• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data keaktifan siswa secara klasikal saat pembelajaran IPS dengan strategi pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut.

P = X 100%

= X 100%

= , X 100 = 85.38%

Berdasarkan tabel di atas maka diperoleh hasil rata-rata aktivitas siswa dalam pembelajaran seperti Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru saat pembelajaran sebesar 85,25%, Mengajukan pertanyaan ketika mengamati, diskusi, kerja kelompok dan saat merasa kesulitan sebesar 85, 25%, Melakukan diskusi kelompok sebesar 85,75 Mempresentasikan hasil diskusi sebesar 85,25%. Untuk lebih jelasnya hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II dalam

pembelajaran IPS dengan menggunakan strategi yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial dapat dilihat pada diagram di bawah ini:

Gambar 6. Diagram Persentase Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Siklus II

2) Data hasil belajar siklus II

Pada akhir pembelajaran siklus II guru memberikan tes evaluasi untuk mengukur hasil belajar kognitif siswa dalam pembelajaran IPS menggunakan strategi yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial, yang hasilnya akan dibandingkan dengan kriteria ketuntasan yang telah direncanakan baik secara individu maupun klasikal dengan hasil tes pada akhir pembelajaran siklus I. Soal yang diberikan pada akhir siklus II terdiri dari 20 soal pilihan ganda dan data hasil belajar kognitif siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Memperhatikan dan.. Mengajukan pertanyaan Melakukan diskusi kelompok Mempresentasikan hasil diskusi 85.25 85.25 85.75 85.25

Tabel 13. Hasil Belajar Siklus 2 No

absen

No Induk siswa Nilai Keterangan

Tuntas Tidak Tuntas

1. 848 70 √ 2. 897 90 √ 3. 899 100 √ 4. 907 70 √ 5. 911 95 √ 6. 912 95 √ 7. 913 95 √ 8. 915 100 √ 9. 918 85 √ 10. 919 65 √ 11. 921 100 √ 12. 924 100 √ 13. 925 90 √ 14. 926 90 √ 15. 927 80 √ 16. 928 90 √ 17. 929 95 √ 18. 931 95 √ 19. 932 90 √ 20. 933 75 √ 21. 953 100 √ 22. 597 100 √ Jumlah 1970 Rata-rata 89.55 Ketuntasan kelas 86,36% 13,64%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar, untuk mengetahui hasil dari rata-rata kelas dan ketuntasan nilai secara klasikal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: a) Nilai Rata-rata kelas

X = = =89,55

b) Ketuntasan Klasikal

Ketuntasan Belajar = X 100%

= X 100% = 86,36%

Berdasarkan tabel di atas maka dapat diketahui bahwa 19 siswa dari 22 siswa kelas V SD Negeri Karen Bantul telah memperoleh nilai hasil belajar di atas nilai ketuntasan minimum yang telah direncanakan yaitu 75. Persentase ketuntasan pada siklus II ini mencapai 86,36% berarti pada siklus II ini terdapat kenaikan sebesar 22,72% dari siklus I. hal ini berarti hasil belajar siswa selama siklus II telah melampaui angka persentase keberhasilan yang telah ditentukan yaitu sebesar 75%. Dengan demikian maka hasil belajar siswa dinyatakan telah mencapai indikator keberhasilan sehingga penelitian dapat di hentikan pada siklus II.

