• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Proses Konstruksi Sosial Terhadap Pendidikan Kaum Perempuan Di Bungku Selatan Kabupaten Morowali

Pendidikan merupakan suatu uasaha sadar yang dilakukan secara sistematis dalam mewujudkan suasana belajar-mengajar agar para peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Dengan adanya pendidikan maka seseorang dapat memiliki kecerdasan, akhlak mulia, kepribadian, kekuatan spiritual, dan keterampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Pendidikan untuk perempuan menjadi salah satu isu penting dalam upaya peningkatan kualitas suatu bangsa. Hal ini disebabkan pendidikan yang pertama dan utama adalah di lingkungan keluarga. Di lingkungan keluarga ini, ibu menduduki peran utama dalam pendidikan anak. Dengan demikian, pendidikan perempuan secara tidak langsung mempersiapkan generasi-generasi suatu bangsa di masa depan.

Desa Po’o merupakan Desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali, Desa ini merupakan sebuah pulau yang berada tepat disamping Kecamatan Bungku Selatan. Di Desa ini pendidikannya mulai merata di bandingkan tahun-tahun sebelunya. Banyak hal yang menjadi penyebab desa tersebut ketinggalan terhadap pendidikannya.

Bagi penduduk yang tinggal di daerah ini merasa bahwasannya pendidikan merupakan suatu hal yang mewah, karena pendidikan identik dengan mahalnya biaya yang dikeluarkan. Selain itu, minimnya sarana dan prasarana juga menjadi salah satu faktor tidak meratanya pendidikan di daerah tersebut.

Pendidikan yang seharusnya menjadi perhatian penting dalam masyarakat yang pada hal ini sesuai dengan tujuan Millenium Development Goal’s adalah satu program yang seharusnya diprioritaskan pada masyarakat pesisir, namun hal ini yang terjadi pada masyarakat desa po’o menjadi tujuan sampingan yang ada pada pola atau pemikiran masing-masing keluarga, hal ini terbukti dengan tingkat pendidikan yang rendah, rata rata tingkat pendidikan masyarakat pesisir berhenti sampai batas SMP atau SMA saja khususnya bagi kaum perempuan.

Dari data hasil wancara dan observasi proses konstruksi sosial terhadap pendidikan kaum perempuan di Bungku Selatan Kabupaten Morowali diperoleh data bahwa masih ada beberapa orang tua yang berpikiran bahwa pendidikan bagi perempuan itu tidak penting karena ujung-ujungnya akan mengurus rumah tangga.

Akan tetapi banyak juga para orang tua yang sudah sadar akan pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Pendidikan bagi kaum perempuan di Desa Po’o Bungku Selatan Kabupaten Morowali sudah mulai ada kemajuan dengan berubahnya pola pikir para orang tua akan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Selain itu sarana dan prasarana pendidikan berupa sekolah dan tenaga pendidik terus dibenahi oleh pemerintah setempat.

Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang relevan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Nasir (2017) Persamaan Hak Partisipasi Wanita Dalam Pendidikan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan adalah hak setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mendiskriminasikan pendidikan perempuan. Sehubungan dengan itu maka budaya-budaya dan segala hal yang menghambat kesempatan kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilanya.

Dari hasil wawancara, observasi dan hasil penelitian yang relevan dapat disimpulkan bahwa pendidikan untuk perempuan merupakan hal yang penting dan perempuan memiliki persamaan hak dalam memperoleh pendidikan. Sama halnya

di Desa Po’o masyarakat di sana sudah mulai banyak yang sadar akan pentingnya pendidikan untuk perempuan.

