• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan dan Wawancara

Peneliti menentukan 10 orang siswa SMK 1 TD Pardede Foundation Jl. Binjai Km 10,8 yang masih belajar di sekolah tersebut yang dipilih secara acak sebagai responden. Responden yang dijadikan sebagai sampel penelitian adalah 10 orang siswa yang mewakili setiap kelas. Pelaksanaan pengumpulan data di lapangan menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap responden. Penelitian ini berlangsung dari bulan Februari sampai dengan Maret 2009.

Peneliti meminta ijin kepada kepala sekolah SMK 1 TD Pardede selaku pimpinan di sekolah tersebut untuk melakukan penelitian di sekolah yang bersangkutan. Setelah mendapat ijin, barulah peneliti dapat melakukan wawancara dengan para responden dimana terlebih dahulu peneliti menyampaikan maksud serta tujuan mewawancarai para responden yaitu untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi serta interaksi di antara guru dan siswa dengan kesediaan membuka diri sehingga tercipta sebuah kedekatan dan hubungan akrab di antara mereka yang pada akhirnya itu sangat berkaitan dengan motivasi belajar siswa dalam sekolah. Nama responden yang ditulis adalah nama yang sebenarnya.

Berikut adalah hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap sepuluh orang responden.

Responden 1

Nama : Luis

Kelas / jurusan : I (satu) / Otomotif Alamat : Jl. Binjai Km 13,5 Hari / tanggal : Rabu / 10 Maret 2010

Responden ini adalah seorang siswa kelas satu jurusan otomotif. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap responden, mata pelajaran yang paling disukai Luis adalah mekanik otomotif. Alasan Luis menyukai pelajaran ini adalah karena ia bercita-cita ingin menjadi seorang mekanik yang handal sehingga ia pun haruslah menyukai serta berkonsentrasi untuk memahami betul esensi pelajaran jurusannya tersebut. Bapak Jesron Siambaton adalah seorang guru favorit yang paling disukai oleh Luis. Luis berpendapat bahwa Bapak Siambaton mampu menerangkan serta membawakan mata pelajarannya dengan sangat jelas dan santai sehingga tidak membuat bosan. Menurut Luis, metode / cara belajar di dalam kelas yang diterapkan Bapak Siambaton membuat suasana kelas menjadi lebih nyaman, menghidupkan suasana kelas, menghibur murid-muridnya dengan cara sesekali bercanda. Kondisi nyaman seperti ini juga tidak terlepas dengan kegiatan belajar mengajar yang serius serta fokus terhadap pelajaran yang dibawakan.

Luis sendiri merasa akrab dengan guru-gurunya, karena menurutnya hubungan yang terjalin antara mereka adalah layaknya sebagai orang tua di sekolah. Bagi Luis, guru sama juga pentingnya dengan orang tua di rumah, sehingga Luis pun merasa tidak ingin menyakiti hati orang tuanya. Rasa hormat

serta kedekatan pun tercipta dalam interaksi keseharian antara Luis dan gurunya. Bagi responden yang dalam hal ini adalah Luis, terkadang kegiatan belajar di dalam kelas tidak kondusif. Misalnya, ketika ada guru yang berhalangan hadir yang mungkin dikarenakan sakit sehingga tidak masuk mengajar di dalam kelas, pasti ada saja murid lain yang membuat atau menciptakan keributan di dalam kelas sehingga siswa lain pun merasa terganggu jika ingin belajar sendiri. Ketika kondisi belajar mengajar di dalam kelas terganggu karena adanya keributan yang diciptakan oleh siswa itu sendiri, guru pun berusaha untuk tetap menasehati mereka (siswa yang membuat keributan) agar bertindak lebih baik lagi ketika proses belajar mengajar di dalam kelas sedang berlangsung. Selain menasehati siswa, guru juga memberikan sanksi kepada siswa yang ribut, yaitu dengan menyetrap atau membariskan siswa yang ribut dan membuat onar di depan kelas.

