• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian yang datanya dianalisi berdasarkan kata-kata ataupun gambar. Penelitian ini bertujuan untuk memahami situasi yang ada di lapangan atau lokasi penelitian, konstruksi sosial terhdapa pendidikan kaum perempuan di Bungku Selatan Kabupaten Morowali.

Melalui jenis penelitian kualitatif deskriptif (qualitative research) peneliti bermaksud untuk menelaah, mendeskripsikan, menggambarkan, serta menjelaskan bagaiman konstruksi sosial terhdapa pendidikan kaum perempuan di Bungku Selatan Kabupaten Morowali. Dengan menggunakan kualitatif deskriptif (qualitative research) diharapkan peneliti dapat menjelaskan rumusan penelitian

secara mendalam dan mudah untuk dipahami.

Salah satu alasan peneliti menggunakan penelitian kualitatif deskriptif yaitu, dengan pendekatan kualitatif deskriptif maka peneliti melakukan penelitian pada latar ilmiah, maksudnya peneliti meneliti dengan melihat kenyataan yang ada dilapangan. Dalam hal ini peneliti mengamatai konstruksi sosial terhdapa pendidikan kaum perempuan di Bungku Selatan Kabupaten Morowali.

Peneliti mengambil pendekatan studi kasus, studi kasus (case study) merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadapa suatu “kesatuan system”.

Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu

yang terikat oleh tempat, waktu, atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang di arahkan untuk menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut. Kasus sama sekali tidak meawakili populasi dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan dari populasi.

Kesimpulan studi kasus hanya berlaku untuk kasus tersebut. Tiap kasus bersifat unik atau memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan kasus lainnya.

Dalam studi kasus digunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan studi documenter, tetapi semuanya difokuskan kearah mendapatkan kesatuan dan kesimpulan (Buku Pedoman Panduan Skripsi 2018 : 19).

Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang ditemukan di banyak bidang, khususnya evaluasi, di mana peneliti mengembangkan analisis mendalam atas suatu kasus, sering kali program, peristiwa, aktivitas, proses, atau satu aktivitas atau lebih. Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti mengumpulkan informasi secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan (Creswell, research design 2017 : 19 )

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Waktu dalam penelitian dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan, yaitu bulan Oktober sampai Desember 2019. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Po’o Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali.

C. Informan Penelitian

Informan penelitian merupakan berbagai sumber informasi yang dapat memberikan data yang diperlukan oleh peneliti dengan cara melakukan wawancara dengan beberapa orang yang di anggap dapat memberikan data atau informasi yang benar dan akurat terhadap yang di teliti.

Hendarso dalam Suyanto (2009:172) mengemukakan ada tiga macam sumber informasi yaitu sebagai berikut :

1. Informasi Kunci (key Informan) yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki informasi pokok dalam penelitian. Dalam hal ini adalah kepala desa.

2. Informan Ahli yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang di teliti dalam hal ini adalah kaum perempuan dan orang tua 3. Informan tambahan yaitu mereka yang dapat memberikan informasi

walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang di teliti.

D. Fokus Penelitian

Adapun fokus penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Proses konstruksi sosial terhadap pendidikan kaum perempuan di Bungku Selatan Kabupaten Morowali.

2. Implikasi dalam konstruksi sosial terhadap pendidikan kaum perempuan di Bungku Selatan Kabupaten Morowali.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan di gunakan untuk mengumpulkan data atau informasi untuk keperluan penelitian Ahmadin (Mugni,

2019) dalam penelitian menggunakan key instrument atau peneliti sendiri dan di bantu dengan alat sebagai berikut :

1. Kamera, suatu alat yang di gunakan untuk mengabdikan atau merekam sebuah fenomena kejadian atau gambar.

2. Pedoman observasi, alat yang berfungsi sebagai lembaran daftar kegiatan-kegiatan yang akan di amati.

3. Pedoman wawancara, alat yang di gunakan untuk mengumpulkan data yang berupa serangkaian pertanyaan yang akan di ajukan kepada informan penelitian untuk mendapatkan jawaban.

