• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV. 2 Hasil Pengamatan dan Wawancara

Berikut hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap lima anak tunanetra sebagai subjek penelitian :

Informan I

Nama : Timson Aritonang

Tempat, Tgl. Lahir : Sileutu, 14 Agustus 1992

Jenis Kelamin : Laki-laki

Anak ke : 6 dari 8 bersaudara

Penyebab Kebutaan : Campak

Anak dari Ayah : Elman Aritonang

Ibu : Asnaria br Sinaga

Alamat Orangtua : Repa Sileutu Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang

Simalungun

Agama : Kristen Protestan

Tgl.Masuk Yapentra : 21 Juli 1997

Wawancara yang dilakukan pada tanggal 20 April pukul 11.20 dan bertempat di ruang rapat YAPENTRA ditujukan untuk 2 orang anak integrasi, yaitu Timson dan Siska. Wawancara pertama ditujukan untuk Timson karena dari awal Timson yang kelihatan ceria dan welcome yang dapat membawa peneliti untuk bisa masuk ke jiwa masing-masing informan lain.

Timson yang masuk lebih dulu ke Yayasan sebelum Siska tentu telah mengenal lebih banyak selak beluk YAPENTRA. Dia mengatakan masuk ke

Yayasan umur 5 tahun, yaitu tahun 1997 dan sekarang kelas 3 SMA dan baru menyelesaikan Ujian Nasional. Kebutaan Timson disebabkan karena waktu kecil dia mengalami penyakit campak dan kebutaannya tidak sedari lahir, melainkan saat dia berusia 3 tahun. Dikarenakan orangtua yang sibuk bekerja dan kurang memperhatikan, tanpa disadari Timson telah terkena campak yang berujung pada kebutaan. Orangtua Timson menyadari telah melakukan kesalahan yang sangat fatal sampai anaknya bisa seperti itu, dan pernah sampai hampir frustasi karena sayang mereka yang berlebihan, tapi orangtua Timson pasrah karena biayapun tidak memadai. Terlahir dari keluarga normal dan memiliki 7 saudara, hanya Timsonlah yang mengalami kebutaan. Sampai pada akhirnya pihak Yayasan datang ke kampung Timson dan mensosialisasikan tentang YAPENTRA. Pertama-tama keluarga berat melepas Timson karena dulu masih sangat kecil, tapi pihak Yayasan pun terus meyakinkan dan membawa beberapa anak tunanetra sebagai bukti dan orangtua serta pihak keluarga pun setuju memasukkan Timson ke YAPENTRA.

“Umur 5 tahun aku masuk YAPENTRA ini, besar-besar di sininya aku, jadi uda sangat ngertilah keadaan disini. Waktu kecil masih bisa melihatnya aku, umur 3 tahunlah kena sakit campak, karena orangtua pun sibuk kerja dan kurang perhatian. Waktu orangtua tau pun penyakitku ini gak bisa sembuh lagi sangat menyesal mereka, hampir frustasi pun, tapi ya mau gimana lagi ya pasrah aja lah mereka. Sebenarnya dulu keluarga berat kali melepas aku, karena masih membutuhkan orangtua aku, masih kecil kali dulu, tapi demi masa depan akunya itu, dan dulu juga ga percaya orangtua tentang sosialisasi YAPENTRA ini, sampai ada juga anak tunanetra di bawa ke kampung. Dari situlah orangtua percaya dan berani melepas aku merantaulah istilahnya, hahhaaa”.

Timson masuk ke integrasi sejak SMP, yaitu di SMPN 2 Lubuk Pakam. Dari SDLB memang dia telah memiliki nilai yang bagus dan selalu berusaha untuk mempertahankan nilai yang telah di standartkan oleh Yayasan, untuk masuk

ke integrasi, yaitu 7,5. Timson memberi keterangan panjang lebar bagaimana proses komunikasi kelompoknya/integrasi dalam pengembangan konsep dirinya.