Setelah ditelusuri lebih dalam Melalui Hasil Observasi dan Wawancara yang dilakukan Oleh penulis terhadap Nara Sumber/Responden Penelitian dapat disimpulkan bahwa proses konstruksi terhadap pendidikan kaum perempuan di Desa Po’o yaitu, pertama Ekonomi, ekonomi adalah faktor penunjang/pendukung dilaksanakanya pendidikan. Sebab Ekonomi merupakan persoalan yang utama bagi seseorang maupun kelompok orang yang diukur secara ekonomi sangat terbatas dalam biaya pendidikan, terlebih lagi sekarang biaya pendidikan sudah semakin tinggi sehingga tidak bisa dijangkau oleh masyarakat pedesaan yang masih tergolong masyarakat kurang mampu (miskin), dan sesungguhnya inilah yang menyebabkan banyak anak yang berhenti untuk bersekolah dan memilih untuk melaut untuk membantu orang tuanya.

Ekonomi menjadi penyebab terhambatnya pendidikan di Desa Po’o karena untuk menjangkau atau melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi para anak-anak di desa ini haru ke kecamatan karena hanya disana ada sekolah dan itu pastinya membutuhkan baiaya yang lumayan banyak. Untuk mencapai sekolah tersebut para siswa harus menggunakan atau naik perahun untuk bisa sampai kesana. Hal itulah yang kemudian menyebabkan banyak anak putus sekolah terutama pada anak perempuan yang dianggap bahwa pendidikan untuk kaum perempuan tidaklah penting.

Kedua, Kesadaran Orang Tua Tentang Arti Pendidikan, Seperti yang kita ketahui bahwa sebagian kecil masyarakat di Indonesia khususnya pada

masyarakat pedesaan beranggapan kalau pendidikan Merupakan tempat untuk memperoleh pekerjaan dan adapula masyarakat beranggapan bahwa pendidikan itu tidak penting karena walaupun anak sekolah sampai tinggi-tinggi tapi pada akhirnya juga menjadi pengangguran atau buruh kasar. Pendapat seperti ini sangat keliru sebab pendidikan itu sebenarnya merupakan tempat untuk membentuk pribadi, sumber daya dan Pengetahuan Pendidikan Manusia.

Kesadaran orang tua yang ada di Desa Po’o tentang pendidikan bagi kaum perempuan memang sudah mulai ada perubahan akan tetapi masih ada orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu tidak penting bagi perempuan karena perempua itu hanya akan mengurus rumah. Akan tetapi dengan seiring perkembangan zaman sudah ada orang tua yang mulai sadar akan pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Berdasarkan hasil Wawancara dan observasi lapangan yang di lakukan oleh penulis dapat disimpulkan kesadaran orang tua terhadap konstruksi sosial terhadap pendidikan kaum perempuan di Bungku Selatan Kabupaten Morowali pendidikan untuk kaum perempuan masih kurang. Akan tetapi sebagian orang tua yang ada di Desa Po’o sudah mulai sadar akan pentingnya pendidikan untuk perempuan sebagai bekal untuk masa depan. Masih ada orang tua yang berpikir bahwa pendidikan hanya untuk laki-laki saja karena laki-laki nantinya akan menjadi kepala keluarga dan mencari nafkah sedangkan perempuan hanya akan tinggal dirumah untuk mengurus rumah.

Hasil wawancara dan observasi yang di dapatkan oleh peneliti di lapangan sama halnya dengan penelitian relevan yang dilakukan oleh Warisno (2016)

dengan judul Konstruksi sosial. Hasil penelitiannya dalam masyarakat yang selama ini diteguhkan adalah konsep stereotype tentang perempuan yakni sebagai pekerja rumah tangga (domestik) dan laki-laki adalah pencari nafkah/pekerja di luar rumah (publik).

Dari hasil wawancara observasi dn hasil penelitian relevan oleh Warisno (2016) dengan judul Konstruksi sosial, dapat disimpulkan bahwa pandangan orang tua di Desa Po’o terhadap pendidikan untuk perempuan tidak peting.

Pendidikan hanya untuk laki-laki karena laki-laki yang akan mencari nafkah dan perempuan hanya akan mengurus rumah jadi tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Dalam sosiologi pengetahuan atau konstruksi sosial yaitu, manusia dipandang sebagai pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana kenyataan objektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses internalisasi. Lewat teori konstruksi soaial, Berger dan Luckmann menaruh perhatiannya pada kajian mengenai hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu timbul, berkembang dan dilembagakan.

