumsi yang berlaku di pasar.
6.1.1. Permintaan dan Penawaran
Aspek pasar merupakan aspek yang paling penting dalam memutuskan untuk membuka suatu usaha, karena usaha tersebut sangat bergantung dari keberhasilan dalam memasarkan suatu produk yang dihasilkan dalam usaha tersebut. Salah satu jenis ikan yang memiliki potensi pasar adalah ikan lele. Permintaan ikan lele datang dari para pedagang seafood (kaki lima) dan restoran- restoran yang menyajikan hidangan pecel lele, serta rumah tangga, sehingga permintaan ikan lele untuk pasar dalam negeri mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun dan terkait erat dengan perkembangan trend di kalangan masyarakat.
Menurut data dari Departemen Kelautan dan Perikanan (2009), tingkat pengkonsumsian ikan termasuk ikan lele di Indonesia semakin meningkat, pada Tahun 2004 hanya terhitung 22,58 kilogram per kapita per tahun, namun pada Tahun 2007 meningkat menjadi 28,28 kilogram per tahun, sedangkan pada Tahun 2008 naik menjadi 29,98 kilogram per kapita per tahun. Untuk itu pasar ikan lele