• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

C. Hasil Pengujian Hipotesis

Setelah prasyarat analisis dipenuhi, maka diteruskan dengan pengujian hipotesis penelitian. Penyajian hipotesis dilakukan dengan uji t-pihak kanan pada selisih nilai prestasi belajar kognitif , nilai afektif dan nilai psikomotor siswa. 1. Uji t-Pihak Kanan Prestasi Belajar Kognitif.

Hasil uji t-pihak kanan untuk prestasi kognitif siswa materi larutan

elektrolit dan non elektrolit pada taraf signifikansi 5% (α = 0.05) terangkum pada Tabel 21. Perhitungan Uji t-pihak kanan dapat dilihat pada Lampiran 19.

Tabel 21. Uji t-Pihak Kanan Prestasi Belajar Kognitif.

Kelompok Belajar thitung ttabel Kriteria

Kelas Eksperimen 1 (Metode TAI yang

Dimodifikasi dengan Discovery) 2,232 1,67 H0 ditolak

Kelas Eksperimen 2 (Metode NHT yang

Dimodfikasi dengan Discovery) 2,232 1,67 H0 ditolak

2. Uji t-Pihak Kanan Prestasi Belajar Afektif.

Hasil uji t-pihak kanan untuk prestasi afektif siswa materi larutan

elektrolit dan non elektrolit pada taraf signifikansi 5% (α = 0.05) terangkum pada Tabel 22. Perhitungan Uji t-pihak kanan dapat dilihat pada Lampiran 19.

Tabel 22. Uji t-Pihak Kanan Prestasi Belajar Afektif.

Kelompok Belajar thitung ttabel Kriteria

Kelas Eksperimen 1 (Metode TAI yang

Dimodifikasi dengan Discovery) 1,931 1,67 H0 ditolak

Kelas Eksperimen 2 (Metode NHT yang

Dimodfikasi dengan Discovery) 1,931 1,67 H0 ditolak

3. Uji t-Pihak Kanan Prestasi Belajar Psikomotor.

Hasil uji t-pihak kanan untuk prestasi psikomotor siswa materi larutan

elektrolit dan non elektrolit pada taraf signifikansi 5% (α = 0.05) terangkum pada Tabel 23. Perhitungan Uji t-pihak kanan dapat dilihat pada Lampiran 19.

Tabel 23. Uji t-Pihak Kanan Prestasi Belajar Psikomotor.

Kelompok Belajar thitung ttabel Kriteria

Kelas Eksperimen 1 (Metode TAI yang

Dimodifikasi dengan Discovery) 2,486 1,67 H0 ditolak

Kelas Eksperimen 2 (Metode NHT yang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

D. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pelaksanaan

pembelajaran kooperatif tipe Teams Assisted Individualization (TAI) yang

dimodifikasi dengan metode discovery dapat memberikan prestasi belajar lebih

tinggi daripada pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head

Together (NHT) yang dimodifikasi dengan metode discovery pada materi larutan

elektrolit dan non elektrolit.

Prestasi belajar yang dimaksud meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Setelah dilakukan uji hipotesis dapat diketahui bahwa prestasi belajar kimia untuk materi larutan elektrolit dan non elektrolit dengan metode TAI yang

dimodifikasi discovery lebih tinggi dibandingkan dengan metode NHT yang

dimodifikasi discovery. Hal ini dapat dibuktikan dengan analisis uji-t pihak kanan

selisih nilai kognitif, nilai afektif dan nilai psikomotor antara kelas TAI yang

dimodifikasi dengan discovery dan NHT yang dimodifikasi dengan discovery.

1. Situasi Kegiatan Belajar Mengajar

Sebelum dilakukan pembelajaran pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit, siswa diberikan pretest. Pretest digunakan untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan mengenai pelajaran yang akan diikuti yaitu pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit. Hasil tes ini dapat digunakan untuk memperkirakan pada bagian materi mana yang belum dikuasai dan yang sudah dikuasai. Guru dapat memperkirakan materi apa yang harus diajarkan lebih mendalam dan yang tidak, sehingga waktu pembelajaran akan lebih efektif.

