D. Manfaat Penelitian
1. Hasil Penelitian yang Relevan
Pada dasarnya suatu penelitian yang akan dibuat dapat memperhatikan penelitian lain yang dapat dijadikan rujukan dalam mengadakan penelitian adapun penelitian terdahulu yang hampir sama diantaranya sebagai berikut :
Okda Firasaty (2017) dalam skripsinya yang berjudul,“Kreativitas Melukis Anak Usia Dini Melalui Media Bahan Limbah Di PAUD Islamic Centre Kabupaten Brebes Tahun ajaran 2017”. Menyimpulkan bahwa melalui melukis dengan teknik mozaik apakah dapat mengembangkan kreativitas anak dan merangsang anak berpikir kritis, imajinatif, dan kreatif. Dengan demikian melalui melukis dengan teknik mozaik sangat efektif untuk meningkatkan kreativitas anak.
Yeyen Herlini (2014) dalam skripsinya yang berjudul “Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Melukis Dengan Kelereng Di Kelompok B PAUD Citra Lestari Desa Suka Nanti Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun Ajaran 2014”. Menyimpulkan bahwa apakah melalui melukis dengan kelereng dapat meningkatkan kreativitas anak.
Beberapa penelitian terdahulu di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti, antara lain:
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Relevan
No. Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
1. Kreativitas Melukis Anak Usia Dini Melalui Media Bahan Limbah Di PAUD Islamic Centre Kabupaten Brebes Tahun ajaran 2017.
terletak pada lokasi penelitian, dan bahan yang digunakan untuk meningkatkan kreativitas.
2. Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Melukis Dengan Klereng Di Kelompok B PAUD Citra Lestari Desa Suka Nanti Kecamatan
Kedurang Kabupaten
Bengkulu Selatan Tahun Ajaran 2014.
terletak pada lokasi penelitian dan jenis penelitian.
Dari penelitian yang sudah dibahas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan dari setia penelitian yaitu antara lain Okda Firasaty (2017) mengkaji tentang kegiatan melukis dapat meningkatkan kreativitas anak dalam bercerita melalui gambar. Yeyen Herlini (2014) mengkaji tentang pembelajaran melukis denga kelereng dapat mengasah kreativitas anak dalam berimajinasi dengan kegiatan melukis menggunakan kelereng dan mengasah kemampuan anak untuk menjadi anak yang lebih kreativitas dalam melukis.
Penelitian-penelitian tersebut di atas walaupun berbeda akan tetapi masih berhubungan dengan penelitian ini. Dengan demikian penelitian di atas mendukung penelitian ini. Pada penelitian ini menekankan pada kegiatan membuat pola gambar sesuai dengan tema dengan menggunakan bahan alam biji-bijian (biji kacang tanah, kacang hijau, jagung kering, padi, kacang gude, kacang tolo putih) untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini.
2. Kreativitas
a. Pengertian kreativitas
Kreativitas merupakan pengalaman dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu antara ketepatan dalam menganalisis permasalahan, namun ia dapat menentukan berbagai alternative jawaban yang benar dan berbagai sudut pandang secara cepat dan benar. Seseorang tidak mungkin dapat melakukannya jika iya bukan seorang yang cerdas.
Clarkl Monstakis (dalam Munandar, 1995) mengatakan bahwa kreativitas merupakan pengalaman dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu antara ketepatan dalam menganalisis permasalahan, namun ia dapat menentukan berbagai alternative jawaban yang benar dan berbagai sudut pandang secara cepat dan benar. Seseorang tidak mungkin dapat melakukannya jika iya bukan seorang yang cerdas.Pola berpikir seperti ini disebut dengan berpikir divergen.Kreativitas merupakan salah satu ciri perilaku yang menunjukkan perilaku intellingence (cerdas), namun kreativitas dan intelingensi tidak selalu menunjukkan korelasi yang memuaskan. Sebab skor IQ (Intellingensi Quotient) yang rendah memang selalu diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula, namun skor IQ yang tinggi ternyata tidak selalu dibarengi oleh tingkat kreativitas yang tinggi pula.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan gagasan baru, memecahkan masalah dan
ide yang mempunyai maksud dan tujuan yang di tentukan. Sedangkan kreatif merupakan suatu sifat yang dimiliki oleh seseorang yang mempunyai kreativitas.
b. Ciri-ciri kreativitas
Menurut Supriadi (dalam Rachmawati Y, dan Euis Kurniati 2010:15) mengatakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan dalam dua kategori, kognitif, dan nonkognitif. Ciri kognitif di antaranya orisinalitas, fleksibel,kelancaran, dan elaborasi. Sedangkan ciri nonkognitif di antaranya motivasi sikap dan kepribadian kreatif. Kedua ciri ini sama pentingnya, kecerdasan yang tidak ditunjang dengan kepribadian kreatif tidak akan menghasilkan apa pun. Kreativitas hanya dapat dilahirkan dari orang cerdas yang memiliki kondisi psikologi yang sehat. Kreativitas tidak hanya perbuatan otak saja namun variabel emosi dan kesehatan mental sangat berpengaruh terhadap lahirnya sebuah karya kreatif. Kecerdasan tanpa mental yang sehat sulit sekali dapat menghasilkan karya kreatif.