Mulai dari dia berada di lingkungan orang awas, yang susah susah gampang, terutama untuk mengenali teman satu persatu hanya lewat suara mereka, dan sampai dia benar-benar bisa melewati semuanya karena keuletannya dalam bergaul. Dan dia menegaskan ada beberapa faktor yang perlu di contoh juga untuk anak-anak lain yang ingin merasakan integrasi, diantaranya mau belajar dan bergaul (mendekatkan diri secara perlahan), menunjukkan bahwa kita mampu, bisa lebih dari orang awas dalam hal akademik, bisa jadi tempat curhat bagi mereka yang awas dan yang terpenting meyakinkan pihak Yayasan kalau kita mampu di integrasi, dengan begitu pihak Yayasanpun akan memberi motivasi sekaligus kepercayaan pada kita. Subjek terlihat bangga dan bersemangat sekali menjawab ketika ditanya mengapa mau bersekolah di integrasi. Dia mengatakan pasti ada senang dan susahnya berada di tengah orang awas.

“Masuk ke sekolah umum ya karena mau belajar dan bisa menunjukkan kalo orang tunanetra juga bisa belajar seperti orang normal. Dari SMP aku udah di integrasi. Yayasan memang kasih patokan untuk dapat sekolah diluar itu harus punya nilai 7,5 dan aku gak boleh nyia-nyiakan kepercayaan mereka yang uda memberiku kesempatan untuk berintegrasi. Awalnya masuk ke situ kawan-kawan gak mau gabung-gabung sama aku, tapi aku punya cara untuk dapat banyak teman. Ya bagi aku sendiri ada beberapa cara yang aku buat dan caraku itu bisa dikatakan berhasil, hhee. Dan maunya dapat di contohlah sama kawan-kawan tunanetra lain kalo mau ke integrasi. Yang pertama aku ga bole diam, ga bole terpaku, maksudnya harus kita yang mendekatkan diri, terus yang kedua, apa ya, hhee, kita usahakanlah IQ harus bisa lebih dari mereka yang normal, biar mereka mau menerima kita, biar ga sepele mereka. Terus yang terakhir aku itu humoris, hhee dan bisa juga jadi tempat curhat bagi kawan-kawan. Mungkin kelebihan humorisku ini jugalah yang membawa aku gampang-gampang aja dalam berteman, hhee, buktinya dalam waktu sekitar 3/4 hari aku uda bisa ngenalin teman-temanku hanya lewat suara mereka dan mereka juga bisa menerima aku”.

Tumbuh kembang di YAPENTRA membuat Timson dapat melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang awas pada umumnya dan membuat konsep dirinya berkembang. Contohnya saja bersosialisasi dengan orang awas dan bahkan bisa menyelesaikan tingkat pendidikan yang cukup tinggi, yaitu SMA. Timson melalui masa SMA di swasta, yaitu SMA RK Serdang Murni L. Pakam, jurusan IPS. Dan menurut keterangannya sejauh ini memang belum ada anak tunanetra yang menduduki bangku IPA dalam integrasi. Selama beberapa tahun telah merasakan integrasi, tentu Timson merasakan hal-hal yang sangat membantu tumbuh kembangnya, antara lain memiki teman yang lengkap, maksudnya orang awas maupun tunanetra seperti dirinya, kemudian dapat lebih berbagi pengalaman pada teman asrama yang tidak merasakan integrasi. Perkembangan konsep diri Timson memang telah terbentuk dan bisa dikatakan mengarah pada perekembangan positif, karena pergaulan dan cara berfikir yang telah terbentuk dari dia berintegrasi, dapat membantunya dalam perkembangan konsep diri, bahkan dia memiliki cita-cita ingin melanjut ke Perguruan Tinggi.

“Setauku sampai aku sebesar ini di Yapentra belum pernah ada yang masuk IPA kalo di integrasi, selalu IPS, karena memang susahlah kayak kami ini masuk IPA, karena praktek-praktek gitu kan. Setelah aku 6 tahun di integrasi, aku merasa sangat banyak ya manfaatnya, salah satunya dalam hal berteman. Jadi lebih banyak kawanku, gak hanya kawan-kawan satu Yayasan, tapi juga orang normal di luar sana. Teman di asrama dan di luar sama-sama enak, ya merasa lengkap aja punya teman tunanetra dan orang normal, terus aku lebih banyak pengalaman dan bisa berbagi pengalaman dengan teman satu Yayasan yang gak di integrasi. Terus karna sering berbagi pengalaman dengan teman yang gak integrasi, aku jadi lebih bersemangat dan merasa bangga bisa jadi kayak sekarang, hhe. Tapi intinya harus berusaha lha pokoknya, jangan percuma kita uda di integrasi tapi temannya itu-itu aja, harus berkembanglah baik dalam pemikiran maupun pergaulan. Harus mau juga bagi pengalaman dan bantu-bantu kawan yang gak di integrasi, gak boleh sombong juga”.