Langkah selanjutnya adalah pembagian kelompok. Karena metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah TAI dan NHT yang merupakan model pembelajaran kooperatif dan termasuk dalam pembelajaran kelompok

(cooperative learning) dimana dalam pembentukan kelompok harus

memperhatikan perbedaan kemampuan siswa serta jenis kelamin, maka dalam pembentukan kelompok harus dibuat heterogen. Hal ini dimaksudkan agar terjadi interaksi siswa di dalam kelompoknya. Di dalam setiap kelompok, siswa yang berkemampuan lebih tinggi akan membantu proses pemahaman bagi siswa yang

commit to user

berkemampuan rendah sehingga akan dapat segera menyesuaikan dalam proses pemahaman materi. Setelah pembelajaran selesai, dilakukan postes untuk mengukur prestasi kognitif. Adanya pretes dan postes ini dapat digunakan untuk mengetahui perubahan prestasi belajar kognitif setelah diterapkan metode

pembelajaran TAI yang dimodifikasi dengan discovery dan metode NHT yang

dimodifikasi dengan discovery. Sedangkan penilaian afektif diperoleh dari angket

dan penilaian psikomotor diperoleh dari hasil chek list melalui praktikum.

Pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit merupakan salah satu materi yang penting karena pokok bahasan tersebut sangat dekat dengan kehidupan dan pergaulan sehari-hari, bersifat informatif, memerlukan pemahaman dan hafalan yang cukup dari siswa. Penggunaan model pembelajaran kooperatif

tipe TAI dan NHT yang dimodifikasi dengan discovery akan mengurangi

kejenuhan siswa dalam menerima materi yang berupa hafalan karena siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran dimana siswa dapat belajar secara kooperatif, dapat bertanya meskipun tidak pada guru secara langsung. Siswa juga dapat menenemukan konsep sendiri melalui praktikum yang mereka lakukan sehingga akan membuat proses belajar menjadi menarik dan suasana belajar menjadi menyenangkan.

2. Penilaian Kognitif

Berdasarkan hasil uji-t pihak kanan dengan taraf signifikan 5%, prestasi belajar siswa untuk aspek kognitif pada pembelajaran kimia dengan metode TAI

dan NHT diperoleh harga thitung = 2,232 dimana harga yang diperoleh lebih tinggi

dari pada harga ttabel = 1,67 sehingga diperoleh kesimpulan bahwa prestasi belajar

aspek kognitif pada pembelajaran kimia dengan metode TAI yang dimodifikasi

dengan discovery lebih tinggi dari pada pembelajaran dengan metode NHT yang

dimodifikasi dengan discovery.

Lebih tingginya prestasi belajar kimia kelas TAI yang dimodifikasi dengan

discovery pada aspek kognitif disebabkan karena dalam pembelajaran dengan

metode TAI yang dimodifikasi discovery siswa terlibat secara langsung dalam

menyelesaikan masalahnya sendiri sampai menemukan hasilnya dengan proses diskusi dibantu seorang asisten dan anggota kelompok lainnya.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Metode pembelajaran TAI sebagai salah satu contoh dari metode pembelajaran kooperatif juga mempunyai keuntungan dalam memupuk kerja sama antar siswa. Materi yang kurang dipahami oleh salah seorang anggota kelompok dapat ditanyakan kepada asisten masing-masing kelompok sebelum ditanyakan kepada guru. Adanya sumbangan yang diberikan oleh seorang asisten kepada anggota kelompok dapat membuat mereka memahami materi dan belajar lebih baik. Metode pembelajaran TAI lebih menitikberatkan pada keaktifan siswa dalam belajar. Komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung multi arah yaitu antara guru dengan siswa kemudian siswa dengan siswa sehingga peran siswa tidak hanya sebagai objek saja, tetapi sekaligus sebagai subjek sedangkan guru berperan sebagai mediator dan fasilitator dalam belajar. Kerja sama dan interaksi antar siswa dalam kelompok akan memotivasi siswa dalam belajar karena keberhasilan dari suatu individu tergantung pada keberhasilan kelompok. Setiap individu dalam kelompok akan berusaha sebaik-baiknya untuk memahami materi pelajaran dengan cara aktif bertanya tentang materi yang kurang dipahami dan mencoba latihan-latihan soal yang terdapat dalam metode pembelajaran TAI