F. Jenis dan Sumber Data Penelitian

Data adalah penunjang yang sangat penting dalam sebuah penelitian.

Semakin banyak data yang diperoleh maka semakin bagus pula hasil akhir dari suatu penelitian. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis Data a. Data Primer

Data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung pada objek. Untuk melengkapi data, maka melakukan wawancara secara langsung pada masyrakat yang masuk dalam kategori melalui proses wawancara mendalam, intensif dan langsung, wawancara terikat, observasi dilokasi penelitian, dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disisipkan sebagai alat pengumpulan data.

Sehingga dibutuhkan alat berupa tape perekam, kamera dan buku catatan.

b. Data Sekunder

Data yang diperoleh dari laporan-laporan instansi terkait dalam penelitian ini.Sumber ini dapat berupa buku panduan, disertasi atau tesis, majalah ilmiah, data statistik yang sesuai dengan masalah dalam penelitian ini.

2. Sumber Data

Sumber data diperoleh dari informan penelitian yaitu Informan Kunci, Informan Ahli, Informan Tambahan yang meliputi Kepala Desa, masyarakat dan elemen lain yang ada dalam masyarakat.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sebab bagi penelitian kualitatif deskriptif dapat dimengerti maknanya secara baik apabila dilakukan interaksi dengan subjek melalui penelitian wawancara yang mendalam, observasi, dan dokumentasi dimana fenomena tersebut berlangsung dan disamping itu untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi. Didalam mencari data dalam menyusun penulisan ini digunakan beberapa teknik. Adapun teknik pengumpulan data yang dimaksud yakni:

1. Observasi

Ina Malyadin (Mugni, 2019). Mengemukakan penelitian ini mengadakan observasi penelitian secara partisipan yaitu dengan observasi yang tidak hanya melihat lansung tetapi juga melakukan tindakan yang sama seperti objek penelitian. Observasi ini juga di lakukan dengan cara melihat langsung keadaan di sekitar dan semua hal yang berkaitan dengan masalah penelitian. Dengan

observasi partisipan ini, maka data di perlukan akan lebih lengkap dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Observasi partisipan dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu observasi pasif, moderat, aktif, dan kompleks (Sugiyono, 2018 : 226). Namun yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi pasif, moderat, dan aktif. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :

a. Observasi partisipasi pasif, peneliti dating dilokasi penelitian tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan yang telah dilaksanakan namun hanya melakukan pengamatan dari jauh.

b. Observasi partisipasi moderat, observasi ini meniliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semua.

c. Observasi partisipasi aktif, dalam observasi ini peneliti ikut melaksanakan apa yang dilakukan informan peniliti, tetapi belum menyeluruh.

2. Wawancara

Ina Malyadin (Mugni, 2019) menyatakan wawancara merupakan salah satu cara mengumpulkan data dengan jalan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lisan kepada subjek penelitian. Instrument ini digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai fakta, keyakinan, perasaan, niat dan sebagainya. Wawancara memiliki sifat yang lues, pertanyaan yang dilontarkan dapat sesuaikan dengan subyek sehingga segalah sesuatu yang ingin di ungkapkan dapat di gali dengan baik. Adapun wawancara menurut Estemberg dalam Sugiyono (2017) mengemukakan ada dua jenis wawancara yaitu wawancara terstruktur dan tidak terstruktur diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Wawancara terstruktur (strukter interview), digunakan sebagai teknik pengumpulan bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan di peroleh (terarah). Oleh karena itu, dalam melakukan wawancara, pewawancara telah menyiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabanya pun telah disediakan.

b. Wawancara tidak terstruktur (instrutured interview), merupakan wawancara yang bebas dan peneliti tidak memiliki pedoman wawancara, yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data. Pedoman wawancara digunakan berupa garis-garia serupah yang akan di tanyakan.

Penjelasan tersebut di atas dapat juga ditarik kesimpulan bahwa dari kedua jenis wawancara di atas terkait dengan teknik wawancara maka peneliti akan dapat melakukan wawancara sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari wawancara. Karena dari ke dua jenis wawancara tersebut bisa memberikan hasil dan tidak akan membingungkan peniliti maka ketika akan turun kelapangan dan itulah yang akan menjadi pedoman yang di pegang oleh peneliti.

