• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. Unit Pelaksana Teknis Dinas

4.2. Hasil penelitian

Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya merupakan Dinas yang berperan melaksanakan tugas kewenangan desentralisasi di bidang Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

(UMKM). Dalam hal ini penulis membatasi pada peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan latihan serta pemasaran.

Untuk lebih jelasnya penulis akan menguraikan hal-hal tersebut di atas sebagai berikut :

4.2.1. Pelatihan.

Dari hasil pengamatan dilapangan diketahui bahwa sumber daya manusia pengusaha kecil produksi tempe Kelurahan Tenggilis Mejoyo masih rendah. Dalam upaya peningkatan sumber daya manusia pengusaha kecil produksi tempe, Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya memberikan pembinaan melalui penyelenggaraan pelatihan. Pelatihan tersebut dalam bentuk pelatihan kewirausahaan dan pelatihan teknologi produksi (bintek) yaitu melalui :

a. Memberikan penyuluhan.

b. Memberikan bantuan mesin produksi. c. Tenaga instruktur sebagai pemberi materi. d. Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan. a. Memberikan Penyuluhan.

Penyuluhan tentang pengolahan usaha serta pengembangan usaha sangat diperlukan bagi pengusaha kecil, karena dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa kebanyakan dari para pengusaha kecil belum bisa mengatur usaha yang dimiliki, dengan adanya penyuluhan tentang pengelolahan usaha serta pengembangan usaha diharapkan dapat memberikan arahan tentang bagaimana cara mengelola usaha serta mengolah produksi supaya lebih berkembang. Dinas

Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan pada tanggal 14 – 15 Oktober 2009, sedangkan untuk pelatihan teknologi produksi (bintek) diselenggarakan pada tanggal 29 – 30 September 2009 yang bertempat di Kelurahan Tenggilis Mejoyo.

Sesuai hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Kalau berbicara masalah peranan Dinas kepada UKM mengenai pembinaan, ya sangat berperan sekali mas, penyuluhan tentang kewirausahaan dan teknologi produksi dilaksanakan pada tanggal 14 sampai 15 Oktober 2009 dan 29 – 30 September 2009 tempat kegiatan tersebut diadakan di Kelurahan Tenggilis mejoyo mas.”

(Wawancara tanggal 19 Maret 2010)

Hal senada juga dingkapkan oleh mas Nur Iksan, yang merupakan salah satu pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Pembinaan tentang pelatihan kewirausahaan yang diberikan oleh Dinas, bagi saya sangat membantu sekali dalam perkembangan usaha saya ini karena mungkin dengan adanya kegiatan seperti ini bisa menambah pengetahuan buat saya dan yang lain. Dan untuk kegiatan pelatihan teknologi produksi itu juga bermanfaat bagi saya mas, karena dapat memberikan pengetahuan baru tentang penggunaan alat produksi yang lebih modern.”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Ibu Sofia, yang merupakan salah satu pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Setelah ikut pelatihan kewirausahaan saya memperoleh wawasan mengenai bagaimana mengelola usaha yang baik, sehingga kedepannya dapat membantu perkembangan usaha kecil saya mas. Untuk pelatihan teknologi produksi itu mas.. dapat memberi pengetahuan baru bagi kami mas,... kita juga diberitahu bagaimana mengoperasikan mesin yang lebih modern mas....”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan mas Sanusi selaku salah satu pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Waduh... saya itu males mas ikut penyuluhan kayak gitu, lagian saya juga sibuk mas memasarkan barang dagangan saya.

(wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Menanggapi hal tersebut Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Untuk masalah penyuluhan ini mas... kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan penyuluhan kepada pengusaha kecil. Bagi pengusaha kecil yang mengikuti kegiatan penyuluhan ini mas... sudah berhasil menerapkan melalui pegembangan usahanya, meskipun ada beberapa pengusaha kecil yang tidak megikuti penyuluhan.”

