• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana Cara Membentuk Konsep Diri Anak

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.I Deskriptif Subjek Penelitian

IV.2 Hasil Pengamatan dan Wawancara

Berikut hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap kedua pasang subjek penelitian :

Informan I

Pasangan : Marso Luhut Sitanggang dan Eldy Sonta Silaen

Alamat : Jalan Pintu Air 4 Gg. Pegagan Kelurahan Simalingkar B

Penelitian yang dilakukan pada hari pertama tanggal 4 april 2014 pukul 10.00 WIB dikediaman Luhut dan Sonta. Peneliti awalnya melihat pintu rumah kedua pasangan ini tertutup rapat lalu mengetuk pintu dan dibuka oleh Luhut. Luhut langsung mempersilahkan peneliti untuk masuk kedalam rumah mereka yang sangat terlihat berantakan. Dengan rasa malu pasangan ini bergegas untuk merapikan nya. Waktupun terus berlalu hingga akhirnya Luhut dan Sonta mengajak peneliti untuk masuk dan mengajak peneliti untuk duduk di belakang rumah sambil menikmati ubi rebus dengan teh manis. Kedua pasangan ini terlihat sangat akrab dimana sang istri Sonta yang sudah lelah membereskan rumah langsung menghisap sebatang rokok yang ditemani oleh suaminya Luhut, dan mereka pun mempersilahkan peneliti untuk mewawancarai mereka.

Pertemuan pertama kedua pasangan ini sewaktu mereka masih duduk di bangku SLTA, dimana Luhut yang dulu suka sekali datang dan bermain kartu bersama teman-temannya di sebuah warung kopi di Jalan Sei Wampu. Disitu pula tempat tinggal Sonta. Luhut yang selalu melihat Sonta berjalan kaki sewaktu pulang sekolah dan membuat Luhut menyukai Sonta karena kecantikannya. Waktu berjalan akhirnya hubungan kedua pasangan

ini kejenjang yang lebih serius lagi. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dari diri mereka masing-masing sudah diketahui oleh keduanya yang membuat mereka nyaman dalam berkomunikasi satu dengan yang lain.

“aku suka main kartu dulu dek, terus aku liat lah ibu ini jalan pas masih SMA manis dia ku tengok, pake kaca mata dia nya kan, rambutnya panjang, badannya berisi enggak kayak sekarang ini kurus kali. Nah disitu lah dia aku sukanya sama ibu. Kemaren itu tahun 1999 kalau enggak salah ya. Lama juga kami pacaran setahun kalau enggak salah ya, terus langsung aja aku lamar dia. Nanti kalau lama-lama diambil orang kan enggak enak. Iya bapak ini ganteng mudanya, kurus-kurusnya tetap lah enggak beda kayak dulu “kata Sonta”. Lucu dia dek, suka banget buat ibu itu ketawa, sekarang uda beda dia kebanyakan diemnya dan suka main judi gitu lah tetap aja enggak berkurang”.

Ketika memasuki rumah tangga, tidak adanya hambatan yang di hadapi mereka. Semua berjalan dengan aman dan baik-baik saja. Keluarga kedua belah pihak juga menyetujui hubungan mereka sampai mereka dikaruniai 6 orang anak yang jarak umurnya sangatlah berdekatan. Keinginan Luhut dan Sonta memiliki banyak anak adalah salah satu faktor mereka masih memegang kuat adat istiadat suku mereka Batak Toba yang diwajibkan memiliki anak laki-laki untuk penerus marga. Tetapi satu saja anak laki-laki yang mereka miliki terlebih dahulu tidak membuat kedua pasangan ini terus mencoba agar punya satu anak laki-laki lagi. Dan sekarang Sonta telah hamil 4 bulan. Mereka berharap mendapatkan anak laki-laki kembali. Sonta juga tidak menerapkan program KB, dikatakannya dia tidak cocok untuk menggunakannya diselah rasa sakit yang ia rasakan. Harapan yang mereka inginkan yaitu memiliki anak banyak agar kelak mampu membantu orang tuanya nanti. Semua diberikan pendidikan yang bagus oleh Luhut dan Sonta, dengan menyekolahkan mereka. Memberikan les tambahan yang ada disekolah dengan biaya gratis yang tidak disia-siakan oleh anak-anaknya. Dan pasangan ini memberikan pandangan positif tentang agama yang dianutnya dengan membuat anak-anaknya aktif di gereja untuk pelayanan seperti mengikuti Pendalaman Alkitab (PA), retreat dan sekolah minggu. Luhut yang bekerja sebagai kuli kasar bangunan dan Sonta yang bekerja sebagai ibu rumah tangga membuat mereka tidak dapat