Sebagai seorang siswa, Luis mengaku pernah menghadapi masalah yang akhirnya mengganggu konsentrasi belajarnya di kelas. “Pada saat itu, saya sedang membaca dan menghapalkan bahan untuk mata pelajaran berikutnya dan teman-teman sekelasku yang lain ribut bercerita sehingga saya menjadi tidak bisa berkonsentrasi lagi,” cerita Luis pada peneliti. Ketika Luis menghadapi masalah yang mengganggu konsentrasi belajarnya di dalam kelas seperti keadaan yang diutarakan sebelumnya, dia pun bercerita serta mendiskusikan masalah tersebut dengan gurunya. Menurut responden, guru pun menanggapi ceritanya dan selalu memberikan solusi baginya. Salah satunya adalah dengan memberi peringatan serta memberitahukan siswa yang membuat onar atau keributan tersebut kepada kepala sekolah.

Pada tingkat pendidikan sebelumnya yaitu ketika masih duduk di tingkat sekolah menengah pertama, Luis belum pernah memperoleh prestasi akademik. Baru semester lalu yang merupakan semester pertama baginya di sekolah menengah kejuruan di SMK 1 TD Pardede inilah Luis memperoleh ranking sepuluh besar di dalam kelasnya. Luis mengaku bahwa dalam mengembangkan potensi serta keahlian yang dimilikinya saat ini, dia belajar dengan sunguh-sungguh. Luis pun mengakui bahwa ia termotivasi dengan setiap nasehat serta kata-kata bimbingan yang diperolehnya dari setiap guru yang masuk mengajar di kelasnya.

Bagi responden, setiap guru memiliki cara yang unik serta berbeda satu dengan yang lain dalam memotivasi setiap siswanya. Menurutnya, setiap guru selalu berusaha memberikan nasehat yang baik serta bermanfaat kepada setiap siswanya agar lebih maju lagi dalam berprestasi, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Bukan hanya termotivasi untuk menciptakan prestasi akademik sekolah lebih baik saja, tetapi guru juga memotivasi siswa dalam menjalankan disiplin karena selain bermanfaat bagi pribadi juga akan menciptakan disiplin siswa bagi kelangsungan aktivitas sekolah. Misalnya dalam hal menerapkan disiplin di sekolah, guru secara rutin mengingatkan siswa untuk selalu memasukkan seragam sekolahnya dan selalu memperhatikan potongan rambut siswanya.

Kesimpulan Kasus

Responden termasuk orang yang bisa melakukan pengungkapan diri sampai pada tahap yang paling puncak yaitu membina hubungan akrab. Hal ini

dapat dilihat dari pengakuan responden yang mengaku ia bisa bercerita dan berbagi tentang dirinya serta masalah yang dihadapinya kepada guru. Begitu pula sebaliknya dengan guru di sekolah tersebut yang merespon secara terbuka terhadap siswa khususnya bagi Luis. Bahkan komunikasi yang berjalan lancar antara guru dengan siswa membuat proses belajar mengajar di dalam kelas menciptakan suasana nyaman yang akhirnya membantu Luis dalam belajar di kelas sehingga siswa mampu meningkatkan prestasi belajarnya. Selain itu, dengan adanya sikap terbuka dan terciptanya suatu kedekatan dalam hubungan antara guru dan dirinya membuat Luis termotivasi dalam meningkatkan pengetahuan, prestasi serta disiplin bagi dirinya.

Responden 2

Nama : Kiki Aritonang Kelas / jurusan : I (satu) / Audio video

Alamat : Jl. Binjai Km 15 Simpang Melati Diski Gang Pendidikan No 102

Hari / tanggal : Rabu / 10 Maret 2010

Responden yang bernama Kiki Aritonang yang juga masih berasal dari kelas satu di jurusan mekanik otomotif ini mengatakan bahwa pelajaran yang paling disukainya adalah bahasa Jepang. Kiki mengaku menyukai pelajaran bahasa Jepang ini karena cara guru yang bersangkutan dalam menerangkan mata pelajaran tersebut dilakukan secara singkat dan cepat sehingga mudah untuk ditangkap / dimengerti oleh responden. Selain itu, responden juga mengatakan

bahwa guru yang paling disukainya adalah Bapak Zulfikar Ali. Alasannya mengatakan Bapak Zul menjadi figur guru yang disukainya adalah karena beliau adalah seorang yang tegas dan pembawaannya yang santai membuat Kiki merasa bisa saling terbuka untuk bertukar pikiran dengan sang guru.