Persentase ketuntasan secara klasikal palam pembelajaran IPS dengan strategi yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial dapat dilihat pada diagram di bawah ini:

Gambar 7. Diagram Persentase Ketuntasan Kelas Dalam Pembelajaran IPS Siklus II 0 20 40 60 80 100

Tuntas Tidak Tuntas

86.36 13.64 S k a la d a la m p e rs e n ( % ) siklus 2

3) Refleksi

Berdasarkan hasil observasi selama pembelajaran siklus II, maka diperoleh refleksi sebagai berikut:

a) Aktivitas siswa

Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II ini telah mengalami peningkatan yaitu sebesar 14,04% dari siklus I yang semula 71,34% menjadi 85,38% pada siklus II. Persentase ini telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan sebelumnya yaitu 75%.

b) Hasil belajar

Hasil belajar siswa yang diperoleh selama berlangsungnya proses pembelajaran siklus II telah tuntas dengan perolehan persentase ketuntasan kelas sebesar 86,36%. Terdapat kenaikan sebesar 22,72% dari siklis I, yang persentase ketuntasannya hanya 64,64%. Hal ini berarti pada siklus II dinyatakan tuntas karena telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan sebelumnya yaitu 75%. 4. Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa dari Siklus I-II

Proses analisis data hasil penelitian meliputi data tentang aktivitas siswa dan hasil belajar siswa mulai dari siklus I sampai siklus II, proses analisis ini meliputi membandingkan data setiap siklus dan mengamati perkembangan hasil penelitian serta mengamati perkembangan kenaikan hasil setiap siklus. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan observer maka diperoleh data tentang aktivitas siswa dari siklus I sampai siklus II, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 14. Peningkatan aktifitas siswa dari siklus I sampai siklus II NO Aspek yang Diamati

Siklus I II Rata- rata % Rata- rata % 1. Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru. 3,09 77,25 3,41 85,25 2. Mengajukan pertanyaan ketika mengamati, diskusi, kerja kelompok dan saat merasa

kesulitan. 2,78 69,375 3,41 85,25 3. Melakukan diskusi kelompok 2,73 68,25 3,43 85,75 4. Mempresentasikan hasil diskusi 2,82 70,5 3,41 85,25 Jumlah 11,42 285,38 13,66 341,5 Rata-rata 2,86 71,38 3,42 85,38

(Pengamatan aktivitas siswa tersaji pada tabel 9 dan 12)

Berdasarkan tabel di atas diperoleh data persentase aktivitas siswa pada siklus I sebesar 71,38% dan pada siklus II sebesar 85,38%, dari siklus I sampai siklus II terjadi peningkatan aktivitas siswa sebesar 14%. Dari data tersebut dapat di simpulkan bahwa aktivitas siswa secara klasikal telah memenuhi syarat keberhasilan sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah di tetapkan yaitu proses aktivitas siswa dalam kelas≥ 75%.

5. Peningkatan Hasil Belajar Siswa dari Pra Siklus Sampai Siklus II

Data hasil belajar kognitif dari pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 15. Peningkatan hasil belajar siswa dari pra siklus, siklus I dan siklus II No

absen

No Induk siswa Hasil Belajar

Pra Siklus Siklus I Siklus II

1. 848 50 60 70 2. 897 50 75 90 3. 899 60 80 100 4. 907 50 70 70 5. 911 45 60 95 6. 912 65 90 95 7. 913 50 70 95 8. 915 55 100 100 9. 918 55 90 85 10. 919 60 75 65 11. 921 70 95 100 12. 924 65 75 100 13. 925 55 75 90 14. 926 60 65 90 15. 927 65 85 80 16. 928 45 65 90 17. 929 65 75 95 18. 931 75 75 95 19. 932 60 70 90 20. 933 55 70 75 21. 953 80 95 100 22. 597 75 95 100

Jumlah skor total 1310 1710 1970

Nilai rata-rata 59,54 77.73 89.55

Jumlah siswa tuntas 3 14 19

Jumlah siswa tidak tuntas 19 8 3

Persentase siswa tuntas 13,64 63,64% 86,36%

Persentase siswa tidak tuntas 86,36 36,36% 13,64% Hasil analisa ketuntasan belajar siswa secara individu maupun klasikal dapat di lihat pada tabel di atas. Hasil belajar siswa secara individu dikatakan tuntas apabila telah mencapai KKM atau di atas KKM yaitu ≥ 75. Sedangkan secara

klasikal pembelajaran dikatakan tuntas apabila ≥ 75% siswa mencapai KKM.