komunikasi yang baik pula, kedua pasangan ini memberitahukan dengan pengertian agar anak-anak mereka mampu menerima kenyataan yang dimilikinya.

“kalau mendidik anak itu yah harus baik-baik, terkadang kalau mereka uda kelewat batas yah ku pukul pake tali pinggang kalau enggak tangan lah. Mau juga aku maki kok dek, kalau uda naik pitam yah,” ucap Sonta”. Bapak nya yang jarang mukul, tapi mau juga enggak kayak aku dek, namanya aku kan dirumah kerja juga kan kadang-kadang mukul kemiri orang lah. Datang mereka berantem sama kakak adek juga, yah gak bisa kusuruh tenang main tali pinggang itu ku buat”

Terkadang komunikasi yang mereka sampaikan tidaklah pantas dan layak untuk diucapkan kepada anak-anaknya. Apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh anaknya langsung keluar kata-kata yang tidak layak. Itu sudah menjadi kebiasaan didalam keluarga ini, bukti nyatanya di depan peneliti pun Sonta mau memaki anak-anaknya ketika malas untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan kelakuan kedua orang tuanya anak-anaknya pun ikut dengan mengucapkan kata-kata yang kotor di ucapkan kepada saudara-saudaranya sampai menjerit-jerit kesal. Sampai akhirnya Sonta yang sedang hamil pun mengambil tali pinggang memukul anaknya hingga menyuruhnya diam. luhut hanyalah penetral di dalam itu, dengan nasehat dan akhirnya pun semua kembali tenang. Sonta dan Luhut mengakui mereka juga terbilang keluarga yang didikan kepada anaknya tidaklah wajar, tapi inilah hidup yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dalam Komunikasi Antarpribadi mungkin kedua pasangan ini kurang, hanya disaat keemosian yang tinggi diredakan saat itu juga dan penyampaiannya pun tidak lah dengan lembut dan baik. Tetapi malah dengan bahasa yang keras juga. Dalam memilih kasih sayang tidak ada satupun di bedakan oleh mereka, semua nya sama rata yang diberikan kedua pasangan ini. Tidak ada yang membedakan antara anak laki-laki mereka dengan anak perempuan mereka.

“ibu sama bapak enggak pernah beda-bedakan orang ini. Kalau sayang semua kami sayang kok. Tapi kalau dibilang beda-bedakan enggak lah. Mereka melakukan kesalahan kami marahi, kami cubit, kalau uda naik kali emosi kami pukul biar diam, yah kalau disaat mereka melakukan kebaikan kami banggakan kok didepan mereka. Apalagi kalau mereka dapat sesuatu yang mereka rasa itu sesuatu yang dapat mereka buat dengan kemampuan mereka sendiri selalu kami banggakan kok. Kami dukung untuk menjadi yang baik lagi gitu.”

Selama dalam pernikahan komunikasi antara Luhut dan Sonta baik-baik saja, dimana mereka satu sama lain saling terbuka pabila ada yang tidak mereka sukai atau sukai. Masalah dalam mendidik anak pun mereka saling sharing satu sama lain, sehingga mendapatkan titik penyelesaiannya. Ketika dalam perubahan sifat atau kedewasan anak mereka, Luhut dan Sonta mengatakan sangat memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya. Perubahan fisik ataupun tingkah laku selalu mereka perhatikan, pergaulan dan pertemanan anak-anak mereka kedua pasangan ini perhatikan, karena itu merupakan tanggung jawab mereka sebagai kedua orang tua. Akan ada penyesalan apa bila kelak anak-anaknya terlambat mereka perhatikan tumbuh kembangnya.