yang dimodifikasi dengan discovery. Kejenuhan dalam proses belajar tidak akan

ditemukan lagi karena adanya keheterogenan siswa dalam kelompok belajarnya. Setiap individu akan tertantang untuk memiliki nilai terbaik sehingga akan dapat menyumbangkan nilai bagi kelompoknya selain itu menyumbangkan ide atau gagasan pada saat diskusi untuk membantu teman sekelompoknya yang belum memahami materi pelajaran.

Keberhasilan proses belajar kelompok dalam metode TAI yang

dimodifikasi dengan discovery ini dituntut adanya ketrampilan dalam

kelompoknya untuk mengkomunikasikan informasi atau ide dalam pikirannya. Dengan adanya otonomi yang dimiliki oleh setiap kelompok membuat siswa dalam belajar menjadi lebih tekun karena merasa tertantang. Kelompok yang tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi tidak akan bertanya kepada kelompok lainnya karena masing-masing kelompok memiliki otonomi agar kelompoknya menjadi yang terbaik.

commit to user

Untuk kelas NHT yang dimodifikasi discovery melibatkan para siswa

dalam melihat kembali bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran melalui pertanyaan. Pada metode NHT terdapat penomoran yang dimaksudkan untuk mempermudah dalam penunjukkan siswa untuk menjawab pertanyaan dari tiap-tiap kelompok. Peran guru adalah pada waktu menjawab pertanyaan dimana guru menunjuk salah satu nomor dan nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas dan guru memberikan umpan balik kepada siswa dan memberikan kesempatan bertanya kepada siswa. Tingkat kematangan pemahaman siswa kurang karena siswa hanya terbatas pada menjawab pertanyaan yang ada .

Pada kelas eksperimen NHT yang dimodifikasi dengan discovery, saat

pembelajaran berlangsung di kelas suasana sedikit gaduh karena siswa dituntut untuk memecahkan masalah sendiri. Kegaduhan ini disebabkan dalam memecahkan masalah siswa harus berdiskusi dengan kelompoknya bahkan juga diskusi seluruh kelas. Dari segi waktu metode ini kurang efisien karena banyaknya kelonggaran waktu yang diberikan kepada siswa yang harus berdiskusi dengan kelompoknya maupun dengan seluruh kelas sehingga hal itu cenderung membuat suasana menjadi gaduh.

3. Penilaian Afektif

Aspek afektif dalam pembelajaran ini mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai dari siswa. Seorang siswa akan sulit mencapai keberhasilan studi yang optimal apabila siswa tersebut tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu, dalam hal ini adalah pelajaran kimia. Dari sini dapat diketahui bahwa kompetensi siswa pada aspek afektif menjadi penunjang keberhasilan pada aspek pembelajaran lain, yaitu kognitif dan psikomotor.

Pada prakteknya dalam pembelajaran di sekolah penilaian aspek afektif biasanya tidak disajikan dalam bentuk kuantitatif, tetapi kualitatif, misalnya sangat baik, baik, cukup, dan kurang atau A, B, C, dan D (Lihat Lampiran 15). Namun karena dalam penelitian ini juga ditinjau dari nilai prestasi belajar afektif, maka selain disajikan dalam bentuk kualitatif data nilai afektif juga dihitung secara kuantitatif untuk kepentingan statistik.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

discovery dan kelas NHT yang dimodifikasi dengan discovery dapat dilihat pada

Lampiran 15 yang menunjukkan bahwa kelas TAI mempunyai rata-rata nilai afektif 106,486 sedangkan kelas NHT rata-rata nilai afektifnya 102,257. Dari hasil analisis uji-t pihak kanan dengan taraf signifikan 5%, prestasi belajar afektif pada