Menurut Guilford (dalam Susanto A, 2011:117) terdapat lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berpikir kreatif , yaitu sebagai berikut:
1. Kelancaran (fluency), ialah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan.
2. Keluwesan (flexibility), ialah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah.
3. Keaslian (originality), ialah kemampuan untuk memecahkan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise.
4. Elaborasi atau penguraian (elaboration), ialah kemampuan untuk menguraikan sesuatu dengan perinci, secara jelas dan panjang lebar.
5. Perumusan kembali (redefinition), ialah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan bedasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang telah diketahui oleh banyak orang.
Selanjutnya Munandar (dalam Ahmad Susanto 2011:118), mengemukakan bahwa:
Ciri-ciri kreatifitas yaitu: (a) mempunyai daya imajinasi kuat, (b) mempunyai imajinatif, (c) mempunyai minta luas, (d) mempunyai kebebasan dalam berpikir, (e) bersifat ingin tahu, (f) selalu ingin mendapat pengalaman-pengalaman baru, (i) berani mengambil risiko, (j) berani berpendapat dan memiliki keyakinan.
Sund (dalam Ahmad Susanto 2011:119) menyatakan bahwa:
Ciri-ciri kreativitas sebagai berikut: (a) hasrat keingintahuan yang cukup besar, (b) bersifat terbuka terhadap pengalaman baru, (c) panjang akal, (d) keinginan untuk menemukan dan meneliti, (e) cenderung lebih menyukai tugas berat dan sulit, (f) cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan, (g) memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas, (h) menanggapi pertanyaan yang dijauhkan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak, (i) kemampuan membuat analisis dan sintesis, (j) memiliki semangat bertanya serta meneliti, (k) memiliki daya abstraksi yang cukup baik, (l) memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.
Ciri-ciri kreativitas berhubungan dengan kemampuan berpikir atau berpikir kreatif (berpikir divergen), ialah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban lainnya, adalah ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang yang disebut dengan ciri efektif dan
kreativitas. Ciri-ciri ini merupakan ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kognisi, kemampuan berpikir seseorang dengan kemampuan berpikir kreatif.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
Kreativitas merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan. Dalam mengembangkan kreativitas ini terdapat faktor-faktor yang dapat mendukung upaya dalam menumbuhkembangkan kreativitas. Empat hal dapat mendorong munculnya kreativitas yaitu: Pertama, memberikan ransangan mental baik pada aspek kognitif maupun kepribadian serta suasan psikologis.
Kedua, menciptakan lingkungan yang kondusif yang akan memudahkan anak untuk mengakses apa pun yang dilihatnya, dipegang, didengar, dan dimainkan untuk pengembangan kreativitasnya. Ketiga, peran serta guru dalam mengembangkan kreativitas, artinya ketika kita ingin anak menjadi kreatif, maka akan dibutuhkan juga guru yang kreatif pula dan mampu memberikan stimulasi yang tepat pada anak. Keempat, peran serta orang tua dalam mengembangkan kreativtas anak.
Menurut Hurlock (dalam Ahmad Susanto 2011:125):
Faktor-faktor pendorong yang dapat meningkatkan kreativitas anak yaitu: (1) Waktu untuk menjadi kreatif, kegiatan anak seharusnya jangan diatur sedemikian rupa sehingga hanya sedikit waktu bebas bagi mereka untuk bermain dengan gagasan, konsep, dan mencobanya dalam bentuk baru dan orisional. (2) Kesempatan menyendiri hanya apabila tidak mendapat tekanan dari kelompok sosial, anak dapat menjadi kreatif. (3) Dorongan terlepas dari seberapa jauh prestasi anak memenuhi standar orang dewasa utuk menjadi kreatif mereka harus terbebas dari ejekan dan kritik yang sering kali dilontarkan pada anak yang tidak kreatif. (4) Sarana untuk bermain dan kelak sarana lainnya harus disediakan untuk meransang dorongan eksperimentasi dan eksplorasi, yang merupakan unsur penting dari semua kreativitas. (5) lingkungan yang meransang lingkungan rumah dan sekolah harus meransang kretivitas. Ini harus dilakukan sedini mungkin sejak masa
bayi dan dilanjutkan hingga nama sekolah dengan menjadikan kreativitas, suatu pengalaman yang menyenangkan dan dihargai secara sosial. (6) Hubungan anak dan orang tua yang tidak posesif orang tua yang tidak terlalu melindungi atau terlalu posesif terhadap anak, mendorong anak untuk mandiri. (7) Cara mendidik anak mendidik anak secara demokratis dan permisif di rumah dan sekolah meningkatkan kreativitas, sedangkan cara mendidik otoriter memadamkannya. (8) Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan kreativitas tidak muncul dalam kehampaan makin banyak pengetahuan yang doperoleh anak semakin baik dasar-dasar untuk mencapai hasil yang kreatif.