Banyaknya siswa yang mencapai KKM dari pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada diagram di bawah ini:

Gambar 8. Diagram Ketuntasan Belajar Siswa Dari Pra Siklus Sampai Siklus II Berdasarkan tabel di atas terlihat hasil ketuntasan individu, pada pra siklus hanya 3 siswa yang tuntas, siklus I meningkat menjadi 14 siswa yang tuntas dan pada siklus II siswa yang tuntas sebanyak 19 siswa. Sedangkan siswa yang tidak tuntas pada pra siklus terdapat 19 siswa, siklus I berkurang menjadi 8 siswa yang tidak tuntas dan pada siklus II siswa yang tidak tuntas hanya 3 siswa. Sedangkan untuk persentase ketuntasan secara klasikal dapat dilihat pada diagram di bawah ini: 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Pra Siklus Siklus I Siklus II

3 14 19 19 8 3 B a n y a k n y a S is w a

Gambar 9. Diagram Persentase Ketuntasan Klasikal Pra Siklus, Siklus I Dan Siklus II

Secara klasikal pembelajaran dikatakan tuntas apabila ≥ 75% siswa telah

mencapai KKM. Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa ketuntasan klasikal pada pra siklus sebesar 13,64%, siklus II sebesar 63,64% dan siklus II sebesar 86%. Dari pra siklus – siklus I terdapat peningkatan sebesar 40% dan dari siklus I-II terjadi peningkatan sebesar 22,72%.

C. Pembahasan

Penelitian tindakan kelas yang dilakukan peneliti selama dua siklus menunjukan bahwa strategi pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Bukan hanya nilai rata- rata kelas yang meningkat tetapi jumlah siswa yang mencapai KKM pun semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Armstrong (2013: 87) belajar dengan kecerdasan spasial sangat efektif untuk mengeja kata-kata, mengingat rumus-rumus matematika, dan fakta-fakta sejarah. Penggunaan strategi pembelajaran yang

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Ketuntasan Kelas 13.64 63.64 86.36 S k a la Da la m P ro se n Pra Siklus Siklus I Siklus II

berorientasi pada kecerdasan visual spasial dalam pembelajaran IPS kelas V sangat sesuai karena sebagian besar materi IPS kelas V mempelajari fakta-fakta sejarah.

Penilaian yang dilakukan pada penelitian tindakan kelas ini adalah penilaian hasil belajar yang penekanannya pada aspek kognitif. Susanto (2014: 5), hasil belajar merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Hasil belajar dalam penelitian ini diukur dengan soal evaluasi yang di berikan di akhir pembelajaran setiap siklus.

Pada penelitian ini proses penilaiannya menggunakan soal pilihan ganda yang diberikan di akhir pembelajaran setiap masing-masing siklusnya. Tujuan penilaian ini untuk mengetahui seberapa jauh siswa memahami materi pelajaran yang disampaikan guru. Hasil belajar siswa pada pra siklus atau sebelum diberi tindakan rata-rata nilai belajar dalam kelasnya 59,54 dan siswa yang mencapai KKM sebanyak 3 siswa atau 13,64% sedangkan pada siklus I rata-rata nilai belajar dalam kelasnya meningkat menjadi 77,73 dan siswa yang mencapai KKM sebanyak 14 siawa atau 63,64% serta di siklus II rata-rata nilai belajar siswa dalam kelas mencapai 89,55 dengan siswa yang mencapai KKM sebanyak 19 siswa atau 86,36%. Sedangkan proses keaktifan siswa pada siklus I sebesar 71,38%, meningkat menjadi 85,38% pada siklus II atau terjadi peningkatan 14%

Berdasarkan data individu dan persentase ketuntasan klasikal dapat disimpulkan hasil belajar siswa meningkat, pembelajaran sudah berhasil sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan peneliti.

D. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena keterbatasan dari peneliti. Penelitian ini hanya menekankan satu hasil belajar saja yaitu hasil belajar kognitif, sehingga hasil belajar siswa tidak dapat teramati semua.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian tindakan kelas yang berjudul meningkatkan hasil belajar siswa menggunakan strategi yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial dalam pembelajaran IPS kelas V di SD Karen Bantul, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial. Peningkatan itu ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah siswa yang mencapai KKM. Persentase hasil belajar siswa dalam kelas yang mencapai KKM pada pra siklus atau sebelum diberi tindakan adalah 13,64% , setelah dilakukan tindakan pada siklus I, pencapaian KKM meningkat menjadi 63,64% dan setelah dilakukan tindakan pada siklus II, pencapaian KKM meningkat menjadi 86,36%.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar dengan penerapan strategi pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial dalam pembelajaran IPS di kelas V SD Karen Bantul, peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan hasil belajar IPS sebaiknya guru menerapkan strategi pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial dalam pembelajaran, karena strategi pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada konteks dan materi IPS yang lain dengan penerapan strategi pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan visual spasial.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2010).Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Aditya Media.

Armstrong, T. (2002). 7 Kinds Of Smart. (Terjemahan T. Hermaya). Jakarta: Gramedia.

_________. (2002).Sekolah Para Juara (Terjemahan Yudhi Murtanto). Bandung: Kaifa.

_________. (2013).Kecerdasan Multipel dalam Kelas (Terjemahan Dyah Widya Prabaningrum). Jakarta: Indeks.

Chatib, M. (2011). Sekolahnya Manusia (Sekolah Berbasis Multiple Intelegences di Indonesia).Bandung: Kaifa.

Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Dilaga, N. (2014).Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Melalui Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple intelligences Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Gembongan. Skripsi: UNY Yogyakarta.

Dimyati & Mudjiono.(2006). Belajar dan pembelajaran.Jakarta: PT Rineka Cipta. Gardner, H. (2003). Kecerdasan majemuk: Teori dalam prektek (Terjemahan

Alexander Sindoro). Batam Center: Penerbit Interaksara.

Hidayati. (2002). Pendidikkan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Yogyakarta: FIP UNY.

Izzaty, R. E. et al. (2013)Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: Uny press. Jasmine, J. (2007).Mengajar Dengan Metode Kecerdasan Majemuk (Implementasi

Multiple intelligences). Bandung: Nuansa.

Jihad, A & Haris, A. (2013).Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Kartono, K. (2007).Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan).Bandung: Mandar

Maju.

Khanifatul. (2013). Pembelajaran Inovatif: Strategi Mengelola Kelas Secara Efektif dan Menyenangkan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

King, L. A. (2013). Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta: Salemba Humanika.

Kurniawan, D. (2014). Pembelajaran Terpadu Tematik (Teori Praktik dan Penilaian). Bandung: alfabeta.

Kusumah, W. & Dwitagama, D. (2010). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Indeks.

Lwin, M, et al. (2008). Cara Mengembangkan berbagai Komponen Kecerdasan. (Terjemahan Christine Sujana). Jakarta: Indeks.

Majid, A. (2016).Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Manar, P. G. (2011). Peningkatan Hasil Belajar IPA MelaluiSstrategi Multiple

Intelligences Kelas IV SD Negeri Ngabean Secang Magelang. Skripsi: UNY Yogyakarta.

Martuti, A. (2009).Mengelola Paud Dengan Aneka Permaian Meraih Kecerdasan Majemuk. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Mifzal, A. (2013). Strategi Pembelajaran untuk Anak Kurang Berprestasi. Yogyakarta: Javalitera.