kelas TAI dan NHT diperoleh harga thitung = 1,931 dimana lebih tinggi daripada

ttabel =1,67 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai afektif kelas TAI yang

dimodifikasi dengan discovery lebih tinggi dibandingkan dengan kelas NHT yang

dimodifikasi dengan discovery. Walaupun nilai rata-rata kelas TAI lebih tinggi

dari kelas NHT akan tetapi dapat dilihat pada Lampiran 15 nilai minimum kelas TAI lebih kecil daripada nilai minimum kelas NHT. Hal ini disebabkan karena sikap setiap siswa berbeda-beda dalam melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai dari siswa. Pada kelas TAI

yang dimodifikasi discovery nilai minimumnya adalah 82 dan nilai maksimumnya

adalah 123, sedangkan pada kelas NHT yang dimodifikasi discovery nilai

minimumnya adalah 84 dan nilai maksimumnya adalah 122. Pada Lampiran 15 juga dapat dilihat predikat nilai afektif dari setiap siswa. Pada kelas TAI yang

dimodifikasi dengan discovery siswa yang mendapatkan predikat nilai A ada 12

siswa, yang mendapat predikat nilai B ada 22 siswa dan yang mendapat predikat nilai C ada 1 siswa. Sedangkan pada pada kelas NHT yang dimodifikasi dengan

discovery ada 8 siswa yang mendapat predikat nilai A dan ada 27 siswa yang

mendapat predikat nilai B.

Aspek afektif mempunyai beberapa karakteristik antara lain yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral. Sikap adalah predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep

atau orang. Pada kelas eksperimen TAI yang dimodifikasi dengan discovery

diperoleh prosentase nilai pada deskriptor sikap yaitu sebesar 77,43% sedangkan

pada kelas NHT yang dimodifikasi discovery prosentase nilai untuk deskriptor

sikap yaitu sebesar 73,29%. Sehingga dapat dikatakan bahwa siswa-siswa pada

kelas TAI yang dimodifikasi dengan discovery lebih dapat merespon secara positif

atau negatif terhadap suatu objek dari pada siswa-siswa pada kelas NHT yang

dimodifikasi dengan discovery.

Minat merupakan suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan

commit to user

keterampilan untuk tujuan perhatian dan pencapaian. Untuk deskriptor minat

prosentase nilai untuk kelas TAI yang dimodifikasi discovery sebesar 77,32%

sedangkan untuk kelas NHT yang dimodifikasi discovery prosentasenya sebesar

72,32%. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi sehingga dari prosentase nilai dapat dilihat bahwa minat

siswa-siswa kelas eksperimen TAI yang dimodifikasi dengan discovery terhadap mata

pelajaran kimia lebih tinggi dari pada minat siswa-siswa kelas NHT yang

dimodifikasi dengan discovery.

Konsep diri merupakan evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimilikinya. Pada penelitian ini, siswa-siswa

pada kelas TAI yang dimodifikasi dengan discovery memiliki konsep diri yang

lebih tinggi dibandingkan dengan siswa-siswa pada kelas NHT yang dimodifikasi

dengan discovery. Hal ini ditunjukkan pada deskriptor konsep diri prosentase nilai

kelas TAI yang dimodifikasi dengan discovery sebesar 69,05% sedangkan pada

kelas NHT yang dimodfikasi dengan discovery sebesar 68,1%.

Nilai merupakan suatu keyakinan yang dalam tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik atau jelek. Untuk deskriptor nilai prosentase

nilai kelas TAI yang dimodifikasi dengan discovery sebesar 75,71% sedangkan

untuk kelas NHT yang dimodifikasi dengan discovery sebesar 73,69%. Hal ini

dapat dikatakan bahwa siswa-siswa di kelas TAI yang dimodifikasi dengan

discovery memiliki keyakinan yang lebih dari pada siswa-siswa di kelas NHT

yang dimodifikasi dengan discovery.