Adapun faktor-faktor penghambat kreativitas yang di kemukakan oleh Utami Munandar (Ahmad Susanto 2011:125) mengemukakan bahwa lingkungan yang menghambat dapat merusak motivasi anak, betapa pun kuatnya, dan dengan demikian dapat mematikan kreativitas.
Menurut Utami Munandar (Ahmad Susanto 2011: 126) bahwa ada empat cara yang mematikan kreativitas anak yaitu, evaluasi, hadiah, persaingan, dan lingkungan yang membatasi. Pertama, evaluasi. Dalam memupuk kreativitas anak, guru hendaknya tidak memberikan evaluasi atau menunda pemberian evaluasi sewaktu anak sedang asyik berkreasi. Kedua, hadia kebanyakan orang tua percaya bahwa memberi hadiah akan memperbaiki atau meningkatkan perilaku tersebut, ternyata tidak demikian, pemberian hadiah dapat merusak motivasi intrinsik dan mematikan kreaivitas. Ketiga, persaingan kompetisi atau persaingan lebih kompleks daripada pemberian evaluasi atau hadiah secara tersendiri, karena kompetisi meliputi keduanya. Biasanya persaingan terjadi apabila anak merasa bahwa pekerjaannya akan dinilai terhadap pekerjaan anak lain dan yang terbaik akan menerima hadiah. Hal ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sayangnya dapat mematikan kreativitas. Keempat, lingkungan yang membatasi belajar dan
kreativitas tidak dapat ditingkatkan dengan paksaan, jika belajar dipakasakan dalam lingkungan yang amat membatasi, maka minat intrinsik anak dapat dirusak.
d. Strategi Pengembangan Kreativitas
Pengembangan kreativitas anak usia dini adalah dengan memberikan stimulus yang baik dan tepat, yaitu pembelajaran dengan bermain atau belajar sambil bermain. Dalam Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-kanak 1994 disebutkan bahwa pengembangan daya cipta adalah kegiatan yang bertujuan untuk membuat anak kreatif, yaitu lancar, fleksibel, dan orisinal, dalam berutur kata, berpikir, serta berolah tangan dan berolah tubuh sebagai latihan motorik halus dan motorik kasar. Oleh karena itu, daya cipta harus ada dalam pengembangan meningkatkan kemampuan berpikir dan berbuat kreatif, mengembangkan keterampilan motorik kasar dan motorik halus anak dalam membuat karya-karya kreatif, memupuk apresiasi seni anak.
Aspek pengembangan kreativitas dalam Munandar (dalam Ahmad Susanto 2011:128), yaitu:
Aspek pribadi (Person), (1) pengembangan kreativitas ialah ungkapan dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan orisinalitas dari individu ini, dari pernyataan pribadi yang unik inilah dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif. Aspek pendorong (Press), (2) pengembangan kreativitas seseorang akan berkembang bila didukung oleh lingkungannya dan juga tidak terlepas dari dukungan intern yang datang dari dalam dirinya sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu. Jika tidak bisa menyeleksi dengan baik, lingkungan dapat mendukung atau menghambat bakat-bakat kreatif seseorang. Aspek proses (process), (3) pengembangan kreativitas dalam angka mengembangkan kreativitas, anak perlu dikembangkan untuk menyibukkan dirinya secara kreatif. Guru hendaknya dapat meransang anak didik dalam kegiatan kreatif dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Guru hendaknya memberikan kebebasan pada anak untuk mengekpresikan
dirinya secara kreatif. Aspek produk (product), (4) pengembangan kreativitas kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna adalah kondisi pribadi dan lingkungan, sejauh mana keduanya mendorong untuk melibatkan dirinya dalam proses kreatif. Dengan dimilikinya bakat dan ciri-ciri kreatif, dan dengan dorongan untuk berbuat kreatif maka produk-produk kreatif yang bermakna dengan sendirinya akan timbul. Guru hendaknya menghargai produk kreatif anak dan mengkomunikasikan kepada orang lain. Sehingga dapat menggugah minat anak untuk mengembangkan daya kreatifnya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas anak adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan seseuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada, dimana kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mengaplikasikan terjadinya eskalasi dalam kemampuan berpikir, ditandai oleh sukses, dsikontinuitas, diferensiasi, dan integrasi antara setiap tahap perkembangan.