Berger dan Luckmann berpandangan bahwa kenyataan itu dibagun secara sosial, sehingga sosiologi mpengetahuan harus menganalisis terjadinya hal itu

Pada dasarnya, Teori Konstruksi sosial adalah tinjauan historis mengenai perkembangan disiplin ilmu. Oleh karena itu, teori ini tidak memokuskan kepada hal-hal semacam tinjauan tokoh, pengaruh dan sejenisnya, tetapi lebih menekankan kepada tindakan manusia sebagai aktor yang kreatif dari realitas sosial. mengenai hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu timbul, berkembang dan dilembagakan. Berger dan Luckmann

berpandangan bahwa kenyataan itu dibagun secara sosial, sehingga sosiologi mpengetahuan harus menganalisis terjadinya hal itu.

2. Implikasi Dalam Konstruksi Sosial Terhadap Pendidikan Kaum Perempuan Di Bungku Selatan Kabupaten Morowali

Pendidikan adalah hak yang sama anatar laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, jauh sebelumnya mengalami ketimpangan. Ketertinggalan perempuan dalam hal perlu diatasi secarav terus menerus, sebab pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Oleh karena itu budaya dan segala yang menhambat kesempatan kaum perempuan untukm memperoleh pendidikan.

Fenomena pendidikan bagi perempuan, masih di hadapkan pada suatu realitas yang menunjukkan bahwa perempuan sangat jauh tertinggal dalam peradaban keilmuan. Pada realitanya perempuan memiliki peran ganda yakni peran dosmetik dalam mengurus rumah tangga dan mengasuh anak-anak, serta peran publik ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

Fenomena ketimpangan ganda terdapat pada masyarakat Desa Po’o di desa ini terdapat fenomena konstruksi sosial terhadap pendidikan kaum perempuan.

Masyarakat Desa Po’o cenderung mengedepankan laki-laki dari pada perempuan.

Laki-laki selalu diposisikan sebagai pihak yang diuntungkan. Mereka bisa menentuka apapun berdasarkan pola pikir mereka. sementara perempuan justru kebalikan dari laki-laki. Hal ini berdampakm pada otonomi perempuan dalam pendidikan, laki-laki memilih sedangkan perempuan pasif. Laki-laki dianggap penting karena akan menjadi kepala keluarga sedangkan perempuan tidak, maka dari itulah pendidikan bagi kaum perempuan tidaklah penting.

Implikasi dalam konstruksi sosial terhadap pendidikan kaum perempuan memiliki berbagai dampak. Berdasarkan dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di Desa Po’o Bungku Selatan Kabupaten Morowali ada dua dampaknya yang pertama yaitu dampak positif berupa dapat membatu meningkatkan perekonomian keluarga. Perempuan yang memiliki pendidikan yang tinggi maka akan dengan mudah untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan dapat membatu orang tua dan keluarganya untuk mencari nafkah.

Selain dampak postif yang di dapatkan peneliti dari hasil observsi dan hasil wawancara dampak kedua yaitu dampak negatif. Adapun dampak negatifnya yaitu perubahan prilaku, artinya perempuan yang harusnya hanya ada dirumah mengurus rumah tangga jika sudah bekerja maka akan lebih banyak berada diluar rumah dan dampak yang paling buruknya jika pekerjaannya banyak maka pekerjaan yang ada dirumah akan terbengkalai.

Harapan saya terhadap permasalahan pemerataan pendidikan adalah pendidikan dapat dilaksanakan secara merata, lebih maksimal, optimal, dan tidak hanya untuk perekonomian kalangan menengah ke atas saja, tetapi juga untuk kalangan perekonomian menengah ke bawah. Pendidikan juga merupakan hak untuk semua warga negara karena mereka juga berhak memperoleh pendidikan yang layak. Oleh karena itu seiring dengan berkembangnya suatu bangsa, pendidikan sudah pasti akan mempengaruhi sumber daya manusia sehingga dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas..Maka dari itu pendidikan adalah salah satu tombak negara untuk mencapai cita-cita bangsa.