Selain hal yang dapat membantu tumbuh kembangnya, yaitu memiliki teman yang lengkap dan cara berfikir yang luas, Timson juga telah melewati susah-susahnya belajar di integrasi, bahkan dalam melakukan proses komunikasi. Dimana dia kadang-kadang bingung berbicara dengan kawan-kawannya, bisa jadi kawannya tersebut sudah pergi entah kemana saat dia berbicara, karena dia tidak melihatnya. Begitu juga dalam hal belajar, pelajaran yang di ajarkan guru sering tidak sepenuhnya dimengerti oleh Timson, walaupun sebenarnya anak-anak tunanetra yang berintegrsai dibekali tape recorder, tapi tetap hambatan itu pasti muncul. Dan hambatan itu sering muncul pada pelajaran Akuntansi dan Matematika. Tapi pihak sekolah mengadakan les tambahan untuk kelas tiga yang akan menghadapi Ujian Akhir Nasional, yaitu Akuntansi dan Bahasa Inggris.

“Biasanya hambatan yang ku alami dalam hal komunikasi itu, paling susah kalo ngomong sama mereka, bisa jadi kawan bicara kita sudah pergi ntah kemana, kita ngomong kok gag di jawab-jawab, ntah-ntah uda pigi mereka gak dengerin kita lagi, nah itu salah satu kendala juga kalo di integrasi ini. Tapi aku uda biasa dengan hal itu. Terus masalah belajar juga. Dalam hal belajar biasa yang gak ngerti mau nanyak sama kawan sebangku, tapi sering gak puas, karena di jawabnya pun semampu dia aja, setelah pulang tanya lagi dengan pengawas asrama, kalo gak puas juga langsung tanya ke gurulah. Terus aku juga ada ikut les inggris dan ekonomi. Kalo di bilang susah, ya tentu susah bagi kami yang tunanetra, tapi harus bisalah, jadi harus lebih aktif baik dalam les maupun di kelas. Kalo hambatan mata pelajaran di akuntansi, jurnal masih gampang, posting ke buku besar yang sulit karena ada tabel-tabel gitu. Matematika juga, yang daerah-daerah arsiran, dalam bidang menggambarlah yang sulit, aduhh…”.

Berhubung Timson dan Siska baru saja melewati Ujian Nasional, peneliti menanyakan sekilas tentang proses Ujian mereka. Timson mengatakan sedikit lega telah bisa melewatinya, walaupun tidak lega sepenuhnya, karena masih harus menunggu pengumuman. Tapi yang pasti dia telah berusaha sebaik mungkin, semampunya dan menyerahkannya pada yang di Atas. Dan dia berharap hasil

yang telah dicapainya selama berintegrasi dapat mengantarkannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu Perguruan Tinggi Negeri.

“Aduhh, kalau ditanya bagaimana ujian kemarin, ya begitulah, hhaa. Aku pun gak tau gimana hasilnya, tapi yang pasti aku uda mengerjakan bagianku dan selebihnya ku serahkan aja sama Tuhan. Sistem ujian kami sama dengan yang lain, hanya saja ada petugas khusus/pengawas integrasi yang melingkari jawaban kami, trus kami milih jawabannya dengan lisan, karena soalnya telah di Braillekan oleh petugas yang mengerti, beberapa hari sebelum ujian dimulai dan dipastikan soal itu tidak bocor, hhe. Terus kalo mau lanjut kuliah aku pengennya sih nyoba dulu ke Perguruan tinggi Negeri, mau ngambil Sastra di Unimed, mudah-mudahan aku bisa, hhe, Amin..”