Responden merasa hubungannya dengan guru-guru di sekolah terjalin dengan akrab sebagaimana layaknya dengan orang tua sendiri. Kiki juga menganggap bahwa keberadaan guru di sekolah sama juga dengan keberadaan orang tua di rumah sehingga dia bisa merasa dekat dan akrab dengan guru-guru di sekolahnya. Menurut responden, kegiatan belajar di dalam kelas tidak selalu seperti layaknya suasana belajar yang kondusif seharusnya. Terkadang masih ada juga siswa yang nakal, ribut dan tidak bisa tenang, tetapi ada juga sebagian siswa yang bisa diingatkan. Responden pun mengatakan bahwa di dalam kelas juga telah diberlakukan peraturan yang tergolong ketat dan tegas. Misalnya, mencatat nama siswa yang melakukan kesalahan atau ribut di kelas, lalu setelah itu dilaporkan kepada wali kelas. Menurut responden, guru juga berusaha menciptakan suasana yang nyaman ketika berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di kelas. Seperti yang diuraikan di atas, guru mengenai sanksi berupa hukuman kepada siswa yang berbuat kesalahan.

Responden yang bernama Kiki Aritonang ini juga pernah menghadapi masalah yang akhirnya mengganggu konsentrasi belajarnya. Masalah yang dialaminya juga hampir sama dengan responden pertama yaitu yang disebabkan karena keributan yang terjadi di dalam kelas. Kelas yang ribut seperti inilah yang membuat responden merasa terganggu ketika sedang belajar di kelas karena kondisi tersebut membuat Kiki kehilangan konsentrasi dalam proses belajarnya.

Ketika Kiki dihadapkan dengan kondisi seperti itu, dia juga tak jarang menceritakan keluhan tersebut serta mendiskusikannya kepada guru sehingga guru dapat mencari jalan keluar yang tepat dalam menanggapi sikap siswa yang berulah tersebut agar jera dan tidak melakukannya lagi di kemudian hari. Ketika Kiki menyampaikan keluhan tersebut kepada gurunya, guru pun menanggapinya dengan tangan terbuka tapi tak jarang juga guru merasa bosan karena mendengar nama siswa yang disebutkan selalu yang itu-itu saja. Yang terutama adalah bahwa guru pun sigap menyelesaikan masalah tersebut.

Responden juga mengakui bahwa hingga saat ini dia belum memperoleh prestasi akademik di sekolah. Dia masih akan tetap berusaha untuk belajar lebih giat dan lebih sungguh-sungguh lagi dalam mencapai prestasi akademik dalam sekolahnya. Kiki mengatakan bahwa dia mempunyai cara tersendiri dalam mengembangkan potensi serta keahlian yang dimilikinya. Responden dapat lebih giat belajar dengan cara belajar yang menyenangkan yaitu menciptakan situasi nyaman dan tenang untuk lebih memudahkan berpikir lebih kritis lagi. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan responden, dia menyatakan guru adalah sosok yang tegas dan teratur dalam membimbing siswa-siswanya serta memotivasi mereka secara keseluruhan. Begitu pula dengan menerapkan disiplin di sekolah yang secara langsung juga turut mendisiplinkan pribadi masing-masing siswa, guru menjalankannya dengan tegas bahkan ketika seorang siswa yang melakukan kesalahan / melanggar peraturan, pasti akan tetap dan tegas dikenai sanksi dari pihak guru ataupun sekolah. Menurut responden dalam membimbing serta memotivasi siswa agar lebih maju lagi berprestasi, guru akan terus menyemangati siswa dalam belajar untuk mengejar apa yang menjadi

target dan cita-cita siswanya di hari depan. Tak jarang juga guru memberikan dukungan serta pujian kepada siswanya.