(Wawancara tanggal 24 Maret 2010)

Dari beberapa hasil wawancara diatas, dapat dilihat bahwa Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya sangat berperan dalam melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil produksi tempe di Kelurahan Tenggilis Mejoyo melalui pelatihan kewirausahaan dan pelatihan teknologi produksi dengan cara memberikan penyuluhan tentang kewirausahaan dan seminar tentang penggunaan mesin produksi yang lebih modern. Pada pelatihan kewirausahaan pengusaha kecil telah berhasil mengembangkan usahanya dengan cara meningkatkan hasil produksinya. Pada pelatihan teknologi produksi (bintek) pengusaha kecil berhasil menerapkan cara menggunakan mesin produksi yang lebih modern, sehingga dapat meningkatkan produksinya untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Pembinaan yang dilaksanakan Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya dalam hal pemberian penyuluhan, baik penyuluhan tentang kewirausahaan maupun penyuluhan tentang penggunaan mesin produksi yang lebih moderndi bidang teknologi produksi (bintek) telah mencapai sasaran meskipun terdapat kendala berupa masih kurang sadarnya para pengusaha kecil dalam mengikuti kegiatan penyuluhan baik kewirausahaan maupun teknologi produksi (bintek).

b. Memberikan bantuan mesin produksi.

Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan pembinaan bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan perdagangan dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya. Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan bantuan mesin produksi kepada pengusaha kecil produksi tempe di Tenggilis Mejoyo dengan jumlah lima unit mesin produksi.

Diharapkan dengan bantuan mesin produksi tersebut pengusaha kecil dapat lebih meningkatkan hasil produksinya sehingga kedepanya dapat lebih berkembang dan mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Sesuai hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Dalam memberikan pembinaan kita bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan perdagangan dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya mas... DISPERINDAG telah memberikan bantuan mesin

produksi sejumlah lima unit mas... dengan tujuan agar pengusaha kecil dapat lebih meningkatkan hasil produksinya.”

(Wawancara tanggal 19 Maret 2010)

Hal senada juga dingkapkan oleh mas Nur Iksan, yang merupakan salah satu pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Memang benar mas... DISPERINDAG pernah memberikan bantuan mesin kepada kita mas... mesin yang diberikan kepada kita itu merupakan mesin produksi yang modern mas.. jadi saya gak usah pakai mesin yang manual lagi mas....”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Hal senada juga dingkapkan oleh Ibu Sofia, yang merupakan salah satu pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Ya... mas kita pernah dikasih bantuan mesin produksi yang lebih modern mas... dari DISPERINDAG. Dengan bantuan mesin produksi yang lebih modern ini mas.. saya bisa berproduksi lebih banyak mas.. daripada pakai mesin yang manual.”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Hal senada juga disampaikan oleh Bapak Sokib selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”wah... bantuan mesin yang dari DISPERINDAG sangat membantu bagi saya mas... alatnya canggih jadi bisa meningkatkan hasil produksi saya mas....”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh mas Muslik, beliau mengatakan :

”Waduh... saya gak tahu mas kalau DISPERINDAG memberi bantuan mesin untuk produksi, soalnya saya membeli mesin ini atas usaha saya sendiri.”

Hal senada juga disampaikan oleh saudara sanusi selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”saya gak tahu mas... kalau DISPERINDAG pernah membantu pengusaha kecil dengan memberikan bantuan mesin produksi kepada pengusaha kecil, lha wong mesin ini saya beli sendiri lho mas....”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Menanggapi hal tersebut Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Kalau menanggapi masalah bantuan mesin yang diberikan DISPERINDAG itu hanya bantuan yang bersifat hibah mas... serta jumlah bantuan mesin sebanyak lima unit saja. Jadi pengusaha kecil lainnya ada yang tidak mendapat bantuan mesin tersebut mas....”

(Wawancara tanggal 24 Maret 2010)

Dari beberapa hasil wawancara di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan pembinaan khususnya pada pemberian bantuan mesin produksi kepada pengusaha kecil yang bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan perdagangan dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya belum mencapai sasaran karena bantuan mesin produksi tersebut hanya bersifat hibah serta jumlah bantuan mesin produksi yang berjumlah lima unit saja.