Informan II

Nama : Daud Julius Maulae dan Mei Christina br.Ambarita

Alamat : Jalan Pintu Air 4 Gg. Pegagan Kelurahan Simalingkar B

Dihari yang berbeda Sabtu 5 April 20014 pukul 08.00 WIB peneliti tinggal di rumah kediaman Daud dan Mei. Daud yang saya temui di depan pintu sedang menikmati secangkir kopi dan menghisap rokok langsung mempersilahkan saya untuk masuk dan meletakkan pakaian saya kedalam rumah. Peneliti pun bergegas untuk mempersiapkan segala sesuatunya agak semua terlihat rapi. Dengan berjalannya waktu, Daud pun mengajak saya untuk mencicipi kopi yang dibawanya dari kampung. Peneliti yang dasarnya tidak menyukai kopi tetap harus menghargai pemberian orang tua.

Disamping kesibukannya sebagai wiraswasta, Daud juga memiliki ladang yang cukup untuk dia bercocok tanam. Daud mengatakan bahwa penghasilan yang dia terima adalah sesuai dengan UMR yang diberikan kepadanya. Maka dari itu, Daud memiliki ladang menurutnya itu sudah cukup membantu untuk kebutuhan pokok mereka yang tidak perlu banyak mengeluarkan biaya. Ketertarikan Daud kepada istrinya Mei, yang menurutnya Mei adalah sesosok wanita yang menerimanya apa adanya. Tahun 2003 Daud bertemu dengan Mei, mereka sekitar 1 tahunan telah menjalin hubungan, sehingga memutuskan untuk menikah tahun 2005 dan di karuniai 4 orang anak yaitu 2 laki-laki dan 2 perempuan. Alasan Daud menikahi Mei adalah suatu komitmen yang telah disepakatin mereka berdua untuk menjalin hubungan yang serius. Bagi Daud, menikahi seseorang adalah hal yang sangat di harapkan oleh pasangan yang telah lama merajut kasih.

“dulu saya takut kehilangan mei, hingga saya katakan pada mei saya belum punya pekerjaan, apakah kamu mau menikah dengan saya? Lalu Mei menjawab dengan cepat mau. Tanpa pikir panjang lagi yah saya langsung lamar uda saling suka kan. Tahun 2005 lah kami menikah, bulannya saya lupa coba nanti tanya sama ibu saja “ sambil tertawa”.

Di dalam memasuki pernikahan Daud mengatakan tidak hambatan yang mereka rasakan, semuanya hanya kita yang atur bagaimana bisa menjalin hubungan yang baik. Tetapi setelah memasukin rumah tangga ada sedikitnya hambatan yang menurut Daud itu wajar dalam rumah tangga, tetapi Daud tidak mempermasalahkannya karena dengan melalui komunikasi yang baik itu membuat nya nyaman dalam memilih teman hidupnya yaitu Mei. Karena dimana Daud, Mei adalah wanita yang luar biasa. Sisi positif dan negatif yang dimiliki Mei sudah Daud ketahui sejak mereka pacaran terlebih dahulu, sehingga tidak ada hambatan lagi yang membuat keluarganya tidak harmonis. Awalnya mereka hanya menginginkan 3 orang anak saja, tetapi anak kedua mereka terlahir kembar. Itu yang di ucapkan Daud ketika diwawancarai. Menurutnya banyak anak itu adalah rejeki Tuhan buat keluarga Daud, apalagi Daud sangat kental dengan adat istiadat suku Batak Toba. Harus ada

yang meneruskan marga kelak dan dapat membantu keluarganya Daud saat dia sudah tak sanggup lagi menafkahi keluarganya.

