• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasus I. Restorasi Mangrove di Jawa, Indonesia

Kotak 8.2. Kasus Indramayu yang gagal Apa yang salah?

8.6. HASIL PROYEK

Pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat maupun Manajer Program Lokal menunjukkan bahwa tingkat ketahanan hidup tanaman mencapai di atas 75% dalam periode waktu kontrak. Hal tersebut menghasilkan perubahan status kredit-mikro menjadi bantuan murni. Yang membuat studi kasus di Pemalang menjadi menarik adalah bahwa proyek-proyek Bio-rights di wilayah ini telah diselesaikan beberapa tahun yang lalu. Sebagai hasilnya – meskipun kuantifikasi pasti jangka panjangnya sedang dalam proses – sebuah penjelasan menyeluruh mengenai hasil konservasi dan pembangunan bisa diberikan.

Kira-kira sepuluh tahun setelah penanaman bibit mangrove, pertambakan di Desa Pesantren yang dahulunya gersang kini telah ‘menghijau’ dikarenakan pohon-pohon bakau di sekelilingnya tumbuh subur dengan ketinggian 4 – 8 meter. Tanaman pantai (seperti cemara laut) yang ditanam di tepi pantai (sebagai pelindung tambak) bahkan tumbuh hingga lebih dari 10 meter. Wilayah penanaman di tepi pantai kini telah berkembang menjadi sebuah hutan yang lebat, dengan diikuti oleh regenerasi bibit secara alami. Sistem “sylvo-fishery” juga berkembang dengan baik. Pohon-pohon bakau yang ditanam dipematang tambak kini memberikan keteduhan bagi pejalan kaki dan daun-daun yang terjatuh ke dalam air memberikan hara pada tambak; bahkan beberapa daun bakau ini sengaja dipangkas untuk pakan kambing. Masyarakat melakukan pekerjaan perawatan secara teratur, termasuk memotong ranting-ranting bakau, untuk secara optimal menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan mereka. Dalam beberapa tahun, wilayah pantai pantai Desa Pesantren kini telah mendapatkan manfaat yang signifikan dari kondisi ekosistem yang telah dibenahi ini. Jumlah individu dan spesies ikan yang dapat ditangkap di sekitar sungai/saluran tambak kini bertambah. Populasi udang dan kepiting kembali meningkat setelah hampir punah. Tanaman pantai adalah rumah bagi berbagai burung, yang sebagian besarnya sudah hilang di Jawa sebagai akibat dari penggunaan pestisida dan praktek-praktek jebakan burung. Restorasi juga memberikan kontribusi pada keseimbangan restorasi geo-hidrologi di wilayah tersebut. Endapan lumpur yang ada di antara barisan akar mangrove memberikan perlindungan terhadap air pasang, mencegah ombak dan erosi. Tambak dan rumah yang dulu sering tergenang saat pasang air laut, kini bisa diatasi. Hamparan pasir dan lumpur yang baru terbentuk kini menjadi substrat tumbuh bagi bibit-bibit tanaman alami yang berasal dari sekitar lokasi restorasi, yang kemudian akan memungkinkan pembentukan lahan baru (tanah timbul).

Masyarakat setempat mendapatkan manfaat dalam berbagai cara dari adanya pelayanan ekosistem mangrove yang telah direstorasi. Kemunculan kembali spesies ikan yang menarik secara ekonomi telah meningkatkan dan membuat keragaman pendapatan mereka. Panen udang dan kepiting (alami) juga meningkat, meskipun produksinya tidak sebanyak di tahun- tahun pertama dari produksi udang yang intensif. Pada awalnya, masyarakat mengalami kesulitan yang luar biasa dalam memanen udang, karena banyaknya tanaman mangrove yang menghambat pemanenan udang dalam tambak. Saat ini metode baru sedang dikembangkan untuk pemanenan yang efektif, misalnya dengan menggantikan jaring dengan sistem perangkap yang cerdas. Meskipun dianggap sebagai hambatan oleh masyarakat setempat, kesulitan-kesulitan yang dialami dalam pemanenan udang maupun ikan sepertinya juga memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan ekosistem. Hal tersebut karena kapasitas sistem tambak ini akan sedikit dipengaruhi secara negatif oleh eksploitasi yang berlebihan. Mangrove juga memberikan sumberdaya kayu yang penting untuk keperluan konstruksi. Cabang-cabang yang lebih kecil menjadi bahan bakar untuk masak. Sebagian kayu dihasilkan setelah 6 – 8 tahun penanaman bibit. Kadang-kadang, beberapa mangrove yang tumbang/mati di wilayah tertentu, diikuti dengan penanaman bibit baru (penyulaman). Sabuk pantai dipelihara secara menyeluruh dan dikelola sebagai wilayah pantai terlindung. Sebagian pakan yang diperlukan untuk peternakan kambing berasal dari daun mangrove. Secara teratur, cabang-cabang yang memiliki daun segar dipotong dan diberikan kepada kambing. Pupuk kandang (dari kotoran kambing) juga serasah daun bakau juga dimasukkan ke dalam tambak untuk meningkatkan produktivitas primer perairan dan lkan. Siklus ekologi sekali lagi terpenuhi. Kegiatan penangkapan burung skala kecil untuk industri burung peliharaan memberikan pendapatan tambahan selain dari perikanan dan pertanian. Mengenai cara yang dilakukan, tidak diketahui tentang terjamin atau tidaknya kelestarian burung tersebut. Kelompok masyarakat telah mencatat sebuah penurunan yang signifikan dalam kasus penyakit yang terjadi pada udang, setelah dilakukan upaya-upaya restorasi. Hal ini memberikan kontribusi bagi panen yang meningkat dan memungkinkan pengembangan sistem dengan sedikit penggunaan bahan kimia.