Untuk deskriptor karakteristik moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain maupun tindakan yang dilakukan diri sendiri. Pada penelitian ini dapat dikatakan bahwa karakteristik moral siswa-siswa

kelas TAI yang dimodifikasi dengan discovery lebih peka dibandingkan dengan

siswa-siswa di kelas NHT yang dimodifikasi dengan discovery karena pada saat

pembelajaran di kelas TAI yang dimodifkasi dengan discovery sangat

menekankan kerjasama kelompok jadi antar individu memiliki kepekaan moral terhadap satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini dapat ditunjukkan pada deskriptor moral prosentase nilai untuk kelas TAI yang dimodifikasi dengan

discovery sebesar 80,14% sedangkan pada kelas NHT yang dimodifikasi

discovery sebesar 78,86%.

Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian secara keseluruhan

prestasi belajar afektif kelas TAI yang dimodifikasi dengan discovery lebih tinggi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4. Penilaian Psikomotor

Aspek psikomotor dalam pembelajaran kimia berkaitan dengan keterampilan siswa terutama dalam kegiatan praktek. Penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan ini mencakup persiapan, proses dan produk. Pada pembelajaran materi larutan elektrolit dan non elektrolit penilaian aspek psikomotor dilakukan dengan menilai keterampilan siswa dalam melaksanakan percobaan menentukan daya hantar listrik dari beberapa larutan. Dalam hal ini selain dilakukan penilaan terhadap kinerja siswa juga kualitas pelakanaan aspek keterampilan yang dilakukan siswa.

Perbandingan nilai psikomotor antara kelas TAI yang dimodifikasi dengan

discovery dan kelas NHT yang dimodifikasi dengan discovery dapat dilihat pada

Lampiran 16. Pada Lampiran 16 dapat dilihat rata-rata nilai psikomotor kelas TAI

yang dimodifikasi dengan discovery adalah 20,543 sedangkan rata-rata nilai

psikomotor untuk kelas NHT yang dimodifikasi dengan discovery adalah 19,429.

Pada kelas TAI nilai minimumnya adalah 16 dan nilai maksimumnya adalah 23, sedangkan pada kelas NHT nilai minimumnya adalah 16 dan nilai maksimumnya adalah 22. Pada Lampiran 16 juga dapat dilihat predikat nilai psikomotor dari

setiap siswa. Pada kelas TAI yang dimodifikasi dengan discovery siswa yang

mendapatkan predikat nilai A ada 26 siswa dan yang mendapat predikat nilai B ada 9 siswa. Sedangkan pada pada kelas NHT yang dimodifikasi dengan

discovery ada 19 siswa yang mendapat predikat nilai A dan ada 16 siswa yang

mendapat predikat nilai B. Dari hasil analisis uji-t pihak kanan dengan taraf signifikan 5%, prestasi belajar psikomotor pada kelas TAI dan NHT diperoleh

harga thitung = 2,486 dimana lebih tinggi daripada ttabel =1,67 sehingga hal ini dapat

disimpulkan bahwa nilai psikomotor kelas TAI yang dimodifikasi dengan

discovery lebih tinggi dibandingkan dengan kelas NHT yang dimodifikasi dengan

discovery.

Pada penilaian aspek psikomotor terdapat beberapa deskriptor panduan penilaian yang terdiri dari aspek khusus dan aspek umum. Penilaian pada aspek khusus meliputi cara merangkai alat uji elektrolit, cara mengganti larutan dan cara mengamati hasil larutan. Pada aspek khusus yang pertama yaitu cara merangkai

commit to user

alat uji elektrolit untuk kelas TAI dan NHT yang dimodifikasi discovery

prosentasenya rata-ratanya sama yaitu 81,9%. Hal ini disebabkan karena kemampuan awal siswa sama dalam hal ini baru pertama kali melaksanakan praktikum. Untuk deskriptor kedua yaitu cara mengganti larutan pada kelas TAI siswa yang melaksanakan cara mengganti larutan dengan tepat (mendapat skor 3) prosentasenya sebesar 57,14%, yang mendapat skor 2 sebesar 31,43%, dan yang mendapat skor 1 sebesar 11,43%. Sedangkan pada kelas NHT siswa yang mendapat skor 3 sebesar 51,43%, yang mendapat skor 2 sebesar 31,43% dan yang mendapat skor 1 sebesar 17,14%. Dari hasil prosentase tersebut dapat diketahui bahwa prosentase siswa yang melaksanakan cara mengganti larutan dengan tepat

pada kelas TAI yang dimodifikasi dengan discovery lebh tinggi dari pada kelas

NHT yang dimodifikasi dengan discovery.