3. Dokumentasi

Menurut Louis Gottschalk dalam Ina Maliyadin (Mugni, 2019) pengertian kata dokumen sering kali digunakan para ahli dalam dua pengertian, yang pertama adalah sumber tertulis bagi informasi sejarah sebagai kebalikan dari pada kesaksian lisan, atefak, peninggalan terlukis, dan pertilasan-pertilasan arkeologis.

Dari beberapa pengulasan teknik di atas maka dapat di tarik kesimpulan dokumentasi merupakan sumber data yang digunakan yang dilengkapi, baik

berupa sumber tertulis, film, gambar (foto), dan karya-karya monumental, yang semua itu memberikan informasi bagi proses penelitian.

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang di gunakan oleh peneliti adalah mengacu pada konsep Merriam (1988) dan Marshall dan Rosman (1989) dalam buku Creswell (2017:281) yaitu interactive model yang mengklasifikasikan analisis data menjadi tiga bagian yaitu:

1. Data Reduction (Reduksi Data), semua data yang di peroleh dilapangan akan ditulis dalam bentuk uraian secara lengkap dan banyak. Kemudian data tersebut direduksi yaitu data dirangkum, membuat kategori, memilih hal-hal yang pokok dan penting yang berkaitan dengan masalah. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dari hasil wawancara dan observasi.

2. Data Display (Penyajian Data), setelah melakukan reduksi data, peneliti selanjutnya melakukan tahap ke dua yakni penyajian data dimana data dan informasi yang sudah diperoleh dilapangan dimasukkan ke dalam suatu bentuk table.

3. Condusion drawing/verification (menarik kesimpulan/verifikasi) setelah penyajian data, peneliti kemudian menginterpretasi atau menyimpulkan data-data atau informasi yang telah diperoleh dan disajikan. Penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari analisis data untuk menganalisis hal-hal yang masih perlu diketahui mengenai data-data yang telah diperoleh di lapangan, informasi yang perlu dicari dan kesalahan yang harus diperbaiki.

I. Teknik Keabsahan Data

Penelitian kualitatif harus mengungkapkan kebenaran kebenaran yang objektif. Karena itu keabsahan data dalam sebuah penelitian kualitatif sangat penting. Melalui keabsahan data kredibilitas (kepercayaan) penelitian kualitatif dapat tercapai.

Dalam penelitian ini untuk mendapatkan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Adapun tringulasi adalah teknik pemeriksa keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecetan atau sebagai pembandingan terhadap data itu (Meleong, 2003: 330).

1. Triangulasi Sumber, untuk mengkaji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah dianalisis sehingga menghasilkan kesimpulan kemudian dimintakan kesepakatan dengan sumber data (Tu’nas Fuaidah, 2011).

2. Triangulasi Teknik, menguji keredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebenaran data, bila data yang dihasilkan berbeda, peneliti kemudian melakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data. Tu’nas Fuaidah (2011).

3. Triangulasi Waktu, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara melakukan telaah wawancara, observasi atau teknik lain kepada sumber data yang berbeda, maka di lakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya Tu'’as Fuaidah (2011).

45

Kabupaten Morowali merupakan kabupaten yang terletak di selatan provinsi Sulawesi Tengah. Nama Morowali sendiri diambil dari nama sebuah cagar budaya tempat berdiamnya suku To Wanaa yang merupakan suku pedalaman asli di kabupaten Morowali. Morowali yang berarti “gemuruh air”. Morowali merupakan salah satu daerah yang dilahirkan pasca reformasi. Mekar sebagai daerah otonom yang terbentuk secara bersamaan dengan dua kabupaten lainnya.

Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 51 tahun 1999 tentang pembentukan kabupaten Buol, Banggai Kepulauan, dan Morowali. Dinamika perjuangan untuk melahirkan kabupaten Morowali sudah lama tumbuh dan menggelora di hati masyarakat. Aspirasi tersebut terus berkembang yang kemudian sampai pada tingkat lahirnya kemampuan politik dari wakil-wakil rakyat di lembaga DPRD dengan di cetuskannya Resolusi DPRD-GR Provinsi Sulawesi Tengah nomor : 1/DPRD/1966 yang isinya meminta kepada pemerintah pusat agar provinsi Sulawesi Tengah dimekarkan menjadi 11 daerah otonom tingkat II, yaitu 2 kotamadya dan 9 kabupaten, salah satu diantaranya adalah kabupaten Morowali (pada saat itu masih disebut Mori Bungku).

Sebelumnya Morowali merupakan bagian dari wilayah kabupaten Poso yang membentang dari arah tenggara ke barat dan melebar ke bagian timur Pada tanggal3 november 1999 daerah ini resmi berpisah dari kabupaten Poso dan

membentuk wilayah administrasi sendiri dengan nama kabupaten Morowali, dengan ibu kota di Bungku. Terbentuknya Kabupaten Morowali saat ini merupakan hasil dari dinamika politik dan perkembangan sejarah.

Perang antara suku dan kerajaan di mana kedudukan antara To Mori dan To Bungku yang sering mendapat serangan dari suku-suku terdekat dan

kerajaan-kerajaan besar seperti Kerajaan Luwu menguatkan dorongan solidaritas di antara keduanya. Kerajaan Mori sering mengirim bantuan pada kerajaan Bungku, sebaliknya kerajaan Mori dan Bungku seringkali terlibat dalam praktek perdagangan tingkat longkal misalnya, To Bungku yang datang melakukan pertukaran barang dagangan berupa hasil ladang, ternak, dan pangan di pasar masyarakat Mori.

Penyatuan dalam satu pemerintahan terjadi melalui serangan tentara Belanda ke pemukiman masyarakat pedalaman yang tinggal di daerah-daerah pesisir, seperti yang terjadi terhadap masyarakat Taa Wana Posangke yang di pindahkan dari pedalaman ke daerah pesisir meliputi Taronggo dan Lemo yang sekarang disebut kecamatan Bungku Utara. Serangan Belanda ini telah berperan besar dalam membagi daratan Morowali dalam penyebaran tiga suku besar yaitu To Bungku, yang banyak mendiami wilayah Bungku Tengah, Bumi Raya, hingga

Bungku Selatan. Dalam sebuahPetasia hingga Mori Atas. Pada bagian utara wilayah pegunungan Mamosalato hingga Baturube dihuni oleh suku asli Tau Taa Wana. Selain tiga suku besar ini, terdapat juga suku pendatang yang sudah turun temurun mendiami wilayah Morowali, yaitu Buton, Ternate, Bugis, Toraja, yang disusul kemudian masyarakat transmigrasi Jawa, Lombok, dan Bali.

Konflik perebutan ibu kota dimana penempatan sementara waktu ibu kota Morowali di Kolonedale telah mendorong demonstrasi besar-besaran masyarakat Bungku pada bulan september tahun 2001 yang mendesak Pemerintah Kabupaten untuk merealisasikan salah satu amanat Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999 yakni penempatan ibu kota di Bungku. Sebaliknya, kelompok yang ingin mempertahankan ibu Kota di Kolonedale tampil berjuang agar ibu kota tetap di sana. Polemik perebutan ibu kota ini mendorong lahirnya wacana pemekaran kabupaten baru.

Saat proses pemindahan, inisiatif pemekaran akhirnya dilakukan dengan menggunakan sentimen pembagian wilayah berdasarkan sejarah teritori kesukuan antara Mori dan Bungku. Akhirnya pada tahun 2013, DPR RI mengesahkan usulan pemekaran itu melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2013 tentang pembentukan Kabupaten Morowali Utara. Kemudian, Kabupaten Morowali resmi di mekarkan menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Morowali dan Kabupaten Morowali Utara.