88 A. Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan hasil pembahasan dari penelitian ini, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa

Berdasarkan hasil pembahasan penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Proses Konstruksi sosial terhadap pendidikan bagi kaum perempuan yang ada di Desa Po’o Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali disebabkan oleh persoalan ekonomi dan kesadaran orang tua. Persoalan ekonomi menjadi penyebab terhambatnya pendidikan untuk kaum perempuan karena diperlukan banyak baiya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi sedangkan pekerjaan yang masyarakat Desa Po’o seabagian besar adalah nelayan dan hanya cukup untuk memenuhi biaya kehidupan sehari-hari. Kemudian yang dua adalah kesadaran orang tua. Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan bagi perempuan tidaklah peting karena nantinya hanya akan mengurus rumah tangga. Lain halnya dengan laki-laki ia harus sekolah tinggi-tinggi karena nantinya ia akan menajadi kepala rumah tangga dan mencari nafkah.

2. Implikasi dalam konstruksi sosial terhadap pendidikan kaum perempuan di Desa Po’o memiliki dua implikasi yaitu positif dan negatif. Impilikasi dari segi positifnya sendiri dapat membantu perekonomian orang tuanya sedangkan darin implikasi negatifnya adanya perubahan perilaku yang terjadi pada anak

perempuan ketika sudah berendidikan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang layak.

B. Saran

1. Diharapkan kepada pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat, hendaklah mengupayakan adannya sosialisasi atau pelatihan tentang system pendidikan agar supaya penddikan dalam Desa dapat diperoleh oleh setiap laki-laki maupun perempuan, sehingga mampu membuat perekonomian masyarakat lebih meningkat.

2. Berkaitan dengan peningkatan Pendidikan kaum perempuan terhadap Pendidikan anak perempuan dan laki-laki, diadakan sosialisasi oleh aparat pemerintahan tentang kependidikan tinggi di daerah tersebut, agar seluruh masyarakat paham dan sadar akan pendidikan.

90

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Abdurrahman saleh. 2009. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qu’ran. Jakarta : Rineka Cipta.

Budiati, Catur, Atik. (2010). Aktualisasi Diri Perempuan dalam Sistem Budaya Jawa (Persepsi Perempuan Terhadap nilai-nilai Budaya Jawa dalam Mengaktualisasikan Diri). Jurnal Pendidikan Sosiologi. 3 (1). 51-59.

Bungin, M. Burhan. (2009). Kontruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana Christiany Juditha, (2017). Gender Dan Seksualitas Dalam Konstruksi Media

Massa. Makassar: Kementrian Komunikasi Dan Informatika RI.

Creswell W, John. (2017). Research Design (Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dwisetyani, Rosyidah. (2017). Gender and Productive Healthy Study : Folicy Brief No.

Fakih, Mansour. (2009). Analisis Gender dan Transformasi. Jakarta: Grasindo.

(2010). Analisis Gender dan Transformasi. Jakarta: Grasindo.

Faiqoh. (2009). Nyai Agen Perubahan di Pesantren. Jakarta: Kucita.

Fuadah Tu’nas (2011). Metode Penelitian Triangulasi. (Online), (Http://8tunas8.

Wordpress. Com Di Akses 5 Juli 2019).

Idi Abdullah & Safarina, (2016), Sosiologi Pendidikan Individu Masyarakat dan Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Intan Devi Orlita Sari, (2018). Konstruksi Sosial Siswa Sekolah Berbasis Islam Tentang Relasi Gender Dalam Pendidikan. Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum Universitas Negeri Surabaya.

Mugni, (2019). Eksistrensi Larangan Pernikahan Suku Mandar Atas Dasar Perbedaan Geografis (Studi Kasus Masyarakat Desa Bababulo Kecamatan Pamboang). Skripsi Tidak Di Terbitkan. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.