Tidak ada yang di sesali oleh Daud memiliki anak lebih dari 2, Daud merasakan bahwa banyak anak rumahnya terasa ramai. Sebaliknya, pabila Daud menolak pemberian Tuhan merupakan salah satu tindakan yang sangat menyakitkan hatinya. Dalam mendidik anak yang dimilikinya, Daud tidak pernah memukuli anaknya. Hanya dengan cara menasehati, dan menegur nya. Menurutnya, apabila dia memukuli anaknya dia takut nanti diluar sana anaknya akan mencontoh tindakan orang tuanya.

“anak kami ada 4, 2 laki-laki 2 perempuan dek. Sudah ada penerus marga sudah tenang lah bapak kan. Tapi bapak pikir-pikir nanti kalau saya enggak bisa kerja lagi kan bisa anak saya tuh bekerja bantuin mama nya. Kalau kami tidak terlalu sering dek, memukul anak kami. Kasihan lah sering-sering enggak tega, takut saja ntar anak kami jadi makin nakal diluar sana. Lebih baik saya menegur saja kadang-kadang , ketimbang kami pukulin dia dengan alat apa saja.”

Mengingat jumlah anak Daud dan Mei ada 4 orang, kedua pasangan sangat sedih ketika tidak dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya ataupun keinginan anaknya. Walaupun anak yang baru masuk sekolah TK hanya 1 orang tetapi untuk membeli buku atau peralatan sekolahnya saja terpaksa Daud meminjam dulu kepada keluargnya. Mengingat jumlah pengeluaran perhari mereka sekitar 40-50 ribu itu sudah termasuk uang jajan mereka, makan dan kebutuhan dapur. Melihat perekonomian yang sangat tinggi membuat Daud dan Mei terkadang terasa sedih. Mereka hanya berharap dengan didikan yang diajarkan oke pada anak-anaknya dapat membuat ke 4 anak-anaknya mengerti dan menghargai arti kehidupan dan menghargai serta mensyukuri apa yang telah dimiliki.

“terkadang kasihan juga liat anak-anak yang butuh mainan kayak temen-temennya yang lain itu bapak enggak bisa belik. Terkadang kalau uda lama kali baru dibeli udah ketinggalan jaman kata anak-anak. Didalam memberi kasih sayang kami tuh enggak pernah beda-bedain, sayang kali lah kami sama mereka semua kan anak kami. Hanya satu yang saya harapkan kepada anak-anak saya adalah nanti kelak akan menjadi orang pintar biar bisa kerja dan sampai saya dimana mampu menyekolahkannya ,kata Daud”

Di hari yang sama peneliti diajak makan siang bareng bersama keluarga pasangan Daud dan Mei. Pada waktu itu hujan turun dengan lebatnya yang membuat perut kami terasa lapar. Mei yang tampak sibuk memberi makan ke 3 anaknya karena anaknya tidak mau makan sendiri. Tetapi tidak membuat Mei lupa untuk makan siang juga dan menawar peneliti untuk makan siang bersama. Ibu rumah tangga yang satu ini, mengerjakan semua kegiatan rumahnya sendiri. Melihat ke 4 anak nya masih kecil tak membuat dia lupa untuk tetap menjalani tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan istri. Mei yang tidak memiliki pekerjaan karena Daud tidak mengizinkannya bekerja membuat terkadang dirinya serba salah. Dimana dulu sewaktu muda, Mei bekerja sebagai tukang jahit yang membantu ibu nya bekerja. Mei mengatakan pertama kali berjumpa dengan Daud pada tahun 2003, waktu masih pacaran Mei merasa Daud adalah dambaan hatinya. Disatu sisi Daud adalah pria yang tampan menurut Mei, Daud juga merupakan pria yang humoris juga. Sehingga akhirnya menetapkan Daud sebagai suaminya dan menikah awal bulan Maret 2005. Alasan Mei memutuskan menikahi Daud karena menurutnya Daud adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.