Untuk deskriptor ketiga yaitu cara mengamati hasil larutan siswa pada

kelas TAI dan NHT yang dimodifkasi dengan discovery tidak ada yang mendapat

skor 1 hal ini berarti hasil pengamatan yang dilakukan siswa sudah cukup tepat hal ini dapat dilihat dari prosentase siswa pada kelas TAI yang mendapat skor 2 sebesar 51,43% dan yang mendapat skor 3 sebesar 48,57%. Untuk kelas NHT yang mendapat skor 2 sebesar 54,29% dan yang mendapat skor 3 sebesar 45,71%.

Pada pedoman penilaian aspek umum ada 5 deskriptor. Deskriptor pertama yaitu unsur kerja antar individu. Pada kelas TAI dan NHT yang dimodifikasi

dengan discovery kerja sama antar individu cukup baik hal ini dapat dilihat tidak

ada yang mendapat skor 1 dan rata-rata nilai prosentase kerjasama antar individu untuk kelas TAI sebesar 87,62% sedangkan untuk kelas NHT sebesar 79,05%. Deskriptor kedua yaitu menjaga ketertiban dan disiplin kerja. Pada kelas TAI maupun NHT terdapat beberapa siswa yang kurang menjaga ketertiban dan disiplin kerja dan prosentasenya sebesar 8,57%. Untuk kelas TAI siswa yang mendapat skor 2 sebesar 17,14% dan yang mendapat skor 3 sebesar 74,29%. Sedangkan kelas NHT siswa yang mendapat skor 2 sebesar 57,14% dan yang mendapat skor 3 sebesar 34,29%. Hal ini berarti siswa-siswa kelas TAI lebih dapat menjaga ketertiban dan disiplin kerja dari pada siswa-siswa kelas NHT dikarenakan adanya arahan dari asisten dalam melaksanakan praktikum.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Deskriptor ketiga yaitu kerapian dan kebersihan. Untuk kelas TAI prosentasenya sebesar 80,95% sedangkan untuk kelas NHT prosentasenya sebesar 77,14%. Pada deskriptor keempat yaitu cara menyimpulkan hasil kerja pada dasarnya kedua kelas eksperimen menyimpulkan hasil kerja dengan diskusi dalam kelompoknya masing-masing hal ini dapat dilihat pada prosentase nilainya untuk kelas TAI sebesar 86,67% dan untuk kelas NHT sebesar 83,81%. Dan untuk deskriptor terakhir yaitu langkah kerja dalam praktikum. Pada kelas TAI prosentasenya sebesar 94,29% sedangkan untuk kelas NHT sebesar 90,48%. Prosentase pada kelas TAI lebih tinggi dari dari pada NHT karena dalam kelas TAI ada asisten dan guru yang mengarahkan sehingga setiap anggota kelompok melaksanakan praktikum sesuai langkah-langkah praktikum secara runtut.

Dari hasil yang diperoleh, lebih tingginya prestasi belajar kelas TAI yang

dimodifikasi dengan discovery daripada kelas NHT yang dimodifikasi dengan

discovery khususnya pada aspek psikomotor adalah adanya peran dari asisten

dalam kelompoknya yang cukup membantu dalam mengarahkan pada waktu praktikum. Anggota kelompok lainpun saling membantu pada waktu praktikum sehingga praktikum berjalan lancar. Sedangkan pada kelas NHT antar anggota kelompok melakukan praktikum bersama-sama tanpa ada arahan hanya berdasar pada lembar kegiatan praktikum.

commit to user BAB V

Dokumen terkait