2. Kondisi Geografis Dan Iklim a. Kondisi Geografis

Kabupaten Morowali memiliki luas 5472 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 113.132 jiwa . Laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,09 %, dengan kepadatan penduduk rata-rata 48 jiwa per km2. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat kabupaten Morowali mempunyai pekerjaan yang beraneka ragam, namun pekerjaan yang paling dominan adalah petani dan nelayan.

Dengan ibu kota Kabupaten yang terletak di Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali yang wilayahnya berupa daratan, pegunungan, lembah, dan juga berupa pulau-pulau kecil memiliki . Batas-batas wilayah sebagai berikut : 1. Sebelah Barat Laut berbatasan dengan wilayah Morowali Utara.

2. Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Sulawesi Selatan.

3. Sebelah Barat Daya berbatasan dengan wilayah Sulawesi Selatan.

4. Sebelah Timur Laut berbatasan dengan wilayah Sulawesi Tenggara.

Secara administratif kabupaten Morowali terbagi menjadi 9 kecamatan, 126 kelurahan, dan 7 desa. Kecamatan-kecamatan tersebut terdiri dari :

1. Kecamatan Menui Kepulauan.

Kabupaten Morowali merupakan daerah tropis yang memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Tahun 2013 curah hujan rata-rata terendah berkisar 2.280 mm, dan tertinggi 3.513 mm, wilayah Morowali tergolong

iklim A atau sangat basah dengan suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25,80 derajat Celcius sampai 28,40 derajat Celcius.

3. Topologi, Geologi dan Hidrologi a. Topologi

Kabupaten Morowali merupakan daerah dataran rendah dan tinggi dengan ketinggian antara 1,0 m sampai 20 m dari permukaan laut dan kemiringan tanah 0,00% (Datar). Seluruh wilayahnya dikelilingi oleh laut. Kondisi ini menyebabkan tanah daerah ini mengandung garam. Tingkat keasinan tanah di sana mencapai ph 3-5. Akibatnya, air tanah tidak dapat dikonsumsi masyarakat, karena mengandung garam.

Kandungan senyawa tersebut kurang baik untuk kesehatan. Bambu merupakan pohon yang amat dominan dijumpai di wilayah ini, sedangkan hutan primier tidak ada.Di daerah ini dijumpai juga beberapa jenis fauna yang hidup dan bisa kita temui, diantaranya beberapa jenis ikan laut seperti ikan kaka, .ikan sunu, ikan Manori dan kepiting. Ikan-ikan tersebut hidup di laut atau yang dibudidayakan oleh masyarakat Morowali. Jenis reftil yang ada di daerah ini seperi biawak.

b. Geologi

Secara geologi Kabupaten Morowali mempunyai kondisi geologi yang kompleks, di sebabkan kawasan ini merupakan tempat tumbukan aktif dari tiga lempeng (triple junction) antara lempeng Hindia-Australia, Samudera Pasifik dan Eurasia yang sangat erat hubungannya dengan perkmbangan tektonik sejak Paleozoikum hingga kuarter . Daerah ini merupakan interaksi antara geologi

Banggai-Sula sebagai bagian dari benia kecil yang berasal dari pecahan benua Australia.

Batas dan luas wilayah secara administratif Kabupaten Morowali memiliki batas wilayah arah perbatasan wilayah Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Morowali Utara, Selatan Berbatasan dengan Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara, Timur berbatasan dengan perairan Teluk Tolo dan Kabupaten Banggai dan Barat berbatasan dengan wilayah Sulawesi Selatan. Luas daerah Kabupaten Morowali diperkirakan kurang lebih 5472 atau sekitar 8,8 persen dari luas daratan provinsi Sulawesi Tengah.

c. Hidrologi

Air sebagai sumber penghidupan udara bagi makhluk hidup, termasuk manusia cukup tersedia di Kabupaten Morowali karena Seluruh wilayahnya dikelilingi oleh laut. Kondisi ini menyebabkan tanah daerah ini mengandung garam. Tingkat keasinan tanah di sana mencapai ph 3-5. Akibatnya, air tanah tidak dapat dikonsumsi masyarakat, karena mengandung garam, kandungan senyawa tersebut kurang baik untuk kesehatan.