Dengan bantuan mesin produksi yang tidak merata serta bantuan yang hanya bersifat hibah pengusaha kecil berharap adanya bantuan mesin produksi yang lebih merata dan bukan hanya bersifat hibah. Dengan adanya bantuan mesin yang lebih modern pengusaha kecil produksi tempe di Tenggilis Mejoyo dapat meningkatkan produksi tempe sehingga kedepannya dapat mengembangkan usahanya.

Dalam hal ini Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya yang bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya dalam hal bantuan mesin produksi yang diberi oleh Dinas perindustrian dan Perdagangan dan penanaman Modal Pemerintak Kota Surabaya belum mencapai sasaran karena bantuan mesin produksi yang kurang merata serta bantuan yang bersifat hibah.

c. Tenaga instruktur sebagai pemberi materi.

Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan pembinaan bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan perdagangan dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya. Dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya menjadi tenaga instruktur sebagai pemberi materi.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

” Ya... mas...memang benar Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya menjadi pembicara atau tenaga instruktur dalam memberikan penyuluhan, baik penyuluhan tentang kewirausahaan maupun teknologi produksi (bintek).”

(Wawancara tanggal 19 Maret 2010)

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh mas Nur Iksan selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Yang menjadi pembicara di penyuluhan itu mas... ya..dari DISPERINDAG mas.. yang bekerja sama dengan Dinas Koperasi.

DISPERINDAG dalam membawakan materi Cuma itu-itu saja mas gak ada perkembangannya atau becandaannya mas... jadi gak salah kalau banyak pengusaha kecil yang malas mengikuti kegiatan pelatihan atau penyuluhan ini. ”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh Ibu Sofia selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Memang benar mas.. yang menjadi pembicara dalam pelatihan ini ya.. dari DISPERINDAG mas... tetapi materi-materi yang diberikan bersifat monoton mas.. gak ada gregetnya jadi kurang menarik, jadi banyak pengusaha kecil yang enggan mengikuti kegiatan pelatihan ini dan lebih mementingkan pekerjaannya.”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh Bapak Sokib selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Memang DISPERINDAG mas... yang menjadi pembicara atau tenaga instrukturnya. Tetapi mas.. kurang menarik dalam membawakan materi kalau bisa seh mas.. ganti yang lebih muda yang lebih cakap sehingga menarik perhatian.”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Menanggapi hal tersebut Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Memang mas... untuk pembinaan kita bekerja sama dengan DISPERINDAG, tetapi untuk menanggapi permasalahan materi yang bersifat monoton serta tenaga instruktur yang kurang menarik, kami selaku pihak Dinas Koperasi akan melakukan musyawarah dengan DISPERINDAG menanggapi permasalahan itu guna meningkatkan minat pengusaha kecil dalam mengikuti kegiatan penyuluhan.”

(Wawancara tanggal 24 Maret 2010)

Dari beberapa hasil wawancara di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan pembinaan yang bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya khususnya

dalam hal tenaga instruktur dalam membawakan materi kurang menarik perhatian para pengusaha kecil. Selain itu materi yang dibawakan bersifat monoton.

Melihat permasalahan tersebut Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan penanaman Modal Pemerintah Kota Surabaya seharusnya bisa menumbuhkan semangat para pengusaha kecil dalam mengikuti pelatihan atau penyuluhan dengan cara meberikan materi yang tidak bersifat monoton serta pembicara yang lebih cakap, terampil, serta menarik perhatian. Sehingga para pengusaha kecil tidak merasa bosan dan akan lebih aktif dalam mengukuti kegiatan pelatihan / penyuluhan.

Dalam hal ini Dinas Koperasi, Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya belum mencapai sasaran dalam hal tenaga instruktur karena pengusaha kecil merasa bosan dengan dengan pembicara yang kurang menarik serta materi yang dibawakan bersifat monoton.

d. jumlah Peserta yang mengikuti pelatihan.

Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya dalam memberikan pembinaan dalam memberikan penyuluhan baik penyuluhan tentang kewirausahaan maupun teknologi produksi (bintek) tidak semua peserta mengikuti kegiatan penyuluhan tersebut.

Seperti halnya tentang penyuluhan kewirausahaan. Pada penyuluhan kewirausahaan jumlah peserta yang mengikuti penyuluhan tersebut berjumlah 21 pengusaha kecil produksi tempe di Tenggilis Mejoyo.

Tabel 4.11 Daftar nama peserta kegiatan penyuluhan kewirausahaan

NO. NAMA JENIS USAHA ALAMAT

01. H. Kosim Usaha Tempe Raya Tenggilis

02. Alfan Usaha Tempe Tenggilis Kauman

03. Marjuki Usaha Tempe Tenggilis Mulya

04. Jauri Usaha Tempe Tenggilis Kauman

05. Amali Usaha Tempe Tenggilis Mulya

06. Suradji Usaha Tempe Krembangan

07. Nur Iksan Usaha Tempe Tenggilis Kauman

08. M. Sueb Usaha Tempe Tenggilis Mulya

09. Salim Usaha Tempe Tenggilis Mulya

10. Siti Aisyah Usaha Tempe Tenggilis Kauman

11. Selamet Usaha Tempe Tenggilis Mulya

12. Sofia Usaha Tempe Tenggilis Kauman

13. Siti Romlah Usaha Tempe Tenggilis Lama

14. Jaini Usaha Tempe Tenggilis Kauman

15. Bunyaken Usaha Tempe Tenggilis Mulya

16. Bilal Usaha Tempe Tenggilis Mulya

17. Fatchah Usaha Tempe Tenggilis Mulya

18. Madekan Usaha Tempe Tenggilis Mulya

19. Malikan Usaha Tempe Tenggilis Kauman

20. Salim Usaha Tempe Tenggilis Kauman

21. Lukman Usaha Tempe Rungkut Kidul

Sumber : Kelurahan Tenggilis Mejoyo Tahun 2009.

Sedangkan pada penyuluhan teknologi produksi (bintek) jumlah peserta yang mengikuti kegiatan penyuluhan berjumlah 27 pengusaha kecil produksi tempe di Tenggilis Mejoyo.

Tabel 4.12 Daftar nama peserta kegiatan penyuluhan Teknologi Produksi

NO. NAMA JENIS USAHA ALAMAT

01. Jauri Usaha Tempe Tenggilis Kauman

02. Marjuki Usaha Tempe Tenggilis Mulya

03. Bilal Usaha Tempe Tenggilis Mulya

04. Jaini Usaha Tempe Tenggilis Kauman

06. Nur Iksan Usaha Tempe Tenggilis Kauman

07. Bunyaken Usaha Tempe Tenggilis Mulya

08. Lukman Usaha Tempe Rungkut Kidul

09. Siti Romlah Usaha Tempe Tenggilis Lama

10. Madekan Usaha Tempe Tenggilis Mulya

11. Sholih Usaha Tempe Tenggilis Lama

12. Sofia Usaha Tempe Tenggilis Kauman

13. Alfan Usaha Tempe Tenggilis Kauman

14. H. Kosim Usaha Tempe Raya Tenggilis

15. Selamet Usaha Tempe Tenggilis Mulya

16. Malikan Usaha Tempe Tenggilis Kauman

17. Salim Usaha Tempe Tenggilis Kauman

18. M. Sueb Usaha Tempe Tenggilis Mulya

19. Goni Usaha Tempe Tenggilis Kauman

20. Sumarianto Usaha Tempe Kutisari Utara

21. Sokib Usaha Tempe Tenggilis Kauman

22. Muslik Usaha Tempe Tenggilis Kauman

23. Makin Usaha Tempe Tenggilis Mulya

24. Durwoadi Usaha Tempe Sidesermo IV

25. Mulyono Usaha Tempe Tenggilis Kauman

26. Nur Hasan Usaha Tempe Tenggilis Kauman

27. Nur Qomari Usaha Tempe Tenggilis Kauman

Sumber : Kelurahan Tenggilis Mejoyo Tahun 2009.