Kesimpulan Kasus

Dalam menjalin komunikasi kelompok dengan orang awas, Timson tidak dapat mengandalkan seluruh indranya. Timson harus berkomunikasi tanpa menggunakan kedua matanya sebagai penangkap pesan. Hal tersebut dikarenakan kondisi Timson sebagai penyandang tunanetra. Ketunanetraan Timson disebabkan karena waktu kecil dia mengalami penyakit campak dan kebutaannya tidak sedari lahir, melainkan saat dia berusia 3 tahun. Dikarenakan orangtua yang sibuk bekerja dan kurang memperhatikan, tanpa disadari Timson telah terkena campak yang berujung pada kebutaan.

Integrasi membuat perkembangan konsep diri Timson menjadi baik dan positif. Baik dalam bergaul maupun cara berfikirnya yang dewasa. Itu terlihat dari cara menjawabnya yang welcome dan jawaban yang benar-benar masuk akal dan tidak di buat-buat. Karena kepribadiannya yang luwes mampu membawanya bersosialisasi dengan mudah dan memiliki banyak teman, dan dia menanamkan beberapa faktor positif dari dirinya sendiri yang harus benar-benar bisa di jalankan dan berharap anak tunanetra lain yang ingin berintegrasi dapat seperti dia dalam

hal bergaul. Dari situlah terlihat bahwa proses komunikasinya selama di integrasi berhasil mengembangkan konsep dirinya. Timson yang telah melewati masa integrasi selama beberapa tahun, mengaku cukup senang dan bangga sebagai anak tunanetra yang bisa melewati integrasi dengan baik. Walaupun ada hal yang mendukung dan menghambat perkembangan konsep dirinya, tapi ia menjadikan semua itu sebagai motivasi untuk terus belajar dan bangkit.

Hal yang menghambat proses integrasinya dikarenakan proses belajar mengajar yang kurang dimengerti, lalu di awal integrasi berupa komunikasi yang dia rasa sulit untuk berbicara karena tidak dapat melihat. Tapi, dia tidak menjadikannya sebagai sebuah masalah besar. Sampai pada jawaban akhir yang dia ingin melanjut ke perguruan tinggi, merupakan mimpinya, dan dia akan tetap berusaha agar bisa ke perguruan tinggi negeri. Tanpa disadari, jawaban akhir itu menjadi bukti bahwa Timson merasa nyaman berada di integrasi.

Informan II

Nama : Roma Siska Tampubolon

Tpt, Tgl Lahir : Riau, 27 Nopember 1990

Tgl. Masuk : 03 Nopember 2005

Gereja : HKBP

Wawancara dengan informan kedua dilakukan bersamaan dengan informan I, yaitu di ruang rapat YAPENTRA. Siska yang pemalu, pendiam dan kelihatan masih canggung sedikit menyulitkan peneliti untuk bertanya banyak padanya. Dia hanya menjawab satu dua kata dari apa yang ditanyakan peneliti saja. Anak pertama dari empat bersaudara ini mempunyai hobby menyanyi dan

orangtuanya sangat menyayanginya. Subjek mengalami kebutaan dikarenakan penyakit campak sama seperti Timson, ketika dia berumur 2 tahun. Pada tahun 1999, Siska pernah masuk ke Panti Karya Hepata HKBP Laguboti dan 31 Oktober 2005 kembali ke orangtua, lalu 3 November orangtuanya memasukkannya ke YAPENTRA.

Saat ini subjek berumur 21 tahun, dan baru saja menyelesaikan Ujian Akhirnya di SMA RK Serdang Murni L.Pakam sama dengan Informan pertama. Ketika peneliti menanyakan bagaimana proses komunikasi yang dirasakannya saat berintegrasi, subjek hanya tersenyum dan menjawab singkat. Dia mengatakan sedikit berbeda dengan Timson yang pintar bergaul. Dikarenakan dia masuk ke YAPENTRA setelah berumur 15 tahun, tidak seperti Timson yang dari kecil sudah mengerti dan mengenal dunia luas, walau dulu dia juga berada di Panti Asuhan. Tetapi dia merasa ada perbedaan, dimana dia berintegrasipun tidak seperti Timson yang dimulai dari SMP, tetapi dia baru saja merasakannya saat SMA.

