• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Preparasi Sampel

Pada preparasi sampel untuk mendapatkan fraksi etil asetat ekstrak metanolik bawang daun digunakan tanaman yang masih segar dan belum layu. Bagian tanaman yang digunakan adalah seluruh bagian tanaman bawang daun kecuali bagian akar. Dalam penelitian ini digunakan bahan yang masih segar dan bukan simplisia kering karena terkait kestabilan senyawa flavonoid yang terkandung didalamnya. Senyawa flavonoid, yang merupakan golongan fenolik ini merupakan komponen utama yang penting dalam penelitian ini. Jika bahan yang digunakan dikeringkan terlebih dahulu dikhawatirkan adanya degradasi atau kerusakan senyawa flavonoid.

Tanaman bawang daun yang akan digunakan dipilih yang masih baik dan segar, kemudian dicuci dengan air mengalir untuk membersihkannya dari pengotor-pengotor atau kontaminan yang menempel. Setelah dicuci dan dibersihkan, tanaman bawang daun diangin-anginkan untuk menghilangkan air yang masih tersisa dari proses pencucian. Sebelum dimaserasi, bawang daun tersebut diblender dengan tujuan untuk memperkecil ukuran permukaan tanaman sehingga akan semakin luas kontak antara bahan tanaman dan penyari, proses penyarian pun akan semakin optimum.

Proses maserasi dilakukan dengan penyari metanol dan menggunakan bantuan alat shaker. Metode maserasi dipilih karena memiliki kelebihan dibanding metode lainnya. Selain sederhana dan mudah dilakukan, metode ini juga menguntungkan untuk sampel yang digunakan karena proses maserasi ini tidak membutuhkan panas sehingga stabilitas senyawa fenolik yang terekstraksi dari sampel dapat terjaga. Alat shaker digunakan bertujuan untuk membantu proses masrasi yang lebih efektif karena dengan alat tersebut penyari lebih dapat kontak langsung ke dalam sel-sel daripada jika didiamkan saja. Maserasi dilakukan selama dua hari, dan setelah itu cairan penyari dipisahkan dari ampasnya menggunakan corong Buchner yang dilapisi kertas saring dan dengan bantuan pompa vakum untuk mempercepat dan memaksimalkan hasil penyaringan. Ampas hasil penyarian kemudian dilakukan penyarian lagi menggunakan metanol. Proses ini merupakan remaserasi yang bertujuan untuk memaksimalkan hasil penyarian. Senyawa-senyawa yang kemungkinan belum tersari karena sudah jenuhnya penyari dapat tersari pada proses remaserasi ini sehingga akan dihasilkan lebih banyak senyawa-senyawa yang tersari dari sampel. Penyari yang digunakan dalam proses maserasi penelitian ini adalah metanol yang merupakan pelarut universal. Metanol memiliki polaritas yang mirip dengan etanol namun metanol memilki viskositas yang lebih rendah sehingga akan lebih mudah untuk penetrasi maupun berdifusi ke dalam sel-sel tanaman dan tingkat pembasahannya lebih besar, sehingga metanol lebih dipilih sebagai penyari dibandingkan dengan etanol karena tingkat efektifitasnya lebih baik.

Sari metanol yang diperoleh diuapkan pelarutnya menggunakan alat

vacuum rotary evaporator sampai hampir semua metanol menguap. Prinsip alat ini yaitu penguapan dengan pengurangan tekanan. Jika tekanan uap suatu cairan sama dengan tekanan atmosfer di sekelilingnya maka cairan tersebut akan mendidih, sehingga dengan adanya pengurangan tekanan pada alat di bawah tekanan atmosfer akan menyebabkan cairan mendidih di bawah titik didih normalnya. Setelah itu, dilanjutkan pemanasan di atas waterbath dan dihembus dengan bantuan kipas angin untuk memperoleh ekstrak kental metanolik bawang daun sampai pada bobot tetap.

Ekstrak kental metanolik bawang daun yang didapat kemudian dilarutkan dengan air hangat, karena jika digunakan air dingin akan lebih susah melarutkan ekstrak metanolik. Lalu dipartisi menggunakan pelarut washbensin, sehingga fraksi air berada di bagian bawah dan fraksi washbensin berada di bagian atas. Hal tersebut dikarenakan berat jenis air (b.j. air sebesar 0,996) lebih besar daripada berat jenis washbensin (b.j.washbensin sebesar 0,730) (Anonim, 1995). Proses partisi atau ekstraksi cair-cair ekstrak metanolik ini dilakukan secara berulang-ulang sebanyak tiga kali agar lebih efektif sampai lapisan washbensin terlihat bening yang menandakan tidak ada lagi senyawa yang tertarik ke dalam washbensin. Partisi ini dilakukan dengan perbandingan pelarut air : washbensin 1:1 v/v. Bagian yang polar akan cenderung larut dalam air sedangkan bagian yang non polar akan larut dalam washbensin. Dalam fraksi washbensin akan diperoleh senyawa-senyawa kimia yang tidak diinginkan seperti lipid dan klorofil sehingga fraksi ini tidak diperlukan untuk proses penelitian tahap selanjutnya.

Fraksi air pertama hasil partisi dengan washbensin kemudian dilakukan partisi atau ekstraksi cair-cair kembali dengan pelarut etil asetat dengan perbandingan pelarut 1:1 v/v. Pada partisi air-etil asetat ini fraksi air kedua akan berada pada bagian bawah dan fraksi etil asetat berada pada bagian atas karena b.j. air (0,996) lebih besar dibandingkan b.j. etil asetat (0,898). Proses partisi ini juga dilakukan secara berulang sampai lapisan atau bagian etil asetat terlihat bening. Fraksi air kedua dan fraksi etil asetat yang diperoleh dipisahkan dan fraksi etil asetat selanjutnya diuapkan pelarutnya dengan vacuum rotary evaporator

kemudian dipanaskan dengan cawan porselin di atas waterbath dan dihembus dengan bantuan kipas angin hingga kental atau sampai bobot tetap sehingga didapatkan fraksi kental etil asetat ekstrak metanolik bawang daun. Fraksi etil asetat inilah yang akan digunakan untuk uji aktivitas antioksidan dan ditetapkan kandungan fenolik totalnya.

Pada penelitian ini digunakan fraksi etil asetat karena peneliti ingin melihat aktivitas antioksidan dari senyawa fenolik yang berada pada fraksi etil asetat. Senyawa fenolik dapat berupa dalam bentuk glikosida yang bersifat polar dan dalam bentuk aglikon yang lebih non polar, sehingga ada kemungkinan senyawa fenolik dapat larut dalam air maupun etil asetat. Selain itu, pemilihan fraksi etil asetat ini juga didasarkan pada kandungan senyawa fenolik pada bawang daun yaitu, kuersetin dan kaemferol (Aoyama dan Yamamoto, 2007; Feng dan Liu, 2011), senyawa tersebut merupakan aglikon yang larut dalam etil asetat. Berat fraksi etil asetat yang didapat sebesar 0,4712 g dan rendemen fraksi etil asetat adalah 0,04712 % berat bawang daun. Penyimpanan fraksi ini dilakukan

dengan menutup plastik dan allumunium foil kemudian ditempatkan dalam eksikator untuk menjaga kestabilan senyawa dalam fraksi dari pengaruh cahaya maupun kelembapan lingkungan.

Dokumen terkait