Melihat tabel diatas dari jumlah pengusaha kecil yang mengikuti kegiatan penyuluhan kewirausahaan dari 35 pengusaha kecil yang dibina hanya 21 yang mengikuti kegiatan penyuluhan kewirausahaan. Sedangkan pada kegiatan penyuluhan teknologi produksi dari jumlah 35 pengusaha kecil hanya 27 yang mengikuti kegiatan penyuluhan tersebut.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Ya.. itu lah mas.. kendala yang kami hadapi yaitu kurang sadarnya para pengusaha kecil dalam mengikuti kegiatan penyuluhan baik penyuluhan

kewirausahaan maupun teknologi produksi (bintek). Dan sangat sulit mas... menumbuhkan kesadaran tersebut, malahan ada mas.. waktu pelatihan dikasih buku bukan buat nulis malah dibuat kipas-kipas mas..” (Wawancara tanggal 19 Maret 2010)

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh mas Nur Iksan selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

” Kalau saya seh.. mas sering mengikuti kegiatan penyuluhan karena kegiatan tersebut berguna mas.. buat saya karena dapat menambah wawasan serta pengetahuan mas....”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh Ibu Sofia selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Saya sering mas... mengikuti kegiatan tersebut karena kegiatan ini bermanfaat bagi saya sehingga kedepannya dapat mengembangkan usaha mas..”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan mas Sanusi selaku salah satu pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Waduh... saya itu males mas ikut penyuluhan kayak gitu saya lebih mengurusi pekerjaan mas....”

(wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh saudara Muslik selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”saya jarang mas... ikut penyuluhan saya lebih sibuk ngurusi pekerjaan ketimbang ikut penyuluhan.”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Menanggapi hal tersebut Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Ya.. itulah mas... kendalanya dalam kegiatan penyuluhan, kami akan melakukan pendekatan secara personal kepada pengusaha kecil guna mengatasi permasalahan tersebut”

(Wawancara tanggal 24 Maret 2010)

Dari beberapa hasil wawancara di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya di hadapkan pada permasalahan masih kurang sadarnya para pengusaha kecil dalam mengikuti kegiatan penyuluhan, baik penyuluhan tentang kewirausahaan maupun penyuluhan tentsng teknologi produksi. Dari 35 pengusaha kecil yang dibina hanya sebagian saja yang mengikuti kegiatan penyuluhan. Pada kegiatan penyuluhan kewirausahaan peserta yang mengikuti berjumlah 21 pengusaha kecil. Sedangkan pada kegiatan penyuluhan teknologi produksi (bintek) peserta yang mengikuti berjumlah 27 pengusaha kecil.

Dalam hal ini Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya belum mencapai sasaran dalam hal jumlah peserta yang mengikuti penyuluhan hanya sebagaian saja. Melihat permasalahan tersebut Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya melakukan pendekatan secara personal kepada masing-,masing pengusaha kecil di Tenggilis Mejoyo.

4.2.2. Pemasaran

Dari hasil pengamatan di lapangan bentuk pemasaran pengusaha kecil produksi tempe di Kelurahan Tenggilis Mejoyo yaitu dalam bentuk pemasaran secara personal atau individu. Dalam hal ini Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya bertugas memonitoring atau mengawasi jalanya pemasaran pengusaha kecil produksi tempe di Kelurahan Tenggilis Mejoyo. Dalam hal monitoring Dinas Koperasi UMKM bekerja sama

dengan PRIMKOPTI atau Koperasi pengusaha kecil produksi tempe di Tenggilis Mejoyo melalui :

a. Mengadakan survey tiap 3 bulan sekali

b. Mengadakan pertemuan serta memberikan kiat-kiat. a. Mengadakan survey tiap 3 bulan sekali.

Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Pemerintah kota Surabaya dalam segi pemasaran bertugas sebagai monitoring. Salah satu bentuk monitoringnya adalah mengadakan survey tiap tiga bulan sekali hal tersebut berguna untuk mengetahui perkembangan pengusaha kecil dalam memasarkan hasil produksinya.

Mengadakan survey tiap tiga bulan sekali merupakan bentuk nyata yang dilakukan Dinas Koperasi Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya kepada pengusaha kecil khususnya pengusaha kecil produksi tempe di Tenggilis Mejoyo.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Bentuk Pemasaran di Tenggilis Mejoyo ini mas... yaitu dalam bentuk pemasaran secara personal atau individu dan Dinas Koperasi bekerja sama dengan Primkopti. Dalam hal Pemasaran Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya bertugas memonitoring mas... dan bentuk monitoringnya yaitu tiap tiga bulan sekali kami mengadakan survey mas.. gunanya untuk melihat perkembangan pemasaran mas...”

(Wawancara tanggal 19 Maret 2010)

Pendapat yang sama dikemukakan oleh Bapak Nur Qomari selaku Ketua Primkopti unit kerja Tenggilis Mejoyo, beliau mengatakan :

”...ya memang benar mas, kami bekerja sama dengan Dinas Koperasi dalam hal pemasaran. Karena Dinas Koperasi tiap tiga bulan sekali mengadakan survey mas... dan bentuk pemasarannya yaitu secara personal mas... jadi masing-masing pengusaha kecil memasarkan hasil produksinya melalui akses pasar di seluruh kota surabaya mas...”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh mas Nur Iksan selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

”Memang benar mas, saya memasarkan hasil produksi tempe ini sendiri, saya memasarkan dagangan saya ini di Pasar DTC mas.... dari Dinas Koperasi juga sering mengadakan survey mas...tiap tiga bulan sekali” (Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh Ibu Sofia selaku pengusaha kecil produksi tempe, beliau mengatakan :

” ...ya mas, saya memasarkan hasil produksi tempe ini sendiri, saya memasarkan dagangan ini di Pasar DTC. Dinas Koperasi juga sering mengadakan survey tiap tiga bulan sekali mas...”

(Wawancara tanggal 22 Maret 2010)

Menanggapi hal tersebut Bapak Nur Qomari selaku Ketua Primkopti unit kerja Tenggilis Mejoyo, beliau mengatakan :

”Untuk segi pemasaran pengusaha kecil produksi tempe di Tenggilis Mejoyo gak ada permasalahan mas, soalnya para pengusaha kecil produksi tempe berhasil memasarkan hasil produksinya melalui pasar- pasar, bahkan ada juga yang mengambil dari salah satu pengusaha kecil lainnya dan sistemnya setor mas, jadi untungnya bisa jadi lebih banyak. dan untuk tiap tiga bulan sekali Dinas Koperasi mengadakan survey mas...”

(Wawancara tanggal 23 Maret 2010)

Menanggapi hal tersebut Bapak Dwi Widjojo Soewarno, SE, Selaku Staf Bidang Usaha Kecil dan Menengah, beliau mengatakan :

”Dengan melihat keberhasilan pengusaha kecil produksi tempe di Tenggilis Mejoyo dalam memasarkan hasil produksinya mas... Dinas Koperasi lebih meningkatkan sistem monitoringnya atau pengawasannya

jadi Dinas Koperasi lebih rutin mengadakan survey tiap tiga bulan sekali, guna mengetahui kendala yang dihadapi pengusaha kecil .”

(Wawancara tanggal 24 Maret 2010)

Dari beberapa hasil wawancara diatas, bahwa bentuk pemasaran produksi tempe di Tenggilis Mejoyo yaitu dalam bentuk personal atau individu.

Dokumen terkait