Pencegahan/pengurangan resiko banjir dan erosi akibat adanya tanaman hasil restorasi kini telah dirasakan masyarakat. Setelah beberapa tahun terdahulu kehilangan tanah pantai, kini sepanjang sekitar 10 – 15 meter didapatkan lagi setiap tahunnya. Sebelumnya, banjir telah menyebabkan hilangnya banyak udang dan ikan yang dibudidaya dan menyebabkan kerusakan hebat pada tambak dan properti masyarakat. Saat ini kerusakan itu tidak tampak lagi.

Setelah beberapa tahun rintisan, kelompok masyarakat telah menggunakan kredit-mikro dengan berhasil untuk mengembangkan berbagai alternatif kegiatan ekonomi lainnya, yang melengkapi pendapatan dari kegiatan- kegiatan tradisional seperti perikanan dan budidaya. Sebagian besar kegiatan yang mendatangkan pendapatan telah disesuaikan dengan pelayanan ekosistem yang diberikan oleh sistem mangrove. Misalnya, kepiting dipanen dari mangrove dan dibesarkan dalam karamba, kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi di pasar setempat. Demikian juga, masyarakat mengembangkan sebuah sistem untuk produksi rumput laut (Garcelaria spec.), yang digunakan oleh industri kosmetik, juga sebagai bahan pangan berupa agar-agar. Produksi rumput laut kini telah menjadi salah satu sumber pendapatan utama di wilayah ini dan juga memberikan kontribusi positif pada ekologi-tambak karena rumput laut memberikan oksigen dan makanan bagi berbagai spesies hewan air. Kegiatan-kegiatan budidaya yang dikembangkan dalam proyek ini telah banyak berhasil. Praktek-praktek tertentu – seperti peternakan ayam yang telah disebutkan sebelumnya – terbukti tidak memiliki keberlanjutan ekonomi jangka panjang dan oleh karena itu dengan cepatnya kegiatan ini digantikan dengan kegiatan-kegiatan lain.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk secara tepat menghitung manfaat kegiatan-kegiatan konservasi dan pembangunan bagi masyarakat setempat. Pendataan awal mengindikasikan adanya peningkatan sebesar 300 persen dalam pendapatan rumah tangga sejak dimulainya proyek serta penurunan yang signifikan pada resiko banjir, badai dan perubahan iklim. Persentasi anak yang masuk sekolah juga meningkat secara signifikan.

Gambar 8.3. Kegiatan-kegiatan pembangunan Bio-rights di Desa Pesantren: produksi rumput laut dan peternakan kambing. Sumber foto: Pieter van Eijk.