Nasir. ( 2017). Persamaan Hak Partisipasi Wanita dalam Pendidikan. Skripsi : Tidak di Terbitkan.

Ngangi. (2013). Kontruksi Sosial dalam Realita Sosial. Skripsi : Tidak di Terbitkano.

Nursalam & Syarifuddin, (2014), Teori Sosiologi. Yogyakarta: Writing Revolution.

Nove Hardiani, (2015). Konstruksi Gender Di Kalangan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Mulawarman. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman.

Rati Probosiwi, (2015). Perempuan Dan Perannya Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Yogyakarta: Kementrian Sosial RI.

Rosilawati. (2012). Perempuan dan Pendidikan: Refleksi Atas Pendidikan Berperspektif Gender. Skripsi: Tidak di Terbitkan.

Robiansyah. (2015). Kontruksi Realitas Kaum Perempuan dalam Film “Wanita tetap Wanita. Skripsi : Tidak di Terbitkan.

Soekano Soerjono, (2009), Sosiologi Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta.

Suyatno, (2009). Urgensi Pendidikan Karakter. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Kementrian Nasional. http://Konselingindonesia.com.

Sugiyono, (2018). Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Alif Beta Bndung.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Syarifuddin, Achmad. (2007). Peran Strategi Kaum Perempuan Dalam Mewujudkan Masyarakat Religi. Jurnal Kajian Gender dan Anak. 12 (1) : 21-32.

Tim Penyususn Pendidikan Sosiologi. (2018). Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi. Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Unversitas Muhammadiyah Makassar.

Warisno. (2016). Persepsi Islam tentang Pendidikan bagi Perempuan yang Berkeadilan. Skripsi : Tidak di Terbitkan.

Falcioni (2006). Partisipasi Perempuan dalam Bidang Sains dan Teknik bahwa Kaum Perempuan masih menjadi Minoritas.

L A M

P

I

R

A

N

melakukan wawancara dengan informan atau narasumber yang sengaja dipilih oleh untuk menjadi sampel yang bisa mewakili populasi yang ada. Informan dalam penelitian ini terdiri dari Kepala Desa, kaum perempuan dan orang tua (Masyarakat).

Data informan tersebut sebagai berikut : a. Abdul Muin

Abdul Muin, lahir di Bungku Selatan 22 Januari 1977. Beliau adalah Kepala Desa di Desa Po’o Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali. Beliau berusia 43 tahun dan tinggal di Desa Po’o 3. Bapak Abdul Muin menjadi salah satu informan yang mengetahui banyak mengenai masyarakat Desa Po’o terutama tentang pendidikan bagi perempuan.

b. Nur Fadilah

Nur Fadilah, lahir di Bungku Selatan 05 Mei 1997, ia adalah salah satu masyarakat dan kaum perempuan Desa Po’o berusia 23 tahun dan tinggal di Desa Po’o 5. Nur Fadilah menjadi salah satu informan dalam penelitian ini.

c. Siti Salmiah

Siti Salmiah, lahir di Bungku Selatan, 30 Desember 1975. Ia salah satu masyarakat Desa Po’o yang tinggal di Desa Po’o 5. Ia berusia 45 tahun dan terlibat dalam penelitian ini.

PEDOMAN OBSERVASI Nama : Aswan Nim : 10538318515 Judul Penelitian : Konstruksi Sosial Terhadap Pendidikan Kaum Perempuan di Bungku Selatan Kabupaten Morowali 1. Identitas Observasi a.Informan yang diamati : Pemerintah Desa Nama : Abdul Muin Umur : 45 Tahun Jabatan : Kepala Desa Alamat : Desa Po’o 3 b. Hari dan tanggal : Senin, 07 Oktober 2019 c.Waktu : Jam 09.00- selesai 2. Aspek yang diamati : Konstruksi Sosial Terhadap Pendidikan Kaum Perempuan Di Bungku Selatan Kabupaten Mo

