• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

4.3 Hasil Penelitian

4.3.2 Hasil Pengolahan Data Kuesioner Penelitian .1 Data Umum .1 Data Umum

a. Alasan Memilih Lokasi Berdagang

Berikut adalah data mengenai alasan pedagang dalam memilih lokasi berdagang:

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Alasan Memilih Lokasi Berdagang

No. Alasan Memilih Lokasi

Jumlah %

1 Strategis atau mudah dilihat oleh calon pembeli 5 100.0

2 Tidak ada lokasi lain 0 0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa semua responden mengatakan alasan berjualan di lokasi persimpangan dikarenakan strategis atau mudah dilihat calon pembeli. Dalam hal ini, pedagang memiliki alasan bahwa jika berdagang bukan di pinggir jalan akan mengurangi jumlah pembeli yang akan membeli jajanan gorengan serta pendapatan mereka.

b. Jenis Minyak Goreng

Berikut adalah data mengenai alasan pedagang dalam memilih lokasi berdagang:

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Minyak Goreng

No. Jenis Minyak Goreng

Jumlah %

1 Bermerk - 0

2 Curah 5 100.0

Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa semua responden menggunakan minyak goreng curah. Alasan responden menggunakan minyak goreng curah adalah karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan harga minyak goreng kemasan, sehingga dapat menghemat modal untuk berdagang gorengan. Padahal, menurut penelitian yang dilakukan oleh Hasibuan (2012), minyak goreng curah sudah mengandung timbal walaupun kadarnya belum melebihi batas yang ditetapkan. Yani (2011) juga menyebutkan bahwa minyak goreng curah sudah mulai mengalami kenaikan bilangan peroksida sebagai tanda terjadinya ketengikan. Hal ini juga didukung oleh pihak Balai Riset dan Standardisasi yang mengatakan bahwa bilangan peroksida pada minyak goreng curah yang belum dipakai bahkan mencapai 2 mekO2/kg. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya

seharusnya serta cara pendistribusian dari produsen ke konsumen yang tidak memenuhi syarat.

c. Sumber Minyak Goreng

Berikut adalah data mengenai sumber minyak goreng:

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Minyak Goreng

No. Sumber Minyak Goreng Jumlah %

1 Pasar Swalayan - 0

2 Pasar Tradisional 5 100.0

3 Restoran - 0

Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa seluruh responden menggunakan minyak goreng yang berasal dari pasar tradisional karena seperti yang dijelaskan pada tabel sebelumnya bahwa minyak goreng yang digunakan adalah minyak goreng curah.

d. Minyak Goreng Pertama Kali Pakai

Berikut adalah data mengenai minyak goreng mulai dipakai:

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Minyak Goreng Pertama Kali Dipakai

No. Minyak Goreng Pertama Kali Dipakai Jumlah %

1 Baru 0

2 Bekas 0

3 Campuran 5 100.0

Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa seluruh responden menggunakan campuran minyak goreng bekas penggorengan sehari sebelumnya dengan minyak goreng yang baru untuk penggorengan pertama kali setiap hari. Dalam hal ini,

pedagang beranggapan bahwa minyak yang digunakan belum begitu buruk kualitasnya, sehingga untuk pemakaian pertama setiap harinya dapat digunakan kembali lalu dicampurkan dengan minyak goreng yang baru. Cara ini juga dinilai dapat menghemat minyak goreng yang akan digunakan untuk menggoreng.

e. Bahan Pembuatan Wajan

Berikut adalah data mengenai jenis kuali yang digunakan:

Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Bahan Pembuatan Wajan

No. Bahan Pembuatan Wajan

Jumlah %

1 Aluminium 1 20.0

2 Besi 4 80.0

Jumlah 5 100.0

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari seluruh responden terdapat responden yakni pedagang yang berlokasi di S1 (Jalan Kenari Raya 2) yang menggunakan wajan yang terbuat dari aluminium dan 4 responden lainnya menggunakan wajan yang terbuat dari besi. Dalam pemilihan bahan pembuat wajan, seorang responden berpendapat bahwa menggunakan wajan berbahan aluminium akan mempercepat penyebaran panas pada saat proses penggorengan, lebih ringan serta harganya jauh lebih murah. Responden yang menggunakan wajan berbahan besi berpendapat dari segi harga memang lebih mahal daripada wajan aluminium, namun kualitas lebih baik, sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.