Kesimpulan Kasus

Responden merupakan orang yang mudah akrab dalam membina hubungan yang harmonis dengan guru-gurunya. Sikap terbuka yang dimilikinya membuat guru pada akhirnya juga mampu menanggapi setiap keluhan yang berasal dari responden secara tanggap serta mencari solusi bersama. Begitu pula dengan usaha guru dalam menciptakan suasana nyaman di kelas yang juga mampu memberikan ruang bagi siswa untuk dapat lebih berkonsentrasi dalam belajar. Tak jarang juga seorang guru memberikan pujian kepada siswanya serta menyemangati mereka sewaktu belajar. Cara-cara guru dalam meningkatkan kualitas kondisi di kelas inilah yang membuat siswa merasa lebih termotivasi lagi dalam meningkatkan pengetahuan, prestasi serta mendisiplinkan dirinya.

Responden 3

Nama : Chandra Syah Putra Kelas / jurusan : I (satu) / Otomotif

Alamat : Jl. Binjai Km 10,8 gang Soma Hari / tanggal : Rabu / 10 Maret 2010

Responden yang tempat tinggalnya tak jauh dari sekolah ini mengatakan bahwa mata pelajaran P2SB merupakan pelajaran yang paling ia sukai. Dia

berdalih menyukai mata pelajaran ini karena merupakan pelajaran yang mudah dipahami dan dimengerti olehnya. Hal ini tak terlepas juga karena guru yang mengajarkannya membawakan mata pelajaran ini dengan kata-kata sederhana sehingga para siswa dengan mudah dapat mengerti makna serta maksud pelajaran tersebut. Menurutnya, Bapak J. Siambaton adalah guru yang paling disukainya di sekolah tersebut. Chandra menyukai guru itu karena sifat humoris yang dimilikinya membuat beliau menjadi lucu dan siswa menjadi lebih gampang serta tidak sungkan untuk berhubungan lebih dekat dalam membentuk hubungan harmonis karena guru bisa membaur dengan siswanya. Bapak Siambaton tidak menciptakan karakter guru yang diktator, akan tetapi lebih lembut dan bisa diterima oleh siswa.

Keadaan yang tergambarkan seperti di atas membuat responden merasa hubungan antara dirinya dengan guru diibaratkannya seperti hubungan abang dan adik. Sebuah hubungan dekat yang mampu menciptakan suasana nyaman dan santai tapi tetap serius di antara keduanya. Chandra berpendapat hubungan seperti ini membuatnya bisa merasa lebih dekat layaknya hubungannya dengan abangnya di rumah. Bagi responden, kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas adalah saat-saat yang menyenangkan dan memiliki cerita tersendiri bagi dirinya. Memiliki kesenangan bahkan keluh kesah juga dalam kelangsungannya. Menurut responden menyenangkan karena adanya suasana kekompakan yang terjalin di antara semua penghuni siswa sekelas. Misalnya, mereka sekelas sering bercanda bersama dan hal ini pun masih di bawah kontrol guru mereka juga.

Berbeda dengan responden sebelumnya, Chandra mengakui bahwa tak jarang juga guru bersikap galak pada siswa sekelasnya. Hal ini disebabkan juga

karena siswa kelas satu jurusan mekanik otomotif ini dikenal sebagai kelas yang ribut dan ditambah lagi dengan kenakalan siswanya saat proses belajar yaitu kebiasaan mencontek hasil pekerjaan dan tugas yang dikerjakan teman-teman lainnya. Kenakalan seperti inilah yang membuat guru menjadi ekstra dalam mendidik siswa di kelas tersebut. Menurut pengakuan dari responden, dia juga pernah menghadapi masalah yang akhirnya mengganggu konsentrasi belajarnya di sekolah. Masih seperti masalah yang dialami kedua responden sebelumnya, Chandra pun merasa pernah terganggu ketika guru menerangkan pelajaran di kelas, ada seorang temannya yang ribut sehingga dia tak bisa lagi mengikuti pelajaran dengan serius dan tenang.

Chandra termasuk seorang yang terbuka pada gurunya, dan ia pun pernah menceritakan keadaan yang mengganggunya tersebut kepada guru. Dia merasa ini penting dilaporkan agar guru bisa segera menanggulangi keadaan yang dapat mengganggu kegiatan belajar tersebut sehingga terciptalah suasana belajar yang lebih kondusif bagi siswa di kelas. Menurut penuturannya, saat Chandra melaporkan masalah yang dihadapinya tersebut kepada guru, ia mendapat respon positif dari guru tersebut. Guru dengan tenang mendengarkan ceritanya dan berusaha memberi solusi akan masalah tersebut. Sama juga halnya dengan cara penyelesaian masalah di atas, di sekolah ini guru tetap memberikan sanksi tegas dan nyata bagi siapa saja siswa yang terbukti melakukan kesalahan dan mengganggu jalannnya proses belajar mengajar di kelas.