NoAspek yang di amatiObservasi Keterangan YaTidak 1. LetakGeografis Lokasi Penelitiandi Desa Po’o Kecamatan Morowali Kabupaten Morowali  2. SejarahBerdirinya di Desa Po’oKecamatan Morowali Kabupaten Morowali  3. Visi Misi danTujuandi MangguguDesa Tampo Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang 4. Struktur Organisasi di Desa Po’oKecamatan Morowali Kabupaten Morowali  5. Ada FasilitasKegiatanMasyarakatdi Desa Po’o Kecamatan Morowali Kabupaten Morowali Enrekang 6. KeadaanMasyarakatdi di Desa Po’oKecamatan Morowali Kabupaten Morowali  7. Ada BatasdanTata LetakWilayahdi Desa Po’o Kecamatan Morowali Kabupaten Morowali  8. Tata LetakBangunandi Desa Po’oKecamatan Morowali Kabupaten Morowali  9. Ada Sarana dan Prasarana Pendidikan di Desa Po’o Kecamatan Morowali Kabupaten Morowali 

10. Keadaan Pendidikan Kaum Perempuan di Desa Po’o Kecamatan Morowali Kabupaten Morowali  11. Ada Sarana dan Prasarana Kesehatan di Desa Po’o Kecamatan Morowali Kabupaten Morowali  12. Ada Sarana dan Prasarana Keagamaan di Desa Po’o Kecamatan Morowali Kabupaten Morowali  13. Ada Sarana danPrasarana Kegiatandi Desa Po’o Kecamatan Morowali Kabupaten Morowali  14. Situasi danKondisi KehidupanSehari-hari Masyarakatdi Desa Po’oKecamatanMorowali Kabupaten Morowali

 Makassar, 25 Okto Penelit ASWA 1053831

PEDOMAN OBSERVASI DAN WAWANCARA Nama : Aswan Nim : 10538318515 Judul Penelitian : Konstruksi Sosial Terhadap Pendidikan Kaum Perempuan Di Bungku Selatan Kabupaten Morowali 1. Identitas Observasi a.Informan I Nama : Abdul Muin Umur : 43 Tahun Alamat : Desa Po’o 3 Pekerjaan : Kepala Desa Hari dan tanggal : 21 Oktober 2019 Waktu : 10.00 - Selesai

b. Informan II Nama : Nur Fadillah Umur : 23 Tahun Alamat : Desa Po’o 5 Pekerjaan : - Hari dan tanggal : 25 Oktober 2019 Waktu : 13.00 - Selesai c.Informan III Nama : Siti Salmiah Umur : 45 Tahun Alamat : Desa Po’o 5 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Hari dan tanggal : 30 Oktober 2019 Waktu : 13.00 - Selesai

2. Aspek yang diamati : Konstruksi Sosial Terhadap Pendidikan Kaum Perempuan Di Bungku Selatan Kabupaten Moro NOPertanyaanInstrumen Penelitian InformanStatus Interprestasi Observasi Wawancara 1. Bagaimana kondisi pendidikankaum perempuandi Desa Po’o ini?

Abdul MuinKepala Desa

Berdasarkanhasilwawanca observasi menurut bapak MuinselakuKepala mengatakan bahwa saat ini pendidikanbagi perempuan mengalami kemajuan. Hal i dilihat dengan banyaknya o yangmenyekolahkan sampai ke jenjang yang ting Nur FadillahMasyarakat Berdasarkanhasilwawanca observasi denganNur menururtnya pendidikan perempuansedikitdemi sudahmajukarena sudah anakperempuandi desa in menyelesaikansekolahnya SMAbahkansudahad melanjutkansampaip tinggi da nada pulayan menyelesaikan di perguruan

2Apakahpendidikanbagi kaumperempuanitu penting? Seberapa pengtingkahpendidikan bagi kaum perempuan ?