f. Karakteristik Penghalang Wajan

Berikut adalah data mengenai karakteristik penghalang wajan:

Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Karekteristik Penghalang Wajan

No Karakteristik Penghalang Wajan Jumlah % Kadar Timbal 1 Ada, menghalangi wajan 4 80.0 S1 = 0,9361 ppm S2 = 0,2539 ppm S3 = 0,5467 ppm S5 = 1,0391 ppm 2 Ada, tidak menghalangi wajan - 0

3 Tidak ada 1 20.0 S4 = 0,6472

Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari seluruh responden, terdapat 4 responden memiliki penghalang wajan dan 1 responden lainnya yakni pedagang yang berlokasi di S4 (Jalan Garuda 3) tidak menggunakan penghalang wajan. Untuk pedagang yang tidak menggunakan penghalang wajan berpendapat bahwa hal itu tidak perlu karena lokasi berdagang menggunakan gedung dan tempat pengolahannya tidak langsung di pinggir jalan. Adapun kadar timbal pada sampel minyak goreng yang memiliki penghalang wajan (S1, S2, S3 dan S5) berturut-turut adalah sebesar 0,9361 ppm, 0,2539 ppm, 0,5467 ppm dan 1,0391 ppm, sedangkan kadar timbal pada sampel minyak goreng yang tidak menggunakan penghalan wajan adalah sebesar 0,6472 ppm.

g. Keadaan Wadah Penyimpanan Minyak Goreng

Berikut adalah data mengenai keadaan wadah penyimpanan minyak goreng: Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Keadaan Wadah

Penyimpanan Minyak Goreng No

Keadaan Wadah Penyimpanan Minyak

Goreng Jumlah % 1 Tertutup rapat 5 100.0 2 Sekedar tertutup - 0. 3 Tidak tertutup - 0 Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa seluruh responden menggunakan wadah penyimpanan minyak goreng yang tertutup rapat. Mereka melakukan hal ini hanya untuk menghindari tumpahnya minyak goreng tersebut, bukan untuk kontak langsung dengan udara.

h. Lama Berdagang Setiap Hari

Berikut adalah data mengenai lama berdagang setiap hari:

Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Berdagang Setiap Hari

No. Lama Berdagang Setiap Hari

Jumlah %

1 ≤ 8 jam per hari 5 100.0

2 > 8 jam per hari - 0

Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa seluruh responden berdagang tidak lebih atau sama dengan 8 jam berdagang setiap harinya. Rentang waktu mereka berdagang adalah mulai dari pukul 11.00 WIB sampai dengan 19.00 WIB, karena ada beberapa lokasi yang pembelinya kebanyakan siswa pada jam istirahat dan

pulang sekolah serta warga yang pulang bekerja pada sore hari, serta alasan untuk menghabiskan dagangan selama satu hari tersebut. Hal ini merupakan peluang besar bagi pedagang untuk menjajakan dagangan gorengannya. Marbun (2010) dalam penelitiannya berpendapat bahwa waktu lamanya paparan asap kendaraan bermotor pada minyak goreng yang digunakan oleh pedagang gorengan pinggir jalan menentukan besar kecilnya kadar timbal dalam minyak goreng tesebut. Adanya variasi rentang waktu berdagang pedagang gorengan di tiap lokasi menyebabkan kadar timbal yang bervariasi juga pada tiap sampel.

i. Frekuensi Penggantian Minyak Goreng dan Banyaknya Aktivitas Penggorengan

Berikut adalah data mengenai frekuensi penggantian minyak goreng setiap harinya:

Tabel 4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Penggantian Minyak Goreng