Responden ini meraih prestasi yang cukup membanggakan di bidang akademik sekolah, yaitu memperoleh juara II (kedua) di kelasnya. Menurutnya cara yang paling ampuh dalam meningkatkan serta mengembangkan potensi atau

keahlian yang dimilikinya adalah dengan terus belajar serta mempraktekkan ilmu yang diperolehnya langsung ke bengkel. Dan untuk teori dalam setiap pelajaran sebaiknya harus dimengerti / dipahami agar keduanya bisa berjalan secara seimbang dan bersamaan. Baginya dengan belajar sungguh-sungguh, apapun yang diinginkan untuk menjadi seorang yang sukses pasti akan terwujud. Responden menjelaskan bahwa guru selalu membimbing siswanya untuk tetap mengikuti serta mentaati peraturan yang berlaku di sekolah. Guru terus mengarahkan siswa dalam menjalankan dan menjunjung kedisiplinan bagi para siswanya serta yang juga berhubungan dengam kegiatan sekolah. Responden mengatakan bahwa guru menjadi motivator tetap bagi setiap siswa di sekolah mereka. Bapak dan ibu guru di sekolah tersebut selalu memberikan nasehat dan saran-saran positif yang membangun bagi kemajuan para siswanya.

Kesimpulan Kasus

Responden juga termasuk seorang pribadi yang terbuka dan mampu membina hubungan yang akrab dengan gurunya. Bahkan dia mengibaratkan hubungan antara dirinya dengan guru layaknya antara abang dan adik. Dia juga tak segan untuk menceritakan masalah atau keluhan yang dihadapinya kepada guru, yang mengganggu konsentrasi belajarnya di kelas. Begitu pula dengan guru yang bersangkutan, mampu menanggapi keluhan tersebut dengan tenang dan segera mencari jalan keluar pemecahan masalahnya. Sikap terbuka dan hubungan harmonis yang terbina di antara keduanya membuat suasana nyaman serta kondusif dalam keseharian guru dan siswa tersebut. Guru yang senantiasa

memberi semangat serta motivasi bagi siswanya ini membuat siswa terpacu untuk berusaha memperoleh serta meningkatkan kemampuan akademis serta praktek kejuruan yang dimilikinya dari proses pembelajaran di sekolah.

Responden 4

Nama : Wahyu Star Kelas / jurusan : I (satu) / Otomotif Alamat : Jl. Tani Asli

Hari / tanggal : Kamis / 11 Maret 2010

Responden yang duduk di jurusan otomotif ini menyatakan bahwa mata pelajaran PPAU (Pengenalan Pertama Pada Alat Ukur) merupakan pelajaran yang paling disukainya di sekolah. Dia beralasan menyukai mata pelajaran ini adalah karena guru yang bertanggung jawab membawakan mata pelajaran tersebut dinilainya mampu menjelaskan dengan terperinci dan tidak bertele-tele sehingga dia merasa lebih mudah untuk mengerti pelajaran yang baru diterimanya ini. Selain metode pengajaran yang tidak bertele-tele tersebut, responden juga mengatakan bahwa ketika di dalam kelas, guru tersebut mampu mencairkan suasana sehingga ketika di dalam kelas semua siswanya tidak merasa tegang. Misalnya, beliau memberikan humor serta candaan sebagai selingan sewaktu belajar. Dan sebelum kelas berakhir, guru tersebut juga memberikan evaluasi kepada siswanya untuk mengetahui apakah siswanya sudah paham terhadap bahan pelajaran yang diberikan pada hari itu.

Bapak Jesron Siambaton juga adalah guru yang paling disukainya di sekolah. Hampir sama dengan responden terdahulu, Wahyu menyukai guru ini karena menurutnya Bapak ini mampu menjelaskan dengan baik dan tidak suka marah-marah di kelas. Akan tetapi, Wahyu mengaku bahwa ia tidak terlalu akrab dengan guru-guru di sekolahnya. Dia berkata bahwa hubungannya dengan guru hanya sebatas hubungan biasa, layaknya siswa dan guru di sekolah. Baginya, di sekolah hanya sebatas untuk belajar saja kalau pun diselingi dengan cerita atau candaan itu lumrah saja. Menurutnya, tidaklah begitu penting untuk akrab dengan guru.