Purwanti, R. (2013). Penerapan Multiple intelligences Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada Siswa Kelas VI SD N Salakan Lor, Kalasan, Sleman. Skripsi.: UNY Yogyakarta. Sanjaya, W. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan.Jakarta: Kencana.

________. (2011).Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana.

________. (2012). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Sapriya. (2009).Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandumg: PT Remaja Rosdakarya.

Sugihartono, et al. (2013).Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Uny Prss. Sugiyono. (2010).Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Susanto, A. (2014).Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.

________. (2014). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.

Suwardi, S. (2010) penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakata: Yuma Pustaka.

Suyadi. (2013).Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Thobroni, M. & Arif Mustofa, A. (2013).Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz media.

Uno, H. B. & Mohamad, N. (2011). Belajar dengan Pendekatan Paikem. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Uno, H. B. & Umar, M. K. (2009). Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Usman, M. U. (2006).Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja.

Yaumi, M. & Ibrahim, N. (2013). Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak (Multiple intelligences).Jakarta: Kencana.

Lampiran 1. Silabus dan RPP IPS kelas V pada Siklus I SILABUS

KELAS V (LIMA)

TAHUN PELAJARAN 2016/2017 SD NEGERI KAREN

UPT PP KECAMATAN KRETEK

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN BANTUL D. I. YOGYAKARTA

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas/ Semester : V (lima) / 2 (dua)

Standar Kompetensi : 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia KOMPETENS I DASAR MATERI POKOK/PEM BELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN INDIKATOR PENIL AIAN ALOKASI WAKTU SUMBER BELAJAR 2.2. Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Masa Persiapan Kemerdekaan • Mengamati video pengeboman kota hirosima dan Nagasaki jepang • Membuat mind mapping lembaga-lembaga yang dibentuk untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. 2.1.1 Menyebutkan penyebab kekalahan jepang dalam perang Asia Pasifik. .

2.1.2 Menjelaskan beberapa usaha untuk mempersiapkan kemerdekaan.

2.1.3 Mengidentifikasi peranan beberapa tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Tes Tertulis Lisan Produk (LKS) 4 jp x 35 menit • Gambar- gambar tokoh pahlawan persiapan kemerdek aan. • Video perjuanga n pahlawan untuk

• Mewarnai dan menjodohkan pertanyaan dan jawaban. • Menyusun puzzle gambar tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan.

2.1.4 Menuliskan sikap para menghargai jasa para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan mempersi apkan kemerdek aan. • Siti Syamsiah dkk. 2008. Ilmu Pengetah uan Sosial 5untuk SD/MI Kelas V • Kurmia Nandar Wati dan Ratih Hurriyati .

2008. Ilmu Pengetah uan Sosial untuk SD/MI kelas

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS I

Satuan Pendidikan : SD Negeri Karen

Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas / Semester : V / 2

Materi : Masa Persiapan Kemerdekaan

Alokasi Waktu : 4JP (4 X 35 Menit)

A. Standar Kompetensi

2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia.

B. Kompetensi Dasar

2. 2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

C. Indikator Pencapaian Kompetensi Pertemuan 1

2.1.1 Menyebutkan penyebab kekalahan jepang dalam perang Asia Pasifik. 2.1.2 Menjelaskan beberapa usaha untuk mempersiapkan kemerdekaan. Pertemuan 2

2.1.3 Mengidentifikasi peranan beberapa tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan.

2.1.4 Menuliskan sikap para menghargai jasa para tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan.

D. Tujuan Pembelajaran Pertemuan 1

1. Setelah tanya Jawab tentang penyebab kekalahan jepang, siswa dapat menyebutkan penyebab kekalahan jepang dalam perang Asia Pasifik dengan tepat.

2. Setelah berdiskusi tentang beberapa usaha tokoh pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan, siswa dapat Menjelaskan beberapa usaha tokoh pahlawan untuk mempersiapkan kemerdekaan dengan benar.