No Frekuensi Penggantian Minyak Goreng Jumlah %

1 2 kali - 0 2 > 2 kali 4 80.0 3 Tidak pernah 1 20.0 Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari seluruh responden terdapat 4 responden yang mengganti minyak gorengnya lebih dari 2 kali dengan alasan penghematan minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng dagangannya dan 1 responden lainnya sama sekali tidak pernah mengganti minyak goreng selama aktivitas penggorengan berlangsung karena ia beranggapan bahwa ketika pertama kali ia memasukkan minyak goreng 19 kg sekaligus, itu sudah cukup

untuk penggorengan selama satu hari berdagang, sehingga tidak perlu ada penggantian minyak goreng.

Selanjutnya adalah data mengenai banyaknya aktivitas penggorengan setiap satu kali penggantian minyak goreng:

Tabel 4.12 Distribusi Responden Berdasarkan Banyak Aktivitas Penggorengan

No. Banyaknya Aktivitas Penggorengan (Per Penggantian Minyak Goreng)

Jumlah %

1 ≤ 2 kali - 0

2 > 2 kali 5 100.0

Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa seluruh responden melakukan aktivitas penggorengan lebih dari 2 kali untuk setiap penggantian minyak goreng, karena mereka menganggap bahwa warna minyak masih tampak bening, kotoran sisa penggorengan belum begitu banyak, sehingga kualitasnya dianggap masih baik dan layak digunakan hingga perubahan warna tampak benar-benar mencolok. j. Tindakan yang Dilakukan Setiap Penggantian Minyak Goreng

Berikut adalah data mengenai tindakan yang dilakukan setiap penggunaan minyak goreng:

Tabel 4.13 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan yang Dilakukan Setiap Kali Mengganti Minyak Goreng

No. Tindakan yang Dilakukan Setiap

Penggantian Minyak Goreng Jumlah %

1 Minyak baru dicampur dengan minyak bekas 5 100.0 2

Minyak bekas dibuang lalu diganti dengan minyak

baru - 0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa seluruh responden mencampurkan minyak baru dengan minyak bekas setiap kali mengganti minyak goreng dengan alasan penghematan. Mereka juga mengatakan bahwa jika harus memisahkan minyak goreng bekas sebelum mengganti dengan yang baru akan memakan waktu cukup lama yang seharusnya dapat digunakan untuk menggoreng.

k. Pengetahuan mengenai Konsumsi Minyak Goreng Bekas terhadap Dampak Kesehatan

Berikut adalah data mengenai pengetahuan pedagang mengenai konsumsi minyak goreng dengan dampaknya terhadap kesehatan:

Tabel 4.14 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan mengenai Konsumsi Minyak Goreng Bekas terhadap Dampak

Kesehatan

No. Pengetahuan mengenai Minyak Goreng dan Dampak Kesehatan

Jumlah %

1 Tahu 5 100.0

2 Tidak Tahu - 0

Jumlah 5 100.0

Tabel tersebut menunjukkan bahwa seluruh responden mengetahui hubungan penggunaan minyak goreng bekas terhadap gangguan kesehatan, dan pada umumnya gangguan kesehatan yang mereka ketahui sebagai dampak penggunaan minyak goreng berulang tersebut adalah kolesterol.

Pertanyaan penelitian pada kuesioner merupakan pertanyaan seputar pengetahuan, sikap dan tindakan pedagang terhadap pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor.

4.3.2.2 Perilaku Terkait Kadar Timbal A. Pengetahuan

Berikut adalah data mengenai pengetahuan responden tentang pencemaran udara dan kaitannya dengan penggorengan:

Tabel 4.15 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan tentang Pencemaran Udara, Timbal dan Kaitannya dengan Penggorengan

No Pengetahuan Responden Skor Sampel

S1 S2 S3 S4 S5 1

Pencemaran udara adalah masuknya berbagai zat pencemar (kontaminan) ke udara untuk mengubah komposisi udara hingga pada batas tertentu.

1 1 1 1 1