Indikator lain untuk penghidupan yang lebih baik meliputi porsi masyarakat yang memiliki televisi, sepeda dan sepeda motor, yang meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, proyek ini bisa dianggap telah mencapai keberhasilan, baik secara lingkungan maupun ekonomi. Namun demikian, masyarakat mengindikasikan sejumlah tantangan yang dihadapi selama penerapan proyek dan yang dialami sebagai hambatan pada peluang pembangunan alternatif matapencaharian (PAM). Sementara itu proyek ini memberikan banyak dukungan pada kegiatan-kegiatan PAM yang mendatangkan pendapatan yang ditujukan pada produksi barang tertentu. Sedikit perhatian diberikan oleh fasilitator masyarakat untuk mengembangkan pemasaran produk tersebut dengan baik. Sebagai hasilnya, masyarakat terpaksa harus menjual produk mereka sendiri dengan harga yang murah pada pengecer, bukan berusaha mencapai pengguna akhir agar mendapatkan uang tambahan (keuntungan) yang lebih tinggi. Khusus dalam bisnis rumput laut, kelompok masyarakat kehilangan sebuah peluang bisnis yang signifikan. Meskipun berbagai hal mengalami kemajuan secara signifikan sejak pembentukan korporasi resmi, masyarakat – beberapa tahun setelah penerapan proyek – masih merasa bahwa mereka tidak memiliki akses yang optimal pada pasar. Kapasitas yang terbatas untuk penghematan uang secara gabungan – sebagai dasar untuk pengembangan inisiatif ekonomi baru – juga disebutkan sebagai sebuah hambatan bagi pengembangan PAM. Kelompok masyarakat merasa bahwa tidak ada mekanisme internal yang memungkinkan sebuah skema penyimpanan yang berjangka panjang dan dapat diandalkan. Dengan menggabungkan dana bergulir ke dalam pendekatan ini dan dengan memberikan pelatihan yang tepat tentang simpanan berbasis masyarakat, proyek ini bisa melakukan antisipasi terhadap kebutuhan tersebut.

Meskipun kontrak Bio-rights secara resmi berakhir di tahun 2005, masyarakat terus melakukan restorasi. Yakin akan manfaat restorasi, kelompok-kelompok masyarakat itu masih mengadakan pertemuan setiap dua minggu untuk mendiskusikan rencana restorasi baru.

Di tahun 2008, 120 hektar tambak tidak produktif ditanami. Kegiatan- kegiatan di masa mendatang akan bertujuan pada perawatan pekerjaan restorasi dan ekspansi sabuk mangrove (green belt) pantai, yang bersamaan dengan penciptaan ‘lahan baru’ pantai selanjutnya. Anggota masyarakat juga memelihara kerjasama mereka dalam kegiatan-kegiatan pembangunan. Kelompok-kelompok telah mendaftarkan diri mereka secara resmi menjadi koperasi dan seiring dengan waktu mereka terus berkembang. Hal ini memungkinkan kerjasama yang efektif selama kegiatan-kegiatan perikanan dan panen produksi serta selama pemasaran

produk mereka. Selain itu, pengembangan kegiatan-kegiatan baru yang mendatangkan pendapatan dapat difasilitasi. Misalnya, kelompok masyarakat membuat pembenihan mangrove yang dijual kepada masyarakat di mana saja. Upaya-upaya kelompok masyarakat ini belum terlihat. Di tahun 2002, Pemerintah Indonesia memberi “Penghargaan Penghijauan” kepada yayasan Mitra Bahari beserta masyarakat binaannya di Pemalang. Penghargaan ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat setempat akan keberhasilannya melaksanakan restorasi lingkungan. Melalui liputan media dan berbagi pengalaman yang efektif, wilayah pantai di Pemalang kini telah menjadi contoh lokasi praktek terbaik untuk pengelolaan wilayah pantai yang rusak. Masyarakat sekitar desa mengadopsi kegiatan-kegiatan konservasi dan pembangunan tanpa adanya insentif eksternal. Pendekatan ini telah banyak ditiru di wilayah-wilayah lain di Indonesia, salah satunya proyek Green Coast di Indonesia (lihat

Karena keberhasilan Mitra Bahari dalam menerapkan kegiatan-kegiatan restorasi melalui Bio-rights, maka pada tahun 2005 yayasan ini menerima dukungan tambahan pendanaan dari WIIP. Dana ini dipakai untuk membangun sebuah “Pusat Informasi Mangrove” yang bersifat multiguna dan letaknya di tengah pertambakan yang dihijaukan dengan tanaman mangrove. Bangunan ini kini digunakan sebagai sarana tempat pelatihan lapangan mengenai pengelolaan mangrove, dengan target anak sekolah, kelompok masyarakat, LSM dan staf pemerintah, yang dikelola oleh Mitra Bahari bersama masyarakat Desa Pesantren. Pusat ini juga digunakan oleh kelompok masyarakat itu sendiri sebagai tempat pertemuan, akomodasi bagi para pengunjung dan untuk kendurian, termasuk tempat acara pernikahan. Biaya perawatan ditutup dari biaya sewa yang dibayarkan oleh pemakai fasilitas tersebut.

Pusat Mangrove di Desa Pesantren. Sumber foto: Kotak 8.3. Pusat pelatihan pengelolaan mangrove Pemalang