“Ya, buta sejak kecil, umur 2 tahun. Dulu pernah juga tinggal di Panti, tapi orangtua merasa perkembanganku sangat lambat, akhirnya dipindahkan ke YAPENTRA. Masuk ke sini udah umur 15 tahun, jadi sebenarnya baru beberapa tahunlah aku disini. Dulu SMP aku di SMPLB, tapi karena nilaiku mencukupi untuk masuk ke SMA, maka Yayasan memperbolehkan ke integrasi, dengan bertemankan Timson aku masuk ke SMA RK Serdang Murni L.Pakam. Sehari-hari ya sama dia ajalah aku, gag berani kemana-mana dan temanku di sekolah pun dia terus dan untungnya kami sekelas walaupun tidak sebangku”.

Merasakan berintegrasipun menambah kepercayaan diri pada subjek kedua ini, dia mengaku walaupun satu tahun bersekolah temannya dulu hanya Timson, tapi ketika naik ke kelas dua dan pembagian jurusan, orang awas pun sudah ada yang menjadi teman dekatnya. Teman sebangkunya yang dipilihkan oleh wali

kelas baik padanya dan mau membantunya belajar. Sampai dia dapat menyalurkan hobi menyanyinya ketika pelajaran kesenian, dikarenakan motivasi dari teman sebangkunya tersebut, yang bernama Nursalam Sinaga. Teman sebangkunya itulah yang kerap kali memberinya dukungan dan dua tahun juga menjadi teman sebangku tetapnya. Walaupun ketika bertemu dengan orang awas lain atau yang baru di kenalnya, dia tetap sungkan untuk berbicara.

“Kurasakan juga susahnya bicara sama orang normal ini, makanya selama setahun sama Timson aja aku bekawan, tapi lama kelamaan gak enak juga kurasa bekawan sama dia aja, gak berkembang, apalagi dia cowok, aku juga butuh teman cewek yang bisa diajak curhat. Untungnya wali kelas memberi kawan sebangku yang baik, dan kasih aku motivasi untuk belajar nyanyi, dari situ aku PD, kenapa gak dicoba, orang normal aja kasih aku dukungan. Tapi masih malu juga aku sama orang normal yang baru ku kenal”.

Ditanyai mengenai hambatan yang dirasakan selama berintegrasi, jawaban Siska hampir mirip dengan informan pertama. Mengalami kesulitan dalam proses belajar, terutama saat ujian. Siska yang baru saja merasakan integrasi saat duduk di SMA, pertama-tama tidak mengerti bagaimana sistem ujian di integrasi, dia merasa bodoh ketika ujian pertama, mereka yang tunanetra di ajak ke perpustakaan, lalu menggunakan mesin tik untuk menjawabnya. Itu terjadi pertama kali saat ujian bulanan lalu berlanjut ke ujian semester dan ujian kenaikan kelas. Tapi lama-kelamaan dia terbiasa dengan kondisi seperti itu dan bisa menyelesaikan studinya di SMA tersebut.

“Gak ngerti sama sekali waktu ujian pertama kali. Aku pikir kayak SMPLB dulu, pake huruf braille kayak biasa, ternyata di suruh ke perpustakaan dan pake mesin tik, terus sekali-kali ada pengawas yang bacain soal (lisan). Itu dulu hambatan yang ku rasakan, kesusahan waktu ujian. Walaupun dulu udah pernah di ajarin cara ngetiknya tapi dulu aku ga belajar dengan sungguh-sungguh, uda besar kayak gini baru ngerasain akibatnya, kurang paham, akhirnya belajar lagi.”

Wawancara yang singkat itu peneliti tutup dengan pertanyaan yang sama dengan Timson, yaitu perasaan telah mengikuti ujian akhir nasional. Dan lagi-lagi jawaban Siska singkat dan dibarengi dengan senyuman. Dia mengatakan sama halnya dengan Timson. Tinggal menunggu hasilnya dan terus berDoa.

Kesimpulan Kasus

Anak pertama dari empat bersaudara ini mempunyai hobby menyanyi dan orangtuanya sangat menyayanginya. Subjek mengalami kebutaan dikarenakan penyakit campak, sejak umur 2 tahun. Dalam menjalin proses komunikasi kelompok, Siska mengalami kesulitan yang berarti. Meskipun telah lama menyandang status tunanetra, Siska masih membutuhkan mata sebagai penangkap pesan yang penting dalam sebuah komunikasi apapun terlebih komunikasi kelompok. Namun, hal ini segera disadari Siska bahwa ia adalah seorang tunanetra yang tidak dapat mengandalkan kedua matanya sebagai penangkap pesan.