Wahyu menjelaskan kegiatan di dalam kelas berlangsung normal layaknya proses belajar mengajar seharusnya. Guru menjelaskan, bercerita dan berinteraksi langsung dengan siswanya. Bahkan tak jarang juga guru-guru yang masuk ke kelasnya memberikan nasehat kepada seisi kelas. Memberi pengarahan serta motivasi agar setiap siswa lebih giat lagi dalam mengejar cita-cita terutama prestasi akademik yang berguna bagi masa depan kelak. Hal seperti inilah dirasa Wahyu mampu memberikan semangat baru dan dorongan kuat bagi para siswa untuk semakin giat lagi dalam belajar. Dari hasil wawancara peneliti dengan responden, dia menambahkan juga bahwa guru pun turut aktif dalam menciptakan kenyamanan ketika mengajar di dalam kelas. Salah satunya adalah dengan menyelingi pelajaran dengan memberi sedikit cerita lucu atau humor sehingga membuat siswa menjadi lebih semangat dan ceria kembali, selain itu juga dapat membuat yang mengantuk atau pun yang melamun menjadi sadar dan mau belajar kembali.

Seperti masalah yang dihadapi responden sebelumnya, Wahyu juga merasa pernah mengalami masalah hingga akhirnya mengganggu konsentrasi belajarnya. Seperti cerita sebelumnya, ketika dia sedang fokus pada pelajarannya, ada teman-temannya yang lain bercerita sehingga Wahyu pun terganggu ketika belajar. Sikap cuek yang dimiliki Wahyu membuatnya tidak pernah mau berbagi dan bercerita kepada guru-gurunya perihal masalah yang mengganggunya tersebut. Karena responden yang cuek dan tidak pernah terbuka untuk bercerita kepada guru, secara otomatis juga, guru pun tidak pernah memberi tanggapan atau memberikan solusi terhadapa masalah yang tengah dihadapinya, apalagi yang akhirnya mengganggu konsentrasi belajarnya.

Pada semester sebelumnya, responden pernah memperoleh prestasi akademik di kelasnya, yaitu mendapatkan peringkat juara III (ketiga) di kelasnya. Menurutnya, cara yang paling ampuh dalam mengembangkan potensi atau keahlian yang dimilikinya adalah dengan mengkombinasikan antara belajar serta bekerja keras untuk memperoleh hasil yang memuaskan di bidang akademisnya. Usaha-usaha tersebut diyakininya akan berhasil karena dibarengi dengan tetap berdoa kepada Sang pencipta. Menurutnya, guru-guru di SMK 1 TD Pardede tersebut juga sering memotivasi mereka dalam menjalankan disiplin yang berlaku serta selalu membimbing mereka supanya lebih giat lagi dalam belajar untuk meningkatkan kemampuan serta pengetahuan yang mereka miliki. Wahyu mengakui bahwa guru-guru di sekolahnya selalu berusaha menasehati dan menceramahi para siswa agar bisa menjadi orang-orang terbaik yang berguna bagi keluarga dan negara ini.

Kesimpulan Kasus

Responden yang memiliki sikap cuek dan tidak terbuka terhadap orang lain, terutama pada gurunya ini merupakan seseorang yang kurang bisa berinteraksi dengan lingkungan terutama di sekolahnya. Baginya, tidaklah terlalu penting untuk memiliki hubungan yang akrab dengan gurunya. Responden berpendapat bahwa rutinitas di sekolah hanyalah untuk belajar saja, tidak perlu interaksi yang terlalu mendalam. Dengan sikap tertutup yang dimilikinya tersebut, membuat dia jarang berinteraksi lebih dalam lagi dengan gurunya. Dia tidak pernah bercerita atau pun berbagi kepada gurunya perihal masalah atau kendala yang dihadapinya. Itu membuat hubungan yang terbina di antara keduanya

Dokumen terkait