Pertemuan 2

3. Setelah mengamati tayangan slide tentang peran tokoh pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan, siswa dapat menjelaskan beberapa usaha untuk mempersiapkan kemerdekaan dengan benar.

4. Setelah berdiskusi tentang jasa para pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan, siswa dapat menuliskan sikap untuk menghargai jasa para pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan dengan benar.

E. Pendekatan dan Metode Pembelajaran 1. Model : KTSP

2. Metode: ceramah, tanya jawab, dan diskusi. 3. Strategi: kecerdasan Visual Spasial

F. Materi Pokok Pertemuan 1

Perang Asia Pasifik

Kekalahan Jepang Dalam Perang Asia Pasifik

Perang Pasifik disebut juga Perang Asia Timur Raya. Perang ini terjadi antara Jepang dengan Sekutu (yang termasuk Tiongkok, Amerika Serikat, Britania Raya, Filipina, Belanda, dan Selandia Baru). Dalam Perang Pasifik, Pulau Saipan jatuh ke tangan pasukan Amerika Serikat. Keadaan ini terjadi pada bulan Juni 1944

pada tanggal 9 September 1944 Perdana Menteri Koiso memberi janji kemerdekaan kepada rakyat Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menarik simpati rakyat Indonesia.

Membentuk BPUPKI

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diketuai oleh Dr. Rajiman Wedyodiningrat dan didampingi dua orang wakil yaitu Icibangase dan R.P. Soeroso. Tugas pokok BPUPKI ialah menyiapkan organisasi pemerintahan yang akan menerima kemerdekaan dari pemerintahan Jepang.

Pertemuan 2

Peristiwa Rengasdengklok (Jawa Barat)

Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh golongan muda dibawa ke Rengasdengklok. Tujuan mereka adalah mengamankan tokoh bangsa dari pengaruh Jepang

Perumusan Teks Proklamasi

Naskah proklamasi disusun oleh tiga orang, yaitu Bung Karno, Bung Hatta,dan Ahmad Soebarjo

Detik-Detik Proklamasi

Jumat 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, diadakan upacara bendera dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Tepat pukul 10.00 WIB Ir. Soekarno berpidato singkat dan membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Menghargai jasa para pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan

Kita pantas menghargai usaha tokoh-tokoh bangsa dalam mempersiapkan kemerdekaan kita. Berkat usaha mereka, kita dapat hidup di alam merdeka dan menikmati sistem ketatanegaraan yang mereka perjuangkan. Bentuk penghormatan kepada mereka dapat kita ungkapkan dengan mengenang jasa-jasa mereka.

G. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 1

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi

waktu Pendahuluan 1. Guru mengucap salam dan meminta ketua kelas

untuk memimpin berdoa bersama.

2. Guru menanyakan kabar siswa dilanjutkan mempresensi kehadiran siswa.

3. Guru memberikan motivasi dengan tayangan slide perjuangan kemerdekaan agar siswa semangat dan fokus dalam mengikuti pembelajaran sehingga memperoleh hasil belajar yang memuaskan. (Zona Alfa)

4. Guru memberikan apersepsi sebagai pengantar pembelajaran sebelum melaksanakan kegiatan inti.

Guru bertanya, “Siapa yang pernah mendengar tentang negara Jepang? Hari ini juga kita akan belajar tentang perang Asia Pasifik Jepang yang berpengaruh terhadap kemerdekaan Indonesia dan usaha bangsa Indonesia untuk mempersiapkan kemerdekaan”

5. Guru mengingatkan kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya. (warmer)

6. Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan.

a. Mengamati video pengeboman kota Nagasaki jepang dan beberapa usaha yang dilakukan para tokoh pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan.

b. Bertanya jawab tentang penyebab kekalahan jepang dan beberapa usaha yang dilakukan para tokoh pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan.

c. Membuat kelompok kecil

d. Mendiskusikan beberapa kebijakan jepang yang berpengaruh pada kemerdekaan Indonesia.

