LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1.Studi Komparasi
7. Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Teknik Pengajaran Numbered Head Together (NHT) dikembangkan oleh
Spencer Kagan (1993). Tujuan utama penggunaan teknik ini adalah untuk memupuk jiwa bekerja sama diantara para siswa. Berdasarkan penelitian Larry Maheady, Jean Michielli, Gregory Harper dan Barbara Mallete ( Jurnal of
Behavioral Education Vol.15, No.1 ) menujukkan bahwa Metode NHT efektif dan
efisien dalam meningkatkan respon siswa.
Menurut Nurhadi (2004:121) langkah-langkah yang digunakan di dalam kelas untuk penggunaan metode NHT ini ada empat langkah penting, yaitu:
1) Penomoran (Numbering)
Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 orang tiap kelompok. Masing-masing anggota kelompok tersebut diberi nomor urut yang berbeda untuk setiap anggota kelompok, demikian dengan kelompok lain juga diberi nomor seperti kelompok tersebut.
2) Pengajuan pertanyaan (Questioning)
Guru mengajukan sebuah kasus atau pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan ini dapat bervariasi dari yang bersifat umum, spesifik ataupun penerapan. Soal yang bersifat umum misalnya pertanyaan yang membutuhkan jawaban berupa pendapat atau uraian, sedangkan pertanyaan spesifik misalnya pertanyaan mengenai suatu tempat sehingga jawabannnya pasti, sedangkan pertanyaan yang bersifat penerapan misalnya penerapan suatu rumus ke dalam suatu perhitungan.
3) Berfikir Bersama (Head Together)
Para siswa yang termasuk dalam satu kelompok berfikir bersama mengenai pemecahan soal maupun kasus yang diberikan oleh guru. Setiap anggota kelompok harus meyakinkan bahwa semua anggota dalam kelompoknya mengerti dan memahami jawaban dari soal tersebut.
4) Pemberian jawaban (Answering)
Guru menyebutkan salah satu nomor dan para siswa dari setiap kelompok yang memiliki nomor seperti yang disebutkan mengangkat tangan dan memberikan jawaban untuk semua kelas. Jawaban dari masing-masing kelompok didiskusikan dengan seluruh kelas.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user 8. Metode Discovery
Carin dalam Moh Amin (1987:126) mengatakan bahwa “ Discovery
adalah suatu proses mental di mana anak atau individu mengasimilasikan konsep dan prinsip-prinsip”. Dengan kata lain discovery terjadi bila siswa terlibat dalam menggunakan proses mentalnya untuk menemukan beberapa prinsip atau konsep. Proses-proses mental tersebut misalnya : mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, mengukur, dan menarik kesimpulan. Metode ini mendasarkan pada prinsip bahwa isi/materi suatu bidang studi bukanlah merupakan serangkaian fakta yang lepas (terisolasi), tetapi ada berbagai cara untuk mengorganisasikan fakta yang terperinci dalam memahami suatu konsep.
Metode ini mencari atau menemukan hubungan yang sebelahnya tidak disadari atau menemukan kesamaan diantara gagasan-gagasan. Beberapa langkah metode penemuan yaitu:
1) Guru menyajikan masalah-masalah yang harus diteliti oleh siswa, sehingga menciptakan tantangan dan dorongan untuk mencari jawaban.
2) Guru menahan informasi sekedar untuk mendorong siswa bereksperimen. 3) Terjadinya persamaan (moment of insight) adalah pada waktu siswa
mengetahui prinsip-prinsip dasar sehingga :
a) Dapat melihat hubungan diantara berbagai fakta dihadapannya b) Dapat mengetahui sebab-sebab dari suatu gejala (fenomena)
c) Dapat menghubungkan peristiwa yang dihadapinya dengan pengetahuan yang dimilikinya
4) Siswa dapat menunjukkan bukti-bukti operasional dari pengertian atau generalisasi
5) Siswa diminta merumuskan secara tertulis/diucapkan prinsip, aturan umum yang mendasari konsep atau gagasan
Metode penemuan ini tergolong heuristik, karena siswa dibimbing untuk menemukan sendiri, jadi berbeda dengan kebiasaan ceramah untuk menerangkan seluruhnya kepada mereka. Metode penemuan ini penting karena alasan sebagai berikut :
1) Ilmu pengetahuan diperoleh melalui penemuan demi penemuan.
commit to user
2) Konsep yang abstrak akan mudah dipahami/diingat bila melalui proses penemuan sendiri.
3) Menemukan sendiri menimbulkan percaya diri sendiri, meningkatkan kemapuan memecahkan masalah dan lebih kreatif, meningkatkan motivasi, rasa ingin tahu untuk belajar lebih lanjut.
Metode penemuan ini perlu memperhatikan hal-hal berikut :
1) Penemuan sendiri pada metode penemuan hanya berlaku bagi yang bersangkutan (siswa).
2) Tidak semua materi dapat disajikan dengan metode penemuan ini. 3) Metode penemuan memerlukan banyak waktu.
4) Bila siswa mendapat kesukaran membuat kesimpulan perlu dibantu. 5) Perlu pengecekan terhadap kesimpulan yang diketemukan oleh siswa.
(Maridi,dkk, 2004:39-40)
9. Prestasi Belajar a. Pengertian
Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu “prestatie” (Zainal Arifin, 1990:2). Menurut Winkel (1996: 62) “Prestasi adalah bukti keberhasilan usaha yang dicapai. Prestasi merupakan suatu hasil usaha yang telah dilaksanakan menurut batas kemampuan dari pelaksana usaha tersebut. Sedangkan prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan, ketrampilan terhadap mata pelajaran dengan dibuktikan melalui hasil tes”. Menurut Suharsimi Arikunto (2003: 2) “Prestasi belajar diartikan sebagai usaha nyata yang diukur untuk memenuhi kebutuhan didaktik dan kegiatan pembelajaran”.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah melakukan usaha untuk mendapat ilmu pengetahuan.
b. Fungsi Prestasi Belajar
Zainal Arifin (1990:2-3) menyebutkan bahwa prestasi belajar semakin membutuhkan perhatian yang besar dari kalangan pendidik karena mempunyai lima fungsi utama antara lain :
1) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai oleh anak didik.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
2) Prestasi belajar sebagai lambang penguasaan hasrat ingin tahu.
3) Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
4) Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. 5) Prestasi sebagai indikator daya serap kecerdasan anak didik.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah implementasi proses belajar siswa yang berupa pengetahuan, cara berpikir, ketrampilan, dan perubahan tingkah laku serta dapat diungkapkan dalam bentuk nilai yang diberikan oleh pengajar.
c. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar sendiri dipengaruhi banyak faktor. Ngalim Purwanto (2002:102), membedakan faktor-faktor tersebut menjadi dua, yaitu:
1) Faktor individu, adalah faktor yang ada dalam diri individu. Misalnya kamatangan, kecerdasan, motivasi, kesiapan belajar dan faktor pribadi.
2) Faktor sosial, adalah faktor yang ada diluar individu. Misalnya keluarga, metode mengajar dan motivasi sosial.
d. Aspek Penilaian
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) maupun Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) mengharuskan semua guru menerapkan sistem penilaian berbasis kompetensi. Dengan sistem ini diharapkan penilaian dapat menyeluruh dan berkesinambungan. Penilaian ini tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan kognitif, tetapi juga mencakup ranah afektif dan psikomotor.