Abdul MuinKepala Desa BerdasarkanHasilwaw denganbapakAbdul Mu mengatakan bahwa pendidik kaumperempuanmerupak yangpentingapalagi di sekarangsemua orang mendapatkanpendidikan laki-laki mupunper Manusia itu dek kan terlah memiliki hak dan kewaijab sama salahsatunya mendapatkan pendidikan Nur FadillahMasyarakatBerdasarkanhasilwaw dengan Nur Fadillah ia men bahwa pendidikanuntuk perempuan sangatlah pentin bekaldimasa depan. Sel dengan pendidikan yang tin sebagai perempuan tidak di sebelah mata lagi oleh laki- dengan pendidikan yang tin juga bisa menadapatknp yanglayakdandapatm perekonomian keluarga Siti SalmiahMasyarakatBerdasarkanhasilwaw denganibusitisalm berpendapatbahwa pen untuk anak perempuan tidak

karena kalau anak perempu usah sekolah tinggi-tinggi k lagi sekolahtinggi-tinggi ujungnya akandirumahji rumahtangganya.Lagia banyakbiaya kalau melanjutkansekolahkarn sendirimi kalau disini itu cu SD kalau SMP dan SMAny kecamatanjadi tentubutu yang besar 2. Apakahpendidikankaum perempuandi Desa ini sudah merata?Abdul MuinKepala Desa

Berdasarkanhasilwawanca observasi menurut bapak Muinpendidikanbagi perempuandi Desa Po’o mulai merata. Sebagaian bes tua sudahmenyekolahkan sampaiperguruantinggi. masihadeasebagaianora yangmasihberanggapan pendidikanuntukanakper itu tidak penting. Siti SalmiahMasyarakatBerdasarkanhasilwawanca observasi menurut ibu Siti pendidikanyangada di Des sudahmulai membaikdan majukarna pemerintahjug mulai memperhatikan

pendidikandi Desa Po’o sebagaimasyarakat bersyukur karena pendidikan ini semakin dibenahi. 3. Bagaimana jumlah pendidikankaum perempuandi desa ini? Apakahsetiaptahunnya mengalami peningkatan

Abdul MuinKepala Desa

Berdasarkandari observas dilakukan peneliti dilapang didapatkan data bahwa Jumla perempuanyangtidakta ialah, yaitu170orang, yan SD85, tamatSMP47ora yang tamat 18 orang 4. Ada berapa jumlah sekolah yang ada di Desa ini ? Abdul MuinKepala Desa

Berdasarkandari hasilwaw bapakAbdul Muin menyatakanbahwa sekola ada di Desa Po’oini han Sekolah Dasar dan Paud/TK SMP dan SMA berada di kec danuntukmencapainya menggunakan perahu. 5. Bagaimana kondisi pendidikanyangada di Desa ini ? Abdul MuinKepala Desa

Berdasarkandari hasilwaw yangdilakukanbersama Abdul Muinmenyatakan pendidikanyangada di Des ini mulai men perkembanagan. Halterseb dilihatdari aspeksara prasaranyangada disekola mulai baik dan juga tenaga

yangada sudahmulai ber Meskipunjarakmasih masalahuntukmel pendidikan yang lebih tinggi. 6. Apakah pendidikan yang di dapatkanolehkaum perempuandi desa ini sudah mengalami kemajuan ?

Abdul MuinKepala Desa

Berdasarkandari hasilwaw yangdilakukanbersama Abdul Muinyangmen bahwa pendidikan kaum per di Desa Po’osydahmen kemajuan. Ini bisa dilia meningkatnya setiaptahun anakperempuanyangmel sekolahnya ke jenjangyan tinggi. 7. Bagaimana pandangan peneliti melihatkonstruksi sosialterhadappendidikan kaumperempuandi Desa Po’o

AswanMahasiswa Berdasarkan dari hasil observ wawancara yang dilakukan b bapakkepala desa danb informanlainnya.Dari pan peneliti melihatkonstruksi terhadappendidikan perempuandi Desa Po’o merata sepenuhnya dikaren beberapa faktor ekonomi,adatistiadat, lin dantemansebaga danyan mendasaradalahjarakseko rumah yang begitu jauh. S kurangnya dorongan dari o