Integrasi yang baru tiga tahun dirasakannya mengubah hidupnya, dikarenakan teman sebangkunya yang baik, yang mampu membawa Siska bergaul dengan orang awas dan sekaligus dapat membantunya menemukan jati dirinya. Teman sebangkunya memberi dia dukungan lewat hobinya waktu pelajaran kesenian. Dari situ Siska mulai senang dan mau berteman dengan orang awas. Itulah faktor yang mendukung komunikasi kelompok Siska dalam pengembangan konsep dirinya saat bersekolah di sekolah umum. Yaitu motivasi dari teman sebangkunya yang merupakan orang awas. Kepercayaan diri Siska semakin

terbentuk seiring berjalannya waktu, yang tadinya dia takut dan enggan berteman selain dengan Timson.

Selain faktor pendukung di atas, ada juga faktor penghambat yang dirasakan oleh subjek kedua ini, yaitu saat ujian. Pertama kali susah memulai untuk mengerti bagaimana sistem ujian di integrasi karena di SMPLB Siska ujian seperti biasa yang memakai regret atau braille. Tiba masuk ke integrasi menggunakan mesin tik dan ke perpustakaan yang sekali-kali berbentuk lisan dan perlahan dia terbiasa dengan kondisi seperti itu. Dan tidak menjadikannya sebagai penghambat besar.

Informan III

Nama : Lody Sitepu

Tpt, Tgl Lahir : Gurukinayan, 04 Juni 1982

Tgl. Masuk : 19 Juli 1993

Gereja : GBKP

Lody Sitepu merupakan informan ketiga yang ditemui di perpustakaan Yayasan. Pria kelahiran Kaban Jahe 1982 ini, merupakan tamatan SMA RK Serdang Murni juga, sama seperti informan pertama dan kedua. Dia menanyakan lebih dulu tujuan dan maksud peneliti datang ke Yayasan dan penelitipun menjelaskannya secara rinci. Tidak disangka, ternyata Lody pun bernasib sama dengan peneliti, yaitu sedang dalam tahap pengerjaan skripsi dan beberapa bulan lagi mudah-mudahan gelarnya sudah didapatnya. Lody yang sudah berumur 29 tahun akan menamatkan perkuliahannya dari STT Abdi Sabda, Binjai, beberapa bulan mendatang. Subjek masuk ke Yayasan pada tahun 1993 dan mengaku

sangat beruntung masuk ke YAPENTRA, karena disitulah dia tumbuh dan berkembang sampai seperti sekarang ini dan orangtuanya juga bangga padanya.

Lody mengalami kebutaan sejak lahir, yang tidak diketahui sebab pastinya. Terlahir dari keluarga sederhana dan merupakan anak ketiga dari lima bersaudara yang kesemuanya normal (awas) menyebabkan Lody minder dan merasa tidak dibutuhkan di dunia. Dia bercerita dulunya orangtua tidak memiliki cukup biaya untuk memeriksakannya ke Dokter. Lalu orangtua membawanya ke orang pintar di kampungnya dan tidak menghasilkan apa-apa. Mulai dari situ dia berpikiran bahwa penyakitnya itu merupakan sebuah kutukan yang entah darimana datangnya. Sampai pada akhirnya kakeknya (bapak ibunya) menyuruhnya masuk ke YAPENTRA dan kakeknya jugalah yang mengantarkannya ke Yayasan. “Mata Baru” itulah sebutan Lody untuk YAPENTRA.

“Dulu aku seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa, tidak bisa melihat terang indahnya dunia, wajah orangtuaku, bahkan wajahku sendiri pun belum pernah ku lihat. Bukan aku tidak memiliki pikiran untuk bertahan hidup, bahkan aku mau bangkit dari keterpurukan ini, tapi kenapa hanya aku yang buta, dan tidak diketahui penyebabnya, lalu apa gunanya aku masih ada di dunia dan hanya bisa merepotkan orang lain. Aku sempat

Dokumen terkait