“kemaren kan ibu kerja tuh, jait-jait baju bantu ibu ku, sekarang enggak dibolehkan sama suami ku. Yah kek gini-gini aja lah dirumah bosen juga sih. Bapak orangnya baik, saya akui deh bertanggung jawab juga makanya ibu mau sama bapak. Tapi jangan pernah di buat marah aja, karena dia enggak suka. Tegas sih bapak orangnya tuh dek. Ibu minta kerja aja dia gak kasih, katanya kalau saya masih sehat saya masih bisa hidupin kamu sama anak-anak kok. Jaga aja anak-anak.”

Selama memasuki pernikahan tidak ada hambatan yang mereka hadapi. Tetapi sesudah memasuki pernikahan pasti ada hambatan apa aja. Dalam berkomunikasi dengan Daud ia merasa nyaman, karena menurut Mei suaminya sangat lah lembut dalam menyelesaikan sesuatu. Tidak hanya itu, dalam memasuki pernikahan Mei tidak tau banyak lebihnya sisi positif Daud dan negatifnya. Awalnya Mei dan Daud hanya berharap memiliki 3 anak saja, tetapi kelahiran anak kedua Tuhan memberikannya kembar. Selain itu Mei mengatakan bahwa Mei menggunakan pil atau suntik KB dia tidak lah cocok, tetapi Mei akan

tetap menjaga agar tidak kebobolan kembali. Dalam mendidik anak kedua pasangan ini mengatakan bahwa dia sangat mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pendidikan nomor satu, agar kelak bisa menjadi orang sukses. Daud dan Mei mau untuk menghajar anaknya dengan cara memukul, berkata yang tidak baik dan mencubit anak-anaknya apa bila memiliki kesalahan. Tetapi dengan begitupun keduanya tidak pernah membedakan atau memberikan kasih sayang yang berbeda-beda kepada anaknya. Dalam mendidik anak, Mei mengatakan bahwa Daud dan Mei lah yang berinisiatif dalam menyelesaikan masalah. Dan disela kebutuhan anak mereka Mei tidak sepenuhnya dapat memberikan apapun yang mereka minta.

“ibu itu enggak cocok pake KB, pernah dulu spiral tuh lah anak ke dua tiba-tiba hamil. Suntik KB pun terkadang agak sulit karena males untuk rutin KB. Kalau banyak anak menurut ibu enggak banyak lah empat, tapi kalau diliat ekonomi kami sulit juga sih penuhi kebutuhan mereka semuanya. Ibu berharap anak ibu bisa lah sekolah, biar pinter sama biar bisa dapat kerja yang pas bantu-bantu ibu bapak kalau uda tua”

Untuk pengeluaran kebutuhan pokok Mei mengatakan jumlah yang mereka keluarkan dalam sehari yaitu sekitar 30-40 ribu, semua sudah di dalamnya termasuk membeli sayur dan jajan anak-anaknya. Melihat jumlah anak Mei dan Daud cukup banyak, terkadang Mei merasa bahwa tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan anak-anaknya. Didalam mengatasi masalah didalam keluarga Mei mengakui bahwa dia lah yang sangat berperan untuk berinisiatif untuk menyelesaikan masalah dalam mendidik anak. Salah satu contohnya bahwa dalam mendidik anak, Mei memang suka memarahi nya, tetapi dalam benak hati nya dia sangat menyayangi ke 4 anak nya. Karena menurut Mei dia akan memberikan yang terbaik agar anak-anaknya menjadi anak yang pintar dan berguna.

Informan III

Nama : Jekson Sitorus dan Leni br. Panjaitan

Alamat : Jalan Pintu Air 4 Gg. Pegagan Kelurahan Simalingkar B.