e. Mengerjakan LKS yang berkaitan dengan kecerdasan visual spasial yaitu dengan memotong, mewarnai papan pertanyaan dan menjodohkanya pada jawaban yang tepat.

f. Membahas LKS yang berkaitan dengan kecerdasan visual spasial mulai dari jawaban dan ketepatan memberi warna. 7. Guru menjelaskan materi dan kegiatan yang

akan dilakukan serta menyampaikan tujuan yang akan dicapai dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan komunikatif. Inti 1. Siswa mengamati video tentang peristiwa

pengeboman kota Nagasaki dan beberapa usaha yang dilakukan para tokoh pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan yang disajikan oleh guru dengan proyektor.

2. Siswa mendengarkan penjelasan guru dari video tersebut

3. Siswa mengidentifikasi bagaimana peristiwa pengeboman kota Nagasaki dengan teliti. 4. Siswa bertanya jawab tentang penyebab

kekalahan Jepang dan beberapa usaha yang

dilakukan para tokoh pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan.

5. Siswa membuat kelompok kecil 4-5 orang. 6. Siswa mendiskusikan beberapa kebijakan

jepang yang berpengaruh pada kemerdekaan Indonesia secara berkelompok dan beberapa usaha yang dilakukan para tokoh pahlawan dalam mempersiapkan kemerdekaan.

7. Siswa mengerjakan LKS dari guru secara berkelompok, yang berkaitan dengan kecerdasan visual spasial yaitu dengan memotong, mewarnai papan pertanyaan dan menjodohkanya pada jawaban yang tepat. 8. Siswa menyampaikan hasil diskusinya.

9. Siswa dan guru membahas hasil diskusi yang telah dikerjakan.

10. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya mengenai hal yang belum dimengerti.

11. Siswa bersama guru melakukan tanya jawab untuk meluruskan kesalahpahaman dan memberi penguatan.

Penutup 1. Siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

2. Siswa dan guru merangkum materi yang telah dipelajari agar lebih memudahkan siswa dalam belajar.

3. Guru melakukan tindak lanjut untuk mempelajari materi selanjutnya.

4. Guru meminta ketua kelas untuk memimpin doa.

5. Guru mengucapkan salam untuk menutup pembelajaran.

Pertemuan 2

Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi

waktu Pendahuluan 1. Guru mengucap salam dan meminta ketua kelas

untuk memimpin berdoa bersama.

2. Guru menanyakan kabar siswa dilanjutkan mempresensi kehadiran siswa.

3. Guru memberikan motivasi dengan video perjuangan agar siswa semangat dan fokus dalam mengikuti pembelajaran sehingga memperoleh hasil belajar yang memuaskan. (Zona Alfa)

4. Guru memberikan apersepsi sebagai pengantar pembelajaran sebelum melaksanakan kegiatan inti.

Guru bertanya, “Siapa yang tahu kapan Indonesia merdeka? Hari ini kita akan belajar tentang perjuangan pahlawan untuk mempersiapkan kemerdekaan”

5. Guru mengingatkan kembali materi yang telah dipelajari sebelumya. (warmer)

6. Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan.

a. Mengamati tayangan slide tentang usaha mempersiapkan kemerdekaan dan menghargai jasa pahlawan.

b. Bertanya jawab tentang usaha untuk mempersiapkan kemerdekaan dan menghargai jasa pahlawan.

c. Membuat kelompok kecil

d. Mengerjakan LKS dengan membuat mind mapping. Dengan menggunakan berbagai warna dan menariknya dengan garis sehingga saling berhubungan.

e. Mengerjakan evaluasi

7. Guru menjelaskan materi dan kegiatan yang akan dilakukan serta menyampaikan tujuan yang akan dicapai dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan komunikatif. Inti 1. Siswa mengamati tayangan slide tentang usaha

untuk mempersiapkan kemerdekaan dan

Dokumen terkait