4. Keadaan Demografis

Kabupaten Morowali terletak di selatan provinsi Sulawesi Tengah.

Kabupaten Morowali memiliki luas 5472 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 113.132 jiwa . ibu kota kabupaten yang terletak di kecamatan Bungku Tengah, kabupaten Morowali yang wilayahnya berupa daratan, pegunungan, lembah, dan juga berupa pulau-pulau kecil memiliki.

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Morowali Sumber : RTRW Kab Morowali.

B. Deskripsi Khusus Lokasi Penelitian 1. Sejarah Desa Po’o

Desa Po’o adalah Desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali, Desa ini merupakan sebuah pulau yang berada tepat disamping Kecamatan Bungku Selatan. Sejak berdirinya Desa Po’o pertama kali dibawah pimpinan Bapak Kepala Desa pertama yaitu Bapak Burhanudin K yang sejak tahun 2005 beliau membangun Desa Po’o sehingga dapat setara dengan Desa-Desa yang lain.

Desa yang memiliki 5 (lima) Dusun ini memiliki akses + 1145,58 Km dari Ibu Kota Kabupaten dan Provinsi atau jarak tempuh sekitar + 24 jam dengan kendaraan Perahu Motor. Desa Po’o adalah Desa yang penduduknya 100%

beragama Islam, dan suku yang mendiami Desa Po’o didominasi asli pribumi yaitu Po’o, meskipun juga terdapat sebagian kecil penduduknya adalah suku Bajo, Bungku, Buton, dan Kaili. Rata-rata pencarian penduduk Desa Po’o adalah Nelayan hal ini dikarenakan letak geografis wilayah Desa Po’o berada ditengah

laut dan merupakan sebuah pulau yang memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang perikanan dan kelautan. Selain nelayan mata pencaharian lain penduduk Desa Po’o adalah Petani, Wiraswasta dan Pegawai Negeri Sipil.

Desa Po’o memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang Parawisata, ini dikarenakan wilayahnya yang terbilang strategis yakni berada disebuah pulauyangbernama Po’o potensi wisata yakni wisata pulau, taman laut, situs, sejarah bahari dan memiliki keaneka ragaman hayati yang tentu bisa memanjakan mata para wisatawan yang berkunjung dipulau ini.

No Periode Nama Kepala Desa

1. 2004 s/d 2010 Burhanudin K

2. 2010 s/d 2015 Haekal M

3. 2015 s/d 2019 Abdul Muin

Tabel : 4.1 Nama-nama Kepala Desa Po’o a. Letak Wilayah

Desa Po’o memiliki luas wilayah yang tidak terlalu besar, Desa Po’o jika menilik ke Desa lainnya yang terdapat di Kecamatan Bungku Selatan adalah menjadi salah satu desa yang memiliki wilayah administrate terkecil. Namun demikian, dengan tidak terlalu besarnya wilayah yang harus dikembangkan oleh Pemerintahan Desa Po’o maka hal itu dirasa akan cukup membantu dalam meningkatkan potensi yang terdapat di Desa Po’o pada masa ke masa.

Secara geografis Desa Po’o merupakan salah satu Desa di Kecamatan Bungku Selatan yang mempunyai luas wilayah mencapai 5,87 Km2. Dengan jumlah penduduk Desa Po’o sebanyak 289 Jiwa. Desa Po’o merupakan salah satu

Desa dari 3 (tiga) Desa yang ada di kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali, Desa Po’o berada pada ketinggian ± 120 mdpl (02° 38’ 10,8" LS 118°

53’ 14,85” BT) dan curah hujan 114 HH/Tahun, rata-rata suhu udara 28° - 32°

Jumlah luas tanah Desa Po’o seluruhnya mencapai 5,87 Km2 dan terdiri dari tanah Perkebunan, Hutan bakau. Tegalan dan Pekarangan dengan rintian sebagai berikut :

 Tanah Perkebunan : 42 Ha

2. Tingkat Pendidikan

Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat kesejahteraan

Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat kesejahteraan