Hari ke 3 dimana peneliti mendatangi kediaman rumah Jekson dan Leni setelah beberapa hari telah tinggal di rumah informan lain. Saat itu peneliti datang berpapasan dengan Jekson pukul 18.00 WIB telah tiba di rumah. Jekson yang terlihat sedikit kurang sehat langsung beristirahat. Leni sang istri pun mengajak peneliti untuk beberes di kamar anaknya yang telah mereka sediakan. 3 jam peneliti menunggu dan akhirnya kedua pasangan ini siap diwawancarai oleh peneliti walaupun keadaan Jekson yang kurang fit. Jekson yang lahir di Porsea 1973 ini bekerja sebagai supir angkot 54. Penghasilan yang ia peroleh tergantung dengan jumlah penumpang yang dia angkut. Apalagi Jekson cuma bisa menarik sewa dari pukul 15.00-18.00 dikarenakan Jekson memiliki penyakit jantung yang membuat dia tidak sanggup untuk berlama-lama menyupir. Leni sudah menyarankan agar Jekson tidak perlu bekerja lagi, tetap saja nasehat dan saran istrinya tidak di dengarkan oleh Jekson. Penghasilan yang didapat kan 100ribu perhari apabila mendapat target banyak bisa lebih dari jumlah uang yang di tentukan.

“aku uda bilang sama nya ini lah, gak pernah di dengarkannya cakap ku ini, biarlah situ dia. Tengoklah ini udah enggak sehat lagi ku tengok dia. Besok kerja lagi, bandal bapak ini enggak tau lagi gimana bilanginya. “sambil memijat badan Jeson”. Kalau tidak kerja makan apa lah mereka semuanya ya kan dek? Namanya juga sudah tua ada aja penyakit, yah harus disyukuri kalau berdiam dirumah aja malah makin nambah penyakitnya. Biasanya enggak dominan banyak uang saya dapat nang, cukup makan untuk besok pagi uda syukur kali lah. ujar Jekson.”

Awal mula Jekson mengenal Mei istrinya pada tahun 1999, Jekson mengatakan bahwa ia memilih Leni karena orangnya yang baik, pandai memasak dan menerima kekurangan dan kelebihan Jekson. Dan akhirnya memutuskan menikahi Leni karena dianggap Jekson sudah sama-sama saling cocok dan mencintai sehingga mau membangun

rumah tangga dengan bersama-sama. Didalam menjalani kehidupan berumah tangga, kedua pasangan ini mengakui tidak memiliki hambatan dalam pernikahannya. Semua berjalan dengan baik dan aman. Dalam berkomunikasi pun Jekson merasa nyaman dengan sang istri Leni, karena memang dari awal berkenalan mereka mengenal sisi positif dan negatif dari sifat mereka masing-masing. Didalam pernikahannya Jekson dan Leni memiliki 5 orang anak, diantaranya 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Dari ke-5 anak mereka baru 3 orang yang bersekolah. Dalam mendidik anak Jekson mengakui bahwa dia tidak mau memarahi atau pun mengeluarkan kata-kata kasar, karena menurutnya apabila melakukan hal seperti itu kelak anaknya akan menjadi orang yang mengikuti tingkah laku orang tuanya. Berbeda dengan Leni yang terkadang mau turun tangan dalam memarahi anak-anaknya dengan memukul dengan benda seperti sapu ataupun tali pinggang. Didalam kasih sayang yang Jekson berikan terhadap kelima anaknya ia tidak memilih-milih kasih untuk itu, semua dia cintai dan ia sayangi karena itu merupakan hasil buah cintanya dengan Leni.

“ibu tuh pande masak, waktu pacaran suka kali bawakan makanan ke rumah. Dia baik lagi sopan, item manis, kecil lagi bapak suka sama yang pande masak sama kecil2 gitu gak gemuk. aku orangnya gak mau marahi anak, takut anaknya jadi bodoh. Kalau mereka punya kesalahan yang bapak tegur aja. Kalau main pukul juga bapak enggak mau, bapak paling nasehatin suara agak keras aja biar anak-anak pun takut. Terkadang bapak takut kalau suka marah nanti jantung bapak kumat, anak-anak juga pada tidak tau kan. Beda sama ibu dek, kalau mereka bandal lasak ibu enggak segan-segan main pukul lah. Kalau mereka dibilangi dengan cara lembut pun bakalan enggak pernah dengar jadi harus dikasari; kata Leni. Ibu enggak bisa pake suntik-suntik KB itu dek, badan ibu jadi melar nanti kayak kata